LOGINPonsel di genggaman Anindya bergetar hebat. Pesan ancaman dari nomor tak dikenal itu masih terpampang di layar, bertepatan dengan ketukan pintu kosnya yang kian mendesak.
"Nin? Gue tahu lo di dalam. Buka pintunya sebentar, ini penting," suara Dion di balik pintu terdengar begitu menuntut. Tangan Anindya meremas ponselnya hingga buku-buku jarinya memutih. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Di layar laptop, wajah Dion pada video dua tahun lalu masih membeku—bukti tak terbantahkan bahwa pria ramah yang kerap meminjamkannya alat tulis di kantor ini adalah sosok bermuka dua yang berbahaya. Kenapa harus dia lagi? Dari sekian banyak orang di kantor, kenapa Dion yang jadi dalangnya?! Mengabaikan pesan itu, Anindya langsung menggeser layar ponsel, mencari kontak BOS IBLIS, lalu menekan tombol panggilan. Satu detik. Dua detik. "Ada apa, Anindya?" suara berat Reno menyapa dari seberang telepon. "P-Pak Reno... Dion ada di depan kamar kos saya!" bisik Anindya panik. Ia berjongkok di balik kasur, berusaha meminimalkan suara. "Dia ngetok pintu dan ngirim pesan suruh buka!" Hening sejenak di ujung telepon, sebelum suara gesekan jas dan langkah kaki terburu-buru terdengar. "Jangan buka pintunya. Tetap di dalam dan kunci ganda," perintah Reno tegas, suaranya tak lagi dingin, melainkan sarat akan kecemasan. "Saya sudah di parkiran kosan kamu." Mata Anindya membelalak. "Hah?! Bapak di mana?!" "Parkiran bawah. Jangan matikan teleponnya. Saya naik sekarang." Belum sempat Anindya membalas, gedoran di pintunya semakin keras. "Nin! Gue tahu lo udah nonton rekaman dari Reno, kan?!" teriak Dion dari luar, nada bicaranya berubah drastis dari suara ramah yang biasa Anindya dengar. "Jangan mau dibodohi sama dia! Reno cuma manfaatin kamu buat jatuhin posisi ayah Clara!" Anindya menahan napas, mundur semakin dekat ke arah lemari pakaian. Tiba-tiba, suara derap langkah sepatu yang mantap bergema dari arah lorong tangga. "Sedang apa kamu di depan kamar calon istri saya, Pak Dion?" Suara bariton Reno yang mengintimidasi langsung memotong kegaduhan di depan pintu. Anindya bisa mendengar helaan napas lega keluar dari tenggorokannya sendiri saat mendengar kehadiran bosnya itu. "P-Pak Reno...?" suara Dion terdengar gagap. "Bapak kenapa bisa ada di sini?" "Harusnya saya yang tanya," balas Reno dingin. "Ini jam delapan malam. Apa ada urusan pekerjaan yang membuat Manajer Keuangan mendatangi kos stafnya sambil menggedor pintu seperti preman?" "Saya... saya cuma mau meluruskan masalah salah paham, Pak," sangkal Dion, mencoba membela diri. "Salah paham?" Reno terkekeh sinis. "Salah paham soal obat penenang yang kamu campur ke minuman Anindya dua tahun lalu atas perintah Tuan Hendra—ayahnya Clara?" Suasana di lorong luar mendadak hening mencengkam. Dari balik pintu, Anindya bisa merasakan ketegangan yang membakar udara. "B-Bapak bicara apa?! Saya nggak paham!" Dion mengelak tajam. "Saya punya bukti transaksi rekening kamu dari orang-orang suruhan Tuan Hendra, Dion," potong Reno datar. "Dan kalau kamu tidak pergi dari depan pintu ini dalam hitungan tiga... polisi di bawah yang akan menyeret kamu." Detik berikutnya, terdengar langkah kaki terburu-buru dari Dion yang menjauh dan berlari turun melewati tangga. Pintu kos Anindya diketuk pelan dua kali. "Nin, ini saya. Buka pintunya." Anindya buru-buru berdiri, membuka selot kunci, dan memutar gagang pintu. Di ambang pintu, Reno berdiri menjulang dengan kemeja putih yang lengan bajunya sudah tergulung hingga siku dan jas yang tersampir di lengannya. Pria itu tampak sedikit napas terengah-engah, menandakan ia benar-benar berlari menaiki tangga kosan. "Bapak... beneran datang?" bisik Anindya menatap Reno tak percaya. Reno tidak menjawab dengan kata-kata. Pria itu menatap Anindya dari atas ke bawah untuk memastikan tidak ada cedera, lalu melangkah masuk tanpa permisi dan menyambar wrist Anindya lembut. "Kemas barang-barang pentingmu. Kamu tidak bisa tinggal di sini lagi malam ini." "Eh?! Kenapa gitu, Pak?!" protes Anindya spontan. "Ini kamar kos saya!" Reno menatapnya lekat-lekat, matanya menatap Anindya tajam. "Tempat ini sudah tidak aman, Anindya. Dion tahu tempat tinggalmu, dan Clara tidak akan tinggal diam setelah kejadian di kantor tadi." "Tapi saya mau ke mana?!" "Apartemen saya," jawab Reno singkat dan mutlak. Anindya hampir tersedak ludahnya sendiri. "Nggak mau! Bapak gila ya?! Masa saya tidur di apartemen cowok?!" Reno memutar bola matanya, helaan napas lelah terdengar dari mulutnya. "Apartemen saya punya tiga kamar. Dan saya jamin, saya tidak akan menyentuhmu tanpa izin. Sekarang kemas barangmu, atau saya yang kemaskan?" Melihat keseriusan di mata Reno, Anindya akhirnya melunak. Dengan cemberut, ia mengambil tas ransel, memasukkan laptop, dokumen penting, dan beberapa helai baju ganti. Mobil SUV hitam milik Reno membelah jalanan ibu kota yang mulai lengang. Di dalam mobil, suasana sangat canggung. Anindya memeluk tasnya rapat-rapat di kursi penumpang depan, sementara Reno fokus menyetir. "Pak..." panggil Anindya pelan, memecah keheningan. "Hm?" "Kenapa Bapak sebegitunya penjarain Dion dan ngelindungin saya?" Anindya menoleh, menatap profil samping wajah Reno yang tegas. "Kalau benar kata Dion... Bapak dijodohin sama saya cuma buat ngebalas dendam ke ayahnya Clara?" Reno menghentikan mobilnya saat lampu lalu lintas berganti merah. Pria itu menoleh menatap Anindya tepat di manik matanya. "Anindya, kalau saya cuma mau membalas dendam ke Tuan Hendra, saya bisa memakai seribu cara lain tanpa harus mengikat diri saya dengan perjanjian perjodohan tiga tahun lalu." Jantung Anindya mendadak marathon. "T-terus... kenapa harus saya?" Reno mengikis jarak sedikit, tangannya terangkat dan jarinya mengelus pipi Anindya yang terasa hangat dengan sangat lembut. "Karena sejak tiga tahun lalu... cuma kamu perempuan yang bikin saya tidak bisa tidur nyenyak kalau kamu tidak berada di dalam jangkauan saya." Pipi Anindya langsung merona merah padam. Ia refleks menarik kepalanya mundur, memalingkan wajah ke arah jendela luar untuk menyembunyikan senyum dan debaran dadanya yang kian tak terkendali. Dasar bos iblis! Bisa-bisanya ngomong gitu pakai muka lempeng! Dua puluh menit kemudian, mereka sampai di sebuah penthouses mewah di kawasan Jakarta Selatan. Reno membukakan pintu apartemennya dan menyalakan lampu. Ruangan itu sangat luas, didominasi warna hitam dan abu-abu maskulin. "Kamar kamu di sebelah kiri," ujar Reno sembari menunjuk sebuah pintu kayu. "Peralatan mandi sudah ada di dalam." "Makasih, Pak," gumam Anindya canggung. Baru saja Anindya hendak melangkah menuju kamarnya, bel pintu apartemen Reno mendadak berbunyi nyaring. DING DONG! Reno berkerut dahi. Ia melirik jam tangan yang sudah menunjukkan pukul sembilan lewat tiga puluh menit malam. Siapa yang berkunjung ke apartemen pribadinya di jam segini? Reno berjalan menuju pintu utama dan membuka gagang pintu. Anindya mengintip dari balik lorong. Di depan pintu berdiri seorang pria paruh baya berambut uban berpenampilan sangat berwibawa memakai setelan jas mahal, didampingi dua pengawal. Wajah pria itu sangat mirip dengan sosok yang sering muncul di majalah bisnis papan atas. Tuan Hendra—ayah dari Clara sekaligus pemegang saham terbesar perusahaan! "Reno," sapa pria tua itu dengan suara berat berwibawa. "Saya dengar kamu membawa staf murahan itu ke apartemenmu malam ini?" Anindya menahan napasnya. Tuan Hendra melangkah masuk tanpa diundang, matanya menyapu sekeliling hingga tatapannya berhenti tepat pada posisi Anindya yang berdiri mematung di ujung lorong. Pria tua itu tersenyum dingin. "Reno, kamu pikir kamu bisa menghancurkan rencana pernikahan putriku hanya dengan berlindung di balik gadis dari keluarga bangkrut ini?" Tuan Hendra terkekeh meremehkan, lalu merogoh sebuah amplop cokelat tebal dari dalam jasnya dan melemparkannya ke atas meja kaca. "Buka amplop itu, Reno," perintah Tuan Hendra penuh kemenangan. "Dan lihat sendiri rahasia besar yang disembunyikan oleh ibu dari calon istrimu itu selama dua puluh tahun terakhir!"Atmosfer di dalam penthouse mewah milik Reno mendadak membeku. Amplop cokelat tebal yang dilemparkan Tuan Hendra mendarat tepat di atas meja kaca, memancarkan aura ancaman yang begitu pekat.Reno tidak langsung menyentuh amplop itu. Pria itu memiringkan kepalanya sedikit, menatap Tuan Hendra dengan pandangan dingin nan tajam."Rahasia apa yang Anda maksud, Tuan Hendra?" tanya Reno datar.Tuan Hendra tertawa meremehkan, matanya sekilas menyapu Anindya yang berdiri kaku di lorong."Buka saja, Reno. Jangan menyalahkan saya kalau gadis yang kamu bela mati-matian ini ternyata cuma anak dari wanita penipu yang pernah merusak keluarga orang lain!"DEK!Dada Anindya bergemuruh hebat."Bapak jangan asal bicara ya! Ibu saya orang baik-baik!" pekik Anindya tidak terima, melangkah keluar dari tempat persembunyiannya."Anindya, diam di tempatmu," potong Reno tegas.Namun bukannya membuka amplop di meja, Reno justru melangkah santai, mengambil amplop itu, lalu—SREK! SREK!—merobeknya menjadi dua bag
Ponsel di genggaman Anindya bergetar hebat. Pesan ancaman dari nomor tak dikenal itu masih terpampang di layar, bertepatan dengan ketukan pintu kosnya yang kian mendesak."Nin? Gue tahu lo di dalam. Buka pintunya sebentar, ini penting," suara Dion di balik pintu terdengar begitu menuntut.Tangan Anindya meremas ponselnya hingga buku-buku jarinya memutih. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Di layar laptop, wajah Dion pada video dua tahun lalu masih membeku—bukti tak terbantahkan bahwa pria ramah yang kerap meminjamkannya alat tulis di kantor ini adalah sosok bermuka dua yang berbahaya.Kenapa harus dia lagi? Dari sekian banyak orang di kantor, kenapa Dion yang jadi dalangnya?!Mengabaikan pesan itu, Anindya langsung menggeser layar ponsel, mencari kontak BOS IBLIS, lalu menekan tombol panggilan.Satu detik. Dua detik."Ada apa, Anindya?" suara berat Reno menyapa dari seberang telepon."P-Pak Reno... Dion ada di depan kamar kos saya!" bisik Anindya panik. Ia berjongkok di balik
"Reno! Apa-apaan ini?!"Suara melengking Clara menggema keras di seluruh sudut ruangan CEO. Sepatu hak tingginya menepuk lantai dengan tajam saat ia melangkah masuk bersama dua orang pengawal pribadi di belakangnya. Matanya membakar penuh amarah, menatap lurus pada posisi Anindya yang masih terhimpit di tepi meja kerja Reno.Anindya yang panik setengah mati refleks mendorong dada Reno kuat-kuat. Kali ini Reno membiarkannya, mundur satu langkah sembari merapikan jasnya dengan santai—seolah kedatangan Clara tidak mengganggunya sama sekali."Clara? Sejak kapan kamu punya akses masuk tanpa mengetuk pintu?" tanya Reno datar, nada suaranya begitu dingin hingga sanggup membekukan udara."Kamu tanya kenapa aku langsung masuk?!" Clara menunjuk Anindya dengan jari berkuteks merah menyala. "Siapa perempuan murahan ini, Ren?! Kenapa kamu posisinya sedekat itu sama dia di dalam kantor?!"Anindya mendadak naik darah mendengarkan sebutan itu."Maaf ya, Mbak! Jaga mulutnya! Saya staf di sini, bukan p
"Gila! Pak Reno bener-bener enggak waras!"Anindya mendesis pelan seraya memegangi kepalanya yang mendadak berdenyut nyeri. Kalimat terakhir dari mantan atasannya itu masih terngiang-ngiang jelas di telinganya.Pertunangan?! Pria itu mikir nikah kayak beli kopi kenangan di minimarket?!"Anindya, kenapa kamu masih berdiri di situ?" tegur Reno datar. Pria itu sudah kembali duduk santai di balik meja kerjanya yang megah, menatap Anindya yang masih berdiri mematung seperti patung selamat datang. "Mau berdiri sampai jam kantor selesai?""Pak... ini gila," sahut Anindya dengan nada menahan emosi. "Surat ini pasti mainan Bapak, kan? Mana mungkin Ibu saya setuju sama hal konyol kayak gini tanpa ngomong apa-apa ke saya?!"Reno mengangkat sebelah alisnya, menyandarkan punggung ke kursi eksekutifnya dengan santai."Kenapa enggak kamu tanyakan langsung sama Ibumu?"Anindya menyipitkan mata. Tanpa berpikir panjang, ia merogoh tasnya, mengambil ponsel, lalu mengetik panggilan ke nomor ibunya. Ia se
"Merdeka! Merdeka dari penjajahan pria kaku berwajah datar!"Suara desahan lega Anindya menggema di sudut kubikel kerjanya. Perempuan itu menyandarkan punggungnya ke kursi, memutar-mutar bolpoin di jemarinya sembari mengamati langit-langit kantor yang mendadak terasa sepuluh kali lebih cerah hari ini."Nin, sstt! Suara kamu tuh pelanin dikit, nanti kalau ada yang denger gimana?" bisik Maya dari kubikel sebelah. Wajah sahabatnya itu panik setengah mati sambil menengok ke kanan-kiri.Anindya hanya terkekeh pelan. Ia memperbaiki posisi duduknya lalu meminum es kopi susu yang baru saja dibelinya."Denger siapa, Maya? Pak Reno kan udah resign dari kemarin. Hari ini beliau resmi angkat kaki dari perusahaan ini! Nggak akan ada lagi bos yang nempel pusing di dahi tiap liat draf laporan aku kurang rapi satu milimeter.""Iya sih, Pak Reno emang perfeksionisnya minta ampun," aku Maya sambil mengangguk setuju. "Tapi biar gitu, dia kan ganteng banget, Nin. Tajam, rapi, karismatik. Mana ada bos seg







