Share

Bab 5. Tidak dipaksa

last update Last Updated: 2026-03-10 21:34:15

“Hana… tidak bisa.”

Kalimat itu jatuh pelan, tetapi terasa seperti batu yang dilempar ke dalam ruangan yang tenang.

Semua orang terdiam.

“Hana!” suara Ahmad rendah namun tegas. Matanya melotot ke arah putrinya.

Hana langsung mengangkat wajahnya. Jantungnya berdetak semakin keras. Ia tahu kalimatnya barusan terlalu berani.

Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia kembali berbicara.

“Maksud Hana… Hana tidak bisa mengatur semuanya sendiri secepat itu, Bi.”

Ia berusaha terdengar tenang, meskipun di dalam hatinya ada kebohongan yang terasa menekan.

Sebenarnya bukan soal waktu.

Bukan soal persiapan.

Hatinya saja yang belum siap.

Namun, ia tidak mungkin mengatakan itu di hadapan semua orang.

Ahmad menghela napas panjang. Tatapannya masih tajam, tetapi tidak lagi sekeras tadi.

“Oh, kalau soal itu, Hana tidak usah memikirkan semuanya sendiri, Nak,” sela Bu Risna dengan suara lembut.

Ia tersenyum menenangkan, seolah mencoba mencairkan suasana yang sempat menegang.

“Kami juga akan membantu. Persiapan pernikahan memang banyak, tapi kalau dilakukan bersama pasti lebih mudah.”

Hana hanya menunduk.

Sementara itu Bu Risna menoleh ke arah putranya.

“Azzam, kamu bisa kan, Nak, mengurus semuanya?”

Azzam yang sejak tadi duduk tenang langsung mengangguk.

“Bisa, Bu.”

Jawabannya singkat. Tanpa basa-basi. Tanpa ragu.

Hana menggigit bibir dalam-dalam.

Entah kenapa jawaban itu justru membuatnya semakin kesal.

Seolah-olah semuanya memang sudah diputuskan. Seolah pendapatnya tidak benar-benar penting.

Ruangan kembali diisi percakapan orang-orang dewasa.

Tanggal lamaran mulai dibicarakan. Rencana pertemuan keluarga besar. Bahkan mulai menyinggung kemungkinan waktu pernikahan.

Semua terasa begitu cepat.

Sementara Hana hanya duduk diam.

Ia seperti berada di ruangan yang penuh suara, tetapi tidak benar-benar mendengar apa pun.

Sesekali ia mencuri pandang ke arah Azzam.

Pria itu tetap tenang.

Wajahnya sulit ditebak.

Tidak terlihat antusias. Tidak juga terlihat keberatan.

Seolah pernikahan ini hanyalah sebuah keputusan logis dalam hidupnya.

Tidak lebih.

Beberapa saat kemudian, pertemuan itu akhirnya selesai.

Keluarga Azzam bersiap pamit.

Ahmad mengantar mereka sampai ke teras. Wajahnya terlihat jauh lebih lega dibanding sebelumnya.

Seolah beban besar telah diangkat dari pundaknya.

Di teras, Bu Risna menggenggam tangan Hana dengan hangat.

“Kami sangat senang akhirnya bisa bertemu langsung denganmu, Nak.”

Hana tersenyum tipis.

“Terima kasih, Bu.”

Sementara itu Abdi menepuk bahu Ahmad.

“InsyaAllah semuanya berjalan lancar.”

“InsyaAllah,” jawab Ahmad mantap.

Saat semua orang mulai bergerak menuju mobil, Azzam tiba-tiba berhenti.

Ia menoleh ke arah Hana yang berdiri sedikit di belakang.

“Hana.”

Suara itu membuat Hana mengangkat kepala.

Untuk pertama kalinya sejak tadi, Azzam benar-benar menatapnya.

Tatapannya dalam.

“Boleh bicara sebentar?”

Ahmad sempat menoleh, tetapi kemudian mengangguk kecil.

“Tidak lama ya.”

Azzam mengangguk.

Mereka berjalan beberapa langkah menjauh dari yang lain, masih di halaman rumah.

Angin pagi berhembus pelan. Suasana tiba-tiba terasa jauh lebih sunyi.

Hana berdiri dengan canggung.

“Ada apa?” tanyanya pelan.

Azzam menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya berkata,

“Kamu sebenarnya tidak mau menikah dengan saya, ya?”

Pertanyaan itu datang begitu saja.

Langsung.

Tanpa pengantar.

Hana terkejut. Matanya membesar.

“A-apa maksudnya?”

Azzam menghela napas pelan.

“Dari tadi kamu terlihat seperti orang yang sedang dipaksa.”

Hana terdiam.

“Kalau memang kamu tidak mau,” lanjut Azzam tenang, “kamu bisa mengatakan sekarang.”

Hana menatapnya lama.

Ada sesuatu dalam nada suara pria itu.

Bukan marah.

Bukan menuntut.

Lebih seperti… memberi jalan keluar.

Namun justru itu membuat dada Hana semakin sesak.

Karena jalan keluar itu terasa mustahil.

Ia teringat wajah ayahnya di rumah sakit.

Ia teringat janji yang ia ucapkan sambil menangis.

Hana menunduk.

“Tidak,” katanya pelan.

Azzam mengernyit sedikit.

“Aku tidak dipaksa.”

Kalimat itu terdengar rapi.

Terlalu rapi.

Azzam tidak langsung menjawab.

Ia hanya memperhatikan wajah Hana yang masih menunduk.

Beberapa detik berlalu.

Lalu ia berkata pelan,

“Baik.”

Ia berbalik hendak pergi.

Namun sebelum melangkah jauh, ia berhenti lagi.

Tanpa menoleh, ia berkata,

“Kalau suatu hari nanti kamu berubah pikiran… jangan terlambat mengatakan.”

Hana membeku.

Kalimat itu terasa aneh.

Seolah Azzam tahu sesuatu yang belum ia ketahui.

Seolah pria itu sedang memperingatkannya tentang sesuatu.

Azzam kemudian melangkah menuju mobil keluarganya.

Mesin mobil menyala.

Mobil perlahan menjauh dari halaman rumah.

Hana masih berdiri di tempat yang sama.

Angin kembali berhembus pelan.

Ia menatap jalan kosong di depan rumahnya.

Dan entah kenapa…

untuk pertama kalinya sejak perjodohan ini dimulai…

perasaannya justru semakin tidak tenang.

Seolah pertemuan hari ini bukan awal dari sebuah pernikahan.

Melainkan awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit.

Sementara itu, dari dalam mobil yang mulai menjauh, Azzam menatap lurus ke depan.

Wajahnya tetap tenang.

Namun di dalam pikirannya, satu kalimat Hana terus terngiang.

“Aku tidak dipaksa.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dicampakkan Sang Polisi, Dipinang Dokter TNI   Bab 5. Siapa dia?

    Hana masih berdiri beberapa saat di halaman rumah setelah mobil keluarga Azzam benar-benar hilang dari pandangan. Jalan di depan rumah kembali sepi. Hanya suara angin yang menggerakkan daun pohon mangga di samping pagar.Dadanya terasa aneh.Tidak tenang.Ia tidak tahu kenapa kalimat Azzam tadi terus terngiang di kepalanya.Kalau suatu hari nanti kamu berubah pikiran… jangan terlambat mengatakan.Hana menghela napas panjang, lalu berbalik masuk ke dalam rumah.Di ruang tamu, Ahmad sudah duduk kembali di kursinya. Wajahnya terlihat jauh lebih lega dibanding beberapa hari terakhir. Sementara Aisyah sedang membereskan gelas-gelas minuman di meja.Hana berdiri sebentar sebelum akhirnya berbicara.“Abi, Umi… Hana mau keluar ke supermarket.”Ahmad langsung menoleh cepat.“Mau ngapain sih, Han? Awas kamu nekat melarikan diri.”Nada suaranya penuh curiga.“Astaghfirullah, Abi!”Hana dan Aisyah hampir bersamaan mengucapkan istighfar.Aisyah menatap suaminya dengan tidak setuju, sementara Hana

  • Dicampakkan Sang Polisi, Dipinang Dokter TNI   Bab 5. Tidak dipaksa

    “Hana… tidak bisa.”Kalimat itu jatuh pelan, tetapi terasa seperti batu yang dilempar ke dalam ruangan yang tenang.Semua orang terdiam.“Hana!” suara Ahmad rendah namun tegas. Matanya melotot ke arah putrinya.Hana langsung mengangkat wajahnya. Jantungnya berdetak semakin keras. Ia tahu kalimatnya barusan terlalu berani.Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia kembali berbicara.“Maksud Hana… Hana tidak bisa mengatur semuanya sendiri secepat itu, Bi.”Ia berusaha terdengar tenang, meskipun di dalam hatinya ada kebohongan yang terasa menekan.Sebenarnya bukan soal waktu.Bukan soal persiapan.Hatinya saja yang belum siap.Namun, ia tidak mungkin mengatakan itu di hadapan semua orang.Ahmad menghela napas panjang. Tatapannya masih tajam, tetapi tidak lagi sekeras tadi.“Oh, kalau soal itu, Hana tidak usah memikirkan semuanya sendiri, Nak,” sela Bu Risna dengan suara lembut.Ia tersenyum menenangkan, seolah mencoba mencairkan suasana yang sempat menegang.“Kami juga akan membantu. Pe

  • Dicampakkan Sang Polisi, Dipinang Dokter TNI   Bab 4. Pertemuan Keluarga

    Hana duduk di hadapan ayahnya. Jantungnya berdegup tak nyaman. Ia tahu pembicaraan ini pasti akan datang.“Besok keluarga Azzam akan datang ke rumah,” ucap Ahmad tegas. “Abi sudah bicara dengan mereka.”Nama itu terdengar asing.Azzam.Hana menelan ludah.“Kamu siap, Nak?”Pertanyaan itu sebenarnya bukan benar-benar pertanyaan, melainkan penegasan.“Iya, Abi. Hana siap.”Ia tersenyum—senyum yang dipaksakan. Dari luar terlihat rapi, tetapi kosong di dalam.Aisyah yang berdiri di dapur memperhatikan dari jauh. Ia mengenali senyum itu. Ia tahu anaknya sedang menahan sesuatu yang besar.Namun, ia juga tahu suaminya keras kepala. Dan ia paham kondisi Ahmad belum sepenuhnya stabil.Malam itu Hana masuk ke kamar lebih cepat. Ia menutup pintu pelan, lalu duduk di tepi kasur.Azzam.Siapa dia?Apakah ia tahu bahwa calon istrinya baru saja dibatalkan sepihak oleh pria lain?Apakah ia tahu bahwa pernikahan ini bukan karena cinta?Hana menarik napas panjang. Ia membuka lemari. Gaun-gaun yang dahu

  • Dicampakkan Sang Polisi, Dipinang Dokter TNI   Bab 3. Siapa Jodoh Hana

    Mesin monitor berbunyi pelan dan teratur. Ruangan ICU terasa dingin dan sunyi. Hanya suara alat-alat medis yang terdengar stabil, seolah menjadi pengingat bahwa hidup seseorang sedang dipertahankan dengan segala daya.Hana masih menggenggam tangan ayahnya. Tangan itu terasa dingin, tetapi kali ini ada gerakan kecil yang membuat napasnya tercekat.Jari Ahmad bergerak pelan.Hana langsung menegakkan badan.“Abi…” suaranya gemetar. “Abi, ini Hana. Hana akan nurut, Bi.”Ia menunduk lebih dekat, seolah takut suaranya tidak terdengar.“Hana janji, Bi. Hana nurut.”Kelopak mata Ahmad bergetar. Perlahan terbuka sedikit. Pandangannya masih kabur.“Hana… anak Abi…” ucapnya lirih, hampir seperti bisikan angin.Air mata Hana kembali jatuh.“Iya, Bi. Hana di sini.” Ia mendekatkan wajahnya. “Hana tidak ke mana-mana.”Ahmad menatap samar wajah putrinya. Napasnya masih berat.“Hana…” ulangnya.“Iya, Bi…” suara Hana pecah.Tangan Ahmad yang lemah berusaha menggenggam balik tangan Hana. Tidak kuat, tet

  • Dicampakkan Sang Polisi, Dipinang Dokter TNI   Bab 2. Serangan jantung

    Tak lama setelah pintu kamar Hana tertutup, suasana rumah berubah sunyi. Terlalu sunyi. Seolah seluruh dinding ikut menahan napas setelah pertengkaran yang baru saja pecah.Umi Aisyah masih berdiri di ruang tamu. Dadanya naik turun, tangannya gemetar—entah karena marah, sedih, atau takut. Di sofa, Ahmad duduk dengan kepala tertunduk. Tangannya menekan kening, napasnya berat dan tidak teratur.“Abi…” Umi Aisyah mendekat pelan. “Abi nggak apa-apa?”Ahmad tak menjawab.Umi mengira suaminya hanya butuh waktu. Ia berbalik hendak ke kamar Hana, ingin menenangkan anaknya yang pasti sedang hancur. Namun langkahnya terhenti.“Abi…” panggilnya lagi, kali ini lebih waspada.Ahmad tiba-tiba mengerang pelan. Tangannya bergeser dari kening ke dada kiri.“Nggak… enak…” suaranya lirih, nyaris tak terdengar.Wajah Umi Aisyah langsung pucat.“Abi?” suaranya meninggi. “Abi kenapa?”Ahmad mencoba berdiri, tetapi tubuhnya justru oleng. Tangannya mencengkeram dada lebih kuat. Wajahnya semakin pucat, kering

  • Dicampakkan Sang Polisi, Dipinang Dokter TNI   Bab 1. Pernikahan yang dibatalkan

    “Raka sudah keterlaluan.”Suara Abi Ahmad Fauzan terdengar berat—bukan teriak, tetapi jelas penuh amarah yang ditahan. Ia berdiri di tengah ruang tamu, mondar-mandir dengan langkah pendek. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras.“Sabar, Abi,” ucap Umi Aisyah Rahman pelan. Ia duduk di samping Hana, menggenggam tangan putrinya erat. “Jangan emosi dulu.”“Bagaimana Abi mau sabar, Mi?” Ahmad berhenti melangkah. Matanya memerah. “Raka sudah mempermalukan keluarga kita. Dia memutuskan pernikahan ini sepihak, tanpa bicara apa-apa ke Abi.”Hana menunduk. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Dadanya terasa sesak.“Maafin Hana, Bi,” suaranya gemetar. “Hana nggak pernah niat bikin Abi sama Umi malu.”Umi Aisyah mengelus punggung tangan Hana, tak melepaskan genggamannya, seolah takut anaknya roboh jika ia lengah sedikit saja.“Ini semua sudah takdir, Nak,” ucap Umi dengan suara bergetar. “Kita nggak bisa menghindar dari apa yang Allah atur.”Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi rasanya begitu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status