Share

Bab 2

Author: Mohini
Atasanku tidak banyak membujukku dan menyetujui untuk membantuku mengurus proses pengunduran diriku.

Saat aku hendak pergi, tak disangka tiba-tiba Billy menyusul keluar.

“Apa maksudmu nggak perlu kasih tahu aku?”

“Nggak ada.”

Billy tak bertanya lebih lanjut. Dia menyerahkan sebuah amplop padaku.

“Menurutmu, gimana baju ini?”

Gaun ini adalah pakaian yang kutandai di sebuah majalah minggu lalu.

Saat itu, aku bertanya padanya apakah gaun ini bagus, tapi dia sibuk membalas pesan dan tak menjawab, Aku tak menyangka dia masih mengingatnya.

Hatiku sempat tersentuh.

Namun, aku mendengar dia berkata, “Harusnya Clara suka, ‘kan?”

Aku terdiam, lalu mengangguk, “Iya, lumayan cantik, cocok dengan seleranya.”

Mungkin karena sikapku yang luar biasa tenang, untuk pertama kalinya Billy berinisiatif menjelaskan.

“Kasus minggu lalu bisa dimenangkan sepenuhnya berkat Clara.”

“Aku nggak mungkin membiarkannya bekerja tanpa imbalan. Sebagai atasan, setidaknya aku harus menunjukkan sedikit apresiasi.”

Dia mencubit pipiku, “Kalau kamu suka, nanti setelah dia nggak suka lagi, kamu boleh pinjam untuk dipakai.”

“Dia nggak suka pakai baju yang sama dengan orang lain. Lagipula kalian juga sangat dekat, untuk apa begitu diperhitungkan. Seperti ini juga lebih hemat.”

Padahal aku adalah pacarnya yang sah, tapi malah harus menunggu memakai sisaan dari orang lain.

Setelah acara reuni selesai, yang lain masing-masing mengendarai mobil pulang.

Clara dengan santainya duduk di kursi penumpang depan.

Mobil ini dibeli Billy dengan penghasilan pertama yang didapatnya dari firma hukum.

Saat itu Billy tersenyum dan berkata kepadaku bahwa akhirnya dia bisa mengantarku pergi dan pulang kerja setiap hari.

Namun, pada hari pertama, Clara bilang bahwa dia ketinggalan bus terakhir dan bertanya apakah dia boleh ikut menumpang.

Billy bertanya apakah aku bisa mengalah dan membiarkannya duduk di depan.

Ternyata, sekali mengalah itu berlangsung selama lima tahun.

Aku bahkan belum sempat membuka pintu mobil, asap knalpot sudah menyembur tepat ke wajahku.

Aku berdiri di sana sampai mobil itu benar-benar menghilang dari pandanganku.

Keduanya terus mengobrol tentang pekerjaan, bahkan tidak menyadari bahwa aku belum naik ke mobil.

Dan tepat saat itu, hujan turun semakin deras.

Aku memesan taksi online, tetapi selama setengah jam tidak ada satu pun pengemudi yang mau menerima pesananku.

Beberapa preman mabuk di pinggir jalan terus menggodaku. Karena ketakutan, aku hanya bisa berlari dengan panik menerobos hujan.

Aku terjatuh ke dalam genangan lumpur. Jalanan yang basah dan licin membuatku kesulitan berdiri. Aku berusaha cukup lama, tetapi tetap tidak bisa berdiri.

Seketika, semua rasa sedih yang selama ini kupendam seakan meledak sekaligus.

Ketika akhirnya aku berjalan pulang menerjang hujan deras, begitu membuka pintu rumah, aku langsung mendengar suara tawa seorang wanita dari ruang tamu.

Kaki Clara bertumpu di atas lutut Billy.

Billy sedang mengoleskan obat pada lukanya.

Begitu melihatku, dia langsung mengernyitkan kening.

“Kok kamu nggak naik mobil tadi? Kamu tahu nggak, aku dan Clara sangat khawatir mencarimu. Lututnya sampai terluka karena terbentur.”

“Bisa nggak lain kali lebih bisa diandalkan? Kalau memang nggak bisa membantu, setidaknya jangan merepotkan kami.”

Billy tak melihat tubuhku yang basah kuyup, tak melihat wajahku yang pucat.

Yang dia tahu hanyalah lutut Clara terluka.

Aku menunduk melihat ponselku, tak ada satu pun pesan yang masuk.

Benarkah mereka benar-benar khawatir mencariku?

Clara buru-buru menurunkan kakinya, lalu menjelaskan dengan panik,

“Herli, aku benar-benar hanya terluka sedikit saja. Billy sampai pergi ke beberapa apotek untuk mencari obat, makanya lupa pergi mencarimu...”

Melihat wajahku yang muram, dia berdiri tertatih-tatih untuk keluar.

Billy hendak mengejarnya, tapi tiba-tiba berhenti.

“Besok aku dan Clara akan pergi dinas. Siapkan barang bawaan kami berdua.”

Usai bicara, Billy mengambil sebuah payung dan langsung mengejarnya tanpa menoleh lagi.

Tidak ada satu pun penjelasan. Dia hanya seperti biasa memerintahku untuk melakukan ini dan itu.

Seolah-olah aku adalah pengasuh pribadi mereka berdua, pembantu yang selalu disuruh ke sana kemari.

Mereka telah mengubahku dari seorang gadis yang dulu penuh semangat menjadi seorang pelayan yang bisa dipanggil dan disuruh sesuka hati.

Bahkan setelah semua itu, mereka tetap hanya akan menganggap bahwa aku bisa bekerja di firma hukum itu karena berkat mereka.

Namun, kali ini aku tidak lagi menuruti perkataannya.

Aku justru mengemasi barang-barang yang akan kubawa untuk pergi dari tempat ini.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dia Bukan Lagi Bintangku   Bab 8

    Kelopak bunga putih berserakan di lantai, waktu seolah berhenti seketika.Senyuman di wajah Billy menghilang, menyisakan kecanggungan.“Herli, kamu benar-benar begitu benci denganku sekarang?”“Selama mencarimu, hari-hariku terasa begitu berat. Rasanya hidupku tiba-tiba kehilangan arah.”“Jadi, aku harus menemukanmu dan membawamu pulang.”Tanganku tetap sibuk membungkus bunga. Aku bahkan tidak meliriknya.“Sudah kubilang, aku nggak akan pulang bersamamu.”“Mulai sekarang, jalani hidupmu sendiri dan aku akan menjalani hidupku. Kita nggak perlu saling mengganggu.”“Herli!” Dia akhirnya tidak tahan lagi dan langsung mencengkeram pergelangan tanganku.“Kalau begitu ikut aku pulang. Kamu sudah berjanji akan menikah denganku.”Aku berusaha melepaskan tanganku dengan susah payah, lalu mengernyitkan kening.“Billy, sejak kapan kamu jadi begitu kekanak-kanakan?”“Kamu nggak paham apa arti putus? Aku sudah bersusah payah mendapatkan kembali hidupku sendiri, tapi kamu masih nggak mau melepaskanku

  • Dia Bukan Lagi Bintangku   Bab 7

    Meninggalkan kota yang telah kutinggali selama hampir sepuluh tahun, aku memulai perjalanan menuju tempat yang sama sekali tidak kukenal.Selama bertahun-tahun itu, aku menemani Billy merintis usahanya dan menyaksikan firma hukumnya berkembang perlahan-lahan.Di balik layar, aku belajar keras hingga larut malam dan akhirnya mendapatkan izin praktik pengacara yang selama ini kuimpikan.Awalnya kupikir, setelah semua yang kulakukan, akhirnya aku bisa berdiri di sisi Billy dan menjadi pasangan yang pantas untuknya.Namun, kenyataannya membuktikan bahwa sepertinya aku tidak akan pernah bisa mengejarnya.Bintang yang paling bersinar di sisinya akan selalu menjadi Clara.Sementara aku hanyalah figuran yang menjadi latar belakang mereka.Selama beberapa hari ini, aku menikmati berbagai macam pemandangan, seolah-olah telah meninggalkan semua masalahku di belakang.Sesekali Billy mengirimiku pesan.Dia memberitahuku bahwa dirinya pergi ke restoran yang dulu sering kami datangi untuk berkencang

  • Dia Bukan Lagi Bintangku   Bab 6

    Barulah saat itu dia melihat surat pengunduran diri Herli dengan lebih teliti.Tanggal yang tercantum ternyata tepat pada hari acara reuni teman sekelas.Saat itu dia sedang mabuk. Ketika pergi mencarinya ke lorong, dia samar-samar mendengar Herli berkata, “Nggak perlu kasih tahu ke dia.”Ternyata, sejak saat itulah Herli sudah memutuskan untuk pergi.Namun sebenarnya karena apa?Karena dia menyuruhnya beli barang? Atau karena Clara merebut tempat duduknya?Namun, bukankah semua itu hanyalah hal-hal sepele yang biasa terjadi?Dengan susah payah menahan tubuhnya yang lemas, Billy pergi mencari Clara di ruangannya.Namun, dari luar dia justru mendengar Clara sedang berbicara dengan seseorang.“Bu Clara, pihak yang kita wakili sangat marah. Mereka nggak menyangka kasus sebesar ini pun bisa sampai kalah.”“Tapi memang aneh. Dengan kemampuanmu, bukannya seharusnya kasus ini pasti bisa dimenangkan?”Mendengar itu, Clara mencibir.“Berapa pun ganti rugi yang mereka minta, sebutkan saja. Aku y

  • Dia Bukan Lagi Bintangku   Bab 5

    [Billy, kita putus!]Billy kembali mengambil ponselnya dan menatap kalimat itu cukup lama.Dia tak tahu apa yang terjadi pada Herli akhir-akhir ini. Entah kenapa terus mengungkit putus.Menekan rasa gelisah di dalam hati, dia mengetik,[Bisa nggak jangan buat masalah terus? Aku sudah pesan restoran kesukaanmu, kamu di mana? Cepat telepon aku.]Dia menelan tombol kirim, tapi yang muncul malah tanda seru berwarna merah.Ternyata, Herli sudah memblokirnya.Billy terdiam, keningnya langsung berkerut dalam.Tiba-tiba, Clara datang dan melirik layar ponselnya.“Billy, akhir-akhir ini Clara benar-benar keterlaluan. Bagaimana bisa dia memperlakukanmu seperti ini?”“Kamu sudah berniat baik memesan restoran kesukaannya, tapi dia nggak menghargainya sama sekali.Semakin Clara berkata begitu, Billy semakin merasa sikap Herli tak masuk akal.Dia sudah bersusah payah mencarikan pekerjaan sebagai resepsionis untuknya, bahkan sudah berusaha membujuk dan membuatnya senang.Namun, yang dia dapatkan just

  • Dia Bukan Lagi Bintangku   Bab 4

    Sehari sebelum pergi, aku membawa surat pengunduran diri ke kantor Billy.Di depan pintunya sudah dipenuhi para karyawan.Begitu melihatku, mereka langsung menatapku dengan pandangan penuh cibiran.Aku menerobos masuk. Clara sedang duduk di dalam kantor sambil mengusap air matanya.Billy berjalan menghampiriku. Wajahnya penuh kekecewaan.“Seberapa besar sebenarnya kebencianmu terhadap Clara sampai tega menjebaknya seperti ini?”Aku mengernyit, “Apa maksudmu?”Tiba-tiba, Clara mengangkat sebuah dokumen agar semua orang bisa melihatnya.Dia menatapku sambil menangis tersedu-sedu.“Semua bukti yang susah payah kukumpulkan dipalsukan dalam semalam. Pengadilan memutuskan pihak kami kalah. Bisa jadi aku bahkan akan dicabut izin praktiknya...”Mendengar itu, orang-orang di sekitar pun tidak ada yang meragukannya.Bagaimanapun, pekerjaanku sehari-hari adalah mengurus dan merapikan dokumen. Aku memang orang yang paling mudah melakukan manipulasi semacam itu.“Bukan aku yang melakukannya!”Aku

  • Dia Bukan Lagi Bintangku   Bab 3

    Dengan alasan ‘anggaran tak cukup’, Billy memintaku tetap di rumah dan menunggu sampaii mereka pulang dari perjalanan dinas.Meskipun katanya perjalanan dinas, unggahan Clara di media sosial justru sangat ramai.Kadang dia mengunggah foto di kota kuno yang asri, kadang menikmati teh di sebuah kedai setelah hujan reda.Billy yang selama ini paling tidak suka melakukan hal-hal merepotkan, ternyata bahkan menemani Clara membuat keramik selama tiga jam di sebuah studio kerajinan.Sampai seorang rekan yang ikut dalam perjalanan tak sengaja salah mengirim ke grup kerja.[Berita besar! Tadi hotel tiba-tiba kasih tahu kalau nggak ada kamar yang tersedia. Bos dan Clara akhirnya menginap di kamar yang sama!]Pesan itu segera ditarik beberapa detik kemudian, Billy pun langsung meneleponku.“Hotel benar-benar nggak punya kamar lain. Aku takut kamu malah menyalahkanku karena nggak menjaga sahabatmu dengan baik, jadi mau nggak mau harus menginap di satu kamar dengannya.”Suara keluhan Clara terus te

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status