LOGINHari yang dinantikan Widuri akhirnya tiba juga, pagi-pagi sekali ia sudah bangun. Sebuah tas jinjing berwarna hitam yang berisi pakaiannya sudah siap di atas meja di ruang tamu. Ada juga sebuah tas kain kecil yang berisi bekal makanan. Juriah tampak sibuk kesana-kemari untuk mempersiapkan segala keperluan Widuri.
Widuri sendiri sudah duduk di kursi kayu yang ada di ruang tamu. Perasaanya campur aduk, antara bahagia juga sedih. Ia merasa bahagia karena akhirnya ia akan segera berangkat ke kota untuk bekerja dan ia berharap agar ia bisa merubah hidup mereka menjadi lebih baik. Tetapi dilain sisi ia juga merasa sedih. Dengan berangkatnya ia ke kota itu berarti ia harus meninggal sang ibu sendirian di kampung, tanpa sanak saudara, ia merasa gelisah, takut terjadi hal buruk pada ibunya. Mengingat akhir-akhir ini sang ibu sering sakit, lalu bagaimana jika Widuri pergi dan ibunya jatuh sakit, siapa orang yang akan merawatnya. Ah, Widuri bimbang. "Wid, sarapan dulu ya!" Juriah datang dengan sebuah piring berisi nasi putih hangat dan ikan goreng serta tumis kacang panjang. Ia duduk disebelah sang anak. "Wid nggak lapar Bu!" Jawab Widuri. "Nggak lapar gimana, kamu itu mau melakukan perjalanan jauh, jadi kamu harus sarapan jangan sampe perutmu kosong nanti bisa masuk angin loh!" Bujuk Juriah sambil menyendok makanan di dalam piring. "Ayo makan!" Juriah menyisir sendok berisi makanan ke arah mulut Widuri. Widuri diam, ia malah menatap sang ibu dengan tatapan nanar. Matanya terasa berat, kesedihan yang sejak tadi terus memberontak didalam dadanya, sekarang seolah sudah enggan untuk dikekang, ia ingin bebas keluar dari kerangkeng bewujud bola mata. "Kok malah sedih sih?" Selorohnya Juriah sambil meletakkan kembali sendok ke dalam piring. "Ada apa, hah?" "Bu.." "Iya, Nak!" "Apa ibu sungguh mengizinkan Wid untuk pergi?" Tanya Widuri dengan lirih. Juriah diam, ia hanya terus memandangi wajah puterinya itu. Hati Juriah sebenarnya juga terasa tersayat manakala ia harus menerima kenyataan, kini ia harus berpisah dengan Widuri, satu-persatu anggota keluarga yang ia miliki. Apalagi kini ia harus melepas Widuri ke tempat asing yang jauh, ia merasa takut jika disana nanti Widuri akan mendapatkan masalah. "Bu..?" Widuri menunggu jawaban Juriah. "Iya Nak, ibu iklhas. Kita memang harus berjuang lebih keras lagi agar bisa terlepas dari semua derita ini" suara Juriah terasa berat. "Maafkan ibu karena harus membuat kau ikut menanggung penderitaan ini. Wid" suara Juriah mulai parau. "Nggak Bu! Wid nggak pernah merasa begitu, Wid ikhlas melakukan semua ini. Itulah sebabnya Wid ingin bekerja ke kota agar bisa membantu ibu!" Ucap Widuri dengan tatapan pilu melihat kesedihan yang terpancar di wajah sang ibu. "Ibu nggak usah mikir yang aneh-aneh, pokoknya Wid minta ibu doain Wid agar Wid bisa sukses, dan hidup kita bisa jadi lebih baik!" Ucap Widuri mencoba menenangkan sang ibu yang terlihat gelisah sekali. "Itu pasti Nak!" "Ibu sungguh nggak apa, kan kalo Wid tinggal?" Widuri tak kuasa menahan rasa khawatirnya. "Nggak Nak, ibu nggak apa-apa, kau tak usah cemaskan ibu. Kau fokus saja pada tujuanmu ya!" Juriah meyakinkan Widuri. "Tapi Wid takut Bu!" Ucap Widuri. "Kamu nggak usah takut Nak, ibu akan menjaga diri, lagipula disini juga, kan banyak tetangga" Juriah terus berusaha tegar, meski hatinya merasa cemas, tapi demi cita-cita sang anak, ia harus mampu menutupi semua itu. Ia tak ingin Widuri lemah dan akhirnya menyerah, dan membatalkan niatnya untuk merantau. Ini kesempatan langka yang mungkin tak akan datang untuk kedua kalinya. Juriah tak ingin menjadi penghalang langkah sang anak untuk menggapai mimpinya. "Tapi Bu.." Widuri tetap khawatir. "Udah nggak usah cemas gitu, pokoknya kau harus tetap berangkat, kau tak usah pikirkan ibu, fokus saja pada tujuanmu, pada pekerjaan mu. Ibu akan selalu mendoakan mu, Nak" ucap Juriah sambil membelai wajah Widuri yang sayu. "Tapi gimana kalo Wid kangen sama Ibu?" "Em, kau telpon saja, nanti ibu minta nomer telepon pak RT ya?" Juriah memberi solusi agar Widuri tak terus berkalang ragu. "Baiklah Bu, tapi ibu janji ya ibu harus jaga kesehatan dan jangan kerja lagi,biar wid aja yang kerja, ibu istirahat aja di rumah!" Widuri merengkuh sang ibu, keduanya lalu berpelukan dengan erat, sangat erat bahkan, hati keduanya sama-sama hancur, Juriah yang harus melepaskan sang anak untuk pergi jauh darinya, dan Widuri yang harus rela meninggalkan sang ibu seorang diri dalam waktu yang entah sampai kapan. Kegetiran yang harus mereka kecap betapapun mereka sangat tak ingin. Baik Widuri ataupun Juriah, waktu mereka tak banyak, hanya tinggal seminggu lagi sebelum juragan Sarmo datang untuk menagih hutang, dan ini jadi yang terakhir, jika Juriah belum juga mampu untuk melunasinya, maka sudah bisa dipastikan rumah kecil milik mereka akan menjadi gantinya. Disita oleh juragan Sarmo. ### "Hati-hati Nak, jika sudah sampe segera kabari ibu ya!" Juriah melepaskan pelukannya dari Widuri, air matanya tak bisa dibendung lagi, mengalir membasahi pipinya yang keriput. Begitu juga Widuri, ia merasa sangat berat untuk berpaling dari wajah sang ibu. Bukannya hanya matanya yang basah oleh air mata , tapi hatinya juga menagis, menjeerit, meratapi nasib buruk yang berpihak pada ia dan dang ibu. "Ayo Wid, nanti kita ketinggalan bus!" Pekik Minah yang sudah siap di atas motor yang hendak mengantar mereka ke terminal yang ada di kecamatan. Widuri terhenyak, waktunya sudah tiba. Meski ia masih belum siap, tapi hari itu memang sudah sampai, ia tak akan bisa menghindar betapapun ia sangat menginginkannya. "Pergilah Nak, jangan sampe terlambat!" Juriah melepas kepergian Widuri dengan ketegaran yang ia paksakan. Tangannya yang lemah itu melambai dengan gemetar saat Widuri sudah berada di atas motor, dan bersiap pergi. Tak ada lagi kata yang terucap selain dari doa yang tak putus dilantunkan oleh bibir tua Juriah. Motor yang membawa Widuri dan Minah sudah beranjak, perlahan namun pasti mereka mulai menjauh dari pandangan Juriah. Juriah terus mengikuti mereka dengan kedua matanya, hingga motor-motor itu benar-benar raib dan tak terlihat lagi olehnya. Air mata Juriah tumpah sejadi-jadinya. Ia terduduk lemas di tepi jajan di depan rumahnya, beberapa orang tetangga yang kebetulan melihat bergegas menghampirinya. "Mbok, sabar, jangan ditangisi, di doakan biar Widuri selamat sampe tujuan!' ucap Lasni, tetangga sebelah rumah Juriah yang punya kolam ikan sambil membantu Juriah untuk bangkit. Sementara beberapa orang lainnya hanya berdiri menatap nanar pada Juriah sambil berbisik-bisik menggunjing apa yang sedang mereka saksikan. ###Mobil melaju, Widuri masih bingung, kini rasa takut kembali datang menyergap, pelan tapi cukup menusuk. Ia tak tahu akan bagaimana takdir hidupnya saat ini.Minah tak ada di tempatnya, ia pergi, mungkin juga kabur, menghindari kenyataan pahit yang sedang mencari kebenaran. Sedang Widuri masih berputar-putar tak jelas , dari satu sudut ke sudut lain di kota itu, tempat asing yang sama sekali tak ramah, bahkan seolah seperti sengaja menjadikan Widuri sebagai bahan pelampiasan kekacauan."Ma-af tu-an..kita..""Kalo kau punya tujuan lain, aku akan antar kau kesabaran!" potong Zeka, seperti sudah tahu kemana arah ucapan Widuri.Widuri diam, tak berani bicara lagi. Apa yang Zeka katakan memang benar, di tempat asing dengan kondisi selarut itu, kemana ia akan pergi. "Tapi, maaf..sa-ya, saya mau cari tempat penginapan.." ujar Widuri lagi, lirih, sebab rasa ragu terlalu besar untuk ditaklukkan."Tak masalah, ada banyak tempat penginapan di kota ini, aku bisa antar kau kesana, kau punya uangn
Mobil meluncur, kecepatannya bertambah, membelah jalanan yang masih padat oleh kendaraan. Malam terus merangkak, mengungkungi segenap penjuru alam dengan gelap dan dingin yang mulai menusuk. Ada sedikit rasa tenang di dalam diri Widuri, ia kini mulai yakin jika pria yang ada di sampingnya adalah orang baik, lebih tepatnya, ia berharap kiranya dia menang orang yang baik, ia orang yang sungguh ingin menolong Widuri, membebaskan gadis itu dari belenggu ketidakpastian dan rasa terombang-ambing yang saat ini sedang menjajah jiwa dan raganya. Mobil terus melaju, dari jalanan yang padat oleh kendaraan beralih ke jalanan yang agak sepi, meski tetap saja ada kendaraan yang melintas. Rintik hujan tiba-tiba turun, dengan langit yang gelap, Widuri tak tahu jika itu ternyata adalah mendung. Hawa dingin kian merajalela, mengobrak-abrik Rafa Widuri yang lemah dan kacau itu. Mobil berhenti, Widuri melongok dari dalam mobil, di hadapannya, saat ia menoleh kesamping, tampak sebuah bangunan menju
Widuri sudah berada di dalam mobil, hasa dingin dari pendingin udara langsung menyergap tubuhnya yang lelah. Ia duduk persis di sebelah Zeka, hidungnya yang mungil itu mampu mencium aroma wangi yang entah aroma apa itu, ia tak paham, tapi yang jelas aroma itu sungguh hangat dan segar. Rasa takut dan canggung menghantui dirinya, ini jadi yang ketiga kali ia dibawa pergi oleh orang asing dengan tujuan yang entah apa dan kemana. Sekilas ia sempat berfikir jika Zeka mungkin saja sang juru selamat yang diutus oleh Tuhan untuk menolong dirinya, ia membebaskan Widuri dari cengkeraman direktur Willi yang nyaris saja menghancurkan hidupnya. Tapi seketika saat ia tahu ada transaksi dengan nilai fantastis atas pembebasan dirinya, Widuri jadi sedikit skeptis. Ia tak ingin berharap terlalu jauh, sekali lagi, ia sedang berada di tempat asing dan dikelilingi oleh orang-orang asing juga yang tak ia kenal satupun. Tangan Widuri terus mendekap erat tas besar miliknya, satu-satunya benda yang ia mi
"Apa yang kau inginkan?!" tanya Zeka, ia masih berdiri menghadap pintu yang hanya tinggal sejengkal Saha jaraknya dari tempat ia berada. "Tap! tap! tap!" langkah kaki yang dialasi sandal kulit bermerek terdengar mendekat dengan ketukan irama yang teratur namun terdengar jengah. "puffff!!" hembusan nafas yang berat menjadi penanda terhentinya nada irama dari langkah itu. "Kau bisa bawa gadis ini pergi jika kau mau, tapi sebagai gantinya, kau harus kembalikan uang yang sudah aku keluarkan untuk dia" ujar direktur Willi, pelan, tanpa suara lantang, tanpa teriakan, tapi cukup mampu membuat nyali Zeka sedikit ciut. Bukan takut pada direktur Willi, tapi lebih kepada makna yang tersirat dari negoisasi yang sedang ditawarkan. Ini bukan saja tentang uang tebusan, tapi ada hal rumit yang sedang menanti jika Zeka enggan memenuhi tuntutan kakak iparnya itu. "Kenapa aku harus menebus sesuatu yang tidak akan aku gunakan?" protes Zeka. "Heh, kau pikir kau bisa ikut campur semua urusanku karena
"Tuan tolong saya!" Widuri menangkupkan tangannya, memohon belas kasihan Zeka, orang asing yang sama sekali tak ia kenal. "Hei jalang! kau pikir dengan siapa kau sedang bicara, hah?! apa kau pikir dia akan sudi mendengar perkataan konyol mu itu?! sudahlah, kau lebih baik diam! setelah urusan kita selesai kau akan terima uangmu!" oceh direktur Willi yang terlihat kian panik. "Ti-dak tuan! saya mohon tolong saya!" Widuri menggeleng, ia terus meratap sambil berharap Zeka akan peka terhadap ucapannya, bahwa sungguh saat ini ia sedang butuh bantuan. Nasibnya sedang di ujung tanduk, dan tak tahu lagi apakah akan ada kesempatan lagi setelah Zeka, sepertinya tidak. "Dasar kau..!" direktur Willi mengangkat tangan, hendak memukul Widuri yang duduk bersimpuh sambil terus memohon pada Zeka. "Kakak!!" suasana Zeka lantang menggema, membuat direktur Willi urung mengayunkan tangannya. Wajahnya tegang menahan amarah yang begitu besar, amarah yang tak bisa sepenuhnya ia lampiaskan pada Widuri.
"Sial!" umpat Zeka, tak ada yang bisa ia lakukan lagi. Willi yang licik itu selalu menggunakan Stela sebagai katu As untuk membuat Zeka tak berkutik hingga akan selalu menuruti kemauannya.Zeka diam, dengan raut wajah marah yang tertahan, ia memutar badannya, menghadap ke arah pintu, sepertinya hendak pergi.Widuri terhenyak, panik. Sedari tadi rupanya ia diam-diam memperhatikan perdebatan kedua pria itu. Ia tak mengenal mereka sama sekali, tapi jika dilihat sekilas, Zeka sepertinya orang baik, itu menurut pendapat pribadi Widuri. Entahlah, mungkin karena beberapa hari ini ia hanya bertemu dengan orang-orang yang jahat, sehingga mungkin kini ia mulai berhalusinasi dan menganggap ada orang baik yang akan perduli pada dirinya pada nasibnya."Tu-an! tunggu..!!" suasana Widuri yang serak terdengar lirih, ia sebenarnya sudah berteriak cukup kencang, hanya saja akibat terlalu sering menangis, teriakan itu lebih terdengar seperti ratapan, lirih dan menyayat.Langkah Zeka terhenti, sedang Wi







