Share

Bab 4. Pertemuan Keluarga

last update Last Updated: 2026-02-14 19:41:03

Hana duduk di hadapan ayahnya. Jantungnya berdegup tak nyaman. Ia tahu pembicaraan ini pasti akan datang.

“Besok keluarga Azzam akan datang ke rumah,” ucap Ahmad tegas. “Abi sudah bicara dengan mereka.”

Nama itu terdengar asing.

Azzam.

Hana menelan ludah.

“Kamu siap, Nak?”

Pertanyaan itu sebenarnya bukan benar-benar pertanyaan, melainkan penegasan.

“Iya, Abi. Hana siap.”

Ia tersenyum—senyum yang dipaksakan. Dari luar terlihat rapi, tetapi kosong di dalam.

Aisyah yang berdiri di dapur memperhatikan dari jauh. Ia mengenali senyum itu. Ia tahu anaknya sedang menahan sesuatu yang besar.

Namun, ia juga tahu suaminya keras kepala. Dan ia paham kondisi Ahmad belum sepenuhnya stabil.

Malam itu Hana masuk ke kamar lebih cepat. Ia menutup pintu pelan, lalu duduk di tepi kasur.

Azzam.

Siapa dia?

Apakah ia tahu bahwa calon istrinya baru saja dibatalkan sepihak oleh pria lain?

Apakah ia tahu bahwa pernikahan ini bukan karena cinta?

Hana menarik napas panjang. Ia membuka lemari. Gaun-gaun yang dahulu ia siapkan untuk menikah dengan Raka masih tergantung rapi, belum sempat dipakai.

Dadanya kembali terasa nyeri.

“Memang harus seperti ini hidup Hana…” gumamnya lirih.

Di luar kamar, Ahmad berbicara dengan Aisyah.

“Besok kita sambut mereka dengan baik. Abi tidak mau keluarga ini direndahkan lagi.”

Aisyah hanya mengangguk. “Iya, Bi.”

“Tuan Azzam orang baik. Anaknya juga pendiam. Insyaallah bisa membimbing Hana.”

Aisyah menatap suaminya lama. “Yang penting Hana bahagia, Bi.”

Ahmad terdiam sejenak, lalu menjawab pelan, “Kebahagiaan bisa datang setelah menikah. Tidak selalu sebelum.”

Di kamar, tanpa mereka ketahui, Hana kembali menangis. Tidak keras. Tidak tersedu seperti di rumah sakit.

Tangisnya kali ini sunyi.

Esok hari akan datang keluarga yang menentukan masa depannya.

Dan ia bahkan belum tahu seperti apa wajah laki-laki bernama Azzam itu.

Keesokan harinya, keluarga Azzam datang pagi-pagi sekali. Hari itu hari libur sehingga suasana rumah lebih tenang dari biasanya. Namun, bagi Hana, pagi itu terasa seperti sidang yang menentukan hidupnya.

Sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah. Ahmad sudah berdiri di teras sejak tadi. Bajunya rapi. Wajahnya tampak lebih segar dibanding beberapa hari lalu.

“Assalamu’alaikum,” sapa seorang pria paruh baya begitu turun dari mobil.

“Wa’alaikumsalam,” jawab Ahmad cepat sambil tersenyum lebar.

Mereka berjabat tangan. Di belakang pria itu, seorang wanita berwajah lembut ikut tersenyum. Di sampingnya, seorang laki-laki tinggi berdiri tegap dengan kemeja putih dan celana hitam rapi.

Itukah Azzam?

Mereka masuk ke ruang tamu.

“Langsung saja ya, Pak Ahmad,” ucap pria itu setelah semua duduk. “Kami datang sesuai kesepakatan. Kami ingin melamar Hana untuk Azzam, anak kami.”

Suasana hening beberapa detik.

“Alhamdulillah,” jawab Ahmad mantap. “Kami menerima dengan baik maksud kedatangan Pak Abdi dan Bu Risna.”

Aisyah yang duduk di sampingnya ikut tersenyum, meski hatinya campur aduk.

Azzam hanya duduk diam. Punggungnya tegak. Tatapannya lurus ke depan. Tidak banyak bicara. Wajahnya tenang dan sulit ditebak.

Usianya dua puluh delapan tahun. Seorang dokter TNI. Kariernya jelas. Masa depannya terjamin.

Sementara Hana—dua puluh empat tahun—baru saja gagal menikah. Hatinya belum pulih.

“Oh iya, di mana Hana, Pak Ahmad?” tanya Abdi.

Ahmad berdiri. “Sebentar, saya panggil.”

“Tidak usah, Bi. Biar Umi yang memanggil,” sela Aisyah cepat.

Ia bangkit lalu berjalan menuju kamar Hana.

“Hana, Nak… ayo keluar,” panggil Aisyah pelan, tetapi tegas.

Di dalam kamar, Hana duduk di depan cermin. Tangannya terasa dingin.

“Hana belum siap, Mi…” lirihnya.

Aisyah mendekat. “Hana jangan buat Abi kecewa, Nak.”

Kalimat itu seperti kunci yang mematikan semua alasan.

Hana menutup mata. Menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.

“Baik, Mi.”

Ia berdiri. Mengenakan gamis berwarna lembut dan hijab panjang yang menutup hingga dada. Tidak berlebihan, tetapi rapi. Wajahnya memang cantik—bukan cantik yang mencolok, melainkan menenangkan.

Matanya besar dan teduh, meski sembabnya belum sepenuhnya hilang.

Aisyah menatap putrinya dengan dada sesak.

“Cantik sekali anak Umi.”

Hana hanya tersenyum kecil.

Langkahnya terasa berat saat memasuki ruang tamu. Semua mata langsung tertuju padanya.

Ia menunduk sopan.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam,” jawab mereka hampir bersamaan.

Untuk pertama kalinya, Azzam menoleh penuh. Tatapannya jatuh pada Hana.

Ia terdiam beberapa detik.

Hana duduk di samping Umi. Tangannya saling menggenggam di atas pangkuan agar tidak terlihat gemetar.

“Ini Hana, anak kami,” ujar Ahmad dengan nada bangga.

Bu Risna tersenyum hangat.

“Masyaallah, cantik sekali.”

Hana mengangguk pelan.

“Terima kasih, Bu.”

Beberapa menit diisi dengan obrolan ringan—tentang pendidikan Hana, kesehariannya, dan keluarga.

Azzam masih jarang bicara. Ia hanya menjawab seperlunya saat ayahnya menyinggung pekerjaannya.

“Azzam sekarang bertugas di mana?” tanya Ahmad.

“Masih di Jakarta, Pak. Di rumah sakit TNI,” jawabnya singkat. Suaranya berat tetapi tenang.

Hana mencuri pandang sebentar.

Wajahnya tegas. Tatapannya tidak liar. Justru terlihat terkendali.

Berbeda dengan Raka yang dulu sering berbicara berapi-api dan penuh percaya diri.

Azzam terlalu tenang.

Setelah pembicaraan dirasa cukup, Abdi kembali angkat suara.

“Kalau dari pihak Pak Ahmad tidak keberatan, kami ingin langsung menentukan tanggal lamaran resmi supaya semuanya jelas.”

Ahmad langsung mengangguk.

“Tentu. Kami tidak ingin menunda.”

Hana menelan ludah.

Cepat sekali.

Tiba-tiba Bu Risna menoleh padanya.

“Bagaimana menurut Hana, Nak?”

Semua mata langsung tertuju padanya.

Ruangan terasa mendadak sunyi.

Hana menunduk. Jari-jarinya saling menggenggam erat di pangkuannya.

Beberapa detik berlalu.

Lalu dengan suara pelan, hampir seperti bisikan, Hana berkata,

“Hana… tidak bisa.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dicampakkan Sang Polisi, Dipinang Dokter TNI   Bab 5. Siapa dia?

    Hana masih berdiri beberapa saat di halaman rumah setelah mobil keluarga Azzam benar-benar hilang dari pandangan. Jalan di depan rumah kembali sepi. Hanya suara angin yang menggerakkan daun pohon mangga di samping pagar.Dadanya terasa aneh.Tidak tenang.Ia tidak tahu kenapa kalimat Azzam tadi terus terngiang di kepalanya.Kalau suatu hari nanti kamu berubah pikiran… jangan terlambat mengatakan.Hana menghela napas panjang, lalu berbalik masuk ke dalam rumah.Di ruang tamu, Ahmad sudah duduk kembali di kursinya. Wajahnya terlihat jauh lebih lega dibanding beberapa hari terakhir. Sementara Aisyah sedang membereskan gelas-gelas minuman di meja.Hana berdiri sebentar sebelum akhirnya berbicara.“Abi, Umi… Hana mau keluar ke supermarket.”Ahmad langsung menoleh cepat.“Mau ngapain sih, Han? Awas kamu nekat melarikan diri.”Nada suaranya penuh curiga.“Astaghfirullah, Abi!”Hana dan Aisyah hampir bersamaan mengucapkan istighfar.Aisyah menatap suaminya dengan tidak setuju, sementara Hana

  • Dicampakkan Sang Polisi, Dipinang Dokter TNI   Bab 5. Tidak dipaksa

    “Hana… tidak bisa.”Kalimat itu jatuh pelan, tetapi terasa seperti batu yang dilempar ke dalam ruangan yang tenang.Semua orang terdiam.“Hana!” suara Ahmad rendah namun tegas. Matanya melotot ke arah putrinya.Hana langsung mengangkat wajahnya. Jantungnya berdetak semakin keras. Ia tahu kalimatnya barusan terlalu berani.Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia kembali berbicara.“Maksud Hana… Hana tidak bisa mengatur semuanya sendiri secepat itu, Bi.”Ia berusaha terdengar tenang, meskipun di dalam hatinya ada kebohongan yang terasa menekan.Sebenarnya bukan soal waktu.Bukan soal persiapan.Hatinya saja yang belum siap.Namun, ia tidak mungkin mengatakan itu di hadapan semua orang.Ahmad menghela napas panjang. Tatapannya masih tajam, tetapi tidak lagi sekeras tadi.“Oh, kalau soal itu, Hana tidak usah memikirkan semuanya sendiri, Nak,” sela Bu Risna dengan suara lembut.Ia tersenyum menenangkan, seolah mencoba mencairkan suasana yang sempat menegang.“Kami juga akan membantu. Pe

  • Dicampakkan Sang Polisi, Dipinang Dokter TNI   Bab 4. Pertemuan Keluarga

    Hana duduk di hadapan ayahnya. Jantungnya berdegup tak nyaman. Ia tahu pembicaraan ini pasti akan datang.“Besok keluarga Azzam akan datang ke rumah,” ucap Ahmad tegas. “Abi sudah bicara dengan mereka.”Nama itu terdengar asing.Azzam.Hana menelan ludah.“Kamu siap, Nak?”Pertanyaan itu sebenarnya bukan benar-benar pertanyaan, melainkan penegasan.“Iya, Abi. Hana siap.”Ia tersenyum—senyum yang dipaksakan. Dari luar terlihat rapi, tetapi kosong di dalam.Aisyah yang berdiri di dapur memperhatikan dari jauh. Ia mengenali senyum itu. Ia tahu anaknya sedang menahan sesuatu yang besar.Namun, ia juga tahu suaminya keras kepala. Dan ia paham kondisi Ahmad belum sepenuhnya stabil.Malam itu Hana masuk ke kamar lebih cepat. Ia menutup pintu pelan, lalu duduk di tepi kasur.Azzam.Siapa dia?Apakah ia tahu bahwa calon istrinya baru saja dibatalkan sepihak oleh pria lain?Apakah ia tahu bahwa pernikahan ini bukan karena cinta?Hana menarik napas panjang. Ia membuka lemari. Gaun-gaun yang dahu

  • Dicampakkan Sang Polisi, Dipinang Dokter TNI   Bab 3. Siapa Jodoh Hana

    Mesin monitor berbunyi pelan dan teratur. Ruangan ICU terasa dingin dan sunyi. Hanya suara alat-alat medis yang terdengar stabil, seolah menjadi pengingat bahwa hidup seseorang sedang dipertahankan dengan segala daya.Hana masih menggenggam tangan ayahnya. Tangan itu terasa dingin, tetapi kali ini ada gerakan kecil yang membuat napasnya tercekat.Jari Ahmad bergerak pelan.Hana langsung menegakkan badan.“Abi…” suaranya gemetar. “Abi, ini Hana. Hana akan nurut, Bi.”Ia menunduk lebih dekat, seolah takut suaranya tidak terdengar.“Hana janji, Bi. Hana nurut.”Kelopak mata Ahmad bergetar. Perlahan terbuka sedikit. Pandangannya masih kabur.“Hana… anak Abi…” ucapnya lirih, hampir seperti bisikan angin.Air mata Hana kembali jatuh.“Iya, Bi. Hana di sini.” Ia mendekatkan wajahnya. “Hana tidak ke mana-mana.”Ahmad menatap samar wajah putrinya. Napasnya masih berat.“Hana…” ulangnya.“Iya, Bi…” suara Hana pecah.Tangan Ahmad yang lemah berusaha menggenggam balik tangan Hana. Tidak kuat, tet

  • Dicampakkan Sang Polisi, Dipinang Dokter TNI   Bab 2. Serangan jantung

    Tak lama setelah pintu kamar Hana tertutup, suasana rumah berubah sunyi. Terlalu sunyi. Seolah seluruh dinding ikut menahan napas setelah pertengkaran yang baru saja pecah.Umi Aisyah masih berdiri di ruang tamu. Dadanya naik turun, tangannya gemetar—entah karena marah, sedih, atau takut. Di sofa, Ahmad duduk dengan kepala tertunduk. Tangannya menekan kening, napasnya berat dan tidak teratur.“Abi…” Umi Aisyah mendekat pelan. “Abi nggak apa-apa?”Ahmad tak menjawab.Umi mengira suaminya hanya butuh waktu. Ia berbalik hendak ke kamar Hana, ingin menenangkan anaknya yang pasti sedang hancur. Namun langkahnya terhenti.“Abi…” panggilnya lagi, kali ini lebih waspada.Ahmad tiba-tiba mengerang pelan. Tangannya bergeser dari kening ke dada kiri.“Nggak… enak…” suaranya lirih, nyaris tak terdengar.Wajah Umi Aisyah langsung pucat.“Abi?” suaranya meninggi. “Abi kenapa?”Ahmad mencoba berdiri, tetapi tubuhnya justru oleng. Tangannya mencengkeram dada lebih kuat. Wajahnya semakin pucat, kering

  • Dicampakkan Sang Polisi, Dipinang Dokter TNI   Bab 1. Pernikahan yang dibatalkan

    “Raka sudah keterlaluan.”Suara Abi Ahmad Fauzan terdengar berat—bukan teriak, tetapi jelas penuh amarah yang ditahan. Ia berdiri di tengah ruang tamu, mondar-mandir dengan langkah pendek. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras.“Sabar, Abi,” ucap Umi Aisyah Rahman pelan. Ia duduk di samping Hana, menggenggam tangan putrinya erat. “Jangan emosi dulu.”“Bagaimana Abi mau sabar, Mi?” Ahmad berhenti melangkah. Matanya memerah. “Raka sudah mempermalukan keluarga kita. Dia memutuskan pernikahan ini sepihak, tanpa bicara apa-apa ke Abi.”Hana menunduk. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Dadanya terasa sesak.“Maafin Hana, Bi,” suaranya gemetar. “Hana nggak pernah niat bikin Abi sama Umi malu.”Umi Aisyah mengelus punggung tangan Hana, tak melepaskan genggamannya, seolah takut anaknya roboh jika ia lengah sedikit saja.“Ini semua sudah takdir, Nak,” ucap Umi dengan suara bergetar. “Kita nggak bisa menghindar dari apa yang Allah atur.”Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi rasanya begitu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status