Home / Romansa / Diantara Dua Tasbih / Pendekatan di Balik Gema Sunyi

Share

Pendekatan di Balik Gema Sunyi

Author: Lizza Adinata
last update publish date: 2026-08-28 10:30:27

Setelah penolakan halus Lily di lobi malam itu, suasana di PT Bhaskara seolah diselimuti kabut tipis yang canggung. Lily tetap bekerja dengan dedikasi tinggi, namun ia mempertebal dinding pembatasnya. Ia tidak lagi banyak bercanda dengan Rini atau Wiwin jika ada Rofiq di dekat sana. Ia kembali menjadi "Putri" yang menjaga jarak aman.

Namun, Rofiq bukanlah pria yang mudah menyerah. Sebagai seorang Gus, ia dididik untuk memiliki kesabaran setebal kitab-kitab klasik di perpustakaan ayahnya. Jika pendekatan sebagai "Manajer" ditolak karena alasan profesionalisme dan kasta kantor, maka Rofiq memutuskan untuk mendekati Lily dengan cara yang lebih murni—melalui frekuensi jiwa yang sama.

Rofiq menyadari bahwa Lily adalah sosok yang hanya bisa disentuh hatinya melalui ketulusan, bukan jabatan. Ia mulai mengubah strateginya. Ia tidak lagi menggunakan "kekuasaan" untuk memanggil Lily ke ruangannya, melainkan mulai hadir di ruang-ruang di mana Lily merasa paling menjadi dirinya sendiri.

Suatu siang, saat jam istirahat hampir usai, Rofiq melihat Lily sedang duduk di taman belakang kantor yang jarang dikunjungi staf lain. Lily sedang membaca sebuah buku naskah sastra Jawa kuno yang terlihat sangat rapuh.

Rofiq tidak menghampiri dengan gaya bos yang ingin menginterogasi. Ia berjalan pelan, lalu duduk di bangku kayu yang berjarak sekitar dua meter dari Lily. Ia tidak menyapa duluan. Ia justru mengeluarkan sebuah buku saku berjudul Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali—sebuah kitab rujukan utama di pesantrennya.

Selama sepuluh menit, hanya ada suara kicauan burung dan gesekan kertas. Lily sempat melirik, terkejut melihat manajernya duduk di sana tanpa bicara, sibuk tenggelam dalam bacaan yang tampak sangat religius.

"Buku yang bagus, Pak," ujar Lily akhirnya, tak tahan dengan keheningan itu.

Rofiq mendongak, tersenyum tenang. "Ini tentang cara menata hati, Lily. Terkadang di dunia yang bising seperti PT Bhaskara, kita butuh jangkar agar tidak hanyut."

Lily tertegun. Kalimat itu bukan kalimat seorang manajer. Itu adalah kalimat seorang guru, seorang penyejuk. "Bapak benar. Saya juga sedang mencari 'jangkar' itu dalam tulisan-tulisan lama ini."

"Sastra dan agama itu seperti dua sisi mata uang," balas Rofiq lembut. "Keduanya mencari keindahan yang berasal dari Sang Pemilik Keindahan."

Itu adalah percakapan pertama mereka yang tidak menyinggung soal pekerjaan. Rofiq sengaja tidak memperpanjang obrolan. Ia berdiri, mengangguk hormat, dan pergi duluan. Ia ingin meninggalkan kesan bahwa ia hadir bukan untuk mengejar, tapi untuk menemani kesunyian Lily.

Rofiq mulai memperhatikan hal-hal kecil yang luput dari mata orang lain. Ia tahu Lily sering merasa pusing jika terlalu lama menatap layar komputer karena ia memiliki mata yang sensitif.

Tanpa sepatah kata pun, esok harinya, Lily menemukan sebuah kacamata anti-radiasi berkualitas tinggi di atas mejanya dengan memo kecil: “Untuk menjaga cahaya di matamu agar tidak redup oleh lelahnya pekerjaan. Pakailah saat lembur.”

Lily menoleh ke arah ruang Rofiq, namun tirainya tertutup. Ia tahu itu dari Rofiq. Perhatian ini terasa berbeda; tidak menuntut balasan, tidak membuatnya merasa rendah. Ia merasa dihargai sebagai manusia.

Tak hanya itu, saat Lily jatuh sakit dan tidak masuk selama dua hari, Rofiq tidak mengirimkan bunga besar atas nama perusahaan yang akan mengundang gosip. Ia justru mengirimkan sebuah paket kecil melalui kurir ke alamat magang Lily. Isinya adalah madu murni dari peternakan lebah di pesantren ayahnya dan sebuah buku doa-doa kesembuhan.

Lily yang sedang terbaring lemas di kamarnya, menatap botol madu tanpa label itu. Ia mencium aromanya—aroma bunga pegunungan yang sangat murni. Siapa sebenarnya Pak Rofiq? batinnya mulai bertanya-tanya.

Puncak dari pendekatan Rofiq terjadi saat hujan badai melanda Jakarta. Seluruh staf sudah pulang lebih awal, namun Lily tertahan karena jemputannya terjebak banjir. Ia duduk sendirian di lobi yang mulai gelap Karena beberapa lampu dimatikan untuk penghematan.

Rofiq keluar dari lift, membawa dua gelas teh hangat yang aromanya sangat familiar bagi Lily: teh melati dan cendana.

"Jangan menolak teh ini, Lily. Anggap saja ini teman menunggu hujan," ujar Rofiq sambil memberikan satu gelas kepada Lily.

Lily menerimanya. Kehangatan gelas itu merambat ke tangannya, juga ke hatinya. Mereka duduk di kursi lobi, menatap air hujan yang menghantam kaca gedung.

"Pak Rofiq," Lily memulai dengan nada ragu. "Kenapa Bapak melakukan semua ini? Setelah saya mengatakan bahwa ada tembok di antara kita... kenapa Bapak tetap mendekat?"

Rofiq menatap lurus ke depan, ke arah kegelapan hujan. "Tembok itu kamu yang bangun, Lily. Saya tidak berniat melompatinya."

Lily mengernyit bingung. "Lalu?"

"Saya berniat mengetuk pintunya. Dan jika tidak ada pintu, saya akan menunggu di luarnya sampai pemiliknya sendiri yang membukanya," jawab Rofiq dengan suara yang sangat dalam, penuh wibawa seorang Gus. "Saya tidak mendekatimu sebagai Manajer PT Bhaskara yang ingin memiliki asisten. Saya mendekatimu sebagai seorang pria yang melihat jiwa yang serupa dengan jiwanya."

Lily terdiam seribu bahasa. Kalimat itu terlalu indah, terlalu tulus untuk ditolak dengan alasan "tata krama".

Hari-hari berikutnya, pendekatan Rofiq mulai menunjukkan hasil. Lily tidak lagi sekaku dulu. Meskipun di depan staf lain mereka tetap profesional, ada sebuah "rahasia" di antara tatapan mata mereka.

Rofiq mulai sering memberikan tugas yang mengharuskan Lily berdiskusi lama dengannya, namun diskusi itu selalu beralih menjadi diskusi tentang kehidupan, filsafat, dan Tuhan. Rofiq menceritakan tentang masa kecilnya yang dihabiskan di lingkungan yang sangat kental dengan tradisi dan pengabdian—ia hampir menyebut kata "pesantren", namun ia ganti dengan "sekolah tradisi".

Lily pun mulai terbuka. Ia menceritakan tentang kerinduannya pada ketenangan dan betapa ia sering merasa tertekan oleh ekspektasi besar yang ditaruh di pundaknya sejak lahir.

Suatu hari, Rofiq mengajak Lily untuk meninjau sebuah kegiatan bakti sosial di panti asuhan bawah naungan perusahaan. Di sana, Rofiq tidak berperan sebagai bos yang memberi perintah. Ia duduk di lantai bersama anak-anak, bercerita, bahkan tanpa sadar ia melantunkan sebuah sholawat lirih untuk menenangkan seorang anak yang menangis.

Lily yang berdiri di ambang pintu panti asuhan, terpana. Ia melihat sisi Rofiq yang sangat spiritual, sangat tulus. Dia bukan pria kota biasa, pikir Lily. Dia memiliki aura seorang pemimpin umat.

Pendekatan Rofiq yang perlahan namun pasti mulai meruntuhkan pertahanan Lily. Lily menyadari bahwa penolakannya dulu bukan karena ia tidak suka, melainkan karena ia takut rahasianya terbongkar. Namun bersama Rofiq, ia merasa rahasianya aman. Ia merasa Rofiq adalah satu-satunya orang di dunia korporat ini yang mampu "melihat" Lily yang sebenarnya—gadis yang mencintai Tuhan dan tradisi di balik segala kemewahan ningratnya.

Suatu sore, saat mereka sedang berjalan menuju parkiran, Lily berkata pelan, "Pak Rofiq... terima kasih sudah tidak menyerah."

Rofiq berhenti, menatap Lily dengan binar mata yang hangat. "Di tempat saya berasal, Lily, sesuatu yang berharga memang harus diperjuangkan dengan kesabaran. Dan kamu... jauh lebih berharga dari apa pun yang pernah saya temukan di gedung Bhaskara ini."

Lily tersenyum—kali ini bukan senyum formal, tapi senyum yang tulus hingga mencapai matanya. "Bapak juga... berbeda dari semua pria yang pernah saya kenal."

Rofiq tahu ia sudah selangkah lebih dekat. Dinding itu belum sepenuhnya runtuh, tapi pintu kecil di dalamnya mulai terbuka. Ia tidak lagi sekadar manajer bagi Lily, dan Lily bukan lagi sekadar anak magang baginya.

Mereka adalah dua jiwa yang sedang meniti jembatan di atas jurang rahasia masing-masing. Rofiq bertekad, suatu saat nanti, ia akan membawa Lily ke pesantrennya, menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya sebagai seorang Gus, dan saat itu terjadi, ia berharap Lily akan menyambutnya sebagai seorang Putri yang telah menemukan pelabuhan terakhirnya.

Di bawah lampu jalan Jakarta yang mulai menyala, Rofiq mengantar Lily menuju jemputannya dengan perasaan menang. Bukan menang karena kekuasaan, tapi menang karena ketulusan yang perlahan-lahan mulai memenangkan hati sang Putri Ningrat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Diantara Dua Tasbih   Sosok di Galeri Seni

    Kehancuran hati Lily tidak membuatnya menyerah pada keadaan, namun justru memicu sebuah pemberontakan batin. Ia merasa perlu membuktikan pada dirinya sendiri—dan pada Rofiq—bahwa perasaannya tidak harus terpenjara pada satu sosok "Gus" yang penuh rahasia itu. Lily ingin mencari udara segar, mencari seseorang yang benar-benar "biasa" tanpa beban tradisi, tanpa gelar agama yang berat, dan tanpa drama penyamaran.Selama beberapa bulan, Lily menarik diri sepenuhnya dari radar Rofiq. Ia tetap bekerja secara profesional, namun setiap kali jam kantor usai, ia segera menghilang. Ia mulai membuka diri pada lingkaran pertemanan baru di luar lingkungan PT Bhaskara.Dalam sebuah pameran seni kontemporer di pusat Jakarta, Lily bertemu dengan Arkan. Arkan adalah seorang fotografer lepas yang hidupnya sangat dinamis, santai, dan jauh dari kesan kaku. Ia tidak tahu apa itu Putri, ia tidak peduli pada protokol keraton, dan baginya, Lily hanyalah seorang wanita cantik dengan selera seni yang tinggi.Ba

  • Diantara Dua Tasbih   Puing - Puing Perasaan

    Kehancuran itu tidak datang dengan suara dentuman yang keras. Bagi Lily, kehancuran itu merayap sunyi, seperti kabut tebal yang perlahan-lahan mematikan warna di sekelilingnya. Setelah keluar dari ruangan Rofiq dengan mata sembab, koridor kantor PT Bhaskara yang biasanya terasa modern dan elegan, kini berubah menjadi lorong panjang yang menghimpit pernapasannya.Rini dan Wiwin mencoba menyapa, menanyakan apakah ia ingin ikut memesan kopi sore, namun Lily hanya menggeleng pelan dengan senyum tipis yang dipaksakan—sebuah senyum yang tidak sampai ke matanya yang meredup. Ia duduk di mejanya, namun tangannya gemetar saat menyentuh keyboard. Layar monitor di depannya hanya tampak seperti bintik-bintik cahaya yang tak bermakna.Lily merasa dikhianati oleh realita. Selama ini, ia mencintai Rofiq karena ia pikir pria itu adalah oase kesederhanaan di tengah gersangnya Jakarta. Ia jatuh cinta pada sosok manajer yang rendah hati, yang peduli pada hal-hal kecil, dan yang tampak "setara" dalam per

  • Diantara Dua Tasbih   Gerbang Kayu dan Gema Sholawat

    Akhir pekan itu, Lily memutuskan untuk melakukan perjalanan singkat ke wilayah Jawa Timur. Secara resmi, alasannya adalah mengunjungi salah satu kerabat jauh keluarga besarnya, namun di dalam hati, ia ingin mencari ketenangan dari hiruk-pikuk Jakarta yang belakangan ini terasa sangat emosional baginya. Hubungannya dengan Rofiq memang semakin manis, namun bayang-bayang jati diri yang ia sembunyikan masih sering menghantui tidurnya.Ia tidak pernah menyangka bahwa perjalanan "pelarian" ini justru akan membawanya pada sebuah kenyataan yang akan mengubah seluruh sudut pandangnya terhadap pria yang ia cintai.Mobil hitam yang membawa Lily melaju perlahan menembus jalanan aspal yang diapit oleh hamparan sawah hijau di daerah Jombang. Udara terasa jauh lebih sejuk dan bersih. Saat mobil berbelok ke arah sebuah jalan yang lebih kecil namun ramai oleh lalu lalang pemuda berbaju koko dan bersarung, Lily mulai merasa ada atmosfer yang berbeda."Pak, ini daerah apa ya? Ramai sekali anak muda paka

  • Diantara Dua Tasbih   Pengakuan di Balik Tirai Hujan

    Suasana di lantai empat kantor pusat PT Bhaskara sore itu terasa jauh lebih lengang dan sunyi dari biasanya. Jarum jam baru saja melewati angka lima, dan sebagian besar karyawan divisi operasional telah bergegas turun menuju basemen atau stasiun MRT terdekat, menghindari puncak kemacetan Jakarta yang terkenal kejam.Di luar sana, langit ibu kota yang semula abu-abu pekat kini mulai menumpahkan bebannya. Hujan rintik-rintik yang konsisten mulai membasahi permukaan kaca jendela besar yang membentang dari lantai hingga langit-langit ruangan. Bulir-bulir air berkejaran, menciptakan aliran sungai kecil di atas permukaan kaca, sekaligus membiaskan lampu-lampu jalanan metropolitan yang mulai menyala satu demi satu. Suasana melankolis yang tenang dan dingin perlahan merayap, menguasai setiap sudut ruangan kubikel yang mulai ditinggalkan penghoninya.Rofiq berdiri tegak di depan jendela ruang kerjanya yang luas. Kedua tangannya terbenam di saku celana kainnya, menatap lurus ke arah luar, menya

  • Diantara Dua Tasbih   Tameng di Ruang Arsip

    Pov LilyAroma kertas tua, lem jilid yang mengering, dan debu yang mengendap bertahun-tahun langsung menyergap indra penciumanku begitu pintu kayu tebal itu tertutup. Di luar, riuh rendah suara mesin tik elektrik, dering telepon yang tak putus-putus, dan tawa sinis Sarah seolah terputus oleh sekat dinding beton yang tebal. Di dalam ruangan berukuran empat kali enam meter ini, hanya ada keheningan. Kesunyian yang sunyi, namun anehnya, entah mengapa terasa jauh lebih manusiawi daripada kubikel kerjaku di luar sana.Aku terduduk di atas sebuah kursi kayu jengki tua yang diletakkan di sudut ruangan. Kedua lututku bergetar hebat. Di balik rok batik tulis motif semen rama yang kupakai, kakiku terasa seperti kehilangan seluruh tulangnya. Aku mencengkeram tepian meja kayu dengan kuku yang memutih, mencoba menahan tubuhku agar tidak merosot ke lantai kayu yang dingin."Napas, Lily. Atur ritmenya. Jangan biarkan pikiranmu menguasai jantungmu," sebuah suara berat, datar, namun penuh dengan penek

  • Diantara Dua Tasbih   Kembali Ke Dunia yang Dingin

    "Setiap menit adalah perjuangan, dan setiap perjuangan layak dijaga." - LilyPintu kaca otomatis PT Bhaskara terbuka dengan desis halus yang sama, suara yang kini terdengar seperti peringatan di telingaku. Udara AC yang kering langsung menerpa wajahku, membawa aroma kertas, tinta printer, dan kopi instan yang kuat—aroma dunia korporat yang dingin. Seharusnya aku merasa biasa saja, namun setiap langkah yang kuambil menuju lift terasa seperti sedang mendaki gunung yang sangat terjal. Jantungku, benda kecil yang hampir menyerah beberapa hari lalu, berdenyut dengan irama yang waspada. Aku bisa merasakannya di balik blazer biru dongkerku, seolah ia sedang berbisik: Hati-hati, Lily. Jangan terlalu bersemangat.Aku menatap pantulan diriku di pintu lift yang mengkilap. Wajahku dipulas riasan yang sedikit lebih tebal dari biasanya, usaha sia-sia untuk menyembunyikan pucat yang masih tersisa di bawah mataku. Rambutku kusemprot dengan sedikit lebih banyak hairspray agar nampak rapi sempurna, seb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status