Share

Bab 3

Author: Mohini
Dengan alasan ‘anggaran tak cukup’, Billy memintaku tetap di rumah dan menunggu sampaii mereka pulang dari perjalanan dinas.

Meskipun katanya perjalanan dinas, unggahan Clara di media sosial justru sangat ramai.

Kadang dia mengunggah foto di kota kuno yang asri, kadang menikmati teh di sebuah kedai setelah hujan reda.

Billy yang selama ini paling tidak suka melakukan hal-hal merepotkan, ternyata bahkan menemani Clara membuat keramik selama tiga jam di sebuah studio kerajinan.

Sampai seorang rekan yang ikut dalam perjalanan tak sengaja salah mengirim ke grup kerja.

[Berita besar! Tadi hotel tiba-tiba kasih tahu kalau nggak ada kamar yang tersedia. Bos dan Clara akhirnya menginap di kamar yang sama!]

Pesan itu segera ditarik beberapa detik kemudian, Billy pun langsung meneleponku.

“Hotel benar-benar nggak punya kamar lain. Aku takut kamu malah menyalahkanku karena nggak menjaga sahabatmu dengan baik, jadi mau nggak mau harus menginap di satu kamar dengannya.”

Suara keluhan Clara terus terdengar di telingaku.

“Billy, kamu letak sabun cuci mukaku di mana?”

“Aduh, jangan tindih rambutku!”

Tak lama kemudian, Clara langsung merebut ponsel dari tangan Billy dan mulai merengek manja padaku,

“Herli, andai saja kamu ada di sini. Bersama pria kaku ini aku bahkan tidak bisa bergosip.”

“Herli, kamu tenang saja. Malam ini aku pasti akan mengawasinya. Aku nggak akan membiarkannya mendekati gadis lain!”

Dengan dalih melakukan semua ini demi kebaikanku, mereka sudah melakukan terlalu banyak hal yang melewati batas.

Dengan alasan membantuku menghalang pria-pria mendekati sahabatku, Billy pernah berpura-pura menjadi ‘pacar sehari’ Clara saat menghadiri sebuah jamuan.

Clara takut Billy mengobrol dengan wanita lain, sampai-sampai dia menelepon dan mengobrol dengannya selama delapan jam penuh.

Bahkan teleponku yang meminta bantuan pun sampai terlewatkan.

Seperti sekarang, mereka mengaku takut aku khawatir, sampai akhirnya memutuskan untuk tidur di ranjang yang sama.

Kukuku menancap ke telapak tangan. Skenario yang sudah berkali-kali kulatih dalam hati akhirnya sampai di bibirku.

“Billy, kita putus saja.”

Suasana di seberang telepon mendadak hening.

Tak lama kemudian, Billy malah tertawa.

“Herli, kamu sudah bukan gadis 18 tahun lagi, bisa nggak jangan begitu kekanak-kanakan?”

“Aku dan Clara sudah cukup lama memaklumi sifatmu. Seharusnya kamu tahu diri dan bersyukur, bukan malah bercanda nggak lucu seperti ini!”

Clara langsung merebut kembali ponsel itu.

“Herli, jangan marah, ya?”

“Aku minta maaf…”

“Nggak perlu minta maaf padanya!” Billy langsung menyela dengan marah, “Kalau terus dimanja, dia akan semakin menjadi-jadi. Emangnya dia tuan putri?”

Setelah mengucapkan itu, sambungan telepon langsung terputus.

Aku masih ingat saat kuliah dulu kami pernah perang dingin. Selama tiga bulan penuh, dia terus-menerus mengirimiku hadiah untuk membujukku.

Sekarang, bahkan satu kata ‘maaf’ yang cuma-cuma pun dia tidak mau mengucapkannya.

Begitu menutup telepon, aku langsung menghubungi agen properti dan meminta mereka menjual rumah yang seharusnya menjadi rumah pernikahan kami dengan harga murah.

Namun, agen tersebut menjawab dengan terbata-bata,

“Bu Herli, selain namamu, rumah ini juga tercatat atas nama Clara.”

“Sepertinya kamu nggak bisa menjualnya secara sepihak.”

Seketika, darah di sekujur tubuhku seolah mengalir terbalik.

Setahun lalu, saat aku dan Billy mempersiapkan pernikahan, kami berencana menabung bersama untuk membayar uang muka.

Aku bekerja di firma hukum, sekaligus mengambil beberapa pekerjaan sampingan sebagai konsultan hukum secara online. Baru setelah itu aku berhasil mengumpulkan cukup uang.

Billy berkata bahwa rumah tersebut akan ditulis atas namaku, bahkan dia sendiri yang mengurus pengesahan dokumennya.

Namun sekarang, tanpa perlu bersusah payah sedikit pun, nama Clara bisa tercantum di sertifikat kepemilikan rumah.

Semua keringat, air mata, dan perjuanganku selama bertahun-tahun seakan lenyap begitu saja dalam waktu semalam.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dia Bukan Lagi Bintangku   Bab 8

    Kelopak bunga putih berserakan di lantai, waktu seolah berhenti seketika.Senyuman di wajah Billy menghilang, menyisakan kecanggungan.“Herli, kamu benar-benar begitu benci denganku sekarang?”“Selama mencarimu, hari-hariku terasa begitu berat. Rasanya hidupku tiba-tiba kehilangan arah.”“Jadi, aku harus menemukanmu dan membawamu pulang.”Tanganku tetap sibuk membungkus bunga. Aku bahkan tidak meliriknya.“Sudah kubilang, aku nggak akan pulang bersamamu.”“Mulai sekarang, jalani hidupmu sendiri dan aku akan menjalani hidupku. Kita nggak perlu saling mengganggu.”“Herli!” Dia akhirnya tidak tahan lagi dan langsung mencengkeram pergelangan tanganku.“Kalau begitu ikut aku pulang. Kamu sudah berjanji akan menikah denganku.”Aku berusaha melepaskan tanganku dengan susah payah, lalu mengernyitkan kening.“Billy, sejak kapan kamu jadi begitu kekanak-kanakan?”“Kamu nggak paham apa arti putus? Aku sudah bersusah payah mendapatkan kembali hidupku sendiri, tapi kamu masih nggak mau melepaskanku

  • Dia Bukan Lagi Bintangku   Bab 7

    Meninggalkan kota yang telah kutinggali selama hampir sepuluh tahun, aku memulai perjalanan menuju tempat yang sama sekali tidak kukenal.Selama bertahun-tahun itu, aku menemani Billy merintis usahanya dan menyaksikan firma hukumnya berkembang perlahan-lahan.Di balik layar, aku belajar keras hingga larut malam dan akhirnya mendapatkan izin praktik pengacara yang selama ini kuimpikan.Awalnya kupikir, setelah semua yang kulakukan, akhirnya aku bisa berdiri di sisi Billy dan menjadi pasangan yang pantas untuknya.Namun, kenyataannya membuktikan bahwa sepertinya aku tidak akan pernah bisa mengejarnya.Bintang yang paling bersinar di sisinya akan selalu menjadi Clara.Sementara aku hanyalah figuran yang menjadi latar belakang mereka.Selama beberapa hari ini, aku menikmati berbagai macam pemandangan, seolah-olah telah meninggalkan semua masalahku di belakang.Sesekali Billy mengirimiku pesan.Dia memberitahuku bahwa dirinya pergi ke restoran yang dulu sering kami datangi untuk berkencang

  • Dia Bukan Lagi Bintangku   Bab 6

    Barulah saat itu dia melihat surat pengunduran diri Herli dengan lebih teliti.Tanggal yang tercantum ternyata tepat pada hari acara reuni teman sekelas.Saat itu dia sedang mabuk. Ketika pergi mencarinya ke lorong, dia samar-samar mendengar Herli berkata, “Nggak perlu kasih tahu ke dia.”Ternyata, sejak saat itulah Herli sudah memutuskan untuk pergi.Namun sebenarnya karena apa?Karena dia menyuruhnya beli barang? Atau karena Clara merebut tempat duduknya?Namun, bukankah semua itu hanyalah hal-hal sepele yang biasa terjadi?Dengan susah payah menahan tubuhnya yang lemas, Billy pergi mencari Clara di ruangannya.Namun, dari luar dia justru mendengar Clara sedang berbicara dengan seseorang.“Bu Clara, pihak yang kita wakili sangat marah. Mereka nggak menyangka kasus sebesar ini pun bisa sampai kalah.”“Tapi memang aneh. Dengan kemampuanmu, bukannya seharusnya kasus ini pasti bisa dimenangkan?”Mendengar itu, Clara mencibir.“Berapa pun ganti rugi yang mereka minta, sebutkan saja. Aku y

  • Dia Bukan Lagi Bintangku   Bab 5

    [Billy, kita putus!]Billy kembali mengambil ponselnya dan menatap kalimat itu cukup lama.Dia tak tahu apa yang terjadi pada Herli akhir-akhir ini. Entah kenapa terus mengungkit putus.Menekan rasa gelisah di dalam hati, dia mengetik,[Bisa nggak jangan buat masalah terus? Aku sudah pesan restoran kesukaanmu, kamu di mana? Cepat telepon aku.]Dia menelan tombol kirim, tapi yang muncul malah tanda seru berwarna merah.Ternyata, Herli sudah memblokirnya.Billy terdiam, keningnya langsung berkerut dalam.Tiba-tiba, Clara datang dan melirik layar ponselnya.“Billy, akhir-akhir ini Clara benar-benar keterlaluan. Bagaimana bisa dia memperlakukanmu seperti ini?”“Kamu sudah berniat baik memesan restoran kesukaannya, tapi dia nggak menghargainya sama sekali.Semakin Clara berkata begitu, Billy semakin merasa sikap Herli tak masuk akal.Dia sudah bersusah payah mencarikan pekerjaan sebagai resepsionis untuknya, bahkan sudah berusaha membujuk dan membuatnya senang.Namun, yang dia dapatkan just

  • Dia Bukan Lagi Bintangku   Bab 4

    Sehari sebelum pergi, aku membawa surat pengunduran diri ke kantor Billy.Di depan pintunya sudah dipenuhi para karyawan.Begitu melihatku, mereka langsung menatapku dengan pandangan penuh cibiran.Aku menerobos masuk. Clara sedang duduk di dalam kantor sambil mengusap air matanya.Billy berjalan menghampiriku. Wajahnya penuh kekecewaan.“Seberapa besar sebenarnya kebencianmu terhadap Clara sampai tega menjebaknya seperti ini?”Aku mengernyit, “Apa maksudmu?”Tiba-tiba, Clara mengangkat sebuah dokumen agar semua orang bisa melihatnya.Dia menatapku sambil menangis tersedu-sedu.“Semua bukti yang susah payah kukumpulkan dipalsukan dalam semalam. Pengadilan memutuskan pihak kami kalah. Bisa jadi aku bahkan akan dicabut izin praktiknya...”Mendengar itu, orang-orang di sekitar pun tidak ada yang meragukannya.Bagaimanapun, pekerjaanku sehari-hari adalah mengurus dan merapikan dokumen. Aku memang orang yang paling mudah melakukan manipulasi semacam itu.“Bukan aku yang melakukannya!”Aku

  • Dia Bukan Lagi Bintangku   Bab 3

    Dengan alasan ‘anggaran tak cukup’, Billy memintaku tetap di rumah dan menunggu sampaii mereka pulang dari perjalanan dinas.Meskipun katanya perjalanan dinas, unggahan Clara di media sosial justru sangat ramai.Kadang dia mengunggah foto di kota kuno yang asri, kadang menikmati teh di sebuah kedai setelah hujan reda.Billy yang selama ini paling tidak suka melakukan hal-hal merepotkan, ternyata bahkan menemani Clara membuat keramik selama tiga jam di sebuah studio kerajinan.Sampai seorang rekan yang ikut dalam perjalanan tak sengaja salah mengirim ke grup kerja.[Berita besar! Tadi hotel tiba-tiba kasih tahu kalau nggak ada kamar yang tersedia. Bos dan Clara akhirnya menginap di kamar yang sama!]Pesan itu segera ditarik beberapa detik kemudian, Billy pun langsung meneleponku.“Hotel benar-benar nggak punya kamar lain. Aku takut kamu malah menyalahkanku karena nggak menjaga sahabatmu dengan baik, jadi mau nggak mau harus menginap di satu kamar dengannya.”Suara keluhan Clara terus te

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status