Share

Bab 2

Penulis: Chouw
last update Tanggal publikasi: 2026-06-12 20:02:14

Air sumur yang dingin mengguyur tubuh tegap Rama, membasuh habis lumpur dan sisa keringat yang menempel setelah seharian diperas di sawah. Rasa dingin itu setidaknya sukses meredakan sedikit ketegangan di kepalanya yang hampir pecah.

Sampai kapan dia akan bertahan tinggal di kampung ini? Pertanyaan itu terus berputar sejak ia sampai di rumah neneknya.

Bukan apa-apa, tapi sampai kapan?

Baru satu hari ia didesa ini, tapi ia sudah merindukan kehidupannya di Jakarta.

Tapi kenyataannya ia malah terjebak di desa yang begitu jauh dari pusat kota. Ia bahkan tidak tau desa ini masuk di pulau mana.

Rama menghela nafas. Selesai mandi, Rama berdiri di teras belakang rumah joglo. Ia hanya mengenakan selembar handuk putih yang melilit pinggangnya, membiarkan dada bidang dan otot perutnya yang kotak-kotak terpapar angin sore.

Sisa air di kulitnya berkilauan diterpa sinar matahari yang menyisakan cahaya keemasan.

Rama mengusap rambutnya yang basah ke belakang, membuat otot lengannya menonjol kokoh karena gerakan itu.

Baru saja dia hendak melangkah masuk ke kamar untuk berganti baju, sebuah suara perempuan yang terdengar familiar membuatnya menengok.

"Mas Rama."

Rama menoleh cepat. Dia menemukan Sinta sudah berdiri di sana, menatapnya dengan sepasang mata yang langsung melebar melihat penampilan minimnya.

"Mbak Sinta? Ngapain lagi?"

Rama sedikit terkejut, reflek membenarkan lilitan handuk di pinggangnya, memastikan aset berharganya tersembunyi dengan aman di balik kain itu.

"Nyari Nenek?"

Wanita itu melangkah mendekat. Sore ini Dia mengenakan gaun tipis berwarna biru muda. Kainnya yang ringan menempel ketat di tubuh montoknya mencetak jelas dada besarnya yang terlihat penuh dan menggoda, serta lekuk pinggulnya yang lebar.

"Eh, maaf, salah datang ya," kata Sinta, tapi nada suaranya justru terdengar sangat senang, sama sekali tidak ada niat untuk berbalik arah.

Matanya turun perlahan, menelusuri dada Rama yang telanjang, turun ke perut berotot, dan berhenti beberapa detik tepat di simpul handuknya.

Rama langsung menegang di tempatnya berdiri. "Mbak Sinta, saya baru selesai mandi."

“Mbak ada keperluan apa lagi?” tanyanya.

Namun tepat saat ia ingin menjawab, ponsel milik nenek yang tergeletak di meja mendadak berdering nyaring.

Rama berdecak, mengabaikan Sinta sejenak untuk menyambar ponsel tersebut. Nama ibunya tertera di layar itu.

"Halo, Ma?"

Rama langsung menempelkan ponsel ke telinga, suaranya terdengar tidak sabar.

“Mana nenekmu, Rama?”

Rama berdeham dan mempersilahkan Sinta duduk lebih dulu. “Nenek masih di rumah Pak RT. Kok malah nanyain Nenek sih, Ma?”

"Ya ini Mama mau nanyain kamu! Gimana di sana? Kamu gak macam-macam, 'kan?" Suara ibunya terdengar panik dan lelah dari seberang sana.

"Aku baik kok, Ma. Ada apa kok Mama panik banget?"

"Mama cuma mau ngabarin… kalo kamu mungkin bakalan tinggal sama nenek sampe sebulan ya, Ram. Mereka masih menuntut ganti rugi, tapi permintaannya aneh. Masa mereka minta perusahaan Papa mulusin project di Wadas.”

"Apa?! Gak bisa gitu dong, Ma! Rama gak betah disini, Ma!” bentak Rama, emosinya langsung tersulut. Fokusnya terbagi penuh pada obrolan telepon yang menentukan masa depan hartanya itu.

"Papa jangan mau kalah sama pejabat brengsek itu!"

"Papa kamu lagi usahain, tapi posisi kita kejepit, Rama. Bisa-bisa mereka nuntut kamu. Kamu gak lupa kalau dia anak pejabat? Kamu yang mulai, harusnya—”

Kalimat ibunya mendadak kabur dari pendengaran Rama. Fokusnya buyar total saat merasakan sebuah pergerakan di dekatnya.

Sinta ternyata tidak duduk. Perempuan itu justru melangkah semakin berani, mendekat hingga jarak mereka terkikis habis.

Tanpa permisi, telapak tangan Sinta yang halus mendarat di atas dada bidang Rama. Dia mengelusnya pelan dari atas ke bawah, menikmati setiap lekuk otot dada Rama yang keras dan kulitnya yang masih agak basah oleh sisa air sumur.

"Keras ya..." bisik Sinta, suaranya sangat rendah dan serak, terdengar begitu sensual di sela-sela suara panik ibunya di telepon.

"Saya suka laki-laki yang badannya seperti ini. Pasti enak banget."

Rama menelan ludah dengan susah payah. “Enak banget katanya?” pikir Rama, otaknya mendadak macet.

Sengatan gairah yang intens langsung melesat turun ke bagian bawah perutnya. Rama bisa merasakan sesuatu di balik handuk putihnya mulai terbangun, berkedut-kedut tegang menuntut ruang lebih.

Sinta yang merasakan perubahan atmosfer itu tersenyum miring, jemarinya bergerak semakin turun, melewati garis perut Rama, mendekati batas lilitan handuk.

“— mana kata Papa, anaknya cuma rahangnya doang yang patah. Bukan sampe organ vital yang kamu pukul.”

Suara ibunya di telepon kembali melengking, mencoba menarik kesadaran Rama.

"Mhh mbak..." Rama mendesah rendah, refleks menjauhkan ponsel itu dari telinganya saat ujung kuku Sinta menyentuh kulit di atas pinggulnya.

Gila, ini terlalu berbahaya.

Tanpa memedulikan teriakan ibunya yang masih mengoceh seadanya dari ponsel, Rama langsung mematikan sambungan telepon itu sepihak. “Nanti Rama telepon lagi, Ma!”

Ia melempar ponsel jadulnya ke atas meja, lalu dengan cepat mencengkeram pergelangan tangan Sinta yang sudah hampir menyelinap ke balik handuknya.

Cengkeramannya kuat dan tegas, menghentikan gerakan liar wanita itu.

"MBAK BISA BERHENTI GAK?!" bentak Rama dengan napas yang memburu berantakan.

Gila! Ini perempuan ngapain sih?!

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dihukum ke Pelukan Kembang Desa   BAB 44

    Perjalanan menuju kantor kecamatan memakan waktu hampir satu jam, melewati jalan berbatu yang berkelok tajan, sesekali membuat motor Bik Inah yang dikendarai Rama oleng ke kanan-kiri.Jika dalam kondisi santai, mungkin Rama akan sangat menikmati momen ini. Dimana Sinta kini memeluknya erat di belakang, menempelkan dadanya yang sintal dan kenyal itu di punggung Rama. Berboncengan menikmati udara desa yang segar, hamparan sawah yang hijau dan pegunungan yang indah.Tapi karena situasinya sedang kacau, mereka sama sekali tidak menghiraukan pemandangan indah itu. Tujuannya hanya satu, sampai di kantor kecamatan dengan selamat beserta semua berkas yang kini menjadi satu-satunya bukti yang bisa melawan Dewi."Apa masih jauh, Mbak?" tanya Rama, sedikit berteriak berusaha mengalahkan suara angin yang berdesir kencang."Sebentar lagi, Mas! Tinggal lewat pasar sama satu tikungan lagi!" jawab Sinta. Ia mengeratkan pelukannya, berusaha menenangkan diri dan jantungnya yang terus berdegup kencang.

  • Dihukum ke Pelukan Kembang Desa   BAB 43

    "Maksud kak Sinta apa kotaknya hilang?!" Rina langsung berlari mendekat, ikut menatap ke dalam lemari yang kini benar-benar kosong. Hanya ada tumpukan selimut lama dan beberapa baju yang tersisa di sudut.Sinta menggeledah lemari itu lebih dalam, memindahkan setiap lipatan kain dengan tangan gemetar, berharap kotak itu hanya tergeser, bukan hilang sungguhan. Tapi hasilnya tetap sama. Kotak kayu berisi surat cerai yang jadi bukti penting mereka benar-benar tidak ada di sana."Mas, gimana ini? Kok bisa hilang sih?" Sinta mulai terisak sambil terus mengeluarkan semua isi lemarinya, tidak jika semua baju-baju kini berserakan di lantai.Rama mendekat, ikut memeriksa lemari, bahkan sampai menunduk melihat kolong tempat tidur. "Kamu tenang dulu, Mbak. Siapa tau kamu lupa naruh kotak itu," ucapnya mencoba menenangkan Sinta."Gak mungkin aku lupa, Mas. Aku inget banget, aku taruh kotak itu di lemari ini." Sinta benar-benar kalut. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, dan mengacak-acak rambutnya

  • Dihukum ke Pelukan Kembang Desa   BAB 42

    Rama buru-buru menyambar kaosnya yang tergeletak di lantai, memakainya dengan gerakan asal sambil telinganya masih mendengarkan suara ketukan di pintu depan yang tak kunjung berhenti."Sinta! Buka pintunya, ini penting banget!"Sinta bangkit dengan panik mendengar suara Pak RT yang terus berteriak dengan heboh. Ia meraih daster yang tersampir di kursi dekat ranjang, jarinya sedikit gemetar saat mengancingkan bajunya, sementara rambutnya masih berantakan khas orang bangun tidur."Mas, sebaiknya kamu diam aja di sini," bisik Sinta cemas, menahan lengan Rama yang hendak keluar kamar. "Kalau Pak RT lihat kamu di sini, nanti dia malah curiga dan bisa jadi bahan gosip warga sekampung."Rama mengangguk cepat, meski dalam hati ia mendecak kesal. Sudah bukan pertama kali ia harus bersembunyi seperti maling di rumah orang yang ia cintai.Dengan berat hati, Rama kembali duduk di ujung tempat tidur, menatap pintu kamar yang ditutup kembali oleh Sinta."Mau ngapain sih dia pagi-pagi begini udah ng

  • Dihukum ke Pelukan Kembang Desa   Bab 41

    Malam itu, rumah Nenek Ratna sudah sepenuhnya gelap. Hanya suara jangkrik dan desir angin yang mengisi kesunyian, menemani Rama yang berbaring di kasurnya sambil menatap langit-langit kamarnya.Berulangkali ia mengubah posisi tidurnya, namun matanya tidak juga mau terpejam. Semenjak kejadian di gudang itu, hatinya selalu gelisah dan tidurnya menjadi tak nyenyak.Preman yang sempat mengintai rumah Sinta beberapa hari lalu memang sudah tidak terlihat lagi sejak Pak RT mengerahkan beberapa warga untuk ronde malam bergiliran. Tapi ketegangan itu tetap meninggalkan bekas terutama di dada Rama, yang terus memikirkan bagaimana keadaan Sinta di tengah semua kekacauan ini.Rama bangkit dari kasurnya, mengintip ke luar jendela kamar. Nenek Ratna sudah lama terlelap di kamar sebelah, suara dengkurannya samar-samar terdengar dari balik dinding bambu."Bodo amat, ah," gumamnya pelan, mengambil kaos yang tergantung di kursi dan memakainya cepat-cepat."Daripada gue gak bisa tidur malem ini, mending

  • Dihukum ke Pelukan Kembang Desa   BAB 40

    Matahari belum sepenuhnya naik di balik pegunungan di belakang desa, tapi Rama sudah berdiri di depan rumah Sinta.Ia sengaja datang lebih awal, bahkan sebelum jadwalnya kerja di kebun Pak Karman, karena semalaman ia tidak bisa tidur nyenyak memikirkan gudang penuh dokumen itu."Eh, Mas Rama udah dateng aja," sapa Rina dengan suara serak khas bangun tidur. Matanya langsung cerah seketika kala melihat Rama."Mas Rama pasti mau ketemu Kak Sinta, kan? Dia lagi siapin kopi, sebentar lagi juga selesai," lanjutnya sambil tersenyum manis.Gadis itu melangkah lebih dekat, lalu tanpa ragu menggamit tangan Rama. "Kamu kemana aja sih, Mas? Kok sekarang kamu jarang ke sini," katanya sambil memeluk erat lengan Rama."Rin, jangan mulai deh. Nanti ketahuan Mbak Sinta," ucap Rama sambil berusaha melepaskan tangannya dari pelukan Rina.Sadar dengan penolakan Rama, gadis itu langsung menjauhkan dirinya. "Kamu sama kak Sinta terus, sama akunya kapan?" ungkapnya kesal lalu menggembungkan pipinya.Melihat

  • Dihukum ke Pelukan Kembang Desa   BAB 39

    Ruang tengah rumah Sinta terasa lebih sempit dari biasanya malam itu. Empat orang duduk melingkari meja kayu tua, Rama, Sinta, Rina, dan Nenek Ratna duduk saling berhadapan, sementara Lina tidak pulang malam ini, menginap di rumah temannya.Tak ada yang bicara selama beberapa saat. Hanya suara isak tangis Sinta yang sesekali masih terdengar, meski sudah jauh lebih tenang dibanding sore tadi.Rama diam-diam memperhatikan Sinta. Keberadaan neneknya diantara mereka membuatnya tidak bisa leluasa untuk sekedar menenangkan wanita itu. Padahal, ingin sekali ia memeluknya, karena beberapa hari kemarin ia terlalu sibuk bekerja bersama Pak Karman."Nek, tadi Nenek bilang kenal salah satu pengacara itu. Sekarang, tolong jelasin. Nenek kenal dia dari mana?" tanya Rama memecah keheningan.Nenek Ratna menghela napas panjang, tangannya yang keriput meraih cangkir teh di depannya, tapi tidak langsung diminum. Wanita tua itu menatap jauh ke depan, seolah pikiranny

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status