共有

Duke yang Dingin

作者: arctrs_
last update 最終更新日: 2026-01-11 12:55:14

"Apa wajah tampanku sesuai seleramu Nona?"

Hal yang paling tidak masuk akal bagi Florence saat momen itu ialah ia begitu terpana memandang paras duke di depannya. Garis wajah yang tegas serta iris mata birunya yang begitu bersinar membuat Florence enggan mengedipkan mata.

Mendengar nada sinis Duke Cassian di depannya, Florence langsung tersadar. Ia kemudian membungkuk hormat layaknya seorang bangsawan. Ia juga sempat merasa waswas dengan pandangan duke melihat etiket penghormatannya yang begitu kaku. Maklum saja karena Florence baru belajar tadi malam bersama Clarice.

"Salam kepada Yang Mulia Duke Cassian of Silverhood. Saya Clarice of Valeridge dari kerajaan Aethelgard. Terima kasih telah menerima kedatangan saya di sini," ujar Florence tanpa lupa memperkenalkan dirinya sebagai Clarice, bukan Florence.

"Menerima?" Duke Cassian mengulangi kata itu seolah ada masalah dengan kata itu. "Kau tahu mengapa kau di sini?"

"Untuk menyegel perjanjian damai antara—"

"Untuk menjadi jaminan," potongnya. "Jika kalian melanggar perjanjian..." ia mendekat ke arah Florence beberapa langkah darinya. "Kau memahami matematika sederhana itu, kan, Nona Clarice?"

Florence menelan ludah. "Saya mengerti, Yang Mulia."

"Bagus." balas Duke Cassian dengan tatapan tajam. "Kau tidak seperti yang kuduga."

Florence merasa darahnya tersedot habis. Apakah Duke Cassian tahu rahasianya. "Bagaimana Yang Mulia menduga? Apakah saya yang lebih menawan daripada di potrait, Yang Mulia?" tanya Florence berpura-pura menutup ketegangannya dengan melontarkan lelucon yang garing.

"Lebih cantik. Lebih muda. Sangat membuat hatiku berdesir, Nona."

Florence tersenyum lebar. Duke di depannya ini sangat pandai dalam berakting, pikirnya.

"Tapi kita semua tahu penampilan bisa menipu."

Bagaikan di sambar petir, kalimat duke selanjutnya melunturkan senyum di wajah Florence. Bisa ia lihat pria itu tersenyum mencemooh telah berhasil membuat Florence kesal.

Di tengah suasana menegangkan barusan, seorang pelayan tua muncul. "Kamar nona muda sudah siap, Yang Mulia."

“Bawakan barang-barangnya ke sayap utara. Kamar yang jauh dari ruang kerjaku,” jawab Duke Cassian.

Pelayan itu terlihat tergagap. "Tapi, Yang Mulia, kamar itu—"

"Sudah lama tidak digunakan, aku tahu," kata Duke tanpa menoleh. "Sangat cocok untuk seorang... tamu tak diinginkan."

Di hadapan Florence, Duke Cassian tersenyum lebar. "Selamat datang di Silverhood, Nona Clarice." Suaranya pelan, tapi menusuk.

"Semoga kau bertahan lebih lama dari yang dugaanku," ucapnya lalu berlalu dari hadapan Florence sebelum Florence sempat bertindak.

Pelayan tua itu pucat. "Mari ikuti saya, nona muda. Akan saya tunjukkan kamarnya."

Saat mereka berjalan melalui koridor yang gelap dan dingin, desisan bisikan mengikuti mereka dari balik tirai dan pintu tertutup. Florence menggenggam tangannya erat-erat.

"Apa yang terjadi di tempat ini?" bisik Florence.

Sampailah Florence ke kamar yang akan ia tempati. Matanya tertuju pada pintu kayu ek tua di ujung koridor. Sebuah plakat perak tergantung di atasnya, tergores dengan tulisan yang hampir terhapus. Sayangnya Florence tak bisa membaca tulisan itu.

Pelayan tua itu berhenti, tangannya gemetar memegang kunci. "Dia... Yang Mulia Duke mengatakan Nona akan tinggal di sini malam ini."

Saat kunci berputar dengan suara berderit, pintu terbuka perlahan. Kamar itu gelap total, berbau campuran debu, mawar busuk, dan aroma besi berkarat seperti darah.

"Beginikah kau memperlakukan calon istrimu, duke? Sungguh romantis!" cibir Florence tak habis pikir.

Florence menahan napas kala menatap kamar yang akan ditempatinya ini. Aroma debu dan

kayu yang lembab menyergap dari segala sudut ruangan.

Ketika pandangannya menelusuri sekitar, ia melihat sumber aroma darah tadi. Sebuah vas kristal pecah di lantai dekat jendela. Di sekitarnya terdapat kelopak mawar kering serta darah yang telah mengering menempel di sana. Entah darah siapa yang ada di sana, Florence tidak ingin berpikir lebih jauh.

Pelayan tua tadi juga sepertinya kaget tidak menyangka kondisi kamarnya akan seburuk ini. Dengan tatapan iba ia kemudian berkata, "Biar saya bantu bersihkan, Nona."

“Terima kasih, bibi. Aku sudah terbiasa bebersih sendiri di rumah. Tolong ambilkan peralatan kebersihan ya biar cepat kita bersihkan, aku lelah jadi ingin cepat berbaring," jawab Florence seraya tersenyum menenangkan.

"Baik, Nona muda, " jawab pelayan tua itu kemudian melenggang ke luar ruangan.

Florence menyingsingkan lengan gaunnya. Bertahun tahun diperlakukan seperti pelayan di kediamannya sendiri telah mengajarkannya banyak hal, mungkin sekarang adalah saatnya kemampuan itu berguna untuknya.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Tidur Seranjang

    "Mengapa Nona menyendiri di sini?" Florence menyesap kembali alkohol dari gelasnya. "Bukan nona tapi nyonya duchess, Yang Mulia Pangeran," balas Florence dengan linglung. Di saat seperti ini Florence justru malah mengomentari status sosialnya. Entah keberanian dari mana ia mampu mengoreksi kesalahan Pangeran Aurelian di sampingnya. "Maafkan kesalahan saya ini, Nyonya Duchess," kata Pangeran Aurelian dengan terkikik geli melihat sikap Florence. Ini tidak seperti Florence yang anggun sebagai seorang istri duke. "Benar, aku bukanlah seorang nona lagi. Mengapa aku harus menikahi duke sialan itu, hah? Aku sungguh menyesal!!" racau Florence sudah sepenuhnya mabuk melihat gelas di tangannya sudah kosong. Melihat Florence yang sudah kehilangan akal, Pangeran Aurelian berusaha terus mengajaknya mengobrol. "Mengapa Anda harus menyesal, Nyonya? Duke Cassian adalah pria nomor dua di kekaisaran ini? Bukankah seharusnya keberuntungan ada di pihak Anda?" Dengan pandangan bingung, Florence b

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Sayang?

    Resepsi di aula kediaman Duke Cassian dipenuhi musik dan berbagai kemewahan pesta. Duke Cassian dan Florence harus berjabat tangan dengan puluhan bangsawan, masing-masing dengan senyuman yang sama palsunya.Pada puncak acara, Duke Cassian akan berdansa untuk pertama kalinya dengan Florence di tengah aula. Florence merasakan semua tatapan tertuju padanya. Hanya untuk berjalan saja kakinya terasa lemas apalagi untuk berdansa. Bisakah Florence melarikan diri sekarang? "Mari berdansa, istriku?" pinta Duke Cassian seraya mengulurkan tangannya pada Florence.Walaupun dengan berat hati, Florence menerima uluran tangan Duke Cassian. Mereka melangkah menuju ke tengah aula dengan semua jenis tatapan tertuju pada mereka. Florence entah mengapa tidak bisa menghentikan lirikan matanya ke arah Putri Seraphina di sudut dinding sana. Yang terlihat hanya ekspresi dingin kala melihat Florence dan Duke Cassian. Florence juga baru ingat kalau Putri Seraphina tidak terlihat di acara pernikahannya di ge

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Sebuah Ciuman Pernikahan

    Akhirnya tiba hari di mana Florence akan menikah dengan Duke Cassian setelah seminggu ia telah disibukkan persiapan pernikahan yang tiada habisnya. Upacara pernikahan dilakukan di Gereja Kerajaan Ironhard dan dipimpin langsung oleh Uskup Agung. Florence melangkah menyusuri jalan dengan merangkul lengan ayahnya. Selama ia hidup baru kali ini ia bisa menyentuh kehangatan yang ayahnya berikan walaupun itu cuma kepalsuan. Di altar, Duke Cassian tengah menunggunya dengan mimik muka yang sulit dipahami. Namun tatapan matanya tak pernah berpaling darinya bahkan sedetik pun. Florence tahu bahwa akting calon suaminya itu patut diacungi jempol sampai-sampai ia mengira bahwa tatapan itu tertuju pada pujaan hatinya yang sudah lama ia dambakan. Sungguh ironis, pikir Florence karena sempat dibuat berdebar karenanya.Kala Florence sampai di altar dan ayahnya menyerahkannya pada Duke Cassian, tatapannya masih tetap memandangnya tanpa sepatah kata pun. Florence memberanikan diri membuka suara, "Terpe

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Milikku

    Keesokan paginya, kediaman Silverhood kedatangan Putri Seraphina serta penjahit kerajaan dengan enam asisten dan tiga rak gaun. Duke Cassian dan Florence tidak menyangka kalau putri itu akan secepat ini untuk datang mengingat baru kemarin pertemuan mereka berlangsung."Kalian tidak lupa kan kalau aku mendapatkan perintah dari Ayah untuk membantu persiapan pernikahan kalian?" kata Putri Seraphina dengan wajah tak berdosanya itu.Florence menarik senyum, lalu membalas, "Yang Mulia Putri sangat baik hati untuk meluangkan waktu Anda yang berharga. Pasti Yang Mulia punya tugas-tugas lain yang tak kalah penting dari ini, tapi Yang Mulia justru memprioritaskan kami."Putri Seraphina harusnya menyadari ucapan Florence sarat akan sindiran padanya. Namun Putri itu tampaknya tak terlalu mengambil hati. Ia beralih memandang Duke Cassian. "Apa aku mengganggu waktu kalian di sini? Maafkan aku yang terlalu bersemangat. Aku akan pulang dan bilang kepada Ayah-"Duke Cassian menyela, "Tidak. Kita bisa

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Rangkulan yang Manis

    Florence yang mendengar perkataan Putri Seraphina tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya. Apakah Duke Cassian dan Putri Seraphina memang pernah menjadi sepasang kekasih sebelumnya? Putri Seraphina juga dengan lantang memanggil Duke Cassian dengan nama kecilnya.Duke Cassian tidak merespons Putri Seraphina, melainkan memandang Florence dengan penuh arti sambil merangkul pinggangnya. "Sejak melihat Nona Clarice untuk pertama kalinya aku merasakan getaran yang tiada henti. Mungkin kami memang telah ditakdirkan untuk bersama," ujarnya lalu mengambil jemari Florence dan mengecupnya perlahan.Florence mematung melihat ucapan dan tindakan duke barusan. Apa tadi katanya? Getaran tiada henti? Ditakdirkan untuk bersama? Sungguh mulut Duke Cassian ini terlalu lihai untuk berbohong. "Akhirnya musim semi jatuh juga untuk Silverhood. Semoga pernikahan kalian nanti diberkati, Duke Cassian dan Nona Clarice," ujar Raja Aldric seraya bertepuk tangan untuk memecah keheningan.Florence lalu melirik re

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Mantan Kekasih Duke?

    Kereta mewah berlapiskan perak melaju pelan menyusuri jalan berliku menuju Istana Kerajaan Ironhard. Di dalam kabin yang sempit, Florence dan Duke Cassian duduk berseberangan, menciptakan jarak di antara keduanya tetap terjaga. Florence melirik Duke Cassian dari ujung matanya. Terlihat duke sedang menatap keluar jendela. Kalau sedang tenang begini, Florence tidak bisa menyangkal aura dominan yang ia ciptakan. Kalau saja mulutnya itu sedikit lebih manis, pasti Florence akan melunak. Sayangnya mulutnya itu diciptakan hanya untuk menghinanya. "Apakah di Aethelgard tidak ada yang setampan diriku, Nona? Berhenti menatapku atau kuturunkan kau di sini." Florence terkesiap. Ia tidak menyangka lirikannya telah berubah menjadi tatapan penuh arti. Duke Cassian masih menatap ke luar jendela. Karena sudah tertangkap basah telah memandangi Duke Cassian, Florence memaksakan batuknya. "Saya bukannya memandang Yang Mulia, hanya ikut melihat pemandangan indah di luar kereta. Ini adalah pertama kali

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status