LOGIN"Bu, Ibu!!" Suara Widuri terdengar girang, seperti anak kecil yang baru saja dibelikan mainan oleh orang tuanya.
Ia setengah berlari masuk kedalam rumahnya yang sepi. "Bu?!" "Ada apa Wid? Ibu di dapur!" Terdengar suara Juriah setengah berteriak. Widuri bergegas menuju dapur, ia sudah tak sabar ingin menyampaikan kabar gembira pada ibunya. "Udah ke rumah Minah?" Tanya Juriah saat melihat sang puteri. Widuri tak menjawab, tapi bibirnya tersenyum tipis. "Ada apa, kok senyum-senyum gitu?" Juriah penasaran, sekaligus terharu, sudah lama sekali rasanya ia tak melihat anaknya itu tersenyum. Hari-hari yang berat membuat senyum menjadi sesuatu yang sangat mahal bagi keduanya. Mereka lebih sering murung dan sedih akibat derita kehidupan yang tak kunjung usai. "Bu, Wid punya kabar gembira!" Ucap Widuri sambil menarik tangan sang ibu dan mengajaknya untuk duduk di kursi kayu panjang yang ada di sudut dapur berlantai tanah itu. Juriah nampak antusias. Ia duduk di samping sang anak dan tak melepaskan pandangannya walau hanya sesaat dari wajah Widuri yang ceria itu. "Apa toh Wid, buruan ngomong, jangan buat ibu penasaran!" Desak Juriah. "Bu, Wid udah dapet kerjaan!" Ucap Widuri sambil menggenggam tangan sang ibu. "Kerjaan?!" Juriah kaget. Widuri manggut-manggut. "Lah, bukannya kamu juga udah kerja di warungnya haji Udin?" "Bukan itu Bu!" "Lah terus apa?" Juriah bingung. "Wid akan kerja di kota Bu!" Jawab Widuri girang. "Kerja di kota?" Juriah tetap tak paham. "Iya Bu!" Jawab Widuri semangat. "Kok bisa?!" Juriah masih bingung. "Minah yang ngajak" "Syukurlah Wid!" Juriah tak kuasa menutupi rasa bahagianya, bahkan karena terlalu bahagia kedua matanya sampai mengembun. "Iya Bu, Wid senang sekali, akhirnya Wid akan dapat pekerjaan yang layak!" Ucap Widuri yang jadi ikut terharu saat melihat sang ibu. Ia segera merengkuh tubuh tua Juriah yang kini semakin kurus paska sang suami mangkat. "Semoga ini jalan kita untuk bisa membayar hutang itu Bu" ucap Widia sambil melepas pelukannya . Juriah manggut-manggut dengan mata yang masih basah. "Tapi..." Tiba-tiba wajah Juriah nampak cemas. "Apa Bu?" "Kapan kau berangkat?" "Kata Minah lusa Bu" terlihat Widuri sudah tak sabar untuk segera berangkat ke kota. "Lusa?" "Iya Bu!" "Kenapa ibu tampak cemas?" Widuri jadi khawatir melihat raut wajah sang ibu yang tadi sumringah kini menjadi muram. "Juragan Sarmo akan datang seminggu lagi, sedang kau baru akan berangkat besok, apa mungkin kau bisa menambahi uang untuk membayar hutang hanya dalam beberapa hari saja?" Juriah nampak sangat gelisah. Ia tak sanggup membayangkan kemarahan juragan Sarmo saat ia datang kembali dan Juriah belum juga mampu melunasi hutang itu. Sepertinya kali ini juragan Sarmo tak akan mentoleransi lagi, ia pasti akan menyita rumah itu sebagai barang yang dijaminkan untuk hutang itu. "Ibu nggak usah takut, Minah bilang aku bisa kok minta bayaran duluan" jawab Widuri penuh percaya diri. "Sungguh wid?!" Juriah merasa lega tapi agak ragu. "Minah bilang begitu Bu!" Widuri meyakinkan sang ibu. "Memangnya nanti di kota kamu bakal kerja apa, kok bisa ngambil bayaran dulu?" "Em, kata Minah Wid akan kerja jadi asisten pribadi di rumah orang kaya Bu" Widuri menirukan ucapan Minah tadi. "Asisten pribadi itu apa?" Tanya Juriah ingin tahu. "Kata Minah itu orang yang bertugas membantu mempersiapkan keperluan dari sang bos" lagi lagi Widuri menirukan ucapan Minah. Juriah manggut-manggut, percaya begitu saja dengan informasi yang sangat anak berikan. Lagipula ia percaya kalau Widuri pasti tak akan sembarangan menerima pekerjaan, ia orang yang baik dan pasti hanya mau menerima pekerjaan yang baik pula. Juriah mencoba menepiskan rasa takutnya, meski seumur hidup ia sendiri belum pernah pergi ke kota, begitu juga dengan Widuri. Tapi ia percaya jika sang anak pasti mampu menjaga diri. "Jadi gimana Bu, apa ibu izinkan Wid ikut Minah?" Tanya Widuri dengan sorot mata penuh harap. Juriah diam, hatinya bimbang. Ia merasa berat sekali melepas sang anak untuk pergi ke tempat yang ia sendiri belum pernah menginjakkan kakinya disana, tapi disisi lain, hutang pada juragan Sarmo tak bisa ditunda lagi. Jika ia tak mengizinkan Widuri untuk pergi, ia tak tahu akan bagaimana nasibnya di kampung ini jika juragan Sarmo menyita rumah mereka. "Kalo ibu nggak mengizinkan, nggak apa-apa kok, Wid nggak akan pergi" ujar Widuri pasrah. "Em, baiklah Wid, kau boleh pergi " ucap Juriah lemah, ia tak punya pilihan. Satu-persatu cara agar hutang itu bisa dibayar adalah dengan membiarkan Widuri pergi ke kota untuk bekerja. "Sungguh Bu?!" "Iya Nak!" "Terima kasih Bu, Wid janji Wid akan bayar hutang itu secepatnya!" Ucap Widuri sambil kembali memeluk sang ibu. "Semoga Minah tak ingkar janji, dia sungguh bisa membantumu mendapatkan uang itu sebelum juragan Sarmo datang" harap Juriah. "Iya Bu!" ### Malam itu Widuri tak bisa tidur, ia sudah berkemas sejak sore. Tak banyak barang yang ia bawa, hanya beberapa lembar pakaian. Maklum saja, Widuri tak punya banyak baju. Baju-bajunya yang bagus sudah ia lelang ke teman-temannya demi menambahi biaya hidup. Kini yang tersisa tinggal beberapa helai saja. Widuri tak sabar ingin segera sampai di kota. Ia memiliki sebuah mimpi yang besar, mimpi untuk bisa merubah kehidupan agar bisa menjadi lebih baik. Ia ingin segera melunasi hutang pada juragan Sarmo. Ia juga ingin bisa mencukupi kebutuhan sang ibu agar sang ibu yang sudah renta itu tak perlu capek-capek bekerja. Ia ingin seperti Minah yang bisa membahagiakan keluarganya. Widuri juga berniat untuk melanjutkan lagi sekolahnya, bila perlu ia ingin melanjutkan pendidikan sampai jenjang perguruan tinggi dan menjadi sarjana seperti mimpinya dahulu. "Wid, udah tidur belum?" Juriah masuk kedalam kamar Widuri yang temaram. "Belum Bu" jawab Widuri sambil bangun dari tidurnya. "Besok ibu mau ke pasar kecamatan" ujar Juriah sambil duduk di tepi kasur tipis yang terhampar di lantai plester yang dingin. "Mau ngapain Bu?" "Ibu mau jual cincin ini" Juriah menunjukkan jari manisnya dengan sebuah cincin emas yang melingkar. "Untuk apa Bu?" Widuri tampak tak setuju. "Kamu, kan akan ke kota lusa, jadi ini untuk ongkos kamu" "Nggak usah Bu!" Tolak Widuri. "Loh kok gitu? La terus ongkos mu gimana?" "Ibu nggak usah cemas, Minah yang bayar ongkosnya" jawab Widuri santai. "Sungguh?!" "Iya Bu, Minah bayari ongkos Wid, nanti dipotong pas Wid udah gajian, jadi ibu nggak usah jual cincin ini" Widuri meraih jadi manis Juriah dan membeli lembut cincin emas dua puluh empat karat itu. Juriah tersenyum, ia merasa lega, karena ternyata jalan Widuri untuk bekerja di kota semuanya dimudahkan. Harapannya hanya satu, kiranya Widuri akan mendapatkan kesuksesan di kota sana. ##$Mobil melaju, Widuri masih bingung, kini rasa takut kembali datang menyergap, pelan tapi cukup menusuk. Ia tak tahu akan bagaimana takdir hidupnya saat ini.Minah tak ada di tempatnya, ia pergi, mungkin juga kabur, menghindari kenyataan pahit yang sedang mencari kebenaran. Sedang Widuri masih berputar-putar tak jelas , dari satu sudut ke sudut lain di kota itu, tempat asing yang sama sekali tak ramah, bahkan seolah seperti sengaja menjadikan Widuri sebagai bahan pelampiasan kekacauan."Ma-af tu-an..kita..""Kalo kau punya tujuan lain, aku akan antar kau kesabaran!" potong Zeka, seperti sudah tahu kemana arah ucapan Widuri.Widuri diam, tak berani bicara lagi. Apa yang Zeka katakan memang benar, di tempat asing dengan kondisi selarut itu, kemana ia akan pergi. "Tapi, maaf..sa-ya, saya mau cari tempat penginapan.." ujar Widuri lagi, lirih, sebab rasa ragu terlalu besar untuk ditaklukkan."Tak masalah, ada banyak tempat penginapan di kota ini, aku bisa antar kau kesana, kau punya uangn
Mobil meluncur, kecepatannya bertambah, membelah jalanan yang masih padat oleh kendaraan. Malam terus merangkak, mengungkungi segenap penjuru alam dengan gelap dan dingin yang mulai menusuk. Ada sedikit rasa tenang di dalam diri Widuri, ia kini mulai yakin jika pria yang ada di sampingnya adalah orang baik, lebih tepatnya, ia berharap kiranya dia menang orang yang baik, ia orang yang sungguh ingin menolong Widuri, membebaskan gadis itu dari belenggu ketidakpastian dan rasa terombang-ambing yang saat ini sedang menjajah jiwa dan raganya. Mobil terus melaju, dari jalanan yang padat oleh kendaraan beralih ke jalanan yang agak sepi, meski tetap saja ada kendaraan yang melintas. Rintik hujan tiba-tiba turun, dengan langit yang gelap, Widuri tak tahu jika itu ternyata adalah mendung. Hawa dingin kian merajalela, mengobrak-abrik Rafa Widuri yang lemah dan kacau itu. Mobil berhenti, Widuri melongok dari dalam mobil, di hadapannya, saat ia menoleh kesamping, tampak sebuah bangunan menju
Widuri sudah berada di dalam mobil, hasa dingin dari pendingin udara langsung menyergap tubuhnya yang lelah. Ia duduk persis di sebelah Zeka, hidungnya yang mungil itu mampu mencium aroma wangi yang entah aroma apa itu, ia tak paham, tapi yang jelas aroma itu sungguh hangat dan segar. Rasa takut dan canggung menghantui dirinya, ini jadi yang ketiga kali ia dibawa pergi oleh orang asing dengan tujuan yang entah apa dan kemana. Sekilas ia sempat berfikir jika Zeka mungkin saja sang juru selamat yang diutus oleh Tuhan untuk menolong dirinya, ia membebaskan Widuri dari cengkeraman direktur Willi yang nyaris saja menghancurkan hidupnya. Tapi seketika saat ia tahu ada transaksi dengan nilai fantastis atas pembebasan dirinya, Widuri jadi sedikit skeptis. Ia tak ingin berharap terlalu jauh, sekali lagi, ia sedang berada di tempat asing dan dikelilingi oleh orang-orang asing juga yang tak ia kenal satupun. Tangan Widuri terus mendekap erat tas besar miliknya, satu-satunya benda yang ia mi
"Apa yang kau inginkan?!" tanya Zeka, ia masih berdiri menghadap pintu yang hanya tinggal sejengkal Saha jaraknya dari tempat ia berada. "Tap! tap! tap!" langkah kaki yang dialasi sandal kulit bermerek terdengar mendekat dengan ketukan irama yang teratur namun terdengar jengah. "puffff!!" hembusan nafas yang berat menjadi penanda terhentinya nada irama dari langkah itu. "Kau bisa bawa gadis ini pergi jika kau mau, tapi sebagai gantinya, kau harus kembalikan uang yang sudah aku keluarkan untuk dia" ujar direktur Willi, pelan, tanpa suara lantang, tanpa teriakan, tapi cukup mampu membuat nyali Zeka sedikit ciut. Bukan takut pada direktur Willi, tapi lebih kepada makna yang tersirat dari negoisasi yang sedang ditawarkan. Ini bukan saja tentang uang tebusan, tapi ada hal rumit yang sedang menanti jika Zeka enggan memenuhi tuntutan kakak iparnya itu. "Kenapa aku harus menebus sesuatu yang tidak akan aku gunakan?" protes Zeka. "Heh, kau pikir kau bisa ikut campur semua urusanku karena
"Tuan tolong saya!" Widuri menangkupkan tangannya, memohon belas kasihan Zeka, orang asing yang sama sekali tak ia kenal. "Hei jalang! kau pikir dengan siapa kau sedang bicara, hah?! apa kau pikir dia akan sudi mendengar perkataan konyol mu itu?! sudahlah, kau lebih baik diam! setelah urusan kita selesai kau akan terima uangmu!" oceh direktur Willi yang terlihat kian panik. "Ti-dak tuan! saya mohon tolong saya!" Widuri menggeleng, ia terus meratap sambil berharap Zeka akan peka terhadap ucapannya, bahwa sungguh saat ini ia sedang butuh bantuan. Nasibnya sedang di ujung tanduk, dan tak tahu lagi apakah akan ada kesempatan lagi setelah Zeka, sepertinya tidak. "Dasar kau..!" direktur Willi mengangkat tangan, hendak memukul Widuri yang duduk bersimpuh sambil terus memohon pada Zeka. "Kakak!!" suasana Zeka lantang menggema, membuat direktur Willi urung mengayunkan tangannya. Wajahnya tegang menahan amarah yang begitu besar, amarah yang tak bisa sepenuhnya ia lampiaskan pada Widuri.
"Sial!" umpat Zeka, tak ada yang bisa ia lakukan lagi. Willi yang licik itu selalu menggunakan Stela sebagai katu As untuk membuat Zeka tak berkutik hingga akan selalu menuruti kemauannya.Zeka diam, dengan raut wajah marah yang tertahan, ia memutar badannya, menghadap ke arah pintu, sepertinya hendak pergi.Widuri terhenyak, panik. Sedari tadi rupanya ia diam-diam memperhatikan perdebatan kedua pria itu. Ia tak mengenal mereka sama sekali, tapi jika dilihat sekilas, Zeka sepertinya orang baik, itu menurut pendapat pribadi Widuri. Entahlah, mungkin karena beberapa hari ini ia hanya bertemu dengan orang-orang yang jahat, sehingga mungkin kini ia mulai berhalusinasi dan menganggap ada orang baik yang akan perduli pada dirinya pada nasibnya."Tu-an! tunggu..!!" suasana Widuri yang serak terdengar lirih, ia sebenarnya sudah berteriak cukup kencang, hanya saja akibat terlalu sering menangis, teriakan itu lebih terdengar seperti ratapan, lirih dan menyayat.Langkah Zeka terhenti, sedang Wi







