Share

Mantan Kekasih Duke?

Author: arctrs_
last update Last Updated: 2026-01-12 21:55:18

Kereta mewah berlapiskan perak melaju pelan menyusuri jalan berliku menuju Istana Kerajaan Ironhard. Di dalam kabin yang sempit, Florence dan Duke Cassian duduk berseberangan, menciptakan jarak di antara keduanya tetap terjaga.

Florence melirik Duke Cassian dari ujung matanya. Terlihat duke sedang menatap keluar jendela. Kalau sedang tenang begini, Florence tidak bisa menyangkal aura dominan yang ia ciptakan. Kalau saja mulutnya itu sedikit lebih manis, pasti Florence akan melunak. Sayangnya mulutnya itu diciptakan hanya untuk menghinanya.

"Apakah di Aethelgard tidak ada yang setampan diriku, Nona? Berhenti menatapku atau kuturunkan kau di sini."

Florence terkesiap. Ia tidak menyangka lirikannya telah berubah menjadi tatapan penuh arti. Duke Cassian masih menatap ke luar jendela. Karena sudah tertangkap basah telah memandangi Duke Cassian, Florence memaksakan batuknya.

"Saya bukannya memandang Yang Mulia, hanya ikut melihat pemandangan indah di luar kereta. Ini adalah pertama kalinya saya ke Ironhard, jadi semua yang saya lihat adalah hal baru," jawab Florence. Padahal pemandangan di luar tidak ada yang menarik karena yang terlihat sepanjang jalan hanya tanah lapang yang tandus.

Duke Cassian terdiam sejenak. Kemudian ia mulai menatap wajah Florence. "Kenapa kau setuju untuk menjadi istriku?" tanyanya.

Florence mengerutkan dahinya. Dalam benaknya, pertanyaan ini tidak pernah terpikirkan akan dilontarkan oleh Duke Cassian yang terkenal dingin. Ia pikir apapun alasannya, duke muda itu tak akan peduli padanya. Ternyata ia salah.

"Mengapa saya harus tidak setuju, Yang Mulia? Perdamaian adalah keingan semua pihak termasuk saya," balas Florence dengan meyakinkan.

Duke Cassian spontan tertawa mendengarnya. Baru kali ini Florence melihat tawanya yang khas seorang bangsawan, tidak seperti teman-temannya yang berada di pasar. Ya, Florence memang sering ke pasar hanya untuk melepas penat sendirian.

"Tidak semua orang menginginkan perdamaian, Nona Clarice. Banyak juga yang menginginkan perang ini tetap berlanjut. Jangan terlalu naif melihat keadaan," kata Duke Cassian sembari menyilangkan salah satu kakinya.

"Kalau Anda sendiri berada di pihak mana, Yang Mulia?" tanya Florence untuk membalikkan keadaan. Pertanyaan ini adalah untuk mengetes sejauh mana Florence harus berhati-hati terhadap Duke Cassian.

"Apakah pernikahan kita kurang menjadi bukti untukmu, Nona Clarice yang terhormat?" ujar Duke Cassian dengan sudut bibir yang terangkat.

Senyum sarkas itu lagi, seru Florence dalam hati. Memangnya ia tidak tahu kalau Florence hanya sedang mengujinya? Dasar Duke Cassian yang menyebalkan, rutuk Florence dalam hatinya yang bergemuruh.

"Saya senang kita berada di perahu yang sama, Yang Mulia," ucap Florence seraya tersenyum lebar, berusaha menyembunyikan kekesalannya.

Itu adalah percakapan terakhir mereka sepanjang perjalanan.

***

Istana Kerajaan Ironhard lebih megah dan lebih cerah daripada Istana Duke Cassian. Semua ornamennya berwarna putih dan emas. Florence melangkah beriringan dengan mengapit lengannya ke Duke Cassian. Setiap langkah mereka di atas karpet merah diiringi bisikan dari balik pilar-pilar marmer di sekelilingnya.

Ketika Duke Cassian dan Florence sampai di aula kerajaan, Raja Aldric telah duduk di atas singgasananya dengan dikelilingi oleh keluarga kerajaan di kanan dan kirinya. Perawakannya lebih tua dari yang Florence bayangkan, dengan mata biru pucat yang tajam serta rambut pirang keemasaannya yang menyilaukan mata.

"Cassian," sambut Raja, suaranya seperti batu yang digosok. "Akhirnya kau membawa calon istrimu."

Duke Cassian membungkuk dengan hormat diikuti Florence. "Hormat kepada Yang Mulia Raja Ironhard, saya Clarice of Valeridge dari Aethelgard."

Raja Aldric mengangguk. "Pernikahan untuk perdamaian adalah sebuah konsep yang mulia." Tapi nada suaranya datar. "Apakah kau yakin ini yang terbaik untuk kerajaan kita, Cassian?"

"Perjanjian sudah ditandatangani kedua belah pihak kerajaan, Yang Mulia," jawab Duke singkat.

"Ah, perjanjian." Raja Aldric tersenyum tipis. "Kertas bisa dibakar, tinta bisa luntur. Tapi pernikahan... kau tahu betul itu lebih permanen."

"Benar, Cassian. Ayah hanya memastikan kau memilih ini bukan karena paksaan," ucap Pangeran Aurelian dari sisi kiri Raja Aldric.

Duke Cassian tampaknya berusaha sebisa mungkin untuk tidak menampakkan raut wajah kesalnya. "Dengan paksaan pun, saya bersedia menikahi Nona Clarice asalkan perdamaian terjadi di kedua belah pihak kerajaan, Yang Mulia."

"Melihatmu sekarang mengingatkanku pada mendiang ayahmu, Cassian. Dulu ia juga melakukan hal yang sama denganmu. Kalian memanglah sedarah rupanya," ucap Raja Aldric seraya tertawa kecil.

Florence melirik sekilas Duke Cassian. Untuk sepersekian detik, ia bisa melihat raut wajahnya terlihat dingin dan penuh dendam. Namun Duke Cassian tampaknya pintar mengubah raut wajahnya kemudian dengan senyum penuh arti.

"Ayah adalah pahlawan perang yang lebih memilih perdamaian di atas segalanya. Kontribusinya kepada kerajaan tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun. Saya hanya melanjutkan semangat perjuangannya, Yang Mulia," balas Duke Cassian.

"Mungkin kau ada benarnya, Cassian. Perdamaian yang Ayahmu raih sebelumnya adalah hal yang bagus untuk kerajaan kita. Aku pikir Nona Clarice bisa menjadi duchess yang panjang umur seperti mendiang ibumu," ujar Raja Aldric dengan meamndang Duke Cassian penuh arti.

Florence merasa ada yang janggal dengan kalimat Raja Aldric barusan. Ia pernah mendengar duchess sebelumnya sudah meninggal. Namun mengapa Raja Aldric justru berkata sebaliknya? Apakah itu suatu provokasi kepada Duke Cassian?

"Benar, semoga Nona Clarice lebih panjang umur dari ibu saya, Yang Mulia. Tidak akan saya biarkan tikus-tikus berkeliaran di sekitar dia tanpa pengawasan saya nanti," ujar Duke Cassian seraya memandang Florence dengan senyum lebarnya yang membuat Florence ingin muntah melihat aktingnya yang luar biasa.

Dari sisi kanan singgasana, seorang wanita muda melangkah maju. Ia adalah Putri Seraphina. Seorang putri yang cantik seperti boneka es yang dipahat, dengan rambut pirang dan mata biru yang tajam. "Ian," ucapnya, suaranya seperti lonceng perak. "Apakah kau sudah melupakanku semudah itu, hm? Aku sungguh tersakiti, kau tahu."

Apa maksud perkataan Putri Seraphina barusan? tanya Florence dalam hati. Apa maksud melupakan yang ia katakan? Apakah apa yang dikatakan Clarice tempo hari itu benar adanya?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Sebuah Apel dan Kecupan

    Keheningan di dalam kereta kuda terasa lebih menyesakkan daripada riuhnya suara koin dan permainan kartu di kasino tadi. Florence menyandarkan kepalanya pada dinding kereta yang berlapis beludru, matanya menatap kosong ke arah deretan lampu jalan Valeridge yang bergerak mundur. Tangannya masih menggenggam erat surat kuasa dari Count Owen. Namun kemenangan besar yang seharusnya ia rayakan, hatinya justru terasa seperti diremas. Bayangan wanita pelayan kasino yang dengan berani mendekati Duke Cassian terus berputar di kepalanya, memicu rasa panas yang sulit ia padamkan. Florence tahu ini konyol; mereka sedang dalam misi hidup dan mati, namun ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa ia cemburu setengah mati. "Kau lelah?" Suara berat Duke Cassian memecah kesunyian. Florence hanya memberikan gelengan tipis tanpa menoleh sedikit pun. Ia merasa jika ia bicara, suaranya akan terdengar bergetar atau malah ketus, dan ia tidak ingin terlihat lemah di depan pria yang tampak begitu tenang

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Sebuah Taruhan

    Alih-alih tetap diam, Florence yang sudah kehilangan kesabaran memutuskan untuk memberikan serangan balik yang sangat tidak terduga bagi seorang Duchess. Lagi pula lawannya hanya seorang pelacur rendahan, bukan bangsawan yang biasa ia lawan di pesta teh. Florence menatap lekat-lekat pada bagian dada wanita itu yang sangat menonjol di balik gaun tipisnya, lalu ia beralih menatap Duke Cassian dengan ekspresi ngeri yang dibuat-buat. "Yang Mulia, sebaiknya Anda sedikit menjauh," ucap Florence dengan nada bicara yang cukup keras hingga membuat gerakan tangan Count Owen terhenti untuk menyesap anggur di gelasnya. Duke Cassian mengernyitkan dahi, menatap istrinya dengan bingung. "Kenapa?" Florence menunjukkan ekspresi khawatir, matanya kembali tertuju pada wanita centil yang masih berdiri di dekat mereka. "Bukan, Yang Mulia. Saya hanya khawatir ... melihat ukuran dadanya yang sebesar itu dan kain gaunnya yang tampak sangat sesak, saya takut benda itu tiba-tiba meletus dan mengenai waja

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Datangnya Seorang Pelacur

    Fabian terdiam sejenak lalu berbalik badan. Ia melirik Duke Cassian dan Florence bergantian. Kemudian ia menatap Count Owen seraya menarik garis bibirnya ke atas. "Ah, maaf, Tuan. Saya hanya merasa sedikit lapar dan berniat mencari kedai makanan di sekitar sini," ujar Fabian sambil mengusap lehernya beberapa kali. Count Owen lantas memaksakan tawanya yang terdengar sedikit keras. "Astaga aku lupa untuk mentraktir kalian dan malah membuat kalian kelaparan sekarang." Situasi yang sebelumnya tegang mendadak cair ketika Count Owen tertawa terbahak-bahak, seolah kecurigaannya tadi hanyalah gurauan belaka untuk menguji nyali Fabian dan pihak Duke Cassian. Ia menepuk bahu Duke Cassian dengan akrab, sementara Fabian segera memberi isyarat halus pada pasukannya di balik bayangan untuk menyelesaikan evakuasi secepat kilat. "Lupakan soal peti-peti membosankan ini, Yang Mulia! Karena kesepakatan sudah tercapai, mari kita rayakan kerja sama kita di tempat yang lebih ... privat," ujar Count Owe

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Sebuah Strategi di Dermaga

    Sebelum kereta kuda berangkat menuju dermaga, Duke Cassian, Florence, dan Fabian berkumpul di ruang kediaman mereka di Valeridge yang tertutup rapat. Cahaya lilin yang temaram memantulkan bayangan serius di wajah mereka. "Fabian, kau sudah mengerti tugasmu?" tanya Duke Cassian sembari memeriksa ketajaman belati tersembunyi di balik jasnya. Fabian membungkuk hormat, wajahnya kaku seperti batu. "Saya akan berperan sebagai perantara logistik, Yang Mulia. Begitu kita berada di dalam gudang, pasukan elit kita yang menyamar sebagai kuli panggul akan mulai mengamankan isi peti kemas tersebut secara bertahap saat Count Owen lengah." Florence menatap peta pelabuhan yang terbentang di meja. "Pastikan anak-anak itu dibawa keluar melalui jalur drainase bawah yang terhubung ke gudang Silverhood. Kita butuh mereka sebagai barang bukti hidup yang tidak bisa dibantah," sahut Florence.Fabian mengangguk khidmat. "Saya mengerti, Nyonya.""Baiklah kita berangkat sekarang," ucap Duke Cassian memimp

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Hari Perjamuan

    Tiba saatnya perjamuan di kediaman Valeridge. Semua bangsawan yang mendapatkan undangan hadir dengan kereta kuda yang terparkir rapi di halaman. Sebenarnya pertemuan ini adalah kedok belaka. Florence dan Duke Cassian hanya ingin memancing keluar bangsawan yang terdaftar di mitra bisnis dan donatur suci yang ditemukan tempo hari di ruang kerja Duke Benedictus."Sudah siap?" bisik Duke Cassian dari balik punggung Florence.Lantas Florence menoleh ke samping dan mendongak. "Tentu saja, Yang Mulia," ucapnya sembari tersenyum manis.Melihat Florence yang terlihat percaya diri membuat Duke Cassian ikut terkekeh pelan. Kemudian ia menyodorkan lengannya. "Mari kita pancing para bajingan itu, Sayang." Florence tertawa kecil lalu menyambutnya dengan melingkarkan tangannya pada lengan kokoh Duke Cassian, membiarkan jemarinya bertengger ringan di sana sebagai simbol kesetiaan mereka di depan publik. Ia bisa merasakan otot lengan suaminya sedikit menegang di balik kain beludru setelannya, namun p

  • Di Atas Ranjang Duke Cassian   Sebuah Dugaan

    Anak perempuan yang mereka selamatkan semalam, kini sedang berdiri di tengah ruangan dengan kuas di tangan dan wajah belepotan cat warna-warni. Di depannya, Blake, juga tak kalah belepotan. Wajahnya dipenuhi sapuan kuas cat hijau, rambutnya berhias bintik-bintik merah, dan jubahnya kini seperti palet berjalan. "Ah ... selamat datang!" seru Blake dengan tawa renyah, sama sekali tidak menyadari betapa konyol penampilannya. "Kami sedang mencoba teknik melukis baru!" Sebelum Florence sempat bereaksi, anak itu tiba-tiba berlari ke arah mereka dengan semangat, membawa kuas yang masih penuh cat biru cerah. SPLASH! Florence merasakan cipratan cat biru mendarat telak di pipinya, tepat di sebelah hidungnya. Ia terkesiap, lalu melirik Duke Cassian yang berdiri di sampingnya. Duke Cassian, penguasa Silverhood yang selalu dingin dan berwibawa, kini memiliki noda cat kuning cerah di dahinya, sedikit merah di jubahnya, dan beberapa bintik hijau di rambut hitamnya yang biasanya tersisir rapi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status