Share

Bab 2. Serangan jantung

last update Last Updated: 2026-02-09 19:33:36

Tak lama setelah pintu kamar Hana tertutup, suasana rumah berubah sunyi. Terlalu sunyi. Seolah seluruh dinding ikut menahan napas setelah pertengkaran yang baru saja pecah.

Umi Aisyah masih berdiri di ruang tamu. Dadanya naik turun, tangannya gemetar—entah karena marah, sedih, atau takut. Di sofa, Ahmad duduk dengan kepala tertunduk. Tangannya menekan kening, napasnya berat dan tidak teratur.

“Abi…” Umi Aisyah mendekat pelan. “Abi nggak apa-apa?”

Ahmad tak menjawab.

Umi mengira suaminya hanya butuh waktu. Ia berbalik hendak ke kamar Hana, ingin menenangkan anaknya yang pasti sedang hancur. Namun langkahnya terhenti.

“Abi…” panggilnya lagi, kali ini lebih waspada.

Ahmad tiba-tiba mengerang pelan. Tangannya bergeser dari kening ke dada kiri.

“Nggak… enak…” suaranya lirih, nyaris tak terdengar.

Wajah Umi Aisyah langsung pucat.

“Abi?” suaranya meninggi. “Abi kenapa?”

Ahmad mencoba berdiri, tetapi tubuhnya justru oleng. Tangannya mencengkeram dada lebih kuat. Wajahnya semakin pucat, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

“Abi!” teriak Umi Aisyah panik. “Abi!”

Ia berlari ke arah pintu kamar Hana dan mengetuk keras.

“Hana! Hana, keluar!”

Hana yang masih terisak di dalam kamar langsung membuka pintu. Matanya sembab, pipinya masih memerah bekas tamparan.

“Ada apa, Mi?”

“Hana, Abi kamu…” suara Umi Aisyah bergetar hebat. “Abi kamu kenapa…”

Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, Hana berlari ke ruang tamu.

“Abi!” teriaknya panik.

Ia melihat Abi Ahmad berdiri setengah membungkuk, satu tangan mencengkeram dada, satu lagi berpegangan pada sandaran sofa.

Hana langsung meraih tubuh ayahnya.

“Abi!” suaranya gemetar. “Abi kenapa, Bi?”

Ahmad menoleh perlahan. Matanya setengah terpejam, napasnya tersengal.

“Hana…” suaranya lirih. “Abi…”

Kalimat itu terputus. Tubuh Ahmad tiba-tiba melemas.

“Abi!” Hana menjerit.

Tubuh kekar itu ambruk ke lantai. Hana dan Umi Aisyah refleks menahan sebisanya, tetapi berat tubuh Ahmad membuat mereka ikut tersungkur.

“Ya Allah!” tangis Umi Aisyah pecah. “Ya Allah, tolong suami saya!”

Hana berlutut di samping ayahnya. Tangannya gemetar memegang wajah Abi Ahmad.

“Abi… Abi bangun, Bi… tolong…” suaranya pecah. “Hana di sini, Bi…”

Ahmad tak menjawab. Matanya terpejam. Dadanya naik turun tak beraturan.

Umi Aisyah berteriak histeris, memanggil pertolongan.

Pintu rumah terbuka tiba-tiba.

“Nadya!”

Kakak Hana itu baru saja masuk. Wajahnya langsung berubah saat melihat ayahnya tergeletak di lantai.

“Abi?!” Nadya berlari mendekat. “Ya Allah, kenapa ini?!”

“Nadya, cepat!” teriak Umi Aisyah. “Ambil mobil! Kita ke rumah sakit!”

Tanpa banyak tanya, Nadya berlari ke garasi. Tangannya gemetar saat membuka pintu mobil.

“Cepat, Hana!” teriaknya dari luar. “Bantu Umi angkat Abi!”

Hana mengangguk cepat meski tubuhnya masih lemas. Bersama Umi, ia berusaha mengangkat tubuh Ahmad yang besar. Nafasnya tersengal, air matanya jatuh bercampur keringat.

“Abi… maafin Hana, Bi…” isaknya. “Tolong bangun… Hana mohon…”

Dengan susah payah, mereka berhasil memasukkan Ahmad ke kursi belakang. Nadya langsung duduk di kursi pengemudi.

“Pegang Abi baik-baik!” katanya tegas, meski suaranya bergetar.

Mobil melaju kencang menembus jalanan. Klakson bersahut-sahutan. Umi Aisyah memegang tangan suaminya erat-erat, seolah takut kehilangan.

“Abi… dengar Umi…” isaknya. “Istighfar, Bi… istighfar…”

Hana duduk di samping ayahnya, memegangi bahunya. Air matanya jatuh ke tangan Ahmad yang mulai terasa dingin.

“Hana nurut, Bi…” katanya pelan, penuh penyesalan. “Hana nurut sama Abi… asal Abi bangun…”

Tak ada jawaban.

Hanya suara napas berat dan deru mesin mobil yang memecah kecemasan.

Sesampainya di rumah sakit, suasana tampak sibuk. Begitu mobil berhenti, Nadya langsung turun dan berteriak meminta bantuan.

“Perawat! Dokter! Tolong!”

Beberapa petugas datang dengan brankar. Ahmad dipindahkan dengan cepat dan sigap.

“Riwayat sakit?” tanya salah satu perawat.

“Darah tinggi,” jawab Nadya tergesa. “Dan… jantung.”

Umi Aisyah nyaris roboh. Hana segera menahannya.

“Mi… duduk dulu…”

“Abi kamu, Hana…” suara Umi bergetar hebat. “Abi kamu kenapa begini…”

Ahmad dibawa masuk ke ruang IGD. Pintu tertutup rapat.

Tiga perempuan itu berdiri terpaku di depannya.

Sunyi.

Hana menatap pintu itu tanpa berkedip. Kepalanya dipenuhi rasa bersalah.

Kalau tadi aku nggak melawan Abi…

Kalau tadi aku diam saja…

Kalau tadi aku nggak bicara keras…

“Hana,” panggil Nadya pelan.

Hana menoleh. Wajah Nadya juga pucat, tetapi sorot matanya berusaha tegar.

“Kamu duduk,” katanya sambil menarik Hana ke kursi. “Kamu kelihatan lemas.”

Hana menggeleng.

“Hana yang bikin Abi begini, Kak,” ucapnya lirih. “Kalau Hana nurut dari awal, Abi nggak akan marah…”

“Stop,” potong Nadya tegas. “Jangan salahkan diri kamu terus.”

“Tapi—”

“Abi akan selamat,” lanjut Nadya, meski suaranya mulai bergetar.

Tangis Hana pecah lagi.

Di sudut kursi, Umi Aisyah terus melafalkan doa dan dzikir. Bibirnya tak berhenti bergerak. Tangannya gemetar, matanya sembab dan bengkak.

Beberapa menit terasa seperti berjam-jam.

Akhirnya pintu IGD terbuka. Seorang dokter keluar dengan wajah serius.

“Pihak keluarga Bapak Ahmad?”

Mereka bertiga langsung berdiri.

“Iya, Dok!” jawab Nadya cepat.

“Bapak mengalami serangan jantung,” ujar dokter itu tegas. “Kami sudah melakukan penanganan awal. Saat ini kondisinya masih kritis, tetapi stabil. Kami akan memindahkannya ke ICU untuk observasi lebih lanjut.”

Umi Aisyah langsung menangis lega.

“Alhamdulillah… ya Allah…”

Hana berdiri terpaku. Lututnya terasa lemas.

“Boleh… boleh kami lihat Abi, Dok?” tanyanya dengan suara kecil.

Dokter itu menatap Hana sejenak, lalu mengangguk. “Sebentar saja.”

Mereka masuk bergantian.

Hana melihat ayahnya terbaring lemah, tubuhnya dipenuhi selang dan alat medis. Wajah tegas yang selama ini selalu tampak kuat kini terlihat begitu rapuh.

Ia mendekat perlahan. Tangannya menggenggam tangan Abi Ahmad yang terasa dingin.

“Abi…” bisiknya. “Maafin Hana…”

Air matanya jatuh di atas seprai putih.

“Hana janji…” suaranya nyaris tak terdengar. “Hana akan nurut sama Abi… asal Abi sembuh…”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dicampakkan Sang Polisi, Dipinang Dokter TNI   Bab 5. Siapa dia?

    Hana masih berdiri beberapa saat di halaman rumah setelah mobil keluarga Azzam benar-benar hilang dari pandangan. Jalan di depan rumah kembali sepi. Hanya suara angin yang menggerakkan daun pohon mangga di samping pagar.Dadanya terasa aneh.Tidak tenang.Ia tidak tahu kenapa kalimat Azzam tadi terus terngiang di kepalanya.Kalau suatu hari nanti kamu berubah pikiran… jangan terlambat mengatakan.Hana menghela napas panjang, lalu berbalik masuk ke dalam rumah.Di ruang tamu, Ahmad sudah duduk kembali di kursinya. Wajahnya terlihat jauh lebih lega dibanding beberapa hari terakhir. Sementara Aisyah sedang membereskan gelas-gelas minuman di meja.Hana berdiri sebentar sebelum akhirnya berbicara.“Abi, Umi… Hana mau keluar ke supermarket.”Ahmad langsung menoleh cepat.“Mau ngapain sih, Han? Awas kamu nekat melarikan diri.”Nada suaranya penuh curiga.“Astaghfirullah, Abi!”Hana dan Aisyah hampir bersamaan mengucapkan istighfar.Aisyah menatap suaminya dengan tidak setuju, sementara Hana

  • Dicampakkan Sang Polisi, Dipinang Dokter TNI   Bab 5. Tidak dipaksa

    “Hana… tidak bisa.”Kalimat itu jatuh pelan, tetapi terasa seperti batu yang dilempar ke dalam ruangan yang tenang.Semua orang terdiam.“Hana!” suara Ahmad rendah namun tegas. Matanya melotot ke arah putrinya.Hana langsung mengangkat wajahnya. Jantungnya berdetak semakin keras. Ia tahu kalimatnya barusan terlalu berani.Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia kembali berbicara.“Maksud Hana… Hana tidak bisa mengatur semuanya sendiri secepat itu, Bi.”Ia berusaha terdengar tenang, meskipun di dalam hatinya ada kebohongan yang terasa menekan.Sebenarnya bukan soal waktu.Bukan soal persiapan.Hatinya saja yang belum siap.Namun, ia tidak mungkin mengatakan itu di hadapan semua orang.Ahmad menghela napas panjang. Tatapannya masih tajam, tetapi tidak lagi sekeras tadi.“Oh, kalau soal itu, Hana tidak usah memikirkan semuanya sendiri, Nak,” sela Bu Risna dengan suara lembut.Ia tersenyum menenangkan, seolah mencoba mencairkan suasana yang sempat menegang.“Kami juga akan membantu. Pe

  • Dicampakkan Sang Polisi, Dipinang Dokter TNI   Bab 4. Pertemuan Keluarga

    Hana duduk di hadapan ayahnya. Jantungnya berdegup tak nyaman. Ia tahu pembicaraan ini pasti akan datang.“Besok keluarga Azzam akan datang ke rumah,” ucap Ahmad tegas. “Abi sudah bicara dengan mereka.”Nama itu terdengar asing.Azzam.Hana menelan ludah.“Kamu siap, Nak?”Pertanyaan itu sebenarnya bukan benar-benar pertanyaan, melainkan penegasan.“Iya, Abi. Hana siap.”Ia tersenyum—senyum yang dipaksakan. Dari luar terlihat rapi, tetapi kosong di dalam.Aisyah yang berdiri di dapur memperhatikan dari jauh. Ia mengenali senyum itu. Ia tahu anaknya sedang menahan sesuatu yang besar.Namun, ia juga tahu suaminya keras kepala. Dan ia paham kondisi Ahmad belum sepenuhnya stabil.Malam itu Hana masuk ke kamar lebih cepat. Ia menutup pintu pelan, lalu duduk di tepi kasur.Azzam.Siapa dia?Apakah ia tahu bahwa calon istrinya baru saja dibatalkan sepihak oleh pria lain?Apakah ia tahu bahwa pernikahan ini bukan karena cinta?Hana menarik napas panjang. Ia membuka lemari. Gaun-gaun yang dahu

  • Dicampakkan Sang Polisi, Dipinang Dokter TNI   Bab 3. Siapa Jodoh Hana

    Mesin monitor berbunyi pelan dan teratur. Ruangan ICU terasa dingin dan sunyi. Hanya suara alat-alat medis yang terdengar stabil, seolah menjadi pengingat bahwa hidup seseorang sedang dipertahankan dengan segala daya.Hana masih menggenggam tangan ayahnya. Tangan itu terasa dingin, tetapi kali ini ada gerakan kecil yang membuat napasnya tercekat.Jari Ahmad bergerak pelan.Hana langsung menegakkan badan.“Abi…” suaranya gemetar. “Abi, ini Hana. Hana akan nurut, Bi.”Ia menunduk lebih dekat, seolah takut suaranya tidak terdengar.“Hana janji, Bi. Hana nurut.”Kelopak mata Ahmad bergetar. Perlahan terbuka sedikit. Pandangannya masih kabur.“Hana… anak Abi…” ucapnya lirih, hampir seperti bisikan angin.Air mata Hana kembali jatuh.“Iya, Bi. Hana di sini.” Ia mendekatkan wajahnya. “Hana tidak ke mana-mana.”Ahmad menatap samar wajah putrinya. Napasnya masih berat.“Hana…” ulangnya.“Iya, Bi…” suara Hana pecah.Tangan Ahmad yang lemah berusaha menggenggam balik tangan Hana. Tidak kuat, tet

  • Dicampakkan Sang Polisi, Dipinang Dokter TNI   Bab 2. Serangan jantung

    Tak lama setelah pintu kamar Hana tertutup, suasana rumah berubah sunyi. Terlalu sunyi. Seolah seluruh dinding ikut menahan napas setelah pertengkaran yang baru saja pecah.Umi Aisyah masih berdiri di ruang tamu. Dadanya naik turun, tangannya gemetar—entah karena marah, sedih, atau takut. Di sofa, Ahmad duduk dengan kepala tertunduk. Tangannya menekan kening, napasnya berat dan tidak teratur.“Abi…” Umi Aisyah mendekat pelan. “Abi nggak apa-apa?”Ahmad tak menjawab.Umi mengira suaminya hanya butuh waktu. Ia berbalik hendak ke kamar Hana, ingin menenangkan anaknya yang pasti sedang hancur. Namun langkahnya terhenti.“Abi…” panggilnya lagi, kali ini lebih waspada.Ahmad tiba-tiba mengerang pelan. Tangannya bergeser dari kening ke dada kiri.“Nggak… enak…” suaranya lirih, nyaris tak terdengar.Wajah Umi Aisyah langsung pucat.“Abi?” suaranya meninggi. “Abi kenapa?”Ahmad mencoba berdiri, tetapi tubuhnya justru oleng. Tangannya mencengkeram dada lebih kuat. Wajahnya semakin pucat, kering

  • Dicampakkan Sang Polisi, Dipinang Dokter TNI   Bab 1. Pernikahan yang dibatalkan

    “Raka sudah keterlaluan.”Suara Abi Ahmad Fauzan terdengar berat—bukan teriak, tetapi jelas penuh amarah yang ditahan. Ia berdiri di tengah ruang tamu, mondar-mandir dengan langkah pendek. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras.“Sabar, Abi,” ucap Umi Aisyah Rahman pelan. Ia duduk di samping Hana, menggenggam tangan putrinya erat. “Jangan emosi dulu.”“Bagaimana Abi mau sabar, Mi?” Ahmad berhenti melangkah. Matanya memerah. “Raka sudah mempermalukan keluarga kita. Dia memutuskan pernikahan ini sepihak, tanpa bicara apa-apa ke Abi.”Hana menunduk. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Dadanya terasa sesak.“Maafin Hana, Bi,” suaranya gemetar. “Hana nggak pernah niat bikin Abi sama Umi malu.”Umi Aisyah mengelus punggung tangan Hana, tak melepaskan genggamannya, seolah takut anaknya roboh jika ia lengah sedikit saja.“Ini semua sudah takdir, Nak,” ucap Umi dengan suara bergetar. “Kita nggak bisa menghindar dari apa yang Allah atur.”Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi rasanya begitu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status