LOGIN
"Gede juga ya, Mas..."
Rama menoleh cepat, alisnya bertaut. "Apanya?" Sinta terkekeh, matanya turun memandangi cangkul di tangan Rama, lalu perlahan naik menatap dada bidang cowok itu yang basah oleh keringat. "Lahannya lah, Mas. Kenapa? Udah lemes aja sih?” Rama memutar bola matanya malas. Wanita di hadapannya ini siapa, sih? Mengganggu saja. Namun, sekeras apa pun Rama mencoba abai, pandangannya justru terpaku pada sosok wanita desa di depannya. Wanita itu memakai daster ketat yang agak basah oleh sisa embun dan keringat pagi, melekat erat hingga mencetak jelas lekuk dadanya yang padat. Potongan dasternya yang pendek di atas lutut mengekspos paha seputih susu yang tampak kontras dengan tanah sawah. "Mas, Mas cucunya Nenek Ratna ya? Yang dari kota itu ya? Kok pagi-pagi udah nyangkul aja sih," cerocos gadis itu lagi, sengaja memiringkan kepalanya dengan tatapan mata yang berani mengabsen lekuk tubuh atletis Rama. Ujung lidahnya sekilas membasahi bibir bawahnya yang penuh, sebuah kode undangan implisit yang biasa Rama temui di klub malam Jakarta, tapi kali ini terasa jauh lebih mematikan karena kini ia di kampung neneknya. Belum sempat Rama membalas, langkah kaki yang berat terdengar mendekat dari arah belakang. Nenek Ratna datang sambil membawa caping bambu di tangannya, "Iya, Sinta, ini cucu saya. Biasalah, nakal di kota, makanya kena batunya dihukum ke sini," ujar Nenek Ratna, menyerahkan topi caping itu ke dada Rama dengan kasar. Wanita tua itu kemudian beralih menatap tajam ke arah cucunya. Sepasang matanya menyipit penuh wibawa, sama sekali tidak gentar melihat rahang Rama yang mengeras menahan emosi. "Nggak usah pasang muka masam begitu, kamu di sini mau tobat, bukan liburan," dengus Nenek Ratna dingin. “Kamu beruntung Papa kamu masih mau mengirimmu ke sini, bukannya biarin kamu di penjara.” Rama mengepalkan tangannya kuat-kuat. Baru sehari, sabar Rama. “Lagian kamu ngapain sih Le mukul-mukul anak orang?” Kalimat neneknya itu telak menghantam sisa-sisa harga dirinya, memutar kembali memori laknat pekan lalu di club. Malam itu, Rama kehilangan kendali. Hanya karena masalah sepele di lantai dansa, dia sengaja melayangkan jotosan mentah ke wajah seorang pria mabuk hingga terkapar kritis di lantai marmer. Rama baru tahu keesokan paginya bahwa pria yang ia pukul sampai berdarah-darah itu adalah anak tunggal pejabat. Lagian siapa suruh pria itu main tangan dengan wanita? Rama tak kuasa menahannya. Mau tak mau ia yang angkat tangan. Tidak ada nego, tidak ada uang damai. Pihak pejabat yang murka menuntut hukuman pada Rama karena telah membuat anak semata wayangnya bonyok. Dan jalan satu-satunya untuk menyelamatkan bisnis ayahnya adalah mengasingkan Rama ke tempat terpencil ini, tanpa kartu kredit, tanpa mobil sport, dan tanpa ponsel. Lengkap sudah penderitaan Rama hanya gara-gara menyenggol pejabat yang sok berkuasa itu. "Dengerin itu nenekmu, Mas. Jangan melamun terus, nanti kesambet penunggu sawah, lho," goda Sinta lagi, suaranya terdengar serak membelai rungu Rama. Nenek Ratna menggelengkan kepala, lalu berbalik membelakangi mereka. "Nduk, nenek minta tolong awasi anak manja ini, ya. Kalau dia malas-malasan, laporkan ke Nenek. Nenek mau ke rumah Pak RT sebentar." Begitu punggung Nenek Ratna menjauh dan menghilang di balik pepohonan, keheningan mendadak terasa mencekik di antara Rama dan Sinta. “Mbak ngapain masih disini? Saya gak minta di awasin.” “Lagian saya mau kabur juga kabur kemana handphone saya disita.” imbuhnya sekali lagi. "Ya… tergantung, Mas. Kalau cowoknya kayak Mas..." Sinta menjeda kalimatnya, jemari lentiknya bergerak berani, menyentuh lengan atas Rama yang tegap, lalu mengusapnya perlahan hingga ke dada bidang cowok itu yang naik turun memburu. "...aku sih betah aja ngawasinnya lama-lama." "Emang orang kota biasanya gede-gede ya, Mas?" tanya Sinta lagi, nadanya merendah, terdengar begitu malas sekaligus memprovokasi. "Kok... cepet lemesnya?" Rama menaikkan sebelah alisnya, tersinggung, “Maksudnya apa Mbak? Saya kan baru ini disuruh urusin sawah suruhan nenek. Mana tau berat gini.” "Masa?" Sinta sengaja memajukan tubuhnya, hingga deru napas hangatnya menyapu leher Rama. "Baru disuruh liatin sawah segini aja udah keringetan parah. Tenaganya cuma segini, atau emang loyo aja?” Rama mendengus kasar, wajahnya menggelap karena jengah. “Pulang aja mbak, Ganggu aja dari tadi." “Mau saya bantuin gak, Mas?" Sinta berjongkok di depan Rama. Jarak mereka mengikis habis, membuat aroma tubuh gadis itu menginvasi seluruh indra penciuman Rama. "Bantuin apaan?" tanya Rama ketus, mencoba menahan gejolak aneh di dadanya. "Mba, jangan gangguin saya deh. Saya lagi pusing," usir Rama lagi saat jemari lentik Sinta mulai bergerak berani, menyentuh gagang cangkul yang dipegang Rama, lalu perlahan merambat naik ke pergelangan tangannya. Sinta tidak mundur, dia justru memberikan senyuman miring yang tampak begitu menggairahkan. Tatapannya turun, mengunci lekat pada bibir Rama yang sedikit terbuka sebelum mendongak menatap sepasang mata cowok itu dengan berani. "Bantuin biar gak lemes, Mas... Biar Masnya betah di sini." Rama terdiam, tenggorokannya mendadak kering kering kerontang. Sialan, batin Rama, kalau hukumannya di desa bentukannya seperti ini, sepertinya tempat ini bakal jauh lebih berat daripada di Jakarta.Suasana di ruang makan rumah Sinta pagi itu terasa sedikit canggung, meski semua yang kini duduk di depan meja makan berusaha terlihat biasa saja.Sinta menyajikan nasi goreng dan telur ceplok dengan gerakan yang sedikit kaku. Wajahnya masih menyisakan rasa malu dari kejadian tadi pagi. Rina duduk di seberang meja, pura-pura fokus mengaduk nasinya, padahal sesekali matanya melirik ke arah Rama lalu cepat-cepat menunduk sebelum Sinta melihatnya.Rama makan dengan tenang, seolah tidak ada yang aneh. Padahal di kepalanya terus bergantian muncul bayangan-bayangan kejadian tadi. Wajah Sinta yang panik berusaha menutupinya yang telanjang dari Rina, dan ekspresi Rina saat pintu kamar terbuka lebar.“Enak, Mbak,” puji Rama tiba-tiba sambil terus menyuap nasi ke mulutnya. “Nasi goreng buatan kamu enak banget.”Sinta tersenyum senang mendapatkan pujian seperti itu. Apalagi saat melihat Rama yang makan dengan lahap, makin berbunga-bunga saja hatinya."Kalau gitu cepat habiskan. Kalau masih kuran
“Astaga, Mas Rama! Kenapa gak pake celana?!” Sinta langsung memalingkan wajah, tapi matanya sempat tertuju ke arah yang seharusnya tidak dilihat pagi-pagi begini. Pipinya langsung merah padam. Ia hampir menumpahkan kopi di tangannya. Matanya terbelalak, buru-buru menutup mata dengan kedua tangan, namun celah di sela-sela jarinya tetap terbuka lebar. Jantungnya berpacu kencang, pipinya terasa panas membara seketika itu juga. Rama melirik ke bawah, baru menyadari apa yang baru saja ia perbuat. Ia terkekeh pelan, bukannya menutup malah membusungkan dadanya dengan bangga. "Kan gak ada orang lain, Mbak. Cuma kamu sama saya," ucapnya santai sambil membiarkan selimut jatuh sepenuhnya. "Lagian kemarin malam kamu udah lihat semuanya, malah dipegang-pegang. Sekarang pura-pura kaget lagi?" Sinta mendengus kesal, namun suaranya terdengar gemetar menahan malu. "Itu... itu kan malam, gelap! Sekarang kan terang benderang! Kamu... kamu ini gak tau malu ya!" Wanita itu berusaha terlihat marah, t
Rama menutup pintu kamar Rina dengan pelan, berusaha sebisa mungkin tidak menimbulkan suara. Ia berdiri di koridor yanh gelap, hanya cahaya bulan yang masuk dari celah jendela. Ia diam sejenak, menempelkan punggung di dinding, mengatur napasnya yang masih belum stabil.Dua dini hari.Beberapa jam yang lalu ia masih bersama Sinta, bercinta selayaknya sepasang kekasih. Sekarang ia baru saja keluar dari kamar adiknya.Ia mengusap wajahnya kasar. Aroma tubuh Rina masih menempel di kulitnya. Di jari manisnya, cincin itu terasa hangat, seolah ikut mengingatkannya bahwa malam ini bukan mimpi.Rama melangkah menuju balkon rumah Sinta. Udara pagi yang dingin langsung menyerbu tubuh, dan membuat wajahnya kebas. Tangannya menggenggam besi yang dingin, menatap lurus kearah desa yang begitu tenang, sepi dan sunyi.Awan berarak di langit, bertaburan bintang dan bulan yang bersinar terang. Sungguh, pemandangan indah itu jarang sekali ia temukan di kota. Ditambah lagi dengan suara-suara hewan malam s
"Mas, pelan-pelan. Aku belum pernah soalnya." Kalimat itu melayang begitu pelan, namun seketika membuat seluruh tubuh Rama menegang. Rama tertegun. Tatapannya yang sedari tadi liar seketika melembut. Menatap wajah Rina yang memerah padam, mata bulatnya yang menatapnya lekat-lekat, penuh harap, tapi juga terselip seperti rasa takut. Ia menatap tubuh mungil gadis itu yang sepenuhnya terpampang di hadapannya. "Sial! Dia beneran masih perawan ternyata." Rama mengusap wajahnya gusar. Bagaimana mungkin ia bisa melakukan ini. Sebrengsek-brengseknya dia, Rama belum pernah berhubungan dengan gadis yang belum pernah di sentuh orang. Alias masih perawan. Entahlah ia harus senang atau tidak dengan kesempatan ini. Lanjut berarti ia akan merusak gadis yang polos ini, tapi jika ia berhenti, ia takut gadis itu sakit hati padanya. "Kenapa Mas? Kok bengong," ucap Rina membuyarkan lamunan Rama. Ia menatap heran Rama yang terlihat gelisah. Rama menggeleng, menatap Rina yang kini menyerahkan segal
Sinta sudah tertidur lelap di lengannya.Napas wanita itu teratur, dadanya naik-turun perlahan, dan satu tangannya melingkar di pinggang Rama seolah takut cowok itu menghilang juka ia melepaskan pelukannya.Rambutnya berantakan di bantal, bibirnya sedikit terbuka, dan di lehernya masih tersisa bekas kemerahan dari ciuman tadi.Tapi Rama justru menatap langit-langit kamar yang gelap. Hujan di luar sudah berubah menjadi gerimis halus. Suara jangkrik mulai terdengar lagi di sela-sela rintik air.Ia tidak bisa tidur. Pikirannya kacau. Padahal seharusnya, ia bisa tertidur nyenyak dalam pelukan Sinta yang hangat.Tapi setiap kali ia memejamkan mata, wajah Rina kembali muncul. Cara gadis itu menatapnya dan ajakannya membuat Rama tak bisa berhenti memikirkan gadis itu. Dan yang paling mengganggu Rama adalah rasa bersalah yang bercampur dengan rasa penasaran yang semakin besar.Rama menggeser tubuhnya pelan, berusaha tidak membuat gerakan yang bisa membangunkan Sinta. Wanita itu hanya menger
Pintu kamar tertutup rapat di belakang mereka, menyisakan cahaya remang dari lampu tidur yang temaram. Begitu kayu pintu itu menutup, Sinta tak lagi menahan diri. Kedua tangannya merambat naik ke leher Rama, menarik wajah pemuda itu mendekat hingga tak ada jarak tersisa."Lanjutin yang tadi di gudang ya, Mas..." bisiknya parau, napasnya memburu dan hangat menyentuh bibir Rama.Rama tak menjawab. Ia langsung merengkuh pinggang ramping itu erat, menarik tubuh Sinta hingga menempel sempurna pada tubuhnya sendiri. Bibirnya melumat bibir Sinta dengan lapar, seolah menebus segala penantian sepanjang siang, segala rasa yang tertunda pagi tadi, dan segala rindu yang tak pernah habis terucap.Ciuman itu dalam, panas, dan penuh kepemilikan. Sinta mendesah lirih di dalam mulut Rama, kakinya seketika terasa lemas jika saja tidak disangga oleh lengan kekar pemuda itu.Tangan-tangan mereka bergerak liar, saling melepaskan ikatan pakaian yang terasa menghalangi. Daster tipis itu meluncur jatuh ke l







