หน้าหลัก / Romansa / Dicari! Mama Untuk Putra CEO / Bab 2. Apa Begini Rasanya Punya Mama?

แชร์

Bab 2. Apa Begini Rasanya Punya Mama?

ผู้เขียน: Andrea_Wu
last update วันที่เผยแพร่: 2026-09-24 15:13:08

  "Berhenti mengganggu teman kalian!"

  Wanita cantik yang berteriak tadi bergegas menghampiri mereka, mengurungkan niatnya mencari taksi di depan TK Saint Laurent, ketika tanpa sengaja melihat tiga bocah kecil mengerumuni seorang bocah yang jauh lebih kecil. 

Melihat orang dewasa yang datang menegur, ketiga anak itu pun sontak menghentikan tawa mereka dan mundur.

  Wanita tersebut berjongkok di hadapan Leonard. Dia mengeluarkan tisu dari tasnya, kemudian membersihkan debu di sekitar lutut bocah itu dengan hati-hati.

  "Kamu nggak apa-apa?"

  Leonard tidak menjawab. Dia hanya terisak pelan sambil menahan perih ketika tisu menyentuh lukanya. 

  Wanita itu mengangkat wajah, menatap tegas ketiga anak yang masih berdiri beberapa langkah dari mereka.

  "Kenapa kalian mengganggunya?"

  "Kami cuma bercanda, Tante," jawab Alex, kali ini tampak tegang karena ketahuan berbuat nakal.

  "Bercanda sampai mendorong teman kalian dan menginjak topinya?" Wanita itu menunjuk topi kuning yang tergeletak kotor di dekat pot bunga. "Kalau Tante melakukan hal yang sama pada kalian, apa kalian mau?"

  Ketiganya diam, dan hanya saling lirik satu sama lain.

  "Maaf, Tante," gumam mereka hampir bersamaan.

  Wanita itu menarik napas panjang. Anak-anak seusia mereka seharusnya bermain bersama, bukan malah menindas anak yang lain.

  "Sini. Minta maaf kepada teman kalian, jangan ulangi lagi. Kalau Tante melihat kalian mengganggunya sekali lagi, Tante akan melapor kepada guru dan meminta orang tua kalian datang ke sekolah. Mengerti?"

  Mereka mengangguk cepat, lalu meminta maaf kepada Leonard sebelum bergegas pergi.

  Setelah ketiganya pergi, wanita itu kembali berjongkok di hadapan Leonard.

  "Sudah, jangan menangis lagi. Mereka sudah pergi, kok."

  Dia tersenyum lembut, berusaha menghapus sisa air mata di pipi Leonard. Namun, bocah itu justru menundukkan kepala dan menghindari tatapannya.

  "Duduk dulu, ya. Tante bersihkan lukamu."

  Leonard mengintip wajah wanita itu dari balik poni. Dia menatap wajah itu dengan seksama dalam beberapa saat. Lalu memiringkan kepalanya sedikit dan bergumam. "Mama, apa Mama sudah bangun?"

 "Nak, kenapa?"

 Masih dalam posisi menunduk, Leonard hanya bisa menggeleng pelan.

  "Kenapa? Takut sama Tante?"

  Wanita itu tidak memaksanya. Dia hanya mengulurkan tangan dan memperlihatkan senyumnya sekali lagi.

  "Tante nggak akan menyakitimu. Tante cuma mau membantu. Kalau lukanya dibiarkan kotor, nanti bisa tambah sakit."

  Leonard memandangi tangan yang terulur di hadapannya. Setelah beberapa saat, dia akhirnya mengangguk dan menyambut uluran tangan itu.

Setelah membantunya duduk kembali di bangku kayu, wanita itu mulai membersihkan luka di lutut Leonard dengan tisu yang ia keluarkan dari tas kecilnya. Begitu tisu menyentuh bagian lutut yang tergores, Leonard langsung meringis dan menarik kakinya.

  "Sakit, ya?" tanyanya lembut.

  Leonard mengangguk pelan. Sesekali dia melirik wanita itu, lalu kembali menatap tanah.

  "Sebentar saja. Setelah bersih, nanti bisa diobati lagi di rumah."

  Wanita itu mengusap lukanya dengan hati-hati, lalu membuang tisu kotor ke tempat sampah. Dia mengambil topi kuning Leonard yang tergeletak di dekat pot bunga, membersihkan sebisanya, kemudian menyerahkannya kembali.

  "Makasih, Tante."

  "Sama-sama. Namamu siapa?" tanyanya.

  "Leonard."

  "Nama yang bagus." Dia mengulurkan tangan, lalu sedikit tertawa ketika Leonard hanya memandanginya kebingungan. "Nama Tante Clair. Clair Valencia."

  Leonard mengangguk kecil, menyimpan nama itu dalam ingatannya. Juga wajah cantiknya yang sangat mirip dengan ibunya.

  "Nanti sampai rumah, bilang sama Mamamu, ya. Biar lukanya diobati lagi."

  Leonard diam, dia kembali menunduk dengan jari-jari yang dimainkan, pertanda jika dia sedang gugup dan tidak tahu harus menjawab apa.

  "Mama masih tidur, Tante."

  "Tidur?"

  "Eum, Papa bilang Mama akan tidur lama di dalam peti. Kalau Leon jadi anak baik, Mama nanti bangun."

  Clair diam terpaku. Dari ucapan itu, dia bisa langsung memahami jika ibu Leonard sudah tiada, dan bocah ini hanya tahu jika ibunya tertidur.

  Ayahnya membohonginya, agar anak ini tidak tahu jika ibunya sudah meninggal. Apakah anak seumur Leonard belum memahami konsep kematian? Mungkin ayahnya tidak ingin anaknya sedih.

  "Ya sudah, nanti bilang sama Papamu saja. Biarkan Mamamu tidur."

  "Eum."

  Ketika menatapnya kembali, Clair mengubah ekspresi di wajahnya. 

  "Oh iya, biasanya siapa yang menjemputmu?"

  "Paman sopir yang antar Leon. Tapi hari ini Papa janji akan jemput Leon. Tapi Papa nggak datang."

  Clair melirik jam tangannya, lalu memandang gerbang sekolah yang kini hampir kosong.

  "Kalau begitu, kamu mau Tante temani menunggu Papamu, bagaimana?"

  "Leon mau pulang."

  "Rumahmu jauh dari sini?"

  "Leon nggak tahu." Dia memainkan ujung topinya. "Biasanya Leon pulang sama paman sopir."

  Clair terdiam sejenak. Dia sendiri sebenarnya sedang terburu-buru karena harus pergi ke rumah sakit, tetapi meninggalkan bocah ini sendirian di depan sekolah juga bukan pilihan yang baik. 

  Clair kemudian berinisiatif memeriksa tas ransel kecil milik Leonard, dan menemukan kartu nama milik anak itu yang tergantung di sana, beserta alamat rumahnya.

  "Ah, ada kartu namamu di sini. Kalau begitu, Tante antar kamu pulang, ya? Kita bisa naik taksi."

  Leonard mengangkat wajahnya. Dia menatap Clair cukup lama, sebelum berkata, "Tante mau antar Leon?"

  "Iya. Memangnya kamu mau menunggu sendirian sampai malam?"

  Leonard buru-buru menggeleng. Dia takut berada di luar ketika malam hari, mengingat hantu yang muncul di film yang sering ditonton pengasuhnya.

  Clair tersenyum, lalu berdiri dan merentangkan kedua tangannya. "Ayo, kalau begitu. Kita berangkat."

  Leonard memandang tangan itu, tetapi tidak segera menyambutnya. Dia sudah cukup besar untuk berjalan sendiri. Papanya selalu mengatakan bahwa anak laki-laki harus mandiri dan tidak boleh merepotkan orang lain.

  Clair sepertinya memahami keraguannya. Dia kembali berjongkok, lalu bertanya dengan suara lembut, "Lututmu masih sakit? Mau Tante gendong?"

  "Leon sudah besar."

  Clair menahan senyumnya. "Iya, Leon memang sudah besar. Tapi anak besar juga boleh digendong kalau sedang terluka."

  Leonard masih tampak malu. Dia melirik ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada teman sekolahnya yang melihat. Setelah itu, dengan gerakan ragu-ragu, dia mengulurkan kedua tangannya kepada Clair.

  Wanita itu segera mengangkatnya. Satu tangannya menyangga tubuh Leonard, sementara tangan yang lain menahan punggungnya agar bocah itu duduk dengan nyaman di dalam pelukannya.

  Leonard sempat menegang. Dia tidak terbiasa berada sedekat ini dengan orang lain, apalagi wanita yang baru dikenalnya. Kedua tangannya menggantung canggung di sisi tubuh Clair, sementara wajahnya bersembunyi di dekat bahu wanita itu.

  "Pegangan. Nanti kamu jatuh."

  Leonard perlahan melingkarkan kedua lengannya di leher Clair. Mencium aroma wangi yang membuat nyaman.

  ‘Baunya seperti Mama. Apa begini rasanya dipeluk Mama?’ batin Leonard.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Dicari! Mama Untuk Putra CEO   Bab 8. Perjanjian

    "Kenapa wajahmu sangat mirip dengan Clara?" Ucapan itu ternyata masih terngiang di telinga Clair. Meskipun belum pernah melihat wajah Clara karena Kael tidak pernah memperlihatkan foto mendiang istrinya, Clair tetap merasa heran. Namun, bukankah di dunia ini ada kemungkinan seseorang memiliki tujuh kembaran? "Sudahlah, kenapa aku memikirkan hal yang tidak penting begitu? Mungkin hanya kebetulan." Clair merebahkan tubuhnya di atas kasur kecil di dalam flat sederhana yang ditinggalinya. Matanya menatap langit-langit kamar, membayangkan bagaimana kehidupannya bisa berubah begitu drastis hanya dalam waktu singkat. Awalnya, dia hanya berniat menolong Leonard, tetapi sekarang justru harus berakhir menjadi istri kontrak Kael Dimitri, seorang CEO dari perusahaan raksasa di negara ini. "Menikah? Apa keputusanku ini benar-benar masuk akal?" gumamnya. "Sudahlah, lebih baik tidur. Besok aku harus ke sana lagi untuk membahas kontrak." Clair mencoba memejamkan kedua matanya. Sejak dulu, dia

  • Dicari! Mama Untuk Putra CEO   Bab 7. Apa Mama Sudah Bangun?

    "Mama!" teriak Leonard begitu mengetahui Clair datang. Wanita itu langsung berjalan masuk ke kamar Leon, diikuti Marta dan Kael yang berjalan di belakang. Leonard yang masih demam menyambut Clair dengan penuh semangat. Dia segera menyingkap selimutnya, lalu merentangkan kedua tangan untuk memeluk wanita yang sebelumnya dia panggil tante itu. "Halo, Boy. Katanya kamu mogok makan. Kenapa?" Leonard mendongak. Matanya yang sayu menatap Clair, lalu kembali menunduk dan menyembunyikan wajahnya di perut wanita itu. Dia menghirup aroma lembut dari tubuh wanita yang sekarang dipanggilnya Mama. Dia sangat menyukai aroma tubuh Clair. Baunya begitu enak dan membuatnya merasa nyaman. "Leon rindu Mama. Kenapa Mama tidur lama banget? Apa Mama sudah bangun? Mama nggak akan tidur lagi, kan?" Clair terdiam beberapa saat. Dia mengusap kepala bocah itu. Hatinya ikut sakit ketika menyadari bahwa anak sekecil ini harus kehilangan ibunya. Dan sekarang, dia harus menggantikan peran ibu bagi Leonard de

  • Dicari! Mama Untuk Putra CEO   Bab 6. Kesepakatan Gila

    Mobil yang dikemudikan Jovan memasuki gerbang utama mansion megah yang berdiri di kawasan elite Dalvora. Di balik pagar besi berwarna hitam keemasan itu, halaman luas terbentang dengan taman yang tertata sempurna, sementara air mancur di tengahnya memantulkan cahaya matahari pagi. Clair merapatkan mantel tipis yang dikenakannya, lalu melirik Jovan yang duduk di belakang kemudi. "Kamu tidak perlu gugup," ujar Jovan ketika mobil berhenti di depan tangga mansion. Ia mematikan mesin, lalu menoleh kepada Clair. "Tuan Dimitri hanya ingin bicara denganmu." Clair mengangguk kecil, lalu kembali menatap Jovan. "Apa Leonard baik-baik saja?" tanyanya kemudian. "Tuan Muda masih demam. Dokter sudah memeriksanya dan memberikan obat, tetapi sejak semalam dia terus memanggil namamu." Ada rasa khawatir yang perlahan memenuhi dada Clair. Ia tidak menyangka anak sekecil Leonard akan begitu terikat kepadanya hanya karena pertemuan singkat mereka. "Kalau begitu, ayo kita masuk," ucap Clair, membuka

  • Dicari! Mama Untuk Putra CEO   Bab 5. Tawaran

    Kael baru saja menyelesaikan beberapa dokumen di ruang kerjanya, lalu menatap foto mendiang istrinya yang selalu berada di atas meja. Dia memandang foto itu cukup lama, lalu meraup kasar wajahnya. Dia tidak harus terus terpuruk seperti ini. Meskipun tidak ada cinta di hati Kael untuk Clara, tapi dia selalu menyesal ketika dia gagal melindungi wanita yang sudah memberinya putra untuknya. "Maafkan aku, Clara. Tadi Leon marah padaku. Aku lupa menjemputnya. Apa aku ayah yang jahat? Aku sudah berusaha membuatnya senang. Semua fasilitas terbaik, tapi aku belum bisa jadi ayah yang baik untuknya." Tepat ketika dia mengalihkan pandangan. Martha datang dengan wajah cemas. "Tuan, Tuan Muda sepertinya kurang sehat." Kael langsung menutup berkas di tangannya. Berdiri, lalu menghampiri Martha yang mematung di depan pintu. "Leon kenapa?" Martha tampak gugup saat berbicara. "Sejak sore tadi, Tuan Muda tidak mau makan, dan sekarang tubuhnya demam." "Belum mau makan juga?" Kael mendesah pe

  • Dicari! Mama Untuk Putra CEO   Bab 4. Leon Mau Mama

    Clair menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang kecil di flat mungil yang disewanya. Selama ini, dia hanya tinggal berdua dengan ibunya di sebuah flat kumuh di kawasan pinggiran Kota Dalvora. Sebelum dipecat dari pekerjaannya, Clair bekerja sebagai kasir di sebuah minimarket yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Dari sanalah dia mencari nafkah untuk menghidupi diri sendiri sekaligus membeli obat-obatan bagi ibunya. Sudah satu tahun ibunya jatuh sakit. Samanta menderita kanker ovarium stadium akhir. Setiap hari, ibunya harus mengonsumsi obat-obatan dan menjalani kemoterapi sesuai jadwal yang ditentukan dokter. Semua itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Masalah datang silih berganti. Namun, siang tadi, isi kepalanya semakin rumit setelah bertemu Leonard, dan melihat ekspresi bocah itu yang tidak mau berpisah darinya. "Kasihan juga Leonard, tapi aku nggak mungkin datang ke sana, kan? Lagian, aku nggak ada hubungan apa-apa dengan mereka. Nanti malah dikira aku mendekati anak ko

  • Dicari! Mama Untuk Putra CEO   Bab 3. Apa Mama Sudah Bangun?

    Sepanjang perjalanan, Clair sering menunduk menatap Leonard yang tertidur dalam pelukannya. Dia menghela napas pelan, lalu kembali menatap ke luar jendela. Hari ini seharusnya dia menjalani wawancara kerja di sebuah perusahaan besar setelah menjenguk ibunya di rumah sakit. Dia melamar sebagai cleaning service untuk membayar biaya pengobatan sang ibu yang terus membengkak. Sayangnya, karena tidak tega meninggalkan Leonard sendirian di depan sekolah, dia justru menghabiskan waktu mengantar bocah itu pulang. Ketika mencoba menghubungi pihak perusahaan, Clair baru mengetahui bahwa sesi wawancara telah berakhir. Kesempatan yang sudah dinantikannya selama berhari-hari pun lenyap begitu saja. Clair menyandarkan kepala pada jok. Sejak kecil, hidupnya memang tidak mudah. Ayahnya meninggalkan dirinya dan sang ibu demi wanita lain ketika dia masih kecil. Sejak saat itu, ibunya harus berjuang seorang diri untuk membesarkannya hingga dewasa. Beberapa saat kemudian, taksi yang ditumpangi

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status