Home / Romansa / Diary Dira / keempat🍂

Share

keempat🍂

Author: Dillah_whj
last update publish date: 2026-04-29 12:29:48

Wita masih menjadi pendengar yang baik, membiarkan Mbaknya itu meluapkan segala hal yang menyita kewarasannya itu. Tanpa berniat untuk menyela perkataan yang tengah disampaikan.

"Mbak sayang dek sama Raffa, Mbak cinta banget ke dia. Bahkan Mbak rasa separuh jiwa mbak memang ada di dia. Tapi disisi lain mbak ga bisa egois dek ngebuat seorang anak yang menjadi durhaka terhadap ibunya. Mbak boleh egois ga sih dek buat minta Raffa untuk tetap ada untuk Mbak? tapi mbak juga ga mau egois dek kalau harus buat Raffa jadi anak yang durhaka."

Dira tersenyum tipis "Apa seengga pantes itu ya dek Mbak buat Raffa? Apa Mbak begitu buruk untuk bersanding dengan lelaki setulus Raffa? Atau justru memang Mbak ga ditakdirkan untuk bahagia ya dek?" akhirnya tangis Dira bisa berhasil pecah. Air mata yang beberapa hari ini selalu ia tahan untuk menutupi kesedihan yang dialaminya.

Tapi sepertinya Dira lupa, jika ia tidak akan bisa memakai seribu topeng untuk menutupi kesedihan nya itu jika sudah dihadapan seorang Wita.

Wita berdiri, memeluk erat tubuh Dira yang mulai bergetar akibat tangis hebat yang akhirnya ia tumpah kan juga.

"Siapa bilang Mbak ga berhak bahagia? Bilang sama Wita Mbak orang yang bilang seperti itu!"

"Mbak, setiap manusia itu diciptakan bukan hanya untuk mengalami beribu penderitaan. Kebahagiaan pasti akan dirasakan oleh setiap manusia, termasuk juga mbak. Jangan pernah berpikir kalau mbak gak berhak untuk bahagia."

"Mbak gak salah kalau memang membuat Mas Raffa durhaka ke mamanya, itu bukan salah Mbak sama sekali, itu salah takdir yang menyatukan Mbak dan Mas Raffa dengan cara yang lumayan rumit. Mbak kita ga tahu loh apa rencana takdir, entah mungkin saja kan suatu saat nanti hati mamanya Mas Raffa bisa terketuk untuk menerima Mbak dengan lapang dada. Mbak hanya cukup sabar dan terus berdoa.Meminta ke Allah agar hatinya mamanya Mas Raffa segera terketuk untuk bisa menerima Mbak. Kita memang boleh berusaha sekeras tenaga Mbak, sisanya kita serahkan kembali kepada sang pemilik segalanya, yang bisa membolak-balikan hati manusia."

Dira perlahan mulai merasa tenang dengan kalimat-kalimat nasehat dari Wita.

"Makasih banyak ya Wit kamu sudah bersedia dengerin curhatan Mbak. Maaf juga ya selama ini Mbak sudah banyak ngerepotin kamu dan juga Bude."

Wita menggeleng kan kepala nya "Mbak jangan ngomong gitu, aku justru senang bisa jadi tempat curhatan mbak, Mbak Dira sama sekali engga pernah ngerepotin aku atau pun Mami. Kita senang sekali setiap dimintai tolong sama mbak Dira. Kan kita keluarga, jadi jangan sungkan untuk salinh mengulurkan tangan."

"Kamu engga laper lagi?" tanya Dira sambil mengelap sisa air matanya dengan tisu.

Wita menggeleng kan kepalanya "Masih laper banget lho Mbak!"

"Trus kenapa spaghetti nya engga dihabisin?"

"Gimana mau ngabisin wong mbak aja tadi lagi nangis, ga mungkin kan mbak ku nangis tapi aku malah enak-enak makan."

Dira menyengir "Maafin Mbak deh, kalau gitu mau mbak masakin lagi gak sebagai gantinya?"

"Enggak usah deh mbak, spaghetti ini aja masih enak kok. Sayang kalau mbak masak lagi."

"Yaudah kalau gitu mbak bantu angetin lagi aja."

"Mau jus alpukat ga? Kemarin mbak beli alpukat banyak tapi belum sempat dimakan."

"Mau Mbak! tapi biar aku aja yang buat sendiri. Mbak angetin makanannya aja."

Untuk menghilangkan rasa sedih yang tadi sempat melanda Dira.

Wita mengajak Dira untuk melakukan perawatan diri saja dirumah, dengan cara mengajak kakak angkat nya itu untuk maskeran bersama lalu dilanjutkan dengan menonton film horor secara bersama.

"Ikh Wit, jangan film yang ini dong! Mbak takut nanti enggak berani tidur sendiri."

"Bilang aja mbak memang lagi mau ditemenin tidur," cibir Wita yang dibalas cengiran oleh Dira.

"Nginep sini ya Wit! Mbak lagi gak berani buat sendiri."

"Iya-iya deh."

"Aaaaaaa, Witaaa itu hantunya muncul. Tutupin mbakk!" teriak Dira yang ketakutan

"Mbak jangan deket-deket! entar masker nya lengket dibaju aku."

"Lagian kamu juga salah! malah ngajak nya film begini, udah tau mbak orang nya penakut."

Dira meraih laptop nya untuk mengganti film "Ganti aja deh, cari film yang lebih seru!"

Wita ngikut saja, cari aman dari pada entar masker yang diwajah Dira justru berpindah ke bajunya itu.

"Aaaaaa Mbak Diraaa," teriakan Wita membuat Dira kaget bahkan sampai hampir membuat laptop yang ada dipangkuan nya hampir terjatuh.

"Apa an sih Wit? Kamu buat mbak jantungan aja."

"Liat deh!" Wita menunjukkan laman aktvitas pada akun i*******m nya,

Mata Dira memicing mencari sumber dari yang membuat Wita berteriak tadi,

"Kenapa? Mbak gak ngerti."

"Lihat deh mbak! lihat deh ini sebuah keajaiban," kata Wita dengan raut wajah takjub.

"Keajaiban? Keajaiban apa an? Kamu di follow sama gebetan mu? Atau diajak jalan bareng? "

"Bukan mbakk!"

"Trus apa dong? Mbak gak ngerti deh Wit sumpah, kasih tau aja deh!"

Wita lantas membuka laman i***a story di i***agram,

Mata Dira melotot kaget melihat video dirinya yang tengah memasak telah terpajang di i***a story Wita.

"Astaghfirullah Wit, kurang ajar yaa kamu malah masukin Mbak ke Sg. Hapus ga!! Itu maluin loh Wit muka Mbak lagi berantakan juga."

"Gapapa Loh Mbak.  Masih tetap cantik kok. Buktinya ini dapat like dari abang sepupu aku."

"Maksudnya?"

"Ini nih yang aku maksud buat aku bahagia loh mbak, aku kaget gak biasanya nih manusia purba ngeliat sg aku eh apa lagi sampai ngelike gini"

"Nge-like nge-like apa an? Mbak ga mau tau, hapus gak!! malu loh Wit muka mbak lagi berantakan juga."

"Gak mau!! Sayang lho Mbak. Ini tuh sebuah keajaiban Mas Kai ngeliat Sg aku apa lagi sampai dilike."

"Mbak ga mau tau, hapus pokoknya!!"

"Yah jangan toh Mbak, sayang kalau di hapus."

"Ini tuh cerita nya enak dikamu tapi rugi untuk Mbak!"

"Cafe baru deh. Besok aku traktir dicafe baru yang tadi sore aku kunjungin."

Dira diam menimang tawaran dari Wita.

"Gimana Mbak? mau ga? tempat nya bagus loh. Itung itung bisa ngilangin setres deh."

"Yauda deh Mbak mau, tapi bebas kan mau pesan apa aja."

"Hmm, iya tapi ga usah melunjak yah modelnya."

Ting

Kedua bola mata Wita melebar sempurna, kalah melihat notifikasi pesan yang benar-benar mengejutkan dirinya.

"Kenapa Wit?"

"Omaygat ini sebuah keajaiban dunia mbakk, demi apa ini ya Allah akhirnya Mas ku udah mulai."

"Kamu kenapa sih Wit? Mbak bingung liat tingkah mu ini teriak-teriak kayak orang gila gini. Ga enak kalau sampai didengar tetangga."

"Lihat deh Mbak! Mas ku tiba-tiba aja kirim pesan nanyain tentang perempuan yang di sg aku. Yang gak lain yah mbak sendiri."

Buru-buru Dira merebut ponsel Wita dari sang pemilik nya.

Mata Dira menyipit sempurna usai membaca sebuah pesan yang memang dikirim Mas nya Wita itu.

"Gimana mbak? Aneh kan mas ku. Tumben tiba-tiba dia notice sg aku apa lagi sampai ngechat nanyain tentang sg ku juga."

"Mungkin orang nya lagi gabut kali," kata Dira mencoba untuk berpikir positif.

Wita seperti tampak tengah berpikir "Bukan Mbak! ini kayaknya memang sebuah pertanda deh."

"Pertanda apa'an?"

"Hmm yah pertanda gitu deh pokoknya."

"Udah akh jangan main asal nebak, takutnya ujung nya malah jadi enggak baik."

"Iya juga sih Mbak. Tapi mbak aku ada ide bagus deh."

"Apa?" alis Dira terangkat sebelah.

"Dari pada Mbak pusing dibuat Mas Raffa. Gimana kalau mbak sama mas ku aja? lumayan lho Mbak orang nya oke, tampan iya, mapan juga iya, kalau soal attitude sama keagamaan nya udah bisa acungin jempol deh."

Dahi Dira berkerut mendengar penuturan ngawur dari Wita.

"Apa an sih Wit, kamu ngawur terus dari tadi."

"Ini bukan ngawur lho Mbak! aku ngasih ide yang bagus untuk masalah mbak kali ini. Aku gak tega lho liat mbak harus sedih-sedih gini, jadi mending sama Mas aku aja yang sangat-sangat oke. Tenang orang nya 11 12 kok sama Mas Rafa, jadi Mbak gak bakal susah buat moveon nya."

"Astagfirullah Wit, Mbak gak sejahat itu juga kali pakai acara manfaatin orang buat bisa moveon dari Raffa."

"Sini deh mbak lihat foto orang nya. Aku yakin deh mbak pasti bakal tergiur deh."

"Apa'an sih, kirain apa an kali coba pakai tergiur segala."

Tapi nyatanya lain di mulut lain pula dihati, buktinya Dira tetep terpincut untuk melihat foto yang dimaksud Wita.

'Masyallah tampannya' batin Dira melihat yang terpesona dengan foto sepupu dari Wita.

Sepupu Wita itu terlihat sangat tampan nan gagah dengan balutan seragam loreng pada tubuh nya,

Ditambah dengan wajah sangar nya khas seorang prajurit, nyatanya tetap tidak menghilangkan kesan tampan yang memang sudah ada sejak lama.

"Gimana mbak? Lumayan kan orang nya?"

"Hmm."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Diary Dira   ketujuh belas 🍂

    Kaki terasa berat dalam melangkah, berjalan lunglai tak tentu arah. Hari ini terasa begitu lelah, dalam menghadapi dunia yang penuh dengan drama.Tepat saat kakinya berhasil sampai di dalam apartemen. Tubuh itu langsung ambruk di lantai yang terasa dingin. Masih dengan seragam kebanggaan yang tersemat gagah dan juga koper yang senantiasa menemani dalam tiap momen duka maupun indah.Keheningan apartemen yang biasanya menenangkan, kini justru terasa menghimpit. Dira meringkuk di atas lantai dingin, menyandarkan kepalanya pada koper yang masih berdiri tegak di sampingnya—koper yang menjadi saksi bisu betapa ia telah berlari terlalu jauh, terbang terlalu tinggi, hanya untuk melarikan diri dari luka yang tak kunjung sembuh.Di atas sana, ribuan kaki di udara, ia bisa berpura-pura menjadi Dira yang tangguh, Dira yang selalu siap melayani dengan ramah, dan Dira yang tidak punya beban apa pun. Namun, begitu roda pesawat menyentuh landasan dan tugasnya usai, topeng itu retak. Schedulenya yang

  • Diary Dira   keenam belas🍂

    "kopi mulu dari tadi, Mbak," celetuk Sani yang datang membawa kukies di nampan.Dira hanya tersenyum sebagai tanggapan. Satu alisnya terangkat melihat nampan yang di bawa oleh Sani. "Kenapa kok dibalikin, San? Engga cocok sama cookiesnys?"Sani mengangguk lesu, hari ini ia mendapatkan penumpang yang lumayan rewel hingga membuat dirinya kewalahan dalam menghadapi. Maklum dirinya masih baru, dengan jam terbang yang terbilang minim. Jadi jika menghadapi penumpang seperti itu masih lumayan kaget dan butuh waktu penyesuaian."Iya, Mbak. Tadi penumpang yang kursi 4F minta diambilin cookies buat anaknya. Eh, pas udah aku anter malah dianya marah-marah gajelas lah. Katanya kukies nya engga sesuai standar yang dia mau, anaknya bisa sakit gigi kalau makan cookies ini," ucap Sani dengan raut wajah frustasi. Mengingat bagaimana penumpang tadi memaki nya saat ia mencoba memberikan penjelasan terkait cookies, atau bahkan saat ia berusaha untuk mengganti menu yang dipesan.Dira mengangguk paham. Mem

  • Diary Dira   kelima belas🍂

    Lampu kabin sudah diredupkan, sebagian penumpang sudah terlelap dalam selimut mereka. Menyisakan suara dengung pesawat yang konstan dan menenangkan. Ini adalah moment yang digunakan para kru untuk istirahat atas keriwehan penumpang yang membuat mumet.Di dekat pintu darurat R1, Dira duduk di jump sheat. Mengunci tubuh kecilnya dari lonjakan yang mungkin akan tiba. Kedua matanya terpejam, tapi tidak dengan isi kepala.Mencoba mencari ketenangan dalam hening yang melanda.Perlahan-lahan kelopak mata itu tampak bergerak. Menyisir cahaya kecil yang menusuk mata. Tangannya mulai bergerak, menyusuri isi saku untuk mencari benda pipih yang mengusik pikirannya sejak tadi.Layar itu hidup kembali, menampilkan gambar sepasang kekasih yang tersenyum dengan happy. Tanpa sadar satu sudut bibirnya terangkat, mengukir senyum miris menatap layar ponsel yang memancing sakit hati.Pelan tapi pasti, si kristal bening kembali jatuh tanpa henti. Satu tangan Dira meremas ujung seragam tanpa disadari. Rasa

  • Diary Dira   keempat belas 🍂

    Pagi itu, rintik hujan mulai turun. Mengguyur kota Jakarta yang padat tanpa kenal waktu. Suara air hujan yang bersentuhan dengan kaca, bagai sebuah ketukan dengan melodi yang kontras. Sebuah simfoni tenang yang justru memacu detak jantung tanpa kenal waktu. Di saat orang-orang dengan gencarnya menarik selimut menutupi tubuh, dengan dinginnya suhu yang menggigit tubuh. Lain halnya pula dengan Faldira Winara, sipramugari cantik yang harus segera bersiap karena penerbangan yang sudah menunggu. Rintik yang tadi malu-malu kini berupa menjadi rintik yang rapat. Menciptakan tabir air yang membungkus bandara Soekarno-Hatta. Di area parkir terbuka, sebuah sedan putih mutiara membelah genangan yang menghiasi jalan. Lampu LED nya menembus kabut tipis seperti mata pemangsa yang tajam. Mobil itu berhenti dengan halus. Snowflake White Pearl—warna bodi mobil itu tampak berkilau meskipun di bawah langit yang redup, memantulkan sisa-sisa lampu jalan yang masih menyala. Di balik kemudi, Dira menar

  • Diary Dira   ketigabelas 🍂

    Tiga hari telah berlalu. Waktu paling sulit bagi Dira mencoba untuk merangkak melewati duri-duri tajam yang menekan hulu hatinya.Getaran alarm di atas nakas kayu memaksa tubuh yang baru saja terbaring selama tiga jam itu untuk terbangun. Dira tidak langsung bangun, ia menatap langit-langit kamar selama beberapa detik. Matanya terlihat merah, pertanda jika tidurnya hanya berupa pingsan sesaat.Satu tangan terulur mematikan alarm dengan gerakan mekanis. Tidak ada helah napas, tidak ada keluhan, Ia langsung bangkit duduk di tepi ranjang. Membiarkan kaki jenjangnya menyentuh dinginnya lantai.Tubuhnya terasa ringan bagai sebuah kapas, sedangkan kepalanya terasa seperti timah.Menghabiskan waktu beberapa menit untuk membersihkan diri, kini Dira telah duduk dimeja rias dengan lampu lighting yang menyala. Mengekspos tiap detail kehancuran diwajahnya.Lingkar hitam dibawah matanya terlihat jelas, kulit dan bibir yang pucat transparan. Tangan Dira bergerak mengambil botol concealer. Dengan ge

  • Diary Dira   keduabelas 🍂

    "Beneran Mbak?" Terdengar ada keraguan dari Doni."Iya Ayah. M.bak beneran engga apa-apa kok.""Kalau ada apa-apa cerita sama Ayah ya mbak! jangan apa-apa itu disimpen sendiri. Cerita sama Ayah, biar hatinya sedikit tenang."DammPerkataan sang ayah seperti sebuah palu yang memukul paksa hatinya. Dalam hatinya, beribu maaf dilontarkan Dira atas kebohongan yang terpaksa ia sembunyikan."Iya Ayah, pokoknya ayah tenang aja. Mbak baik-baik aja kok, kalaupun mbak ada masalah pasti Mbak bakal langsung cerita ke arah," cengir Dira"Oh iya Mbak, ngomong-ngomong kabar nya Raffa gimana?"DegNama itu disebut, Dira memejamkan mata rapat-rapat. Membiarkan satu tetes air mata jatuh tanpa suara."Soalnya kemarin itu Ayah sempet telpon, tapi engga dijawab sama dia. Biasanya kalau telpon Ayah engga dijawab dia bakal langsung ngewhatsap Ayah, tapi ini tumbenan."Dira tertawa pelan"ya iyalah dia engga jawab telpon ayah. Kan sekarang dia lagi sibuk ngurusin acara pernikahannya.""Ada apa mbak?""Egh eng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status