로그인“Dia sempurna, Damian. Seorang laki-laki yang sangat sehat dan sangat tampan,” ucap Stella sambil membersihkan sang bayi dengan gerakan tangkas.Damian Leonardo, pria yang tak pernah gemetar di depan moncong senapan kaliber tinggi, kini merasakan lututnya benar-benar lemas.Matanya yang tajam dan dingin kini berkaca-kaca, memantulkan kehidupan baru yang baru saja keluar dari rahim istrinya. Ia menatap jemari mungil itu yang bergerak di udara, seolah sedang mencoba meraih takdirnya sendiri.“Dia... dia kecil sekali, Stella,” bisik Damian, suaranya parau dan pecah oleh emosi yang tak terbendung. “Apakah dia benar-benar anakku? Bagaimana sesuatu yang begitu suci bisa berasal dariku?”“Dia memiliki garis rahangmu, Damian. Dan syukurlah, dia sepertinya mewarisi ketenangan ibunya,” goda Stella sambil perlahan membawa bayi itu menuju Revana.Revana terengah-engah, peluh membasahi seluruh wajah dan lehernya. Tubuhnya terasa seperti baru saja dihantam badai besar, namun begitu Stella meletakka
Lampu operasi yang terang benderang memantul di ubin putih ruang bersalin, menciptakan atmosfer yang steril namun mencekam bagi seseorang yang biasanya terbiasa dengan bau tanah dan mesiu.Damian berdiri di samping kepala ranjang Revana, mengenakan jubah medis hijau yang tampak kekecilan di bahu lebarnya. Wajahnya yang biasa kaku kini pucat pasi, matanya bergerak gelisah menatap deretan monitor yang menampilkan garis-garis jantung yang berdenyut cepat.“Stella, kenapa monitor itu berbunyi 'pip-pip' begitu cepat? Apakah itu normal? Apakah jantungnya akan meledak?” Damian bertanya dengan suara yang bergetar, jarinya menunjuk ke arah mesin EKG seolah-olah itu adalah bom waktu.Stella tidak mendongak, tangannya tetap fokus pada posisinya. “Itu suara detak jantung putra Anda, Damian. Dan ya, itu normal untuk proses persalinan. Sekarang, diamlah dan bantu istri Anda bernapas.”“Aku sedang membantunya! Revana, ayo, tarik napas! Satu, dua... apakah aku harus memanggil oksigen tambahan? Stella
Malam itu, aspal jalanan Milan seolah terbakar oleh gesekan karet ban dari empat SUV hitam yang melesat dalam formasi V-VIP.Sirine darurat yang tersembunyi di balik panggangan mesin menyalak, memberikan sinyal bagi kendaraan lain untuk menepi jika tidak ingin berakhir di pinggir jalan.Di kursi belakang mobil utama, Damian duduk dengan kaku, membiarkan kepala Revana bersandar di bahunya, sementara tangannya menggenggam jemari istrinya begitu kuat hingga buku jarinya memutih.“Julian! Kenapa mobil ini terasa seperti siput tua? Tambah kecepatannya!” bentak Damian, matanya melotot menatap speedometer yang sebenarnya sudah menyentuh angka seratus empat puluh kilometer per jam.Julian, yang duduk di balik kemudi dengan dahi berkerut, mengumpat pelan sambil memutar setir dengan tajam untuk menyalip sebuah truk logistik.“Ini mobil lapis baja seberat tiga ton, Kak, bukan jet tempur! Jika aku melaju lebih cepat, kita akan terbang melompati katedral! Tenangkan dirimu, demi Tuhan!”“Aku tenang
Keheningan malam di kamar utama Leonardo pecah seketika, bukan oleh ledakan granat atau tembakan peringatan, melainkan oleh kepanikan murni dari seorang pria yang baru saja menyadari bahwa kekuasaannya tidak berarti apa-apa di hadapan hukum alam.Damian Leonardo, sang Iblis Milan yang pernah menghadapi moncong senapan tanpa berkedip, kini berdiri di samping tempat tidur dengan mata yang membelalak lebar dan tangan yang gemetar hebat.“Basah... Kenapa bisa basah? Revana, kau... apakah kau menumpahkan air?” tanya Damian dengan suara yang naik satu oktav. Logikanya yang biasanya setajam silet kini tumpul sepenuhnya.Revana meringis, mencengkeram pinggiran tempat tidur saat kontraksi kedua menghantam rahimnya. “Damian! Ketubanku pecah! Itu bukan air minum, itu anakmu yang ingin keluar! Cepat ambil tas rumah sakit!”“Tas! Ya, tas! Di mana tasnya? Siapa yang mencuri tasnya?!” Damian berputar-putar di tempat seperti gasing yang kehilangan poros. Ia berlari ke arah lemari, menarik laci dengan
Aroma cat ramah lingkungan dan wangi kayu cendana yang baru dipelitur memenuhi sayap kanan mansion Leonardo yang baru saja selesai direnovasi.Kamar itu kini bertransformasi menjadi sebuah tempat perlindungan yang megah dengan tema kerajaan modern; dindingnya dihiasi panel kayu putih gading dengan aksen emas minimalis, sementara karpet sutra tebal berwarna biru navy melapisi lantainya, memberikan kesan hangat sekaligus kokoh.Di tengah ruangan, Damian Leonardo, pria yang biasanya memegang kendali atas ribuan nyawa, kini terlihat sedang berlutut di atas lantai. Alih-alih memegang senjata, tangannya yang kekar kini memegang obeng kecil dan instruksi perakitan.“Damian, kau sudah melakukannya selama dua jam. Biarkan Raphael atau pengawal yang menyelesaikannya,” ucap Revana lembut sambil duduk di kursi goyang beludru di sudut ruangan.Damian menggeleng tanpa menoleh, fokusnya tetap pada baut perak di kerangka boks bayi berbahan kayu jati tersebut.“Tidak. Tanganku sendiri yang harus memas
Pagi di pusat kota Milan biasanya dipenuhi dengan hiruk-pikuk kaum sosialita dan deru mesin mobil mewah, namun hari ini, di depan gerbang boutique perlengkapan bayi paling eksklusif di Italia, suasananya mendadak sunyi.Empat unit SUV hitam antipeluru terparkir rapi di depan pintu masuk, sementara beberapa pria berjas gelap dengan earpiece berjaga di setiap sudut trotoar.“Damian, kau benar-benar berlebihan,” ucap Revana sambil keluar dari mobil, menatap papan tulisan 'Closed for Private Event' yang tergantung di pintu kaca toko tersebut.Damian turun dari sisi lain, merapikan kemeja linennya yang santai namun tetap elegan.“Aku hanya ingin kau tidak perlu berdesakan dengan orang asing saat memilihkan baju untuk putra kita, Revana. Keamanan dan kenyamananmu adalah prioritas di atas segalanya.”“Tapi mengosongkan satu toko hanya untuk membeli beberapa pasang kaus kaki?” Revana tertawa kecil, menggelengkan kepalanya saat manajer toko membungkuk hormat menyambut mereka masuk.“Kaus kaki
Ruangan kamar utama di villa Alpen itu tidak lagi terasa mewah. Bagian dalamnya pengap oleh aroma sisa muntah darah, keringat dingin, dan bau obat-obatan yang tajam.Damian terbaring di atas ranjang dengan tubuh yang terus menyentak kecil. Matanya tertutup rapat, namun kelopak matanya bergetar heba
“Damian! Lihat aku! Tolong, bernapaslah!” Revana menjerit, dia mencoba merangkak mendekat, tangannya gemetar ingin meraih bahu pria itu.Damian tersentak. Dia memundurkan tubuhnya dengan kasar hingga punggungnya menghantam kaki meja kayu ek yang berat. “Jangan! Jangan sentuh aku!”“Damian, kau seda
“Darah ... Damian, kau penuh darah.” Revana membisikkan kata-kata itu dengan bibir yang biru.Dia menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan mual yang muncul bukan karena luka fisik, melainkan karena kengerian melihat suaminya berubah menjadi mesin pembantai.Damian segera melempar dua pistol
Koridor lantai VVIP Rumah Sakit Pusat Leonardo kembali tenggelam dalam keheningan yang menyesakkan. Cahaya lampu neon yang terlalu putih memantul di atas lantai marmer, menciptakan suasana steril yang dingin.Damian berdiri di depan lift, mengenakan jas hitamnya yang kaku. Dia memeriksa jam tangann