Accueil / Mafia / Diary Mafia yang hilang / Bab 1 Melarikan diri

Share

Diary Mafia yang hilang
Diary Mafia yang hilang
Auteur: noeha_noe

Bab 1 Melarikan diri

Auteur: noeha_noe
last update Dernière mise à jour: 2023-11-26 03:58:19

Malam hari di musim semi, Camelia gelisah di kamarnya. Dia remas buku-buku jemarinya yang penuh bekas luka. Badannya gemetar mengingat seluruh rasa sakit yang ia terima dari lelaki yang sayangnya adalah suaminya sendiri. Camelia, Istri tersembunyi Robert Potter, Mafia kejam dan berbahaya. Setiap kali bertemu hanya siksaan yang ia dapatkan. Seolah raganya hanya mainan. Tak pernah sekalipun lelaki itu bersikap lembut. Tak ada yang berani menolongnya. Jika ada yang bertanya dimana keluarganya? Tentu saja ada. Masih hidup. Tetapi mereka sudah tak peduli padanya. Ia serasa dijual oleh keluarganya sendiri. Semua itu karena uang yang mereka dapatkan begitu banyak setelah Robert menikahinya.

Sebenarnya ia sudah lelah jiwa dan raga. Beberapa kali mencoba bunuh diri namun gagal. Dan justru ia mendapatkan penyiksaan yang lebih kejam. Hingga ia pasrah akan nasibnya yang kurang beruntung.

Suatu hari, ketika ada pelayan yang baru masuk. Ia seperti mendapat angin segar. Ia pelayan dari Asia tenggara. Bersama pelayan itu, ia merencanakan pelarian dengan sangat matang.

"Anda sudah tidur, Nyonya?"jawab Bibi Sandy.

"Belum, Bi."jawab Camelia

"Ini, saya bawakan makan malam untuk anda."ucap Pelayan itu.

Camelia menegakkan badannya. Sejak tadi ia lelah mondar-mandir di dalam kamarnya. Hingga ia memilih rebahan di ranjangnya yang empuk di sangkar emasnya milik Robert Potter.

"Terima kasih, Bi"

Pelayan itu mengangguk.

"Bibi, ayo kita makan bersama."ajak Camelia

"Tidak, Nyonya. Saya sudah makan. Silahkan anda makan untuk menambah tenaga anda dalam pelarian malam ini."

Deg

Camelia menjadi gugup. Yakinkah ini akan berhasil? Selama ini ia selalu gagal. Jantungnya berdetak sangat kencang.

"Anda harus yakin, Nyonya."Ucap Bibi Sandy.

Camelia mengangguk.

"Muka Bibi pucat sekali." ucap Camelia

"Ini karena penyakit Bibi. TIdak apa-apa, Nyonya. Saat ini anda pikirkan diri anda sendiri."

Camelia tersenyum getir.

Pelayan itu memberikan sebuah buku untuk Camelia.

"Ini apa?"tanya Camelia

"Buku harian Tuan Robert."ucap Bibi Sandy setengah tertawa.

Camelia melongo.. Buku harian? Camelia ingin tertawa. Seorang mafia kejam punya buku harian? Sungguh konyol.

"Buku ini harus sampai ke tangan Tuan Narendra. Selain menulis kisah hidupnya yang kejam. Buku ini menyimpan simbol yang hanya bisa diterjemahkan oleh Tuan Narendra. Saya meyakini, buku ini menyimpan rahasia yang lebih besar dari itu."ucap Bibi Sandy. Dia menjelaskan siapa itu Tuan Narendra.

"Baiklah. Saya akan menjaganya dengan nyawa saya."ucap Camelia.

Malam kian larut. Semua pelayan sudah tertidur. Hanya ada penjaga yang masih lalu-lalang, berjaga secara bergantian. Udara malam yang dingin tak menyurutkan Camelia. Ia sudah siap dengan tas ransel besarnya. Ia dan pelayan itu mengendap-endap.

"Apa yang terjadi?"tanya Camelia ketika melihat penjaga tergeletak

"Saya sudah membuat mereka pingsan setidaknya selama tiga jam lamanya. Jangan khawatir, CCTV juga sudah rusak. Mari, Nyonya."ucap Pelayan itu.

Jantung Camelia berdetak dengan cepat. Mereka berjalan keluar mansion. Ternyata sudah ada mobil yang menunggu mereka. Bibi Sandy, rupanya penuh perhitungan juga. Camelia berpikir pasti pelayan itu bukan orang sembarangan.

"Kita akan pergi melewati jalur laut, Nyonya. Tuan Robert pasti tak akan mengira kita memakai alat transportasi ini." ucap Pelayan itu.

Camelia mengangguk.

Mereka menaiki kapal yang akan segera berangkat. Camelia bersandar pada sisi dek. Ia merasa lega namun masih was-was jika pelarian kali ini juga sia-sia. Tapi, Bibi Sandy meyakinkannya bahwa ini akan berhasil. Entah apa yang akan dilakukan lelaki bernama Robert Potter itu jika tahu wanita yang dikurungnya di istana miliknya bisa melarikan diri.

"Istirahatlah, Nyonya!" seru Bibi Sandy.

Camelia mengangguk. ia memasuki kabin kapal. menuju ruangan yang diperuntukkan untuknya. Menghela nafas lelah.

Entah berapa lamanya Camelia tertidur. Pintu kamarnya diketuk dengan keras. Bibi Sandy masuk dengan membawa bungkusan. Nafasnya memburu.

"Akan ada patroli, Nyonya. Saya yakin akan ada penggeledahan. Apalagi ini kapal barang. Anda ganti dengan baji usang ini. Dan pakailah make up Tan. kulit putih anda tak mendukung jika anda menyamar menjadi seorang gelandangan yang menumpang gratis dikapal ini." ucap Bibi Sandy.

"Apa kalau ketahuan menumpang kita tak akan celaka?" tanya Camelia.

"Saya hanya bercanda. Kita akan menyamar menjadi koki di kapal ini. Bersiaplah!" seru Wanita paruh baya itu.

Mereka pun berganti baju dan memakai makeup Tan. Kulit mereka berubah menjadi kelam dan dekil. Bibi Sandy menambahkan minyak pada wajah Camelia dan dirinya sendiri.

"Mari, Nyonya. Maaf, selama penggeledahan saya akan menyebut Anda Meli ya." Ucap Bibi Sandy.

"iya."

Mereka menuju dapur. Disana sudah ada beberapa orang yang sibuk mengolah makanan.

"Bibi Sansan Kemarilah. Bantu kami membuat Pai." Ucap Salah seorang diantara koki itu memanggil Bibi Sandy.

"Tentu, akan ada Meli yang akan membantu kalian." ucap Bibi Sandy.

"Wah, kami senang ada tenaga tambahan. Kamu bisa mengiris bawang bombai?" tanya Koki lainnya.

"Serahkan padaku." Ucap Camelia.

Semuanya bekerja sambil bersenda gurau. Tak menghiraukan penggeledahan di atas mereka.

Brak

"Cari disekitar sini! Temukan wanita itu!" Seru Seseorang yang baru masuk. Tampang mereka terlihat bengis. Camelia merinding melihat satu lelaki yang sejak tadi memandangnya. Untung saja Bibi Sandy menambahkan tompel berukuran besar di pipinya. Dia yakin, anak buah Robert Potter tak akan mengenalinya.

"Tak ada tanda wanita itu disini, Tuan." Seru Anak buahnya.

"Kita keluar!" seru Lelaki itu menatap tajam semua orang di ruangan itu.

Camelia dan Bibi Sandy bernafas lega. Mereka menunggu sampai dua jam lamanya untuk membantu koki. Jika kamar mereka digeledah. Mereka tak akan bisa menemukan apa yang mereka cari. Buku diary dan barang berharga termasuk identitas mereka tak ada di kamar mereka. Kedua wanita itu menyembunyikannya diantara barang-barang rongsokan yang menjijikkan.

"Sepertinya sudah aman, Nyonya. Kita keluar." Bisik Bibi Sandy.

Camelia mengangguk. Ia bisa menghirup udara setelah merasakan engap di Dapur.

"Kelihatannya keberuntungan berada di pihak kita.. Lelaki kejam itu tak akan bisa menemukan kita." Ucap Bibi Sandy.

"Terima kasih, Bi. Tanpa pertolonganmu aku tak akan bisa pergi dari tempat terkutuk itu." ucap Camelia.

"Itu sudah menjadi tugas saya sebagai manusia." Ucap Bibi Sandy tersenyum.

Camelia memandang lautan. Berharap ia segera sampai di tempat tujuan dengan selamat.

***

Pagi menyapa, Camelia memandang hamparan laut lepas. Bibi Sandy mendekatinya.

"Kita sudah berlayar selama dua hari, Nyonya. Satu hari lagi kita akan sampai di Dermana di Indonesia."

Camelia mengangguk.

"Aku deg-degan. Lelaki gila itu pasti telah mengirim anak buahnya ke berbagai penjuru. Dia benar-benar gila. Tak bisakah ia melepaskanku saja." ucap Camelia.

"Dia memang gila. Tak ada yang berhasil keluar dari genggaman tangannya sejauh ini. Semoga anda bisa lepas darinya selamanya." ucap Bibi Sandy.

Camelia mengangguk.

"Aku ingin bahagia sebentar saja." Ucap wanita cantik itu sendu.

"Semoga anda bahagia selamanya." ucap Bibi Sandy.

"Aamiin."

"Anda baik sekali." Ucap Camelia memeluk Bibi Sandy.

-------------

Di Mansion Milik Robert Potter,lelaki itu memukul anak buahnya tanpa ampun. Ia bahkan menembak para pelayan dengan bengis. Ia tak terima Camelia bisa kabur dari pengawasan mereka.

"Aku ngga mau tahu. Cari wanita itu sampai ketemu!", seru Robert dengan muka merah padam.

"Am..ampun, Tuan. Ka..kami akan mencari Nyonya dengan nyawa kami." ucap Anak buahnya.

Robert menarik baju anak buahnya yang berbicara.

"Kalau begitu cari! Aku beri waktu hingga dua hari. Jika gagal, nyawa kalian dan keluarga kalian taruhannya!" seru Robert nyalang.

Lelaki itu pun naik ke lantai dua dimana kamar Camelia berada. Ia membuka kamar yang tampak sepi.

"Aku tak akan memaafkanmu, Camelia. Berani sekali kamu kabur dariku. Sepertinya hukuman dariku tak membuatmu jera." gumamnya menyeringai mengerikan.

Robert mengamuk. Ia menghancurkan barang-barang yang ada di kamar. Peam, tangan kanannya hanya bisa mengelus dada melihat kengerian yang diciptakan atasannya. Ia bahkan tak berani mendekat. Namun juga tak bisa menjauh. Setiap saat di dipanggil, Ia harus segera datang. Agar lelaki itu tak semakin marah.

"Peam!" Seru Robert

" Saya, Tuan." Jawab Peam.

"Bakar barang-barang di kamar ini!" seru Robert meninggalkan kekacauan di kamar Camelia.

Peam pun mengangguk. Ia segera memanggil anak buah lainnya agar membantunya.

Robert sendiri masuk ke kamarnya. Ia mengusap rambutnya ke belakang. Menahan diri agar tak mengamuk di kamarnya sendiri. Ia membuka laci yang terkunci. Berharap menemukan apa yang ia cari. Dalam laci itu ada sebuah pistol dengan sepuhan emas di bagian tengahnya. Dia mencari-cari barang yang tak ia temukan.

"Dimana buku itu?" tanyanya panik.

"Sialan! Dimana bukuku!" serunya panik

"Peam!" serunya

"Saya, Tuan." Ucap Peam.

"Siapa yang berani masuk ke kamarku?" tanyanya murka.

"Hanya bibi Sandy, Tuan. Karena memang dia yang bertugas membersihkan kamar anda.."

bug

bug

Peam tak sempat meneruskan ucapannya karena Robert memukulinya. Nafas Robert turun naik menahan marah. Ia tak mungkin menghabisi anak buah kepercayaannya saat ini.

"Periksa CCTV!" Seru Robert.

Peam bangkit meski sedikit pincang. Ia segera pergi ke ruang kerja Robert dan membuka laptop di meja kerjanya. Robert mengikuti dengan langkah gontai. Jika buku itu jatuh ke tangan Narendra, habislah dia.

Ia menduga, bibi Sandy yang membawa buku itu. Dengan alasan apa, Robert tak tahu.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Diary Mafia yang hilang   Bab 6 Pergi?

    Robert terduduk di depan ruang ICU. Detik demi detik serasa sangat lama. Untuk pertama kali dalam hidupnya; ia duduk menunggu seperti ini. Meski melukai harga dirinya, sepertinya ia tak peduli. Lalu lalang orang tak ia perdulikan. Anak buahnya hanya bisa memandangnya dari jarak yang jauh namun bisa dijangkau. Mereka saling pandang. Harusnya Tuannya senang Camelia yang sebelum kembali disumpahi mati itu benar-benar pergi. Namun kenapa semua tak sesuai harapan mereka. Tuan mereka jatuh frustasi seperti kehilangan separuh jiwanya. "Apa yang harus kita lakukan, Tuan Persey? Kalau Nyonya pergi kita akan salahkan. Tuan bisa membunuh kita."ucap anak buah Persey. Namun lelaki itu hanya diam. Dia sendiri bergelut dengan pikirannya. Ia memandang Tuannya yang terus menatap pintu ruang ICU. Ia menghela nafas. "Kalian siapkan diri. Mudah-mudahan nyawa kita masih selamat setelah ini. "ucap Persey. Anak buahnya merinding. Lidah mereka kelu. Teringat keluarga mereka yang masih membutuhkan nafkah

  • Diary Mafia yang hilang   Bab 5

    Jantung Mala berdetak kencang. Ia terus berdiri melihat Camelia yang sekarang mengikuti dua orang menyeramkqn itu. "Duduk neng! Bapak ngga bisa lihat TV kalau kamu berdiri terus!" tegur Seorang kakek tua di belakang Mala. Gadis itu tersenyum sungkan. Dia meraba dalam tas ranselnya. "Jika mereka mencari barang ini dan tak menemukannya ada pada kak Camelia berarti..." Mala semakin memucat. Tapi, dia harus menjaga amanah. Dia teringat adiknya yang sangat cerdik. Mala mengeluarkan sebuah buku dan menuliskan sesuatu. Ia mengambil selotip kecil di dompet pulpennya. Ia bungkus lagi benda itu dengan tas plastik berwarna hitam dan menyelotip bagian yang terbuka. Kertas yang ia tulis ia lipat dua dan selotip di bagian depan bungkusan itu. Ia menulis nama adiknya disana. "Mel, jika aku ngga selamat. Aku harap kamu bisa meneruskan benda ini pada yang berhak."gumamnya memejamkan mata. -------------- "Nyonya, anda jauh sekali jalan-jalannya?" Sindir Persy. Camelia tak menjawab.

  • Diary Mafia yang hilang   Bab 4

    Mala merapatkan jaketnya. Angin kali ini begitu dingin. Padahal, dia hanya ingin membeli bakso kuah yang menggiurkan di seberang kafe tak jauh dari rumahnya. Sepertinya musih kemarau akan segera tiba. Lalu lalang kendaraan menyambutnya ketika ia sampai di jalan besar. "Mala! Mau beli bakso lagi?" tanya Seseorang. Mala terkejut. Ia tak nyaman bertemu lelaki ini. Namanya Ricky. Dua hari yang lalu ia menyatakan cinta padanya. Namun ia menolaknya dengan suatu alasan. "Iya. Aku duluan." Ucap Mala. "Bareng saja. Aku juga mau beli." acap Ricky tampak memaksa. "Mala, bareng sama aku saja." Ucap Teman baik Mala yang tiba-tiba sudah merangkulnya dari belakang. Mala lega. Dan Ricky mendengus kesal. Mala berterima kasih padanya ketika mereka sampai di seberang jalan. Rupanya, Ricky tak serius membeli bakso. Buktinya, dia hanya diam di tempat. Mala merinding melihat tatapan matanya. "Untung ada kamu."ucap Mala. "Lain kali kalau mau keluar panggil aku. Untung aku datang tadi. Mau a

  • Diary Mafia yang hilang   Bab 3

    Alan menaiki mobil sport miliknya. Wajahnya dinginnya memancarkan aura yang mendalam. Alan mengeraskan rahangnya. Jika boleh memilih, ia akan menghabisi lelaki itu. Namun Robert Potter tak semudah itu di jatuhkan. Alan masih mencari titik lemahnya hingga kini. Robert, meski banyak melakukan kejahatan namun seolah apa yang ia lakukan tak tersentuh oleh hukum. Robert masih berjaya. Meski Alan punya kekuatannya sendiri. Namun saat ini, ia masih kalah dengan ayahnya. Alan memilih menemui ayahnya dulu. Entah apalagi yang diinginkan lelaki itu. Mobil pun berhenti. Suara tembakan terdengar ketika ia melangkah masuk ke halaman Mansion Robert Potter. Alan tak terpengaruh. Ia sudah terbiasa menghadapi kekejaman yang diciptakan ayah biologisnya. "Tuan muda Alan. Anda sudah datang?" Tanya Anak buah Robert basa-basi. Alan mengangguk. "Dia ada di dalam?" Tanya Alan. "Benar. Anda masuk saja." Ucap Anak buah Robert tak acuh. Alan memandang sinis. Ia pun masuk ke dalam rumah megah simbol ke

  • Diary Mafia yang hilang   Bab 2. Anak tak dianggap

    Camelia masih memandang laut lepas. iamerasa lebih lega dari biasanya. Jauh dari manusia kejam itu. Pernikahan mereka karena paksaan. Salahkah jika ia ingin bebas? Mencari kebahagiaannya sendiri meski hanya sebentar saja. "Nyonya!" Bibi Sandy berdiri di belakangnya. "Apa kita akan berhasil? lelaki brengsek itu tak akan tinggal diam. Tapi aku berharap dia tak perlu repot-repot mencariku." Ucap Camelia. "Kita akan sampai di Dermaga. Anda harus melakukan penyamaran." Ucap Bibi Sandy. Camelia menghela nafas. Kenapa untuk bebas saja harus bersusah payah. Keduanya masuk ke kabin dan mengganti baju mereka dengan baju laki-laki. Ia memakai identitas baru bernama Candra. Bahkan Camelia memakai lensa mata berbeda. Ia memakai Wig dengan rambut sebatas leher yang berantakan. Camelia juga memakai riasan agak gelap serta tahi lalat buatan di bagian pipi dan bawah mata. Camelia tampak berbeda dengan tampilan barunya. Ia juga memakai sepatu boot usang. Tak kalah usang dengan bajunya.

  • Diary Mafia yang hilang   Bab 1 Melarikan diri

    Malam hari di musim semi, Camelia gelisah di kamarnya. Dia remas buku-buku jemarinya yang penuh bekas luka. Badannya gemetar mengingat seluruh rasa sakit yang ia terima dari lelaki yang sayangnya adalah suaminya sendiri. Camelia, Istri tersembunyi Robert Potter, Mafia kejam dan berbahaya. Setiap kali bertemu hanya siksaan yang ia dapatkan. Seolah raganya hanya mainan. Tak pernah sekalipun lelaki itu bersikap lembut. Tak ada yang berani menolongnya. Jika ada yang bertanya dimana keluarganya? Tentu saja ada. Masih hidup. Tetapi mereka sudah tak peduli padanya. Ia serasa dijual oleh keluarganya sendiri. Semua itu karena uang yang mereka dapatkan begitu banyak setelah Robert menikahinya. Sebenarnya ia sudah lelah jiwa dan raga. Beberapa kali mencoba bunuh diri namun gagal. Dan justru ia mendapatkan penyiksaan yang lebih kejam. Hingga ia pasrah akan nasibnya yang kurang beruntung. Suatu hari, ketika ada pelayan yang baru masuk. Ia seperti mendapat angin segar. Ia pelayan dari Asia te

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status