Share

Bab 53

Author: Leona Valeska
last update Last Updated: 2026-02-07 12:53:50

Debu halus menari-nari di bawah bias cahaya matahari yang menyelinap masuk melalui celah gorden beludru di ruang kerja Damian.

Revana bergerak perlahan, tangannya yang masih terasa sedikit kaku memegang kemoceng bulu ayam, menyapu deretan literatur klasik yang tersusun rapi hingga ke langit-langit.

Ruangan ini selalu terasa terlalu besar, terlalu dingin, dan terlalu penuh dengan rahasia.

“Apakah dia benar-benar membaca semua ini? Ataukah ini hanya cara untuk membuat dirinya terlihat lebih berku
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan   Bab 128

    Sinar matahari pagi yang pucat menembus celah-celah tirai villa, menciptakan garis-garis cahaya di atas lantai kayu yang dingin.Revana berdiri di depan pintu kayu jati yang berat, pintu menuju ruang kerja lama Carlo Leonardo. Dia tahu Damian sedang berada di sayap lain villa, terlibat dalam rapat daring dengan para pimpinan klan yang tersisa.Suara bariton Damian yang memberikan perintah terdengar samar dari kejauhan, memberinya kesempatan singkat untuk memuaskan rasa ingin tahu yang menyiksa.Dia mendorong pintu itu perlahan. Engselnya tidak bersuara, namun aroma yang keluar dari dalam sana terasa begitu menyesakkan.Bau tembakau cerutu, kertas tua, dan sedikit aroma kulit yang memudar. Ini bukan sekadar ruangan; ini adalah museum kekuasaan seorang pria yang pernah mengguncang dunia bawah.Revana melangkah masuk, jemarinya menyentuh permukaan meja kerja yang besar.Meja itu tampak terlalu angkuh untuk ruangan ini. Di dinding, foto-foto hitam putih Carlo Leonardo menatapnya dengan pa

  • Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan   Bab 127

    Helikopter Black Hawk itu mendarat mulus di landasan beton yang tersembunyi di balik tebing curam puncak Alpen.Suara baling-baling yang tadinya memekakkan telinga perlahan meredup, menyisakan deru angin gunung yang dingin dan menusuk tulang.Damian adalah orang pertama yang melompat turun sebelum pintu kabin sepenuhnya terbuka. Dia tidak menunggu petugas bandara; dia menjulurkan tangan, menanti Revana untuk meraihnya.“Hati-hati. Tanahnya licin,” ujar Damian dengan tatapan matanya menyapu setiap sudut lereng yang bersalju dengan kewaspadaan yang luar biasa.Revana turun dengan langkah goyah. Udara tipis di ketinggian ini membuatnya sedikit pening. Dia merapatkan jubah wol tebalnya, menatap villa megah yang berdiri angkuh di atas bukit batu.Villa itu terbuat dari kayu ek tua dan kaca anti-peluru setebal lima sentimeter. Mewah, namun terasa seperti sangkar emas yang dikelilingi jurang.“Ini tempat persembunyianmu?” tanya Revana, suaranya hilang ditelan desau angin.“Ini tempat paling

  • Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan   Bab 126

    “Lapor, Damian. Jalur darat sudah lumpuh total,” suara Julian terdengar dari interkom di telinga Damian, disusul kemunculan pria itu dari balik pintu tangga darurat.Damian menoleh dan rahangnya langsung mengeras. “Apa maksudmu lumpuh?”“Regious tidak main-main. Dia menutup semua gerbang tol dan jembatan keluar kota dengan truk-truk kontainer. Anak buah Moretti juga memasang barikade di jalur tikus pegunungan,” Julian menjelaskan dengan napas terengah.“Jika kita menggunakan konvoi mobil, kita akan terjebak dalam zona pembantaian dalam sepuluh menit.”“Kalau begitu kita lewat atas,” jawab Damian dingin. Dia melirik ke arah langit yang gelap. “Helikopter medis sudah siap?”“Sudah, tapi ada masalah. Radar kita menangkap sinyal dari dua helikopter taktis tak dikenal yang berputar-putar dalam radius lima kilometer. Regious punya rudal panggul, Damian. Naik ke udara sekarang sama saja dengan menjadi sasaran tembak di langit terbuka,” Julian mencoba memperingatkan.Damian merunduk, menatap

  • Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan   Bab 125

    “Darah ... Damian, kau penuh darah.” Revana membisikkan kata-kata itu dengan bibir yang biru.Dia menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan mual yang muncul bukan karena luka fisik, melainkan karena kengerian melihat suaminya berubah menjadi mesin pembantai.Damian segera melempar dua pistol Tactical miliknya ke atas sofa hingga menimbulkan dentuman kecil.Dia menjatuhkan diri berlutut, dan mengabaikan serpihan kaca yang mungkin menusuk kakinya. Dia merangkak mendekat, namun tetap menjaga jarak sekitar satu meter agar Revana tidak semakin histeris.“Ini bukan darahku, Sayang. Aku tidak terluka. Aku bersumpah,” ucap Damian.“Kenapa kau harus melakukannya seperti itu? Aku mendengar suara mereka ... mereka berteriak, Damian,” isak Revana.“Karena mereka ingin mengambilmu dariku!” Damian membentak tanpa sengaja, suaranya menggelegar sebelum dia segera melembutkannya kembali.“Maafkan aku. Aku tidak punya pilihan. Jika aku tidak menghabisi mereka, mereka akan melewati pintu itu dan

  • Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan   Bab 124

    Lantai VVIP itu kini menjadi lorong maut. Debu sisa ledakan pintu masih menggantung di udara, bercampur dengan bau tajam mesiu dan aroma amis yang mulai menyengat.Tiga mayat pasukan Regious tergeletak tumpang tindih di ambang pintu kamar 901, namun sisa pasukan mereka di luar masih terus menghujani ruangan dengan peluru.“Mundur! Dia punya senapan mesin di dalam!” teriak salah satu tentara bayaran dari balik meja perawat.“Bodoh! Damian tidak ada di sini! Cepat masuk dan selesaikan wanita itu sebelum bantuan datang!” balas pemimpin mereka, seorang pria bertubuh besar dengan codet di pipi.Mereka tidak menyadari bahwa di atas kepala mereka, di balik deretan plafon gipsum yang tampak tenang, sebuah bayangan sedang bergerak tanpa suara.Damian tidak pernah pergi ke tangga darurat. Dia sudah berada di atas mereka sejak listrik dipadamkan, merayap di celah sempit antara beton dan plafon seperti predator yang menunggu mangsa masuk ke dalam jaring.BRAK!Satu panel plafon pecah tepat di ata

  • Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan   Bab 123

    Koridor lantai VVIP Rumah Sakit Pusat Leonardo kembali tenggelam dalam keheningan yang menyesakkan. Cahaya lampu neon yang terlalu putih memantul di atas lantai marmer, menciptakan suasana steril yang dingin.Damian berdiri di depan lift, mengenakan jas hitamnya yang kaku. Dia memeriksa jam tangannya, lalu menoleh ke arah Julian yang berdiri di sampingnya.“Semua kamera sudah diatur?” tanya Damian.Julian mengangguk pelan sembari menatap layar tablet di tangannya. “Sesuai rencana. Rekaman CCTV di lobi utama akan memperlihatkan konvoi mobilmu meninggalkan rumah sakit menuju bandara pribadi. Siapa pun yang menyadap ruangan ini akan mengira kau sedang mengejar pengiriman senjata Regious di perbatasan.”“Bagus,” desis Damian. Dia melirik ke arah pintu kamar 901 yang tertutup rapat.“Pastikan umpan ini ditelan mentah-mentah oleh mereka. Aku ingin tikus-tikus itu keluar dari lubangnya malam ini.”“Kau yakin meninggalkan Revana hanya dengan Raphael?” Julian tampak ragu. “Regious mungkin akan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status