Home / Romansa / Di Ranjang Majikanku / 34. Nikmat Seperti Dosa

Share

34. Nikmat Seperti Dosa

Author: Keke Chris
last update publish date: 2025-10-14 11:32:34

“It’s so good,” ucap Bhaga di sela napasnya yang memburu.

Binar di bawahnya, napasnya tersengal, peluh memenuhi dahi dan tubuhnya. Melihatnya begitu, Bhaga tidak sanggup menahan diri. Pria itu merunduk untuk menciumi rahang Binar, sebelum meraup bibirnya.

Mereka sudah berkali-kali sampai, tapi Bhaga belum puas. Binar seperti candu baginya, dan dia tidak akan pernah merasa cukup.

“Tuan … ah, saya tidak bisa …” lirih Binar dengan suara lesu, tetapi kedua tangannya masih menggantung di leher Bha
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Di Ranjang Majikanku   266. Tak Kembali Ke Kamar

    Suasana terasa begitu canggung. Meja makan yang biasa berisi obrolan ringan dan ramai dengan celotehan Ardan, malam ini begitu sepi. Hanya ada denting piring dan sendok, juga helaan napas Ardan yang makan dengan malas.Mata Ardan berulang kali menatap ke arah Bhaga dna Binar, dan mukanya sedikit merengut.“Papa sama Bunda lagi berantem ya? Kok pada diem aja, sih, dari tadi?”Binar tersentak kecil, dia melirik Bhaga sesaat yang tetap datar dan fokus pada makanannya, lalu menoleh pada Ardan. “Enggak kok, Sayang. Papa cuma lagi kecapean aja.”Ardan mengangguk, lalu menatap Bhaga dengan serius. “Tadi aku jatuh, Pah, pas kejar burung merpati.”Bhaga melirik tajam ke arah Binar, mendengkus kecil, dan berdeham pelan. “Burung sudah pasti akan terbang saat merasa terancam, Nak. Otak punya sistem sendiri, saat merasa akan sesuatu yang berbahaya dia akan memerintahkan tubuh untuk berlindung.”Binar tersedak kecil dan tangannya dengan cepat meraih gelas minumnya dan meminumnya rakus.Ardan turun

  • Di Ranjang Majikanku   265. Teguran Keras

    Tak terasa sudah dua jam mereka bermain di taman. Matahari semakin terik dan keringat sudah membasahi pelipis keduanya.Ardan baru saja berhenti menangis karena terjatuh setelah mengejar burung merpati yang tak bisa dia tangkap. Lututnya merah, beruntung tidak sampai berdarah, hingga dia bisa berhenti menangis lebih cepat.Keduanya memutuskan membeli es krim dari penjual yang sejak tadi tidak berhenti dikerumuni orang-orang. Mereka duduk di bangku di bawah pohon besar, makan es krim sambil beristirahat sejenak. "Bunda.""Hm.""Kalau dinosaurus masih ada, mereka suka es krim tidak?""Tergantung dinosaurusnya.""T-Rex?""Mungkin lebih suka kamu daripada es krimnya."Ardan berkedip cepat, memproses kalimat itu. Lalu pindah duduk lebih dekat ke Binar.Binar menahan tawa sambil terus menikmati es krim.Melihat Ardan sudah kelelahan, Binar akhirnya menelepon sopir untuk menjemput mereka dan sekarang sedang berhenti di supermarket.Ardan mendorong troli kecil dengan wajah serius, mengamati

  • Di Ranjang Majikanku   264. Bermain Di Taman

    Cuaca begitu cerah di akhir pekan ini. Angin berhembus sejuk dan langit terlihat indah dengan matahari yang mengintip malu.Binar dan Ardan sedang menonton kartun di ruang keluarga sambil menunggu Bhaga bersiap.Sejak jam enam pagi tadi, Ardan sudah membangunkan Binar. Dia muncul di samping tempat tidur dan menempelkan tangan kecilnya di pipi Binar lalu mengelusnya pelan.“Bunda. Bangun, yuk.”Tubuh Binar bergerak kecil, matanya mengerjap, dan dia masih setengah sadar saat Ardan mengecup pipinya beberapa kali.“Bunda. Ayo, bangun.” Tangannya menarik pelan selimut Binar dan mengoyangkan bahunya. “Bun…”Suara rengekan Ardan membuat Binar sadar. Dia mengeliat pelan dan membuka mata. Wajah Ardan yang menekuk, dengan alis berkerut, dan bibir mengerucut, menjadi pemandangan pertama begitu Binar benar-benar membuka mata. Dia tersenyum dan tangannya terangkat mengelus pipi Ardan.“Kenapa, Sayang?”Wajah Ardan perlahan berubah. “Kita pergi, yuk, Bun.”"Ke mana?" Suara Binar masih serak."Ke ma

  • Di Ranjang Majikanku   263. Aku Ingin Kamu, Sayang.

    “Aku menginginkanmu, Sayang.”Tubuh Bhaga yang sudah mengukung Binar kini berbalik, tangan yang tadinya mendarat di pinggang Binar, sekarang mengulur ke arah panel lift dan menekan tombol merah.Mata Binar terbelalak,dia bahkan berpegang pada lengan Bhaga saat lift berhenti mendadak.“Bhaga!” pekiknya. Dia mendongak. “Apa yang—”“Sejak kamu masuk ruanganku tadi,” kata Bhaga. Matanya kembali menyusuri wajah cantik di depannya, “aku tidak bisa fokus, pikiranku dipenuhi oleh bayanganmu.”Binar berkedip. “Dan itu salahku?”“Tentu saja, karena kau mengusik ketenanganku.”Bibir Binar terbuka dengan ekspresi tak percaya. Dia kehilangan kata, tapi kembali tersadar saat lehenya sudah dikecupi oleh Bhaga dan pinggangnya ditarik mendekat hingga tubuh mereka menempel.“Bhaga, ini lift.”“Aku tahu.”“Ada CCTV.” Binar mendongak. Di sudut langit-langit, lensa kamera keamanan berkedip merah kecil. “Bagaimana kalau ada yang —”Tapi tangan Bhaga tak berhenti menjelajahi tubuh BInar. Dia bahkan tak sung

  • Di Ranjang Majikanku   262. Lembur

    Binar baru selesai mengaplikasikan skincarenya. Dia sudah memakai piyama tidur dan bersiap untuk membaca ulang semua materi hari ini, tapi suara denting pesan masuk membuatnya meletakkan kembali bukunya. Tangannya mengambil ponsel di nakas dan dahinya mengernyit.“Ini beneran Bhaga yang kirim pesan begini?” tanyanya pada diri sendiri.Dia membacanya lagi.[Sayang, bisa ke kantor? Aku masih di sini dan mau kamu temeni.]Binar sudah mengetikkan balasan tapi kemudian dia memilih untuk melakukan panggilan saja. “Kamu serius?”Suara Bhaga terdengar begitu yakin. “Tentu. Kemarilah, aku tunggu.” “Memang kamu masih akan lama?” “Tidak tahu. Mungkin sampai jam sebelas.”Binar melirik jam di dinding dan ini masih jam delapan, lalu dia mengangguk. “Oke. Kamu mau dibawakan sesuatu.”“Tidak. Aku cuma mau kamu, Sayang.”**Jam menunjukkan pukul setengah sepuluh saat Binar sampai. Dia menyapa para penjaga gedung dan melangkah masuk dengan langkah cepat. Keadaan kantor sudah sangat sepi, beberapa l

  • Di Ranjang Majikanku   261. Kita Belum Pernah Coba Di sini

    Kelas selesai lebih cepat. Binar merapikan barang-barangnya dan keluar ruangan, berjalan menyusuri koridor. Sepatu flat-nya nyaris tak bersuara di lantai marmer. Tangannya merapikan tas selempang di bahu, sambil menahan senyuman saat mengingat hasil presentasinya tadi diberikan nilai yang baik.Koridor begitu sepi. Sebagian besar karyawan sedang sibuk di meja masing-masing. Binar ingin ke pantry, mengambil minuman dingin sebelum pulang.Dua wanita berdiri di dekat ruang rapat. Wajah mereka berganti ekspresi dengan cepat saat melihat Binar, hingga terlihat senyum yang terlalu dipaksakan. Salah satunya menyapa, "Bu Binar, apa kabar?"Binar menjawab singkat sambil tersenyum, tapi langkahnya tidak berhenti.Di ujung koridor, sekelompok karyawan sedang mengobrol dengan suara yang pelan. Binar yang melihat itu, melambatkan langkahnya dan mendekat perlahan. Ketika salah seorang melihatnya datang dan memberikan kode, semua langsung salah tingkah. Percakapan itu berhenti mendadak. Wajah-wajah

  • Di Ranjang Majikanku   86. Pria Tua Yang Datang

    Celia sedikitnya yakin, jika meyakinkan Bhaga bahwa dia hamil, mungkin saja pria itu akan luluh.Waktu hamil Ardan dulu, Celia ingat bagaimana Bhaga menjadi lebih lembut. Sedikit. Tapi banyak mengalah dan berusaha untuk tidak memancing emosi Celia.Mungkin masih ada rasa bersalah Bhaga juga karena

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Di Ranjang Majikanku   89. Ciuman Lembut

    Binar bangun dengan suasana hati yang masih kusut.Hati Binar sedang tidak baik-baik saja. Dia merasa sangat tak pantas untuk Bhaga dan Ardan. Berbagai pikiran buruk memenuhi kepalanya seperti benang kusut.Air mata yang menetes, berulang kali dia usap dengan kasar.Binar beranjak. Sudah sore hari.

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Di Ranjang Majikanku   82. Rahasia Dari Masa Lalu

    Nurma sedang duduk sendiri di teras, memandangi taman yang gelap.Sudah lama sejak terakhir kali Nurma menikmati malam seperti ini. Sejak Ardan tinggal di rumahnya, Nurma kebanyakan menghabiskan waktu dengan cucu satu-satunya itu.Akhir-akhir ini, hidupnya terasa berat.Ponselnya bergetar. Saat dil

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Di Ranjang Majikanku   84. Sisi Manja

    Tawa Binar pecah, ringan dan menggema di ruang tamu yang hening."Bhaga, apa yang kau lakukan?!" protesnya sambil memukul punggung Bhaga dengan pelan, kakinya yang tergantung mengayun-ayun. "Bawa tuan putri ke tempat tidurnya," jawab Bhaga dengan penuh kasih sayang. Dia berjalan mantap menuju kama

    last updateLast Updated : 2026-03-23
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status