Share

Di Atas Ranjang Duke Cassian
Di Atas Ranjang Duke Cassian
Penulis: arctrs_

Pengantin Pengganti

Penulis: arctrs_
last update Tanggal publikasi: 2026-01-09 18:51:35

"Tanggal pernikahan dengan Duke Cassian sudah ditentukan, Florence. Jangan membuat masalah dan patuhi saja kali. Setidaknya dirimu berguna untuk Kerajaan Aethelgard kita."

Florence menatap lantai marmer di bawah tanpa suara. Kali ini ucapan ayahnya sudah tidak bisa diganggu gugat. Ayahnya ialah seorang duke penguasa wilayah Valeridge, sebuah wilayah di kerajaan Aethelgard yang terkenal sebagai "Jantung Kehidupan". Tanahnya yang tidak pernah kering dan hasil pertaniannya mampu menghidupi seluruh benua. Sayangnya ayahnya tidak pernah menghidupi Florence dengan layak berkat label kutukan dalam dirinya.

"Jawab, Florence! Apakah terlalu banyak bermain dengan para pelayan membuatmu tuli?" bentak ayahnya.

Florence yang sudah kebal dengan bentakan ayahnya berusaha tidak bereaksi berlebihan seperti biasanya. Kalau dulu ia bisa merasakan hatinya bergetar ngilu serta lidah yang kelu, kali ini Florence menatap ayahnya dengan pandangan berani.

"Baik, Ayah. Saya bersedia menikah dengan Duke Cassian dengan satu syarat. Izinkan Clarice menikah dengan kekasihnya terlepas dari statusnya yang bukan seorang bangsawan."

Florence tahu Clarice yang merupakan saudara kembarnya itu tengah mendengarkan percakapannya mereka di balik pintu. Tidak sekalipun Florence pernah merasakan kebencian kepada saudara kembarnya itu. Entah itu label "berkat" dari pihak gereja, ayah yang hanya menyayangi Clarice dan memberikan segala bentuk dukungan pendidikan kepadanya, atau pun rakyat Aethelgard yang mengagung-agungkannya sebagai penyelamat dalam paceklik pangan sejak kelahirannya.

"Baiklah, akan aku pikirkan. Sekarang pergilah berkemas. Besok kita pergi ke kerajaan Ironhard untuk persiapan pernikahanmu. Sekali lagi jangan membuat ulah atau Ayah tidak akan tinggal diam kali ini, Florence!"

Mendengar tidak ada penolakan dari ayahnya, Florence menundukkan kepala seraya berkata, "semoga harimu menyenangkan, Ayah" lalu melangkah keluar dari ruang kerja ayahnya.

Benar saja di balik pintu ia menemukan Clarice yang menatapnya nyalang.

"Florence, maafkan aku," lirihnya dengan suara serak. Sepertinya sebentar lagi Clarice akan menangis. Ya, kembarannya itu memang cengeng sepanjang kehidupan mereka.

"Minta maaf untuk apa, Clarice? Aku menyayangimu dan mengikuti semua perintah Ayah untuk melindungimu. Aku pikir Ayah tidak akan begitu gegabah memberikan pengantin pengganti dengan label 'kutukan' tanpa rencana yang matang. Kau juga tahu kan kalau aku ini juga kuat? Tenang saja dan serahkan pada kembaranmu ini."

Clarice mulai berkaca-kaca dan langsung mendekap Florence dengan erat. Napasnya terdengar berat menahan tangis dan dadanya begitu sesak.

"Berjanjilah untuk selalu mengirimkan surat untukku, Florie! Aku tidak peduli walaupun kau akan menuliskan tentang ramuan konyol pembangkit hidup yang kau ceritakan sepanjang hari. Berjanjilah untuk tetap hidup, Florie. Aku menyayangimu," ucap Clarice dengan suara khasnya yang seperti anak kecil yang merajuk. Sudah lama pula ia tidak mendengar panggilan kecilnya itu terucap dari bibir Clarice.

Florence tanpa sadar tersenyum lebar. Bagaimana bisa ia bisa membenci Clarice? Dari semua orang yang hidup di dunia ini, hanya Clarice seorang yang menyayanginya. Dan itu sudah cukup untuk Florence tetap hidup. Tidak peduli rencana kotor ayahnya yang akan menumbalkan dirinya kepada seorang Duke muda dari kerajaan musuh.

"Iya, Clarice. Aku janji," ucap Florence seraya mengeratkan pelukannya.

"Aku dengar Duke Cassian itu sangat mengerikan, Florence! Dia saja berani menolak Putri Seraphina yang seorang anak raja! Kau yakin dengan pilihanmu ini? Masih ada waktu untuk berubah pikiran. Kita bisa kabur ke mana pun asalkan kau aman," celoteh Clarice dengan menggebu-gebu mulai tidak yakin dengan pilihan Florence.

Florence menarik sudut bibirnya membentuk senyum kecil lantas menarik diri dari Clarice. "Ke manapun kita pergi, Ayah pasti bisa menangkap kita, Clarice. Tidak ada yang bisa kita lakukan kalau Ayah sudah marah besar. Aku tidak ingin kau terluka sama sepertiku."

Clarice menatap Florence dengan sendu lagi. bibir kecilnya itu dengan lirih menjawab, "Janji padaku untuk selalu mengirimkan surat, ya!”

***

Dinginnya musim gugur kali ini terasa menusuk sampai ke tulang. Perlahan namun pasti kereta kuda yang membawa Florence mulai melintasi tingginya gerbang besi kediaman Duke Cassian of Silverhood.

Tiap deritan roda di atas jalan ini terasa seperti pukulan gong untuk kematiannya yang lambat. Florence menangkupkan jemarinya yang tengah gemetar di atas lapisan gaun terindah yang pernah ia pakai. Ironisnya itu adalah hadiah pernikahan paksa dari keluarganya sendiri.

"Padahal hanya melintas gerbang saja, tapi aku sudah seperti masuk ke kandang singa," gumam Florence sambil menatap ke luar jendela dari kereta.

Sepanjang Florence memandang, kediaman duke ini bukankah terlalu megah? Bangunan yang ada dominan berwarna hitam dan perak menjulang seperti taring es, jauh berbeda dari kediamannya yang berwarna putih cerah. Selain itu juga tidak ada bunga dan hiasan. Hanya bendera hitam perak bergambar serigala yang berkibar di tengah air mancur.

"Nona muda, kita sudah sampai," ujar kusir kereta kuda dari depan.

Florence mengangguk, tangan terkepal di pangkuannya. 'Aku adalah pembawa kutukan yang dikirim sebagai berkat', pikirnya sambil menatap menara-menara runcing yang mencuat seperti taring serigala.

Florence terkesiap mendengarnya. Tanpa sadar tangannya bergetar kembali menandakan kegugupan yang tak terbendung. Saat ia turun, seorang pria bertubuh tegap dengan perawakan setengah baya tengah menunggunya di samping kereta. "Selamat datang Nona Clarice of Valeridge di wilayah Silverhood kami," ucapnya kemudian dengan nada khas kepala pelayan.

"Yang Mulia Duke sedang menunggu," kata pria itu lagi tanpa senyum. "Mari ikuti saya, Nona."

Florence memaksakan senyumnya, kakinya hampir terpeleset kala melangkah memasuki bangunan utama karena begitu gugup. Di kanan dan kirinya para penjaga berbaris seperti patung dengan mata kosong dan waspada. Tidak ada sambutan hangat. Tidak ada musik. Hanya kesunyian yang lebih tajam dari angin, pikirnya.

Ketika Florence sampai di dalam, ia melihat seorang pria yang begitu tinggi dan gagah dengan pakaian yang sangat memperlihatkan tingginya status sosial yang dimilikinya itu tengah menuruni tangga.

"Jadi," suaranya rendah dan dingin, beresonansi di keheningan. "Inilah hadiah perdamaian dari Aethelgard."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Tunas Baru

    lima bulan telah berlalu. Selama hidup di Oakhaven, Florence merasa hidupnya lebih tenteram. Walaupun dalam sudut hatinya kosong, asalkan anak dalam kandungannya aman, Florence rasa itu sudah cukup untuk sekarang. "Jangan memaksakan dirimu, istirahatlah." Sebuah suara dari belakang membuat Florence menoleh sebentar. Blake baru saja pulang dari pasar membawa sekarung beras beserta ikan segar. Florence tersenyum samar, kemudian kembali memusatkan dirinya untuk menumbuk beberapa dedaunan herbal. "Ini tinggal beberapa pesanan obat lagi. Berhentilah khawatir," balas Florence dengan ringan. Blake lalu menurunkan karung beras dari pundaknya ke lantai dapur. Ia lalu berjalan menuju bak air untuk mencuci ikan. Florence mengamati Blake dalam diam. Selama mereka di Oakhaven, Blake selalu membawakan bahan makanan untuk Florence dan Elara–anak perempuan yang ia selamatkan dari Ordo Sanctus. Florence dan Blake memutuskan untuk pisah rumah, mengingat mereka pendatang baru di sini. Walaup

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Pelarian

    Sesuai dengan rencana pelarian mereka, Blake membawa Florence melintasi samudera menuju Kepulauan Oakhaven, sebuah wilayah pesisir terpencil di ujung benua yang dikelilingi kabut tebal dan hutan cemara. Di sana, hukum kerajaan Aethelgard maupun Ironhard hanyalah dongeng jauh yang tak berani menyentuh daratannya. Mereka menetap di sebuah rumah kayu sederhana di pinggir tebing yang menghadap ke laut lepas. Di malam pertama mereka tiba, suara deburan ombak yang menghantam karang menjadi saksi bisu runtuhnya pertahanan emosional Florence. Florence duduk di depan perapian yang menyala, memeluk secangkir teh hangat dengan tangan yang masih gemetar. Blake berdiri di dekat jendela, matanya tetap siaga mengawasi kegelapan hutan di luar, namun hatinya tertuju sepenuhnya pada wanita yang tampak begitu rapuh di depannya. "Blake..." suara Florence memecah kesunyian, parau dan penuh luka. "Semuanya terasa seperti mimpi buruk yang tidak ada ujungnya." Blake berbalik, menatap Florence dengan

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Pengakuan Dosa

    Florence mengerjapkan matanya perlahan. Langit-langit sel yang dingin dan lembap telah berganti menjadi atap kayu tua yang rendah. Suara derit jeruji besi pun menghilang, digantikan oleh suara api yang berderak pelan di tungku kecil. Ia berusaha bangkit, namun kepalanya masih terasa sangat berat akibat sisa obat tidur yang disuntikkan sebelumnya. Saat itulah ia menyadari bahwa ia tidak lagi berada di penjara bawah tanah, melainkan di sebuah pondok kecil yang sangat tersembunyi. "Kau sudah bangun?" Florence menoleh. Di sudut ruangan yang remang, seorang wanita berdiri dengan jubah hitam yang menutupi gaun mewahnya. Saat wanita itu mendekat ke cahaya lampu minyak, jantung Florence seolah berhenti. Wajah itu... wajah yang selama ini ia lihat di cermin setiap pagi. "Clarice?" bisik Florence parau. "Iya, ini aku," sahut Clarice dengan nada yang bergetar. Ia tidak berani menatap mata Florence secara langsung. Di samping Clarice, berdiri Blake yang tampak siaga dengan pedang di pingg

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Keputusasaan yang Menyiksa

    Sisa-sisa pemberontak mulai melarikan diri ke arah tebing, namun Duke Cassian tidak membiarkan mereka lolos begitu saja. Ia memacu kudanya dengan beringas; tak ingin menyisakan satu mulut pun yang berani mencoreng kehormatan istrinya."Yang Mulia, tunggu! Itu terlalu berbahaya!" peringat salah satu pengawal dari kejauhan.Duke Cassian tuli terhadap peringatan itu. Ia terus memacu derap langkah kudanya melewati jembatan kayu sempit yang membelah jurang Stonegate. Namun, tepat saat kaki kudanya menginjak bagian tengah jembatan, sebuah ledakan hebat mengguncang fondasi kayu tersebut.BOOM!Bubuk mesiu yang telah ditanam secara rahasia oleh para pemberontak meledak tepat di bawahnya. Lidah api membubung tinggi, melahap struktur jembatan dalam sekejap. Duke Cassian terjebak di tengah kobaran yang meruntuhkan segalanya. Kudanya meringkik ngeri sebelum akhirnya mereka terperosok ke dalam jurang salju yang tak berdasar.Tubuh Cassian menghantam bebatuan tajam sebelum akhirnya tenggelam di bal

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Pertumpahan Darah

    Duke Cassian memacu kudanya di garis paling depan. Setiap hentakan tapal kuda yang menghantam tanah salju di perbatasan Stonegate terdengar seperti detak jantung yang memburu. Perbatasan antara Kerajaan Aethelgard dan Ironhard ini tampak begitu suram di bawah langit yang mendung. Dasar keparat! Kutuk Duke Cassian di pertengahan. Pikirannya berkecamuk. Wilayah Stonegate ini selalu saja menjadi duri dalam daging. Ia merasa geram karena para penduduk di sini seolah menutup mata atas kebaikan Florence yang pernah berkunjung ke sini sebagai Duchess Silverhood. Sekarang, mereka justru membalasnya dengan pemberontakan keji, hanya karena termakan fitnah murah bahwa Duchess mereka terlibat dalam kejahatan Ordo Sanctus. Begitu Duke Cassian tiba di titik pertemuan, langkah kudanya terhenti. Di depannya, barisan manusia bertopeng dengan parang yang berkilat di tangan mereka sudah bersiaga. Jumlah mereka tak main-main. Kurang lebih lima puluh orang. Itu adalah angka yang cukup menekan jika di

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Tuntutan Hukuman Mati

    Florence terdiam. Tenggorokannya tercekat.Anak perempuan itu seharusnya menjadi bukti kunci bahwa Florence menyelamatkannya, bukan menjualnya. Namun, sejak kekacauan di Valeridge pecah dan pengawal bayangan Duke Cassian tidak kembali, mereka menghilang tanpa jejak. Ordo Sanctus pasti sudah melenyapkannya atau menyembunyikannya agar Florence tidak memiliki pembelaan."Saya ... saya tidak bisa mendatangkannya sekarang, Yang Mulia. Berikan saya waktu dan keleluasaan untuk menjemput saksi dari saya. Dia adalah seoran anak yang akan ditumbalkan oleh mereka yang berhasil saya selamatkan," suara Florence lantang meskipun tangannya gemetar.Seorang jaksa berdiri dari duduknya. Ia merapikan sebagian jubahnya yang kusut. ​"Waktu dan keleluasaan?" Jaksa itu tertawa hambar, suaranya menggema di aula yang dingin. "Sungguh sebuah pembelaan yang klise, Duchess. Anda meminta waktu untuk mencari saksi yang secara 'ajaib' menghilang tepat saat pengkhianatan Anda terbongkar? Tidakkah itu terlalu nyama

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Penolakan yang Menyakitkan

    Florence terpaku. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Mengandung? Di tengah tuduhan Ordo Sanctus yang masih membayanginya, dan di bawah pengawasan ketat Raja Aethelgard. "Aku... hamil?" Florence menyentuh perutnya yang masih rata dengan tangan gemetar. "Ya, itu benar." Bibi Merlyn mence

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Aku Ingin Daging Asap!

    Sudah dua hari Florence terbaring lemah di ranjang. Dan selama itu pula tiap pagi ia pasti merasa mual namun tidak ada yang berhasil dimuntahkan selain air liurnya sendiri. Bagaimana tidak? Lidahnya menolak semua jenis makanan yang dihidangkan oleh pelayan. Entah apa yang terjadi pada tubuhnya, ia

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Provokasi di Pesta Teh

    Seminggu telah berlalu semenjak Florence tiba kembali ke Kastil Silverhood. Di tengah huru-hara kabar kehilangan Duke Cassian dan Duchess Clarice saat perjalanan pulang dari Stonegate, mereka tiba dengan dramatis, dijemput oleh prajurit Silverhood pada malam badai salju. Perbincangan hangat tentan

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Jejak di Antara Kematian

    Pagi itu tenda pengungsian Stonegate mendadak ramai. Bukan tanpa alasan keramaian itu terjadi. Semalam tiga orang padien di sana meninggal secara mendadak. Dengan langkah pasti, Florence dan Duke Cassian berusaha membelah kerumunan di sana. Sayup-sayup isak tangis bersautan satu sama lain mencipt

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status