Home / Urban / Dewantara: Kebangkitan Sang Predator / BAB 2 — Runtuhnya Langit Pertama

Share

BAB 2 — Runtuhnya Langit Pertama

Author: Jey
last update Last Updated: 2026-02-18 21:00:29

Aku menyesap kopi hitam tanpa gula di balik meja kerja jati milik Baron. Pahitnya cairan itu setara dengan kebencian yang kupelihara selama sepuluh tahun terakhir. Jam dinding menunjukkan pukul 06.30 pagi. Terlalu pagi bagi seorang putri konglomerat yang terbiasa dimanjakan, namun ini adalah waktu yang tepat untuk memulai penghancuran mentalnya. Disiplin adalah fondasi utama untuk menghancurkan lawan, dan aku tidak punya waktu untuk menunggu mangsaku bangun dengan tenang.

Aku sengaja meletakkan papan catur di depanku, mengatur bidaknya dalam posisi yang berantakan, simbol dari kekacauan yang sedang kusiapkan untuk keluarga ini. Kacamata perakku tergeletak di samping meja. Aku ingin dia melihat mata obsidianku yang telanjang hari ini. Aku ingin dia merasakan intimidasi murni tanpa penghalang. 

Brak!

Pintu ek besar itu terhempas kasar. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Aroma parfum mahal yang bercampur dengan kecemasan itu sangat kukenali. Aura Clarissa berdiri di sana, tampak berantakan dengan silk robe yang menutupi piyama satinnya. Wajahnya kusut, rambut hitamnya berantakan, dan matanya menyiratkan horor yang memuaskan hatiku.

"Lo punya masalah apa sih sebenarnya?!" semburnya tanpa basa-basi. Dia melangkah maju dan membanting kalung perak berliontin 'A' itu tepat di tengah papan caturku, menjatuhkan bidak raja dengan suara denting logam yang merdu di telingaku. "Jelasin ke gue. Dari mana lo dapet kalung ini? Dan apa maksud kata-kata lo kemarin soal rahasia berdarah?"

Aku mengangkat pandanganku perlahan, membiarkan mataku menelusuri penampilannya dengan cara yang sengaja kubuat tidak nyaman. Aku memetakan gemetar di bahunya, napasnya yang pendek, dan leher jenjangnya yang terekspos karena kerah jubah yang terbuka. Dia merasa telanjang di bawah tatapanku, dan itulah yang kuinginkan.

"Pelajaran pertama hari ini: seorang pemimpin tidak boleh menunjukkan emosinya secara cuma-cuma, Aura," ucapku dengan suara rendah yang sengaja kubuat menggetarkan udara di antara kami. "Itu membuatmu terlihat murah dan sangat mudah dibaca."

"Gue nggak peduli soal pelajaran sampah lo! Gue tanya, lo siapa?!" Dia memukul meja, mencoba mencari sisa otoritas yang sebenarnya sudah hilang sejak aku menginjakkan kaki di rumah ini.

Aku bangkit berdiri dengan gerakan yang tenang dan penuh perhitungan, kontras dengan ledakan emosinya yang kekanak-kanakan. Aku melangkah mengitarinya, mempersempit ruang geraknya hingga punggungnya membentur rak buku tua yang berdebu. Aku mengurung tubuhnya dengan kedua tanganku di sisi kepalanya, memaksanya menghirup aroma kopi dan tembakau mahal dari napas yang kuembuskan di dekat wajahnya.

"Kenapa kamu sangat ketakutan, Aura?" bisikku tepat di telinganya, menikmati sensasi saat melihat bulu kuduknya berdiri. "Apa karena jauh di dalam sana, kamu mulai menyadari bahwa semua kemewahan dan satin yang kamu pakai ini sebenarnya adalah hasil dari rampokan?"

"Papa bukan perampok!" bantahnya dengan suara yang mulai pecah oleh getaran hebat.

Aku menarik satu tanganku dari rak buku, lalu menelusuri garis rahangnya dengan ujung jari yang sengaja kubuat sedingin es. "Bagaimana jika kukatakan padamu, bahwa di bawah marmer yang kamu injak ini, terkubur teriakan satu keluarga yang dihancurkan ayahmu hanya demi sebidang tanah?"

Lidah gadis itu mendadak kelu. Aku bisa melihat di matanya bagaimana setiap kebohongan yang ia percayai selama ini mulai retak. Aku mengambil kembali liontin perak itu dari papan catur, menunjukkannya tepat di depan pupil matanya yang mengecil.

"Liontin ini milik seseorang yang seharusnya menghuni rumah ini," bisikku lebih tajam. "Seseorang yang ayahmu kira sudah musnah dalam kebakaran yang ia rancang sendiri sepuluh tahun lalu."

"Lo... ada hubungan apa sama Dewantara?" tanyanya dengan suara nyaris hilang. Nama itu, Dewantara, akhirnya keluar dari bibirnya seperti kutukan yang selama ini disimpan Baron dalam gelap.

Aku tidak memberinya jawaban. Aku justru menjauh secara mendadak, memutus atmosfer menyesakkan yang sengaja kubangun. Aku menyambar map merah dari meja dan melemparkannya ke hadapannya.

"Buka itu kalau kamu punya nyali," ujarku sambil melangkah menuju pintu. "Itu adalah daftar aset ayahmu yang sudah berpindah tangan secara diam-diam dalam dua puluh empat jam terakhir. Termasuk hak milik atas rumah ini."

"Lo mau ke mana? Kita belum selesai!" teriaknya, mencoba mengumpulkan sisa keberanian yang sudah hancur berkeping-keping.

Aku berhenti di ambang pintu tanpa sudi menoleh. "Hari ini tidak ada pelajaran teori, Aura. Hari ini adalah hari di mana duniamu mulai runtuh. Dan saya ingin kamu menontonnya dari barisan paling depan."

Aku melangkah keluar dan menutup pintu dengan bunyi klik yang final. Aku membiarkannya terjebak di sana bersama foto lama keluarga Dewantara yang terselip di dalam map merah itu, foto seorang anak laki-laki berkalung Liontin 'A' di depan rumah yang dulu penuh tawa sebelum diubah Baron menjadi monumen keserakahan.

Aku tahu jantungnya akan berhenti saat melihat catatan bertinta merah yang kutinggalkan di balik foto itu: Kematian adalah hukuman yang terlalu ringan bagi Baron. Dia harus melihat hartanya, kehormatannya, dan putri kesayangannya... menjadi milikku terlebih dahulu.

Beberapa saat kemudian, dari kejauhan, aku mendengar ponselnya berdering. Aku tersenyum miring sambil berjalan menjauh. Itu Baron. Aku sudah memastikan eksekusi di kantornya berjalan tepat waktu. Saat dia mencoba memperingatkan putrinya melalui telepon yang akan segera terputus oleh kehadiranku yang lain, aku ingin Aura menyadari satu hal.

Sejauh apa pun dia berlari, dia sudah berada di dalam genggamanku. Pelajaran sesungguhnya baru saja dimulai.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dewantara: Kebangkitan Sang Predator    BAB 6 — Warisan Darah

    Sistem bom memang sudah lumpuh, namun neraka yang sesungguhnya baru saja membuka pintu. Asap putih tebal menyembur masuk dari sisa pintu baja yang hancur, membawa aroma mesiu dan ozon yang menyesakkan paru-paru. Aku merasakan Aura tersedak di belakangku, bersembunyi di balik punggungku sambil mencengkeram kemeja hitamku seolah itu adalah satu-satunya jangkar di tengah badai. Aku bisa merasakan getaran hebat dari tubuhnya, sebuah campuran antara ketakutan murni dan ledakan adrenalin yang mulai meracuni nadinya.Aku tetap bergeming. Pistol di tanganku terasa menyatu dengan raga, seolah-olah besi panas ini adalah bagian dari tulang-tulangku sendiri. Tanpa gegabah, aku menunggu. Aku menghitung napas dalam kesunyian yang mencekam hingga bayangan musuh pertama tertangkap netraku di balik kepulan asap. Aku tidak butuh waktu lama untuk membidik.Dor! Dor!Kilatan api kecil membelah asap sesaat. Suara rintihan samar terdengar, disusul suara benda berat yang menghantam lantai beton dengan bunyi

  • Dewantara: Kebangkitan Sang Predator    BAB 5 — Detak Jantung di Ujung Detik

    00:54:12Angka merah di monitor terus menyusut, memantulkan cahaya pucat ke wajahku. Dari pantulan layar, aku bisa melihat Aura mematung menatap pintu baja yang kini menjadi satu-satunya pembatas kami dari kematian atau pembunuh haus darah di luar sana. Ruangan ini memang terasa seperti peti mati canggih, dan aku adalah orang yang memegang kuncinya."Kenapa kamu diam saja? Duduk dan jangan menghalangi pandanganku." Perintahku tanpa menoleh sedikit pun. Jemariku tetap menari di atas keyboard tua yang berderit, mengetik barisan kode enkripsi yang rumit untuk menunda ajal kami.Aura tidak bergerak. Aku tahu matanya tertuju pada lengan kemeja hitamku yang robek. Di sana, kainnya basah oleh cairan pekat yang mulai merembes dan menetes ke lantai marmer yang dingin. Darahku sendiri."Lo luka, Adrian," bisiknya, suaranya bergetar di tengah desis server yang monoton.Aku mendengus sinis. Luka peluru ini bagiku tidak lebih dari sekadar gigitan nyamuk jika dibandingkan dengan luka yang kusimpan

  • Dewantara: Kebangkitan Sang Predator    BAB 4 — Labirin Kematian

    Ledakan itu bukan sekadar gertakan; getarannya merambat dari lantai marmer hingga ke ulu hatiku. Aku melihat langit-langit perpustakaan mulai runtuh, menghamburkan debu dan serpihan kayu yang memerihkan mata. Dalam satu gerakan refleks yang sudah terlatih, aku menyentak Aura dengan kasar, mendekapnya erat di balik meja jati masif milik ayahnya. Aku menjadikannya perisai dari lesatan serpihan kaca yang menghujam udara.Di tengah kekacauan ini, aku bisa merasakan tubuh Aura yang bergetar hebat dalam pelukanku. Aroma sandalwood dan sisa kopi dari tubuhku adalah satu-satunya hal yang ia miliki sekarang. Aku tetap tenang, detak jantungku stabil dan terkontrol, sangat kontras dengan miliknya yang berdentum brutal melawan dadaku."Jangan bergerak, jangan bersuara," bisikku tepat di telinganya. Suaraku rendah, memastikan dia tahu bahwa akulah kendali di sini.Pintu perpustakaan yang megah itu kini tinggal puing. Dari balik kepulan asap kelabu, siluet pria-pria berpakaian taktis dengan balacla

  • Dewantara: Kebangkitan Sang Predator    BAB 3 — Penjara yang Indah

    Hening yang menyusul setelah sambungan telepon itu terputus terasa jauh lebih memuaskan daripada ledakan kemarahan Baron yang paling kasar sekalipun. Dari balik bayangan pintu, aku mengamati Aura. Gadis itu menatap layar ponselnya yang retak dengan tatapan kosong, seolah berharap ada keajaiban yang muncul dari desis statis di sana."Papah?" bisiknya parau. Suara yang dulu penuh kebanggaan itu kini hilang ditelan sunyinya perpustakaan.Aku melangkah keluar dari kegelapan tepat saat dia menyambar pembuka surat emas dari meja ayahnya. Dia menggenggam benda tajam itu dengan tangan gemetar, sebuah upaya perlawanan yang menyedihkan namun menarik untuk ditonton. Begitu dia berbalik dan melihatku, langkahnya terhenti seketika.Aku sengaja melepas jasku, membiarkan kemeja hitamku terbuka sedikit di bagian leher untuk menunjukkan bahwa aku sedang berada di rumahku sendiri. Di tangan kananku, tablet terus berkedip, menampilkan data aset Baron yang sedang kuhancurkan satu demi satu, sementara tan

  • Dewantara: Kebangkitan Sang Predator    BAB 2 — Runtuhnya Langit Pertama

    Aku menyesap kopi hitam tanpa gula di balik meja kerja jati milik Baron. Pahitnya cairan itu setara dengan kebencian yang kupelihara selama sepuluh tahun terakhir. Jam dinding menunjukkan pukul 06.30 pagi. Terlalu pagi bagi seorang putri konglomerat yang terbiasa dimanjakan, namun ini adalah waktu yang tepat untuk memulai penghancuran mentalnya. Disiplin adalah fondasi utama untuk menghancurkan lawan, dan aku tidak punya waktu untuk menunggu mangsaku bangun dengan tenang.Aku sengaja meletakkan papan catur di depanku, mengatur bidaknya dalam posisi yang berantakan, simbol dari kekacauan yang sedang kusiapkan untuk keluarga ini. Kacamata perakku tergeletak di samping meja. Aku ingin dia melihat mata obsidianku yang telanjang hari ini. Aku ingin dia merasakan intimidasi murni tanpa penghalang. Brak!Pintu ek besar itu terhempas kasar. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Aroma parfum mahal yang bercampur dengan kecemasan itu sangat kukenali. Aura Clarissa berdiri di sa

  • Dewantara: Kebangkitan Sang Predator    BAB 1 — Pelajaran Menghancurkan Dunia

    Rumah ini masih berbau sama: parfum ruangan mahal yang gagal menutupi aroma busuk pengkhianatan. Aku menarik napas cukup dalam, membiarkan bau itu meracuni paru-paruku, mengingatkanku mengapa aku kembali. Sepuluh tahun memang waktu yang cukup untuk membangun topeng sebagai lulusan terbaik London, namun tak pernah cukup untuk memadamkan api yang membakar ulu hatiku setiap kali kaki ini memijak lantai marmer keluarga Baron."Nona Aura akan segera turun, Tuan Adrian. Anda ingin minum sesuatu?" Suara pelayan itu gemetar. Aku bisa merasakan hawa dingin yang kupancarkan menembus seragam tipisnya, membuat nyalinya menciut."Tidak perlu," sahutku tanpa menoleh. Suaraku datar, sedingin es yang membeku di kutub. Aku menyesuaikan letak kacamata berbingkai perak di hidungku. Di balik lensa ini, aku sedang memetakan setiap sudut ruangan, mencari titik terlemah dari benteng kesombongan yang dibangun pria yang menghancurkan keluargaku.Tap. Tap. Tap.Suara langkah kaki dari tangga melingkar itu memb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status