MasukSee u next part💅🌶🥰
Aron tidak akan action sendirian. Sejak awal ia tahu, melawan Rangga dengan klarifikasi-klarifikasi balasan hanya akan membuat cerita ini makin kabur. Publik tidak tertarik pada kebenaran sejak awal, mereka tertarik pada cerita yang paling menyentuh. Dan Rangga sudah lebih dulu menjual kesedihannya. Maka Aron memilih jalur lain. Ia mulai menghubungi orang-orang lama. Orang-orang biasa yang pernah benar-benar ada di hidup Rangga atau hidup Rangga dan Lusi. Mantan rekan kerja, tetangga lama, orang yang pernah satu meja saat Rangga berjudi, orang yang pernah menenangkan Lusi setelah terdengar bentakan dari balik tembok tipis kontrakan, atau orang yang menjadi saksi perjalanan pernikahan Rangga dan Lusi. Tidak semua mau bicara, karena banyak yang takut. Mereka tau siapa Rangga, ia sudah tergabung dalam komunitas kejahatan yang membuat mereka takut dilabrak. Aron paham itu. “Kalian gak perlu nunjukin wajah,” katanya pada salah satu dari mereka. “Nama kalian gak akan muncul, bahkan
Setelah tangis Lusi mereda dan napasnya kembali teratur dalam pelukan Aron, suasana di ruang itu berubah. Yang awalnya menyayat dengan isak tangis, kini menjadi lebih sepi. Meski belum sepenuhnya tenang. Ini terasa seperti jeda yang cukup panjang, dan ada sesuatu yang sedang dipikirkan dengan matang oleh Aron. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa, satu tangannya masih mengusap lengan Lusi pelan. Ia tau istrinya adalah yang paling terluka dalam drama yang dibuat oleh Rangga. “Dia pasti sengaja,” katanya akhirnya. Suaranya datar, seperti menahan marah. Lusi tidak menoleh. Ia masih fokus pada kesedihannya. “Dia mau diperhatikan, divalidasi, dan dianggap korban agar kesalahannya gak bikin dia merasa bersalah. Itu sifat dasar manipulator.” Lusi menarik napas panjang, dadanya naik turun, lalu ia menunduk. Air matanya kembali jatuh, kali ini tanpa suara. “Aku gak pernah kabur,” katanya lirih. “Aku pergi karena aku dijual sama dia. Kalo aku gak dijual, aku juga bakal tetep jadi istr
~~ Aku mencintainya. Sungguh, aku mencintai perempuan itu, Lusi. Aku bertemu dengannya saat masih di kampus. Kita masih mahasiswa baru. Lalu badai dalam hidupku datang dan membuatku harus berhenti kuliah, padahal aku masih ingin melanjutkan. Lusi si anak rajin dan manis itu masih terus berkuliah, sementara aku menjadi pekerja di sebuah PT. Kami masih menjalin cinta, dan semuanya baik-baik saja. Sampai Lusi lulus dan kami memutuskan untuk menikah. Aku kira kita berdua cocok. Maksudku, kita sudah cocok selama ini. Tapi setelah setahun pernikahan, dia berubah. Apa pun menjadi salah di hidup kami. Dan mungkin karena pendidikan kami tidak setara, aku mencoba untuk tetap hidup menjadi suami yang baik. Menafkahinya dengan cukup dan memberikan kasih sayang baginya yang melimpah. Namun dia juga mulai banyak berubah. Di tahun keempat pernikahan kami, semuanya mulai runtuh. Seolah-olah apa yang ditahan sejak tahun kedua pernikahan kami meledak begitu saja. Lusi memilih pergi dariku
Malam semakin larut, tapi lampu di ruang kerja Aron masih menyala. Mansion yang biasanya terasa megah dan lengang, malam itu dipenuhi ketegangan yang tak kasat mata. Lusi sudah tertidur di kamar, kelelahan emosional membuatnya terlelap lebih cepat dari biasanya. Aron sengaja tidak membangunkannya. Ia ingin istrinya mendapatkan tidur yang nyenyak, sesuatu yang akhir-akhir ini terlalu mahal untuk dimiliki. Aron berdiri di depan jendela besar ruang kerjanya, menatap taman yang gelap. Tangannya menyentuh gelas kopi yang sudah dingin. Pikirannya bekerja jauh lebih aktif dibanding tubuhnya. Rangga, nama itu kembali berputar di kepalanya, bukan dengan kemarahan membabi buta, melainkan dengan kalkulasi yang dingin. Aron tahu satu hal dengan pasti, Rangga bukan orang bodoh. Ia impulsif, emosional, dan manipulatif. Orang seperti itu tidak bisa dihadapi dengan ledakan emosi atau ancaman saja. Ia harus digertak dengan sesuatu yang membuatnya ragu, membuatnya berhenti meneruskan teror ini k
“Dia bilang, wanita sepertiku gak menghasilkan dan cuma jadi beban laki-laki. Aku gak ngerti waktu itu dan hanya diam. Aku kira… dia ngomong kayak gitu becanda. Tapi ternyata itu serius.” Aron menghela napas pelan. Jujur saja, di titik itu, Lusi memang terlalu polos atau terlalu bodoh untuk membaca realita. Tapi Aron tak mungkin mengatakan itu dengan jujur, setidaknya untuk saat ini. “Ya… bahkan kalau dalam keadaan bercanda pun, itu tetap salah,” kata Aron akhirnya. Lusi semakin masuk ke pelukan suaminya, mencari kehangatan, seolah tubuh Aron adalah satu-satunya tempat aman yang tersisa. Aron menyadari Lusi sudah selesai bercerita. Kini giliran dirinya membuka suara. “Aku juga pernah ada di posisi itu,” ucapnya akhirnya. Lusi mendongak. “Di posisiku?” Aron menghela napas panjang, seakan harus mengumpulkan keberanian lebih dulu. “Aku pernah ada di situasi yang sama kayak kamu. Aku pernah dikendalikan secara psikologis oleh ibu Rangga,” katanya perlahan. “Dia memang pand
Aron sebenarnya sudah bersiap untuk lembur malam itu. Laptopnya masih terbuka di meja kerja, jasnya belum dilepas, dan agenda operasi esok hari sudah berjejer rapi di layar tabletnya. Semua tampak berjalan seperti rutinitas yang sudah ia hafal di luar kepala, sampai nama Lusi muncul di layar ponselnya, disertai getaran singkat yang entah kenapa langsung membuat dadanya mengencang. Ia mengangkat panggilan itu tanpa ragu. “Mas…” suara Lusi terdengar pelan. Padahl biasanya istrinya cerewet meski sedang lelah. Aron langsung berdiri. “Ada apa?” Ada jeda beberapa detik. Nafas Lusi terdengar di seberang, berat dan membuat Aron jadi tegang. “Aku… tadi ketemu Rangga.” Mendengar itu, Aron langsung mematikan laptopnya, meraih kunci mobil, dan melangkah keluar ruangan. “Aku pulang sekarang,” katanya singkat tapi tegas. “Kamu di Mansion kan?” “Iya.” “Tunggu aku. Jangan ke mana-mana.” Telepon terputus. Aron bahkan tidak menoleh lagi ke meja kerjanya. Semua prioritas malam it







