LOGINAku menyesap kopi hitam tanpa gula di balik meja kerja jati milik Baron. Pahitnya cairan itu setara dengan kebencian yang kupelihara selama sepuluh tahun terakhir. Jam dinding menunjukkan pukul 06.30 pagi. Terlalu pagi bagi seorang putri konglomerat yang terbiasa dimanjakan, namun ini adalah waktu yang tepat untuk memulai penghancuran mentalnya. Disiplin adalah fondasi utama untuk menghancurkan lawan, dan aku tidak punya waktu untuk menunggu mangsaku bangun dengan tenang.
Aku sengaja meletakkan papan catur di depanku, mengatur bidaknya dalam posisi yang berantakan, simbol dari kekacauan yang sedang kusiapkan untuk keluarga ini. Kacamata perakku tergeletak di samping meja. Aku ingin dia melihat mata obsidianku yang telanjang hari ini. Aku ingin dia merasakan intimidasi murni tanpa penghalang.
Brak!
Pintu ek besar itu terhempas kasar. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Aroma parfum mahal yang bercampur dengan kecemasan itu sangat kukenali. Aura Clarissa berdiri di sana, tampak berantakan dengan silk robe yang menutupi piyama satinnya. Wajahnya kusut, rambut hitamnya berantakan, dan matanya menyiratkan horor yang memuaskan hatiku.
"Lo punya masalah apa sih sebenarnya?!" semburnya tanpa basa-basi. Dia melangkah maju dan membanting kalung perak berliontin 'A' itu tepat di tengah papan caturku, menjatuhkan bidak raja dengan suara denting logam yang merdu di telingaku. "Jelasin ke gue. Dari mana lo dapet kalung ini? Dan apa maksud kata-kata lo kemarin soal rahasia berdarah?"
Aku mengangkat pandanganku perlahan, membiarkan mataku menelusuri penampilannya dengan cara yang sengaja kubuat tidak nyaman. Aku memetakan gemetar di bahunya, napasnya yang pendek, dan leher jenjangnya yang terekspos karena kerah jubah yang terbuka. Dia merasa telanjang di bawah tatapanku, dan itulah yang kuinginkan.
"Pelajaran pertama hari ini: seorang pemimpin tidak boleh menunjukkan emosinya secara cuma-cuma, Aura," ucapku dengan suara rendah yang sengaja kubuat menggetarkan udara di antara kami. "Itu membuatmu terlihat murah dan sangat mudah dibaca."
"Gue nggak peduli soal pelajaran sampah lo! Gue tanya, lo siapa?!" Dia memukul meja, mencoba mencari sisa otoritas yang sebenarnya sudah hilang sejak aku menginjakkan kaki di rumah ini.
Aku bangkit berdiri dengan gerakan yang tenang dan penuh perhitungan, kontras dengan ledakan emosinya yang kekanak-kanakan. Aku melangkah mengitarinya, mempersempit ruang geraknya hingga punggungnya membentur rak buku tua yang berdebu. Aku mengurung tubuhnya dengan kedua tanganku di sisi kepalanya, memaksanya menghirup aroma kopi dan tembakau mahal dari napas yang kuembuskan di dekat wajahnya.
"Kenapa kamu sangat ketakutan, Aura?" bisikku tepat di telinganya, menikmati sensasi saat melihat bulu kuduknya berdiri. "Apa karena jauh di dalam sana, kamu mulai menyadari bahwa semua kemewahan dan satin yang kamu pakai ini sebenarnya adalah hasil dari rampokan?"
"Papa bukan perampok!" bantahnya dengan suara yang mulai pecah oleh getaran hebat.
Aku menarik satu tanganku dari rak buku, lalu menelusuri garis rahangnya dengan ujung jari yang sengaja kubuat sedingin es. "Bagaimana jika kukatakan padamu, bahwa di bawah marmer yang kamu injak ini, terkubur teriakan satu keluarga yang dihancurkan ayahmu hanya demi sebidang tanah?"
Lidah gadis itu mendadak kelu. Aku bisa melihat di matanya bagaimana setiap kebohongan yang ia percayai selama ini mulai retak. Aku mengambil kembali liontin perak itu dari papan catur, menunjukkannya tepat di depan pupil matanya yang mengecil.
"Liontin ini milik seseorang yang seharusnya menghuni rumah ini," bisikku lebih tajam. "Seseorang yang ayahmu kira sudah musnah dalam kebakaran yang ia rancang sendiri sepuluh tahun lalu."
"Lo... ada hubungan apa sama Dewantara?" tanyanya dengan suara nyaris hilang. Nama itu, Dewantara, akhirnya keluar dari bibirnya seperti kutukan yang selama ini disimpan Baron dalam gelap.
Aku tidak memberinya jawaban. Aku justru menjauh secara mendadak, memutus atmosfer menyesakkan yang sengaja kubangun. Aku menyambar map merah dari meja dan melemparkannya ke hadapannya.
"Buka itu kalau kamu punya nyali," ujarku sambil melangkah menuju pintu. "Itu adalah daftar aset ayahmu yang sudah berpindah tangan secara diam-diam dalam dua puluh empat jam terakhir. Termasuk hak milik atas rumah ini."
"Lo mau ke mana? Kita belum selesai!" teriaknya, mencoba mengumpulkan sisa keberanian yang sudah hancur berkeping-keping.
Aku berhenti di ambang pintu tanpa sudi menoleh. "Hari ini tidak ada pelajaran teori, Aura. Hari ini adalah hari di mana duniamu mulai runtuh. Dan saya ingin kamu menontonnya dari barisan paling depan."
Aku melangkah keluar dan menutup pintu dengan bunyi klik yang final. Aku membiarkannya terjebak di sana bersama foto lama keluarga Dewantara yang terselip di dalam map merah itu, foto seorang anak laki-laki berkalung Liontin 'A' di depan rumah yang dulu penuh tawa sebelum diubah Baron menjadi monumen keserakahan.
Aura menatap foto di dalam map merah itu dengan tangan gemetar. Namun, saat dia membalik foto tersebut untuk membaca catatan merah Adrian, sebuah kertas kecil lain jatuh dari selipan map. Itu bukan dari Adrian.
Itu adalah surat tulisan tangan ayahnya, Baron, yang tertanggal kemarin. Isinya singkat: "Dia sudah datang. Lakukan persis seperti yang kita rencanakan. Jangan biarkan dia tahu kau sudah menunggunya."
Tiba-tiba, suara tangisan histeris pelayan terdengar dari aula bawah, diikuti suara sepatu bot berat yang menyerbu masuk. Bukan suara langkah kaki Baron yang panik, melainkan suara penggeledahan paksa.
Aura menatap pintu yang baru saja ditutup Adrian. Jika Adrian pikir dia adalah sang predator yang sedang menjerat mangsa, dia tidak menyadari bahwa di rumah ini, kamera tersembunyi telah merekam setiap pengakuannya dan Baron tidak sedang berada di kantornya untuk dihancurkan. Baron sedang berada di ruang monitor, menatap punggung Adrian dengan senyum yang jauh lebih mengerikan.
Moncong senjata di ulu hatiku terasa lebih nyata daripada perih di bahu. Di kegelapan gudang yang remang, aku terpaku. Bi Asih, pelayan tua yang sepuluh tahun ini setia melayani Baron dan menyeduhkan teh untuk Aura, kini berdiri di belakangku dengan kuda-kuda pembunuh profesional."Jangan bergerak, Adnan," bisiknya. Suaranya tidak lagi serak dan lemah. Itu adalah suara yang dilatih untuk memberi perintah, bukan menerima pesanan dapur."Bi... Asih?" Suara Aura terdengar dari kegelapan, penuh dengan ketidakpercayaan yang menyayat."Diam, Nona Muda. Saya di sini untuk membereskan kekacauan yang dibuat ayah Anda dan dua bersaudara gila ini," sahut Bi Asih tanpa melepaskan tekanannya padaku.Di sisi lain gudang, Arlan tertawa keras. Tawanya bergema di antara kontainer besi, menciptakan suasana horor yang mencekam. "Luar biasa! Baron benar-benar memelihara ular di dalam selimutnya. Jadi, kau bekerja untuk siapa, Tua Bangka? Interpol? Atau faksi London yang kukhianati?""Saya bekerja untuk s
Kegelapan bukan lagi sebuah ruang, melainkan sebuah ingatan yang menyesakkan. Saat kesadaranku mulai merangkak naik dari bius dosis tinggi milik Aura, aku tidak terbangun di atas tumpukan daun kering hutan pegunungan. Aku terbangun dalam posisi tergantung, kedua tanganku dirantai ke pipa besi yang dingin dan berkarat. Aroma di sekelilingku adalah campuran antara bau laut yang asin, minyak mesin, dan logam—sebuah gudang di pinggir pelabuhan.Kepalaku berdenyut hebat. Efek penenang itu menyisakan rasa mual yang mengocok perut. Aku mencoba menggerakkan bahuku, namun luka tembak yang belum sempat dijahit itu memprotes dengan rasa panas yang menyentak saraf."Sudah bangun, Adnan?"Suara itu datang dari kegelapan di depanku. Serak, hancur, namun memiliki ritme yang sama dengan suaraku sendiri.Aku mendongak, berusaha memfokuskan pandangan. Di bawah sorot lampu bohlam yang berayun, berdiri sosok bertopeng perak itu. Dia tidak lagi mengenakan jas taktis. Dia hanya memakai kemeja putih yang le
"Maaf membiarkanmu terjebak dengan 'palsu' ini terlalu lama."Suara itu menghantamku lebih keras daripada ledakan apa pun yang pernah kualami. Aku membeku. Seluruh otot di tubuhku menegang hingga ke titik menyakitkan. Ego "predator" yang kubangun selama sepuluh tahun dengan darah dan air mata runtuh dalam satu detik. Senjata di tanganku bergetar—sesuatu yang seharusnya mustahil bagi pria yang sudah membunuh tanpa kedip sepertiku. Aku tidak bisa menarik pelatuk karena Aura berada tepat di garis tembak, berdiri di antara aku dan sosok misterius yang baru saja merampas identitasku.Aura menatap kalung dengan lambang burung bangkai di lantai, lalu menatap sosok bertopeng perak itu dengan ngeri. Saat matanya beralih padaku, aku melihat keraguan yang menghancurkan. Dia mundur perlahan, menjauh dariku seolah-olah aku adalah wabah yang baru saja ia sadari keberadaa
Sinar matahari pagi yang dingin menembus celah gorden vila, namun suasana di dalam ruang kerja ini tetap gelap gulita. Aku sengaja membiarkan lampu mati. Aku ingin Aura merasakan apa yang kurasakan sepuluh tahun lalu: ketakutan akan hal yang tidak terlihat. Di depanku, Aura duduk tegak di kursi kayu yang keras, matanya sembab karena kurang tidur. Semalam, aku memaksanya menonton video pengkhianatan Baron berulang kali. Aku ingin memori tentang Baron sebagai pahlawan di kepalanya mati membusuk."Pelajaran kelima," suaraku memecah keheningan, berat dan tanpa emosi. "Bisnis bukan tentang angka, Aura. Bisnis adalah tentang siapa yang memegang leher siapa."Aku melemparkan tablet ke atas meja. Di layarnya, terpampang struktur organisasi Baron Corp—perusahaan yang dibangun dari puing-puing kehancuran keluargaku. "Mulai hari ini, kamu adalah bonekaku untuk mengambil alih semua ini. Kamu akan tampil di depan direksi sebagai ahli waris yang 'sadar' akan dosa ayahnya."Aura mendongak, matanya be
SUV hitam itu membelah kegelapan jalanan menanjak menuju kaki gunung, menjauh dari sirine polisi yang kini hanya menjadi gema di kejauhan. Di sampingku, Aura meringkuk, memeluk tubuhnya sendiri seolah dunia sedang runtuh menimpanya. Aku bisa mencium aroma ketakutannya yang bercampur dengan sisa mesiu."Kita sudah sampai," ucapku datar saat mobil berhenti di depan gerbang besi tinggi yang tertutup tanaman rambat liar.Vila ini bukan sekadar bangunan tua. Ini adalah markas rahasia keluarga Dewantara yang dihapus dari semua peta resmi sepuluh tahun lalu. Tempat di mana ayahku merancang strategi kejayaannya, dan kini menjadi tempat di mana aku akan merancang kehancuran sisa-sisa Baron. Aku turun dan menarik pintu mobil Aura. "Turun. Jangan membuatku menyeretmu lagi."Aura melangkah keluar dengan ragu. Matanya menatap bangunan batu tua yang terlihat angker di bawah sinar bulan. "Tempat apa ini, Adrian? Kenapa lo bawa gue ke sini?""Tempat di mana suaramu tidak akan didengar oleh siapa pun,
Asap putih di ruang bawah tanah mulai menipis, menyisakan bau anyir darah yang memuakkan. Aku berdiri tegak, membiarkan moncong pistolku yang masih panas mengarah ke lantai beton. Di depanku, Daniel—si pengkhianat yang dulu menjilat kaki Baron saat rumah keluargaku terbakar—kini bersimpuh dengan kaki hancur tertembus peluruku. Aku tidak membunuhnya seketika. Kematian terlalu murah bagi anjing penjilat seperti dia."Adrian... tolong... aku hanya menjalankan perintah," rintih Daniel, suaranya parau karena rasa sakit yang luar biasa. Tangannya masih mencoba menggapai tas berisi dokumen aset Baron. Keserakahan yang menjijikkan.Aku melirik Aura yang bersandar di dinding. Napasnya memburu, wajahnya sepucat kertas. Aku bisa melihat trauma yang mendalam di matanya. Ini adalah bagian dari rencanaku; menghancurkan dunianya yang naif, lalu memaksanya berpaling kepadaku sebagai satu-satunya pelindung yang tersisa."Pelajaran keempat, Aura," ucapku tanpa melepaskan pandangan dari Daniel yang meran







