Beranda / Urban / Dewantara: Kebangkitan Sang Predator / BAB 3 — Penjara yang Indah

Share

BAB 3 — Penjara yang Indah

Penulis: Jey
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-18 22:00:10

Hening yang menyusul setelah sambungan telepon itu terputus terasa jauh lebih memuaskan daripada ledakan kemarahan Baron yang paling kasar sekalipun. Dari balik bayangan pintu, aku mengamati Aura. Gadis itu menatap layar ponselnya yang retak dengan tatapan kosong, seolah berharap ada keajaiban yang muncul dari desis statis di sana.

"Papah?" bisiknya parau. Suara yang dulu penuh kebanggaan itu kini hilang ditelan sunyinya perpustakaan.

Aku melangkah keluar dari kegelapan tepat saat dia menyambar pembuka surat emas dari meja ayahnya. Dia menggenggam benda tajam itu dengan tangan gemetar, sebuah upaya perlawanan yang menyedihkan namun menarik untuk ditonton. Begitu dia berbalik dan melihatku, langkahnya terhenti seketika.

Aku sengaja melepas jasku, membiarkan kemeja hitamku terbuka sedikit di bagian leher untuk menunjukkan bahwa aku sedang berada di rumahku sendiri. Di tangan kananku, tablet terus berkedip, menampilkan data aset Baron yang sedang kuhancurkan satu demi satu, sementara tangan kiriku memainkan kunci perak dengan gerakan ritmis.

"Mau ke mana, Nona? Sesi mandiri kita belum selesai," ucapku datar. Aku ingin dia melihat bahwa bagiku, menghancurkan hidup ayahnya hanyalah rutinitas pagi yang biasa, tak berbeda dengan membeli secangkir kopi.

"Lo... apa yang lo lakuin sama bokap gue?!" Dia menerjang maju, mencoba menusukkan besi emas itu ke bahuku. Gerakannya lambat, amatir, dan penuh emosi; sasaran empuk bagi seseorang yang sudah melatih diri untuk bertahan hidup di jalanan terkeras London.

Aku menyentak pergelangan tangannya dengan satu gerakan cepat hingga benda itu berdenting jatuh ke marmer. Dalam sekejap, aku sudah mengunci tangannya di depan dada, menghimpit tubuhnya dengan kekuatanku hingga dia terengah.

"Bokap lo? Dia sedang sibuk mengurus 'kebakaran' yang dia buat sendiri," bisikku tepat di depan wajahnya. "Suara dentuman tadi? Itu hanya suara pintu brankasnya yang dipaksa terbuka oleh hukum."

"Lo bohong! Lo jebak dia!" Dia meronta, namun aku justru mendorongnya hingga punggungnya menghantam daun pintu yang baru saja kukunci.

Klik.

Aku menundukkan kepala hingga ujung hidung kami bersentuhan, membiarkannya menghirup aroma mentol dan ancaman dari napas yang kuembuskan. "Jebakan hanya berlaku untuk orang jujur, Aura. Ayahmu hanya sedang membayar hutang sepuluh tahun yang lalu. Ditambah bunga... yang sangat mahal."

Aku melepas cengkeramanku secara mendadak, menikmati pemandangan saat dia limbung dan hampir terjatuh di dekat rak buku.

"Buka pintunya, Adrian! Atau gue teriak!"

"Silakan," sahutku sambil menyingkap tirai jendela besar. Aku ingin dia melihat barisan mobil hitam yang kini mengepung halaman mansionnya. "Pengawal ayahmu sudah digantikan oleh tim keamanan baru di bawah kendaliku, pemegang saham mayoritas Dewantara Group yang baru. Akulah pemilik rumah ini sekarang, Aura. Secara hukum, kamu hanyalah penyusup."

Aku melihat dunianya runtuh di balik matanya yang membelalak. "Siapa... siapa lo sebenarnya?"

Aku berbalik, membiarkan cahaya pagi menciptakan siluet yang mengintimidasi di tubuhku. "Seseorang yang tahu ruang rahasia di balik dinding kerja ayahmu, tempat dia menyimpan sertifikat asli yang dia curi. Rahasia yang seharusnya hanya diketahui oleh keluarga inti Dewantara."

Dia tersentak. Ketakutan itu mulai berubah menjadi pengakuan yang menyakitkan. "Arlan?" bisiknya gemetar.

Aku terdiam sejenak. Nama itu... nama yang seharusnya sudah hangus menjadi abu sepuluh tahun lalu. "Nama itu sudah mati di dalam api," geramku rendah, melangkah maju untuk memojokkannya kembali ke sudut perpustakaan yang suram. "Yang tersisa hanyalah orang yang akan memastikan kamu tidak punya tempat lagi untuk pulang."

Aku meletakkan tanganku di dinding, mengunci ruang geraknya. Wangi tubuhnya yang murni kini terkepung oleh dominasiku.

"Lo mau apa dari gue? Kalau lo benci bokap gue, kejar dia! Jangan gue!" suaranya pecah, air mata mulai menggenang.

Aku menjangkau helai rambutnya, memainkannya dengan ujung jari yang sengaja kubuat terasa kasar di kulitnya. "Ayahmu memuja aset yang satu ini, Aura. Kamu adalah kebanggaannya, bukti bahwa dia bisa memiliki sesuatu yang murni meski tangannya penuh lumuran darah."

Jariku turun ke bibirnya, menekan pelan hingga dia gemetar hebat. "Menghancurkan hartanya hanya akan membuatnya miskin. Tapi mengambil miliknya yang paling berharga... itu akan membuatnya gila. Aku ingin melihatnya kehilangan akal dari balik jeruji besi saat tahu putrinya berada dalam genggamanku."

"Mulai hari ini, kamu adalah tanggung jawabku. Kamu tidak akan keluar tanpa izinku," desisku, menikmati panas yang terpancar dari kulitnya yang ketakutan. "Setiap detak jantungmu kini berada di bawah kendaliku."

Dia menggeleng, air matanya jatuh mengenai tanganku. "Gue benci lo! Lebih dari apa pun!"

Aku tersenyum, sebuah senyum yang kental dengan kepuasan gelap. "Benci adalah awal yang bagus, Nona. Batas antara benci dan obsesi itu sangat tipis. Aku punya waktu selamanya untuk membuatmu melewati batas itu."

Tiba-tiba, raung sirine polisi memecah kesunyian. Aku melihat binar harapan di matanya, sebuah kenaifan yang lucu. Aku menyodorkan tablet ke hadapannya, memperlihatkan rekaman Baron yang sedang menyerahkan koper hitam di pelabuhan. "Polisi itu datang bukan untukku, Aura. Mereka datang untuk ayahmu atas kasus pencucian uang. Tebak siapa yang mengirimkan buktinya pagi ini?"

Dia ternganga. Harapan itu mati seketika.

"Sekarang," aku berdiri tegak, merapikan kemejaku dengan tenang. "Pilihannya ada di tanganmu. Kamu mau ikut polisi itu sebagai anak koruptor yang hartanya disita negara, atau kamu tetap di sini, menjadi 'murid' pribadiku, dan aku akan memastikan namamu tetap bersih?"

Suara gedoran di pintu depan mansion terdengar, eksekusi terakhir telah dimulai. Aku menawarkan tanganku padanya, sebuah tawaran yang kusebut sebagai penjara yang indah. Namun, sebelum jemarinya menyentuh tanganku, sebuah ledakan menghancurkan pintu perpustakaan.

Anak buahku dari perusahaan keamanan swasta muncul dengan wajah tegang. "Tuan Adrian, target utama sudah diamankan. Tapi ada pihak lain yang mencoba menembus perimeter belakang. Mereka mencari Nona Aura."

Aku menarik pinggang Aura ke dalam pelukanku dengan kasar, sebuah tindakan protektif yang posesif. "Siapa?"

"Orang-orang dari masa lalu Tuan Baron, Sir. Sepertinya hutang ayah Nona Aura lebih banyak daripada yang kita duga."

Aku menatap gadis yang kini membeku di pelukanku. Kehancurannya baru saja dimulai, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun merebut mangsaku. "Sepertinya 'penjara' ini akan jauh lebih sibuk dari dugaanku, Aura."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dewantara: Kebangkitan Sang Predator    BAB 6 — Warisan Darah

    Sistem bom memang sudah lumpuh, namun neraka yang sesungguhnya baru saja membuka pintu. Asap putih tebal menyembur masuk dari sisa pintu baja yang hancur, membawa aroma mesiu dan ozon yang menyesakkan paru-paru. Aku merasakan Aura tersedak di belakangku, bersembunyi di balik punggungku sambil mencengkeram kemeja hitamku seolah itu adalah satu-satunya jangkar di tengah badai. Aku bisa merasakan getaran hebat dari tubuhnya, sebuah campuran antara ketakutan murni dan ledakan adrenalin yang mulai meracuni nadinya.Aku tetap bergeming. Pistol di tanganku terasa menyatu dengan raga, seolah-olah besi panas ini adalah bagian dari tulang-tulangku sendiri. Tanpa gegabah, aku menunggu. Aku menghitung napas dalam kesunyian yang mencekam hingga bayangan musuh pertama tertangkap netraku di balik kepulan asap. Aku tidak butuh waktu lama untuk membidik.Dor! Dor!Kilatan api kecil membelah asap sesaat. Suara rintihan samar terdengar, disusul suara benda berat yang menghantam lantai beton dengan bunyi

  • Dewantara: Kebangkitan Sang Predator    BAB 5 — Detak Jantung di Ujung Detik

    00:54:12Angka merah di monitor terus menyusut, memantulkan cahaya pucat ke wajahku. Dari pantulan layar, aku bisa melihat Aura mematung menatap pintu baja yang kini menjadi satu-satunya pembatas kami dari kematian atau pembunuh haus darah di luar sana. Ruangan ini memang terasa seperti peti mati canggih, dan aku adalah orang yang memegang kuncinya."Kenapa kamu diam saja? Duduk dan jangan menghalangi pandanganku." Perintahku tanpa menoleh sedikit pun. Jemariku tetap menari di atas keyboard tua yang berderit, mengetik barisan kode enkripsi yang rumit untuk menunda ajal kami.Aura tidak bergerak. Aku tahu matanya tertuju pada lengan kemeja hitamku yang robek. Di sana, kainnya basah oleh cairan pekat yang mulai merembes dan menetes ke lantai marmer yang dingin. Darahku sendiri."Lo luka, Adrian," bisiknya, suaranya bergetar di tengah desis server yang monoton.Aku mendengus sinis. Luka peluru ini bagiku tidak lebih dari sekadar gigitan nyamuk jika dibandingkan dengan luka yang kusimpan

  • Dewantara: Kebangkitan Sang Predator    BAB 4 — Labirin Kematian

    Ledakan itu bukan sekadar gertakan; getarannya merambat dari lantai marmer hingga ke ulu hatiku. Aku melihat langit-langit perpustakaan mulai runtuh, menghamburkan debu dan serpihan kayu yang memerihkan mata. Dalam satu gerakan refleks yang sudah terlatih, aku menyentak Aura dengan kasar, mendekapnya erat di balik meja jati masif milik ayahnya. Aku menjadikannya perisai dari lesatan serpihan kaca yang menghujam udara.Di tengah kekacauan ini, aku bisa merasakan tubuh Aura yang bergetar hebat dalam pelukanku. Aroma sandalwood dan sisa kopi dari tubuhku adalah satu-satunya hal yang ia miliki sekarang. Aku tetap tenang, detak jantungku stabil dan terkontrol, sangat kontras dengan miliknya yang berdentum brutal melawan dadaku."Jangan bergerak, jangan bersuara," bisikku tepat di telinganya. Suaraku rendah, memastikan dia tahu bahwa akulah kendali di sini.Pintu perpustakaan yang megah itu kini tinggal puing. Dari balik kepulan asap kelabu, siluet pria-pria berpakaian taktis dengan balacla

  • Dewantara: Kebangkitan Sang Predator    BAB 3 — Penjara yang Indah

    Hening yang menyusul setelah sambungan telepon itu terputus terasa jauh lebih memuaskan daripada ledakan kemarahan Baron yang paling kasar sekalipun. Dari balik bayangan pintu, aku mengamati Aura. Gadis itu menatap layar ponselnya yang retak dengan tatapan kosong, seolah berharap ada keajaiban yang muncul dari desis statis di sana."Papah?" bisiknya parau. Suara yang dulu penuh kebanggaan itu kini hilang ditelan sunyinya perpustakaan.Aku melangkah keluar dari kegelapan tepat saat dia menyambar pembuka surat emas dari meja ayahnya. Dia menggenggam benda tajam itu dengan tangan gemetar, sebuah upaya perlawanan yang menyedihkan namun menarik untuk ditonton. Begitu dia berbalik dan melihatku, langkahnya terhenti seketika.Aku sengaja melepas jasku, membiarkan kemeja hitamku terbuka sedikit di bagian leher untuk menunjukkan bahwa aku sedang berada di rumahku sendiri. Di tangan kananku, tablet terus berkedip, menampilkan data aset Baron yang sedang kuhancurkan satu demi satu, sementara tan

  • Dewantara: Kebangkitan Sang Predator    BAB 2 — Runtuhnya Langit Pertama

    Aku menyesap kopi hitam tanpa gula di balik meja kerja jati milik Baron. Pahitnya cairan itu setara dengan kebencian yang kupelihara selama sepuluh tahun terakhir. Jam dinding menunjukkan pukul 06.30 pagi. Terlalu pagi bagi seorang putri konglomerat yang terbiasa dimanjakan, namun ini adalah waktu yang tepat untuk memulai penghancuran mentalnya. Disiplin adalah fondasi utama untuk menghancurkan lawan, dan aku tidak punya waktu untuk menunggu mangsaku bangun dengan tenang.Aku sengaja meletakkan papan catur di depanku, mengatur bidaknya dalam posisi yang berantakan, simbol dari kekacauan yang sedang kusiapkan untuk keluarga ini. Kacamata perakku tergeletak di samping meja. Aku ingin dia melihat mata obsidianku yang telanjang hari ini. Aku ingin dia merasakan intimidasi murni tanpa penghalang. Brak!Pintu ek besar itu terhempas kasar. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Aroma parfum mahal yang bercampur dengan kecemasan itu sangat kukenali. Aura Clarissa berdiri di sa

  • Dewantara: Kebangkitan Sang Predator    BAB 1 — Pelajaran Menghancurkan Dunia

    Rumah ini masih berbau sama: parfum ruangan mahal yang gagal menutupi aroma busuk pengkhianatan. Aku menarik napas cukup dalam, membiarkan bau itu meracuni paru-paruku, mengingatkanku mengapa aku kembali. Sepuluh tahun memang waktu yang cukup untuk membangun topeng sebagai lulusan terbaik London, namun tak pernah cukup untuk memadamkan api yang membakar ulu hatiku setiap kali kaki ini memijak lantai marmer keluarga Baron."Nona Aura akan segera turun, Tuan Adrian. Anda ingin minum sesuatu?" Suara pelayan itu gemetar. Aku bisa merasakan hawa dingin yang kupancarkan menembus seragam tipisnya, membuat nyalinya menciut."Tidak perlu," sahutku tanpa menoleh. Suaraku datar, sedingin es yang membeku di kutub. Aku menyesuaikan letak kacamata berbingkai perak di hidungku. Di balik lensa ini, aku sedang memetakan setiap sudut ruangan, mencari titik terlemah dari benteng kesombongan yang dibangun pria yang menghancurkan keluargaku.Tap. Tap. Tap.Suara langkah kaki dari tangga melingkar itu memb

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status