ログインErnest ternyata sudah duduk sambil menonton drama keluarga Rowan yang kini semakin memanas. Hanya Evelyn yang masih terpaku pada tempatnya.Evelyn kemudian menoleh kembali pada mereka yang dulu dia anggap keluarga, sekarang bertengkar dan saling melemparkan kata-kata kotor tanpa menahan diri.Evelyn memutuskan berpaling tepat ketika Sira berseteru sengit dengan Tiara, menyangkal fakta apapun yang Tiara coba katakan.“Ayo pulang saja,” ajak Evelyn pada akhirnya.Ernest tidak mengatakan apapun saat Evelyn menjawab dengan lemah seperti itu. Dia hanya berdiri dari duduknya, lalu menggandeng tangan Evelyn dalam diam.Evelyn agak terkejut dengan tindakan Ernest yang mendadak, tapi di sisi lain, dia juga menikmatinya dan membiarkan tangan Ernest menariknya pergi dari kerumunan itu.Untung saja kebanyakan orang lebih banyak terfokus pada drama keluarga Rowan. Mereka jadi bisa meninggalkan acara kacau yang tidak lagi bisa diselesaikan dengan mudah oleh orang-orang yang terlibat.Eveleyn kemudi
Sira mendekat dengan raut wajah khawatir. Dia juga membantu Tiara berdiri dari posisinya yang menyedihkan. “Ayah, apakah kamu perlu melakukan hal seperti ini pada ibu? Apa kesalahannya sampai ayah bersikap keras seperti itu?” Evelyn tidak menyangka Sira akan berani tampil ketika semua sudah memanas seperti ini. Namun, dia juga mengerti posisi Sira. Wanita itu tidak tahu apapun, jadi dia bertingkah sebagai pahlawan di hadapan orang-orang sebagai unjuk kebolehannya sebagai putri yang paling disayangi. Berbeda dengan sikap pengertian yang diberikan oleh Evelyn pada Sira, Jason justru sebaliknya. Mengingat identitas asli Sira yang merupakan anak dari perselingkuhan istrinya dengan orang lain, membuat kepala Jason berdenyut. “Bersikap keras?” Amarah Jason yang sebelumnya reda kini kembali tersulut, “Aku hanya meminta penjelasan darinya dan kamu mengatakan bahwa aku keras padanya?!” Sira tersentak, bahkan jantungnya berdetak kencang saat melihat tatapan ayah angkatnya yang tidak
Jantung Tiara rasanya berdetak di tingkatan yang tidak wajar saat suaminya membuka kertas itu. Meski dia tidak tahu apa isinya, foto perselingkuhan yang masih berhubungan dengan kertas itu pasti tidak jauh beda isinya.Tiara memandang penuh benci ke arah Evelyn. Seharusnya dari awal dia mengusir anak sial itu. Gara-garanya dirinya, dia mendapat perlakuan memalukan seperti ini. “Evelyn–”“Tiara.”Tiara tidak jadi memarahi Evelyn ketika suara berat nan serak memanggilnya. Ketika dia menoleh, Jason masih menunduk memandangi kertas di tangannya, tapi dengan tangan gemetar.Alih-alih melanjutkan kata-katanya kepada Tiara, Jason yang masih dengan tangan gemetar justru melihat ke arah Evelyn.“Apa kau sudah menyelidikinya dengan benar?”Evelyn bisa melihat kekecewaan dari mata sayu yang menuntut jawaban darinya itu. Namun, Ernest sendiri yang mencari tahu semua itu. Mana mungkin informasi mereka akan memiliki celah yang salah.“Tuan Ernest membantuku untuk mencari kebenarannya. Jika Anda ti
Semua orang menoleh ke arah Evelyn yang kini telah memasang wajah penuh amarah. "Kevin, aku kira ketika kamu memilih Sira sebagai penggantiku maka kamu tidak akan pernah melihatku. Aku tidak tahu bahwa bahkan setelah menikah dengan Sira pun, kamu masih berbicara seolah-olah mengharapkan aku kembali." Kevin tertegun di tempatnya sejenak. Namun, dia kemudian tersenyum miring dan membalas, "Bukan aku yang mengharapkan mu kembali, itu adalah sikapmu sendiri yang menyebabkan semua ini terjadi." "Kalau bukan karena masalah pertunangan kita berdua, lalu kenapa kamu melakukan hal buruk sampai sejauh ini?" Evelyn merasa muak dan membalas penuh jijik, "Dasar tidak tahu malu! Setelah menikah dengan Sira pun, kamu masih berpikir bahwa aku mengejar mu!" "Benar-benar sangat narsis!" Kevin memelototi Evelyn dengan ganas. Namun, belum sempat dia mengucapkan satu kata pun, Ernest lebih dulu bicara. "Ya ampun ...." Ernest memandang ke arah Kevin dan memasang wajah penuh iba. "Sejak Evel
Evelyn akhirnya punya kesempatan untuk melepaskan tangan yang dipegang Revano sebelumnya. Pandangan orang-orang yang tak jauh dari mereka pun kini mulai berani secara terang-terangan menguping. Apalagi saat mereka melihat sosok akrab dalam balutan jas putih yang dikenakan oleh pria tinggi di sebelah Evelyn. Senja sudah terbenam sejak lama. Namun, cahaya lampu malam yang bersinar terang itu justru menciptakan bayangan serasi dari dua orang yang statusnya tidak lagi sama. Saat Ernest dan Evelyn berdiri bersama seperti itu, orang-orang mulai melihat mereka seperti pasangan pada umumnya. "Tuan Ernest?" Revano terlihat linglung saat melihat Ernest yang berdiri di depannya dengan sikap yang dingin dan jauh. "Saya rasa kami tidak mengantarkan undangan khusus untuk Anda," kata Revano dengan lantang. Meskipun Revano memiliki kesan baik pada Ernest sebagai sesama pebisnis, tapi lain cerita jika dia ikut campur dalam urusan keluarganya. Revano tidak menyukai kedekatannya dengan Er
"Lebih penting dari itu." Sira tidak menyangka kata-katanya dibalas seperti itu oleh Revano. Dia tahu bahwa Revano sosok yang netral di antara dia dan Evelyn. Namun, dia tidak menyangka Revano tetap membubarkan pesta yang dia impikan ini hanya karena sesuatu yang diberikan oleh Evelyn. "Baiklah kalau begitu. Aku akan mengalah kali ini, walaupun ini tidak seperti yang aku bayangkan," kata Sira masih berusaha untuk tidak membiarkan pesta ini selesai begitu saja. Sira melirik Evelyn penuh kebencian, 'Bagaimana bisa orang sepertinya membuat pestaku selesai dengan cepat?!' "Kak, apakah kamu tidak bisa menundanya untuk nanti?" Kali ini Kevin ikut bicara. Sifatnya yang suka menjadi pahlawan di mata wanita itu membara, dia ingin dilihat sebagai pria yang penyayang dihadapan orang lain. "Sira sudah mengatur semua ini dari lama. Jika diselesaikan dengan cepat, apa yang akan dikatakan oleh orang nantinya. Ini juga termasuk menjaga reputasiku. Apakah Kak Revano akan tega melihatku dibica
Evelyn menoleh ke arah asal suara. Dari sudut pandangnya, seorang wanita bergaya glamor berdiri angkuh tak jauh dari tempatnya duduk. Meski begitu, hanya dalam sekilas pandang dan kata-kata sebelumnya, Evelyn langsung mengetahui identitas orang itu. “Benar sekali,” balas Evelyn mengejutkan semua
Semua orang menoleh ke arah pandangan Sira yang terfokus ke depan. Sira dan Evelyn saling berhadapan dengan jarak yang cukup jauh. Evelyn, dengan gaun hitam sebatas lutut itu berjalan menghampiri Sira yang sudah memasang wajah tersenyum sejak pandangan mereka bertemu. Dengan tatapan para tamu yan
“Ayo, kita mulai saja acaranya. Para tamu sudah menunggu.”Setelah Tiara berkata demikian, mereka juga bersiap pergi ke tempat yang sudah ditentukan.Di pintu masuk hotel, sebuah mobil Rolls-Royce berhenti di pintu masuk utama hotel.Evelyn turun lebih dulu setelah Jack membukakan pintu untuknya. S
“Tentu saja sudah dimulai dari tadi. Kamu menundanya cukup lama,” jawab Revano sedikit mengernyit. Masih tidak mengerti dengan tingkah laku Sira yang malah menunda hari bahagianya sendiri. Sira hanya menunduk, tapi itu hanya untuk menutupi senyum keji yang terbit di bibirnya tanpa bisa dia tahan.







