Beranda / Romansa / Di Ranjang Majikanku / 136. Sshh, Nikmati Saja

Share

136. Sshh, Nikmati Saja

Penulis: Keke Chris
last update Tanggal publikasi: 2025-12-25 11:03:25

Bhaga benar-benar membuktikan ucapannya. Dia sedang tersenyum lebar saat menggandeng Binar memasuki kamar hotel terbagus di daerah itu.

“Lumayanlah. Setidaknya kita tidak akan bosan saat mengurung diri di sini,” ucap Bhaga sambil tersenyum menggoda, membuat Binar menelan ludah.

Bagaimana tidak, hotel terbagus di tempat itu pun jauh dari ekspektasinya. Tapi saat dia menoleh dan melihat wajah Binar yang sedang merengut, hatinya kembali melonjak bahagia.

Pagi tadi, mereka berdebat karena Binar
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (6)
goodnovel comment avatar
Happy Supriyanto
semoga segera hadir Beby nya badga dengan binar
goodnovel comment avatar
Elisda Turnip
gitu dong Bhaga..jd laki hrs punya prinsip dan jgn jai bodoh kyk kerbau dicucik hidungnya..kasih pelajaran tuh si selene tanpa ampun..akhirnya sinenek tua tersadarkan oleh faktadidpnmatanya..
goodnovel comment avatar
Kuseri
smgt binar hehe
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Di Ranjang Majikanku   295. Ujian Dari Djati

    Nurma tadinya tidak mau menguping. Tetapi rasa penasarannya begitu tinggi, hingga dia harus mengendap sesaat setelah Binar menutup pintu ruang kerja suaminya.Tadinya dia hanya sedang menyusun bunga di vas dekat jendela ruang tamu. Hingga suara sapaan Binar yang baru datang, membuatnya tersentak kecil. Dia tak menjawab, justru semakin mengernyit kala asisten pribadi Djati langsung menghampiri dan meminta Binar untuk segera masuk dan menemui Djati.Beruntung, pintu itu tak dijaga dari luar. Jadi dia sengaja menempelkan telinganya dan berharap suara di dalam sana bisa terdengar.Lalu suara Djati dan Binar menembus celah pintu.Nurma membeku. Dia membasahi tenggorokannya dan napasnya sedikit cepat. Apa-apaan ini, pikirnya.Dia mendengar semuanya dan melotot saat kalimat terakhir dari Djati itu terdengar.Aku akan mempertimbangkan posisimu di keluarga ini dengan cara yang berbeda.Nurma meninggalkan pintu ruang kerja dan kembali ke tempatnya. Tetapi dia tetap tidak bisa menyelesaikan rang

  • Di Ranjang Majikanku   294. Tugas Pertama

    Pintu hotel baru saja ditutup oleh Bhaga saat telepon Binar berdering. Binar yang sedang merebahkan tubuh di kasur karena kelelahan berjalan-jalan membiarkan tetap berdering sampai panggilan itu berhenti sendiri.Namun, detik berikutnya, ponsel Bhaga yang berdering. Bhaga merogoh kantongnya dan segera mengangkat panggilan itu setelah melihat nama papinya.“Iya, Papi.”“Kemana Binar? Kenapa telepon Papi tidak diangkat?”Bhaga mengernyit. “Papi … cari BInar?” tanyanya ragu.“Iya. Dan Papi sudah siapkan tiket untuk kalian pulang sore nanti. Bersiaplah dan sampai ketemu di rumah.”Kini, Bhaga melongo. “Tapi Papi, ini belum waktunya kami pulang.”“Papi tidak mau tau. Kalian harus pulang sore nanti.”Panggilan terputus begitu saja.Masih dengan kondisi wajah yang melongo, Bhaga menoleh ke BInar yang kini sudah duduk dan memperhatikannya.“Ada apa?” tanya Binar.“Papi meminta kita pulang sore nanti.”“Apa?!”“Kau tak salah dengar.”“Tapi kenapa?”“Papi tidak bilang.”Binar menghela napas ber

  • Di Ranjang Majikanku   293. Ciuman Manis

    Matahari sudah meninggi ketika keduanya bangun. Mereka kelelahan dan tidur jadi terlalu lelap.“Sayang.” Panggil Bhaga sambil mencium pundak polos Binar.Tangan Bhaga terus mengelus tubuh Binar di dalam selimut, sesekali meremas pelan, dan memeluknya erat. “Bangun, yuk, Sayang.”Binar melenguh.Mata Binar perlahan membuka, menggerakkan badannya sedikit agar lepas dari dekapan Bhaga, tapi tak berhasil jadi dia sedikit mencebik kesal.“Lepas dulu, aku masih cape.” Protes Binar.Kepala Bhaga menggeleng. “AKu masih mau peluk kamu sebentar, sebelum kita mandi, lalu pergi jalan-jalan.”Mendengar itu, kantuk Binar langsung hilang. Matanya segar dan badan yang tadi dia protes karena masih capai, kini sudah diregangkan dan bersandar di kepala ranjang. Tak peduli selimut yang jatuh ke pinggangnya, tak lagi menutupi tubuhnya.“Ayo. Jalan-jalan kemana?” tanya Binar dengan semangat.Bhaga gemas sendiri, dia akhirnya memeluk erat Binar dan mengecupnya berkali-kali. “Mandi dulu, yuk.”**Akhirnya, m

  • Di Ranjang Majikanku   292. Tak Tahan Lagi

    Semakin malam, obrolan mereka tak lagi ringan. Interaksi mereka terasa semakin intim, dengan tatapan mata yang mulai ada percikan gairah dan sentuhan kecil yang menggoda.Bhaga masih duduk dengan santai, tapi matanya tak bisa lepas dari memindai Binar. Leher yang terekspos, tulang selangka yang mengintip sebagian dan dua bulatan favoritnya yang kini tertutup gaun ketat, membuatnya semakin terpancing gairah. Pikirannya sudah kemana-mana.Binar sengaja memainkan sendok kecilnya, menjilat dengan tatapan nakal ke arah Bhaga, dan menggigit pinggiran bibirnya. Dia juga sengaja menempelkan dadanya ke pinggiran meja dan saat Bhaga melihatnya, dia menjilat bibir bawahnya.“Kenapa liatin aku terus?” tanya Binar dengan suara lembut tapi penuh godaan, matanya berkilat nakal.Bhaga tersenyum miring, suaranya rendah dan berat, “Karena dari tadi aku mambayangkan payudara kamu yang lagi aku lihat ini sedang aku hisap pelan sambil kamu mendesah di bawahku.”Darah Binar berdesir hebat. Tubuhnya langsun

  • Di Ranjang Majikanku   291. Bintang Berlian

    Pakai ini.Dua kata itu tertera di kartu yang tersemat di atas sebuah kotak berwarna merah marun. Binar menemukannya di atas kasur bersama dengan sebuah jaket tebal di samping kotak itu.Binar membuka kotak itu. Sebuah gaun panjang berwarna navy dengan potongan sederhana di depan dan punggung yang terbuka sedikit, ada di dalam sana. Dia mengangkatnya, menempelkan ke tubuhnya yang masih terbalut handuk, dan tersenyum. Tangannya mengelus gaun itu, kainnya begitu halus dan jatuh mengikuti lekuk tubuh.Bhaga pasti mempersiapkan ini semua sebelum berangkat. Lagi, Binar tersenyum bahagia.Dia memakai gaun itu di depan cermin kamar hotel, melihat bagaimana kain itu jatuh di pinggul, dan belahan di belakang memperlihatkan garis tulang belakangnya. Tubuhnya memutar sedikit, melihat dari samping. Cantik, dia terlihat cantik sekali. Dia bahkan tak tahan untuk memuji dirinya sendiri.Binar mengambil sepasang anting mutiara kecil dan memakainya, masih dengan wajah yang cerah.Di luar kamar, Bhaga

  • Di Ranjang Majikanku   290. Malam Pertama Di Paris

    Setelah membersihkan diri, Binar tak banyak bicara. Dia kelelahan parah dan badannya belum bisa beradaptasi dengan dinginnya udara di Paris. Maka, malam pertama ini, mereka memutuskan untuk tidak pergi jauh.Petugas hotel merekomendasikan sebuah bistro kecil di sudut jalan, hanya sekitar lima menit bila berjalan kaki. Mereka langsung setuju lalu memilih berjalan santai sambil bergandeng tangan dan mengobrol ringan. Tanpa reservasi, dan interiornya sangat nyaman seperti berada di dalam ruang keluarga.Saat sampai, Bhaga mendorong pintu kayu yang sedikit berat, dan lonceng kecil di atas pintu berbunyi.Bistro itu kecil. Mungkin hanya ada sepuluh meja. Dindingnya bata ekspos, dihiasi hiasan dinding sederhana yang unik dan cermin bundar berbingkai emas yang sudah sedikit pudar. Lampu-lampu yang tak terlalu terang menggantung rendah, menciptakan bayangan hangat di setiap sudut. Lantai kayu berderit pelan setiap kali ada pelayan lewat.Mereka duduk di pojok, menghadap pintu. Bhaga memesan d

  • Di Ranjang Majikanku   137. Tepat Sasaran

    Matahari pagi belum sepenuhnya terbit ketika getaran ponsel Bhaga memecah keheningan. Dia mengerang, meraih ponsel dari meja samping tempat tidur.Di sebelahnya, Binar masih tertidur pulas, rambutnya tergerai di atas bantal. "Rudi. Pagi-pagi sekali," suara Bhaga serak, berusaha tidak membangunkan

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-27
  • Di Ranjang Majikanku   139. Serangan Kejutan

    Suara bunyi monitor jantung terdengar stabil. Djati terbaring lemah, wajahnya masih pucat, tapi matanya terus melihat Bhaga dengan penuh penyesalan. “Batalkan, Bhaga.” Suara Djati terdengar lirih, tapi tegas. “Batalkan kontrak itu dan pernikahan kalian. Aku tak mau perusahaanku hancur dan keluarga

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-27
  • Di Ranjang Majikanku   138. Bertahanlah, Papi!

    "Bhaga, stop!!" Binar menjerit, histeris.Tak memedulikan Tristan maupun Binar yang panik, Bhaga berbalik badan dan segera menarik Binar bersamanya keluar hotel itu. “Kita pulang, Binar. Kau sudah tak aman di sini dan aku tak bisa membiarkanmu jauh dariku.” Binar masih menoleh ke belakang dengan

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-27
  • Di Ranjang Majikanku   134. Aku Pilihanmu

    Nurma duduk di dalam mobil masih dengan tangan yang terlihat gemetar, kakinya lemas, dan dia tak bisa berpikir jernih sekarang. Wajahnya pucat dengan tatapan yang kosong menembus jendela.Suara Selene terus berputar di kepalanya.“… aku akan menjatuhkan keluarga itu dan ibunya yang sok suci itu…”S

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-27
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status