แชร์

Perjanjian

ผู้เขียน: She Sheila
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-13 13:55:00

SREK! SREK! SREK!

Karina menutup semua jendela di ruangan. Matanya melirik beberapa orang anggota timnya yang penasaran. Namun wanita itu bersikap masa bodoh dan mengunci rapat-rapat.

Tubuhnya berbalik, menatap tajam pria yang sudah duduk manis di kursi tamu. Ia tersenyum, seolah tak terjadi apa-apa.

"Kamu sengaja, kan?" tebak Karina.

"Sengaja apa?"

"Ya ini!"

"Yang mana?" Brian memasang wajah bodoh dan berhasil membuat Karina merah padam karena marah.

Brian mengangkat bahu, tetap pada pendiriannya. Ia sendiri tak mengerti apa yang membuat Karina marah.

"Kamu sengaja datang ke sini dan jadi pengisi acata yang aku buat!" jawab Karina.

Sayangnya ia malah membuat Brian tergelak. Pria itu menggeleng pelan, sesuai kenyataan yang ada.

Penawaran dari Pak Broto datang seminggu lalu dan Brian tidak tahu jika Karina ikut bekerja di program ini. Ia bahkan masih mencari Karina beberapa menit sebelum masuk ke ruang rapat.

"Bohong!" seru Karina menolak alibi yang tak meyakinkan. "Kamu bisa dengan mudah cari dataku di rumah sakit," tambahnya mementalkan semua alasan Brian dengan cepat.

"Aku bukan orang yang seperti itu," jawab sang dokter dengan tenang. "Kalau aku mau, aku bisa ambil nomor kamu di data pasien, tapi aku enggak lakukan itu. Its not fair!" tegasnya.

Karina menatap tak suka akan jawaban yang nyatanya memang menunjukkan jati diri Brian yang sebenarnya. Sebagai dokter, pria itu tak hanya kompeten, tapi juga profesional dan berintegritas. Semua nampak dari sikapnya saat rapat tadi.

"Ini takdir!" katanya dengan senyum manis yang membuat siapapun siap meleleh. "Kamu bisa menghindar, pergi ke mana pun, tapi kalau Tuhan sudah berkehendak, kamu bisa apa?" tambahnya.

Wanita itu membuang muka, tak suka dengan kekalahan yang telak. Tubuhnya dijatuhkan ke kursi dengan kesal.

"Hei... pelan-pelan, kamu kan lagi..."

"STOP!" Karina memotong dengan cepat.

Tubuh ramping itu menjorok ke arah Brian, suaranya dibuat sekecil mungkin hingga tak ada satu orangpun di luar sana bisa mendengar. Matanya melotot, mengintimidasi.

"Enggak ada yang tahu aku hamil, jadi please... jangan pernah sebut-sebut kehamilan aku di sini!" pintanya.

Brian diam, menatap Karina dengan dalam. Pertanyaan yang muncul di hari-harinya kini jelas terjawab. Namun ia masih tak mengerti bagaimana bisa wanita itu tetap berdiri tegak dan tegar, tanpa terganggu dengan kondisinya kini.

"Kamu bisa kan jaga rahasia ini? Aku enggak mau orang-orang tahu di saat-saat seperti ini. Please, biarkin program ini jalan dulu, baru setelah itu aku pikirin caranya kasih tahu merek semua." Karina melemah, tak tahu lagi bagaimana caranya memohon pada Brian.

"Anak-anak sudah nyiapin program ini sebulan penuh. Mereka begadang, riset, study banding dan bener-bener mikirin program ini. Dan aku enggak mau semuanya harus hancur cuma karena keadaan aku sekarang!" tambahnya.

Sang dokter masih diam, memandangi wajah Karina yang masih mengkhawatirkan pekerjannya dibandingkan dirinya sendiri. Ia yakin betul bahwa tak ada satu orang pun yang mengkhawatirman sang produser.

"Gimana?" tanya Karina memastikan.

Brian menggeleng pelan dan membuat wajah Karina sedih. Wanita itu menunduk dalam.

"Kamu sudah minum vitamin hari ini?" tanya Brian.

"Hah?"

"Vi-ta-min, sudah atau belum?"

Karina diam, mengingat sarapan yang terlewat karena kesiangan, lalu segelas kopi pagi di meja dan diakhiri rapat. Kepalanya menggeleng pelan.

"Sudah kuduga!" kata Brian kesal. "Kamu enggak minum vitamin, tapi kamu ngopi! Terus itu, aku sudah bilang kan jangan pakai hak tinggi, itu bahaya!" cecarnya.

Wanita itu meringis, tahu betul kesalahannya. Namun ia juga harus teyap menjaga penampilannya yang tak akan secantik itu jika tak menggunakan hak tinggi. Dan kopi, rasanya tak mungkin ia bisa hidup tanpa kopi.

"Vitamin itu diminum setiap hari, dan kopi hanya boleh dua cangkir sehari, enggak lebih! Dan itu..." Brian menunjuk sepatu hitam yang membuat kaki Karina semakin jenjang dan indah dipandang. "Enggak bisa lagi pakai itu!" tegasnya.

Karina mengangguk malas. Sudah lama rasanya tak ada orang yang menasihatinya seperti itu. Terutama setelah kepergian nenek yang juga keluarga satu-satunya.

"Aku akan jaga rahasia kita, dengan beberapa syarat!" kata Brian yang berhasil membuat Karina tersenyum senang.

"Apa?"

"Syarat ini wajib dilakukan, semuanya, tanpa terkecuali!"

"Iya, apa?"

Brian menarik napas dalam sebelum merinci syarat yang siap dilontarkan. Tangannya menarik kertas dan bolpoin di meja.

"Pertama, kamu wajib minum vitamin, setiap hari!"

"Hah?"

"Kedua, makan makanan yang bergizi dan bermanfaat untuk tubuh."

"Apa sih?" Karina makin tak mengerti.

"Terakhir, no high heels!"

Brian menuliskan semua syarat itu dan membubuhkan tanda tangan di akhir. Lalu ia menyerahkan bolpoin ke tangan Karina, seolah perjanjian itu berarti.

"Tanda tangan, dan perjanjian kita berjalan!"

Karina buru-buru menandatangani kertas itu yang langsung diambil dan dimasukkan ke dalam kantong oleh Brian. Pria itu menegaskan bahwa satu kelalaian akan membuat seisi kantor tahu akan kondisi sang produser.

"Kenapa sih harus kayak gini?" tanya Karina tak mengerti.

Brian tersenyum. "Karena kamu harus memperhatikan diri kamu sendiri sebelum memperhatikan orang lain."

Wanita itu terhenyak, menatap nanar ke arah Brian yang terasa begitu indah dipandang, namun sulit sekali digapai. Pria sempurna yang datang dan masuk ke dalam kehidupannya secara tiba-tiba, lalu membuat hatinya campur aduk.

"Brian, kamu tahu kalau hubungan kita hanya sebatas pekerjaan, kan?"

Sang dokter tertegun sebentar. Namun ia menggeleng mantap.

"Bohong kalau malam itu enggak ada apa-apa!" jawab Brian.

"Memang enggak ada apa-apa!" elak Karina.

"Ada!"

"Apa?"

"Kita, bertemu! Dan itu bukan pertemuan biasa!" tegas Brian.

Karina menolak dengan gelengan kepala.  Dan jawaban itu membuat Brian beranjak dari tempat duduknya.

Pria itu memutari meja, mendorong kursi Karina hingga sang produser merapat ke tembok. Tangan besar iu menarik dagu sang lawan bicara dan menangkupnya dalam sekali sergap.

Kedua bibir itu bertemu, lagi.

Karina berusaha memberikan perlawan di tengah keterkejutannya. Namun tenaga Brian begitu besar. Lidahnya memaksa agar mulut keduanya terbuka.

Sang produser tak lagi bisa mengelak. Tubuhnya tak sanggup lagi melawan. Ia bahkan mulai menikmati dan membuka akses tangan Brian untuk menyentuh setiap inchi tubuhnya.

Namun di tengah permainan itu, Brian langsung mundur seketika. Karina yang sadar, tertegun dan merasa kehilangan.

"Lihatlah, bibir kamu bahkan menunjukkan kebenarannya!" kata Brian penuh kemenangan.

Karina terperangah, tak percaya bahwa ia masuk ke dalam permainan Brian. Dan bodohnya, ia tak bisa mengontrol tubuhnya yang begitu mendamba sang dokter.

"Silakan berbohong, aku akan cari seribu cara untuk membuatmu jujur!" katanya menutup perbincangan.

***

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Diagnosa Cinta Sang Ratu Pesta   Dokter Pandji atai Bandji?

    "Dokter, ada yang mau bertemu."Pandji menengadah, menatap perawat yang masuk di saat semua pasien sudah selesai diperiksa. Ekspresi penu tanya itu langsung terjawab begitu seorang wanita muncul di ambang pintu. Wajahnya tak asing, begitu pula tatapan tajam yang menunjukkan alasan dari kemunculannya."Oke, terima kasih!" katanya seraya mempersilakan perawat itu untuk keluar.Karina masuk dengan langkah pasti. Matanya tak lepas dari wajah dokter yang membuatnya muak bahkan hanya dengan melihat senyum menyebalkannya."Ada yang bisa saya bantu, Ibu Karina?" tanyanya terdengar sok akrab. Senyumnya menyimpan sejuta arti, mulai dari ledekan hingga puas, karena bisa membuat wanita itu hadir di ruangannya, atas kesadaran sendiri. "Atau Nona, karena Anda belum menikah, kan?" selorohnya kali ini dengan nada mengejek.Air muka si cantik semakin merah, menahan malu dan kesal yang sudah ada di ubun-ubun. Keduanya tak saling mengenal, tapi cerita satu sama lain sepertinya sudah jelas pernah didenga

  • Diagnosa Cinta Sang Ratu Pesta   Sutradara Sesungguhnya

    "Dokter Brian di mana?"Karina menatap sekeliling, tapi tak menemukan pujaan hatinya di sana. Seorang kameramen menunjuk ruang ganti, posisi sang dokter berada saat ini."Thank you!"Wanita itu bergerak dengan cepat menuju ke tempat sang kekasih. Seperti biasa, ia disapa dengan senyuman manis dan tatapan penuh kasih dari Brian. Pria itu bahkan tak malu mengelus lembut perut buncit yang menggemaskan itu di depan para perias."Sorry, gue mau ngobrol bentar, bisa?" pintanya pada beberapa orang yang langsung mengangguk tanda mengerti.Karina tak ingin membuang waktu. Inside Her terus berjalan, rating harus dipertahankan, tapi masalah kembali datang. Semua masalah harus diselesaikan sesegera mungkin, atau ini akan membuat Inside Her dan Brian dalam masalah besar. Utamanya bagi sang kekasih yang tentu memiliki etika profesi."Ada apa?" tanya Brian langsung sadar bahwa ada yang tak beres dari kedatangan sang kekasih.Wajah Karina nampak cemas, bingung harus mulai dari mana. Ia menarik kursi,

  • Diagnosa Cinta Sang Ratu Pesta   Pasien Bermasalah

    "Happy banget Bumil!" puji Sheila yang muncul dari arah pintu masuk. Karina tergelak. Ia baru saja menekan tombol lift, dan keduanya masuk bersamaan. Wajahnya nampak berseri-seri dan cerah ceria, persis menggambarkan suasana hatinya yang tengah berbahagia, seperti dugaan rekan kerjanya itu."Kelihatan banget, ya?" tanya Karina sembari melihat pantulan diri dari dinding lift yang menunjukkan bagaimana wajah cantik itu berpuluh kali lipat lebih cerah dari biasanya."Bukan lagi!" jawab Sheila menggeleng-gelengkan kepala.Semenjak hubungan keduanya membaik, Sheila dan Karina sering terlihat jalan berdua, berbincang terkait pekerjaan atau bahkan hanya bersenda gurau layaknya sahabat. Hubungan ini membuat sebagian orang memandang tak suka, karena perpaduan mereka dalam pekerjaan malah membuat semuanya semakin baik."Abis dapat apa? Duit? Berlian?" Sheila mencecar dengan penasaran.Sesekali tangannya menyentuh perut Karina yang kian membesar. Ia begitu gemas melihat sembulan itu, dan kadang

  • Diagnosa Cinta Sang Ratu Pesta   Rahasia Brian

    "Rasanya udah lama kita enggak makan, terus ngobrol kayak gini!" Karina berseru kegirangan. Sepiring nasi dengan sup buatan Brian membuat nafsu makannya bertambah. Apalagi ditemani sang kekasih yang akhirnya tak jadi pulang."Terakhir setahun lalu enggak, sih?" celetuk Brian yang langsung disambut tawa Karina.Keduanya terbahak. Guyonan khas bapak-bapak yang membuat suasana semakin mencair terasa begitu pas bagi mereka. Tangan yang bertaut, manik saling memandang dan elusan lembut satu sama lain yang tiada henti, rasanya begitu hangat dan indah."Tapi..." Kalimat itu mengambang, tatapan mata Karina mendadak ragu. "Kamu enggak lagi ngehindarin aku, kan?" tanyanya tiba-tiba.Sang dokter mengernyitkan kening, bingung. Ia merasa tak menghindari sang kekasih. Kesibukannya memang di luar kebiasaan.Jika Brian masih bisa membagi waktu untuk sekedar menelepon atau mengunjungi sang kekasih, kali ini memang tidak. Mulutnya mulai bergerak, menceritakan semua kegiatannya dari pagi hingga sore, b

  • Diagnosa Cinta Sang Ratu Pesta   Kangen

    "Nginep enggak?"Karina memasang wajah memohon. Sudah seminggu ini ia tidur sendiri. Jadwal bertemu dengan sang dokter pun terhitung jarang, keduanya menyempatkan diri di jam-jam makan siang dan mengantar pulang seperti saat ini."Hmmm... aku cek jadwal sebentar!" Brian mendesah pelan sembari menatap layar ponsel, di mana semua jadwal tersedia di sana. Mulai dari jadwal praktik, visit sampai konsultasi naskah dengan Sheila."Besok aku memang ada acara ke kantor kamu buat penulisan naskah bareng anak-anak, tapi abis makan siang. Paginya aku ada praktik." Sang dokter memasang wajah sedih, karena kemungkinan besar dirinya menginap semakin kecil.Lokasi rumah sakit memang cukup jauh dari tempat Karina, sehingga ia memperhitungkan jarak dan juga waktu tempuhnya. Belum lagi kemacetan di pagi hari yang sering membuat panik duluan."Beneran enggak bisa?" tanya Karina memelas.Wanita itu memasang wajah sedih dan nestapa karena tak ditemani lagi. Walau bukan yang pertama, namun entah mengapa p

  • Diagnosa Cinta Sang Ratu Pesta   Kejutan Karina

    "Emangnya kita mau ke mana, sih?" tanya Brian penasaran.Sudah hampir satu jam keduanya mengendarai mobil yang entah ke mana tujuannya. Karina bahkan mengambil alih di bangku kemudi, walau dengan pengawasan khusus dari sang kekasih."Sabar, sebentar lagi kamu pasti tahu, ini udah deket kok!" katanya seraya terkekeh.Entah apa yang membuat Karina begitu bahagia. Wanita itu muncul di tempat praktik Brian tanpa konfirmasi, lalu menjemputnya penuh paksa. Dan kini keduanya masih di perjalanan yang begitu asing dan menjauhi Ibu Kota, menuju Kota seberang yang banyak ditumbuhi tanaman hijau dan sejuk."Kamu enggak capek nyetirnya? Sini deh, aku ganti!" kata Brian.Namun dengan tegas Karina menggelengkan kepala. Wanita itu malah membuka jendela mobil, menikmati udara yang begitu jarang jika di kota besar. Rambutnya terbang, mengikuti arah angin."Seger....!" serunya senang.Brian tersenyum. Pria itu ikut menurunkan jendela dan m

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status