로그인Elena meringis pelan saat cengkeraman tangan Al mengencang di lengannya. Namun, senyum sinisnya sama sekali tidak pudar. Ia menatap tangan Al yang mencengkeramnya, lalu beralih menatap langsung ke mata pemuda itu.
"Lepaskan tanganmu, Al. Sakit," ucap Elena dingin. Begitu Al mengempaskan tangannya dengan gusar, Elena merapikan lengan gaunnya yang sedikit kusut. "Mauku sederhana. Aku cuma mau memastikan calon suamiku tidak bertingkah bodoh dan merusak acara penting kita minggu depan." Elena menunjuk amplop cokelat di atas kasur dengan ujung kuku telunjuknya yang dicat merah. "Kamu tahu apa isi di dalam ini? Ini adalah salinan kartu hasil studi milik kekasih gembelmu itu. Revalina. IPK tiga koma sembilan puluh delapan. Luar biasa pintar untuk ukuran anak yatim piatu. Sayang banget, ya, kalau riwayat akademis sebersih ini harus ternoda di semester akhir." Darah Al seolah-olah berhenti mengalir. Wajahnya memucat, berganti dengan rasa ngeri yang menjalar di sekujur tubuhnya. "Jangan berani-berani kamu menyentuh Reva, Elena! Masalah ini cuma antara aku, kamu, dan orang tua kita. Jangan bawa-bawa dia!" "Aku tidak akan menyentuhnya, Aldebaran. Sama sekali tidak tertarik," ucap Elena sambil berjalan memutari Al, jemarinya yang dingin sengaja menyentuh bahu Al, membuat pemuda itu bergidik muak dan langsung menghindar. "Semua itu tergantung pada sikapmu. Aku tidak butuh cinta kamu. Simpan saja perasaan menjijikkan itu untuk gadis gembelmu. Yang aku butuh dari kamu cuma satu: status." Elena berhenti tepat di depan Al, mendongak untuk menatap wajahnya yang menegang. "Aku butuh publikasi yang bersih, kerja sama bisnis yang lancar tanpa hambatan, dan citra keluarga yang sempurna di mata media. Di depan kamera dan kolega bisnis, kamu harus bertingkah sebagai tunangan dan suami yang paling mencintaiku di dunia ini. Paham?" "Kamu gila, El. Kamu bener-bener nggak punya hati," desis Al, menatap Elena dengan pandangan paling jijik yang pernah ia miliki. "Kenapa kamu seobsesif ini sama kekuasaan? Apa menikah dengan orang yang membencimu setengah mati bisa bikin kamu bahagia?" Elena tertawa remeh, suara tawanya terdengar garing di dalam kamar yang sunyi itu. "Bahagia? Hari gini masih bicara soal kebahagiaan sepele seperti cinta? Hati itu nggak bisa dipakai buat beli saham, Al. Cinta juga nggak akan bisa bikin Pranoto Corp jadi nomor satu di Asia Tenggara. Jadi, bersikaplah yang manis mulai besok. Jangan coba-coba menemuinya lagi, atau kamu tahu sendiri akibatnya bagi masa depan gadis itu." Tanpa menunggu jawaban, Elena membalikkan badan. Langkah kakinya yang menggunakan sepatu hak tinggi terdengar berirama, ketukan demi ketukan yang terasa seperti vonis mati bagi Al. Begitu pintu kamar tertutup rapat kembali, Al langsung menendang kursi belajar di dekatnya hingga terguling dan menghantam lantai dengan keras. "Brengsek! Sialan!" teriak Al dengan nada frustrasi, menjambak rambutnya sendiri hingga kulit kepalanya terasa perih. Malam itu, Aldebaran tidak memejamkan matanya sama sekali. Setiap kali ia mencoba menutup mata, bayangan wajah ceria Reva dan ancaman kejam dari Elena terus berputar, mencabik-cabik ketenangan jiwanya. Keesokan harinya, langit Jakarta tampak mendung, seolah-olah mendramatisir suasana hati Al yang kelabu. Pemuda itu berjalan menyusuri koridor kampus dengan langkah berat. Lingkar hitam di bawah matanya terlihat sangat jelas, kontras dengan wajah tampan yang biasanya selalu tampak segar. Di bawah pohon rindang tempat mereka biasa bertemu, Reva sudah duduk menunggu. Gadis itu mengenakan kemeja kotak-kotak hitam dan putih, rambutnya diikat kuda seperti biasa. Begitu melihat sosok Al berjalan mendekat, wajah Reva berubah cerah. Ia berdiri dan melambaikan tangannya dengan semangat. "Al, di sini!" seru Reva riang. Namun, senyum di wajah Reva perlahan memudar saat melihat Al mengabaikan lambaian tangannya. Tidak ada senyuman hangat, tidak ada binar jenaka di mata cokelat terang yang biasanya selalu menatapnya penuh puja. Al berjalan dengan wajah datar, dingin, dan asing. "Al, kamu kenapa? Muka kamu pucat banget, terus mata kamu ...." Reva mengulurkan tangannya, berniat menyentuh kening Al karena khawatir. Namun, Al dengan cepat menepis tangan itu sebelum sempat menyentuhnya. Reva tertegun di tempatnya. Gadis itu menatap tangannya yang menggantung di udara dengan pandangan tidak percaya, lalu menatap Al dengan bingung. "Al, ada apa? Aku ada salah, ya?" tanya Reva, suaranya mulai bergetar karena takut. Al mengepalkan kedua tangan di sisi tubuhnya, mencengkeram kain celananya kuat-kuat demi menahan diri agar tidak langsung memeluk gadis di depannya. Ia harus melakukan ini. Ia harus membuat Reva membencinya agar gadis itu menjauh dan tetap aman dari cengkeraman Elena dan ayahnya. "Nggak usah lebay, Reva. Aku cuma lagi nggak pengen disentuh," ucap Al dengan nada suara yang sengaja dibuat sedingin es. Reva menelan ludah dengan susah payah, berusaha mengontrol emosinya. Ia memaksakan sebuah senyuman tipis, lalu meraih sebuah kotak bekal berwarna merah muda dari dalam tas ranselnya. "Kamu pasti belum sarapan, kan? Aku tadi sengaja bangun jam lima pagi buat masakin nasi goreng kesukaan kamu. Dimakan, ya?" Al menatap dingin kotak bekal itu. Di dalam hati, ia menangis melihat ketulusan Reva. Namun, otaknya kembali memutar kalimat ancaman Elena: Aku sendiri yang akan memastikan namanya dicoret permanen dari daftar wisuda. Dengan gerakan cepat, Al merenggut kotak bekal itu dari tangan Reva, lalu melemparkannya ke dalam tong sampah besar di samping pohon tempat mereka berdiri. Bunyi hantaman kotak plastik itu terdengar begitu memekakkan telinga di antara mereka. "Al, kamu apa-apaan sih?!" teriak Reva dengan mata yang seketika berkaca-kaca. "Kalau kamu nggak mau makan, tinggal bilang! Kenapa harus dibuang?! Aku bikinnya pakai uang terakhirku bulan ini, Al!" "Aku nggak butuh nasi goreng murahan kayak gitu, Reva!" bentak Al, suaranya meninggi, membuat beberapa mahasiswa yang lewat sempat menoleh penasaran. Al menarik napas panjang, melayangkan tatapan nyalang ke dalam manik mata Reva yang berkaca-kaca. "Dan satu lagi ... kita putus!" Dunia Reva seolah-olah berhenti berputar. Kata-kata itu terdengar seperti petir di siang bolong yang langsung menghantam jantungnya hingga hancur berkeping-keping. "P-putus?" tanya Reva sambil tertawa getir, air matanya mulai luruh membasahi pipi. "Hahaha. Al, kamu bercanda, kan? Nggak lucu tau. Kemarin malam kamu bilang aku duniamu, kamu bilang mau nikahin aku. Terus sekarang kamu tiba-tiba minta putus? Kamu lagi dikerjain anak-anak, ya?" tanya Reva sambil melangkah maju, mencengkeram ujung kemeja Al dengan kedua tangan yang gemetar hebat. "Tatap mata aku, Aldebaran! Bilang kalau kamu cuma bercanda!" Al mengabaikan tuntutan itu. Ia dengan paksa melepaskan cengkeraman tangan Reva dari kemejanya, lalu melangkah mundur untuk memberi jarak di antara mereka. "Aku nggak bercanda, Revalina Putri Gunawan! Aku sadar, hubungan kita ini nggak ada masa depannya," ucap Al, setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti belati yang juga menusuk jantungnya sendiri. "Kemarin malam itu aku cuma kasihan sama kamu. Aku bosan hidup di lingkunganku yang kaku, makanya aku iseng cari pelarian ke cewek miskin kayak kamu. Tapi sekarang aku udah sadar. Kita beda dunia. Kamu itu bisa kuliah di sini hanya karena beasiswa, sedangkan aku pewaris Kusuma Group. Kamu nggak akan pernah selevel sama aku." Plak! Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Al. Kekuatan tamparan itu cukup kuat hingga membuat wajah Al terlempar ke samping. Napas Reva memburu, dadanya naik turun dengan cepat karena amarah dan rasa sakit hati yang luar biasa dahsyat. "Kamu jahat, Al! Kamu brengsek!" tangis Reva pecah, seluruh tubuhnya bergetar hebat. "Kalau dari awal kamu anggap aku sebagai pelarian, kenapa kamu bikin aku secinta itu sama kamu?! Kenapa kamu kasih aku harapan seindah itu?!"Dengan gerakan gesit, Arkananta mendribel bola melewati Aletta, melompat tinggi, dan memasukkan bola ke dalam ring dengan sangat mulus. "Curang! Arkan, kan, badannya lebih tinggi!" protes Aletta sambil berkacak pinggang, bibirnya mengerucut sebal. Arkananta hanya tertawa terbahak-bahak. Ia berjalan menghampiri Aletta, mengacak-acak rambutnya dengan penuh kasih sayang. "Siapa suruh kau malas minum susu peninggi badan? Tapi tenang saja, meski kau pendek, kau tetap superhero terhebatku." Aletta mendengkus kesal, meski senyuman lebar akhirnya terbit di wajah cantiknya. Sampai detik ini, ikatan batin antara kedua saudara itu tidak pernah putus. Mereka saling melindungi, saling menggoda, dan tumbuh dalam kasih sayang yang setara. Tiba-tiba, sebuah suara cadel yang melengking memecah perdebatan kecil mereka. "Kakak Ale! Kakak Alka! Cini, main cama Aksa!" Dari arah pintu kaca paviliun, seorang balita laki-laki berusia tiga tahun berlari terhuyung-huyung dengan kaki kecilnya yang m
Al turun lebih dulu. Tanpa memedulikan tatapan puluhan stafnya, pria bertubuh atletis itu langsung membungkuk dan menggendong Reva dengan gaya bridal style keluar dari mobil, mengabaikan fakta bahwa Reva sudah bisa berjalan pelan. "Al, turunkan aku! Malu dilihat banyak orang!" protes Reva dengan pipi yang merona merah padam seraya memukul pelan dada bidang suaminya. "Biarkan saja mereka melihat. Aku sedang menggendong istriku sendiri, bukan menggendong patung," jawab Al santai tanpa merasa berdosa sedikit pun. Sementara itu, para pengasuh dengan sigap membantu Aletta dan Arkananta turun dari mobil. Kedua bocah itu langsung berlarian kecil dengan wajah ceria menuju pintu utama, tak sabar ingin melihat rumah mereka lagi. Begitu Al melangkah masuk membawa Reva ke dalam mansion, napas Reva seketika tercekat. Matanya melebar sempurna melihat perubahan luar biasa yang terjadi di dalam rumah raksasa tersebut. Warna-warna gelap, muram, dan perabotan bergaya gotik berlebihan yang dul
Satu minggu telah berlalu sejak malam panjang yang mempertaruhkan hidup dan mati di ruang operasi Rumah Sakit Medika Pusat. Udara pagi yang menyusup masuk melalui celah ventilasi kamar VVIP Presidential Suite terasa jauh lebih segar dan menenangkan. Ketegangan yang sebelumnya menggantung pekat bagai kabut beracun kini telah menguap tak bersisa, digantikan oleh aroma manis dari buket bunga lili putih yang tertata rapi di atas meja nakas. Atas perintah mutlak Aldebaran Kusuma, dinding pembatas antara dua kamar suite terbaik di rumah sakit itu telah dibongkar dalam waktu semalam. Pria itu mengubahnya menjadi satu ruangan perawatan raksasa yang mewah agar seluruh keluarganya bisa berkumpul dalam satu pandangan matanya. Di sisi kiri, Revalina berbaring di atas ranjang dengan raut wajah yang kian memancarkan rona kehidupan, ditemani oleh Aletta yang tengah duduk santai di sofa sembari mewarnai buku gambar. Di sisi kanan, Arkananta terbaring dengan senyum tipis yang tak pernah lepas dari w
"Papa akan menemanimu masuk. Papa tidak akan melepaskan tanganmu," ucap Al, mengusap pipi Aletta dengan ibu jarinya yang bergetar. "Papa jangan sedih lagi," ucap Aletta sambil mengulurkan tangannya yang mungil, membelai rahang ayahnya yang mengeras. "Aletta, kan, superhero. Setelah ini, Arkan pasti bisa lari-lari lagi di taman sama Aletta." Aldebaran memaksakan sebuah senyuman, meski hatinya hancur berkeping-keping. "Ya, Sayang. Kau adalah superhero terhebat yang pernah Papa kenal." Ruang operasi itu terang benderang, dipenuhi aroma antiseptik yang tajam dan bunyi dengungan pelan dari berbagai mesin penyokong kehidupan. Suhunya sengaja dibuat sangat dingin untuk menjaga kesterilan. Namun bagi Aldebaran, dinginnya ruangan itu tak sebanding dengan kebekuan di dalam hatinya. Aletta sudah berbaring telungkup di atas meja operasi yang dilapisi selimut pemanas. Tubuh kecilnya terlihat sangat rapuh di tengah kepungan peralatan medis berbahan logam yang mengilap. Aldebaran duduk di ku
"Aletta, prosedur itu bukan cuma suntik biasa, Sayang. Itu akan sangat menyakitkan. Tulang belakangmu nanti akan disuntik dengan jarum yang ... ah, Papa tidak akan sanggup melihatmu kesakitan, Nak," ucap Reva dengan tangis yang akhirnya pecah. Ia memeluk putrinya erat-erat, menciumi puncak kepalanya dengan penuh keputusasaan. "Ibu juga tidak sanggup. Kami sangat menyayangimu." "Tapi kalau Arkan mati, Papa bakal sedih terus! Ibu juga nangis terus!" bantah Aletta, suaranya melengking karena frustrasi yang kekanak-kanakan. "Aletta nggak mau sendirian, Ibu! Aletta mau main sama Arkan lagi! Aletta mau nahan sakit sebentar, asal kita semua bisa ketawa lagi!" Di tengah momen yang begitu memilukan itu, pintu kamar rawat tiba-tiba terbuka lebar dengan kasar. Aldebaran melangkah masuk. Pria itu baru saja berlari dari koridor bangsal steril setelah memerintahkan Dimas untuk mencari opsi ke seluruh benua. Niat awalnya adalah untuk memeriksa keadaan Reva, mencari sedikit ketenangan dari sa
Pintu bangsal steril terbuka, dan Dokter Bisma melangkah keluar dengan wajah yang dipenuhi peluh. Ia melepas masker medisnya, menatap Aldebaran dengan pandangan mata yang sarat akan rasa bersalah sekaligus keletihan yang luar biasa. "Tuan Besar Kusuma." Dokter Bisma menjeda kalimatnya, membungkuk sedalam mungkin di hadapan Al. "Maafkan kami. Kami berhasil mengembalikan ritme jantung Tuan Muda untuk sementara waktu. Tapi ini hanya solusi jangka pendek yang sangat rapuh. Perdarahan internalnya belum sepenuhnya berhenti karena faktor pembekuan darahnya sudah tidak berfungsi sama sekali akibat anemia aplastik tingkat akhir ini." "Aku tidak butuh permintaan maafmu, Dokter! Aku butuh solusi!" bentak Al, suaranya menggelegar di koridor yang sepi itu, membuat Dokter Bisma tersentak mundur. "Aku membayar kalian dengan fasilitas terbaik di negeri ini! Cari cara! Datangkan obat apa saja! Sialan, apa gunanya semua gelarmu jika menyelamatkan satu anak kecil saja kau tidak mampu?!" Dokter B







