Share

Dia Tertidur Dalam Malam Abadi
Dia Tertidur Dalam Malam Abadi
Auteur: Mona

Bab 1

Auteur: Mona
“Apa?” tanya Niko karena tidak mendengar dengan jelas.

“Tidak apa-apa,” jawab Risa sambil turun dari ranjang dengan kaki telanjang, telapak kaki putihnya menginjak karpet yang lembut.

Sorot mata pria itu menggelap samar. Ibu jarinya mengusap bibir Risa yang masih merah dan bengkak. “Jadilah anak manis. Jangan bikin masalah.”

Begitu pintu tertutup, senyum di wajah Risa seketika lenyap. Ia memanggil taksi dan menyuruh sopir mengikuti mobil Niko.

Tiga puluh menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah hotel. Dari balik tirai hujan, Risa melihat Dinda berlari keluar dari pintu hotel dengan mengenakan gaun putih. Niko melangkah cepat menghampiri, melepas jasnya lalu menyampirkannya ke pundak gadis itu, kemudian mengangkatnya dengan satu gerakan untuk menggendongnya.

“Di luar dingin. Kenapa keluar tanpa pakai mantel, hm?”

Gerakannya begitu terampil, seolah telah dilakukan ratusan, bahkan ribuan kali. Tangan Risa mencengkeram gagang pintu mobil erat-erat, kuku-kukunya menancap dalam ke telapak tangan. Ia menatap punggung Niko yang sedang berhati-hati membawa Dinda masuk ke hotel. Entah kenapa, bayangan itu tiba-tiba menyeretnya kembali ke saat pertama kali Risa bertemu pria itu.

Waktu itu hubungannya dengan ayahnya sedang memburuk. Setelah lagi-lagi memecahkan amarah ayahnya, Risa dikirim ke tempat putra sahabat ayahnya. Katanya untuk memperbaiki sifat manja sang nona besar.

Saat pertemuan pertama, Niko sedang duduk di lantai atas kantor Grup Sutomo. Tatapannya di balik kacamata berbingkai emas itu dingin seperti es. Tentu saja Risa tak ingin tinggal di sana. Maka Risa sengaja membuat onar.

Hari pertama bekerja, Risa menumpahkan kopi ke setelan jas mahal milik Niko. Niko hanya meliriknya sekilas, seraya berkata, “Kasmir impor dari Negara Iris. Catat untuk tagihan ke rekening Keluarga Melia.”

Hari kedua, Risa dengan sengaja memasukkan dokumen rapat ke mesin penghancur kertas. Wajah Niko tetap tenang. Ia dengan lancar mengucapkan ulang seluruh isi rapat menurut ingatannya, membuat para eksekutif senior di ruangan itu terperangah.

Hari ketiga, Risa mencampurkan obat bius ke dalam kopi Niko dan menyiapkan kamera, berniat merekam aib Niko untuk bahan mengancam. Namun hasilnya justru berbalik, Risa sendiri malah menjadi penawar.

Keesokan paginya, sekujur tubuh Risa terasa pegal. Risa begitu marah hingga ingin membunuh seseorang, tapi Niko menekan tubuhnya di jendela kaca besar.

“Riri,” bisik Niko sambil menggigit lembut cuping telinga Risa, suaranya serak. “Jadilah anak manis.”

Hanya satu panggilan "Riri" itu saja, sudah cukup membuat Risa runtuh sepenuhnya. Sejak ibunya meninggal, sudah lama tak ada yang memanggilnya seperti itu. Sejak hari itu, hubungan mereka berubah total. Setiap kali Risa membuat ulah, Niko akan langsung membawanya masuk ke kantor. Orang lain mengira Risa sedang dihukum, padahal sebenarnya ia ditekan di atas meja kerja untuk menerima "pelajaran".

Perlahan, Risa menyadari dirinya mulai ketagihan. Apakah karena Niko terlalu hebat dalam urusan itu? Atau karena Risa terlalu kesepian? Risa sendiri tidak tahu. Yang Risa tahu, dia sudah jatuh terlalu dalam.

Maka pada hari ulang tahun Niko, Risa menghabiskan seharian penuh menata vila. Mawar, cahaya lilin, musik yang lembut, bahkan cincin lamaran pun telah ia siapkan. Namun Risa menunggu semalaman. Hingga lilin-lilin padam satu per satu, kelopak mawar layu dan gugur ke lantai, Niko tetap tidak datang. Sampai pukul tiga dini hari, ponsel Risa tiba-tiba bergetar. Sebuah notifikasi berita muncul di layar.

[Seorang Bos Konglomerat Menjemput Cinta Pertamanya di Tengah Malam]

Di foto itu, Niko tampak melindungi seorang gadis bergaun putih dengan hati-hati saat membantunya masuk ke mobil. Tatapannya begitu lembut, menusuk mata siapa pun yang melihatnya.

Di kolom komentar langsung meledak.

[Aaa, pasangan bos besar dan gadis polos. Aku sangat mendukung!]

[Gila! Bukannya itu Pak Niko dan Dinda Kencana si primadona? Dulu mereka kan pasangan emas di sekolah!]

[Aku alumni di sekolah yang sama, aku bersaksi, Pak Niko dingin ke semua orang, hanya ke Dinda dia pernah tersenyum! Kalau saja Dinda nggak sakit dan harus ke luar negeri, mereka pasti sudah menikah!]

Ponsel itu terlepas dari genggaman Risa, jatuh ke lantai dengan bunyi "tak". Ia tak berani memercayai apa yang dilihatnya. Jika di hati Niko sudah lama ada orang lain, lalu dirinya ini apa? Sekadar pasangan di ranjang yang bisa dipanggil kapan saja?

Dengan tangan gemetar, Risa menelepon Niko, ingin mendengar satu jawaban darinya. Namun panggilan itu tak pernah tersambung. Setelah panggilan terputus, Risa menurunkan ponselnya. Ia melangkah menuju ruang kerja, ruangan yang selama ini tidak boleh Risa masuki. Saat pintu terbuka, Risa seolah tersambar petir. Dinding ruangan itu dipenuhi foto Dinda. Foto wisuda, foto liburan, bahkan ada foto Dinda sedang tidur, yang jelas diambil secara diam-diam.

Niko yang selalu dingin dan tenang, ternyata bisa melakukan hal seperti ini. Apakah Risa masih membutuhkan jawaban, rasanya itu sudah tidak penting lagi.

Risa tiba-tiba tertawa. Tawanya menggema di ruangan kosong itu, terdengar begitu nyaring dan menyakitkan. Namun sambil tertawa, air mata yang terasa panas mengalir deras, jatuh dari garis rahangnya yang indah dan menghantam lantai kayu. Dengan mata memerah, ia menghancurkan seluruh vila itu.

Keesokan harinya, saat Niko pulang, ia melihat vila yang porak-poranda. Niko dengan tenang memerintahkan orang untuk membersihkannya. Ia bahkan tak melirik Risa sekali pun, seolah apa yang Risa lakukan adalah hal yang sepenuhnya wajar.

Risa menatap tanpa daya saat para pelayan menyapu cincin lamaran yang ia persiapkan dengan sepenuh hati. Kini benda itu diperlakukan seperti sampah. Niko tak tahu apa yang ada di dalam kotak itu. Tak tahu bahwa Risa pernah ingin menghabiskan sisa hidup bersamanya. Dan terlebih lagi, tak tahu bahwa pada detik cincin itu masuk ke tempat sampah, Risa memutuskan untuk berhenti mencintainya.

“Nona Risa, Anda mau ke mana?” Suara sopir membuyarkan lamunan Risa.

“Pulang.” Risa membuka mata, dan nada bicaranya sedingin es. “Pulang ke Keluarga Melia.”

Begitu tiba di vila Keluarga Melia, ayahnya sangat menyambut Risa. “Riri, apa kamu benar-benar bersedia menikah dan pergi ke Kota Selatan?”

Di tangga, ibu tirinya juga menatap Risa dengan penuh harap.

“Iya.” Sorot mata Risa menajam. “Tapi bukankah aku juga bilang, aku punya satu syarat?”

“Syarat apa? Cepat katakan!”

“Aku ingin ….” Risa menggantung kalimatnya, “Memutuskan hubungan ayah dan anak denganmu.”

Udara seketika membeku. Wajah ayah Risa berubah drastis. “Kamu sudah gila! Kamu sadar dengan apa yang kamu katakan?”

“Tidak pernah sesadar ini.” Nada bicara Risa sedingin es.

“Kamu berselingkuh. Demi memberi tempat pada perempuan itu, kamu sampai membuat ibuku melompat dari gedung. Sejak hari itu, aku tidak pernah ingin mengakui kamu sebagai ayahku.”

Risa menatap wajah ayahnya yang mulai membiru. “Sekarang keluarga dari Tuan Muda di Kota Selatan yang hampir mati itu menawarkan hadiah 100 triliun untuk mencari pengantin penolak bala. Kamu terus memintaku menikah selama tiga bulan. Kalau aku tidak mau, apakah kamu berniat menyeretku ke sana dengan paksa?”

“Jadi, apa bedanya putus atau tidak putus hubungan?” ucap Risa dengan bibir yang terangkat mengejek.

“Sekalian saja kamu bawa pulang anak perempuan dari simpananmu itu, dan jadikan dia Nona Besar Keluarga Melia.”

Ayah Risa gemetar karena marah. “Baik! Kalau mau putus hubungan ya sudah! Tapi Tuan Muda di Kota Selatan itu kabarnya tidak akan bertahan sampai akhir bulan. Kamu harus menikah sebelum bulan ini berakhir!”

Ayah Risa mencibir dingin. “Anak perempuan Tika, dua hari lalu sudah pulang dari luar negeri dan tinggal di hotel. Karena kamu sudah rela mengalah, besok dia akan pindah ke sini!”

Risa tertawa pelan. Dadanya terasa perih hingga bergetar. “Begitu bersemangat merawat anak orang lain, tapi tidak punya sedikit pun cinta untuk anak kandung. Ayah memang luar biasa.”

Risa berbalik hendak pergi, namun ibu tirinya, Tika Kencana, berpura-pura menahannya sambil berkata lembut, “Riri, mana boleh bicara seperti itu pada ayahmu.”

Langkah Risa mendadak terhenti. Dengan perlahan, ia berbalik. Di matanya bergejolak kebencian yang telah ditahan selama bertahun-tahun. “Apa? Kamu pikir begitu aku menikah dan pergi dari rumah ini, kamu bisa dengan bebas berlagak sebagai istri sah?”

Risa melangkah mendekat, setiap langkahnya menekankan kalimatnya. “Tika, dengar baik-baik! Ibuku memang sudah mati, tapi itu tidak akan mengubah fakta bahwa kamu hanyalah selingkuhan yang hina! Dan putri kesayanganmu itu, meski kelak jadi Nona Besar Keluarga Melia, tetap tidak akan bisa menghapus noda bahwa ibunya adalah wanita simpanan!”

Wajah Tika seketika pucat pasi. Ia terhuyung mundur dua langkah. Risa langsung berbalik pergi. Setiap langkahnya terasa seperti menginjak mata pisau. Baru setelah kembali ke kamar dan menutup pintu, sekujur tubuhnya seolah kehilangan seluruh tenaga. Ia merosot ke lantai, menyembunyikan wajah di antara lututnya.

Keesokan paginya, suara gaduh dan tawa terdengar dari lantai bawah, itu bunyi barang-barang dipindahkan.

“Ada apa ini?” tanya Risa sambil mendorong pintu kamar dengan kesal. “Orang mau tidur saja tidak boleh, ya?”

Kepala pelayan tergagap, “Nona Risa … Nona Kedua sudah pindah ke sini .…”

Belum sempat kalimat itu selesai, sebuah sosok yang amat dikenalnya muncul di ujung tangga. Dinda, mengenakan gaun putih, berdiri di sana dengan sikap lembut dan rapuh. Darah Risa seketika membeku!
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 22

    Risa belajar untuk patuh pada hari kedua puluh tujuh sejak ia dikurung. Ia tak lagi melawan, tak lagi mogok makan, bahkan sesekali tersenyum pada Niko. Awalnya, Niko tetap waspada. Namun perlahan, ia mulai percaya bahwa perempuan itu mungkin benar-benar telah menyerah pada nasibnya.“Apa yang ingin kamu makan hari ini?” tanya Niko di pagi hari. Ia berdiri di sisi ranjang sambil merapikan dasinya.Risa bersandar di kepala ranjang, rambut panjangnya tergerai di bahu. Nada suaranya tenang. “Masakanmu.”Jari Niko sempat terhenti. Kilatan terkejut melintas di matanya, lalu ia tersenyum tipis. “Baik.”Niko berbalik menuju dapur. Untuk pertama kalinya, langkahnya terlihat begitu rileks. Begitu punggung pria itu menghilang di balik pintu, senyum di wajah Risa lenyap. Ia langsung menyingkap selimut dan mengeluarkan sebuah komputer mikro dari bawah kasur, benda yang diam-diam ia curi dari ruang kerja Niko seminggu lalu.Jari Risa bergerak cepat, kode demi kode mengalir di layar. Sistem keamanan

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 21

    Karena tumpukan pekerjaan di Grup Sutomo yang tidak bisa ditunda, Niko terpaksa kembali untuk menanganinya.Pulau pribadi, senja hari.Pada hari ketiga sejak kepergian Niko, Risa berdiri di depan jendela kaca besar, menatap sisa cahaya matahari di cakrawala yang perlahan ditelan laut. Seorang pelayan masuk dengan langkah hati-hati, meletakkan segelas susu hangat.“Nyonya … tolong minum sedikit.”Risa tak bergerak. Ia hanya bertanya pelan, “Kapan dia kembali?”“Pak Niko bilang setelah urusan perusahaan selesai, beliau akan ....”Prang!Gelas itu menghantam dinding. Pecahannya beterbangan, susu tumpah membasahi lantai.“Aku bukan nyonya siapa pun.” Risa tertawa dingin. “Keluar.”Pelayan itu pucat pasi, segera mundur dan menutup pintu. Risa membungkuk dan mengambil sepotong pecahan kaca yang paling tajam....Di saat yang sama, di Kota Utara, kantor pusat Grup Sutomo. Di ruang rapat, Niko duduk di kursi utama, mendengarkan laporan para eksekutif. Jarinya tanpa sadar mengusap layar ponsel.

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 20

    Pulau pribadi, pagi hari.Helikopter mendarat di helipad di tengah pulau. Deru baling-baling perlahan mereda, menyisakan suara ombak yang menghantam karang.Risa digendong turun oleh Niko. Begitu kakinya menyentuh tanah, Risa langsung mendorong Niko menjauh.“Penculikan?” Risa mencibir dingin. Ekor gaun pengantinnya berkibar liar diterpa angin laut. “Sejak kapan Pak Niko melakukan hal serendah ini?”Niko tidak marah. Justru ia tersenyum ringan. “Memangnya kenapa?”Niko mengangkat tangan dan menyentuh pipi Risa. Ujung jarinya dingin, namun tatapannya panas sampai terasa menakutkan. “Riri, kamu milikku.”“Dalam hidup ini, jangan pernah bermimpi menikah dengan orang lain.”Di dalam vila utama. Niko membawanya berkeliling seluruh pulau.“Semua yang ada di sini adalah milikmu.” Niko mendorong pintu kaca besar. Angin laut yang asin menerobos masuk. “Taman, kolam renang, perpustakaan … bahkan lautan itu.”Risa tetap tak bergeming. “Aku ingin pulang.”“Riri, lupakan semua hal yang tidak menyen

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 19

    Sehari sebelum pernikahan, di vila pribadi Keluarga Badara.Risa duduk di depan meja rias di kamar pengantin, ujung jarinya mengusap lembut taburan berlian kecil di gaun pengantinnya. Cahaya matahari di luar jendela terasa pas. Di dalam vila, para pelayan sibuk menata lokasi pernikahan esok hari, semuanya tampak begitu sempurna. Tiba-tiba terdengar ketukan pelan di pintu.“Kak?”Juan mendorong pintu dan masuk. Di tangannya ada secangkir teh mawar merah hangat, sementara tangan lainnya memegang kotak beludru kecil yang indah. Ia mengenakan setelan jas hitam yang rapi, kerahnya sedikit terbuka. Di balik kacamata berbingkai emas, tatapannya begitu lembut, terlalu lembut untuk sekadar kepura-puraan.“Kamu hampir tidak menyentuh sarapanmu,” kata Juan sambil meletakkan cangkir teh di dekat tangan Risa, nada suaranya mengandung sedikit keluhan. “Orang dapur bilang kamu hanya minum setengah gelas susu.”Risa menatap Juan dan tersenyum tipis. “Pak Juan mau memarahiku secara langsung?”“Tidak be

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 18

    “Bukankah Keluarga Badara di Kota Selatan dan Keluarga Sutomo di Kota Utara tidak pernah akur? Kenapa … Pak Niko datang ke sini?”Bisik-bisik para tamu menyebar di seluruh aula pesta.Semua pandangan tertuju pada sosok tinggi ramping di ambang pintu. Niko berdiri di sana, setelan jasnya rapi sempurna, namun sorot matanya gelap dan mengerikan. Tatapannya terpaku pada tangan Risa dan Juan yang saling bertaut dengan erat, seolah ingin membakar tangan itu hingga berlubang.“Kenapa Pak Niko menatap Nona Risa seperti itu? Jangan-jangan dia datang untuk merebut pengantin?”Seketika, Juan menarik Risa ke dalam pelukannya. Lengannya terentang di depan tubuh Risa, membentuk dinding tak kasatmata untuk melindungi Risa. Namun Risa justru terlihat sangat tenang. Ia menatap Niko, lalu tersenyum.“Pak Niko, kenapa Anda datang? Apa Anda ke sini untuk mengantarkan hadiah pernikahan?”Kalimat itu bagaikan sebilah pisau tajam yang menghunjam langsung ke dada Niko. Rahangnya mengeras, urat-urat di pelipis

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 17

    “Sepuluh tahun lalu, di pesta kapal pesiar di Kota Utara .…”“Kamu lupa siapa yang kamu selamatkan?”Risa tertegun. Ingatannya tiba-tiba terseret kembali ke sepuluh tahun silam. Di pesta itu, ia berdiri di tepi dek, menikmati hembusan angin laut, ketika tiba-tiba terdengar suara “Byuurr!”Seorang anak laki-laki terjatuh ke laut. Orang-orang di sekitar belum sempat bereaksi, sementara Risa sudah lebih dulu melompat turun. Air laut sedingin es, menusuk tulang. Risa berenang sekuat tenaga menuju sosok yang meronta itu. Setelah beberapa kali menelan air asin hingga tersedak, akhirnya Risa berhasil menyeret anak itu kembali ke atas.“Kamu tidak apa-apa?” Tubuh Risa basah kuyup, namun ia tak sempat memedulikan dirinya sendiri. Ia berlutut di lantai dek, memberi pertolongan pertama pada bocah itu.Anak kecil itu memuntahkan beberapa teguk air. Saat membuka mata, bulu matanya masih menggantungkan butiran air. Risa melepas jaketnya dan menyelimuti tubuh kecil yang gemetar itu.“Dasar bocah, lai

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status