Beranda / Romansa / Di Ranjang Majikanku / 139. Serangan Kejutan

Share

139. Serangan Kejutan

Penulis: Keke Chris
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-27 13:56:45

Suara bunyi monitor jantung terdengar stabil. Djati terbaring lemah, wajahnya masih pucat, tapi matanya terus melihat Bhaga dengan penuh penyesalan.

“Batalkan, Bhaga.” Suara Djati terdengar lirih, tapi tegas. “Batalkan kontrak itu dan pernikahan kalian. Aku tak mau perusahaanku hancur dan keluargaku menderita.”

Bhaga menggenggam tangan Djati. “Papi yang tenang. Aku akan mengurusnya.”

“Tapi denda—“

“Biarkan jadi urusanku,” sahut Bhaga. “Papi cukup istirahat dan sembuh.”

**

Pertemuan di kantor kuasa hukum keluarga Kusumo dengan tim dari keluarga Atmajaya berlangsung alot. Ayah Selene menuntut rugi dengan nilai yang fantastis.

“Keluarga Kusumo mempermalukan anak saya dan menghentikan kontrak sepihak. Semua kerugian ada di keluarga saya. Nama baik saya dan anak saya!”

Bhaga yang duduk di seberangnya tak gentar. Dengan tenang dia menggeser tablet ke tengah meja.

“Sebelum kita bicara tentang ganti rugi, ada baiknya Bapak melihat ini terlebih dahulu.”

DI layar tablet, semua bukti vi
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (3)
goodnovel comment avatar
Niaa Qalesyah
huh gak upload bab ya
goodnovel comment avatar
retno pujiati
pelit amat cm 1 bab doank
goodnovel comment avatar
Niaa Qalesyah
aduh cuma 1 bab
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Di Ranjang Majikanku   145. Manis Dan Perih

    Dengan langkah berat dan hati yang masih sakit hati, Nurma kembali ke dalam kamarnya.Kamar mewah itu kini terasa seperti kotak yang menyimpan berbagai emosinya. Dia mengunci pintu, benar-benar sudah tak punya tenaga untuk berinteraksi lagi dengan orang lain.Dia berjalan menuju sofa dan duduk di sana sambil menerawang jauh. Sesekali dia mendesah lelah dan memejamkan mata, berusaha menenangkan dirinya sendiri.Dalam diam, tiba-tiba matanya tertuju pada lemari kayu antik di sudut ruang. Dengan langkah lunglai, dia beranjak dan membuka laci paling bawah, mengeluarkan album foto lama yang sudah tak pernah dia buka lagi.Album yang menyimpan terlalu banyak kenangan, sekaligus manis dan perihnya kehidupan yang dia lalui selama mendampingi Djati.Dia membukanya. Halaman pertama adalah foto Djati muda dengan dirinya yang masih terlihat begitu bersinar. Muda dan cantik, tanpa beban dan air mata.Mereka terlihat begitu bahagia karena baru saja memiliki penerus yang diidamkan kedua keluarga yan

  • Di Ranjang Majikanku   144. Menikmati Tubuhmu

    Binar melangkah masuk dengan canggung ke paviliun. Tadi dia sedikit ragu saat sudah sampai di depan pintu. Kenangan akan perginya dia dulu dari sini karena teror dari Celia sempat terbesit sesaat. Bhaga mengikuti langkahnya dalam diam, tapi hatinya membuncah bahagia. Dia dan Ardan tak perlu berjauhan lagi dengan Binar. Langkah Binar berhenti sesaat setelah Bhaga memutar kunci dan memeluknya dari belakang. Perlahan tubuhnya dibalik dan kembali dipeluk oleh Bhaga. “Aku senang banget kamu kembali ke sini,” ujar Bhaga sambil mengecup kening Binar. “Aku enggak,” jawab Binar singkat. Dengan pelan Bhaga mengangkat kepalanya untuk melihat Binar, tanpa melepaskan pelukannya. “Kenapa? Kamu enggak suka ada di dekat keluargaku.” Binar menggelengkan kepala. Bhaga mencelos. “Kenapa, Sayang?” tanyanya dengan lembut. “Soalnya aku takut dimodusin kamu terus. Bisa remuk badan aku.” Bhaga tertawa keras karena mendengar jawaban itu.“Oh, tentu saja. Itu tak bisa ku tahan,” katanya dengan riang.

  • Di Ranjang Majikanku   143. Ego Terlalu Besar

    Nurma menatap wajah cucunya yang sedang tidur dengan damai, pertahanan terakhir egonya muncul. Baik, pikirnya, sambil mengelus lembut rambut Ardan. Mungkin untuk Ardan, dia baik. Mungkin Bhaga memang mencintainya. Tapi wanita selalu punya topeng. Dia meletakkan Ardan dengan lembut di atas bantal, kemudian menatapnya lama. Tapi itu tidak cukup. Dia mendengus. Nurma berdiri, mendekati jendela, memandang ke arah paviliun di mana Binar mungkin sedang berada. Hatinya mungkin sudah sedikit luluh, mungkin sudah mulai memahami. Tapi untuk mengakui itu? Untuk menunjukkan kelemahan itu di depan Binar? Untuk menyerah dan menyambutnya dengan tangan terbuka? Tidak. Belum. Dia masih seorang Nurma. Perempuan yang membangun segalanya dari nol, yang menjaga martabat keluarga dengan ketat. Binar harus membuktikan lebih dari sekadar kata-kata manis dan pelukan pada seorang anak. Binar harus layak. Dan menurut ukuran Nurma, dia masih sangat, sangat jauh dari pantas. Dia akan diam. Tidak akan lag

  • Di Ranjang Majikanku   142. Kalau Kak Bin Sedih

    Binar tahu dirinya sedang diancam. Ancaman itu begitu nyata dan dia tahu, Djati lebih dari mampu untuk mewujudkannya. Namun, setelah beberapa menit dalam ketegangan, sebuah senyuman lembut justru merekah di bibir Binar. Senyuman penuh kelegaan. Djati sedikit terkejut melihat reaksi itu. “Terima kasih, Pak Djati,” ucap Binar dengan tenang. “Untuk apa?” tanya Djat, heran. “Terima kasih,” ulang Binar, kali ini dengan mata yang berbinar. “Karena tidak menyuruh saya pergi.” ** Nurma membanting pintu kamarnya, mengunci diri di dalam ruangan yang tiba-tiba terasa pengap. Tak dibela oleh suaminya, dipermalukan di depan perempuan yang selama ini dianggap hina. Harga dirinya serasa direndahkan. Dia duduk di salah satu sofa dengan tangan gemetar menahan marah. Napasnya terengah karena ego yang tertampar. Ketukan di pintu membuyarkan gerutuan dalam hatinya. “Mami. Boleh aku masuk?” “Pergi!” hardik Nurma. “Mami tidak ingin bertemu siapa pun. Terutama kau yang sudah dibutakan oleh per

  • Di Ranjang Majikanku   141. Menusuk Tajam

    Djati yang sedang beristirahat akhirnya terusik oleh suara keributan yang terdengar dari luar kamarnya. Perlahan dia bergerak bangun dan melangkah tertatih berpegangan pada apa pun yang bisa diraihnya. Tadinya dia tak mau ikut campur, tapi suara Bhaga yang meninggi dan pekikan Nurma membuatnya tak tenang. Pasti ada Binar di luar, pikirnya. Dia berdiri di balik pintu, menyaksikan pemandangan yang membuatnya menghela napas lelah. Binar berdiri kaku dengan kepala tertunduk, sementara istrinya menuding wajah Binar dengan kemarahan yang meletup-letup. Sedangkan di taman samping rumah, Bhaga sedang menggendong Ardan yang masih menangis tersedu-sedu. Perlahan, dengan langkah tertatih, Djati mendekati mereka dan langsung duduk di dekat Nurma. “Mami... Binar....” Meski terdengar lemah, terdengar ketegasan di sana. Nurma terkejut, lalu wajahnya berubah semakin masam. “Lihat! Suamiku jadi terbangun karena kau!” hardiknya pada Binar. “Pergi! Pergi sekarang juga!” Binar baru mengangkat ke

  • Di Ranjang Majikanku   140. Mencintai Dengan Tulus

    Djati sudah diperbolehkan pulang hari ini. Nurma yang menemaninya pulang dan karena harus istirahat total, makanya kamar Djati dipindahkan untuk sementara di lantai satu. Wajahnya masih terlihat pucat meski sudah lebih segar, tapi semua orang menjauhinya dari segala macam pekerjaan. Sedangkan Bhaga, sengaja menjemput Binar. Dia ingin merekatkan hubungan Binar dengan kedua orang tuanya. Awalnya Binar terus menolak, tapi rayuan Bhaga berhasil meyakinkannya. Di sinilah mereka, di depan pintu rumah utama. “Tenanglah,” ujar Bhaga saat menggenggam tangan Binar dan menyadari tangan itu begitu dingin dan berkeringat. “Papi sudah tahu semuanya, dan Ardan pasti akan senang sekali.” Binar hanya mengangguk dengan wajah pias. Namun, sebelum mereka sampai ke ruang keluarga, Nurma muncul dari balik pintu. Wajah yang tadinya terlihat kelelahan, kini mengeras dan terlihat masam saat memandang Binar. “Kau yang bawa dia kemari?” tanya Nurma. “Ya, Mami. Binar mau menjenguk Papi dan bertemu Arda

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status