Share

Bab 60

Author: Célia Oliveira
Sudut Pandang Pihak Ketiga.

"Tuan, ada seorang pria di lantai dekat pintu itu."

"Apa ada tanda-tanda Aura?" tanyaku dengan tidak sabar.

"Tidak. Kami hanya menunggu perintah Anda untuk bergerak. Kami akan melumpuhkan pria itu, lalu menyisir seluruh ruangan dengan hati-hati, mencari korban dan satu pelaku penculikan lainnya."

"Kalau begitu, ayo mulai sekarang juga. Aku ikut."

Para pria itu maju menuju bangunan. Alverio sudah lebih dulu mengeluarkan senjatanya.

Mereka masuk dan langsung melumpuhkan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 287

    Saat masuk ke ruang tamu dengan jantung yang masih berdebar kencang, Elina mendapati orang tua dan kakaknya sudah menunggu. Ketiganya langsung menoleh dan memperhatikannya dengan saksama, seolah bisa melihat sesuatu yang sedang dia sembunyikan."Pagi," sapa Elina sambil mencoba tersenyum wajar.Namun, tidak ada yang merespons."Kalian kenapa?"Ketiganya terus menatap Elina selama beberapa saat, seolah sedang mencari tahu sesuatu."Semalam kamu kurang tidur ya?" tanya Itha sambil mendekat dan mengamati wajah putrinya."Kenapa Ibu bertanya begitu?" Elina menelan ludah dengan susah payah."Matamu merah dan cekung, Sayang. Kamu kelihatan sangat lelah," ujar ibunya sambil menyentuh wajahnya dengan lembut."Masa?" Elina mencoba tertawa, tetapi jelas terdengar dipaksakan."Memang begitu," tambah Elsa. Dia mendekat dan mengerutkan kening sambil memperhatikan adiknya lebih saksama. "Selain itu, hari ini kamu ... agak berbeda."Elsa mulai mengitari adiknya, seolah sedang mencari petunjuk. Tatapa

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 286

    Saat menikmati ciuman pria yang sudah lama diinginkannya, Elina merasa jantungnya bisa berhenti berdetak kapan saja. Namun, ketika menyadari Hasan membalas ciumannya dengan sama kuatnya, dia perlahan mulai tenang. Hatinya dipenuhi kebahagiaan yang tenang, tetapi mendalam. Kebahagiaan itu lahir dari keinginan yang telah lama dipendamnya. Seolah waktu berhenti hanya untuk memberi mereka kesempatan menikmati momen itu.Perlahan, Elina kembali meraih baju Hasan. Berbeda dari sebelumnya, kali ini pria itu tidak menolak. Hasan membiarkannya mengambil kendali dan mengikuti keinginannya. Elina merasa lebih hidup daripada sebelumnya. Kini, dia bisa menentukan sesuatu yang selama ini dikiranya tidak akan pernah bisa dia miliki.Dengan hati-hati, Elina melepaskan baju Hasan. Jemarinya merasakan kehangatan kulit pria itu. Setiap gerakan memberinya pengalaman baru. Semua yang pernah dibayangkannya kini menjadi nyata. Memang tidak seperti angan-angannya dulu yang romantis dan sempurna, tetapi justru

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 285

    Saat mendekati pintu depan rumah itu, Elina terkejut melihat sekelilingnya begitu gelap, bahkan terlalu gelap dan sepi. Sesaat, dia mulai ragu. Bagaimana kalau Hasan tidak ada di rumah? Bagaimana kalau pria itu lupa pada kesepakatan mereka?Perut Elina menegang karena cemas. Dia memutuskan untuk berjalan mengitari rumah. Saat itulah dia melihat mobil Hasan terparkir tepat di depan. Dia pun menghela napas lega. Pria itu ternyata ada di rumah.Tanpa ragu-ragu lagi, Elina memasukkan kode kunci elektronik yang sudah dihafalnya, lalu berjalan masuk dengan hati-hati. Rumah itu gelap, tetapi tak lama kemudian, dia mendapati sedikit cahaya dari lantai atas.Elina menaiki tangga perlahan sambil menahan napas. Kedua tangannya dingin dan berkeringat. Sesampainya di lorong, dia melihat pintu kamar Hasan sedikit terbuka. Cahaya kekuningan dari lorong menerangi kamar itu dengan lembut. Hasan terlihat berbaring di ranjang sambil membelakangi pintu. Sepertinya dia sudah tertidur.Waktu sudah hampir pu

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 284

    "Kenapa begitu? Kukira kamu akan cerita lebih banyak," ujar Elsa. Dia kebingungan mendengar jawaban adiknya."Sepertinya aku belum benar-benar sadar kalau nanti aku nggak akan bertemu dengannya lagi," jelas Elina. "Makanya aku menjawab begitu.""Tapi ... kalian masih bisa mengobrol lewat telepon, 'kan?"Elina sudah memikirkan kemungkinan itu, bahkan berkali-kali. Meski sebentar lagi akan pergi ke negara lain, dia tahu tetap berhubungan dengan Hasan adalah kesalahan. Itu hanya akan membuatnya makin sulit melepaskan perasaannya. Itu sebabnya, Elina sudah mengambil keputusan. Begitu naik pesawat, dia akan memblokir nomor Hasan. Tidak akan ada pesan, telepon, atau apa pun yang bisa membuatnya kembali berharap, tidak peduli sekecil apa pun itu."Aku nggak akan punya banyak waktu untuk mengobrol dengan siapa pun," ujar Elina. Suaranya terdengar lebih dingin daripada yang dia inginkan. "Aku ke sana untuk kuliah, bukan liburan."Perubahan nada bicaranya membuat Elsa mengerutkan kening. Untuk s

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 283

    Begitu kembali masuk ke rumah, Elina berpamitan dengan Aura dan Alverio. Ketika dia hendak keluar dari pintu, seseorang tiba-tiba memanggil namanya dengan tergesa-gesa."Elina ... kamu benaran mau pergi tanpa berpamitan denganku?" tanya Gavin. Ada nada kecewa dalam suaranya yang tidak Elina duga."Nggak kok," jawab Elina kikuk. Dia merasa pipinya memanas.Padahal, Elina memang lupa. Bukan karena dia tidak peduli pada Gavin. Hanya saja, saat itu pikirannya terus tertuju pada satu hal. Memikirkannya saja sudah membuat tubuhnya gemetar.Elina begitu menantikan malam ini. Rasanya, belum pernah dia seyakin ini ingin melakukan sesuatu. Dia akan melakukan hal yang selama ini selalu terhalang oleh rasa takut. Meski tidak tahu bagaimana akhirnya nanti, dia bertekad untuk tetap melakukannya."Benarkah? Padahal kamu sudah hampir keluar dari rumahku," ujar Gavin yang masih sedikit curiga."Aku cuma mau ke teras. Alisa, Naren, dan Kak Elsa ada di sana," jelas Elina. Dia berusaha terdengar lebih yak

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 282

    "Wah ... senang juga mendengar pujian seperti itu. Secara nggak langsung, aku juga ikut dipuji, 'kan?" goda Hasan sambil tersenyum jahil. Dia menyadari pipi Elina yang makin merah."A ... aku nggak tahu itu Gavin," bisik Elina yang langsung menyesali ucapannya."Oh ya? Jadi, sebenarnya pujian itu untukku?" Hasan melangkah mendekat dan mempersempit jarak di antara mereka."Bu ... bukan itu maksudku," jawab Elina terbata-bata. Dia sudah tidak tahu harus melihat ke mana.Sebelum suasana menjadi makin canggung, Gavin menyadari ada orang di dekat pintu kandang. Dia menoleh dan melihat Elina sedang berbicara dengan kembarannya. Gavin segera meletakkan sikat yang dipegangnya, lalu menghampiri mereka."Wah Elina, tumben kamu ke sini.""Aku mau berpamitan ...." gumam Elina setelah akhirnya berhasil menenangkan diri."Kamu sudah mau berangkat ya?" Senyum Gavin memudar. Kini, dia terlihat sedikit sedih."Ya, besok pagi-pagi. Tapi, aku ingin berpamitan dulu dengan semuanya.""Kami pasti akan merin

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 3

    "Aura, Aura!"Aku menoleh ke samping dan melihat temanku, Isya. Dia mengenakan gaun panjang berwarna biru langit, rambut pirangnya terurai, melambai padaku sambil berjalan mendekat."Aku kira kamu tidak jadi datang, Aura!" katanya sambil memelukku."Isya, kamu tidak tahu apa yang baru saja terjadi.

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 2

    "Aura, bangun!" teriak Ibu dari ambang pintu kamarku."Ini baru jam lima pagi. Hari ini bukan giliranku keluar," jawabku kaget sambil melirik jam di ponsel."Kamu tidak pergi hari ini. Alisa demam, jadi kamu harus menemaninya. Rendi tidak bisa mengurusnya sendirian saat dia sakit.""Tapi aku sudah b

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 1

    Sudah lewat pukul enam sore ketika ibuku muncul di depan pintu sambil berteriak, "Aura! Aura!"Aku segera bergegas keluar. Di tangannya ada beberapa kantong belanja."Cepat kemari, gadis bodoh! Kamu tidak lihat ini berat, ya?"Ibu seperti biasanya sedang dalam suasana hati yang buruk. Pasti Rendi Sa

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 6

    Pukul enam pagi, aku bangun dan mengenakan pakaian. Aku sedang merapikan beberapa laci ketika seseorang mengetuk pintu kamar. Aku langsung membukanya. Ternyata itu pria yang menurunkan barang-barang dari mobil kemarin saat aku tiba dari ibu kota bersama bayi dan Alverio."Selamat pagi, Nona Aura. Na

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status