Home / Romansa / Di Antara Dua Pilihan / Bab 2. Penyakit Langka

Share

Bab 2. Penyakit Langka

last update Last Updated: 2025-11-30 16:19:34

Air mata? Bukan. Keenan sudah menyelesaikan semuanya saat bersama Asyifa. Yang dilakukannya kini hanya menatap nanar ke arah Dhara yang terbaring dengan beberapa alat di tubuhnya.

“Kenapa kamu bisa bertahan sejauh ini, dan kenapa cuma saya yang tidak diberi tahu. Lalu, kenapa kamu tetap memilih saya. Kamu cuma buang waktu, kamu tahu itu?”

Dua jam lalu, setelah percakapan dengan dokter, Keenan berbicara banyak dengan ayahnya Dhara-Amir. Pria itu membenarkan penyakit yang diderita putrinya. Penyakit langka, yang hidupnya hanya mengandalkan keajaiban.

Gejala penyakit itu muncul tidak lama setelah kepergian ibunya Dhara-Deswita Maharani yang hingga saat ini keberadaannya tidak pernah diketahui oleh Amir sekali pun. Wanita itu pergi tanpa alasan. Ia hanya berkata ‘Ibu pergi karena terlalu mencintai Dhara, tapi Dhara boleh membenci Ibu.’

Genggaman lemah tangan Dhara menyadarkan Keenan dari lamunan. Tatapannya sayu, tetapi senyumannya indah. “Keenan, kamu di sini ....”

Dhara tampak bagai bunga yang baru mekar di pagi hari. Segar dan menyejukan.

Keenan mengangguk kecil. “Apa yang sakit?” Suara lembutnya.

Dhara menggeleng manja. “Saya sudah tidak sakit.” Senyuman di garis matanya kembali.

“Tadi ... kenapa kamu—pingsan?” Pertanyaan ini membuatnya kikuk hingga menggaruk sedikit pipinya karena mungkin ia adalah pemicunya.

“Kepala saya pusing,” jawab singkat Dhara. Bola matanya mengarah ke kanan atas, mencoba mengingat. “Saya tidak tahu apa yang terjadi, tapi saya tahu kamu di sini. Saya berpura-pura tidur tadi.” Ia terkekeh.

“Usil.” Keenan mencubit ringan sebelah pipi Dhara bersama senyuman hangat walau singkat.

“Apa yang terjadi?” Dhara tampak tenang.

Keenan menggeleng kecil. “Mungkin kamu kecapean.” Pun, ia harus menyeimbangkan keadaan walau dengan dusta.

“Masa sih? Seingat saya ... saya tidak pernah kecapean sampai masuk rumah sakit. Ini rumah sakit, kan?”

Lagi, senyuman Keenan tergambar. “Istirahat saja. Ngomong-ngomong, papa kamu di sini, sekarang lagi ambil obat.”

Dhara sedikit terperanjat. “Kenapa kamu telepon Papa ..., harusnya tidak usah ...!” rengeknya dengan kesal.

“Papa kamu keluarga kamu, jadi saya harus telepon papa kamu. Tidak ada yang salah.” Bahu Keenan menggendik kecil.

“Saya tidak mau Papa cemas ....” Bibirnya mengerucut.

Klik

Tampak, Amir datang dengan senyuman hangat. “Dhara sudah bangun ....”

Pintu kembali ditutup. Langkah Amir lunglai, tetapi senyumannya tampak berkebalikan.

“Dhara minta maaf karena buat Papa cemas ....”

“Papa sangat cemas.” Kresek putih berisi obat disimpan di atas nakas. “Tapi asal Dhara sudah bangun, Papa sudah tidak cemas.” Amir ingin mengusap pipi putrinya, tetapi terlalu canggung karena gadis kecilnya sudah tumbuh besar.

“Dokter bilang Dhara harus dirawat selama beberapa hari, tapi Papa minta maaf. Papa ... tidak bisa menemani Dhara karena harus bertugas keluar kota.” Udara panjang dibuang, sangat jelas jika Amir keberatan dengan keadaan ini.

Namun, Dhara meraih tangan ayahnya tanpa canggung. “Tidak apa-apa. Papa bekerja saja, tidak usah khawatirkan Dhara. Paling besok juga pulang. Mungkin Dhara cuma kecapean. Hihi ....”

Alih-alih memberi ketenangan, justru senyuman Dhara adalah pilu yang tertunda untuk Amir hingga pria ini memilih berpamitan dengan alasan ambigu demi menutupi lukanya.

“Hari ini Papa aneh,” keluh Dhara akhirnya setelah Amir hilang di balik pintu.

Keenan memperhatikan wajah polos Dhara tanpa berkomentar sedikit pun.

Hari menjelang sore. Sebenarnya ada banyak hal yang harus dilakukan, tetapi mengingat usia Dhara yang tidak lama lagi, Keenan memilih mengabaikan semuanya.

Setidaknya di sisa waktu Dhara, ia ada untuknya setelah selama dua tahun ke belakang ia sering menghilang tanpa alasan.

Malam ini, akhirnya mereka duduk berdua di bawah bulan. Namun, trauma masa lalu masih merenggut bahagianya. “Takut ....” Tangan mungil Dhara melingkar erat pada lengan Keenan.

“Bulan indah, gelap juga tidak semenyeramkan yang kamu pikirkan,” ucap Keenan bersama perasaan iba yang semakin mencuat ke permukaan.

“Saya tetap takut dan selalu takut.” Dhara menggigil hingga Keenan melepaskan cengkeraman di lengannya, diganti dengan pelukan.

“Kamu bilang saya matahari kamu jadi dunia kamu tidak pernah gelap. Harusnya itu juga berlaku sekarang.”

Dhara menatap Keenan yang juga menatapnya. “Iya ..., tapi kamu ....” Tiba-tiba saja lidahnya kaku ketika mengingat kejadian siang tadi.

Keenan mengartikan lewat mata berbinar Dhara. “Lagi-lagi saya harus minta maaf.” Ia menjeda hingga membuat Dhara hampir kembali menangis. “Ayo kita bertunangan!”

Seketika kedua mata Dhara membulat sempurna. Ini terlalu di luar dugaan dan terlalu mendadak. “Tu—nangan?”

“Ya.” Anggukan Keenan tidak terlihat tegas, tetapi diwakilkan oleh matanya.

“T-tapi ....”

Cup

Kecupan lembut mendarat di dahi Dhara hingga membuat jantung Dhara berhenti berdetak sesaat. Ini pertama kalinya mereka melakukan sentuhan fisik secara insten.

“Setelah bertunangan, kita akan menikah lalu punya anak!”

“Hah!” Jantung Dhara seolah akan meledak.

Keenan tersenyum menggoda seiring mengangkat dagu Dhara perlahan. “Itu kan, yang kamu mau.”

Dhara meremas celana panjangnya. ‘Beneran, apa ini bukan mimpi? Apa Keenan lagi melamar, apa Keenan beneran mau hidup sama aku yang ... punya penyakit?’

Bersambung ....

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Di Antara Dua Pilihan   Bab 40. Liana-Sang Mertua

    Dering telepon mengagetkan Dhara hingga hampir saja handphone dalam genggamannya terjatuh.Suaranya menggema di seluruh ruangan, tetapi sekali pun ia belum pernah menggunakan alat komunikasi satu itu. Gagang telepon diraih dengan gugup, “Ya, siapa? Ini kediamanan keluarga Wijaya,” ucap kakunya.Suara tidak asing mengisi seluruh ruang dengar Dhara. Lembut, tetapi seakan menusuk. “Kamu bicara apa, Sayang ... ayo makan. Mama tunggu.”Deg!Mama!“I-iya, Ma,” jawab paniknya. Gagang telepon disimpan perlahan dengan telapak tangan berkeringat. Ia segera mengeluh, “Kirain mamanya Keenan tidak di rumah ....”Sikap Liana tadi pagi masih menyerang mentalnya yang belum stabil. Namun, Dhara tidak memiliki pilihan. Maka langkahnya tetap tertuju pada ruang makan yang diisi oleh mertuanya.Dhara menatap mertuanya canggung dengan langkah perlahan. “Siang, Ma.”Liana sudah duduk elegan dengan sendok dan pisau di tangannya. “Jangan lupa makan, bibi bilang kamu langsung ke kamar.” Suaranya lembut, tetapi

  • Di Antara Dua Pilihan   Bab 39. Kesuksesan Tidak Menjamin Kebahagiaan Wanita

    Hari ini, pertemuan tanpa sengaja Dhara dan Langit terulang. Namun, berbeda dengan kemarin karena kali ini si gadis memilih menghindar walaupun mereka sempat beradu tatapan dengan jarak pemisah sekitar dua puluh langkah. Ia melangkah cepat saat memilih lorong lain. "Semoga kamu tidak kena masalah." Perasaan gelisah mengantui Dhara disetiap langkah. Hingga akhirnya ia berhenti setelah dirasa cukup jauh, menoleh ke arah belakang hanya untuk memastikan mereka sangat berjarak. Udara panjang dibuang. "Kalau aja takdir berkata lain. Kalau aja sakit ini tidak pernah ada. Saya dan Langit pasti menikah walaupun ...." Kalimatnya dijeda dengan penuh penyesalan, "cuma Langit yang cinta." Tangannya mengepal di depan dada. "Tapi, hidup saya tidak akan tertekan. Entah kenapa, rasanya saya tidak nyaman bersama keluarga Keenan. Dan ... mulai tidak nyaman dengan Keenan." Bibirnya bergetar. Rasa takut perlahan merasukinya, membuncai di kepalanya. Keenan dan keluarganya seperti kumpulan psikopat! D

  • Di Antara Dua Pilihan   Bab 38. Keluarga Perfeksionis

    Kali ini berbeda dari sebelumnya, Keenan tidak pernah merobek gaun Dhara, justru dengan sabar ia menunggu walau gestur tubuhnya sangat brutal. Meremas, menggulum dua puncak yang gembul, menjilati perut rata Dhara. Semua ia lakukan, seakan menunjukan kepemilikan mutlak terhadap gadis yang hingga saat ini masih diincar rivalnya. Ia memasukan miliknya dengan penuh gairah, di tempat luas, tetapi sangat sunyi. Tidak akan ada yang mengganggu mereka di tempat terbuka ini karena aturan adalah aturan. Keenan melarang siapapun memasuki areanya kecuali atas perintah dan permintaannya. Tubuh Dhara terpapar oleh keringat Keenan sekalian oleh AC, tetapi anehnya ia tidak merasakan dingin karena terlalu akrab dengan gairah meledak-ledak suaminya. Hampir semua bagian tubuhnya berwarna merah, Keenan hanya menyisakan bagian belakang saja. Dhara berbaring di atas ranjang luas setelah suaminya menyelesaikan gairahnya. Ia bermain brutal dan memiliki durasi yang membuat gadis ini lemas. "Tidur n

  • Di Antara Dua Pilihan   Bab 37. Sifat Asli Keenan

    Mobil mewah berhenti di halaman rumah, jaraknya hanya beberapa senti meter dari teras luas ini. Waktu menunjukan pukul sembilan malam, Keenan dan Dhara kembali 2 jam lebih awal."Emang tidak apa-apa kita pulang duluan? Mama sama Papa masih di sana, kan?" tanya Dhara seiring memandangi Keenan dan nada suara seperti biasanya. Namun, kali ini berbeda dengan sebelumnya. Keenan tidak membalas, bahkan tidak menatap Dhara sedikit pun. Padahal selama perjalanan, hubungan mereka masih sangat hangat. Dhara mengunci mulutnya, berpikir jika Keenan terlalu. Bahkan ia dengan sengaja membuka pintu mobil tanpa bantuan suaminya. Tetapi, perhatian Dhara segera tercuri saat melihat Keenan yang segera masuk ke dalam rumah, seolah ia tidak ada. Kenapa? Apa karena pertemuan dengan Langit? Gadis ini tidak lupa. Apalagi ... tentang sorot mata Keenan yang tidak biasa!Langkah pendeknya mengikuti Keenan hingga lift. Di dalam ruangan sempit ini, tatapan Dhara selalu mencari tahu keadaan suaminya, tetapi s

  • Di Antara Dua Pilihan   Bab 36. Kamu Tahu Aturannya?

    Tepatnya hari senin, Anggara dan relasinya melakukan pertemuan bisnis. Acara ini bisa disebut pesta. 'Pesta pebisnis'. Keenan berdiri gagah di samping Anggara. Stelan formal itu sangat mencitrakan statusnya yang seorang pewaris satu-satunya. Namun, berbeda dengan Dhara, justru gadis ini duduk seorang diri di depan meja kaca yang dibalut kain putih gading dengan brokat berwarna emas di pinggirannya. Ia hanya tersenyum sesekali kepada semua orang yang tanpa sengaja beradu panjang. Selain itu, tidak ada lagi yang bisa dilakukannya. Ia hanya duduk dengan canggung. "Kalau kaya gini harusnya saya tidak ikut," keluhnya dengan tatapan kesal tertuju pada Keenan yang berada cukup jauh. Ia menarik udara cukup panjang, lalu menoleh ke arah kiri berharap sedikit mencairkan rasa canggungnya. Deg!Sepasang mata bak berlian berhenti tepat ke arah lelaki yang juga sedang memandanginya, tersenyum lembut padanya, dan seolah lalu lalang manusia tidak pernah ada. "Langit!" Dhara tidak bisa menahan

  • Di Antara Dua Pilihan   Bab 35. Hal Mengganjal

    Dhara berdiri di depan jendela, menatap taman luas yang dikelilingi pagar besi setinggi tiga meter. Di sana, beberapa pria bersetelan jas hitam tampak berjaga dengan alat komunikasi di telinga mereka. Awalnya, Keenan meyakinkannya bahwa itu adalah protokol keamanan standar untuk melindungi keluarganya dari sisa-sisa musuh politik ayahnya. Namun, seperti ada kejanggalan. Mungkin senjata-senjata itu tidak hanya diarahkan ke luar, tetapi juga ke dalam—kepadanya? Aturan pertama yang dibuat Keenan adalah tidak boleh ada nama Langit di rumah ini. Dan hari ini Dhara kehilangan no kontak sahabatnya. ​ Ia juga selalu mengingat kata-kata terakhir Keenan sebelum ayahnya memanggilnya ke kantor. 'Membuat seorang istri patuh'. Itu sangat tabu untuk Dhara. Patuh seperti apa yang suaminya maksud? Kini, Dhara sedang merindukan ayahnya, ia mengambil tas tangannya. Setelah menemukan ruangan mencurigakan tempo hari, hatinya tidak tenang. Ia perlu bicara dengan ayahnya secara langsung, tanpa melalu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status