تسجيل الدخولKereta mewah berlapiskan perak melaju pelan menyusuri jalan berliku menuju Istana Kerajaan Ironhard. Di dalam kabin yang sempit, Florence dan Duke Cassian duduk berseberangan, menciptakan jarak di antara keduanya tetap terjaga.
Florence melirik Duke Cassian dari ujung matanya. Terlihat duke sedang menatap keluar jendela. Kalau sedang tenang begini, Florence tidak bisa menyangkal aura dominan yang ia ciptakan. Kalau saja mulutnya itu sedikit lebih manis, pasti Florence akan melunak. Sayangnya mulutnya itu diciptakan hanya untuk menghinanya. "Apakah di Aethelgard tidak ada yang setampan diriku, Nona? Berhenti menatapku atau kuturunkan kau di sini." Florence terkesiap. Ia tidak menyangka lirikannya telah berubah menjadi tatapan penuh arti. Duke Cassian masih menatap ke luar jendela. Karena sudah tertangkap basah telah memandangi Duke Cassian, Florence memaksakan batuknya. "Saya bukannya memandang Yang Mulia, hanya ikut melihat pemandangan indah di luar kereta. Ini adalah pertama kalinya saya ke Ironhard, jadi semua yang saya lihat adalah hal baru," jawab Florence. Padahal pemandangan di luar tidak ada yang menarik karena yang terlihat sepanjang jalan hanya tanah lapang yang tandus. Duke Cassian terdiam sejenak. Kemudian ia mulai menatap wajah Florence. "Kenapa kau setuju untuk menjadi istriku?" tanyanya. Florence mengerutkan dahinya. Dalam benaknya, pertanyaan ini tidak pernah terpikirkan akan dilontarkan oleh Duke Cassian yang terkenal dingin. Ia pikir apapun alasannya, duke muda itu tak akan peduli padanya. Ternyata ia salah. "Mengapa saya harus tidak setuju, Yang Mulia? Perdamaian adalah keingan semua pihak termasuk saya," balas Florence dengan meyakinkan. Duke Cassian spontan tertawa mendengarnya. Baru kali ini Florence melihat tawanya yang khas seorang bangsawan, tidak seperti teman-temannya yang berada di pasar. Ya, Florence memang sering ke pasar hanya untuk melepas penat sendirian. "Tidak semua orang menginginkan perdamaian, Nona Clarice. Banyak juga yang menginginkan perang ini tetap berlanjut. Jangan terlalu naif melihat keadaan," kata Duke Cassian sembari menyilangkan salah satu kakinya. "Kalau Anda sendiri berada di pihak mana, Yang Mulia?" tanya Florence untuk membalikkan keadaan. Pertanyaan ini adalah untuk mengetes sejauh mana Florence harus berhati-hati terhadap Duke Cassian. "Apakah pernikahan kita kurang menjadi bukti untukmu, Nona Clarice yang terhormat?" ujar Duke Cassian dengan sudut bibir yang terangkat. Senyum sarkas itu lagi, seru Florence dalam hati. Memangnya ia tidak tahu kalau Florence hanya sedang mengujinya? Dasar Duke Cassian yang menyebalkan, rutuk Florence dalam hatinya yang bergemuruh. "Saya senang kita berada di perahu yang sama, Yang Mulia," ucap Florence seraya tersenyum lebar, berusaha menyembunyikan kekesalannya. Itu adalah percakapan terakhir mereka sepanjang perjalanan. *** Istana Kerajaan Ironhard lebih megah dan lebih cerah daripada Istana Duke Cassian. Semua ornamennya berwarna putih dan emas. Florence melangkah beriringan dengan mengapit lengannya ke Duke Cassian. Setiap langkah mereka di atas karpet merah diiringi bisikan dari balik pilar-pilar marmer di sekelilingnya. Ketika Duke Cassian dan Florence sampai di aula kerajaan, Raja Aldric telah duduk di atas singgasananya dengan dikelilingi oleh keluarga kerajaan di kanan dan kirinya. Perawakannya lebih tua dari yang Florence bayangkan, dengan mata biru pucat yang tajam serta rambut pirang keemasaannya yang menyilaukan mata. "Cassian," sambut Raja, suaranya seperti batu yang digosok. "Akhirnya kau membawa calon istrimu." Duke Cassian membungkuk dengan hormat diikuti Florence. "Hormat kepada Yang Mulia Raja Ironhard, saya Clarice of Valeridge dari Aethelgard." Raja Aldric mengangguk. "Pernikahan untuk perdamaian adalah sebuah konsep yang mulia." Tapi nada suaranya datar. "Apakah kau yakin ini yang terbaik untuk kerajaan kita, Cassian?" "Perjanjian sudah ditandatangani kedua belah pihak kerajaan, Yang Mulia," jawab Duke singkat. "Ah, perjanjian." Raja Aldric tersenyum tipis. "Kertas bisa dibakar, tinta bisa luntur. Tapi pernikahan... kau tahu betul itu lebih permanen." "Benar, Cassian. Ayah hanya memastikan kau memilih ini bukan karena paksaan," ucap Pangeran Aurelian dari sisi kiri Raja Aldric. Duke Cassian tampaknya berusaha sebisa mungkin untuk tidak menampakkan raut wajah kesalnya. "Dengan paksaan pun, saya bersedia menikahi Nona Clarice asalkan perdamaian terjadi di kedua belah pihak kerajaan, Yang Mulia." "Melihatmu sekarang mengingatkanku pada mendiang ayahmu, Cassian. Dulu ia juga melakukan hal yang sama denganmu. Kalian memanglah sedarah rupanya," ucap Raja Aldric seraya tertawa kecil. Florence melirik sekilas Duke Cassian. Untuk sepersekian detik, ia bisa melihat raut wajahnya terlihat dingin dan penuh dendam. Namun Duke Cassian tampaknya pintar mengubah raut wajahnya kemudian dengan senyum penuh arti. "Ayah adalah pahlawan perang yang lebih memilih perdamaian di atas segalanya. Kontribusinya kepada kerajaan tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun. Saya hanya melanjutkan semangat perjuangannya, Yang Mulia," balas Duke Cassian. "Mungkin kau ada benarnya, Cassian. Perdamaian yang Ayahmu raih sebelumnya adalah hal yang bagus untuk kerajaan kita. Aku pikir Nona Clarice bisa menjadi duchess yang panjang umur seperti mendiang ibumu," ujar Raja Aldric dengan meamndang Duke Cassian penuh arti. Florence merasa ada yang janggal dengan kalimat Raja Aldric barusan. Ia pernah mendengar duchess sebelumnya sudah meninggal. Namun mengapa Raja Aldric justru berkata sebaliknya? Apakah itu suatu provokasi kepada Duke Cassian? "Benar, semoga Nona Clarice lebih panjang umur dari ibu saya, Yang Mulia. Tidak akan saya biarkan tikus-tikus berkeliaran di sekitar dia tanpa pengawasan saya nanti," ujar Duke Cassian seraya memandang Florence dengan senyum lebarnya yang membuat Florence ingin muntah melihat aktingnya yang luar biasa. Dari sisi kanan singgasana, seorang wanita muda melangkah maju. Ia adalah Putri Seraphina. Seorang putri yang cantik seperti boneka es yang dipahat, dengan rambut pirang dan mata biru yang tajam. "Ian," ucapnya, suaranya seperti lonceng perak. "Apakah kau sudah melupakanku semudah itu, hm? Aku sungguh tersakiti, kau tahu." Apa maksud perkataan Putri Seraphina barusan? tanya Florence dalam hati. Apa maksud melupakan yang ia katakan? Apakah apa yang dikatakan Clarice tempo hari itu benar adanya?lima bulan telah berlalu. Selama hidup di Oakhaven, Florence merasa hidupnya lebih tenteram. Walaupun dalam sudut hatinya kosong, asalkan anak dalam kandungannya aman, Florence rasa itu sudah cukup untuk sekarang. "Jangan memaksakan dirimu, istirahatlah." Sebuah suara dari belakang membuat Florence menoleh sebentar. Blake baru saja pulang dari pasar membawa sekarung beras beserta ikan segar. Florence tersenyum samar, kemudian kembali memusatkan dirinya untuk menumbuk beberapa dedaunan herbal. "Ini tinggal beberapa pesanan obat lagi. Berhentilah khawatir," balas Florence dengan ringan. Blake lalu menurunkan karung beras dari pundaknya ke lantai dapur. Ia lalu berjalan menuju bak air untuk mencuci ikan. Florence mengamati Blake dalam diam. Selama mereka di Oakhaven, Blake selalu membawakan bahan makanan untuk Florence dan Elara–anak perempuan yang ia selamatkan dari Ordo Sanctus. Florence dan Blake memutuskan untuk pisah rumah, mengingat mereka pendatang baru di sini. Walaup
Sesuai dengan rencana pelarian mereka, Blake membawa Florence melintasi samudera menuju Kepulauan Oakhaven, sebuah wilayah pesisir terpencil di ujung benua yang dikelilingi kabut tebal dan hutan cemara. Di sana, hukum kerajaan Aethelgard maupun Ironhard hanyalah dongeng jauh yang tak berani menyentuh daratannya. Mereka menetap di sebuah rumah kayu sederhana di pinggir tebing yang menghadap ke laut lepas. Di malam pertama mereka tiba, suara deburan ombak yang menghantam karang menjadi saksi bisu runtuhnya pertahanan emosional Florence. Florence duduk di depan perapian yang menyala, memeluk secangkir teh hangat dengan tangan yang masih gemetar. Blake berdiri di dekat jendela, matanya tetap siaga mengawasi kegelapan hutan di luar, namun hatinya tertuju sepenuhnya pada wanita yang tampak begitu rapuh di depannya. "Blake..." suara Florence memecah kesunyian, parau dan penuh luka. "Semuanya terasa seperti mimpi buruk yang tidak ada ujungnya." Blake berbalik, menatap Florence dengan
Florence mengerjapkan matanya perlahan. Langit-langit sel yang dingin dan lembap telah berganti menjadi atap kayu tua yang rendah. Suara derit jeruji besi pun menghilang, digantikan oleh suara api yang berderak pelan di tungku kecil. Ia berusaha bangkit, namun kepalanya masih terasa sangat berat akibat sisa obat tidur yang disuntikkan sebelumnya. Saat itulah ia menyadari bahwa ia tidak lagi berada di penjara bawah tanah, melainkan di sebuah pondok kecil yang sangat tersembunyi. "Kau sudah bangun?" Florence menoleh. Di sudut ruangan yang remang, seorang wanita berdiri dengan jubah hitam yang menutupi gaun mewahnya. Saat wanita itu mendekat ke cahaya lampu minyak, jantung Florence seolah berhenti. Wajah itu... wajah yang selama ini ia lihat di cermin setiap pagi. "Clarice?" bisik Florence parau. "Iya, ini aku," sahut Clarice dengan nada yang bergetar. Ia tidak berani menatap mata Florence secara langsung. Di samping Clarice, berdiri Blake yang tampak siaga dengan pedang di pingg
Sisa-sisa pemberontak mulai melarikan diri ke arah tebing, namun Duke Cassian tidak membiarkan mereka lolos begitu saja. Ia memacu kudanya dengan beringas; tak ingin menyisakan satu mulut pun yang berani mencoreng kehormatan istrinya."Yang Mulia, tunggu! Itu terlalu berbahaya!" peringat salah satu pengawal dari kejauhan.Duke Cassian tuli terhadap peringatan itu. Ia terus memacu derap langkah kudanya melewati jembatan kayu sempit yang membelah jurang Stonegate. Namun, tepat saat kaki kudanya menginjak bagian tengah jembatan, sebuah ledakan hebat mengguncang fondasi kayu tersebut.BOOM!Bubuk mesiu yang telah ditanam secara rahasia oleh para pemberontak meledak tepat di bawahnya. Lidah api membubung tinggi, melahap struktur jembatan dalam sekejap. Duke Cassian terjebak di tengah kobaran yang meruntuhkan segalanya. Kudanya meringkik ngeri sebelum akhirnya mereka terperosok ke dalam jurang salju yang tak berdasar.Tubuh Cassian menghantam bebatuan tajam sebelum akhirnya tenggelam di bal
Duke Cassian memacu kudanya di garis paling depan. Setiap hentakan tapal kuda yang menghantam tanah salju di perbatasan Stonegate terdengar seperti detak jantung yang memburu. Perbatasan antara Kerajaan Aethelgard dan Ironhard ini tampak begitu suram di bawah langit yang mendung. Dasar keparat! Kutuk Duke Cassian di pertengahan. Pikirannya berkecamuk. Wilayah Stonegate ini selalu saja menjadi duri dalam daging. Ia merasa geram karena para penduduk di sini seolah menutup mata atas kebaikan Florence yang pernah berkunjung ke sini sebagai Duchess Silverhood. Sekarang, mereka justru membalasnya dengan pemberontakan keji, hanya karena termakan fitnah murah bahwa Duchess mereka terlibat dalam kejahatan Ordo Sanctus. Begitu Duke Cassian tiba di titik pertemuan, langkah kudanya terhenti. Di depannya, barisan manusia bertopeng dengan parang yang berkilat di tangan mereka sudah bersiaga. Jumlah mereka tak main-main. Kurang lebih lima puluh orang. Itu adalah angka yang cukup menekan jika di
Florence terdiam. Tenggorokannya tercekat.Anak perempuan itu seharusnya menjadi bukti kunci bahwa Florence menyelamatkannya, bukan menjualnya. Namun, sejak kekacauan di Valeridge pecah dan pengawal bayangan Duke Cassian tidak kembali, mereka menghilang tanpa jejak. Ordo Sanctus pasti sudah melenyapkannya atau menyembunyikannya agar Florence tidak memiliki pembelaan."Saya ... saya tidak bisa mendatangkannya sekarang, Yang Mulia. Berikan saya waktu dan keleluasaan untuk menjemput saksi dari saya. Dia adalah seoran anak yang akan ditumbalkan oleh mereka yang berhasil saya selamatkan," suara Florence lantang meskipun tangannya gemetar.Seorang jaksa berdiri dari duduknya. Ia merapikan sebagian jubahnya yang kusut. "Waktu dan keleluasaan?" Jaksa itu tertawa hambar, suaranya menggema di aula yang dingin. "Sungguh sebuah pembelaan yang klise, Duchess. Anda meminta waktu untuk mencari saksi yang secara 'ajaib' menghilang tepat saat pengkhianatan Anda terbongkar? Tidakkah itu terlalu nyama
Pasar malam di pusat Valeridge begitu meriah dengan lampion warna-warni dan aroma makanan yang menggugah selera. Di balik tudung kain kusamnya, Florence menghirup dalam-dalam aroma daging asap yang sedari tadi ia idamkan. Duke Cassian, yang menyamar dengan jubah hitam minimalis namun tetap terlihat
Sudah dua hari Florence terbaring lemah di ranjang. Dan selama itu pula tiap pagi ia pasti merasa mual namun tidak ada yang berhasil dimuntahkan selain air liurnya sendiri. Bagaimana tidak? Lidahnya menolak semua jenis makanan yang dihidangkan oleh pelayan. Entah apa yang terjadi pada tubuhnya, ia
Seminggu telah berlalu semenjak Florence tiba kembali ke Kastil Silverhood. Di tengah huru-hara kabar kehilangan Duke Cassian dan Duchess Clarice saat perjalanan pulang dari Stonegate, mereka tiba dengan dramatis, dijemput oleh prajurit Silverhood pada malam badai salju. Perbincangan hangat tentan
Pagi itu tenda pengungsian Stonegate mendadak ramai. Bukan tanpa alasan keramaian itu terjadi. Semalam tiga orang padien di sana meninggal secara mendadak. Dengan langkah pasti, Florence dan Duke Cassian berusaha membelah kerumunan di sana. Sayup-sayup isak tangis bersautan satu sama lain mencipt







