Home / Romansa / Di Bawah Selimut Tetangga / Bab 1 - Hak yang Tertinggal

Share

Di Bawah Selimut Tetangga
Di Bawah Selimut Tetangga
Author: Daisy

Bab 1 - Hak yang Tertinggal

Author: Daisy
last update Last Updated: 2025-12-22 22:46:07

Aruna Maheswari menatap ruang tamu rumah itu lebih lama dari yang ia rencanakan. 

Langit-langit tinggi, jendela besar dengan tirai tipis warna krem, dan lantai kayu yang selalu dibersihkan ibunya setiap Minggu pagi. Rumah itu terlalu besar untuk satu orang dan juga terlalu sunyi untuk ditinggali sendirian sejak dua tahun terakhir.

“Ma, aku mau jual rumah ini,” gumam Aruna pelan, seolah ibunya masih duduk di sofa sudut sambil menyulam.

Tak ada jawaban, tentu saja. Dan pengakuan Aruna menjadi nyata karena dua minggu kemudian, perempuan itu duduk di kantor notaris dengan punggung tegak dan wajah tenang yang selalu digunakan setiap kali harus mengambil keputusan serius.

Notaris itu, seorang pria paruh baya berkacamata, membuka map coklat tebal di depannya.

“Baik, Bu Aruna. Kita cek dulu dokumen kepemilikan,” katanya ramah.

Aruna mengangguk. “Sertifikatnya atas nama saya, kan? Setelah Mama meninggal, semua sudah diurus.”

Notaris itu tidak langsung menjawab, justru membuka halaman lain, menyesuaikan kacamatanya.

“Sebagian, Bu.”

Aruna mengerutkan dahi. “Sebagian?”

“Ya. Rumah ini tercatat atas dua nama.”

Hah?

“Nama siapa?” tanya Aruna, suaranya datar tapi tegang.

Notaris itu menggeser map sedikit ke arahnya. “Nama Ibu Aruna Maheswari dan Bapak Sagara Setjo Pratama.”

Jantung Aruna seperti berhenti sepersekian detik. Nama itu lagi? Nama yang sudah lama tidak ia dengar, pun sudah lama tidak ia temui orangnya.

“Itu nggak mungkin,” katanya cepat. “Dia gak di Indonesia.”

“Secara hukum, namanya masih tercatat sebagai pemilik bersama,” jawab notaris itu tenang. “Ada akta hibah parsial dari orang tua Ibu dan orang tua beliau. Tertanggal dua puluh lima tahun lalu.”

Dua puluh lima tahun.

Aruna menelan ludah. “Kenapa saya tidak pernah diberi tahu?”

“Itu di luar kewenangan saya, Bu. Tapi tanpa tanda tangan beliau, rumah ini tidak bisa dijual.”

Aruna bersandar ke kursi dengan tangannya mengepal di pangkuan.

“Kalau saya tidak bisa menghubunginya?”

Notaris itu terdiam sejenak. “Maka prosesnya akan sangat panjang. Pengadilan, penetapan hak, dan—”

“Tidak,” potong Aruna, “akan saya usahakan. Saya hanya perlu tanda tangannya.”

Sagara Setjo Pratama.

Nama itu seperti pintu yang lama ia kunci rapat, kini dibuka paksa oleh hukum.

“Alamat terakhir?” tanya Aruna pada Notaris tersebut.

“Kalau menurut data di luar negeri, tetapi ada pembaruan data tiga hari lalu,” jelas si Notaris.

Aruna mendongak. “Pembaruan apa?”

“Status domisili. Beliau tercatat kembali ke Indonesia.”

Dada Aruna mengencang, merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

“Kembali?” ulangnya pelan.

“Iya. Alamat sementara di kota ini, Bu.”

Aruna menutup matanya sejenak. Keputusan praktis untuk menjual rumah mendadak berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih personal.

“Terima kasih. Saya akan mengurus sisanya,” setelah mengatakan itu, Aruna berdiri dan melangkah keluar ruangan.

Langkah kaki itu begitu lambat saat keluar dari kantor notaris, Aruna berdiri lama di trotoar. Rumah itu tidak akan bisa terjual tanpa Sagara dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, masa lalu itu kembali menyeruak, memenuhi ruang pikirnya dan membawanya kembali berdiri di depan rumah lamanya.

Kunci rumah lama terasa berat di tangan Aruna. Ia sudah lama tidak membuka pintu itu sendiri. Biasanya, hanya mampir sekadar menengok, lalu pergi. Namun, hari ini berbeda, karena kakinya membawanya masuk perlahan dan menyalakan lampu satu per satu.

Langkahnya berhenti di koridor samping, tempat pintu penghubung itu berada. Pintu kayu tua dengan gagang besi yang menghubungkan rumah ini dengan rumah di sebelah. Dua halaman yang menyatu, dua keluarga yang terlalu dekat untuk disebut tetangga biasa.

Aruna mengulurkan tangan, lalu berhenti, karena mendengar suara dari arah rumah sebelah. 

Lalu, tanpa peringatan pintu itu terbuka dan di sana seseorang berdiri sambil menggenggam gagang pintu.

Kemeja biru gelap, lengan digulung rapi, rambut sedikit lebih pendek dari yang ia ingat. Wajahnya lebih dewasa, lebih matang, ada rambut halus di dagu pria itu yang semakin membuatnya dewasa dan sama sekali tidak terkejut.

“Baru pulang?” katanya dengan suara rendah.

Aruna menelan ludah. “Ngapain kamu disini?”

Sunyi menggantung di antara mereka.

“Gak tanya kabarku dulu?”

Aruna memutar bola matanya malas. “Gak penting.”

Sejenak, tak ada yang bicara lagi.

“Untuk apa membuka pintu ini?” tanya Aruna sebisa mungkin suaranya datar meski dadanya terasa sesak.

Sagara tidak langsung menjawab. Tangannya masih menggenggam gagang pintu, seolah ia sendiri ragu apakah pintu itu seharusnya benar-benar terbuka. Matanya menyapu wajah Aruna singkat, lalu berhenti lama pada wajah yang sama sekali tidak berubah dari terakhir kali melihatnya.

“Saya ingin memastikan kalau rumah sebelah kosong,” katanya akhirnya.

Aruna mengerutkan kening, “Terus kamu pikir, rumah ini akan kosong begitu?”

“Saya baru kembali tiga hari lalu,” jelas Sagara.

Aruna menarik tangannya dari gagang pintu, melangkah mundur setengah langkah. Ruang di antara mereka tetap sempit, meski jarak fisik bertambah.

“Saya juga tidak tahu kamu berniat menjual rumah ini,” balas Sagara, nada suaranya tenang, nyaris netral.

Kalimat itu membuat Aruna menegang. 

“Dari mana kamu tahu?”

“Notaris menghubungi saya tentang tanda tangan,” jawabnya singkat.

Aruna menghela napas. Tidak ada gunanya berpura-pura. “Aku kesini cuma mau memastikan kondisi rumah sebelum proses selanjutnya.”

“Sendirian?” tanya Sagara.

Ia melepas pegangan pintu dan membiarkannya terbuka, tidak menutup, tidak juga mengundang. Sebuah gestur yang menggantung.

“Masuklah kalau perlu,” katanya. “Saya hanya ingin mengecek listrik dan air.”

Aruna ragu sejenak sebelum melangkah masuk ke ruang yang dulu begitu ia kenal. Rumah sebelah itu masih sama, hanya lebih kosong. Furniture tertata rapi dan tidak ada debu, mungkin saja sudah dibersihkan mengingat sudah 3 hari pria itu di sini.

“Kamu tinggal di sini sekarang?” tanya Aruna.

“Sementara,” jawab Sagara. “Sampai urusan pekerjaan selesai.”

Mereka berdiri berhadapan di ruang tengah, tidak duduk, tidak juga saling mendekat. Sunyi yang muncul bukan canggung, melainkan penuh kehati-hatian.

“Aku nggak berniat buat ganggu. Aku cuma butuh tanda tangan kamu. Setelah itu, aku pergi,” jelas Aruna akhirnya.

Sagara menatapnya lurus. “Pergi ke mana?”

“Itu nggak penting,” Aruna mengalihkan pandangan, “itu urusan pribadiku, Sagara. Nggak perlu diperpanjang.”

Sagara diam, lalu beberapa detik setelahnya kembali berucap, “kamu tidak ingin bicara soal hal lain?”

“Tidak,” jawab Aruna cepat. “Tanda tangani ini.”

Sagara tersenyum tipis, miris saat mendengar jawaban yang penuh rasa percaya diri itu. 

Luar biasa, Aruna membuatnya tidak berkutik.

“Lima belas tahun, Aruna. Selama itu pula kita tidak bertemu dan kamu hanya datang untuk membahas tanda tangan?” katanya pelan.

Aruna mengangkat kepala. “Aku nggak datang buat bahas masa lalu.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Di Bawah Selimut Tetangga   Bagian 30 - Semakin Liar

    “Sa,” gumam Aruna lagi, suaranya hampir hilang, seperti doa yang tak ingin dijawab.Sagara tidak menjawab dengan kata. Matanya masih di bibir Aruna, lalu perlahan naik kembali ke mata perempuan itu, seolah ada pertanyaan di sana.‘Boleh?’Aruna tahu. Ia tahu persis apa yang Sagara minta tanpa kata. Tubuhnya menegang dan bukannya mundur, Aruna justru memejamkan matany, seperti menyerah pada sesuatu yang sudah terlalu lama ia tahan.Sagara merasakan itu.Dengan gerakan yang sangat pelan, Sagara mencondongkan wajahnya. Bibirnya menyentuh bibir Aruna pelan. Bibir Sagara menggerakkan bibir Aruna dengan hati-hati, seperti takut merusak momen itu.“Nghh,” Aruna mengerang kecil, tak sengaja lolos dari tenggorokannya.Tangan yang tadi bertumpu di dada Sagara naik ke leher pria itu, jari-jarinya menyentuh kulit hangat di sana, menarik Sagara lebih dekat. Sagara merespons dengan mengencangkan pelukannya, lengannya di pinggang Aruna menarik perempuan itu lebih erat, tubuh mereka menempel sepenuhn

  • Di Bawah Selimut Tetangga   Bagian 29 - Tidur Seranjang

    Setelah berdebat lumayan lama akan posisi, akhirnya Sagara mengalah dengan melepaskan Aruna.“Sekarang tidur lagi. Nanti aku bangunin pas makan siang,” ucap Aruna sambil merapikan selimut Sagara.Keduanya sudah berada di kamar dengan Sagara kembali terbaring di ranjang. Jari besar itu mencari jemari Aruna dan menggenggamnya.“Jangan kemana-mana,” lirihnya.Tidak tega melihat kelemasan pria itu, Aruna bergerak duduk mendekat dan mengelus rambut pria itu agar terlelap.“Tidur aja,” bisik Aruna, suaranya lembut tanpa ia sadari.Sagara mengangguk kecil, mata akhirnya terpejam sepenuhnya. Napasnya pelan dan teratur mulai terdengar lagi, tapi genggaman tangannya tak kendur, malah jari-jarinya saling terkait dengan jemari Aruna, seperti anak kecil yang takut ditinggal.Aruna menatap wajah Sagara yang kini tenang. Garis-garis di dahinya sudah hilang, janggut milik pria itu membuatnya terlihat lebih dewasa dari yang ia ingat dulu, tapi ekspresi tidurnya masih sama, polos, rentan, seperti Sagar

  • Di Bawah Selimut Tetangga   Bagian 28 - Tak Ingin Lepas

    Aruna menghabiskan piringnya lebih cepat dari biasanya, karena ingin segera menyibukkan diri agar tidak harus menatap Sagara terlalu lama. Ia bangkit, mengumpulkan piring kosong mereka berdua, lalu berjalan menuju wastafel.Baru dua langkah, tangannya ditahan.Jari Sagara melingkari pergelangan Aruna dengan lembut membuat Aruna menoleh, alisnya terangkat bingung.“Sa, apa-”Belum selesai bicara, Sagara menariknya pelan membuat Aruna kehilangan keseimbangan sesaat, tubuhnya jatuh ke belakang langsung mendarat di pangkuan Sagara yang sudah siap menangkapnya.“Duduk di sini dulu,” gumam Sagara, suaranya rendah dan serak, tapi ada nada memerintah lembut di dalamnya.Lengannya langsung melingkar di pinggang Aruna, menahannya agar tidak bangkit lagi. Aruna membeku di pangkuan pria itu, tangannya refleks bertumpu di dada Sagara untuk menjaga keseimbangan.“Sagara!” protes Aruna pelan, suaranya campur antara kesal dan panik.Perempuan itu mencoba bangkit, tapi lengan Sagara di pinggangnya tak

  • Di Bawah Selimut Tetangga   Bagian 27 - Aroma Pagi, Pelukan

    Pagi itu, sinar matahari menyelinap lembut melalui celah-celah tirai kamar Sagara. Aruna terbangun lebih dulu, tubuhnya pegal karena semalam tidur di kursi empuk di sudut kamar, ia akhirnya pindah ke sana setelah Sagara tertidur pulas.Aruna menghela napas pelan, lalu bangkit tanpa suara. Ia keluar dari kamar, menuju dapur rumah Sagara yang sudah lama tak ia masuki dengan bebas seperti ini.“Dia harus makan yang bergizi,” gumam Aruna pada dirinya sendiri, seolah membela alasan kenapa ia masih di sini.Ia mulai memasak. Telur dadar dengan potongan tomat dan bawang, roti panggang, dan bubur ayam sederhana yang ia buat dari nasi sisa semalam.Di kamar, Sagara bergerak pelan. Kepalanya masih sedikit pusing, tapi jauh lebih baik dari semalam.“Aruna?” gumamnya bingung, suaranya serak karena baru bangun.Ia bangkit perlahan, tubuhnya masih lemah tapi cukup kuat untuk berdiri. Menggunakan dinding sebagai penyangga, Sagara berjalan pelan menuju dapur. Aroma kuat dari bawang, kaldu, sesuatu ya

  • Di Bawah Selimut Tetangga   Bagian 26 - 40 Derajat

    Aruna tetap berdiri di sisi ranjang, membiarkan Sagara menggenggam tangannya seolah itu satu-satunya jangkar yang menahannya tetap sadar. Panas dari kulit pria itu merambat sampai ke telapak tangannya, membuat dadanya ikut sesak.“Sa, aku beneran cuma nelpon dokter. Aku nggak ke mana-mana,” ucapnya pelan tapi tegas, seolah berbicara pada anak kecil yang takut ditinggal.Genggaman itu melemah perlahan. Aruna memanfaatkan momen itu untuk meraih ponselnya. Tangannya masih sedikit gemetar saat menekan nomor dokter keluarga yang dulu sering dipanggil orang tua mereka, nomor yang entah kenapa masih ia simpan.Telepon diangkat setelah dering ketiga.“Dok, ini Aruna. Maaf ganggu sore-sore, tapi Sagara demam tinggi. Bisa datang sekarang?”Nada suaranya berusaha tenang, meski kepalanya penuh kemungkinan buruk yang tak ingin ia sebutkan.“Baik, saya berangkat sekarang. Jangan panik. Kompres dulu, ya,” jawab dokter itu singkat namun menenangkan.Aruna menutup telepon, lalu menatap Sagara lagi. Pr

  • Di Bawah Selimut Tetangga   Bagian 25 - Pagi Yang Tidak Wajar

    Pagi datang dengan cahaya pucat yang menyelinap lewat celah gorden kamar Aruna. Jam dinding baru menunjuk pukul enam ketika ia bangun, tubuhnya masih terasa berat, bukan karena kurang tidur, melainkan karena pikirannya belum benar-benar tenang sejak semalam.Aruna duduk di tepi ranjang, menghela napas panjang.“Kenapa hidup jadi ribet begini sih,” gumamnya sambil mengusap wajah.Ia bangkit, bersiap seperti biasa dengan mandi, rambut diikat rapi, kemeja kerja disetrika sekadarnya. Saat ia membuka pintu rumah dan melangkah ke teras, langkahnya terhenti.Mobil Sagara. Aruna mengerjap, menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Mobil hitam itu diam, tak bergeser sejengkal pun.“Belum berangkat?” gumamnya.Ia melirik rumah sebelah. Lampu ruang tamu masih menyala. Tirainya tertutup rapat. Aruna mengernyit, karena biasanya Sagara pagi-pagi sekali sudah pergi.“Ah, mungkin aku aja yang lebay,” katanya pada diri sendiri.Ia mengalihkan pandangan, berusaha tak memikirkan apa pu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status