Home / Zaman Kuno / Di Atas Ranjang Duke Cassian / Calon Istri yang Anggun

Share

Calon Istri yang Anggun

Author: arctrs_
last update Last Updated: 2026-01-12 10:47:15

Florence dan pelayan tua itu bekerja sampai matahari terbenam. Mereka berbagi tugas. Pelayan tua itu membersihkan bagian dinding dan jendela, Sementara Florence menyapu lantai dan merapikan ranjang.

Di lantai, di bawah tumpukan buku basah, Florence tanpa sengaja menemukan sesuatu. Itu adalah sebuah liontin perak kecil berbentuk bulan sabit. Ia kemudian menyimpannya di saku tanpa berpikir panjang, takut pelatan tua itu melihatnya.

Saat mereka hampir selesai, terdengar ketukan pintu yang keras. Seorang pelayan laki-laki tengah berdiri di ambang pintu kamarnya.

“Permisi, Nona. Yang Mulia Duke meminta kehadiran Nona untuk makan malam.”

Florence menatap pantulan dirinya di cermin yang retak di sampingnya. Terlihat di sana rambutnya yang kusut dan berdebu, wajah yang berkeringat, serta gaun indahnya yang kini lecek.

“Bisakah Duke menunggu—” belum sempat Florence menyelesaikan ucapannya, pelayan laki-laki itu menyelanya.

“Yang Mulia Duke tidak bisa menunggu,” potongnya. “Beliau sangat sibuk.”

Florence tak mengindahkan ketidaksopanan pelayan di depannya ini yang berani memotong ucapan calon nyonya di rumah ini.

“Yang Mulia Duke tidak mungkin melihatku dalam keadaan seperti ini! Setidaknya beri waktu—”

Lagi dan lagi pelayan itu menyela ucapannya.

“Pelayan tidak bicara kecuali ditanya,” hardik pelayan itu.

Dengan matanya tajam, ia menekankan, “Ini adalah perintah langsung dari Duke. Menolak berarti tidak menghormati tuan rumah.”

Florence mengangguk perlahan. Ini adalah ujian. Ujian pertama yang sebenarnya. Ini tidak lebih buruk daripada perlakuan pelayan di kediamannya dulu, pikirnya. Florence menengkan emosinya untuk tidak meledak-ledak di kediaman musuhnya walaupun ia adalah calon nyonya di kediaman ini.

“Pimpin jalannya,” ucap Florence, suaranya tenang meski jantung berdebar kencang karena amarah.

***

Ruang makan Duke terlihat lebih mirip seperti ruang koleksi. Meja makan yang panjang, dengan dinding yang dihiasi oleh kepala hewan buruan dan pedang-pedang antik. Meja makan sebesar itu tapi hanya ada dua kursi yang disiapkan. Satu berada di ujung, dan yang lainnya di samping kanannya dengan jarak yang cukup jauh. Duke yang sangat membatasi diri, pikir Florence.

Duke Cassian telah duduk di ujung meja, mengenakan pakaian sederhana tidak seperti pertemuan pertama mereka. Di depannya, piring emas berisi steak daging yang menggoda selera. Ia tidak melihat saat Florence masuk, tapi fokus pada sebilah pisau yang diasahnya dengan gerakan ritmis.

“Kau terlambat.”

“Saya sedang membersihkan kamar, Yang Mulia,” jawab Florence, berhenti beberapa langkah dari kursinya.

Akhirnya Duke Cassian menoleh. Matanya menyapu penampilannya yang berdebu, dan sesuatu yang mirip kepuasan muncul di sudut bibirnya.

“Kau tetap datang meski dalam keadaan seperti itu. Apakah seorang Nona pantas ke meja makan dengan penampilan seperti itu?”

“Saya menghormati Yang Mulia Duke, tidak ingin membuat Anda menunggu lebih lama lagi,” jawab Florence sembari meremas gaun.

“Lain kali perhatian etiketmu, Nona.” Duke lalu mencondongkan badan. “Duduk. Makanan akan dingin.”

Florence duduk, sadar betul betapa kotor dan berantakannya dia dibandingkan dengan kemewahan suram di sekelilingnya. Seorang pelayan muncul, menuangkan anggur merah pekat ke dalam piala kristal.

“Minumlah,” ujar Duke. “Ini adalah anggur dari kebun sendiri. Salah satu kebanggaan Silverhood.”

Florence mengangkat pialanya, mencium aroma buah yang kaya. Ia berhenti sejenak, ada sesuatu di dalamnya yang membuatnya ragu.

“Ada masalah?” tanya Duke, matanya menyipit melihat reaksi Florence.

“Saya… tidak terbiasa minum anggur kuat."

“Semua hal baru butuh pembiasaan.” Dia mengangkat pialanya sendiri. “Atau Nona akan dicap tidak mengormati tuan rumah.”

Akhirnya Florence minum dalam sekali teguk. Ia menelan ludah, lalu menyesap sedikit. Anggur itu panas di tenggorokan, tapi tidak berbau aneh lagi. Mungkin hanya imajinasinya yang berpikir demikian.

Mereka lalu mulai makan dengan tenang tanpa suara. Florence berusaha keras untuk makan dengan cara bangsawan yang anggun. Dalam hatinya, ia memohon pada Tuhan agar Duke Cassian tidak mempermasalahkan etiket makannya.

"Persiapkan dirimu untuk pergi menemui Raja Aldric besok pagi. Aku tidak ingin mentoleransi keterlambatan lagi, Nona Clarice."

Sebuah suara dari duke memecah keheningan yang sempat ada. Florence melirik piring duke yang sudah kosong. Ia pun juga menghentikan makannya dan menatap wajah duke.

"Apakah saya harus mempersiapkan sesuatu selain itu, Yang Mulia?"

Duke menatap Florence sejenak lalu berucap, "Bawa saja tubuhmu yang cantik itu dan jangan permalukan aku. Buang ssmua pakaian jelekmu itu, aku akan panggilkan penjahit untuk membuat pakaianmu selama berada di sini."

Florence yang mendengarnya hanya bisa menekan kekesalannya dalam diam. Duke ini sebenarnya mau memuji atau menghinanya, sih! Pikir Florence di dalam hati.

"Tenang saja, saya akan berperilaku sebagai calon istri duke yang anggun, Yang Mulia," ucap Florence yang membuat Duke Cassian mengerutkan alisnya karena sedikit kesal.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Sebuah Taruhan

    Alih-alih tetap diam, Florence yang sudah kehilangan kesabaran memutuskan untuk memberikan serangan balik yang sangat tidak terduga bagi seorang Duchess. Lagi pula lawannya hanya seorang pelacur rendahan, bukan bangsawan yang biasa ia lawan di pesta teh. Florence menatap lekat-lekat pada bagian dada wanita itu yang sangat menonjol di balik gaun tipisnya, lalu ia beralih menatap Duke Cassian dengan ekspresi ngeri yang dibuat-buat. "Yang Mulia, sebaiknya Anda sedikit menjauh," ucap Florence dengan nada bicara yang cukup keras hingga membuat gerakan tangan Count Owen terhenti untuk menyesap anggur di gelasnya. Duke Cassian mengernyitkan dahi, menatap istrinya dengan bingung. "Kenapa?" Florence menunjukkan ekspresi khawatir, matanya kembali tertuju pada wanita centil yang masih berdiri di dekat mereka. "Bukan, Yang Mulia. Saya hanya khawatir ... melihat ukuran dadanya yang sebesar itu dan kain gaunnya yang tampak sangat sesak, saya takut benda itu tiba-tiba meletus dan mengenai waja

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Datangnya Seorang Pelacur

    Fabian terdiam sejenak lalu berbalik badan. Ia melirik Duke Cassian dan Florence bergantian. Kemudian ia menatap Count Owen seraya menarik garis bibirnya ke atas. "Ah, maaf, Tuan. Saya hanya merasa sedikit lapar dan berniat mencari kedai makanan di sekitar sini," ujar Fabian sambil mengusap lehernya beberapa kali. Count Owen lantas memaksakan tawanya yang terdengar sedikit keras. "Astaga aku lupa untuk mentraktir kalian dan malah membuat kalian kelaparan sekarang." Situasi yang sebelumnya tegang mendadak cair ketika Count Owen tertawa terbahak-bahak, seolah kecurigaannya tadi hanyalah gurauan belaka untuk menguji nyali Fabian dan pihak Duke Cassian. Ia menepuk bahu Duke Cassian dengan akrab, sementara Fabian segera memberi isyarat halus pada pasukannya di balik bayangan untuk menyelesaikan evakuasi secepat kilat. "Lupakan soal peti-peti membosankan ini, Yang Mulia! Karena kesepakatan sudah tercapai, mari kita rayakan kerja sama kita di tempat yang lebih ... privat," ujar Count Owe

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Sebuah Strategi di Dermaga

    Sebelum kereta kuda berangkat menuju dermaga, Duke Cassian, Florence, dan Fabian berkumpul di ruang kediaman mereka di Valeridge yang tertutup rapat. Cahaya lilin yang temaram memantulkan bayangan serius di wajah mereka. "Fabian, kau sudah mengerti tugasmu?" tanya Duke Cassian sembari memeriksa ketajaman belati tersembunyi di balik jasnya. Fabian membungkuk hormat, wajahnya kaku seperti batu. "Saya akan berperan sebagai perantara logistik, Yang Mulia. Begitu kita berada di dalam gudang, pasukan elit kita yang menyamar sebagai kuli panggul akan mulai mengamankan isi peti kemas tersebut secara bertahap saat Count Owen lengah." Florence menatap peta pelabuhan yang terbentang di meja. "Pastikan anak-anak itu dibawa keluar melalui jalur drainase bawah yang terhubung ke gudang Silverhood. Kita butuh mereka sebagai barang bukti hidup yang tidak bisa dibantah," sahut Florence.Fabian mengangguk khidmat. "Saya mengerti, Nyonya.""Baiklah kita berangkat sekarang," ucap Duke Cassian memimp

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Hari Perjamuan

    Tiba saatnya perjamuan di kediaman Valeridge. Semua bangsawan yang mendapatkan undangan hadir dengan kereta kuda yang terparkir rapi di halaman. Sebenarnya pertemuan ini adalah kedok belaka. Florence dan Duke Cassian hanya ingin memancing keluar bangsawan yang terdaftar di mitra bisnis dan donatur suci yang ditemukan tempo hari di ruang kerja Duke Benedictus."Sudah siap?" bisik Duke Cassian dari balik punggung Florence.Lantas Florence menoleh ke samping dan mendongak. "Tentu saja, Yang Mulia," ucapnya sembari tersenyum manis.Melihat Florence yang terlihat percaya diri membuat Duke Cassian ikut terkekeh pelan. Kemudian ia menyodorkan lengannya. "Mari kita pancing para bajingan itu, Sayang." Florence tertawa kecil lalu menyambutnya dengan melingkarkan tangannya pada lengan kokoh Duke Cassian, membiarkan jemarinya bertengger ringan di sana sebagai simbol kesetiaan mereka di depan publik. Ia bisa merasakan otot lengan suaminya sedikit menegang di balik kain beludru setelannya, namun p

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Sebuah Dugaan

    Anak perempuan yang mereka selamatkan semalam, kini sedang berdiri di tengah ruangan dengan kuas di tangan dan wajah belepotan cat warna-warni. Di depannya, Blake, juga tak kalah belepotan. Wajahnya dipenuhi sapuan kuas cat hijau, rambutnya berhias bintik-bintik merah, dan jubahnya kini seperti palet berjalan. "Ah ... selamat datang!" seru Blake dengan tawa renyah, sama sekali tidak menyadari betapa konyol penampilannya. "Kami sedang mencoba teknik melukis baru!" Sebelum Florence sempat bereaksi, anak itu tiba-tiba berlari ke arah mereka dengan semangat, membawa kuas yang masih penuh cat biru cerah. SPLASH! Florence merasakan cipratan cat biru mendarat telak di pipinya, tepat di sebelah hidungnya. Ia terkesiap, lalu melirik Duke Cassian yang berdiri di sampingnya. Duke Cassian, penguasa Silverhood yang selalu dingin dan berwibawa, kini memiliki noda cat kuning cerah di dahinya, sedikit merah di jubahnya, dan beberapa bintik hijau di rambut hitamnya yang biasanya tersisir rapi

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Paus yang Misterius

    Sore harinya Florence dan Duke Cassian berdiri di aula katedral yang megah, menunggu kedatangan Sang Paus. Duke Cassian berdiri tegak, sementara Florence menunggu dengan bosan. Pasalnya sudah sejam mereka menunggu Paus yang tengah berdoa. Kemudian Paus Silvanus melangkah masuk dengan jubah putih bersih yang menyapu lantai, memancarkan aura kesucian yang menenangkan bagi siapa pun yang melihatnya. "Kami datang untuk memohon maaf atas kekacauan yang terjadi di perayaan bulan purnama semalam, Paus Silvanus," ucap Florence sembari membungkuk hormat. Paus tidak langsung menjawab. Ia justru berjalan mendekati Duke Cassian, menatap wajah pria itu dengan intensitas yang tidak biasa. Sebuah tatapan yang menyiratkan kerinduan yang mendalam. Itu hanya sepersekian detik sebelum ekspresinya itu kembali datar. "Wajahmu... kau benar-benar mewarisi matanya," gumam Paus Silvanus, suaranya terdengar seperti bisikan yang teredam emosi mendalam. "Ia adalah Perdamaian yang paling indah, namun semu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status