INICIAR SESIÓNDinamika di kantor PT Bhaskara berubah menarik setelah insiden "gudang dan kantin". Lily, yang kini memiliki lingkaran pertemanan berkat skenario rahasia Rofiq, mulai menjadi primadona di divisinya.
Namun, ada satu hal yang disadari semua orang: ada chemistry yang tidak biasa antara Pak Manajer yang dingin dan si anak magang yang anggun.
Rini, Siska, dan Wiwin, tiga sekawan yang paling getol mengamati mulai melancarkan aksi "perjodohan korporat".
Semuanya bermula dari makan siang di pantri. Rofiq yang biasanya makan di ruangannya, akhir-akhir ini lebih sering keluar untuk membuat kopi saat Lily berada di sana.
"Duh, lihat deh," bisik Siska sambil menyenggol lengan Rini. "Pak Rofiq kalau lihat Lily tuh matanya beda, ya. Nggak kayak lihat laporan bulanan. Ini mah lebih kayak... lihat pemandangan gunung yang adem."
Wiwin, yang tidak punya rem kalau bicara, langsung menyeletuk saat Rofiq berdiri di dekat mesin kopi. "Pak Rofiq, mumpung lagi di sini, nih, cobain donat buatan Lily. Katanya khusus buat orang-orang yang sudah baik sama dia. Bapak kan yang paling baik, ya nggak?"
Rofiq menoleh. Ia melihat Lily yang menunduk malu sambil menata donat. Alih-alih menegur, ia melangkah mendekat.
"Begitu ya? Kalau begitu saya harus coba satu," ujar Rofiq dengan suara rendah yang membuat Siska dan Rini hampir memekik tertahan.
Rofiq mengambil satu donat, lalu menatap Lily sekilas. "Terima kasih, Lily. Saya hargai perhatiannya."
Lily hanya menjawab dengan anggukan sangat sopan, hampir seperti sembah yang halus. "Sama-sama, Pak."
Sejak saat itu, suasana kantor menjadi riuh oleh godaan-godaan halus. Setiap kali Lily mengantar dokumen ke ruangan Rofiq, teman-temannya akan memberikan sorakan pelan.
"Cie, yang mau menghadap Kanjeng Gusti Manajer," goda Wiwin.
"Hush, Mas Wiwin. Tidak baik begitu," tegur Lily dengan halus, meski wajahnya memerah.
Di sisi lain, Rofiq menunjukkan sikap yang membuat seisi kantor semakin yakin. Ia tidak pernah membantah saat Rini bercanda, "Pak, kalau Lily sudah selesai magang, jangan dilepas ya. Jadikan asisten pribadi atau asisten hidup juga boleh."
Rofiq hanya tersenyum tipis, seolah memberikan lampu hijau. Sebagai seorang Gus, ia merasa tenang karena tahu ia memang memiliki niat baik.
Baginya, perjodohan dari teman-teman ini adalah "angin segar" yang memudahkannya berada di dekat Lily tanpa harus mencari alasan profesional.
Namun, di tengah hiruk-pikuk dukungan satu kantor, Lily tetaplah Lily; seorang putri dengan kendali diri luar biasa. Baginya, situasi ini mulai mengkhawatirkan. Bukan karena ia membenci Rofiq justru sebaliknya, ia merasakan getaran kuat setiap kali mata mereka bertemu tetapi karena ia sadar akan jati dirinya.
Bagaimana mungkin seorang putri ningrat dari Trah Sekar Kedaton menjalin hubungan di tempat magang dengan seorang manajer? pikirnya gelisah.
Suatu sore, saat Lily merapikan berkas di meja fotokopi, Nardi menghampirinya. "Ly, jujur deh. Kamu suka kan sama Pak Rofiq? Dia itu paket lengkap, lho. Mapan, ganteng, wibawanya itu lho... kayak ada aura-aura pemimpin besar. Sayang banget kalau kamu nggak kasih lampu hijau."
Lily tersenyum tulus tetapi menyimpan jarak sejuta mil.
"Mas Nardi," suara Lily terdengar lembut, tetapi mantap. "Pak Rofiq itu orang yang luar biasa baik. Beliau adalah atasan yang sangat saya hormati. Tetapi, saya di sini untuk belajar. Lagi pula, ada banyak hal yang tidak terlihat oleh mata yang membuat saya merasa kami mungkin berada di dunia yang berbeda."
"Ah, masa sih? Sekarang zamannya cinta beda dunia juga bisa bersatu, Ly!" bantah Nardi gemas.
"Bukan begitu, Mas," Lily terkekeh kecil. "Saya hanya merasa, membiarkan beliau tetap menjadi 'Pak Rofiq yang dikagumi semua orang' adalah hal terbaik untuk saat ini. Saya tidak ingin merusak tatanan yang sudah ada."
Malam itu, Rofiq sengaja menunggu Lily di lobi. Saat Lily keluar, Rofiq menghampirinya.
"Teman-teman di dalam sepertinya sangat ingin kita sering menghabiskan waktu bersama, Lily," ujar Rofiq, memancing reaksi.
Lily berhenti melangkah. Ia menatap Rofiq dengan tatapan jernih. Di bawah lampu lobi, ia terlihat cantik sekaligus tak terjangkau.
"Pak Rofiq," panggil Lily dengan nada yang membuat Rofiq tersentak karena berubah sangat formal. "Saya sangat berterima kasih atas semua kebaikan Bapak. Saya tahu Bapaklah yang membuat saya merasa nyaman di kantor ini."
Lily menarik napas perlahan. "Namun, mengenai apa yang dibicarakan teman-teman, saya mohon maaf jika sikap saya selama ini memberikan harapan yang salah. Bapak adalah sosok yang sangat mulia, dan saya hanyalah anak magang yang sedang menumpang lewat. Ada tembok yang saya sendiri pun tidak berani untuk melompatinya, Pak."
Rofiq terdiam. Ia bisa merasakan penolakan itu. Halus, sangat sopan, tetapi tegas. Ia melihat Lily menunduk hormat, lalu berjalan menuju mobil jemputannya tanpa menoleh lagi.
Rofiq berdiri mematung. Penolakan Lily tidak membuatnya patah hati, tetapi justru semakin terpana. Dia menolakku karena dia menjaga kehormatannya sebagai seorang putri, batin Rofiq.
Sebagai seorang Gus, ia sangat menghargai prinsip. Penolakan Lily membuktikan bahwa gadis ini bukan sembarang perempuan yang mudah luluh oleh jabatan atau ketampanan. Lily adalah wanita dengan prinsip hidup yang teguh.
Rofiq menatap mobil Lily yang perlahan menghilang di keramaian. Ia tidak akan menyerah, tetapi caranya harus berubah. Ia tidak bisa lagi menggunakan bantuan teman-teman kantor atau kekuasaannya sebagai manajer.
"Kalau kamu menolak Manajer PT Bhaskara, mari kita lihat bagaimana caramu menolak seorang Gus, Lily," bisik Rofiq pada kegelapan malam.
Perjodohan di kantor mungkin gagal karena penolakan halus Lily, tetapi di mata Rofiq, ini hanyalah babak baru dari perjuangan yang lebih besar. Perjuangan untuk meruntuhkan tembok istana yang dibangun Lily di sekeliling hatinya.
Esok harinya, Lily kembali bekerja seperti biasa. Ia tetap ramah dan sopan, tetapi ada batasan tak kasat mata yang ia bangun lebih tebal. Sementara itu, Rofiq duduk di ruangannya, membuka sebuah kitab lama.
Ia sedang mencari waktu yang tepat untuk mengungkapkan jati dirinya, bukan sebagai atasan Lily, melainkan sebagai pria yang memiliki akar spiritual yang sama dengannya.
"Tembokmu tinggi, Lily. Tetapi tidak ada tembok yang tidak bisa ditembus oleh doa," gumam Rofiq sambil tersenyum tenang.
Sore itu, PT Bhaskara seolah sedang diuji oleh alam. Langit Jakarta yang tadinya muram mendadak tumpah dalam hujan badai yang disertai petir yang menggelegar. Di dalam kantor, suasana masih sibuk, hingga sebuah ledakan kecil terdengar dari rubanah. Seketika, seluruh cahaya padam. Bunyi dengung mesin pendingin ruangan mati, menyisakan keheningan yang mencekam sebelum akhirnya sirine darurat melolong panjang, membelah kepanikan."Perhatian, terjadi kegagalan sistem listrik total. Seluruh staf diminta meninggalkan gedung melalui tangga darurat sekarang juga. Jangan gunakan lift!"Suara pengeras suara darurat itu terdengar parau dan mendesak. Rofiq segera keluar dari ruangannya. Sebagai manajer, sekaligus seorang Gus yang dididik untuk selalu bertanggung jawab atas nyawa orang lain, ia langsung mengambil kendali. Dengan lampu senter dari ponselnya, ia mulai mengarahkan staf yang panik."Tenang! Semua ke arah tangga darurat! Jangan berdesakan!" teriak Rofiq tegas.Namun, di tengah hiruk-pi
Setelah penolakan halus Lily di lobi malam itu, suasana di PT Bhaskara seolah diselimuti kabut tipis yang canggung. Lily tetap bekerja dengan dedikasi tinggi, namun ia mempertebal dinding pembatasnya. Ia tidak lagi banyak bercanda dengan Rini atau Wiwin jika ada Rofiq di dekat sana. Ia kembali menjadi "Putri" yang menjaga jarak aman.Namun, Rofiq bukanlah pria yang mudah menyerah. Sebagai seorang Gus, ia dididik untuk memiliki kesabaran setebal kitab-kitab klasik di perpustakaan ayahnya. Jika pendekatan sebagai "Manajer" ditolak karena alasan profesionalisme dan kasta kantor, maka Rofiq memutuskan untuk mendekati Lily dengan cara yang lebih murni—melalui frekuensi jiwa yang sama.Rofiq menyadari bahwa Lily adalah sosok yang hanya bisa disentuh hatinya melalui ketulusan, bukan jabatan. Ia mulai mengubah strateginya. Ia tidak lagi menggunakan "kekuasaan" untuk memanggil Lily ke ruangannya, melainkan mulai hadir di ruang-ruang di mana Lily merasa paling menjadi dirinya sendiri.Suatu sian
Dinamika di kantor PT Bhaskara berubah menarik setelahinsiden "gudang dan kantin". Lily, yang kini memiliki lingkaranpertemanan berkat skenario rahasia Rofiq, mulai menjadi primadona di divisinya.Namun, ada satu hal yang disadari semua orang: ada chemistryyang tidak biasa antara Pak Manajer yang dingin dan si anak magang yang anggun.Rini, Siska, dan Wiwin, tiga sekawan yang paling getolmengamati mulai melancarkan aksi "perjodohan korporat".Semuanya bermula dari makan siang di pantri. Rofiqyang biasanya makan di ruangannya, akhir-akhir ini lebih sering keluar untukmembuat kopi saat Lily berada di sana."Duh, lihat deh," bisik Siska sambil menyenggollengan Rini. "Pak Rofiq kalau lihat Lily tuh matanya beda, ya. Nggak kayaklihat laporan bulanan. Ini mah lebih kayak... lihat pemandangan gunung yangadem."Wiwin, yang tidak punya rem kalau bicara, langsungmenyeletuk saat Rofiq berdiri di dekat mesin kopi. "Pak Rofiq, mumpunglagi di sini, nih, cobain donat buatan Lily. Katanya
Sejak malam gema surah Ar-Rahman itu memenuhi lorongsepi PT Bhaskara, pikiran Rofiq tidak pernah lepas dari sosok Lily. Adateka-teki yang jauh lebih rumit daripada laporan audit mana pun. Sebagai seorang Gus yang terbiasa membaca karaktermelalui gerak-gerik dan batin, Rofiq tahu Lily bukanlah sekadar mahasiswimagang biasa dari desa.Ketelitian tajwid-nya, cara membawa diri, hinggasorot matanya yang tenang di bawah tekanan menunjukkan didikan kelas tinggi.Rofiq mulai merasa bahwa ia bukan satu-satunya orang yang mengenakan"topeng" di gedung ini.Pagi itu, Rofiq duduk di kursinya, memutar-mutar pulpen,teringat pada kotak teh kayu yang diberikan Lily. Ia mengambil kotak itu darilaci, menghirup aromanya. Cendana dan melati. Itu bukan aroma teh swalayan. Itu aromaspesifik yang biasa ia temui saat berkunjung ke kediaman para sesepuh diYogyakarta atau Solo.Rofiq memanggil Wiwin. "Win, kamu bilang Lily ituasalnya dari mana?"Wiwin yang sedang mengunyah gorengan tampak berpikir.
Gedung PT Bhaskara pada pukul tujuh malam adalah labirinbeton yang sunyi. Lampu sensor di lorong utama meredup, menyisakan pencahayaanminimal yang memantul pada lantai marmer. Kesibukan siang hari telah menguap, menyisakan aromapembersih lantai dan dengung mesin pendingin. Rofiq masih tertahan diruangannya. Baginya, kesunyian kantor adalah waktu terbaik untuk merenung. Namun, malam itu, ada sesuatu yang memecah konsentrasinya.Ia baru saja keluar untuk mengambil botol minum ketika langkahnya terhenti dipersimpangan koridor menuju ruang staf magang.Sebuah suara menyusup ke indranya. Halus, jernih, danmemiliki getaran yang merambat hingga ke tulang rusuk. Itu bukan suara musikatau gumaman telepon. Itu adalah tartil Alquran. Seorang Gus seperti Rofiq, yang telinganya telahdibasuh ribuan lantunan ayat suci sejak kecil, tahu persis bahwa ini adalahbacaan yang lahir dari kedalaman teknik makharijul huruf yang sempurnadan penghayatan yang menyayat hati.Rofiq melangkah tanpa su
Gedung PT Bhaskara yang menjulang di pusat kota selaluterasa seperti mesin raksasa yang tak pernah berhenti berputar. Di lantaiempat, ego dan ambisi sering kali beradu lebih kencang daripada suara keyboard.Di tengah hiruk-pikuk itulah, Rofiq menjalankan perannyadengan sempurna. Tidak ada yang tahu bahwa di balik penampilan modernnya, iaadalah seorang Gus. Putra pemilik pesantren besar yang sedang mencicipi dunialuar agar kelak bisa memimpin santrinya dengan wawasan luas. Karena itulah,nuraninya selalu peka terhadap ketidakadilan.Pagi itu, perhatian Rofiq tertuju pada Lily. Gadis ituterlalu tenang, terlalu sopan, dan gerak-geriknya sangat terjaga. Bagi karyawanlain, Lily dianggap "kaku". Namun bagi Rofiq, Lily terlihat kesepian.Rofiq tahu ia tidak bisa langsung menghampiri Lily.Statusnya sebagai manajer akan membuat gadis itu semakin tertekan dan memicugosip. Maka, ia memerlukan strategi tangan tak terlihat.Ia memanggil Wiwin, staf junior dari bagian logistik yangramah







