LOGINSetelah membersihkan diri, Binar tak banyak bicara. Dia kelelahan parah dan badannya belum bisa beradaptasi dengan dinginnya udara di Paris. Maka, malam pertama ini, mereka memutuskan untuk tidak pergi jauh.Petugas hotel merekomendasikan sebuah bistro kecil di sudut jalan, hanya sekitar lima menit bila berjalan kaki. Mereka langsung setuju lalu memilih berjalan santai sambil bergandeng tangan dan mengobrol ringan. Tanpa reservasi, dan interiornya sangat nyaman seperti berada di dalam ruang keluarga.Saat sampai, Bhaga mendorong pintu kayu yang sedikit berat, dan lonceng kecil di atas pintu berbunyi.Bistro itu kecil. Mungkin hanya ada sepuluh meja. Dindingnya bata ekspos, dihiasi hiasan dinding sederhana yang unik dan cermin bundar berbingkai emas yang sudah sedikit pudar. Lampu-lampu yang tak terlalu terang menggantung rendah, menciptakan bayangan hangat di setiap sudut. Lantai kayu berderit pelan setiap kali ada pelayan lewat.Mereka duduk di pojok, menghadap pintu. Bhaga memesan d
Binar baru saja menuang teh ketika Bhaga duduk di seberangnya dengan sebuah amplop di tangan.Bhaga tidak bicara. Dia hanya melirik Binar dan tersenyum kecil, lalu meletakkan amplop itu di meja dan berdeham kecil sambil memberikan kode ke amplopnya.Dengan sangat pelan, seolah berhati-hati, Binar mengambil amplop itu sambil mengernyit. Dia membukanya dan terperangah. “Bhaga, ini—““Iya.” Bhaga tersenyum lebar. "Kita pergi."Kali ini Binar tak lagi berhati-hati, tangannya gegas menarik keluar dan matanya berkaca-kaca.Dua lembar tiket pesawat kelas bisnis. Binar membolak-balikkan berulang kali, masih tak percaya. “Paris. Charles de Gaulle. Keberangkatan Jumat malam.” Dia membacanya dengan suara yang sedikit bergetar.Namun kemudian, kepalanya mendongak cepat. "Ardan?" tanya Binar."Sama Maryam dan Sari. Mami juga akan datang. Ardan juga sudah setuju, katanya Papi dan Bunda liburan dulu biar tidak capek."Air mata menitik, Binar membaca tiket itu lagi, melihat tanggal keberangkatan juga
Ketika Binar keluar dari lobi stasiun televisi tersebut, mobil Bhaga sudah menunggu di pelataran lobi. Dia sudah melihatnya dari kejauhan. Bhaga sengaja membawa mobil yang tidak mencolok, tapi dia segera mengenalinya.Mesin mobil menyala dan bayangan Bhaga terlihat di depan setir. Pria itu tidak menoleh, dan Binar melangkah lebih cepat, membuka pintu penumpang, dan gegas memasukinya.Udara dingin dan aroma parfum pria bercampur pendingin udara dalam mobil langsung menyapanya, Binar hanya tersenyum dan Bhaga mengelus rambutnya. Mereka tak bicara, Bhaga segera melajukan mobilnya dan meninggalkan tempat itu segera. Jalanan sore Jakarta padat seperti biasa. Pengendara yang tak mau mengalah, klakson yang bergantian berbunyi dan beberapa polisi berdiri di pinggir jalan.Binar memandangi keluar jendela, hanya diam dan menikmati jalanan yang serumit pikirannya."Kamu sudah makan?" tanya Bhaga akhirnya."Belum.""Mau mampir?"Binar menoleh sebentar ke arah Bhaga. Pria itu tidak menatapnya. M
Setelah lebih tenang, Binar refleks menegakkan punggungnya. Merapikan letak tangannya dan memasang wajah yang terlihat begitu tenang. Dia tersenyum.Host itu tersenyum ke kamera. Senyum yang saat ini sangat Binar benci.“Kalau tidak diklarifikasi, hal itu akan terus menggantung dan berpengaruh ke nama baik seseorang.” Host itu mencondongkan badnnya sedikit. “Istilah itu belakangan menempel pada diri dan hubungan kamu. Jadi silakan dijelaskan yang sebenarnya.”Psikolog di kursi paling kiri mengangguk-angguk, tapi tidak bersuara.Host itu menatap Binar. "Dari sudut pandangmu, apakah ada elemen itu dalam hubunganmu dengan Bhaga?"Binar untuk merasakan semua mata tertuju padanya dan dia tidak menghindar."Saya rasa hal itu hanya dibuat oleh orang-orang yang memvalidasi hubungan kami tanpa mengetahui kebenarannya." Suara Binar pelan, begitu stabil.Host itu sedikit terkejut.Binar yang sudah terlatih bisa melihat perubahan ekspresi itu tapi dia tetap tenang dan tersenyum kecil."Istilah it
Mobil yang mengantar Binar sudah berhenti di pelataran salah satu stasiun televisi ternama sejak satu jam yang lalu. Namun, Binar belum juga ada keinginan untuk keluar dari dalam mobil sampai saat ini.Dia menatap jam dan terus berperang dengan dirinya sendiri.Hingga teleponnya berdering dan memperlhatkan nomor panitia yang berkomunikasi dengannya sejak minggu lalu. Matanya terus menatap ponselnya, tapi dia tak berniat menjawabnya.TING[Siang, Bu Binar. Sudah sampai mana ya?]Pesan yang masuk ke ponselnya akhirnya memantapkan hatinya.Dia turun dari mobil, masuk ke dalam lobi dan berjalan lebih lambat saat seorang penjaga keamanan sudah menunjukkan ke ruangan mana yang harus dia masuki.Akan kuhadapi apa pun itu, rapal Binar dalam hati.Langkahnya berhenti di depan pintu besar hitam bertuliskan studio empat. Dia sudah berbalik hendak kembali ke dalam mobil, tapi ….“Ah, akhirnya. Selamat datang, Bu Binar. Ayo, silakan masuk. Saya antar bertemu yang lain.” Seorang perempuan muda, tib
Seperti hari sebelumnya, belakangan ini Binar terbiasa menghabiskan sorenya dengan duduk santai di taman dengan buku dan segelas minuman dingin juga camilan.Awalnya dia mengira akan tertekan dengan semua hal yang terjadi, tapi ternyata mengurung diri pun tak terlalu buruk. Dia justru bisa menikmati waktu sendirinya dengan lebih menyenangkan.“Permisi, Nona.”Binar yang sedang fokus membaca, perlahan menoleh. Hal pertama yang dilihatnya adalah sebuket bunga besar. Indah sekali, tapi dari siapa?“Bunga siapa, Pak?” tanyanya kepada penjaga rumah yang menghampirinya.“Saya kurang tahu, Non. Ini kata yang kirim untuk Non Binar.” Dia menyodorkan bunga tersebut dan juga sebuah amplop, lalu meletakkannya di meja. “Ini ada amplopnya juga, Non.”Binar menegakkan duduknya dan mengambil amplop itu. Mengerutkan keningnya sejenak, karena ternyata bukan dari Bhaga, tapi kemudian dia mendongak. “Makasi ya, Pak.”Penjaga rumah itu mengangguk dan undur diri dari sana. Meninggalkan Binar yang masih ter
Matahari pagi belum sepenuhnya terbit ketika getaran ponsel Bhaga memecah keheningan. Dia mengerang, meraih ponsel dari meja samping tempat tidur.Di sebelahnya, Binar masih tertidur pulas, rambutnya tergerai di atas bantal. "Rudi. Pagi-pagi sekali," suara Bhaga serak, berusaha tidak membangunkan
Rudi duduk di hadapan tiga monitor komputer bersama dengan orang kepercayaannya. Dengan penuh ketelitian dia memindai setiap gerakan yang terlihat di rekaman CCTV yang baru saja diperbaiki.“Ini, Pak. Tangan Nona Selene terlihat sedang menaburkan sesuatu ke dalam mesin kopi Pak Bhaga,” ujar orang k
Suara mesin mobil Tristan perlahan menghilang, meninggalkan Binar dan Bhaga dalam kecanggungan yang aneh. Pelukan mereka belum terlepas. Lampu teras menerangi wajah mereka yang saat ini sedang saling mencuri pandang. “Lepaskan aku, Bhaga,” ucap Binar. “Tidak,” jawab Bhaga, dia malah merapatkan
Suara bunyi monitor jantung terdengar stabil. Djati terbaring lemah, wajahnya masih pucat, tapi matanya terus melihat Bhaga dengan penuh penyesalan. “Batalkan, Bhaga.” Suara Djati terdengar lirih, tapi tegas. “Batalkan kontrak itu dan pernikahan kalian. Aku tak mau perusahaanku hancur dan keluarga







