LOGIN“Astaga, Mas Rama! Kenapa gak pake celana?!” Sinta langsung memalingkan wajah, tapi matanya sempat tertuju ke arah yang seharusnya tidak dilihat pagi-pagi begini. Pipinya langsung merah padam. Ia hampir menumpahkan kopi di tangannya. Matanya terbelalak, buru-buru menutup mata dengan kedua tangan, namun celah di sela-sela jarinya tetap terbuka lebar. Jantungnya berpacu kencang, pipinya terasa panas membara seketika itu juga. Rama melirik ke bawah, baru menyadari apa yang baru saja ia perbuat. Ia terkekeh pelan, bukannya menutup malah membusungkan dadanya dengan bangga. "Kan gak ada orang lain, Mbak. Cuma kamu sama saya," ucapnya santai sambil membiarkan selimut jatuh sepenuhnya. "Lagian kemarin malam kamu udah lihat semuanya, malah dipegang-pegang. Sekarang pura-pura kaget lagi?" Sinta mendengus kesal, namun suaranya terdengar gemetar menahan malu. "Itu... itu kan malam, gelap! Sekarang kan terang benderang! Kamu... kamu ini gak tau malu ya!" Wanita itu berusaha terlihat marah, t
Rama menutup pintu kamar Rina dengan pelan, berusaha sebisa mungkin tidak menimbulkan suara. Ia berdiri di koridor yanh gelap, hanya cahaya bulan yang masuk dari celah jendela. Ia diam sejenak, menempelkan punggung di dinding, mengatur napasnya yang masih belum stabil.Dua dini hari.Beberapa jam yang lalu ia masih bersama Sinta, bercinta selayaknya sepasang kekasih. Sekarang ia baru saja keluar dari kamar adiknya.Ia mengusap wajahnya kasar. Aroma tubuh Rina masih menempel di kulitnya. Di jari manisnya, cincin itu terasa hangat, seolah ikut mengingatkannya bahwa malam ini bukan mimpi.Rama melangkah menuju balkon rumah Sinta. Udara pagi yang dingin langsung menyerbu tubuh, dan membuat wajahnya kebas. Tangannya menggenggam besi yang dingin, menatap lurus kearah desa yang begitu tenang, sepi dan sunyi.Awan berarak di langit, bertaburan bintang dan bulan yang bersinar terang. Sungguh, pemandangan indah itu jarang sekali ia temukan di kota. Ditambah lagi dengan suara-suara hewan malam s
"Mas, pelan-pelan. Aku belum pernah soalnya." Kalimat itu melayang begitu pelan, namun seketika membuat seluruh tubuh Rama menegang. Rama tertegun. Tatapannya yang sedari tadi liar seketika melembut. Menatap wajah Rina yang memerah padam, mata bulatnya yang menatapnya lekat-lekat, penuh harap, tapi juga terselip seperti rasa takut. Ia menatap tubuh mungil gadis itu yang sepenuhnya terpampang di hadapannya. "Sial! Dia beneran masih perawan ternyata." Rama mengusap wajahnya gusar. Bagaimana mungkin ia bisa melakukan ini. Sebrengsek-brengseknya dia, Rama belum pernah berhubungan dengan gadis yang belum pernah di sentuh orang. Alias masih perawan. Entahlah ia harus senang atau tidak dengan kesempatan ini. Lanjut berarti ia akan merusak gadis yang polos ini, tapi jika ia berhenti, ia takut gadis itu sakit hati padanya. "Kenapa Mas? Kok bengong," ucap Rina membuyarkan lamunan Rama. Ia menatap heran Rama yang terlihat gelisah. Rama menggeleng, menatap Rina yang kini menyerahkan segal
Sinta sudah tertidur lelap di lengannya.Napas wanita itu teratur, dadanya naik-turun perlahan, dan satu tangannya melingkar di pinggang Rama seolah takut cowok itu menghilang juka ia melepaskan pelukannya.Rambutnya berantakan di bantal, bibirnya sedikit terbuka, dan di lehernya masih tersisa bekas kemerahan dari ciuman tadi.Tapi Rama justru menatap langit-langit kamar yang gelap. Hujan di luar sudah berubah menjadi gerimis halus. Suara jangkrik mulai terdengar lagi di sela-sela rintik air.Ia tidak bisa tidur. Pikirannya kacau. Padahal seharusnya, ia bisa tertidur nyenyak dalam pelukan Sinta yang hangat.Tapi setiap kali ia memejamkan mata, wajah Rina kembali muncul. Cara gadis itu menatapnya dan ajakannya membuat Rama tak bisa berhenti memikirkan gadis itu. Dan yang paling mengganggu Rama adalah rasa bersalah yang bercampur dengan rasa penasaran yang semakin besar.Rama menggeser tubuhnya pelan, berusaha tidak membuat gerakan yang bisa membangunkan Sinta. Wanita itu hanya menger
Pintu kamar tertutup rapat di belakang mereka, menyisakan cahaya remang dari lampu tidur yang temaram. Begitu kayu pintu itu menutup, Sinta tak lagi menahan diri. Kedua tangannya merambat naik ke leher Rama, menarik wajah pemuda itu mendekat hingga tak ada jarak tersisa."Lanjutin yang tadi di gudang ya, Mas..." bisiknya parau, napasnya memburu dan hangat menyentuh bibir Rama.Rama tak menjawab. Ia langsung merengkuh pinggang ramping itu erat, menarik tubuh Sinta hingga menempel sempurna pada tubuhnya sendiri. Bibirnya melumat bibir Sinta dengan lapar, seolah menebus segala penantian sepanjang siang, segala rasa yang tertunda pagi tadi, dan segala rindu yang tak pernah habis terucap.Ciuman itu dalam, panas, dan penuh kepemilikan. Sinta mendesah lirih di dalam mulut Rama, kakinya seketika terasa lemas jika saja tidak disangga oleh lengan kekar pemuda itu.Tangan-tangan mereka bergerak liar, saling melepaskan ikatan pakaian yang terasa menghalangi. Daster tipis itu meluncur jatuh ke l
Matahari sudah mulai tinggi ketika Rama akhirnya keluar dari gudang.Rama masih berdiri terpaku di tempatnya, menatap pintu kayu itu seolah masih bisa melihat bayangan wanita cantik yang baru saja pergi.Napasnya masih memburu kencang, darahnya mendidih panas, dan sesuatu di balik celananya masih berdiri tegak menuntut haknya yang tertunda."Sialan... pas banget waktunya Nenek datang," gerutunya pelan sambil mengusap wajah kasar dengan kedua telapak tangan. "Pas lagi di puncak-puncaknya, padahal." Ia melirik ke arah bawah, menggeleng-gelengkan kepala melihat keadaannya yang masih belum tenang."Tenang Jon, jangan ngambek. Mbak Sinta udah kasih lampu hijau malam ini. Pokoknya nanti malam kita puasin sampai tuntas. Sampai dia nggak bisa jalan besok paginya."Rama tersenyum miring sendiri membayangkan janji wanita itu."Kapanpun kamu mau, Mas." Kalimat itu terus berputar di kepalanya, manis dan menggoda.Ia menutup pintu dengan hati-hati, masih merasakan sisa panas di ujung jarinya. Bau







