LOGIN“Aku nggak datang buat bahas masa lalu.”
Pernyataan yang dilontarkan Aruna terngiang di kepala. Malam ini, ia datang kembali hanya untuk mengambil beberapa berkas yang diperlukan dan berharap tidak bertemu Sagara.
Mobilnya berhenti di carport dengan mesin masih menyala beberapa detik lebih lama dari biasanya. Ia menatap rumah itu dari balik kaca depan. Lampu teras mati yang menandakan tidak ada tanda kehidupan.
“Bagus,” gumamnya.
Aruna masuk dengan langkah hati-hati, seolah suara sepatunya bisa memanggil seseorang keluar dari rumah sebelah. Ia tidak menyalakan lampu utama, hanya lampu kecil di ruang tengah. Aruna langsung menuju ruang kerja, membuka laci, menarik map-map cokelat yang sudah ia pikirkan untuk di ambil.
Setelah selesai Aruna melangkah keluar dari ruang kerja. Di sana, Sagara berdiri dengan handuk yang mengikat di pinggang, bertelanjang dada dan tangan yang sibuk mengusap rambut basahnya dengan handuk kecil.
Aruna terkejut dengan mata yang langsung memejam. “Ngapain kamu di sini?!” suara itu agak meninggi.
“Aliran air di rumah sebelah agak macet, jadi saya mandi di sini. Justru kamu yang kenapa di sini?”
Aruna menggerutu dengan alis memicing mendengar pertanyaan Sagara.
Rumah ini kan memang miliknya, lalu mengapa seolah tanya itu hadir seperti Aruna maling di rumahnya sendiri?
“Aku cuma ambil berkas,” jawab Aruna dingin, membuka mata dan memalingkan wajah. “Dan aku nggak tahu kamu di sini.”
Sagara melirik sekilas ke tubuhnya sendiri, lalu mengangguk kecil. “Maaf.”
Pria itu melangkah mundur satu langkah, memberi ruang. Tapi justru ruang itulah yang membuat Aruna makin sadar bahwa jarak di antara mereka kini terasa canggung, tidak lagi netral.
Aruna melangkah melewatinya tanpa menoleh. Jantungnya berdetak terlalu cepat, dan ia tidak suka fakta bahwa tubuh Sagara masih mengingatkan dirinya pada sesuatu yang seharusnya sudah selesai.
“Kenapa harus datang malam-malam?” ujar Sagara pelan dari belakang.
Aruna berhenti sejenak. “Ini rumahku, jadi terserahku mau datang kapan aja.”
“Saya tahu,” sahut Sagara.
Aruna terdiam satu detik lebih lama sebelum kembali melangkah, seolah memberi dirinya kesempatan untuk tidak menoleh. Sagara masih berdiri di tempatnya, masih memberi jarak, tapi kehadirannya terasa terlalu dekat untuk diabaikan.
“Kamu datang saat kamu pikir rumah ini kosong. Seolah-olah kamu tidak ingin diingatkan bahwa ada orang lain yang juga punya hak di sini,” ucapnya akhirnya.
Langkah Aruna terhenti lagi. Kali ini bukan karena kalimat itu menuduh, melainkan karena terlalu tepat.
“Jangan mengubah ini jadi sesuatu yang nggak perlu. Aku Cuma mau urusan rumah ini selesai secepatnya,” katanya, suaranya lebih rendah.
“Kalau sesederhana itu, kamu tidak perlu datang sembunyi-sembunyi,” balas Sagara. Nada suaranya tetap tenang, tapi ada sesuatu yang mengeras di sana.
Aruna berbalik setengah badan, “aku nggak sembunyi-sembunyi.”
Sagara mengangkat bahu kecil, lalu berucap, “datang malam-malam, lampu tidak dinyalakan dan mengendap-endap. Saya hampir mengira kamu maling, Aruna.”
Kalimat itu membuat Aruna terdiam. Ia membenci kenyataan bahwa Sagara mengatakan kebenaran yang ia tepis dengan keras. Namun, Aruna tidak juga keluar rumah dan hanya berdiri menatap pada pria yang begitu ia benci sejak kepergiannya.
Keheningan itu mengisi, hingga bunyi dering ponsel milik Aruna menggema. Tertera di sana sang Notaris menelponnya membuat dahi Aruna mengernyit karena ini sudah malam.
“Ada seseorang yang menghubungi saya dan tertarik dengan rumah Ibu,” ucap notaris itu di seberang telepon.
Aruna yang sedang menatap Sagara segera menjauh sedikit dari pria itu. memberi jarak agar pembicaraan mereka tidak terdengar, meski sebenarnya juga tidak penting karena Sagara nanti juga akan tahu saat waktunya tanda tangan.
“Secepat itu?” tanyanya, berusaha terdengar biasa.
Aruna kira hatinya akan merasa lega, tapi ada rasa aneh yang tiba-tiba hadir, seolah tidak rela bahwa ada seseorang yang tertarik dengan rumahnya,
“Lokasinya strategis dan luas tanahnya di atas rata-rata kawasan itu. Calon pembeli minta survei langsung dalam minggu ini,” jawab sang notaris.
Aruna mengangguk meski lawan bicaranya tak bisa melihat. “Silakan. Saya tidak keberatan.”
“Namun,” suara notaris itu merendah sedikit, “ada satu hal yang perlu saya pastikan. Apakah Bapak Sagara sudah menyetujui jadwal peninjauan?”
Pertanyaan itu membuat bahu Aruna menegang. “Belum,” jawabnya singkat. “Tapi beliau sudah menyatakan akan menandatangani dokumen.”
Aruna tidak berbohong. Di pertemuan pertama mereka, Sagara mengatakan akan menandatanganinya, meski ada ketidakyakinan di sana. namun, Aruna akan mencoba percaya pada pria itu dan menyelesaikan ini semua secepatnya.
“Baik. Secara etika, saya tetap perlu menginformasikan beliau.”
“Silakan,” ujar Aruna cepat. Ia menutup telepon lebih dulu dari biasanya, seolah percakapan itu terlalu panjang.
Telepon ditutup, menyisakan Aruna yang menatap layar ponsel beberapa detik lebih lama. Ada sesuatu yang tidak nyaman dari penjelasan notaris. Terlalu cepat dan muncul pertanyaan, bagaimana jika Sagara berubah pikiran?
Aruna berdiri di ruang tamu, memandang jendela besar yang dulu sering dibuka ibunya setiap pagi. Cahaya masuk dengan sudut yang sama, tapi rasanya berbeda. Ia menekan bibir, lalu berbalik menuju ruang tengah di mana ia meninggalkan pria itu.
Sagara sedang duduk di meja makan, sudah tidak lagi mengusap rambutnya, melainkan bermain ponselnya . Ia mengangkat kepala ketika Aruna muncul dengan ekspresi yang berbeda dari sebelumnya.
“Ada apa?” tanyanya.
“Udah ada calon pembeli, katanya mau survei juga,” kata Aruna.
Sagara menaruh ponselnya perlahan, “dan kamu keberatan?”
“Enggak. Aku seneng malah karena rumahnya cepet kejual,” jawab Aruna cepat, lalu menghela napas.
Sagara terdiam sejenak. “Rumah ini selalu membuat orang ingin buru-buru,” katanya pelan. “Entah untuk pergi, atau untuk menguasai.”
Aruna menatap Sagara dengan alis terangkat, meminta penjelasan akan responnya, “maksudnya?”
“Sama seperti kamu yang ingin cepat pergi. Saya harap keinginan kamu yang begitu menggebu ini bukan saya yang menjadi alasan di dalamnya.”
“Sa,” gumam Aruna lagi, suaranya hampir hilang, seperti doa yang tak ingin dijawab.Sagara tidak menjawab dengan kata. Matanya masih di bibir Aruna, lalu perlahan naik kembali ke mata perempuan itu, seolah ada pertanyaan di sana.‘Boleh?’Aruna tahu. Ia tahu persis apa yang Sagara minta tanpa kata. Tubuhnya menegang dan bukannya mundur, Aruna justru memejamkan matany, seperti menyerah pada sesuatu yang sudah terlalu lama ia tahan.Sagara merasakan itu.Dengan gerakan yang sangat pelan, Sagara mencondongkan wajahnya. Bibirnya menyentuh bibir Aruna pelan. Bibir Sagara menggerakkan bibir Aruna dengan hati-hati, seperti takut merusak momen itu.“Nghh,” Aruna mengerang kecil, tak sengaja lolos dari tenggorokannya.Tangan yang tadi bertumpu di dada Sagara naik ke leher pria itu, jari-jarinya menyentuh kulit hangat di sana, menarik Sagara lebih dekat. Sagara merespons dengan mengencangkan pelukannya, lengannya di pinggang Aruna menarik perempuan itu lebih erat, tubuh mereka menempel sepenuhn
Setelah berdebat lumayan lama akan posisi, akhirnya Sagara mengalah dengan melepaskan Aruna.“Sekarang tidur lagi. Nanti aku bangunin pas makan siang,” ucap Aruna sambil merapikan selimut Sagara.Keduanya sudah berada di kamar dengan Sagara kembali terbaring di ranjang. Jari besar itu mencari jemari Aruna dan menggenggamnya.“Jangan kemana-mana,” lirihnya.Tidak tega melihat kelemasan pria itu, Aruna bergerak duduk mendekat dan mengelus rambut pria itu agar terlelap.“Tidur aja,” bisik Aruna, suaranya lembut tanpa ia sadari.Sagara mengangguk kecil, mata akhirnya terpejam sepenuhnya. Napasnya pelan dan teratur mulai terdengar lagi, tapi genggaman tangannya tak kendur, malah jari-jarinya saling terkait dengan jemari Aruna, seperti anak kecil yang takut ditinggal.Aruna menatap wajah Sagara yang kini tenang. Garis-garis di dahinya sudah hilang, janggut milik pria itu membuatnya terlihat lebih dewasa dari yang ia ingat dulu, tapi ekspresi tidurnya masih sama, polos, rentan, seperti Sagar
Aruna menghabiskan piringnya lebih cepat dari biasanya, karena ingin segera menyibukkan diri agar tidak harus menatap Sagara terlalu lama. Ia bangkit, mengumpulkan piring kosong mereka berdua, lalu berjalan menuju wastafel.Baru dua langkah, tangannya ditahan.Jari Sagara melingkari pergelangan Aruna dengan lembut membuat Aruna menoleh, alisnya terangkat bingung.“Sa, apa-”Belum selesai bicara, Sagara menariknya pelan membuat Aruna kehilangan keseimbangan sesaat, tubuhnya jatuh ke belakang langsung mendarat di pangkuan Sagara yang sudah siap menangkapnya.“Duduk di sini dulu,” gumam Sagara, suaranya rendah dan serak, tapi ada nada memerintah lembut di dalamnya.Lengannya langsung melingkar di pinggang Aruna, menahannya agar tidak bangkit lagi. Aruna membeku di pangkuan pria itu, tangannya refleks bertumpu di dada Sagara untuk menjaga keseimbangan.“Sagara!” protes Aruna pelan, suaranya campur antara kesal dan panik.Perempuan itu mencoba bangkit, tapi lengan Sagara di pinggangnya tak
Pagi itu, sinar matahari menyelinap lembut melalui celah-celah tirai kamar Sagara. Aruna terbangun lebih dulu, tubuhnya pegal karena semalam tidur di kursi empuk di sudut kamar, ia akhirnya pindah ke sana setelah Sagara tertidur pulas.Aruna menghela napas pelan, lalu bangkit tanpa suara. Ia keluar dari kamar, menuju dapur rumah Sagara yang sudah lama tak ia masuki dengan bebas seperti ini.“Dia harus makan yang bergizi,” gumam Aruna pada dirinya sendiri, seolah membela alasan kenapa ia masih di sini.Ia mulai memasak. Telur dadar dengan potongan tomat dan bawang, roti panggang, dan bubur ayam sederhana yang ia buat dari nasi sisa semalam.Di kamar, Sagara bergerak pelan. Kepalanya masih sedikit pusing, tapi jauh lebih baik dari semalam.“Aruna?” gumamnya bingung, suaranya serak karena baru bangun.Ia bangkit perlahan, tubuhnya masih lemah tapi cukup kuat untuk berdiri. Menggunakan dinding sebagai penyangga, Sagara berjalan pelan menuju dapur. Aroma kuat dari bawang, kaldu, sesuatu ya
Aruna tetap berdiri di sisi ranjang, membiarkan Sagara menggenggam tangannya seolah itu satu-satunya jangkar yang menahannya tetap sadar. Panas dari kulit pria itu merambat sampai ke telapak tangannya, membuat dadanya ikut sesak.“Sa, aku beneran cuma nelpon dokter. Aku nggak ke mana-mana,” ucapnya pelan tapi tegas, seolah berbicara pada anak kecil yang takut ditinggal.Genggaman itu melemah perlahan. Aruna memanfaatkan momen itu untuk meraih ponselnya. Tangannya masih sedikit gemetar saat menekan nomor dokter keluarga yang dulu sering dipanggil orang tua mereka, nomor yang entah kenapa masih ia simpan.Telepon diangkat setelah dering ketiga.“Dok, ini Aruna. Maaf ganggu sore-sore, tapi Sagara demam tinggi. Bisa datang sekarang?”Nada suaranya berusaha tenang, meski kepalanya penuh kemungkinan buruk yang tak ingin ia sebutkan.“Baik, saya berangkat sekarang. Jangan panik. Kompres dulu, ya,” jawab dokter itu singkat namun menenangkan.Aruna menutup telepon, lalu menatap Sagara lagi. Pr
Pagi datang dengan cahaya pucat yang menyelinap lewat celah gorden kamar Aruna. Jam dinding baru menunjuk pukul enam ketika ia bangun, tubuhnya masih terasa berat, bukan karena kurang tidur, melainkan karena pikirannya belum benar-benar tenang sejak semalam.Aruna duduk di tepi ranjang, menghela napas panjang.“Kenapa hidup jadi ribet begini sih,” gumamnya sambil mengusap wajah.Ia bangkit, bersiap seperti biasa dengan mandi, rambut diikat rapi, kemeja kerja disetrika sekadarnya. Saat ia membuka pintu rumah dan melangkah ke teras, langkahnya terhenti.Mobil Sagara. Aruna mengerjap, menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Mobil hitam itu diam, tak bergeser sejengkal pun.“Belum berangkat?” gumamnya.Ia melirik rumah sebelah. Lampu ruang tamu masih menyala. Tirainya tertutup rapat. Aruna mengernyit, karena biasanya Sagara pagi-pagi sekali sudah pergi.“Ah, mungkin aku aja yang lebay,” katanya pada diri sendiri.Ia mengalihkan pandangan, berusaha tak memikirkan apa pu







