แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Nawasena
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-09 23:28:40

Elena meringis pelan saat cengkeraman tangan Al mengencang di lengannya. Namun, senyum sinisnya sama sekali tidak pudar. Ia menatap tangan Al yang mencengkeramnya, lalu beralih menatap langsung ke mata pemuda itu.

"Lepaskan tanganmu, Al. Sakit," ucap Elena dingin. Begitu Al mengempaskan tangannya dengan gusar, Elena merapikan lengan gaunnya yang sedikit kusut. "Mauku sederhana. Aku cuma mau memastikan calon suamiku tidak bertingkah bodoh dan merusak acara penting kita minggu depan."

Elena menunjuk amplop cokelat di atas kasur dengan ujung kuku telunjuknya yang dicat merah. "Kamu tahu apa isi di dalam ini? Ini adalah salinan kartu hasil studi milik kekasih gembelmu itu. Revalina. IPK tiga koma sembilan puluh delapan. Luar biasa pintar untuk ukuran anak yatim piatu. Sayang banget, ya, kalau riwayat akademis sebersih ini harus ternoda di semester akhir."

Darah Al seolah-olah berhenti mengalir. Wajahnya memucat, berganti dengan rasa ngeri yang menjalar di sekujur tubuhnya. "Jangan berani-berani kamu menyentuh Reva, Elena! Masalah ini cuma antara aku, kamu, dan orang tua kita. Jangan bawa-bawa dia!"

"Aku tidak akan menyentuhnya, Aldebaran. Sama sekali tidak tertarik," ucap Elena sambil berjalan memutari Al, jemarinya yang dingin sengaja menyentuh bahu Al, membuat pemuda itu bergidik muak dan langsung menghindar. "Semua itu tergantung pada sikapmu. Aku tidak butuh cinta kamu. Simpan saja perasaan menjijikkan itu untuk gadis gembelmu. Yang aku butuh dari kamu cuma satu: status."

Elena berhenti tepat di depan Al, mendongak untuk menatap wajahnya yang menegang. "Aku butuh publikasi yang bersih, kerja sama bisnis yang lancar tanpa hambatan, dan citra keluarga yang sempurna di mata media. Di depan kamera dan kolega bisnis, kamu harus bertingkah sebagai tunangan dan suami yang paling mencintaiku di dunia ini. Paham?"

"Kamu gila, El. Kamu bener-bener nggak punya hati," desis Al, menatap Elena dengan pandangan paling jijik yang pernah ia miliki. "Kenapa kamu seobsesif ini sama kekuasaan? Apa menikah dengan orang yang membencimu setengah mati bisa bikin kamu bahagia?"

Elena tertawa remeh, suara tawanya terdengar garing di dalam kamar yang sunyi itu. "Bahagia? Hari gini masih bicara soal kebahagiaan sepele seperti cinta? Hati itu nggak bisa dipakai buat beli saham, Al. Cinta juga nggak akan bisa bikin Pranoto Corp jadi nomor satu di Asia Tenggara. Jadi, bersikaplah yang manis mulai besok. Jangan coba-coba menemuinya lagi, atau kamu tahu sendiri akibatnya bagi masa depan gadis itu."

Tanpa menunggu jawaban, Elena membalikkan badan. Langkah kakinya yang menggunakan sepatu hak tinggi terdengar berirama, ketukan demi ketukan yang terasa seperti vonis mati bagi Al. Begitu pintu kamar tertutup rapat kembali, Al langsung menendang kursi belajar di dekatnya hingga terguling dan menghantam lantai dengan keras.

"Brengsek! Sialan!" teriak Al dengan nada frustrasi, menjambak rambutnya sendiri hingga kulit kepalanya terasa perih.

Malam itu, Aldebaran tidak memejamkan matanya sama sekali. Setiap kali ia mencoba menutup mata, bayangan wajah ceria Reva dan ancaman kejam dari Elena terus berputar, mencabik-cabik ketenangan jiwanya.

Keesokan harinya, langit Jakarta tampak mendung, seolah-olah mendramatisir suasana hati Al yang kelabu. Pemuda itu berjalan menyusuri koridor kampus dengan langkah berat. Lingkar hitam di bawah matanya terlihat sangat jelas, kontras dengan wajah tampan yang biasanya selalu tampak segar.

Di bawah pohon rindang tempat mereka biasa bertemu, Reva sudah duduk menunggu. Gadis itu mengenakan kemeja kotak-kotak hitam dan putih, rambutnya diikat kuda seperti biasa. Begitu melihat sosok Al berjalan mendekat, wajah Reva berubah cerah. Ia berdiri dan melambaikan tangannya dengan semangat.

"Al, di sini!" seru Reva riang.

Namun, senyum di wajah Reva perlahan memudar saat melihat Al mengabaikan lambaian tangannya. Tidak ada senyuman hangat, tidak ada binar jenaka di mata cokelat terang yang biasanya selalu menatapnya penuh puja. Al berjalan dengan wajah datar, dingin, dan asing.

"Al, kamu kenapa? Muka kamu pucat banget, terus mata kamu ...." Reva mengulurkan tangannya, berniat menyentuh kening Al karena khawatir. Namun, Al dengan cepat menepis tangan itu sebelum sempat menyentuhnya.

Reva tertegun di tempatnya. Gadis itu menatap tangannya yang menggantung di udara dengan pandangan tidak percaya, lalu menatap Al dengan bingung.

"Al, ada apa? Aku ada salah, ya?" tanya Reva, suaranya mulai bergetar karena takut.

Al mengepalkan kedua tangan di sisi tubuhnya, mencengkeram kain celananya kuat-kuat demi menahan diri agar tidak langsung memeluk gadis di depannya. Ia harus melakukan ini. Ia harus membuat Reva membencinya agar gadis itu menjauh dan tetap aman dari cengkeraman Elena dan ayahnya.

"Nggak usah lebay, Reva. Aku cuma lagi nggak pengen disentuh," ucap Al dengan nada suara yang sengaja dibuat sedingin es.

Reva menelan ludah dengan susah payah, berusaha mengontrol emosinya. Ia memaksakan sebuah senyuman tipis, lalu meraih sebuah kotak bekal berwarna merah muda dari dalam tas ranselnya. "Kamu pasti belum sarapan, kan? Aku tadi sengaja bangun jam lima pagi buat masakin nasi goreng kesukaan kamu. Dimakan, ya?"

Al menatap dingin kotak bekal itu. Di dalam hati, ia menangis melihat ketulusan Reva. Namun, otaknya kembali memutar kalimat ancaman Elena: Aku sendiri yang akan memastikan namanya dicoret permanen dari daftar wisuda.

Dengan gerakan cepat, Al merenggut kotak bekal itu dari tangan Reva, lalu melemparkannya ke dalam tong sampah besar di samping pohon tempat mereka berdiri. Bunyi hantaman kotak plastik itu terdengar begitu memekakkan telinga di antara mereka.

"Al, kamu apa-apaan sih?!" teriak Reva dengan mata yang seketika berkaca-kaca. "Kalau kamu nggak mau makan, tinggal bilang! Kenapa harus dibuang?! Aku bikinnya pakai uang terakhirku bulan ini, Al!"

"Aku nggak butuh nasi goreng murahan kayak gitu, Reva!" bentak Al, suaranya meninggi, membuat beberapa mahasiswa yang lewat sempat menoleh penasaran. Al menarik napas panjang, melayangkan tatapan nyalang ke dalam manik mata Reva yang berkaca-kaca. "Dan satu lagi ... kita putus!"

Dunia Reva seolah-olah berhenti berputar. Kata-kata itu terdengar seperti petir di siang bolong yang langsung menghantam jantungnya hingga hancur berkeping-keping.

"P-putus?" tanya Reva sambil tertawa getir, air matanya mulai luruh membasahi pipi. "Hahaha. Al, kamu bercanda, kan? Nggak lucu tau. Kemarin malam kamu bilang aku duniamu, kamu bilang mau nikahin aku. Terus sekarang kamu tiba-tiba minta putus? Kamu lagi dikerjain anak-anak, ya?"

tanya Reva sambil melangkah maju, mencengkeram ujung kemeja Al dengan kedua tangan yang gemetar hebat. "Tatap mata aku, Aldebaran! Bilang kalau kamu cuma bercanda!"

Al mengabaikan tuntutan itu. Ia dengan paksa melepaskan cengkeraman tangan Reva dari kemejanya, lalu melangkah mundur untuk memberi jarak di antara mereka.

"Aku nggak bercanda, Revalina Putri Gunawan! Aku sadar, hubungan kita ini nggak ada masa depannya," ucap Al, setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti belati yang juga menusuk jantungnya sendiri. "Kemarin malam itu aku cuma kasihan sama kamu. Aku bosan hidup di lingkunganku yang kaku, makanya aku iseng cari pelarian ke cewek miskin kayak kamu. Tapi sekarang aku udah sadar. Kita beda dunia. Kamu itu bisa kuliah di sini hanya karena beasiswa, sedangkan aku pewaris Kusuma Group. Kamu nggak akan pernah selevel sama aku."

Plak!

Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Al. Kekuatan tamparan itu cukup kuat hingga membuat wajah Al terlempar ke samping. Napas Reva memburu, dadanya naik turun dengan cepat karena amarah dan rasa sakit hati yang luar biasa dahsyat.

"Kamu jahat, Al! Kamu brengsek!" tangis Reva pecah, seluruh tubuhnya bergetar hebat. "Kalau dari awal kamu anggap aku sebagai pelarian, kenapa kamu bikin aku secinta itu sama kamu?! Kenapa kamu kasih aku harapan seindah itu?!"

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Di Balik Akad Rahasia   Bab 8

    Lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit grand ballroom sebuah hotel mewah di Jakarta memancarkan cahaya yang angkuh, memayungi pesta pernikahan yang disebut-sebut sebagai merger terbesar dekade ini. Aliansi strategis antara Kusuma Group dan Pranoto Corp resmi dikunci di atas pelaminan hari itu. Di atas pelaminan yang didekorasi dengan ribuan mawar putih impor kelas premium, Aldebaran Kusuma berdiri tegap. Ia tampak gagah, tetapi tubuhnya kaku bagai patung lilin di dalam setelan tuxedo hitam klasik rancangan desainer Eropa.Di sampingnya, Elena Salsabila Pranoto tersenyum anggun ke arah puluhan kamera wartawan bisnis yang tak henti-hentinya memancarkan lampu kilat. Elena tampil memukau dengan gaun pengantin bertabur kristal Swarovski yang menyapu lantai marmer, memancarkan aura kemenangan seorang putri mahkota konglomerat yang baru saja mengamankan aset terbaiknya. Pernikahan itu, bagi Elena adalah kemenangan mutlak atas egonya dan validasi kekuasaannya di mata dewan di

  • Di Balik Akad Rahasia   Bab 7

    Keesokan paginya, Al mendatangi gedung administrasi pusat universitasnya. Ia mengabaikan semua mata mahasiswa yang menatapnya penuh gunjing terkait berita pertunangannya dengan Elena. Fokusnya hanya satu: melacak jejak akademis Reva."Maaf, Mas Aldebaran Kusuma," ucap petugas administrasi wanita paruh baya itu dengan raut wajah sungkan setelah memeriksa data di komputer. "Mahasiswi atas nama Revalina Putri Gunawan dari Fakultas Ekonomi sudah resmi mengajukan surat pengunduran diri dan pencabutan berkas beasiswa dua minggu yang lalu."Al membelalak, dadanya mendadak terasa sesak seolah-olah dihantam benda tumpal. "Mengundurkan diri? Maksud Ibu, dia bukan ambil cuti akademik?""Bukan cuti, Mas. Berkasnya benar-benar dicabut secara permanen. Beliau menandatangani surat pernyataan keluar dari universitas ini," jelas petugas itu lagi sambil menunjukkan salinan dokumen di atas meja.Al menatap tanda tangan Reva di atas meterai pada lembaran kertas itu. Goresan penanya tampak tegas, mencermi

  • Di Balik Akad Rahasia   Bab 6

    Reva meraih dompetnya, memeriksa sisa uang tabungannya yang tidak seberapa. Cukup untuk membeli tiket kereta kelas ekonomi menuju kota tempat tinggal kakaknya, Keisha."Mbak Keisha," ucap Reva terisak lirih. Air mata kembali luruh membasahi pipinya yang pucat saat menggumamkan nama satu-satunya keluarga yang dimiliki. "Reva mau pulang, Mbak."Malam itu juga, di bawah guyuran hujan deras yang akhirnya mengguyur Jakarta, Reva melangkah keluar dari indekost dengan membawa satu koper berukuran sedang dan tas ransel lusuhnya. Ia menyerahkan kunci kamar pada pemilik kos dengan alasan ada urusan keluarga darurat yang membuatnya harus pulang kampung dalam waktu lama.***Tiga minggu berlalu sejak malam yang menghancurkan itu.Acara pertunangan megah antara Aldebaran Kusuma dan Elena Salsabila Pranoto telah sukses digelar di salah satu hotel bintang lima termewah di Jakarta. Foto-foto kemesraan palsu mereka menghiasi berbagai majalah bisnis dan infotainment selama berhari-hari. Di depan kamer

  • Di Balik Akad Rahasia   Bab 5

    Al tidak membalas. Ia tetap bergeming sambil membuang muka, tidak berani menatap mata Reva karena tahu pertahanannya akan runtuh jika melihat air mata perempuan yang teramat dicintainya itu. "Mulai sekarang, jangan pernah cari aku lagi. Anggap kita nggak pernah kenal," ucap Al final. Ia berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Reva sendirian yang langsung merosot, menangis histeris sambil memeluk lututnya sendiri. Al berjalan cepat menjauhi area pohon rindang itu. Air matanya yang sejak tadi ditahan akhirnya lolos begitu saja, mengalir deras membasahi pipinya. Dadanya terasa begitu sesak hingga kesulitan bernapas. 'Maafkan aku, Reva. Maafkan aku harus melakukan ini demi melindungi kamu,' jerit Al dalam hati. Namun, langkah kaki Al mendadak terhenti ketika mendengar suara bisik-bisik yang tiba-tiba berdengung di sepanjang koridor kampus. Beberapa mahasiswa tampak berkumpul, menatap layar ponsel mereka dengan heboh, lalu menatap ke arah Al dengan pandangan penuh selidik dan keter

  • Di Balik Akad Rahasia   Bab 4

    Elena meringis pelan saat cengkeraman tangan Al mengencang di lengannya. Namun, senyum sinisnya sama sekali tidak pudar. Ia menatap tangan Al yang mencengkeramnya, lalu beralih menatap langsung ke mata pemuda itu."Lepaskan tanganmu, Al. Sakit," ucap Elena dingin. Begitu Al mengempaskan tangannya dengan gusar, Elena merapikan lengan gaunnya yang sedikit kusut. "Mauku sederhana. Aku cuma mau memastikan calon suamiku tidak bertingkah bodoh dan merusak acara penting kita minggu depan."Elena menunjuk amplop cokelat di atas kasur dengan ujung kuku telunjuknya yang dicat merah. "Kamu tahu apa isi di dalam ini? Ini adalah salinan kartu hasil studi milik kekasih gembelmu itu. Revalina. IPK tiga koma sembilan puluh delapan. Luar biasa pintar untuk ukuran anak yatim piatu. Sayang banget, ya, kalau riwayat akademis sebersih ini harus ternoda di semester akhir."Darah Al seolah-olah berhenti mengalir. Wajahnya memucat, berganti dengan rasa ngeri yang menjalar di sekujur tubuhnya. "Jangan berani-

  • Di Balik Akad Rahasia   Bab 3

    "Kamu pikir kamu bisa menyembunyikan sesuatu dari pengawasan Papa, Al? Anak perempuan yatim piatu, mahasiswi beasiswa kelas bawah yang hidupnya mengandalkan belas kasihan rektorat kampus untuk makan sehari-hari." Satria tersenyum meremehkan, seakan menyebut nama Reva saja sudah mengotori lidahnya. "Kamu pikir Papa akan diam saja dan membiarkan pewaris tunggal Kusuma Group membawa gembel ke dalam silsilah keluarga kita?""Jaga mulut Papa!" Al maju selangkah, amarahnya benar-benar terpancing hingga ke ubun-ubun. "Reva perempuan baik-baik! Dia punya harga diri dan dia jauh lebih berharga dari semua kolega bisnis Papa yang bermuka dua!""Baik-baik atau tidak, dia tetap hama di mata bisnis kita!" sentak Satria dengan suara menggelegar, memantul di dinding ruang kerja yang kedap suara. "Dengar baik-baik, Aldebaran. Papa sudah menyuruh orang menyelidiki semuanya tentang gadis itu sampai ke akar-akarnya. Kakak perempuannya yang tinggal di luar kota itu, Keisha, saat ini sedang terlilit utang

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status