ログインFlorence dan pelayan tua itu bekerja sampai matahari terbenam. Mereka berbagi tugas. Pelayan tua itu membersihkan bagian dinding dan jendela, Sementara Florence menyapu lantai dan merapikan ranjang.
Di lantai, di bawah tumpukan buku basah, Florence tanpa sengaja menemukan sesuatu. Itu adalah sebuah liontin perak kecil berbentuk bulan sabit. Ia kemudian menyimpannya di saku tanpa berpikir panjang, takut pelatan tua itu melihatnya. Saat mereka hampir selesai, terdengar ketukan pintu yang keras. Seorang pelayan laki-laki tengah berdiri di ambang pintu kamarnya. “Permisi, Nona. Yang Mulia Duke meminta kehadiran Nona untuk makan malam.” Florence menatap pantulan dirinya di cermin yang retak di sampingnya. Terlihat di sana rambutnya yang kusut dan berdebu, wajah yang berkeringat, serta gaun indahnya yang kini lecek. “Bisakah Duke menunggu—” belum sempat Florence menyelesaikan ucapannya, pelayan laki-laki itu menyelanya. “Yang Mulia Duke tidak bisa menunggu,” potongnya. “Beliau sangat sibuk.” Florence tak mengindahkan ketidaksopanan pelayan di depannya ini yang berani memotong ucapan calon nyonya di rumah ini. “Yang Mulia Duke tidak mungkin melihatku dalam keadaan seperti ini! Setidaknya beri waktu—” Lagi dan lagi pelayan itu menyela ucapannya. “Pelayan tidak bicara kecuali ditanya,” hardik pelayan itu. Dengan matanya tajam, ia menekankan, “Ini adalah perintah langsung dari Duke. Menolak berarti tidak menghormati tuan rumah.” Florence mengangguk perlahan. Ini adalah ujian. Ujian pertama yang sebenarnya. Ini tidak lebih buruk daripada perlakuan pelayan di kediamannya dulu, pikirnya. Florence menengkan emosinya untuk tidak meledak-ledak di kediaman musuhnya walaupun ia adalah calon nyonya di kediaman ini. “Pimpin jalannya,” ucap Florence, suaranya tenang meski jantung berdebar kencang karena amarah. *** Ruang makan Duke terlihat lebih mirip seperti ruang koleksi. Meja makan yang panjang, dengan dinding yang dihiasi oleh kepala hewan buruan dan pedang-pedang antik. Meja makan sebesar itu tapi hanya ada dua kursi yang disiapkan. Satu berada di ujung, dan yang lainnya di samping kanannya dengan jarak yang cukup jauh. Duke yang sangat membatasi diri, pikir Florence. Duke Cassian telah duduk di ujung meja, mengenakan pakaian sederhana tidak seperti pertemuan pertama mereka. Di depannya, piring emas berisi steak daging yang menggoda selera. Ia tidak melihat saat Florence masuk, tapi fokus pada sebilah pisau yang diasahnya dengan gerakan ritmis. “Kau terlambat.” “Saya sedang membersihkan kamar, Yang Mulia,” jawab Florence, berhenti beberapa langkah dari kursinya. Akhirnya Duke Cassian menoleh. Matanya menyapu penampilannya yang berdebu, dan sesuatu yang mirip kepuasan muncul di sudut bibirnya. “Kau tetap datang meski dalam keadaan seperti itu. Apakah seorang Nona pantas ke meja makan dengan penampilan seperti itu?” “Saya menghormati Yang Mulia Duke, tidak ingin membuat Anda menunggu lebih lama lagi,” jawab Florence sembari meremas gaun. “Lain kali perhatian etiketmu, Nona.” Duke lalu mencondongkan badan. “Duduk. Makanan akan dingin.” Florence duduk, sadar betul betapa kotor dan berantakannya dia dibandingkan dengan kemewahan suram di sekelilingnya. Seorang pelayan muncul, menuangkan anggur merah pekat ke dalam piala kristal. “Minumlah,” ujar Duke. “Ini adalah anggur dari kebun sendiri. Salah satu kebanggaan Silverhood.” Florence mengangkat pialanya, mencium aroma buah yang kaya. Ia berhenti sejenak, ada sesuatu di dalamnya yang membuatnya ragu. “Ada masalah?” tanya Duke, matanya menyipit melihat reaksi Florence. “Saya… tidak terbiasa minum anggur kuat." “Semua hal baru butuh pembiasaan.” Dia mengangkat pialanya sendiri. “Atau Nona akan dicap tidak mengormati tuan rumah.” Akhirnya Florence minum dalam sekali teguk. Ia menelan ludah, lalu menyesap sedikit. Anggur itu panas di tenggorokan, tapi tidak berbau aneh lagi. Mungkin hanya imajinasinya yang berpikir demikian. Mereka lalu mulai makan dengan tenang tanpa suara. Florence berusaha keras untuk makan dengan cara bangsawan yang anggun. Dalam hatinya, ia memohon pada Tuhan agar Duke Cassian tidak mempermasalahkan etiket makannya. "Persiapkan dirimu untuk pergi menemui Raja Aldric besok pagi. Aku tidak ingin mentoleransi keterlambatan lagi, Nona Clarice." Sebuah suara dari duke memecah keheningan yang sempat ada. Florence melirik piring duke yang sudah kosong. Ia pun juga menghentikan makannya dan menatap wajah duke. "Apakah saya harus mempersiapkan sesuatu selain itu, Yang Mulia?" Duke menatap Florence sejenak lalu berucap, "Bawa saja tubuhmu yang cantik itu dan jangan permalukan aku. Buang ssmua pakaian jelekmu itu, aku akan panggilkan penjahit untuk membuat pakaianmu selama berada di sini." Florence yang mendengarnya hanya bisa menekan kekesalannya dalam diam. Duke ini sebenarnya mau memuji atau menghinanya, sih! Pikir Florence di dalam hati. "Tenang saja, saya akan berperilaku sebagai calon istri duke yang anggun, Yang Mulia," ucap Florence yang membuat Duke Cassian mengerutkan alisnya karena sedikit kesal."Mengapa Nona menyendiri di sini?" Florence menyesap kembali alkohol dari gelasnya. "Bukan nona tapi nyonya duchess, Yang Mulia Pangeran," balas Florence dengan linglung. Di saat seperti ini Florence justru malah mengomentari status sosialnya. Entah keberanian dari mana ia mampu mengoreksi kesalahan Pangeran Aurelian di sampingnya. "Maafkan kesalahan saya ini, Nyonya Duchess," kata Pangeran Aurelian dengan terkikik geli melihat sikap Florence. Ini tidak seperti Florence yang anggun sebagai seorang istri duke. "Benar, aku bukanlah seorang nona lagi. Mengapa aku harus menikahi duke sialan itu, hah? Aku sungguh menyesal!!" racau Florence sudah sepenuhnya mabuk melihat gelas di tangannya sudah kosong. Melihat Florence yang sudah kehilangan akal, Pangeran Aurelian berusaha terus mengajaknya mengobrol. "Mengapa Anda harus menyesal, Nyonya? Duke Cassian adalah pria nomor dua di kekaisaran ini? Bukankah seharusnya keberuntungan ada di pihak Anda?" Dengan pandangan bingung, Florence b
Resepsi di aula kediaman Duke Cassian dipenuhi musik dan berbagai kemewahan pesta. Duke Cassian dan Florence harus berjabat tangan dengan puluhan bangsawan, masing-masing dengan senyuman yang sama palsunya.Pada puncak acara, Duke Cassian akan berdansa untuk pertama kalinya dengan Florence di tengah aula. Florence merasakan semua tatapan tertuju padanya. Hanya untuk berjalan saja kakinya terasa lemas apalagi untuk berdansa. Bisakah Florence melarikan diri sekarang? "Mari berdansa, istriku?" pinta Duke Cassian seraya mengulurkan tangannya pada Florence.Walaupun dengan berat hati, Florence menerima uluran tangan Duke Cassian. Mereka melangkah menuju ke tengah aula dengan semua jenis tatapan tertuju pada mereka. Florence entah mengapa tidak bisa menghentikan lirikan matanya ke arah Putri Seraphina di sudut dinding sana. Yang terlihat hanya ekspresi dingin kala melihat Florence dan Duke Cassian. Florence juga baru ingat kalau Putri Seraphina tidak terlihat di acara pernikahannya di ge
Akhirnya tiba hari di mana Florence akan menikah dengan Duke Cassian setelah seminggu ia telah disibukkan persiapan pernikahan yang tiada habisnya. Upacara pernikahan dilakukan di Gereja Kerajaan Ironhard dan dipimpin langsung oleh Uskup Agung. Florence melangkah menyusuri jalan dengan merangkul lengan ayahnya. Selama ia hidup baru kali ini ia bisa menyentuh kehangatan yang ayahnya berikan walaupun itu cuma kepalsuan. Di altar, Duke Cassian tengah menunggunya dengan mimik muka yang sulit dipahami. Namun tatapan matanya tak pernah berpaling darinya bahkan sedetik pun. Florence tahu bahwa akting calon suaminya itu patut diacungi jempol sampai-sampai ia mengira bahwa tatapan itu tertuju pada pujaan hatinya yang sudah lama ia dambakan. Sungguh ironis, pikir Florence karena sempat dibuat berdebar karenanya.Kala Florence sampai di altar dan ayahnya menyerahkannya pada Duke Cassian, tatapannya masih tetap memandangnya tanpa sepatah kata pun. Florence memberanikan diri membuka suara, "Terpe
Keesokan paginya, kediaman Silverhood kedatangan Putri Seraphina serta penjahit kerajaan dengan enam asisten dan tiga rak gaun. Duke Cassian dan Florence tidak menyangka kalau putri itu akan secepat ini untuk datang mengingat baru kemarin pertemuan mereka berlangsung."Kalian tidak lupa kan kalau aku mendapatkan perintah dari Ayah untuk membantu persiapan pernikahan kalian?" kata Putri Seraphina dengan wajah tak berdosanya itu.Florence menarik senyum, lalu membalas, "Yang Mulia Putri sangat baik hati untuk meluangkan waktu Anda yang berharga. Pasti Yang Mulia punya tugas-tugas lain yang tak kalah penting dari ini, tapi Yang Mulia justru memprioritaskan kami."Putri Seraphina harusnya menyadari ucapan Florence sarat akan sindiran padanya. Namun Putri itu tampaknya tak terlalu mengambil hati. Ia beralih memandang Duke Cassian. "Apa aku mengganggu waktu kalian di sini? Maafkan aku yang terlalu bersemangat. Aku akan pulang dan bilang kepada Ayah-"Duke Cassian menyela, "Tidak. Kita bisa
Florence yang mendengar perkataan Putri Seraphina tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya. Apakah Duke Cassian dan Putri Seraphina memang pernah menjadi sepasang kekasih sebelumnya? Putri Seraphina juga dengan lantang memanggil Duke Cassian dengan nama kecilnya.Duke Cassian tidak merespons Putri Seraphina, melainkan memandang Florence dengan penuh arti sambil merangkul pinggangnya. "Sejak melihat Nona Clarice untuk pertama kalinya aku merasakan getaran yang tiada henti. Mungkin kami memang telah ditakdirkan untuk bersama," ujarnya lalu mengambil jemari Florence dan mengecupnya perlahan.Florence mematung melihat ucapan dan tindakan duke barusan. Apa tadi katanya? Getaran tiada henti? Ditakdirkan untuk bersama? Sungguh mulut Duke Cassian ini terlalu lihai untuk berbohong. "Akhirnya musim semi jatuh juga untuk Silverhood. Semoga pernikahan kalian nanti diberkati, Duke Cassian dan Nona Clarice," ujar Raja Aldric seraya bertepuk tangan untuk memecah keheningan.Florence lalu melirik re
Kereta mewah berlapiskan perak melaju pelan menyusuri jalan berliku menuju Istana Kerajaan Ironhard. Di dalam kabin yang sempit, Florence dan Duke Cassian duduk berseberangan, menciptakan jarak di antara keduanya tetap terjaga. Florence melirik Duke Cassian dari ujung matanya. Terlihat duke sedang menatap keluar jendela. Kalau sedang tenang begini, Florence tidak bisa menyangkal aura dominan yang ia ciptakan. Kalau saja mulutnya itu sedikit lebih manis, pasti Florence akan melunak. Sayangnya mulutnya itu diciptakan hanya untuk menghinanya. "Apakah di Aethelgard tidak ada yang setampan diriku, Nona? Berhenti menatapku atau kuturunkan kau di sini." Florence terkesiap. Ia tidak menyangka lirikannya telah berubah menjadi tatapan penuh arti. Duke Cassian masih menatap ke luar jendela. Karena sudah tertangkap basah telah memandangi Duke Cassian, Florence memaksakan batuknya. "Saya bukannya memandang Yang Mulia, hanya ikut melihat pemandangan indah di luar kereta. Ini adalah pertama kali







