Share

Bab 3. Siapa Jodoh Hana

last update Last Updated: 2026-02-14 18:59:58

Mesin monitor berbunyi pelan dan teratur. Ruangan ICU terasa dingin dan sunyi. Hanya suara alat-alat medis yang terdengar stabil, seolah menjadi pengingat bahwa hidup seseorang sedang dipertahankan dengan segala daya.

Hana masih menggenggam tangan ayahnya. Tangan itu terasa dingin, tetapi kali ini ada gerakan kecil yang membuat napasnya tercekat.

Jari Ahmad bergerak pelan.

Hana langsung menegakkan badan.

“Abi…” suaranya gemetar. “Abi, ini Hana. Hana akan nurut, Bi.”

Ia menunduk lebih dekat, seolah takut suaranya tidak terdengar.

“Hana janji, Bi. Hana nurut.”

Kelopak mata Ahmad bergetar. Perlahan terbuka sedikit. Pandangannya masih kabur.

“Hana… anak Abi…” ucapnya lirih, hampir seperti bisikan angin.

Air mata Hana kembali jatuh.

“Iya, Bi. Hana di sini.” Ia mendekatkan wajahnya. “Hana tidak ke mana-mana.”

Ahmad menatap samar wajah putrinya. Napasnya masih berat.

“Hana…” ulangnya.

“Iya, Bi…” suara Hana pecah.

Tangan Ahmad yang lemah berusaha menggenggam balik tangan Hana. Tidak kuat, tetapi cukup terasa.

“Terima kasih, Nak…” lirihnya.

Hana menangis tersedu. Dadanya terasa sesak. Di satu sisi, ia ingin memeluk ayahnya dan mengatakan iya untuk semua keputusan. Di sisi lain, hatinya masih hancur, masih berdarah.

Ia belum siap.

Namun melihat ayahnya terbaring seperti ini, egonya terasa begitu kecil.

“Abi akan sembuh, Nak… dan melihatmu bahagia.”

Suara Ahmad sangat lirih, hampir tenggelam di antara bunyi mesin monitor.

Hana mengangguk pelan. Tangisnya belum berhenti.

“Iya, Bi… Abi pasti sembuh.”

Di dalam hatinya, ia berbisik, Abi, maafkan Hana…

Tangannya masih menggenggam tangan ayahnya erat, seolah takut jika ia melepaskannya, semuanya akan hilang.

Tak lama kemudian, perawat memberi isyarat bahwa waktu kunjungan telah habis. Hana mencium tangan ayahnya pelan sebelum keluar dari ruang ICU.

Di luar, Umi Aisyah langsung berdiri ketika melihat Nadya keluar lebih dulu dengan mata sembab.

“Abimu bagaimana, Nadya?” tanyanya gelisah.

“Tenang, Mi,” jawab Nadya cepat meski suaranya sedikit bergetar. “Nadya yakin Abi akan sembuh. Jangan gelisah seperti itu. Kita perbanyak doa saja, Mi.”

Padahal hatinya sendiri penuh kekhawatiran. Namun ia harus terlihat kuat. Umi tidak boleh semakin panik.

Tak lama kemudian Hana keluar. Wajahnya lebih pucat dari sebelumnya.

Umi Aisyah langsung masuk ke dalam tanpa sempat mendengar apa pun dari Hana.

Kini tinggal Hana dan Nadya di lorong yang dingin itu.

“Bagaimana Abi, Hana?” tanya Nadya pelan.

“Abi sudah siuman, Kak,” jawab Hana dengan suara pelan.

“Alhamdulillah…” Nadya mengembuskan napas lega. “Lalu kenapa kamu sedih begitu?”

Hana menunduk. Bibirnya bergetar.

“Hana nurut untuk dijodohkan, Kak.”

Tangisnya kembali pecah.

Nadya terdiam beberapa detik.

“Hana, tidak semua perjodohan itu buruk,” ucapnya hati-hati.

Hana langsung mengangkat wajahnya. Matanya merah.

“Kalau memang tidak buruk, kenapa Kakak menolak tempo hari?”

Pertanyaan itu terasa seperti tamparan.

Hana melanjutkan dengan nada emosi yang tertahan.

“Kalau Kakak waktu itu siap, mungkin sekarang Hana tidak dipaksa. Mungkin acara tetap berjalan. Mungkin keluarga tidak semalu ini.”

“Jangan salahkan Kakak, Hana!” bentak Nadya. Suaranya menggema pelan di lorong. “Kamu dijodohkan karena Raka yang membuat malu keluarga kita! Dia yang memutuskan sepihak!”

Hana terdiam sesaat, lalu kembali bersuara tegas.

“Tapi kalau Kakak bilang perjodohan itu tidak buruk, kenapa Kakak menolak dan sekarang seolah-olah mendukung keputusan Abi?”

Nadya mengepalkan tangan.

“Han, yang menurut dengan keputusan Abi itu kamu. Bukan aku yang memaksa.”

Kalimat itu membuat Hana terpukul.

“Jadi ini semua pilihan Hana?” tanyanya lirih, tetapi tajam.

“Kamu sendiri yang bilang di dalam tadi kalau kamu menurut,” balas Nadya. “Kakak tidak pernah memaksamu.”

Hana tertawa kecil, pahit.

“Iya, Hana menurut. Karena Abi hampir pergi, Kak. Karena Hana takut kehilangan.”

Nadya terdiam.

“Hana tidak kuat melihat Abi seperti itu,” lanjut Hana dengan suara pecah. “Kalau harga kesembuhan Abi itu pernikahan Hana… ya sudah.”

“Kamu pikir pernikahan itu cuma harga yang bisa ditukar begitu saja?” suara Nadya meninggi. “Itu hidup kamu, Hana!”

“Lalu harus bagaimana?” Hana balas menatap kakaknya. “Hana bilang tidak, Abi stres lagi. Kalau terjadi apa-apa, siapa yang tanggung?”

Sunyi.

Lorong rumah sakit terasa semakin sempit, seolah udara ikut menekan dada Hana yang sudah sesak sejak tadi.

Hana mengusap air matanya kasar.

“Apa Kak Nadya tahu siapa laki-laki yang akan dijodohkan dengan Hana?” tanyanya lirih. Suaranya tak lagi setajam tadi, lebih seperti anak kecil yang tersesat.

Nadya menggeleng pelan. “Han… Kakak tidak tahu.”

Hana tersenyum hambar. “Jadi Hana akan menikah dengan orang yang bahkan namanya pun belum pernah Hana dengar.”

Tak ada jawaban.

Pintu ICU terbuka. Umi Aisyah keluar. Wajahnya masih basah oleh air mata, tetapi ada sedikit ketenangan di sana.

Ia menatap kedua putrinya bergantian.

“Hana… maafkan Umi, Nak.” Suaranya lemah, penuh rasa bersalah.

Hana langsung mendekat. “Tidak apa-apa, Mi. Hana akan berusaha ikhlas.”

Kalimat itu terdengar dewasa. Namun tangan Hana yang gemetar tidak dapat menyembunyikan kenyataan.

Seminggu berlalu.

Ahmad semakin membaik. Wajahnya tidak lagi sepucat hari pertama. Ia sudah bisa duduk lebih lama dan berbicara tanpa terengah-engah.

Hana hampir setiap hari datang lebih pagi dari Umi. Duduk di samping tempat tidur ayahnya, membacakan doa, menyuapi, dan menyemangati.

Ia selalu mengulang kalimat yang sama.

“Hana akan menurut, Bi.”

Kalimat itu seperti obat bagi Ahmad. Setiap kali Hana mengatakannya, sorot mata Ahmad terlihat lebih tenang.

Hari itu dokter mengizinkan Ahmad pulang.

“Sekarang kita pulang,” ucap Ahmad dengan suara lebih kuat dari sebelumnya. Ada semangat yang dulu sempat hilang.

“Iya, Abi,” jawab Hana cepat.

Rumah terasa berbeda ketika Ahmad kembali. Lebih hidup dan hangat. Tetangga datang menjenguk. Ibu-ibu pengajian turut mendoakan. Semua bersyukur Ahmad sudah pulih.

Malam itu, setelah tamu pulang dan rumah kembali sepi, Ahmad memanggil Hana ke ruang tengah.

“Hana, duduk sini.”

Hana melangkah pelan dan duduk di hadapan ayahnya. Tangannya terlipat di pangkuan, jantungnya berdegup tidak menentu.

Ahmad menatapnya lama, lalu menarik napas dalam.

“Ada hal penting yang ingin Abi sampaikan,” katanya pelan, tetapi tegas.

Hana menelan ludah.

Entah mengapa, malam itu terasa seperti awal dari sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia ulangi lagi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dicampakkan Sang Polisi, Dipinang Dokter TNI   Bab 5. Siapa dia?

    Hana masih berdiri beberapa saat di halaman rumah setelah mobil keluarga Azzam benar-benar hilang dari pandangan. Jalan di depan rumah kembali sepi. Hanya suara angin yang menggerakkan daun pohon mangga di samping pagar.Dadanya terasa aneh.Tidak tenang.Ia tidak tahu kenapa kalimat Azzam tadi terus terngiang di kepalanya.Kalau suatu hari nanti kamu berubah pikiran… jangan terlambat mengatakan.Hana menghela napas panjang, lalu berbalik masuk ke dalam rumah.Di ruang tamu, Ahmad sudah duduk kembali di kursinya. Wajahnya terlihat jauh lebih lega dibanding beberapa hari terakhir. Sementara Aisyah sedang membereskan gelas-gelas minuman di meja.Hana berdiri sebentar sebelum akhirnya berbicara.“Abi, Umi… Hana mau keluar ke supermarket.”Ahmad langsung menoleh cepat.“Mau ngapain sih, Han? Awas kamu nekat melarikan diri.”Nada suaranya penuh curiga.“Astaghfirullah, Abi!”Hana dan Aisyah hampir bersamaan mengucapkan istighfar.Aisyah menatap suaminya dengan tidak setuju, sementara Hana

  • Dicampakkan Sang Polisi, Dipinang Dokter TNI   Bab 5. Tidak dipaksa

    “Hana… tidak bisa.”Kalimat itu jatuh pelan, tetapi terasa seperti batu yang dilempar ke dalam ruangan yang tenang.Semua orang terdiam.“Hana!” suara Ahmad rendah namun tegas. Matanya melotot ke arah putrinya.Hana langsung mengangkat wajahnya. Jantungnya berdetak semakin keras. Ia tahu kalimatnya barusan terlalu berani.Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia kembali berbicara.“Maksud Hana… Hana tidak bisa mengatur semuanya sendiri secepat itu, Bi.”Ia berusaha terdengar tenang, meskipun di dalam hatinya ada kebohongan yang terasa menekan.Sebenarnya bukan soal waktu.Bukan soal persiapan.Hatinya saja yang belum siap.Namun, ia tidak mungkin mengatakan itu di hadapan semua orang.Ahmad menghela napas panjang. Tatapannya masih tajam, tetapi tidak lagi sekeras tadi.“Oh, kalau soal itu, Hana tidak usah memikirkan semuanya sendiri, Nak,” sela Bu Risna dengan suara lembut.Ia tersenyum menenangkan, seolah mencoba mencairkan suasana yang sempat menegang.“Kami juga akan membantu. Pe

  • Dicampakkan Sang Polisi, Dipinang Dokter TNI   Bab 4. Pertemuan Keluarga

    Hana duduk di hadapan ayahnya. Jantungnya berdegup tak nyaman. Ia tahu pembicaraan ini pasti akan datang.“Besok keluarga Azzam akan datang ke rumah,” ucap Ahmad tegas. “Abi sudah bicara dengan mereka.”Nama itu terdengar asing.Azzam.Hana menelan ludah.“Kamu siap, Nak?”Pertanyaan itu sebenarnya bukan benar-benar pertanyaan, melainkan penegasan.“Iya, Abi. Hana siap.”Ia tersenyum—senyum yang dipaksakan. Dari luar terlihat rapi, tetapi kosong di dalam.Aisyah yang berdiri di dapur memperhatikan dari jauh. Ia mengenali senyum itu. Ia tahu anaknya sedang menahan sesuatu yang besar.Namun, ia juga tahu suaminya keras kepala. Dan ia paham kondisi Ahmad belum sepenuhnya stabil.Malam itu Hana masuk ke kamar lebih cepat. Ia menutup pintu pelan, lalu duduk di tepi kasur.Azzam.Siapa dia?Apakah ia tahu bahwa calon istrinya baru saja dibatalkan sepihak oleh pria lain?Apakah ia tahu bahwa pernikahan ini bukan karena cinta?Hana menarik napas panjang. Ia membuka lemari. Gaun-gaun yang dahu

  • Dicampakkan Sang Polisi, Dipinang Dokter TNI   Bab 3. Siapa Jodoh Hana

    Mesin monitor berbunyi pelan dan teratur. Ruangan ICU terasa dingin dan sunyi. Hanya suara alat-alat medis yang terdengar stabil, seolah menjadi pengingat bahwa hidup seseorang sedang dipertahankan dengan segala daya.Hana masih menggenggam tangan ayahnya. Tangan itu terasa dingin, tetapi kali ini ada gerakan kecil yang membuat napasnya tercekat.Jari Ahmad bergerak pelan.Hana langsung menegakkan badan.“Abi…” suaranya gemetar. “Abi, ini Hana. Hana akan nurut, Bi.”Ia menunduk lebih dekat, seolah takut suaranya tidak terdengar.“Hana janji, Bi. Hana nurut.”Kelopak mata Ahmad bergetar. Perlahan terbuka sedikit. Pandangannya masih kabur.“Hana… anak Abi…” ucapnya lirih, hampir seperti bisikan angin.Air mata Hana kembali jatuh.“Iya, Bi. Hana di sini.” Ia mendekatkan wajahnya. “Hana tidak ke mana-mana.”Ahmad menatap samar wajah putrinya. Napasnya masih berat.“Hana…” ulangnya.“Iya, Bi…” suara Hana pecah.Tangan Ahmad yang lemah berusaha menggenggam balik tangan Hana. Tidak kuat, tet

  • Dicampakkan Sang Polisi, Dipinang Dokter TNI   Bab 2. Serangan jantung

    Tak lama setelah pintu kamar Hana tertutup, suasana rumah berubah sunyi. Terlalu sunyi. Seolah seluruh dinding ikut menahan napas setelah pertengkaran yang baru saja pecah.Umi Aisyah masih berdiri di ruang tamu. Dadanya naik turun, tangannya gemetar—entah karena marah, sedih, atau takut. Di sofa, Ahmad duduk dengan kepala tertunduk. Tangannya menekan kening, napasnya berat dan tidak teratur.“Abi…” Umi Aisyah mendekat pelan. “Abi nggak apa-apa?”Ahmad tak menjawab.Umi mengira suaminya hanya butuh waktu. Ia berbalik hendak ke kamar Hana, ingin menenangkan anaknya yang pasti sedang hancur. Namun langkahnya terhenti.“Abi…” panggilnya lagi, kali ini lebih waspada.Ahmad tiba-tiba mengerang pelan. Tangannya bergeser dari kening ke dada kiri.“Nggak… enak…” suaranya lirih, nyaris tak terdengar.Wajah Umi Aisyah langsung pucat.“Abi?” suaranya meninggi. “Abi kenapa?”Ahmad mencoba berdiri, tetapi tubuhnya justru oleng. Tangannya mencengkeram dada lebih kuat. Wajahnya semakin pucat, kering

  • Dicampakkan Sang Polisi, Dipinang Dokter TNI   Bab 1. Pernikahan yang dibatalkan

    “Raka sudah keterlaluan.”Suara Abi Ahmad Fauzan terdengar berat—bukan teriak, tetapi jelas penuh amarah yang ditahan. Ia berdiri di tengah ruang tamu, mondar-mandir dengan langkah pendek. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras.“Sabar, Abi,” ucap Umi Aisyah Rahman pelan. Ia duduk di samping Hana, menggenggam tangan putrinya erat. “Jangan emosi dulu.”“Bagaimana Abi mau sabar, Mi?” Ahmad berhenti melangkah. Matanya memerah. “Raka sudah mempermalukan keluarga kita. Dia memutuskan pernikahan ini sepihak, tanpa bicara apa-apa ke Abi.”Hana menunduk. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Dadanya terasa sesak.“Maafin Hana, Bi,” suaranya gemetar. “Hana nggak pernah niat bikin Abi sama Umi malu.”Umi Aisyah mengelus punggung tangan Hana, tak melepaskan genggamannya, seolah takut anaknya roboh jika ia lengah sedikit saja.“Ini semua sudah takdir, Nak,” ucap Umi dengan suara bergetar. “Kita nggak bisa menghindar dari apa yang Allah atur.”Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi rasanya begitu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status