LOGIN"Apa wajah tampanku sesuai seleramu Nona?"
Hal yang paling tidak masuk akal bagi Florence saat momen itu ialah ia begitu terpana memandang paras duke di depannya. Garis wajah yang tegas serta iris mata birunya yang begitu bersinar membuat Florence enggan mengedipkan mata. Mendengar nada sinis Duke Cassian di depannya, Florence langsung tersadar. Ia kemudian membungkuk hormat layaknya seorang bangsawan. Ia juga sempat merasa waswas dengan pandangan duke melihat etiket penghormatannya yang begitu kaku. Maklum saja karena Florence baru belajar tadi malam bersama Clarice. "Salam kepada Yang Mulia Duke Cassian of Silverhood. Saya Clarice of Valeridge dari kerajaan Aethelgard. Terima kasih telah menerima kedatangan saya di sini," ujar Florence tanpa lupa memperkenalkan dirinya sebagai Clarice, bukan Florence. "Menerima?" Duke Cassian mengulangi kata itu seolah ada masalah dengan kata itu. "Kau tahu mengapa kau di sini?" "Untuk menyegel perjanjian damai antara—" "Untuk menjadi jaminan," potongnya. "Jika kalian melanggar perjanjian..." ia mendekat ke arah Florence beberapa langkah darinya. "Kau memahami matematika sederhana itu, kan, Nona Clarice?" Florence menelan ludah. "Saya mengerti, Yang Mulia." "Bagus." balas Duke Cassian dengan tatapan tajam. "Kau tidak seperti yang kuduga." Florence merasa darahnya tersedot habis. Apakah Duke Cassian tahu rahasianya. "Bagaimana Yang Mulia menduga? Apakah saya yang lebih menawan daripada di potrait, Yang Mulia?" tanya Florence berpura-pura menutup ketegangannya dengan melontarkan lelucon yang garing. "Lebih cantik. Lebih muda. Sangat membuat hatiku berdesir, Nona." Florence tersenyum lebar. Duke di depannya ini sangat pandai dalam berakting, pikirnya. "Tapi kita semua tahu penampilan bisa menipu." Bagaikan di sambar petir, kalimat duke selanjutnya melunturkan senyum di wajah Florence. Bisa ia lihat pria itu tersenyum mencemooh telah berhasil membuat Florence kesal. Di tengah suasana menegangkan barusan, seorang pelayan tua muncul. "Kamar nona muda sudah siap, Yang Mulia." “Bawakan barang-barangnya ke sayap utara. Kamar yang jauh dari ruang kerjaku,” jawab Duke Cassian. Pelayan itu terlihat tergagap. "Tapi, Yang Mulia, kamar itu—" "Sudah lama tidak digunakan, aku tahu," kata Duke tanpa menoleh. "Sangat cocok untuk seorang... tamu tak diinginkan." Di hadapan Florence, Duke Cassian tersenyum lebar. "Selamat datang di Silverhood, Nona Clarice." Suaranya pelan, tapi menusuk. "Semoga kau bertahan lebih lama dari yang dugaanku," ucapnya lalu berlalu dari hadapan Florence sebelum Florence sempat bertindak. Pelayan tua itu pucat. "Mari ikuti saya, nona muda. Akan saya tunjukkan kamarnya." Saat mereka berjalan melalui koridor yang gelap dan dingin, desisan bisikan mengikuti mereka dari balik tirai dan pintu tertutup. Florence menggenggam tangannya erat-erat. "Apa yang terjadi di tempat ini?" bisik Florence. Sampailah Florence ke kamar yang akan ia tempati. Matanya tertuju pada pintu kayu ek tua di ujung koridor. Sebuah plakat perak tergantung di atasnya, tergores dengan tulisan yang hampir terhapus. Sayangnya Florence tak bisa membaca tulisan itu. Pelayan tua itu berhenti, tangannya gemetar memegang kunci. "Dia... Yang Mulia Duke mengatakan Nona akan tinggal di sini malam ini." Saat kunci berputar dengan suara berderit, pintu terbuka perlahan. Kamar itu gelap total, berbau campuran debu, mawar busuk, dan aroma besi berkarat seperti darah. "Beginikah kau memperlakukan calon istrimu, duke? Sungguh romantis!" cibir Florence tak habis pikir. Florence menahan napas kala menatap kamar yang akan ditempatinya ini. Aroma debu dan kayu yang lembab menyergap dari segala sudut ruangan. Ketika pandangannya menelusuri sekitar, ia melihat sumber aroma darah tadi. Sebuah vas kristal pecah di lantai dekat jendela. Di sekitarnya terdapat kelopak mawar kering serta darah yang telah mengering menempel di sana. Entah darah siapa yang ada di sana, Florence tidak ingin berpikir lebih jauh. Pelayan tua tadi juga sepertinya kaget tidak menyangka kondisi kamarnya akan seburuk ini. Dengan tatapan iba ia kemudian berkata, "Biar saya bantu bersihkan, Nona." “Terima kasih, bibi. Aku sudah terbiasa bebersih sendiri di rumah. Tolong ambilkan peralatan kebersihan ya biar cepat kita bersihkan, aku lelah jadi ingin cepat berbaring," jawab Florence seraya tersenyum menenangkan. "Baik, Nona muda, " jawab pelayan tua itu kemudian melenggang ke luar ruangan. Florence menyingsingkan lengan gaunnya. Bertahun tahun diperlakukan seperti pelayan di kediamannya sendiri telah mengajarkannya banyak hal, mungkin sekarang adalah saatnya kemampuan itu berguna untuknya.Alih-alih tetap diam, Florence yang sudah kehilangan kesabaran memutuskan untuk memberikan serangan balik yang sangat tidak terduga bagi seorang Duchess. Lagi pula lawannya hanya seorang pelacur rendahan, bukan bangsawan yang biasa ia lawan di pesta teh. Florence menatap lekat-lekat pada bagian dada wanita itu yang sangat menonjol di balik gaun tipisnya, lalu ia beralih menatap Duke Cassian dengan ekspresi ngeri yang dibuat-buat. "Yang Mulia, sebaiknya Anda sedikit menjauh," ucap Florence dengan nada bicara yang cukup keras hingga membuat gerakan tangan Count Owen terhenti untuk menyesap anggur di gelasnya. Duke Cassian mengernyitkan dahi, menatap istrinya dengan bingung. "Kenapa?" Florence menunjukkan ekspresi khawatir, matanya kembali tertuju pada wanita centil yang masih berdiri di dekat mereka. "Bukan, Yang Mulia. Saya hanya khawatir ... melihat ukuran dadanya yang sebesar itu dan kain gaunnya yang tampak sangat sesak, saya takut benda itu tiba-tiba meletus dan mengenai waja
Fabian terdiam sejenak lalu berbalik badan. Ia melirik Duke Cassian dan Florence bergantian. Kemudian ia menatap Count Owen seraya menarik garis bibirnya ke atas. "Ah, maaf, Tuan. Saya hanya merasa sedikit lapar dan berniat mencari kedai makanan di sekitar sini," ujar Fabian sambil mengusap lehernya beberapa kali. Count Owen lantas memaksakan tawanya yang terdengar sedikit keras. "Astaga aku lupa untuk mentraktir kalian dan malah membuat kalian kelaparan sekarang." Situasi yang sebelumnya tegang mendadak cair ketika Count Owen tertawa terbahak-bahak, seolah kecurigaannya tadi hanyalah gurauan belaka untuk menguji nyali Fabian dan pihak Duke Cassian. Ia menepuk bahu Duke Cassian dengan akrab, sementara Fabian segera memberi isyarat halus pada pasukannya di balik bayangan untuk menyelesaikan evakuasi secepat kilat. "Lupakan soal peti-peti membosankan ini, Yang Mulia! Karena kesepakatan sudah tercapai, mari kita rayakan kerja sama kita di tempat yang lebih ... privat," ujar Count Owe
Sebelum kereta kuda berangkat menuju dermaga, Duke Cassian, Florence, dan Fabian berkumpul di ruang kediaman mereka di Valeridge yang tertutup rapat. Cahaya lilin yang temaram memantulkan bayangan serius di wajah mereka. "Fabian, kau sudah mengerti tugasmu?" tanya Duke Cassian sembari memeriksa ketajaman belati tersembunyi di balik jasnya. Fabian membungkuk hormat, wajahnya kaku seperti batu. "Saya akan berperan sebagai perantara logistik, Yang Mulia. Begitu kita berada di dalam gudang, pasukan elit kita yang menyamar sebagai kuli panggul akan mulai mengamankan isi peti kemas tersebut secara bertahap saat Count Owen lengah." Florence menatap peta pelabuhan yang terbentang di meja. "Pastikan anak-anak itu dibawa keluar melalui jalur drainase bawah yang terhubung ke gudang Silverhood. Kita butuh mereka sebagai barang bukti hidup yang tidak bisa dibantah," sahut Florence.Fabian mengangguk khidmat. "Saya mengerti, Nyonya.""Baiklah kita berangkat sekarang," ucap Duke Cassian memimp
Tiba saatnya perjamuan di kediaman Valeridge. Semua bangsawan yang mendapatkan undangan hadir dengan kereta kuda yang terparkir rapi di halaman. Sebenarnya pertemuan ini adalah kedok belaka. Florence dan Duke Cassian hanya ingin memancing keluar bangsawan yang terdaftar di mitra bisnis dan donatur suci yang ditemukan tempo hari di ruang kerja Duke Benedictus."Sudah siap?" bisik Duke Cassian dari balik punggung Florence.Lantas Florence menoleh ke samping dan mendongak. "Tentu saja, Yang Mulia," ucapnya sembari tersenyum manis.Melihat Florence yang terlihat percaya diri membuat Duke Cassian ikut terkekeh pelan. Kemudian ia menyodorkan lengannya. "Mari kita pancing para bajingan itu, Sayang." Florence tertawa kecil lalu menyambutnya dengan melingkarkan tangannya pada lengan kokoh Duke Cassian, membiarkan jemarinya bertengger ringan di sana sebagai simbol kesetiaan mereka di depan publik. Ia bisa merasakan otot lengan suaminya sedikit menegang di balik kain beludru setelannya, namun p
Anak perempuan yang mereka selamatkan semalam, kini sedang berdiri di tengah ruangan dengan kuas di tangan dan wajah belepotan cat warna-warni. Di depannya, Blake, juga tak kalah belepotan. Wajahnya dipenuhi sapuan kuas cat hijau, rambutnya berhias bintik-bintik merah, dan jubahnya kini seperti palet berjalan. "Ah ... selamat datang!" seru Blake dengan tawa renyah, sama sekali tidak menyadari betapa konyol penampilannya. "Kami sedang mencoba teknik melukis baru!" Sebelum Florence sempat bereaksi, anak itu tiba-tiba berlari ke arah mereka dengan semangat, membawa kuas yang masih penuh cat biru cerah. SPLASH! Florence merasakan cipratan cat biru mendarat telak di pipinya, tepat di sebelah hidungnya. Ia terkesiap, lalu melirik Duke Cassian yang berdiri di sampingnya. Duke Cassian, penguasa Silverhood yang selalu dingin dan berwibawa, kini memiliki noda cat kuning cerah di dahinya, sedikit merah di jubahnya, dan beberapa bintik hijau di rambut hitamnya yang biasanya tersisir rapi
Sore harinya Florence dan Duke Cassian berdiri di aula katedral yang megah, menunggu kedatangan Sang Paus. Duke Cassian berdiri tegak, sementara Florence menunggu dengan bosan. Pasalnya sudah sejam mereka menunggu Paus yang tengah berdoa. Kemudian Paus Silvanus melangkah masuk dengan jubah putih bersih yang menyapu lantai, memancarkan aura kesucian yang menenangkan bagi siapa pun yang melihatnya. "Kami datang untuk memohon maaf atas kekacauan yang terjadi di perayaan bulan purnama semalam, Paus Silvanus," ucap Florence sembari membungkuk hormat. Paus tidak langsung menjawab. Ia justru berjalan mendekati Duke Cassian, menatap wajah pria itu dengan intensitas yang tidak biasa. Sebuah tatapan yang menyiratkan kerinduan yang mendalam. Itu hanya sepersekian detik sebelum ekspresinya itu kembali datar. "Wajahmu... kau benar-benar mewarisi matanya," gumam Paus Silvanus, suaranya terdengar seperti bisikan yang teredam emosi mendalam. "Ia adalah Perdamaian yang paling indah, namun semu







