เข้าสู่ระบบ"Kamu pikir kamu bisa menyembunyikan sesuatu dari pengawasan Papa, Al? Anak perempuan yatim piatu, mahasiswi beasiswa kelas bawah yang hidupnya mengandalkan belas kasihan rektorat kampus untuk makan sehari-hari." Satria tersenyum meremehkan, seakan menyebut nama Reva saja sudah mengotori lidahnya. "Kamu pikir Papa akan diam saja dan membiarkan pewaris tunggal Kusuma Group membawa gembel ke dalam silsilah keluarga kita?"
"Jaga mulut Papa!" Al maju selangkah, amarahnya benar-benar terpancing hingga ke ubun-ubun. "Reva perempuan baik-baik! Dia punya harga diri dan dia jauh lebih berharga dari semua kolega bisnis Papa yang bermuka dua!" "Baik-baik atau tidak, dia tetap hama di mata bisnis kita!" sentak Satria dengan suara menggelegar, memantul di dinding ruang kerja yang kedap suara. "Dengar baik-baik, Aldebaran. Papa sudah menyuruh orang menyelidiki semuanya tentang gadis itu sampai ke akar-akarnya. Kakak perempuannya yang tinggal di luar kota itu, Keisha, saat ini sedang terlilit utang puluhan juta pada rentenir. Beasiswa gadis kesayanganmu itu di kampus juga bisa Papa cabut besok pagi hanya dengan satu kali panggilan telepon ke pihak rektorat kenalan Papa." Dada Al naik turun dengan cepat. Napasnya memburu, matanya memerah menahan ledakan emosi. "Papa nggak berhak menyentuh Reva!" "Papa berhak melakukan apa saja untuk menjaga kehormatan dan kelangsungan nama baik Kusuma Group!" sentak Satria sambil melangkah mendekat, menatap putranya dengan pandangan dingin yang mengancam. "Pilihannya sekarang murni ada di tanganmu, Al. Kamu setuju menikah dengan Elena bulan depan, bersikap manis di depan media, dan gadis itu aman. Dia bisa menyelesaikan skripsinya, lulus dengan tenang, dan hidup tanpa gangguan." "Atau?" tanya Al dengan suara yang bergetar hebat, membayangkan kemungkinan terburuknya. "Atau kamu bersikeras menolak, dan besok pagi Revalina akan ditendang keluar dari kampus dengan tidak hormat, diusir dari kosan kumuhnya, dan kakaknya akan dijebloskan ke penjara karena utang-utangnya yang tiba-tiba membengkak. Papa akan pastikan hidup gadis kesayanganmu itu hancur berantakan di setiap sisinya sampai dia mengemis untuk mati." Al mematung di tempatnya berdiri. Dunia di sekelilingnya seolah-olah runtuh menimpanya bertubi-tubi. Ancaman ayahnya bukan sekadar gertakan kosong belaka. Satria Kusuma adalah predator bisnis yang kejam, pria yang bisa menghancurkan hidup seseorang semudah membalikkan telapak tangan. Bayangan wajah Reva yang kelelahan menyusun skripsi sore tadi, senyum manisnya yang tulus di warung pecel lele, dan janji masa depan yang baru saja ia ucapkan dengan penuh keyakinan, semuanya berputar di kepala Al bagai kaset rusak yang menyiksa. 'Aku di sini, Al. Aku bakal terus nemenin kamu. Tapi kamu juga harus janji.' Kata-kata Reva terus terngiang di telinga, menyayat hatinya hingga berdarah-darah. "Brengsek!" umpat Al pelan, air mata frustrasi akhirnya menggenang di pelupuk matanya yang memerah. "Papa benar-benar iblis!" "Bukan iblis, Al. Ini namanya insting pebisnis sejati," ralat Satria dengan nada kelewat tenang, tangannya bergerak merapikan kerah jas mahalnya. "Cinta itu kelemahan fatal dan Papa tidak pernah mendidikmu untuk menjadi pria lemah yang dikendalikan perasaan. Sekarang, hapus wajah menyedihkanmu itu. Kita akan keluar ke ruang tamu dan kamu akan meminta maaf pada Elena serta orang tuanya, lalu menyetujui tanggal pertunangannya secara jantan." Satria berbalik dan berjalan angkuh keluar ruang kerja tanpa menoleh lagi, tanpa rasa bersalah sedikit pun. Meninggalkan Al sendirian yang hancur lebur dalam keputusasaan. Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Demi Tuhan, Al lebih rela mati daripada harus melihat senyum Reva lenyap dan hidup gadis itu hancur karena ulah kejam keluarganya. Jika kebebasannya adalah harga yang harus dibayar lunas untuk melindungi satu-satunya perempuan yang sangat dicintainya, maka Al akan membayarnya, seberapapun mahalnya. Dengan langkah terseret dan tatapan kosong, Al melangkah keluar dari ruang kerja. Di ruang tamu, Elena menatapnya dengan senyum penuh kemenangan yang tersembunyi di balik cangkir tehnya. Perempuan itu pasti sudah tahu. Elena pasti tahu tentang ancaman itu dan diam-diam menikmati kehancuran pertahanan Al. "Jadi, bagaimana keputusanmu, Al?" tanya Hadi Pranoto saat Al kembali duduk di kursinya. Al menelan ludah yang terasa pahit. Ia menatap Elena, lalu menatap sang ayah yang memberinya isyarat tajam lewat mata. "Aku setuju. Atur saja tanggal dan acaranya sesuai keinginan kalian," ucap Al dengan suara lirih, seolah-olah jiwa baru saja dicabut paksa dari raganya. Elena tersenyum sangat lebar, sorot matanya berkilat puas. "Keputusan yang sangat cerdas, calon suamiku." Malam itu, setelah keluarga Pranoto pulang, Al mengurung diri di kamarnya. Kamar luas bergaya maskulin yang dipenuhi perabotan mewah itu kini terasa tak ubahnya seperti sel penjara berpintu emas. Ia mengempaskan tubuh ke tepi ranjang dan mengusap wajahnya dengan kasar. Kepalanya menengadah, menatap langit-langit kamar dengan pandangan hampa. Bagaimana caranya ia memberitahu Reva tentang semua ini? Bagaimana ia bisa menjelaskan bahwa janji indah yang ia buat beberapa jam lalu harus diingkari demi keselamatan gadis itu? Al tahu betul sifat Reva yang keras kepala dan terlalu mandiri. Jika Reva tahu Al berkorban dengan menjual hidup dan menikah dengan Elena demi melindunginya, Reva pasti akan menolak keras dan memilih menantang Satria Kusuma sendirian—yang berarti gadis itu hanya akan berjalan masuk ke dalam jurang kehancuran yang tak berdasar. 'Tidak, Reva tidak boleh tahu yang sebenarnya,' batin Al kalut. 'Aku harus membuatnya menjauh pelan-pelan, meski itu berarti aku harus mematahkan hatinya dan dibenci seumur hidup.' Mendadak ponsel di saku celana bergetar pelan, memecah lamunannya. Al mengambilnya dengan tangan gemetar. Ada satu pesan teks masuk dari kontak yang diberi nama 'Duniaku'. [Al, aku udah cuci muka dan mau tidur, nih! Makasih banyak, ya, buat hari ini. Aku sayang kamu. Jangan lupa istirahat yang cukup, pewarisku.] Setetes air mata akhirnya lolos dari pertahanan Al, jatuh membasahi layar ponsel yang bersinar di tengah temaram kamar. Ia meremas benda pipih itu erat-erat di depan dadanya yang sesak, menangis dalam diam meratapi ketidakberdayaannya. Namun, isakan pelan itu tiba-tiba terhenti ketika suara ketukan keras terdengar dua kali dari pintu kamarnya, disusul suara kenop yang diputar pelan dari luar. Sosok Elena tiba-tiba berdiri di ambang pintu kamarnya sambil tersenyum sinis. Ia bersandar pada daun pintu sambil menimang-nimang sebuah amplop cokelat berlogo universitas tempat Reva menimba ilmu. "Maaf mengganggu waktu istirahatmu malam-malam, Sayang," ucap Elena dengan nada manis yang dibuat-buat. "Tapi sepertinya kita harus menyamakan skenario mulai malam ini. Karena kalau gadismu yang menyedihkan itu sampai berani muncul dan mencari masalah di acara pertunangan kita minggu depan, aku sendiri yang akan memastikan namanya dicoret permanen dari daftar wisuda." "Keluar dari kamarku, Elena! Siapa yang mengizinkanmu masuk?!" Al tersentak bangkit dari posisinya di tepi ranjang. Matanya berkilat penuh kebencian menatap sosok perempuan yang berdiri angkuh di ambang pintu kamarnya. Seluruh rasa sedih dan frustrasinya seketika menguap, berganti dengan amarah yang membakar dada. Elena tidak mundur selangkah pun. Ia justru melangkah masuk dengan santai, lalu menutup pintu kamar Al dengan senyum yang tak pudar. Perempuan itu berjalan mendekati tempat tidur king size milik Al, lalu melempar amplop cokelat berlogo universitas yang dipegangnya ke atas seprai. "Pintu kamarmu tidak dikunci, Sayang. Lagi pula, papamu sendiri yang bilang aku bebas berkeliling di rumah ini. Kan, sebentar lagi tempat ini akan jadi rumahku juga," jawab Elena dengan nada suara yang terlampau tenang, hampir seperti desisan ular. "Jangan pernah panggil aku dengan sebutan itu! Menjijikkan!" bentak Al sambil maju dua langkah, mencengkeram lengan Elena dengan kasar. "Mau kamu apa sebenarnya, hah? Belum puas kamu dan papaku merenggut kebebasanku malam ini?!"Lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit grand ballroom sebuah hotel mewah di Jakarta memancarkan cahaya yang angkuh, memayungi pesta pernikahan yang disebut-sebut sebagai merger terbesar dekade ini. Aliansi strategis antara Kusuma Group dan Pranoto Corp resmi dikunci di atas pelaminan hari itu. Di atas pelaminan yang didekorasi dengan ribuan mawar putih impor kelas premium, Aldebaran Kusuma berdiri tegap. Ia tampak gagah, tetapi tubuhnya kaku bagai patung lilin di dalam setelan tuxedo hitam klasik rancangan desainer Eropa.Di sampingnya, Elena Salsabila Pranoto tersenyum anggun ke arah puluhan kamera wartawan bisnis yang tak henti-hentinya memancarkan lampu kilat. Elena tampil memukau dengan gaun pengantin bertabur kristal Swarovski yang menyapu lantai marmer, memancarkan aura kemenangan seorang putri mahkota konglomerat yang baru saja mengamankan aset terbaiknya. Pernikahan itu, bagi Elena adalah kemenangan mutlak atas egonya dan validasi kekuasaannya di mata dewan di
Keesokan paginya, Al mendatangi gedung administrasi pusat universitasnya. Ia mengabaikan semua mata mahasiswa yang menatapnya penuh gunjing terkait berita pertunangannya dengan Elena. Fokusnya hanya satu: melacak jejak akademis Reva."Maaf, Mas Aldebaran Kusuma," ucap petugas administrasi wanita paruh baya itu dengan raut wajah sungkan setelah memeriksa data di komputer. "Mahasiswi atas nama Revalina Putri Gunawan dari Fakultas Ekonomi sudah resmi mengajukan surat pengunduran diri dan pencabutan berkas beasiswa dua minggu yang lalu."Al membelalak, dadanya mendadak terasa sesak seolah-olah dihantam benda tumpal. "Mengundurkan diri? Maksud Ibu, dia bukan ambil cuti akademik?""Bukan cuti, Mas. Berkasnya benar-benar dicabut secara permanen. Beliau menandatangani surat pernyataan keluar dari universitas ini," jelas petugas itu lagi sambil menunjukkan salinan dokumen di atas meja.Al menatap tanda tangan Reva di atas meterai pada lembaran kertas itu. Goresan penanya tampak tegas, mencermi
Reva meraih dompetnya, memeriksa sisa uang tabungannya yang tidak seberapa. Cukup untuk membeli tiket kereta kelas ekonomi menuju kota tempat tinggal kakaknya, Keisha."Mbak Keisha," ucap Reva terisak lirih. Air mata kembali luruh membasahi pipinya yang pucat saat menggumamkan nama satu-satunya keluarga yang dimiliki. "Reva mau pulang, Mbak."Malam itu juga, di bawah guyuran hujan deras yang akhirnya mengguyur Jakarta, Reva melangkah keluar dari indekost dengan membawa satu koper berukuran sedang dan tas ransel lusuhnya. Ia menyerahkan kunci kamar pada pemilik kos dengan alasan ada urusan keluarga darurat yang membuatnya harus pulang kampung dalam waktu lama.***Tiga minggu berlalu sejak malam yang menghancurkan itu.Acara pertunangan megah antara Aldebaran Kusuma dan Elena Salsabila Pranoto telah sukses digelar di salah satu hotel bintang lima termewah di Jakarta. Foto-foto kemesraan palsu mereka menghiasi berbagai majalah bisnis dan infotainment selama berhari-hari. Di depan kamer
Al tidak membalas. Ia tetap bergeming sambil membuang muka, tidak berani menatap mata Reva karena tahu pertahanannya akan runtuh jika melihat air mata perempuan yang teramat dicintainya itu. "Mulai sekarang, jangan pernah cari aku lagi. Anggap kita nggak pernah kenal," ucap Al final. Ia berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Reva sendirian yang langsung merosot, menangis histeris sambil memeluk lututnya sendiri. Al berjalan cepat menjauhi area pohon rindang itu. Air matanya yang sejak tadi ditahan akhirnya lolos begitu saja, mengalir deras membasahi pipinya. Dadanya terasa begitu sesak hingga kesulitan bernapas. 'Maafkan aku, Reva. Maafkan aku harus melakukan ini demi melindungi kamu,' jerit Al dalam hati. Namun, langkah kaki Al mendadak terhenti ketika mendengar suara bisik-bisik yang tiba-tiba berdengung di sepanjang koridor kampus. Beberapa mahasiswa tampak berkumpul, menatap layar ponsel mereka dengan heboh, lalu menatap ke arah Al dengan pandangan penuh selidik dan keter
Elena meringis pelan saat cengkeraman tangan Al mengencang di lengannya. Namun, senyum sinisnya sama sekali tidak pudar. Ia menatap tangan Al yang mencengkeramnya, lalu beralih menatap langsung ke mata pemuda itu."Lepaskan tanganmu, Al. Sakit," ucap Elena dingin. Begitu Al mengempaskan tangannya dengan gusar, Elena merapikan lengan gaunnya yang sedikit kusut. "Mauku sederhana. Aku cuma mau memastikan calon suamiku tidak bertingkah bodoh dan merusak acara penting kita minggu depan."Elena menunjuk amplop cokelat di atas kasur dengan ujung kuku telunjuknya yang dicat merah. "Kamu tahu apa isi di dalam ini? Ini adalah salinan kartu hasil studi milik kekasih gembelmu itu. Revalina. IPK tiga koma sembilan puluh delapan. Luar biasa pintar untuk ukuran anak yatim piatu. Sayang banget, ya, kalau riwayat akademis sebersih ini harus ternoda di semester akhir."Darah Al seolah-olah berhenti mengalir. Wajahnya memucat, berganti dengan rasa ngeri yang menjalar di sekujur tubuhnya. "Jangan berani-
"Kamu pikir kamu bisa menyembunyikan sesuatu dari pengawasan Papa, Al? Anak perempuan yatim piatu, mahasiswi beasiswa kelas bawah yang hidupnya mengandalkan belas kasihan rektorat kampus untuk makan sehari-hari." Satria tersenyum meremehkan, seakan menyebut nama Reva saja sudah mengotori lidahnya. "Kamu pikir Papa akan diam saja dan membiarkan pewaris tunggal Kusuma Group membawa gembel ke dalam silsilah keluarga kita?""Jaga mulut Papa!" Al maju selangkah, amarahnya benar-benar terpancing hingga ke ubun-ubun. "Reva perempuan baik-baik! Dia punya harga diri dan dia jauh lebih berharga dari semua kolega bisnis Papa yang bermuka dua!""Baik-baik atau tidak, dia tetap hama di mata bisnis kita!" sentak Satria dengan suara menggelegar, memantul di dinding ruang kerja yang kedap suara. "Dengar baik-baik, Aldebaran. Papa sudah menyuruh orang menyelidiki semuanya tentang gadis itu sampai ke akar-akarnya. Kakak perempuannya yang tinggal di luar kota itu, Keisha, saat ini sedang terlilit utang







