แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: KarenW
Aku terbangun dengan kepala yang terasa sakit dan aku sama sekali tidak tidur nyenyak.

Tadi malam, aku mimpi aku berdiri di satu sisi jalan dan Ariel berada di sisi lainnya sedang mencium wanita lain. Aku terus memanggil namanya, tetapi dia tidak pernah menatapku. Selama berjam-jam, aku hanya berdiri di sana sambil melihatnya memeluk wanita lain cukup lama dan aku menangis begitu keras hingga dadaku terasa sesak.

Aku menatap langit-langit kamar sebentar saat bangun, lalu menyadari aku tidak tidur di tempat yang sengaja kupilih sebelum tidur. Entah sejak kapan di tengah malam, aku kembali ke tempat yang selalu kutempati yaitu di pelukan Ariel. Kepalaku bersandar di dadanya, cukup dekat hingga bisa mendengar detak jantungnya yang stabil. Salah satu lengannya melingkari pinggangku dan memelukku erat.

"Ya ampun, Bella. Baru satu malam, bahkan satu malam pun kamu nggak sanggup tahan," pikirku.

Mungkin ini hanya kebiasaan. Tubuhku sudah mencari Ariel saat tertidur selama setahun ini, mengejar kehangatan dan aroma khas tubuhnya yang selalu membuatku merasa aman.

Saat menundukkan kepala, aku menyadari kaki kami saling bertaut dan lebih tepatnya lagi kakiku yang melilit kaki Ariel. Melihat itu, kenangan tentang komentar-komentar itu langsung muncul kembali. Jika dia bangun dan melihat ini, dia mungkin akan merasa tidak senang.

Aku pun mulai melepaskan diri dengan hati-hati. Aku menarik lenganku terlebih dulu dan berusaha menciptakan sedikit jarak dengan Ariel, lalu aku mengangkat kakiku yang masih menempel padanya. Namun, sebelum aku sempat bergerak lebih jauh, tangannya mencengkeram pergelangan tanganku.

Aku langsung membeku. Saat mengangkat kepala, aku melihat Ariel sudah bangun atau setidaknya setengah sadar. Rambut hitamnya berantakan karena tidur dan matanya masih terlihat mengantuk, tetapi dia mengernyitkan alis dan ada rasa waspada dalam tatapannya.

"Kamu sudah bangun, Bella?" tanya Ariel.

Pertanyaan itu membuat jantungku berdebar. Aku segera menarik tanganku, lalu meletakkan kedua telapak tanganku di dadanya untuk memberi sedikit jarak di antara kami.

"Aku baru saja bangun," jawabku dengan cepat.

Setelah itu, tanganku meraba ke bawah bantal hingga menemukan ponselku. "Sudah jam delapan. Aku harus siap-siap berangkat kerja."

Ariel tidak langsung menjawab. Sebaliknya, dia terus menatapku, seolah-olah berusaha mencari tahu apa yang sedang terjadi padaku.

Aku mengalihkan pandanganku terlebih dulu. Biasanya, aku yang selalu memohon berbaring di tempat tidur lima menit lagi dan terus membujuk Ariel agar tetap tinggal serta memelukku. Sejak kapan aku bangun lebih awal dengan sukarela?

Tangan Ariel masih berada di pinggangku dan kehangatan dari telapak tangannya terasa seolah-olah menembus piamaku.

Seolah-olah pikiranku masih belum cukup menyiksaku, komentar-komentar itu kembali muncul di depan mataku dan bergulir seperti siaran langsung.

[ Lihat si bodoh itu. Pagi-pagi saja sudah buat Ariel kesal. ]

[ Apa dia tidak bisa tidur sendirian? Kenapa harus terus menempel padanya? ]

[ Serius. Siapa juga yang suka dipeluk terus seperti itu? ]

[ Bella ini nggak tahu batasan ya? Semalam dia pura-pura geser ke tepi ranjang agar bisa makin dekat saja. Kalau memang mau jaga jarak, harusnya dia tidur di lantai. ]

[ Aku benci wanita yang rendahkan dirinya seperti itu, selalu kejar pria. Mandiri dan jadilah menarik seperti tokoh utama kita. Pantas saja Ariel mencintainya. Dia sama sekali tidak seperti Bella yang suka lengket. ]

Kata-kata itu terasa seperti belati yang mengiris dadaku. Dan seolah-olah itu saja belum cukup, belati itu terus diputar berkali-kali hingga hatiku terasa terkoyak. Rasa sedih, marah, dan malu semuanya bercampur menjadi satu.

Komentar-komentar itu memang benar. Bahkan saat tertidur pun, aku tetap mencari jalan kembali ke pelukan Ariel. Padahal aku sudah tahu betapa dia membenci hal itu.

"Aku ...." kataku dengan pelan.

Namun, sebelum aku sempat melanjutkan ucapanku, Ariel menarikku lebih dekat. Dengan suaranya yang dalam, dia berbisik tepat di samping telingaku. "Semalam kita nggak bercinta, bagaimana kalau aku gantikan sekarang?"

Aku langsung membeku. Namun, ekspresi Ariel sama sekali tidak menunjukkan apa pun. Apakah dia benar-benar menginginkannya atau hanya menawarkannya karena aku yang dulu pasti akan memintanya?

Dulu, jika Ariel pulang larut dan melewatkan waktu berpelukan kami, aku selalu memintanya menggantinya saat itu juga. Suatu kali saat aku bersikeras, dia berkata, "Bella, kamu pikir semua hal bisa diganti begitu saja?"

Aku hanya cemberut sambil memegang pipi Ariel, lalu berkata, "Kalau aku bilang harus diganti, ya harus. Kalau nggak, aku bakal sedih sekali."

Saat mengatakan itu, aku bahkan memasang wajah menangis yang berlebihan.

Sejak saat itu, Ariel selalu mengalah setiap kali aku memintanya. Mungkin tadi dia menawarkan itu hanya karena sudah terbiasa? Dan meskipun merasa malu untuk mengakuinya, aku sempat ingin mengatakan iya untuk tawaran itu saat melihat wajahnya yang nyaris sempurna dan tubuhnya yang tegap.

Namun, komentar-komentar itu kembali menghantam pikiranku hingga semua hasrat yang sempat menyala di dadaku langsung padam.

[ Jangan tertipu dengan kesopanan Ariel. Dia mungkin hanya lakukan apa yang menurutnya harusnya dilakukan. Dia sendiri mungkin nggak menginginkannya. ]

Aku memalingkan wajah dan sedikit menjauh darinya,, lalu berbisik, "Mungkin lain kali, aku sedang nggak mau."

Ariel tidak memaksa, melainkan turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi.

Sesaat sebelum sosok Ariel menghilang ke dalam kamar mandi, aku berkata dengan pelan, "Soal waktu berpelukan kita ... dulu aku terlalu kekanak-kanakan. Kamu nggak perlu lakukan itu lagi. Aku tahu setiap hari kamu sudah lelah bekerja."

Langkah Ariel terhenti dan tangannya yang memegang gagang pintu juga ikut berhenti, tetapi dia tidak berbalik.

"Kalau memang itu yang kamu mau," kata Ariel dengan suara yang bahkan terdengar lega.

Aku menundukkan kepala dan menatap seprai. Sebagian diriku menyesal telah mengatakan itu, padahal aku sudah berusaha begitu keras untuk membuat Ariel menyetujui rutinitas itu. Namun, sebagian diriku yang lainnya ... merasa sangat sedih, seolah-olah hatiku telah hancur menjadi jutaan keping kecil.

"Ini memang harus dilakukan," bisikku pada diriku sendiri.

Ariel ... tidak menyukaiku dan takdirnya adalah bersama wanita lain, untuk apa aku terus membebaninya lagi dengan cinta dan kasih sayangku?

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Dicintai Lebih Daripada yang Aku Kira   Bab 11

    [ Dia bukan orang asing. Kalian lupa ya kalau Alisia punya cinta pertama sejak kecil? Hubungan mereka pada dasarnya sama seperti Ariel dan Bella, cuma tanpa latar belakang keluarga mafia yang kaya raya. ][ Aku juga pernah dengar soal dia. Namanya Henry. Dia bekerja sambil membiayai kuliah Alisia. Bukannya mereka sudah bersama sejak SMA? ][ Terus Ariel gimana? Bukannya ceritanya harus jadi kisah cinta miliarder yang kabur demi cinta? Ariel seharusnya merebut Alisia dan menjadikan Alisia sebagai istri satu-satunya. ][ Tenang saja. Mungkin selama ini kita membaca versi cerita yang berbeda. Bukankah Ariel sudah melamar Bella? Mungkin memang Bella yang benar-benar dia cintai .... ][ Aku mau bilang sesuatu. Menurutku, Bella memang pasangan yang paling cocok buat Ariel. Dari awal aku mengikuti cerita ini, Ariel selalu bersikap dingin kepada semua orang kecuali Bella. Dan meskipun Bella bukan orang yang jago berbisnis, cuma dia yang bisa membuat Ariel terasa ... seperti manusia biasa. ][

  • Dicintai Lebih Daripada yang Aku Kira   Bab 10

    Ariel seperti pria yang sudah lama kelaparan. Dia menciumku di mana-mana, seolah-olah tidak pernah merasa puas, meski terus berusaha.Sedangkan tubuhku dengan mudah mengkhianatiku, merespons setiap sentuhannya jauh lebih kuat daripada yang kubayangkan.Saat kecupannya bergerak naik dari perutku hingga ke tulang selangka, lalu berhenti di dekat telingaku, suaranya merendah. "Masih mau pindah kamar?"Sebelum sempat menjawab, komentar-komentar itu kembali muncul di hadapanku.[ Ih! Ariel mau tidur sama dia? Aku nggak sanggup lihatnya. ][ Bella benar-benar mengira Ariel melakukan ini karena cinta? Cowok cuma punya kebutuhan. Itu saja. ][ Lihat, 'kan? Sudah kubilang dia cuma jual mahal. Dicium sekali langsung luluh lagi. ][ Apa cuma aku yang merasa Ariel benar-benar peduli sama dia? Selama ini cuma dia yang benar-benar mengkhawatirkan Bella. ]Komentar terakhir itu menarik perhatianku. Untuk sesaat, aku justru memikirkan hal yang sama.Aku terus menjauh darinya, tetapi Ariel malah selalu

  • Dicintai Lebih Daripada yang Aku Kira   Bab 9

    Ariel selesai membilas gaun tidur renda itu. Setelah itu, barulah dia menoleh dan menatapku."Kalau kamu memang sudah berencana pindah, lalu untuk apa kamu masih membutuhkan aku? Sebagai pacarmu? Atau cuma seseorang yang kamu datangi saat merasa kesepian dan pintunya bisa kamu ketuk kapan saja?"Suaranya terdengar serak, tetapi dia belum selesai. "Kalau begitu, lebih baik kita putus saja."Seluruh tubuhku membeku. Pikiranku kosong sesaat, seolah-olah tidak mampu mencerna apa yang baru saja kudengar. Aku sama sekali tidak menyangka akan mendengar kata-kata itu secepat ini.Sesingkat dan setegas itu.Mataku langsung terasa perih. Air mata yang sedari tadi kutahan kembali mendesak keluar.Kemudian, komentar-komentar itu muncul lagi dengan cepat, bersemangat, dan hampir terlihat gembira.[ Ariel akhirnya mengatakannya! Memang begitulah isi hatinya. Dia sudah lama mau putus. ][ Setidaknya Bella sekarang sadar diri. Dia sendiri yang lebih dulu bilang mau pindah. ][ Nggak, kalian salah. Dia

  • Dicintai Lebih Daripada yang Aku Kira   Bab 8

    Aku bangkit dari tempat tidur dan segera membersihkan diri, membasuh sisa-sisa kantuk di wajahku, sekaligus mungkin menghapus jejak air mata yang tidak ingin kupikirkan lagi.Kemudian, aku membuka pintu dengan perlahan, mengintip ke luar lebih dulu. Aku tidak ingin bertemu Ariel.Selama hampir satu menit aku tidak mendengar suara apa pun. Kukira dia sedang berada di ruang kerjanya ... atau mungkin sudah pergi keluar. Jadi, aku mengendap-endap menuruni tangga.Begitu berbelok di ujung lorong, aku langsung menabrak sesuatu yang keras.Aku mendongak. Ariel berdiri tepat di depanku, menatapku dengan wajah yang jelas-jelas tidak senang."Kamu kedatangan tamu," katanya, mengucapkan setiap kata dengan jelas.Pasti Steven sudah datang.Aku melewati Ariel dan berjalan menuju ruang tamu. Namun, baru beberapa langkah, Ariel berbalik lalu berjalan di sampingku."Aku juga sedang nggak ada kerjaan," katanya tenang. "Aku ikut gabung dengan kalian ya."....Ariel dan Steven duduk berhadapan, sementara

  • Dicintai Lebih Daripada yang Aku Kira   Bab 7

    Kemudian, ratusan komentar kembali memenuhi pandanganku.[ Ohhh, Alisia. Jadi ini pertama kalinya tokoh utama wanita datang ke rumah Ariel. Lihat baik-baik, Alisia. Sebentar lagi kamu yang akan tinggal di sini. ][ Ariel! Mana Ariel? Cepat temui calon istrimu. Cantik banget. ][ Dulu kupikir Bella lumayan cantik dan imut. Tapi kalau dibandingkan Alisia, dia jadi kelihatan biasa saja. ][ Pantas Ariel langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Alisia mungkin wanita paling sempurna yang pernah dia temui. ][ Kalau nggak salah, ini juga pertama kalinya Alisia bertemu Bella. Dia pasti datang buat melihat seperti apa wanita yang dulu bersama Ariel dan sekarang dia sadar bahwa wanita itu bukan saingannya. ][ Benar. Alisia jelas berada di level yang berbeda. ]Membaca komentar-komentar itu, tanpa sadar aku menunduk melihat diriku sendiri.Dibandingkan dengan gaun blazer hitam Alisia yang terlihat begitu rapi dan elegan, aku hanya mengenakan kemeja longgar dan celana pendek. Sederhana dan s

  • Dicintai Lebih Daripada yang Aku Kira   Bab 6

    Ariel tidak bergerak. "Kenapa?"Wajar saja kalau dia bingung. Bagaimanapun juga, akulah yang dulu memohon agar bisa pindah ke kamarnya. Sekarang, tanpa mengatakan apa pun, aku malah pindah ke kamar di seberang lorong.Aku menunduk menatap sandalku, lalu mendorong salah satunya dengan ujung kaki."Dulu kamu bilang kebiasaan tidurku kurang bagus."Aku bergumam pelan. "Aku suka menendang selimut ke mana-mana dan banyak bergerak waktu tidur. Jadi, kupikir lebih baik aku tidur sendiri. Dengan begitu, aku nggak akan mengganggumu."Ariel melangkah mendekat, nyaris memasuki kamar. Suaranya merendah."Nggak masalah. Aku bisa mengatasinya."Aku mendongak. "Apa?""Soal selimut itu," jawabnya dengan wajah yang tetap serius. "Kembalilah. Aku akan memastikan selimutnya tetap di tempatnya."Entah kenapa, tenggorokanku mendadak terasa kering. Aku bahkan tidak tahu harus mengalihkan pandangan ke mana.Kalimat itu sebenarnya biasa saja, tetapi saat keluar dari mulut Ariel, entah mengapa terdengar berbed

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status