Home / Romansa / Di Ranjang Majikanku / 14. Pengkhianatan sang Nyonya

Share

14. Pengkhianatan sang Nyonya

Author: Keke Chris
last update Petsa ng paglalathala: 2025-10-04 01:23:24

Waktu sudah menunjukkan tengah malam, ketika suara mobil terdengar dan pintu yang dibuka dengan agak kasar memecah kesunyian. Binar, yang terjaga karena pikiran yang kalut, mendengar langkah kaki dengan hak tinggi yang tidak stabil masuk melewati ruang tamu.

Celia pulang dan pasti mabuk lagi. Karena suara racauannya terdengar jelas.

Dari balik dinding dapur, Binar melihat Celia masuk dengan riang, wajahnya bersinar dan sedikit kemerahan. Dia menemukan Bhaga sedang duduk di sofa ruang keluarga,
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (4)
goodnovel comment avatar
Jordan 0pr
Lanjutkan ceritanya
goodnovel comment avatar
Rosantirosa
suaminya bgok udh sering ngliat sm laki2lain simpanan istri napa tk di cerai
goodnovel comment avatar
Mikael Ziw Elul
Celia keterlaluan, jangan dirumah dong kl mau selingkuh
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Di Ranjang Majikanku   389. Sekali Lagi Ya

    Bhaga tidak langsung melepaskan Binar. Dia masih berada di dalam tubuhnya, napas keduanya belum sepenuhnya tenang, kulit saling menempel basah oleh keringat tipis. Binar merasa cairan hangat mereka masih bercampur di antara paha, dan setiap kali dia sedikit bergeser, sensasi itu membuatnya menggigit bibir. Tanpa bicara, Bhaga menggeser tubuhnya. Dia menarik keluar pelan, membuat Binar mengerang dan mendesis karena rasa kosong yang tiba-tiba. Dengan gerakan cepat, kedua lengan Bhaga sudah berada di bawah lutut dan punggung Binar, kemudian memindahkan Binar ke dalam gendongannya. Binar melingkarkan lengan di leher Bhaga, wajahnya terbenam di ceruk bahu. Dia masih telanjang, kaki menggelantung, cairan mereka menetes tipis dari paha dalamnya. Bhaga tidak peduli. Pria itu berjalan melewati deretan kursi kosong menuju bilik istirahat di kabin belakang, langkahnya stabil meski dengan beban di pelukan.Tirai bilik ditarik terbuka dengan satu tangan, lalu ditutup rapat setelah mereka masuk.

  • Di Ranjang Majikanku   388. Desahan Di Kabin Pesawat

    Binar masih duduk di pangkuan Bhaga ketika pesawat mencapai ketinggian tiga puluh ribu kaki. Mesin berdengung stabil di luar, kabin gelap dengan lampu baca yang redup, dan tirai kecil di jendela setengah tertutup. Di balik pintu kokpit yang terkunci dan deretan kursi kosong di depan mereka, dunia terasa sunyi sekali. Bhaga tidak buru-buru. Jari-jarinya masih di pinggang Binar, mengusap pelan lewat kain blus tipis, naik turun merasakan kelembutan yang dirindukannya selama sepuluh hari belakangan dan itu membuat tubuhnya perlahan bergairah. Hidungnya sesekali mengendus tengkuk Binar, menikmati aroma yang membuatnya candu, sehingga napasnya terasa hangat di belakang telinga Binar.Pinggul dan tubuh Binar meliuk pelan, napasnya mengembus berat dan dia mendesis. Satu tangannya berusaha mendorong pelan dada Bhaga, menolak tapi tanpa keteguhan.“Tenang,” bisik Bhaga. “Tidak usah takut. Tidak ada yang melihat.”Binar menelan ludah. Jantungnya berdegup lebih cepat, kerinduannya membuncah, dan

  • Di Ranjang Majikanku   387. Teredam Ciuman

    Kabin pesawat itu kecil, tapi terasa luas karena sepi. Hanya ada empat kursi penumpang di bagian depan dan dua kabin tidur kecil di belakang yang dipisahkan tirai tebal. Lantai karpet abu-abu lembut menyerap suara langkah, dan lampu-lampu di langit-langit disetel temaram, menciptakan suasana yang nyaris seperti ruang tamu pribadi di atas awan.Di luar jendela bundar, langit biru terbentang luas, dengan sesekali gumpalan awan putih yang melintas di bawah sayap. Begitu pesawat lepas landas dan tanda sabuk pengaman dipadamkan, Ardan langsung menarik tangan Binar menuju kabin belakang. Jari-jari mungilnya menggenggam erat jari Binar, seperti takut jika dia melepas, Binar akan pergi lagi. Dalam dua puluh menit pertama setelah take-off, Ardan tidak berhenti mengoceh dengan tempo cepat yang membuat Binar kesulitan menyerap tiap kata. Kata-katanya keluar seperti air dari keran yang tidak bisa ditutup dan melompat dari satu topik ke topik lain tanpa jeda, tanpa urutan yang jelas. "Terus wa

  • Di Ranjang Majikanku   386. Lega

    Bibir Binar mencebik seperti anak kecil. Matanya berkaca, wajahnya memerah menahan emosi yang campur aduk. Dia masih terdiam di ambang pintu mobil, mengerjab tak percaya dengan apa yang terlihat di depan matanya.Di sana. Seseorang yang tak pernah dia sangka akan bertemu, berdiri dengan senyuman lebar dan wajah semringah. Berdiri merentangkan tangan sambil terus memanggil namanya, tapi kaki Binar terasa lunglai hingga tak mampu untuk melangkah mendekat, justru hampir jatuh andai dia tak berpegangan pada pintu mobil.“Binar, kamu tak apa-apa?”Pertanyaan itu keluar dengan penuh kekuatiran, tapi bukan pemilik suara yang kini berlari mendekat. Justru pria kecil dengan ransel dinosaurus yang bergerak memantul di punggungnya, sedang berlari dan menerjang Binar ke dalam pelukan. “Bunda.”Satu tangan Binar menangkap tubuh kecil kesayangannya itu dan tangan lainnya berpegangan pada pintu mobil karena limbung ketika dipeluk erat oleh Ardan dalam keadaan belum siap.Anak itu memeluk erat. Kedu

  • Di Ranjang Majikanku   385. BINAR!

    Mobil berjalan cukup kencang, meninggalkan area kampung kelahiran Binar. Beberapa kali dia menoleh ke jendela belakang, berharap ada yang mengejarnya atau apalah. Tapi tak ada sama sekali, ibunya tadi bahkan tak terlihat kuatir atau menangis meneriakkan namanya.Dia menghela napas kasar, mengangkat tangannya yang masih memegang plastik berisi bawang merah. Dengan muka tertekuk, dia mendesah berat dan mengambil tangan pria di sampingnya lalu menyerahkan plastik bawang itu dengan kasar.Pria itu hanya melirik, membuka jendela lalu melemparkan bawang itu keluar begitu saja.“Itu aku beli pakai uang ya, malah dibuang.” Dumal Binar, walau sebenarnya dia tak peduli.Binar duduk kaku di jok tengah, terapit dua pria yang badannya kaku tegap. Udara dingin dari AC mobil menusuk kulit, berbaur dengan aroma pengharum mobil setelah tak ada lagi aroma bawang. Di depan, ada sopir dan seorang pria lagi yang hanya diam menatap lurus ke jalan.Dia sebenarnya agak bingung, karena pria-pria itu tak meluk

  • Di Ranjang Majikanku   384. Bawa Pulang Paksa

    Di kantor, Bhaga menghela napas lelah. Maryam baru saja melaporkan apa yang terjadi di rumahnya dan dia tak ingin memikirkan hal itu.Dia justru langsung meraih ponsel dan menekan nomor Binar. Jari-jarinya bergerak cepat, tak sabar ingin segera mendengar suara Binar. Begitu panggilan tersambung, dia tidak menunggu lama. Tidak ada basa-basi atau salam."Sayang?""Iya. Kamu apa kabar? Ardan gimana? Udah berangkat sekolah?" Suara Binar langsung terdengar cemas di ujung telepon."Baik. Aku dan Ardan baik, dan dia udah berangkat tadi.""Kalian ... masih marah ya sama aku?" Suara Binar memelan, terdengar sedih dan berat."Sepertinya Ardan masih belum terima," jawab Bhaga pendek. Dia memijat pangkal hidungnya. "Dia masih diam. Jarang bicara dan belum mau membahas soal kamu."Di seberang sana, Binar tidak menjawab. Bhaga hanya mendengar hembusan napasnya dan isak kecil. Sepertinya Binar sedang berusaha keras untuk tidak menangis."Maafin aku ya ..." akhirnya Binar bicara, tangisnya pecah di u

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status