LOGIN"Maaf bu Aku ngak bisa." Tolak ku pelan dan aku ingin segera pergi dari kamarnya.
Bu Siti tak bergeming, dia hanya berdiri terpaku menatap kepergianku. Sepulang dari rumah Bu Siti pikiranku jadi tak karuan, ada rasa sedikit bersalah karena menolak pekerjaan yang beliau tawari. Tapi tidak mungkin juga Aku bisa menerima dengan mudahnya lagian uang sepuluh ribu aku masih sanggup membayarnya. "Kamu ada keperluan apa ke warung Bu Siti?" Tanya Bang Awan tiba-tiba. Aku terkejut karena saat ini pikiranku sedang melayang kemana-mana. "Kenapa? Kok diam saja." Celetuk Bang Awan lagi. "Eh, Abang tanya apa tadi? Bisa diulang ngak?" Tanyaku setengah linglung. "Susah ya punya isteri yang pura-pura tuli!" "Aku ngak pura-pura tuli bang emang kenyataannya Aku ngak denger!" Bantah ku yang tak terima karena dikatakan pura-pura tuli. "Sudahlah ngak perlu dibahas! Lagian aku merasa ngak begitu penasaran sama semua hal yang kamu lakuin." Aku tak menjawab tapi dari nada bicaranya bang Awan sepertinya kesal padaku. "Beliin rokok sana!" Setelah nyeletuk dengan kata perintah, Bang Awan tiba-tiba melemparkan selembar uang 50 ribu di hadapanku. Tentu saja rasanya Aku tak terima, tadi dia bilang bahwa Aku disuruh ngutang dulu di warungnya bu siti. Ini kok tiba-tiba melempar uang untuk beli rokok. Aku ingin marah tapi sekali lagi ku tahan amarah itu. Dengan perasaan yang menggebu-gebu akhirnya ku pungut juga uang itu. Akupun berbalik pergi hanya sekedar membelikannya rokok. Di perjalanan pikiranku kemana-mana, Aku masih bingung akan perlakuan bang Awan terhadapku sehingga tak ku sadari ada mobil yang hampir saja menyerempet. Tak hanya itu genangan air yang sengaja ku hindari ternyata memercikkan air ke seluruh bajuku. Wuih, Aku kesal! Bayangkan saja air kotor dijalanan itu meninggalkan pulau-pulau indah yang menjijikkan. Aku ingin marah tapi pengendara mobil Avanza itu tiba-tiba berhenti. Aku masih terus berjalan. "Mbak!" Teriak seseorang dari dalam mobil, suara itu, ya suaranya sangat familiar di telingaku. Aku menoleh. "Bajunya kotor?" Tanyanya lagi. Aku yang tadinya kesal dan ingin sekali marah, seakan tak tega untuk melontarkan kata-kata makian ku. Alhasil Aku cuma tersenyum. "Bisa dicuci." Jawabku seadanya. Dia masih melirikku, memperhatikan dari ujung kaki hingga kepalaku, lalu pria yang tak kutahu wajahnya karena dia menggunakan masker mengeluarkan uang 200 ribu. "Ambil uang ini, anggap saja sebagai ganti rugi!" Aku mengkerut kan kening. Yang benar saja memangnya tampangku sama percis kayak pengemis ya? Pria itu seakan menghinaku. Dia mengeluarkan uang lagi dan menyodorkannya kepadaku. "Ambil!" Dia memberikan uang dan menyisipkan sebuah kartu nama. Tapi karena rasa kesal ku yang dia anggap seperti pengimis seakan membuatku jijik untuk menerima uang serta kartu itu. Tak kusangka dia nekat juga dan segera melemparkan uang serta kartunya. Lalu tanpa persetujuanku diapun menjalankan kembali mobilnya. Aku terheran sambil memperhatikan keadaan di jalan. Sepi belum ada kendaraan yang lewat dan karena Akupun butuh uang untuk berbelanja akhirnya uang itu ku pungut juga. Ku baca kertas putih yang dia lemparkan tadi. "Dion Pratama. Nama yang bagus dan terimakasih banyak orang baik lain kali, sekalian lempar saja tubuhku pakai lumpur! Huh." Gerutuku kesal. Aku berjalan dengan langkah yang malas, menghela nafas berulang kali.Ruang kantor Dion tak begitu jauh dari tangga utama, aku mengikutinya dengan perasaan yang tak menentu, tentu saja aku gugup bukan main aku tak ingin dia tahu segala hal dan tentu saja aku berharap bisa melupakan dia selamanya bukan untuk hari ini tapi selama sisa umurku. Dion membuka pintu dan berjalan lebih dulu lalu dia duduk di kursi kebesaran nya, dia bersandar layaknya seorang raja. "Apakah ini dari semua rencanamu? Kau menghilang selama beberapa hari dan ku lihat seperti nya kau baik-baik saja." Ucap Dion kemudian. Dia menatapku dengan tatapan yang sulit sekali ku mengerti. "Maaf Pak, saya tidak paham dengan apa yang bapak bicarakan." Kataku pura-pura tak tahu apa-apa. Dion tak langsung menjawab namun dia malah tersenyum, sialnya aku rindu senyum itu. "Benarkah? Coba ku lihat dokumen yang kau pegang." Kata dia lagi. Aku segera melangkah dan dengan sopan meletakkan dokumen yang berisi surat lamaran pekerjaan. Dion mengambilnya lalu secara perlahan dia berdiri berjalan
Pagi-pagi sekali perutku tiba-tiba mulas aku tak bisa menundanya lagi untuk buang hajat, sampai pukul tujuh tiba dan Kinan beserta Teguh selesai sarapan namun perut mulas ku belum juga reda. "Mbak, mbak tidak apa-apa?" Tanya Kinan sedikit khawatir karena di lihatnya aku tak juga beranjak dari toilet. "Tidak apa-apa Kin, biasa kamu pergi saja duluan ke tempat kerja nanti mbak menyusul." Kataku menjawab pertanyaannya. "Tapi mbak, bagaimana sama mbak." Kinan khawatir. "Tidak apa-apa Kin, sudah sana pergi nanti kamu telat." Kataku memaksanya. Dengan berat hati Kinan akhirnya setuju untuk pergi duluan begitu juga dengan Teguh. Akhirnya setelah lewat beberapa menit perutku baru terasa lega, aku langsung ke dapur dan mengambil segelas air hangat. "Ya Tuhan, sebegini repotnya hidupku." Desah ku lelah, namun ketika ku lirik jam yang tertempel di dinding seketika mataku membulat besar. Aku segera mengambil dokumen yang sudah di siapkan Teguh untuk keperluan ku melamar kerja, buru-
Keesokan harinya. Pagi-pagi sekali Pras datang ke rumah Dion, di sana Dion sudah menunggu di ruang tamu dan di sampingnya ada Melisa beserta Ibu Dion. "Pras, ada apa pagi-pagi sekali kau datang? Apakah Dion menelpon mu?" Tanya Mirna langsung karena tak seperti biasanya dia datang pagi-pagi sekali jika Dion tak menelponnya atau keadaan Dion sedang tak baik-baik saja. "Ada sesuatu yang harus kulakukan." Dion yang menjawab lalu kedua wanita itu menatap Dion bingung. Sesampainya di desa itu, Dion langsung menghela nafasnya lega, sekarang dia tak perlu berpura-pura lagi duduk dengan kursi rodanya. Untuk bisa sampai di desa itu tidak memakan waktu hingga berjam-jam, cukup tiga jam lamanya. "Pras, kurasa aku betah di desa ini?" Ujarnya ketika dia melihat hamparan hijau dari pegunungan di depan matanya. "Boleh tapi jangan lupa dengan tujuanmu, kau harus menemukan dia lebih dulu." Pras tersenyum. "Tentu saja." Dion lalu melenggang pergi, ada kepuasan di matanya. Dion segera menge
"Dion, bagaimana keadaan kamu sekarang apakah kamu benar-benar sudah sehat?" Tanya Pras sehari setelah mereka kerumah sakit. "Sudah jauh lebih baik." Jawab Dion kala itu yang masih duduk di atas ranjang king size miliknya. Prastio berkunjung kerumah Dion hanya ingin mengetahui bagaimana kabar sahabatnya itu, bukan karena dia tak bisa menelpon melainkan ada urusan yang jauh lebih penting dan itu tentang bisnis yang baru saja Dion jajal. Tak hanya peran nya sebagai dokter pribadi keluarga Dion, Pras juga kadang-kadang ikut andil dalam hal bisnis yang Dion jalani, Pras tak begitu sibuk sebab tugasnya di rumah sakit lebih sedikit dan dia juga membuka sebuah tempat praktek sendiri yang tentu saja dia mengaturnya sendiri. "Jadi bagaimana rencanamu selanjutnya?" Tanya Pras datar. "Sebenarnya aku masih ingin kembali menjadi nahkoda, aku sangat mencintai lautan Pras tapi." Dion menghentikan kalimatnya. "Tapi apa? Lalu bagaimana dengan cintamu, kau harus semangat demi dia. " Kata
Tidak mbak hanya Kinan ingat sana mbaknya Kinan yang sudah meninggal dua tahun yang lalu. Dia meninggal setahun setelah ibu meninggal." Jawabnya lirih. "Maaf." Aku masih menatapnya. "Tidak apa-apa mbak tapi dengan hadirnya mbak di sini membuat Kinan terhibur." Jujurnya tersenyum tipis. Setelah selesai mencuci sedikit peralatan dapur, Kinan, ya seseorang yang baru saja kukenal mulai mengambil sebuah kantong kresek berwarna bening di atas meja dan ku lihat kantong itu berisi beberapa bahan makanan. Lalu Kinan memasukkan nya kedalam kulkas. "Mbak, habis ini Kinan bawa jalan-jalan mau tidak, sekalian temani Kinan nganterin surat lamaran kerja mbak, kalau keterima ya lumayan." Katanya pelan. "Boleh Kinan, oh ya mbak mau tanya Kinan tinggal di rumah ini cuma sama bapak." Tanyaku ingin tahu, karena kulihat seperti nya rumah ini sepi tak ada siapa-siapa selain Aku dan Kinan. "Iya mbak, bapak Kinan ketua RT di sini." Kinan tersenyum tipis, lalu mulai melangkah. "Mbak mandi saja d
Tak lama setelah pikiranku mulai memulih aku kembali sedih, entahlah sampai di detik ini aku masih baik-baik saja, tak ada cedera serius. Aku merenung dan mengamati diriku, sungguh malang nasibku, seharusnya aku sudah mati tapi Tuhan masih sayang padaku ternyata. "Mbak." Panggil seseorang dari arah pintu yang di tutupi gorden, tak lama setelah itu muncul wajah seorang gadis yang umurnya kira-kira dua puluhan. Aku menatapnya dengan tatapan yang sangat hampa. "Ini, ada sedikit sup buatan Kinan mbak biasanya akan bisa menghangatkan badan dan Kinan juga buat air jahe, pasti mbak laparkan?" Ucapnya pelan. "Terimakasih." Kataku sambil mengambil baki yang gadis itu bawa. "Di makan dulu mbak Kinan mau kebelakang sebentar." Mintanya undur diri, aku mengiyakan saja dan melihat punggungnya yang mulai menjauh. Ku perhatikan sup itu, rasa mual di perutku seolah-olah ingin mengajakku muntah, apakah ini karena ada luka di lambungku? Aku ingin menangis tapi sungguh aku sangat lapar. Mun







