Share

Bab 5. Siapa dia?

last update Last Updated: 2026-03-10 23:25:35

Hana masih berdiri beberapa saat di halaman rumah setelah mobil keluarga Azzam benar-benar hilang dari pandangan. Jalan di depan rumah kembali sepi. Hanya suara angin yang menggerakkan daun pohon mangga di samping pagar.

Dadanya terasa aneh.

Tidak tenang.

Ia tidak tahu kenapa kalimat Azzam tadi terus terngiang di kepalanya.

Kalau suatu hari nanti kamu berubah pikiran… jangan terlambat mengatakan.

Hana menghela napas panjang, lalu berbalik masuk ke dalam rumah.

Di ruang tamu, Ahmad sudah duduk kembali di kursinya. Wajahnya terlihat jauh lebih lega dibanding beberapa hari terakhir. Sementara Aisyah sedang membereskan gelas-gelas minuman di meja.

Hana berdiri sebentar sebelum akhirnya berbicara.

“Abi, Umi… Hana mau keluar ke supermarket.”

Ahmad langsung menoleh cepat.

“Mau ngapain sih, Han? Awas kamu nekat melarikan diri.”

Nada suaranya penuh curiga.

“Astaghfirullah, Abi!”

Hana dan Aisyah hampir bersamaan mengucapkan istighfar.

Aisyah menatap suaminya dengan tidak setuju, sementara Hana menghela napas kesal.

“Hana gak pernah berpikir seperti itu, Bi.”

Ahmad masih menatapnya beberapa detik, seolah mencoba membaca pikiran anaknya. Lalu ia mendengus pelan.

“Ya sudah sana. Tapi jangan lama-lama.”

“Iya, Bi.”

Hana langsung berbalik. Ia mengambil kunci mobil di meja dekat pintu tanpa mengganti gamis yang masih ia pakai sejak tadi.

“Hana pergi, Mi, Bi. Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam,” jawab Aisyah.

Pintu rumah tertutup pelan.

Beberapa menit kemudian mobil Hana melaju keluar dari halaman rumah.

Begitu mobil sampai di jalan yang agak sepi, tangan Hana yang memegang setir mulai bergetar. Penglihatannya perlahan menjadi kabur.

Air mata tiba-tiba jatuh tanpa bisa ia tahan lagi.

Tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah.

“Ya Allah…” lirihnya.

Mobil terus melaju, tetapi pikirannya justru kembali ke masa lalu.

Ke hari yang menghancurkan semuanya.

Saat itu Hana berdiri di depan Raka dengan tubuh gemetar.

Undangan pernikahan mereka sudah tersebar. Semua keluarga sudah tahu. Teman-temannya sudah mengucapkan selamat.

Gaun pengantin bahkan sudah selesai dijahit.

Namun Raka justru datang dengan wajah datar dan kalimat yang membuat dunia Hana runtuh.

“Maaf, Hana. Pernikahan kita batal karena ibu kurang setuju dengan kamu. Aku minta maaf.”

Nada suara Raka begitu ringan.

Seolah ia hanya membatalkan janji makan siang.

Bukan membatalkan pernikahan.

Bukan menghancurkan hidup seseorang.

Mata Hana langsung membesar. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

“Astaghfirullah, Raka! Apa kamu sadar yang kamu ucapkan barusan?”

Suara Hana bergetar, tapi jelas.

Namun Raka hanya menghela napas pelan, seperti orang yang sedang menghadapi masalah kecil.

“Kalau alasannya hanya karena ibumu,” lanjut Hana dengan emosi yang semakin naik, “kenapa bukan dari awal ibumu menolak aku?!”

Tangannya mengepal. Dadanya terasa panas.

“Kenapa kamu biarkan semuanya sampai sejauh ini?!”

Suara Hana hampir berubah menjadi teriakan.

Beberapa orang di sekitar mulai memperhatikan, tetapi Raka justru terlihat kesal. Ia mengusap wajahnya dengan tidak sabar.

“Maaf, Hana. Ibu tempo hari tidak enak mengatakannya.”

Jawaban itu terdengar sangat dingin.

“Tidak enak?” ulang Hana dengan suara yang pecah.

Air matanya terus mengalir.

“Iya,” lanjut Raka dengan nada datar.

“Ibu sebenarnya keberatan kita menikah.”

Hana menatapnya tidak percaya.

“Keberatan… karena apa?”

Raka terdiam sebentar.

Lalu ia berkata tanpa benar-benar memikirkan perasaan Hana.

“Karena aku polisi.”

Kalimat itu berhenti sebentar.

Kemudian ia melanjutkan dengan nada yang membuat dada Hana terasa seperti dihantam sesuatu yang keras.

“Dan kamu hanya penjual gamis di toko kecil.”

Dunia Hana seperti berhenti.

Beberapa detik ia bahkan tidak bisa bernapas.

“Apa?”

Suara Hana hampir tidak terdengar.

Raka menghela napas lagi.

“Bukan aku yang bilang, Hana. Ini kata ibu.”

“Katamu?”

“Menurut ibu… kita tidak sepadan.”

Kalimat itu seperti pisau yang menembus tepat ke dalam hati Hana.

Hana tertawa kecil.

Tawa yang terdengar sangat menyakitkan.

“Tidak sepadan?”

Matanya memerah.

“Jadi selama ini… kamu diam saja saat ibumu merendahkan aku?”

Raka mulai terlihat tidak nyaman.

“Hana, kamu jangan membesar-besarkan—”

“MEMBESARKAN?!”

Suara Hana akhirnya benar-benar pecah.

Orang-orang yang lewat mulai menoleh.

Air matanya mengalir deras.

“Kamu membatalkan pernikahan kita setelah semuanya siap!”

“Tamu sudah diundang!”

“Keluargaku sudah memberi tahu semua orang!”

Tangannya gemetar hebat.

“Dan kamu bilang aku membesar-besarkan?!”

Raka menghela napas panjang. Wajahnya mulai terlihat kesal.

“Hana, kamu harusnya mengerti juga posisi aku.”

“Posisi kamu?”

Hana menatapnya dengan tatapan terluka.

“Aku anak satu-satunya. Aku tidak bisa melawan ibu.”

Jawaban itu membuat Hana terdiam beberapa detik.

Lalu perlahan ia mengangguk.

Air matanya terus jatuh.

“Oh… jadi seperti itu.”

Suara Hana tiba-tiba menjadi sangat pelan. Sangat dingin.

“Berarti selama ini kamu hanya menunggu alasan untuk membatalkan semuanya.”

“Bukan begitu—”

“Sudah cukup, Raka.”

Hana mengangkat tangannya, menghentikan penjelasan itu.

Dadanya terasa sangat sakit.

Lebih sakit dari yang pernah ia rasakan sebelumnya.

“Mulai sekarang… jangan pernah datang lagi ke hidupku.”

Raka terdiam.

Namun bukannya menyesal, ia justru terlihat lega.

“Iya… mungkin itu memang yang terbaik.”

Kalimat itu menjadi pukulan terakhir.

“Brak!”

Hana tiba-tiba menghentikan mobilnya di pinggir jalan.

Napasnya memburu. Air matanya terus mengalir.

Tangannya menutup wajahnya.

Tangisnya pecah lagi di dalam mobil yang sunyi.

“Kenapa kamu lakukan itu, Raka…” lirihnya penuh luka.

Dadanya terasa sangat sesak.

Hana menunduk sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tangisnya semakin pecah di dalam mobil yang sunyi. Suara isaknya memenuhi ruang sempit itu.

Ia mencoba menarik napas panjang.

Namun setiap kali mengingat ucapan Raka, dadanya kembali terasa seperti diremas.

“Dan kamu hanya penjual gamis di toko kecil.”

Kalimat itu seperti terus berputar di kepalanya.

Hana mengusap air matanya dengan kasar. Ia menunduk beberapa saat, mencoba menenangkan diri.

Setelah napasnya mulai sedikit stabil, ia mengangkat wajahnya.

Matanya masih basah.

Pandangan Hana kemudian mengarah ke kaca depan mobil.

Parkiran supermarket di depannya terlihat cukup ramai. Beberapa orang keluar masuk membawa kantong belanja.

Hana menelan ludah.

Ia berniat turun dari mobil untuk membeli beberapa barang, sekadar agar pikirannya sedikit teralihkan.

Namun saat ia hendak membuka pintu mobil, matanya tiba-tiba menangkap sesuatu.

Seseorang.

Hana membeku.

Jantungnya langsung berdetak lebih keras.

Beberapa meter di depannya, di dekat pintu masuk supermarket…

Raka.

Pria itu berdiri di sana.

Bukan sendirian.

Di sampingnya ada seorang wanita yang sangat Hana kenal.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dicampakkan Sang Polisi, Dipinang Dokter TNI   Bab 5. Siapa dia?

    Hana masih berdiri beberapa saat di halaman rumah setelah mobil keluarga Azzam benar-benar hilang dari pandangan. Jalan di depan rumah kembali sepi. Hanya suara angin yang menggerakkan daun pohon mangga di samping pagar.Dadanya terasa aneh.Tidak tenang.Ia tidak tahu kenapa kalimat Azzam tadi terus terngiang di kepalanya.Kalau suatu hari nanti kamu berubah pikiran… jangan terlambat mengatakan.Hana menghela napas panjang, lalu berbalik masuk ke dalam rumah.Di ruang tamu, Ahmad sudah duduk kembali di kursinya. Wajahnya terlihat jauh lebih lega dibanding beberapa hari terakhir. Sementara Aisyah sedang membereskan gelas-gelas minuman di meja.Hana berdiri sebentar sebelum akhirnya berbicara.“Abi, Umi… Hana mau keluar ke supermarket.”Ahmad langsung menoleh cepat.“Mau ngapain sih, Han? Awas kamu nekat melarikan diri.”Nada suaranya penuh curiga.“Astaghfirullah, Abi!”Hana dan Aisyah hampir bersamaan mengucapkan istighfar.Aisyah menatap suaminya dengan tidak setuju, sementara Hana

  • Dicampakkan Sang Polisi, Dipinang Dokter TNI   Bab 5. Tidak dipaksa

    “Hana… tidak bisa.”Kalimat itu jatuh pelan, tetapi terasa seperti batu yang dilempar ke dalam ruangan yang tenang.Semua orang terdiam.“Hana!” suara Ahmad rendah namun tegas. Matanya melotot ke arah putrinya.Hana langsung mengangkat wajahnya. Jantungnya berdetak semakin keras. Ia tahu kalimatnya barusan terlalu berani.Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia kembali berbicara.“Maksud Hana… Hana tidak bisa mengatur semuanya sendiri secepat itu, Bi.”Ia berusaha terdengar tenang, meskipun di dalam hatinya ada kebohongan yang terasa menekan.Sebenarnya bukan soal waktu.Bukan soal persiapan.Hatinya saja yang belum siap.Namun, ia tidak mungkin mengatakan itu di hadapan semua orang.Ahmad menghela napas panjang. Tatapannya masih tajam, tetapi tidak lagi sekeras tadi.“Oh, kalau soal itu, Hana tidak usah memikirkan semuanya sendiri, Nak,” sela Bu Risna dengan suara lembut.Ia tersenyum menenangkan, seolah mencoba mencairkan suasana yang sempat menegang.“Kami juga akan membantu. Pe

  • Dicampakkan Sang Polisi, Dipinang Dokter TNI   Bab 4. Pertemuan Keluarga

    Hana duduk di hadapan ayahnya. Jantungnya berdegup tak nyaman. Ia tahu pembicaraan ini pasti akan datang.“Besok keluarga Azzam akan datang ke rumah,” ucap Ahmad tegas. “Abi sudah bicara dengan mereka.”Nama itu terdengar asing.Azzam.Hana menelan ludah.“Kamu siap, Nak?”Pertanyaan itu sebenarnya bukan benar-benar pertanyaan, melainkan penegasan.“Iya, Abi. Hana siap.”Ia tersenyum—senyum yang dipaksakan. Dari luar terlihat rapi, tetapi kosong di dalam.Aisyah yang berdiri di dapur memperhatikan dari jauh. Ia mengenali senyum itu. Ia tahu anaknya sedang menahan sesuatu yang besar.Namun, ia juga tahu suaminya keras kepala. Dan ia paham kondisi Ahmad belum sepenuhnya stabil.Malam itu Hana masuk ke kamar lebih cepat. Ia menutup pintu pelan, lalu duduk di tepi kasur.Azzam.Siapa dia?Apakah ia tahu bahwa calon istrinya baru saja dibatalkan sepihak oleh pria lain?Apakah ia tahu bahwa pernikahan ini bukan karena cinta?Hana menarik napas panjang. Ia membuka lemari. Gaun-gaun yang dahu

  • Dicampakkan Sang Polisi, Dipinang Dokter TNI   Bab 3. Siapa Jodoh Hana

    Mesin monitor berbunyi pelan dan teratur. Ruangan ICU terasa dingin dan sunyi. Hanya suara alat-alat medis yang terdengar stabil, seolah menjadi pengingat bahwa hidup seseorang sedang dipertahankan dengan segala daya.Hana masih menggenggam tangan ayahnya. Tangan itu terasa dingin, tetapi kali ini ada gerakan kecil yang membuat napasnya tercekat.Jari Ahmad bergerak pelan.Hana langsung menegakkan badan.“Abi…” suaranya gemetar. “Abi, ini Hana. Hana akan nurut, Bi.”Ia menunduk lebih dekat, seolah takut suaranya tidak terdengar.“Hana janji, Bi. Hana nurut.”Kelopak mata Ahmad bergetar. Perlahan terbuka sedikit. Pandangannya masih kabur.“Hana… anak Abi…” ucapnya lirih, hampir seperti bisikan angin.Air mata Hana kembali jatuh.“Iya, Bi. Hana di sini.” Ia mendekatkan wajahnya. “Hana tidak ke mana-mana.”Ahmad menatap samar wajah putrinya. Napasnya masih berat.“Hana…” ulangnya.“Iya, Bi…” suara Hana pecah.Tangan Ahmad yang lemah berusaha menggenggam balik tangan Hana. Tidak kuat, tet

  • Dicampakkan Sang Polisi, Dipinang Dokter TNI   Bab 2. Serangan jantung

    Tak lama setelah pintu kamar Hana tertutup, suasana rumah berubah sunyi. Terlalu sunyi. Seolah seluruh dinding ikut menahan napas setelah pertengkaran yang baru saja pecah.Umi Aisyah masih berdiri di ruang tamu. Dadanya naik turun, tangannya gemetar—entah karena marah, sedih, atau takut. Di sofa, Ahmad duduk dengan kepala tertunduk. Tangannya menekan kening, napasnya berat dan tidak teratur.“Abi…” Umi Aisyah mendekat pelan. “Abi nggak apa-apa?”Ahmad tak menjawab.Umi mengira suaminya hanya butuh waktu. Ia berbalik hendak ke kamar Hana, ingin menenangkan anaknya yang pasti sedang hancur. Namun langkahnya terhenti.“Abi…” panggilnya lagi, kali ini lebih waspada.Ahmad tiba-tiba mengerang pelan. Tangannya bergeser dari kening ke dada kiri.“Nggak… enak…” suaranya lirih, nyaris tak terdengar.Wajah Umi Aisyah langsung pucat.“Abi?” suaranya meninggi. “Abi kenapa?”Ahmad mencoba berdiri, tetapi tubuhnya justru oleng. Tangannya mencengkeram dada lebih kuat. Wajahnya semakin pucat, kering

  • Dicampakkan Sang Polisi, Dipinang Dokter TNI   Bab 1. Pernikahan yang dibatalkan

    “Raka sudah keterlaluan.”Suara Abi Ahmad Fauzan terdengar berat—bukan teriak, tetapi jelas penuh amarah yang ditahan. Ia berdiri di tengah ruang tamu, mondar-mandir dengan langkah pendek. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras.“Sabar, Abi,” ucap Umi Aisyah Rahman pelan. Ia duduk di samping Hana, menggenggam tangan putrinya erat. “Jangan emosi dulu.”“Bagaimana Abi mau sabar, Mi?” Ahmad berhenti melangkah. Matanya memerah. “Raka sudah mempermalukan keluarga kita. Dia memutuskan pernikahan ini sepihak, tanpa bicara apa-apa ke Abi.”Hana menunduk. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Dadanya terasa sesak.“Maafin Hana, Bi,” suaranya gemetar. “Hana nggak pernah niat bikin Abi sama Umi malu.”Umi Aisyah mengelus punggung tangan Hana, tak melepaskan genggamannya, seolah takut anaknya roboh jika ia lengah sedikit saja.“Ini semua sudah takdir, Nak,” ucap Umi dengan suara bergetar. “Kita nggak bisa menghindar dari apa yang Allah atur.”Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi rasanya begitu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status