Share

Bab 7

"Mereka berdua merupakan sahabatku, dan aku berharap kebahagiaan mereka akan berlangsung selamanya." Gita menutup pernyataannya dengan sebuah senyum tulus kepada dua sahabatnya yang berada di depan dan menjadi pusat perhatian pesta ini. Dia mengangkat gelasnya, menunjukkan gestur untuk mengajak mereka bersulang.

"Makasih banyak, Git. Aku juga berharap kamu akan bertemu seseorang yang bisa buat kamu bahagia," balas Dela lalu mengangkat gelasnya. Mereka meminum minuman mereka dalam posisinya masing-masing. 

Gita kembali duduk setelah menyelesaikan tugas pentingnya. Hembusan napas lega keluar dari bibirnya mengingat semua berjalan sesuai rencana. 

"Kamu beneran nggak apa-apa, Kak?" bisik Andin di sebelah Gita seraya menggenggam tangannya. Ya, dia tahu mengenai perasaan kakak satu-satunya itu kepada Lukman. Dan dia sangat tahu kegugupan Gita bukan hanya soal acara pernikahan mereka melainkan juga ketakutannya untuk menghadapi Dela dan Lukman. Karena itulah dia selalu memperhatikan Gita dan beberapa kali menanyakan kondisinya. 

Gita menoleh dan menunjukkan senyum lemahnya. "Aku nggak apa-apa." Dia membalas genggaman Andin untuk menenangkannya. Begitulah keluarga. Andin mengetahui rahasia terdalamnya tanpa dia perlu memberitahukannya. Adiknya itu pernah berkata perasaannya kepada Lukman terlalu kentara. Tetapi, bagaimana bisa Lukman, sahabatnya sejak SMA, tidak menyadarinya? 

Ah, Gita lupa. Lelaki adalah makhluk yang paling tidak peka. 

Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan pesta santai sembari menikmati makanan yang disediakan. 

"Gita!" 

Panggilan seseorang menarik perhatian Gita yang sedang menggigit macaron-nya. Itu Dela. Dia menggunakan isyarat dengan matanya untuk menanyakan tujuan Dela memanggilnya. 

"Sini. Kita harus foto bersama." 

Maka, Gita mempercepat makannya. Macaron di tangannya menghilang ke dalam mulutnya dalam sekejap. Dia lalu menghampiri Lukman dan Dela seraya mengunyah makanannya. 

"Sudah kamu telan?" tanya Lukman begitu Gita sampai di sana. 

Dela memutar kedua matanya dengan malas. "Jangan lebay, Luk. Aku cuma manggil dia untuk foto bersama. Kamu kedengaran seperti aku maksa Gita untuk kemari," gerutunya. 

"Tapi, dia mesti menikmati pestanya juga. Dia sudah banyak membantu kita." 

Mulai lagi. Perdebatan kecil yang biasa didengar Gita. Mereka berdua sungguh sesuatu karena masih melakukannya di hari pernikahan. Bahkan ini pesta pernikahan mereka!

"Hey, stop," sela Gita. "Aku nggak mau dengar perdebatan kalian berdua hari ini, oke?" tegasnya. Mereka seharusnya menunjukkan kebahagiaan seperti layaknya pasangan di hari pernikahan, bukannya saling menyalahkan. 

Lukman dan Dela seketika terdiam. Mereka saling berpandangan dalam kecanggungan. 

"Aku cuma perlu berdiri di sini, kan?" tanya Gita mengambil tempat di sebelah Dela. Kemudian dia sengaja mendorong Dela mendekat ke arah Lukman. "Fotografer nungguin tuh," dia mengingatkan ketika dilihatnya mereka masih diam. 

Untungnya, mereka patuh. Mereka bertiga lalu mengambil beberapa foto bersama. 

"Aku baru lihat ini," ujar Dela sebelum Gita meninggalkannya. 

Ucapan Dela otomatis menggagalkan rencana Gita untuk meminimalisir interaksinya dengan duo sejoli itu. "Apa?" tanyanya tak mengerti maksud sahabatnya. 

"Cincinmu," tunjuk Dela. "Rasa-rasanya aku baru melihatnya hari ini. Benar, sayang?" Tanyanya pada suaminya di sampingnya.

Lukman tertarik dengan obrolan mereka berdua dan turut memperhatikan cincin di jari manis Gita. "Itu seperti cincin pernikahan." 

Mendapat komentar tersebut jelas membuat Gita gugup. Dia tak menyangka Dela akan menyadarinya padahal dia sudah menutupinya dengan menyematkan cincin lain di jari-jarinya yang lain. 

Namun, itulah sahabat. Dela tahu pasti soal selera fashion Gita, termasuk dia yang jarang mengenakan aksesories. Karena itulah koleksinya terbatas dan Dela pasti sudah melihat semuanya. 

"Cincin pernikahan nggak seperti itu." Dela lalu mengangkat tangannya di mana cincin pernikahannya berada. Cincinnya memiliki batu yang menonjol di tengah. "Ini cincin pernikahan," tegasnya. 

Itulah beda Gita dengan Dela. Sahabatnya suka mengenakan aksesories, minimal satu dalam setiap kesempatan sementara dia lebih suka menyimpannya. 

"Tapi, aku juga pernah melihat cincin pernikahan yang seperti itu." Lukman menanggapi.

Gita memejamkan mata mendengar tanggapan Lukman. Dia tidak punya pilihan selain menjelaskannya daripada melihat mereka berdua kembali berdebat. "Aku melihat cincin ini kemarin saat jalan-jalan dan aku rasa akan cocok kupakai di hari pernikahanmu," bohongnya. Dunia tahu dari mana cincinnya berasal. 

Lukman dan Dela mengangguk paham. Kebohongan Gita berhasil menyelesaikan perdebatan yang belum sempat dimulai. 

Gita kembali berbalik dan berniat pergi saat sebuah tangan mendadak mencekalnya. Itu Dela. Alisnya seketika berkerut, menandakan kebingungannya. Kali ini, apa lagi? 

"Tunggu sebentar, Git. Aku punya seseorang yang ingin aku kenalkan sama kamu." Kemudian, Dela sedikit mendongak dan mengedarkan padangannya ke seluruh ruangan. "Ah, itu dia! Di sana! Dewa!" Dia menyerukan sebuah nama. 

Gita menatap Lukman, menuntut penjelasan. Lukman sangat tahu dia tidak suka dikenalkan dengan pria atau dengan kata lain dijodohkan.

"Dela ingin lihat kamu bahagia." 

Itu bukan penjelasan melainkan sebuah alasan yang cenderung mengarah pada pembenaran. Dan Gita bahagia tanpa mereka harus mengenalkan pria kepadanya. Lagian, dia dalam situasi yang tidak memungkinkan untuk memiliki hubungan lebih dari pertemanan lagi. Dia sudah menikah. 

Tentu saja, fakta itu cuma dia yang tahu, Rangga, dan keluarga Rangga. Dia belum punya keberanian untuk menjelaskannya kepada keluarganya, termasuk pada kedua sahabatnya. Jadi, dia tidak mungkin menolaknya dengan mengutarakan alasan sebenarnya. 

"Ini dia. Our bestman," ujar Dela ketika orang yang dimaksudnya semakin dekat. 

Gita mengembuskan napas berat. Seharusnya dia mengambil kesempatan untuk kabur sebelum orang itu datang. Atau dia melakukannya sekarang saja? 

"Kenapa manggil? Ada sesuatu yang kamu butuhkan?" tanya suara berat yang asing di telinga Gita.

Gita mendesah lagi. Dia akan menghadapi situasi ini dan menjelaskan segalanya nanti. 

"Nggak. Aku cuma mau kenalin kamu sama sahabatku." Dela tersenyum penuh arti ke arah Gita. 

Apakah Gita perlu mendesah lagi? Ah, lupakan. Toh, dia sudah bertekad menghadapinya. Maka, dia berbalik dan menemukan seorang pria tampan dalam setelan necisnya. Dia mengenalinya sebagai salah satu bestman dari Lukman. 

"Siapa?" Pria itu memelankan suaranya di akhir kalimatnya kala melihat Gita. Ketertarikan terpancar di matanya. 

Dela melihatnya. Jadi, dia mengambil peran sebagai makcomblang. "Dewa, dia bridesmaid-ku, Gita. Dan Gita, dia adalah salah satu bestman kita, Dewa." 

Dewa masih terdiam dengan pandangan lurus ke arah Gita. Caranya menatap Gita seperti seseorang yang terpesona kepada wanita itu.

"Hai," sapa Gita canggung. Dia sedikit tidak nyaman diperhatikan begitu. 

"Hai," balas Dewa dengan senyum lebar. Matanya tak lepas dari Gita. 

Dela tersenyum senang mengetahui rencananya berhasil. Dia sengaja berdehem keras untuk menarik perhatian Gita dan Dewa dan berkata, "Kutinggalkan kalian berdua. Nikmati pestanya." Dia segera menggamit lengan Lukman dan menariknya pergi. 

Gita cuma bisa menatap nanar kepergian kedua sahabatnya. Setelah menjebaknya dalam situasi ini, mereka meninggalkannya begitu saja. Mereka benar-benar kejam!

Gita mendesah panjang, kali ini di dalam hati agar tak terlalu menunjukkan apa yang dirasakannya. Dia ingin kabur tapi jelas, dia tidak dapat melakukannya.

"Namamu bagus." 

Suara Dewa kembali memaksanya berfokus kepada pria itu. Apa yang mesti dilakukannya?

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status