Beranda / Romansa / Dikejar Mantan Boss! / Bab 4 Kenapa Harus Dia Lagi?

Share

Bab 4 Kenapa Harus Dia Lagi?

Penulis: Suci Awaliah
last update Tanggal publikasi: 2026-08-27 19:18:34

Ponsel di genggaman Anindya bergetar hebat. Pesan ancaman dari nomor tak dikenal itu masih terpampang di layar, bertepatan dengan ketukan pintu kosnya yang kian mendesak.

"Nin? Gue tahu lo di dalam. Buka pintunya sebentar, ini penting," suara Dion di balik pintu terdengar begitu menuntut.

Tangan Anindya meremas ponselnya hingga buku-buku jarinya memutih. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Di layar laptop, wajah Dion pada video dua tahun lalu masih membeku—bukti tak terbantahkan bahwa pria ramah yang kerap meminjamkannya alat tulis di kantor ini adalah sosok bermuka dua yang berbahaya.

Kenapa harus dia lagi? Dari sekian banyak orang di kantor, kenapa Dion yang jadi dalangnya?!

Mengabaikan pesan itu, Anindya langsung menggeser layar ponsel, mencari kontak BOS IBLIS, lalu menekan tombol panggilan.

Satu detik. Dua detik.

"Ada apa, Anindya?" suara berat Reno menyapa dari seberang telepon.

"P-Pak Reno... Dion ada di depan kamar kos saya!" bisik Anindya panik. Ia berjongkok di balik kasur, berusaha meminimalkan suara. "Dia ngetok pintu dan ngirim pesan suruh buka!"

Hening sejenak di ujung telepon, sebelum suara gesekan jas dan langkah kaki terburu-buru terdengar.

"Jangan buka pintunya. Tetap di dalam dan kunci ganda," perintah Reno tegas, suaranya tak lagi dingin, melainkan sarat akan kecemasan. "Saya sudah di parkiran kosan kamu."

Mata Anindya membelalak.

"Hah?! Bapak di mana?!"

"Parkiran bawah. Jangan matikan teleponnya. Saya naik sekarang."

Belum sempat Anindya membalas, gedoran di pintunya semakin keras.

"Nin! Gue tahu lo udah nonton rekaman dari Reno, kan?!" teriak Dion dari luar, nada bicaranya berubah drastis dari suara ramah yang biasa Anindya dengar. "Jangan mau dibodohi sama dia! Reno cuma manfaatin kamu buat jatuhin posisi ayah Clara!"

Anindya menahan napas, mundur semakin dekat ke arah lemari pakaian.

Tiba-tiba, suara derap langkah sepatu yang mantap bergema dari arah lorong tangga.

"Sedang apa kamu di depan kamar calon istri saya, Pak Dion?"

Suara bariton Reno yang mengintimidasi langsung memotong kegaduhan di depan pintu. Anindya bisa mendengar helaan napas lega keluar dari tenggorokannya sendiri saat mendengar kehadiran bosnya itu.

"P-Pak Reno...?" suara Dion terdengar gagap. "Bapak kenapa bisa ada di sini?"

"Harusnya saya yang tanya," balas Reno dingin. "Ini jam delapan malam. Apa ada urusan pekerjaan yang membuat Manajer Keuangan mendatangi kos stafnya sambil menggedor pintu seperti preman?"

"Saya... saya cuma mau meluruskan masalah salah paham, Pak," sangkal Dion, mencoba membela diri.

"Salah paham?" Reno terkekeh sinis. "Salah paham soal obat penenang yang kamu campur ke minuman Anindya dua tahun lalu atas perintah Tuan Hendra—ayahnya Clara?"

Suasana di lorong luar mendadak hening mencengkam. Dari balik pintu, Anindya bisa merasakan ketegangan yang membakar udara.

"B-Bapak bicara apa?! Saya nggak paham!" Dion mengelak tajam.

"Saya punya bukti transaksi rekening kamu dari orang-orang suruhan Tuan Hendra, Dion," potong Reno datar. "Dan kalau kamu tidak pergi dari depan pintu ini dalam hitungan tiga... polisi di bawah yang akan menyeret kamu."

Detik berikutnya, terdengar langkah kaki terburu-buru dari Dion yang menjauh dan berlari turun melewati tangga.

Pintu kos Anindya diketuk pelan dua kali.

"Nin, ini saya. Buka pintunya."

Anindya buru-buru berdiri, membuka selot kunci, dan memutar gagang pintu. Di ambang pintu, Reno berdiri menjulang dengan kemeja putih yang lengan bajunya sudah tergulung hingga siku dan jas yang tersampir di lengannya. Pria itu tampak sedikit napas terengah-engah, menandakan ia benar-benar berlari menaiki tangga kosan.

"Bapak... beneran datang?" bisik Anindya menatap Reno tak percaya.

Reno tidak menjawab dengan kata-kata. Pria itu menatap Anindya dari atas ke bawah untuk memastikan tidak ada cedera, lalu melangkah masuk tanpa permisi dan menyambar wrist Anindya lembut.

"Kemas barang-barang pentingmu. Kamu tidak bisa tinggal di sini lagi malam ini."

"Eh?! Kenapa gitu, Pak?!" protes Anindya spontan. "Ini kamar kos saya!"

Reno menatapnya lekat-lekat, matanya menatap Anindya tajam.

"Tempat ini sudah tidak aman, Anindya. Dion tahu tempat tinggalmu, dan Clara tidak akan tinggal diam setelah kejadian di kantor tadi."

"Tapi saya mau ke mana?!"

"Apartemen saya," jawab Reno singkat dan mutlak.

Anindya hampir tersedak ludahnya sendiri.

"Nggak mau! Bapak gila ya?! Masa saya tidur di apartemen cowok?!"

Reno memutar bola matanya, helaan napas lelah terdengar dari mulutnya.

"Apartemen saya punya tiga kamar. Dan saya jamin, saya tidak akan menyentuhmu tanpa izin. Sekarang kemas barangmu, atau saya yang kemaskan?"

Melihat keseriusan di mata Reno, Anindya akhirnya melunak. Dengan cemberut, ia mengambil tas ransel, memasukkan laptop, dokumen penting, dan beberapa helai baju ganti.

Mobil SUV hitam milik Reno membelah jalanan ibu kota yang mulai lengang. Di dalam mobil, suasana sangat canggung. Anindya memeluk tasnya rapat-rapat di kursi penumpang depan, sementara Reno fokus menyetir.

"Pak..." panggil Anindya pelan, memecah keheningan.

"Hm?"

"Kenapa Bapak sebegitunya penjarain Dion dan ngelindungin saya?" Anindya menoleh, menatap profil samping wajah Reno yang tegas. "Kalau benar kata Dion... Bapak dijodohin sama saya cuma buat ngebalas dendam ke ayahnya Clara?"

Reno menghentikan mobilnya saat lampu lalu lintas berganti merah. Pria itu menoleh menatap Anindya tepat di manik matanya.

"Anindya, kalau saya cuma mau membalas dendam ke Tuan Hendra, saya bisa memakai seribu cara lain tanpa harus mengikat diri saya dengan perjanjian perjodohan tiga tahun lalu."

Jantung Anindya mendadak marathon.

"T-terus... kenapa harus saya?"

Reno mengikis jarak sedikit, tangannya terangkat dan jarinya mengelus pipi Anindya yang terasa hangat dengan sangat lembut.

"Karena sejak tiga tahun lalu... cuma kamu perempuan yang bikin saya tidak bisa tidur nyenyak kalau kamu tidak berada di dalam jangkauan saya."

Pipi Anindya langsung merona merah padam. Ia refleks menarik kepalanya mundur, memalingkan wajah ke arah jendela luar untuk menyembunyikan senyum dan debaran dadanya yang kian tak terkendali.

Dasar bos iblis! Bisa-bisanya ngomong gitu pakai muka lempeng!

Dua puluh menit kemudian, mereka sampai di sebuah penthouses mewah di kawasan Jakarta Selatan. Reno membukakan pintu apartemennya dan menyalakan lampu.

Ruangan itu sangat luas, didominasi warna hitam dan abu-abu maskulin.

"Kamar kamu di sebelah kiri," ujar Reno sembari menunjuk sebuah pintu kayu. "Peralatan mandi sudah ada di dalam."

"Makasih, Pak," gumam Anindya canggung.

Baru saja Anindya hendak melangkah menuju kamarnya, bel pintu apartemen Reno mendadak berbunyi nyaring.

DING DONG!

Reno berkerut dahi. Ia melirik jam tangan yang sudah menunjukkan pukul sembilan lewat tiga puluh menit malam. Siapa yang berkunjung ke apartemen pribadinya di jam segini?

Reno berjalan menuju pintu utama dan membuka gagang pintu.

Anindya mengintip dari balik lorong.

Di depan pintu berdiri seorang pria paruh baya berambut uban berpenampilan sangat berwibawa memakai setelan jas mahal, didampingi dua pengawal. Wajah pria itu sangat mirip dengan sosok yang sering muncul di majalah bisnis papan atas.

Tuan Hendra—ayah dari Clara sekaligus pemegang saham terbesar perusahaan!

"Reno," sapa pria tua itu dengan suara berat berwibawa. "Saya dengar kamu membawa staf murahan itu ke apartemenmu malam ini?"

Anindya menahan napasnya.

Tuan Hendra melangkah masuk tanpa diundang, matanya menyapu sekeliling hingga tatapannya berhenti tepat pada posisi Anindya yang berdiri mematung di ujung lorong. Pria tua itu tersenyum dingin.

"Reno, kamu pikir kamu bisa menghancurkan rencana pernikahan putriku hanya dengan berlindung di balik gadis dari keluarga bangkrut ini?" Tuan Hendra terkekeh meremehkan, lalu merogoh sebuah amplop cokelat tebal dari dalam jasnya dan melemparkannya ke atas meja kaca.

"Buka amplop itu, Reno," perintah Tuan Hendra penuh kemenangan. "Dan lihat sendiri rahasia besar yang disembunyikan oleh ibu dari calon istrimu itu selama dua puluh tahun terakhir!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dikejar Mantan Boss!   Bab 23 Perang Dingin di Ruang Rapat

    "Anin, baca lagi pesannya."Suara Reno menembus keheningan yang mencekat. Tatapan matanya yang tadi tajam mendadak meredup, menyisakan kecemasan yang teramat sangat saat melihat tangan Anindya bergetar hebat memegang ponselnya.Anindya mendongak. Layar ponsel yang menampilkan pesan dari Aris seolah menyengat jemarinya. "Kak Aris bilang... kematian Ayah ada hubungannya sama keluarga Dirgantara, Reno."Reno menghembuskan napas panjang, melangkah mendekat lalu menggenggam kedua bahu Anindya. "Kamu percaya sama aku atau sama orang yang baru muncul bawa bunga mawar tadi?""Bukan masalah percaya atau nggak," potong Anindya pelan, ada keraguan yang mulai merayap di dadanya. "Tapi Ayah mati karena serangan jantung waktu diancam Bagas. Dan Bagas itu... asisten kepercayaan keluarga kamu selama bertahun-tahun, Reno."Sebelum Reno sempat membela diri, pintu ruang kerja kembali diketuk dua kali. Sekretaris divisi umum mengintip dengan wajah tegang."Maaf mengganggu, Pak Reno, Nona Anindya. Rapat d

  • Dikejar Mantan Boss!   Bab 22 Rekan Kerja Baru yang Tampan

    Reno masih berdiri kaku di depan pintu ruang kerjanya yang tertutup rapat. Rahangnya mengeras, matanya menatap tajam ke arah pintu kayu mahoni itu seolah-olah Aris—si pria berjas krem—masih berdiri di sana.Cemburu? Reno tak akan pernah mengakuinya secara terang-terangan. Namun, fakta bahwa ada pria lain yang secara terang-terangan memberikan mawar putih, merangkul pundak Anindya, dan memegang kartu as berupa surat wasiat perjodohan benar-benar membakar isi dadanya."Reno... kamu nggak apa-apa?" Anindya memecah keheningan. Langkah kakinya pelan mendekati Reno yang napasnya masih menderu halus. "Soal kata-kata Kak Aris tadi, kamu nggak usah dipikirin banget. Nanti malam aku—""Aku ikut."Anindya mengedipkan matanya polos. "Hah? Ikut ke mana?""Nanti malam kamu mau ketemu dia buat bahas surat wasiat itu, kan?" Reno membalikkan badan, menatap Anindya dengan sorot mata intens tanpa kompromi. "Aku yang menyetir. Aku yang nemenin kamu. Dan nggak ada acara obrolan empat mata di tempat remang

  • Dikejar Mantan Boss!   Bab 21 Kecemburuan Sang CEO

    "Bagas...?" bisik Anindya tak percaya. Matanya melebar menatap layar laptop yang masih memutarkan sisa suara static rekaman. "Orang yang selama ini selalu berdiri di samping kamu... yang kemarin nolongin kita di Jawa Timur?"Reno tidak menjawab. Rahangnya mengeras sampai otot-otot di lehernya menegang. Pria itu menyambar ponsel di saku jasnya, jemarinya bergerak cepat menekan tombol panggilan cepat."Bagas, ke ruangan Anindya sekarang. Ada berkas RUPS yang harus kamu tanda tangani," kata Reno dengan suara yang sangat tenang—terlalu tenang sampai terasa mengerikan."Baik, Pak Reno. Saya segera ke sana," sahut suara di ujung telepon dengan nada sopan seperti biasa.Reno mematikan sambungan, lalu menatap Anindya yang masih gemetar di kursinya. Reno bergerak cepat, mencabut flashdisk dari laptop, lalu menyembunyikannya ke dalam saku celana. Foto tua almarhum ayah Anindya diselipkan kembali ke dalam saku jasnya."Anin, dengerin saya," bisik Reno seraya berlutut di samping kursi Anindya. Ta

  • Dikejar Mantan Boss!   Bab 20 Hadiah Misterius di Meja Kerja

    Pukul 07.15 WIB. Gedung Graha Nusantara, Jakarta Pusat.Suasana di luar gedung pencakar langit itu seperti medan perang. Puluhan preman sewaan berjas hitam milik Tuan Wijaya memblokir gerbang utama, sementara puluhan wartawan berjejal di balik pagar barikade."Laporan langsung dari lokasi RUPS! Pihak Tuan Wijaya baru saja menyatakan bahwa rapat pemungutan suara Direktur Utama akan dimulai tepat pukul delapan pagi tanpa kehadiran Reno Dirgantara yang diduga kabur bersama buronan—"WUSH-WUSH-WUSH!Suara kibasan baling-baling helikopter memotong laporan reporter itu. Sebuah helikopter komersial berwarna hitam legam bertuliskan logo Dirgantara Group menukik turun dari langit pagi Jakarta, mendarat mulus tepat di helipad atap gedung!Para pengawal Tuan Wijaya di atap kaget setengah mati. Belum sempat mereka bereaksi, pintu helikopter terbuka. Tiga belas pengawal pribadi berseragam taktis turun duluan, membanting barikade atap dan membuka jalan.Reno keluar lebih dulu dengan jas abu-abu gel

  • Dikejar Mantan Boss!   Bab 19 Menghindari Sang Ex-Boss

    "Jangan ngawur, Reno! Kamu mau dikeroyok puluhan polisi?!" seru Anindya panik. Tangannya makin erat meremas kemeja hitam Reno.Reno membalikkan badan, lalu menangkup kedua pipi Anindya dengan hangat. "Dengar saya. Mereka ke sini bawa surat perintah atas nama kamu, bukan saya. Selama mereka nggak punya izin geledah resmi yang ditandatangani hakim malam ini, mereka nggak bisa asal masuk. Saya cuma perlu ulur waktu sepuluh menit.""Tapi—""Lari, Anin. Sekarang!" potong Reno tegas.Anindya menyambar tas dokumennya dari kursi, lalu berlari kencang menaiki tangga melingkar menuju lantai dua. Jantungnya berdegup kencang, setiap langkah terasa begitu berat karena rasa takut yang membakar dada.BRAMMM!Di bawah, pintu utama vila dibuka lebar oleh Reno. Suara gemuruh hujan dan raungan sirene langsung menerobos masuk ke dalam vila.Dari balik celak celak pembatas tangga lantai dua, Anindya mengintip dengan napas terengah-engah.Dion berdiri di paling depan bersama Pengacara Wijaya dan lima petug

  • Dikejar Mantan Boss!   Bab 18 Pengakuan Singkat

    "Surat perintah penangkapan...?" cicit Anindya. Suaranya bergetar hebat. Sendok di tangannya terlepas, jatuh terbentur piring porselen dengan bunyi nyaring.Dunia seolah berhenti berputar. Baru beberapa menit lalu Reno memintanya menikah, dan kini ia menjadi buronan atas tuduhan kejahatan berat yang tidak pernah ia lakukan."Pak Bagas, ini nggak salah?!" desak Anindya panik, matanya berkaca-kaca menatap ponsel di meja. "Saya bahkan nggak pernah pegang dokumen asli milik almarhum Ayah Pak Reno!""Skenario Tuan Wijaya sangat rapi, Nona Anindya!" seru Bagas dari balik telepon. "Dia memanfaatkan pengacara lama keluarga untuk bikin draf warisan palsu, lalu memotong video rekaman CCTV kantor seolah Nona menyusup ke ruang arsip! Media sudah menggoreng beritanya, dan polisi dalam perjalanan ke Surabaya setelah melacak sinyal terakhir!"Napas Anindya memburu, kepalanya mendadak pusing membayangkan dirinya diborgol di depan media seluruh Indonesia."Bagas," potong Reno dingin, memutus histeria

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status