Share

Bab 3

Author: Yina
"Huhuhu …."

Suasana hening itu tiba-tiba pecah oleh tangisan Jihan.

Dari mata Jihan yang memerah, air mata terus mengalir, sementara hidungnya juga tampak memerah.

Jihan terlihat begitu kasihan.

"Kak, apa Kakak … berniat mengusirku?"

Jihan menutup mulutnya dan matanya tampak tidak percaya. Dia pun menatap Nathan dengan wajah bingung dan tidak berdaya.

"Kak Nathan, apa yang harus kulakukan? Kakak sudah janji mau bantu jelasin semua ke Kak Anjani. Tapi, Kak Anjani masih nggak mau percaya padaku."

Nathan menepuk kepala Jihan untuk menenangkannya. Dia tampak menahan emosi dan menatap Anjani dengan tajam.

Melihat keningnya yang berkerut dan bibirnya yang terkatup rapat, jelas Nathan terlihat tidak sabar.

Anjani tiba-tiba merasa begitu putus asa.

Sebelum dia bisa menjelaskan sepatah kata pun, tuduhan teman-temannya langsung membuatnya terdiam.

"Anjani! Kamu benar-benar keterlaluan!"

"Kalau kamu mengusir Jihan, dia harus tinggal di mana?"

"Jihan itu masih kecil. Gimana kalau terjadi sesuatu yang nggak diinginkan di luar sana? Kamu benar-benar nggak punya perasaan!"

Lusy terlihat tidak tega dan memohon untuk Jihan.

"Sudahlah, Anjani. Lihatlah bagaimana Jihan menangis dengan begitu sedih. Lagian, dia masih sangat muda. Kalau kamu mengusirnya, apa yang akan terjadi padanya?"

Anjani menatap sahabat lamanya itu. Dahulu, Lusy pernah kehilangan seluruh tabungannya akibat penipuan lewat telepon.

Saat itu, Anjani memberikan semua tabungannya kepada Lusy, sehingga temannya itu memiliki tempat tinggal.

Waktu itu, Lusy terlihat begitu berterima kasih. Dia memeluk Anjani dan berkata bahwa Anjani adalah sahabat terbaiknya.

Namun, sekarang, Lusy malah menentang Anjani. Dia menyalahkan Anjani demi seorang adik yang sudah berciuman dengan tunangan Anjani.

Anjani menatap tajam sahabat yang sudah dikenalnya sejak remaja itu dan hatinya terasa hampa.

"Lusy, sebaik apa pun hubungan kita, ini tetaplah masalah keluargaku …."

"Selain itu, aku juga mau pindah. Rumah ini …."

Belum selesai Anjani bicara, Nathan sudah terlebih dahulu memotongnya.

"Cukup, Anjani."

"Lusy cuma mau membela Jihan."

"Jihan itu adikmu. Dia juga punya hak atas rumah ini."

Sambil menghibur Jihan dengan suara lembut, Nathan menatap Anjani dengan tatapan yang tajam.

"Pada dasarnya, kamu sebenarnya masih menyimpan dendam atas apa yang terjadi antara aku dan Jihan. Nggak peduli bagaimana aku menjelaskannya, kamu tetap nggak bakal percaya."

"Tapi, bagaimanapun, Jihan masih kecil. Kalau ada masalah, kamu bisa lampiaskan padaku. Nggak perlu melampiaskan amarahmu kepadanya."

Dipojokkan dengan begitu kejam dan habis-habisan seperti itu, Anjani pun tidak sanggup mengucapkan penjelasan yang ingin dia sampaikan.

Anjani pun mengatupkan bibirnya dan tiba-tiba kehilangan keinginan untuk berbicara.

Melihat Anjani hanya diam saja, Nathan pun makin mengerutkan kening.

Jihan lalu mendekati Anjani dengan takut-takut, menggenggam tangannya dan memohon kepadanya.

"Kak, jangan marah lagi padaku. Aku janji, mulai sekarang, aku nggak akan bicara sepatah kata pun dengan Kak Nathan."

"Cuma Kakak satu-satunya keluargaku. Kalau Kakak nggak mau menerimaku, aku benar-benar nggak tahu harus pergi ke mana?"

Anjani tetap diam. Namun, tiba-tiba dia merasakan tangannya begitu sakit.

Refleks, Anjani pun mengibaskan tangannya. Akibatnya, Jihan langsung terlempar dan jatuh terduduk di lantai.

Anjani mengulurkan tangan untuk membantu Jihan, tetapi Nathan langsung mendorongnya pergi.

"Jangan sentuh dia!"

Ini pertama kalinya Anjani melihat Nathan kehilangan kendali seperti itu.

Tatapan khawatir Nathan, tangan Nathan yang gemetar, serta kata-kata Nathan yang penuh perhatian itu, begitu menusuk hati Anjani.

"Kak Nathan, kakiku sakit banget. Kayaknya terkilir..."

Jihan tampak mengerutkan kening.

Nathan langsung membopong Jihan. Sebelum pergi, Nathan menatap Anjani lekat-lekat.

"Aku akan bawa dia pergi. Untuk sementara waktu ini, tenangkan dirimu dan pikirkan semuanya dengan baik."

Setelah berkata seperti itu, Nathan tampak menahan emosi, lalu melanjutkan kata-katanya.

"Anjani, kamu benar-benar mengecewakanku."

Tangan Anjani bergerak hampir tanpa kentara. Dia lalu menarik napas pelan, untuk meredakan rasa perih di hidungnya.

Orang-orang di sekitarnya menyaksikan adegan itu tanpa mengatakan apa-apa. Namun, mereka menatap Anjani dengan penuh kecaman.

Lusy lalu mengusulkan, "Gimana kalau kita antar Jihan ke rumah sakit? Kita bisa rayakan ulang tahunnya di tempat lain."

"Benar juga. Perayaan kali ini jadi sangat mengecewakan. Benar-benar apes. Bukankah kita perlu buang sial?"

Menghadapi tatapan mereka dan mendengarkan kata-kata sindiran itu, tiba-tiba muncul rasa tidak terima di hati Anjani.

"Sudah selesai bicaranya? Kalau sudah, silakan kalian pergi …. Bagaimanapun, akulah pemilik rumah ini."

"Huh! Kayak ada yang mau tinggal di rumahmu saja. Kalau bukan karena Jihan, anjing sekalipun nggak bakal mau datang ke sini!"

Seorang pemuda, yang selama ini terus mengejar Jihan, berkata dengan nada meremehkan.

"Kamu cuma nggak suka kalau Jihan lebih disukai dibanding kamu, ‘kan? Sudah emak-emak, masih saja mau saingan sama wanita lain. Benar-benar bikin muntah!"

Anjani melihat Nathan berhenti untuk sesaat. Akan tetapi, Nathan tidak menoleh ke belakang. Nathan hanya membopong Jihan tanpa suara dan pergi meninggalkan tempat itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh   Bab 24

    Nathan mengangkat kepalanya. Matanya tampak memerah dan menyiratkan sedikit harapan terakhir.Mereka berada di halaman kecil penginapan itu dan duduk di atas bangku batu yang dingin.Anjani tidak berbelit-belit dan langsung angkat bicara."Pak Nathan, saya pernah menjalani terapi MECT, demi melupakan beberapa hal yang terlalu menyakitkan.""Meski ada beberapa catatan di buku catatan itu, bagi saya, itu seperti kisah orang lain di kehidupan masa lalu. Saya nggak bisa merasakan cinta yang Anda bicarakan, juga nggak bisa merasakan kebencian yang Anda sebutkan."Anjani terdiam sejenak, lalu menatap ke arah cahaya lampu penginapan yang hangat di kejauhan. Kemudian, nada bicaranya berubah menjadi lembut, tetapi tegas."Saya sangat bahagia sekarang. Theo sangat baik pada saya dan kehidupan di sini membuat saya merasa tenang, juga puas. Inilah segala sesuatu yang saya inginkan.""Jadi, saya mohon ... lepaskan saja."Anjani menoleh dan menatap Nathan dengan pandangan yang jernih."Jangan coba-c

  • Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh   Bab 23

    Anjani menatap Nathan dengan tatapan mata yang jernih, tetapi jelas menjaga jarak.Dia menggelengkan kepalanya pelan, lalu berkata dengan nada yang begitu tenang, hingga terasa kejam."Pak, Anda salah orang, ya? Saya nggak kenal Anda."Anjani terdiam sejenak, lalu menambahkan."Lagi pula, ini rumah saya. Saya nggak akan pergi ke mana pun."Kata "Pak" itu, bagaikan jarum-jarum dingin yang menusuk ke dalam hati Nathan.Anjani tidak mengenalnya …. Dia bilang, di sinilah rumahnya ….Rasa putus asa dan panik yang luar biasa melanda Nathan bagaikan air pasang. Dia sudah mencari Anjani dengan susah payah, menanggung penderitaan yang menyiksa dan setelah akhirnya berhasil menemukannya, yang dia dapatkan malah kalimat yang tidak berarti, yaitu "tidak kenal".Theo mengulurkan tangan dan merangkul bahu Anjani dengan lembut, lalu mengusir Nathan."Pak, kalau Anda bukan tamu yang mau menginap, tolong jangan ganggu tamu saya dan … tunangan saya."Tunangan ….Nathan tiba-tiba terhuyung dan wajahnya l

  • Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh   Bab 22

    Hubungan antara Anjani dan Theo bagaikan musim semi di Kota Loman. Salju dan es mulai mencair, semuanya kembali hidup dan semuanya terjadi dengan alami, juga hangat.Tidak ada pengakuan cinta yang menggemparkan. Hanya di suatu senja, ketika matahari terbenam, saat keduanya berjalan berdampingan untuk pulang, setelah memeriksa jalur pendakian yang baru saja dibuka, Theo menggenggam tangan Anjani begitu saja. Anjani tertegun untuk sesaat. Kemudian, dia menjadi rileks dan balas menggenggam tangan Theo.Kehangatan yang mengalir di antara jemari mereka menggantikan semua kata-kata.Sejak saat itu, hari-hari mereka terasa manis.Mereka mengelola penginapan bersama, merencanakan rute wisata dan menyambut tamu dari berbagai penjuru negeri.Di waktu luang, Theo akan mengendarai motornya untuk mengantar Anjani ke pedalaman padang rumput, menikmati keindahan bunga-bunga liar yang bermekaran.Atau, di saat Anjani sedang sibuk bekerja di meja, Theo diam-diam akan menyodorkan secangkir teh melati ke

  • Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh   Bab 21

    Menghadapi lonjakan jumlah tamu dan perhatian publik yang tiba-tiba, Anjani dan Theo mau tidak mau harus meningkatkan kerja sama mereka.Mereka berdiskusi bersama tentang cara mengoptimalkan layanan, cara menghadapi wawancara media, serta cara memenuhi kebutuhan banyak wisatawan tanpa menghilangkan ciri khas penginapan mereka.Lantaran menghabiskan waktu bersama setiap hari, Anjani bisa merasakan dengan jelas jika Theo makin terbuka dalam menunjukkan perasaannya kepadanya.Theo tahu jika lambung Anjani kurang baik. Oleh karena itu, setiap pagi dia diam-diam menghangatkan segelas susu untuk Anjani.Saat Anjani bergadang untuk menyusun data, Theo diam-diam akan meletakkan lampu pelindung mata dan potongan buah di dekat tangan Anjani.Telinga Theo akan memerah ketika para wisatawan bersorak dan bergurau dengan mengatakan bahwa, "pemilik penginapan dan istrinya sangat serasi". Theo tidak membantahnya, melainkan hanya mencuri pandang ke arah Anjani.Perasaan seperti ini benar-benar hangat,

  • Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh   Bab 20

    Titik balik terjadi di penghujung musim gugur.Di tahun itu, Kota Loman menyambut fenomena aurora yang sangat aktif. Kejadian ini sangat langka dan hanya terjadi sekali dalam beberapa dekade.Pita cahaya berwarna hijau dan ungu yang memukau, menari-nari di langit malam, begitu indah bagaikan mimpi.Anjani dengan sigap memanfaatkan peluang emas ini.Dia segera bekerja lembur untuk merancang naskah promosi dan video bertema "Mengejar Aurora Utara", serta menghubungi para pembuat konten wisata yang pernah bekerja sama dengannya sebelumnya. Anjani mengubah penginapan "Gemintang" menjadi titik pengamatan aurora yang paling sempurna.“Datanglah ke Gemintang, rebahan di tempat tidur sambil menyaksikan aurora!” Slogan tersebut benar-benar sangat menggoda.Dalam sekejap, kota kecil yang semula sepi itu diserbu oleh banyak wisatawan yang ingin menyaksikan aurora.Penginapan "Gemintang" yang sudah mempersiapkan semuanya dengan matang juga kebanjiran tamu hampir setiap hari. Bahkan, pemesanan kama

  • Di Perbatasan Utara, Hatiku Berlabuh   Bab 19

    Langit Kota Loman berwarna biru jernih dan luas. Hal ini belum pernah dilihat oleh Anjani sebelumnya.Udara di sana dipenuhi kesegaran pohon pinus dan aroma tanah yang harum, sangat bertolak belakang dengan bau asap knalpot serta besi dan beton di kota besar.Anjani menyewa sebuah rumah tua dengan halaman kecil di pinggiran kota. Di halaman tersebut, tumbuh sebatang pohon sengon yang sudah tua.Tiap pagi, Anjani terbangun oleh kicauan burung. Hanya dengan membuka jendela, dia sudah bisa menyaksikan pegunungan di kejauhan yang bentuknya seperti alis.Anjani belajar hidup seperti warga kota itu. Dia pergi ke pasar untuk membeli sayuran segar, memasak makanannya sendiri dan sesekali belajar cara membuat asinan sayur, serta menjahit kasur kapuk yang tebal dari bibi tetangga.Sesekali, Anjani masih membolak-balik tulisan di buku catatannya. Namun, masa lalu tentang "Nathan" dan "Jihan" itu kini ketika membacanya, rasanya seperti membaca kisah orang asing dan Anjani tidak merasakan apa pun d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status