Início / Romansa / Dikejar Mantan Boss! / Bab 3 CEO Baru Perusahaan

Compartilhar

Bab 3 CEO Baru Perusahaan

Autor: Suci Awaliah
last update Data de publicação: 2026-08-14 20:08:24

"Reno! Apa-apaan ini?!"

Suara melengking Clara menggema keras di seluruh sudut ruangan CEO. Sepatu hak tingginya menepuk lantai dengan tajam saat ia melangkah masuk bersama dua orang pengawal pribadi di belakangnya. Matanya membakar penuh amarah, menatap lurus pada posisi Anindya yang masih terhimpit di tepi meja kerja Reno.

Anindya yang panik setengah mati refleks mendorong dada Reno kuat-kuat. Kali ini Reno membiarkannya, mundur satu langkah sembari merapikan jasnya dengan santai—seolah kedatangan Clara tidak mengganggunya sama sekali.

"Clara? Sejak kapan kamu punya akses masuk tanpa mengetuk pintu?" tanya Reno datar, nada suaranya begitu dingin hingga sanggup membekukan udara.

"Kamu tanya kenapa aku langsung masuk?!" Clara menunjuk Anindya dengan jari berkuteks merah menyala. "Siapa perempuan murahan ini, Ren?! Kenapa kamu posisinya sedekat itu sama dia di dalam kantor?!"

Anindya mendadak naik darah mendengarkan sebutan itu.

"Maaf ya, Mbak! Jaga mulutnya! Saya staf di sini, bukan perempuan murahan!"

"Diam kamu! Jangan berani-berani memotong ucapan saya!" bentak Clara tajam, matanya menatap Anindya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan merendahkan. "Cuma staf biasa tapi berani goda CEO baru? Enggak tahu malu!"

"Clara. Cukup," potong Reno tegas.

Pria itu melangkah, mengambil posisi berdiri persis di depan Anindya—secara otomatis menyembunyikan tubuh Anindya di balik punggung bidangnya.

Anindya terpaku. Punggung lebar itu terasa bagaikan tameng protektif yang tiba-tiba melindungi dirinya dari semprotan kemarahan Clara.

"Jangan pernah membentak asisten pribadi saya di ruangan saya sendiri," bisik Reno dingin. Tatapannya menusuk tajam ke arah Clara. "Lagipula, untuk apa kamu ke mari? Ini area kantor, bukan ruang pribadi kamu."

Clara menghentakkan kakinya kesal, mencoba melangkah mendekati Reno.

"Papa yang nyuruh aku ke sini! Papa minta kamu batalkan pengambilalihan saham anak perusahaan ini! Dan yang paling penting... Papa mau kita segera umumkan tanggal pernikahan kita ke media!"

Anindya mengerjap di balik punggung Reno.

Pernikahan ke media?! Jadi kabar burung dua tahun lalu soal mereka beneran?!

Reno justru terkekeh sinis.

"Pernikahan? Clara, seingat saya, saya tidak pernah mengiyakan lamaran konyol dari ayahmu."

"Tapi kamu enggak punya pilihan, Ren!" pekik Clara. "Saham terbesar di perusahaan ini masih dipegang Papa! Kalau kamu menolak aku, Papa bisa tarik semua investor dan bikin posisi kamu sebagai CEO baru runtuh dalam semalam!"

Suasana ruangan mendadak makin tegang. Clara tersenyum penuh kemenangan, merasa berada di atas angin. Ia yakin ancaman itu sanggup membuat pria sehebat Reno bertekuk lutut.

Namun, Reno hanya mengulas senyum tipis yang terkesan meremehkan.

Pria itu berbalik sebentar, menatap Anindya yang tampak kebingungan, lalu tiba-tiba meraih pergelangan tangan Anindya dan menggenggamnya erat di depan mata Clara.

"R-Reno?! Apa-apaan kamu memegang tangan dia?!" teriak Clara histeris.

Anindya ikut kaget dan mencoba menarik tangannya.

"P-Pak Reno... lepasin, Pak!"

"Biarin aja," bisik Reno pelan pada Anindya, lalu kembali menatap Clara dengan wajah penuh dominasi.

"Beri tahu ayahmu, Clara," ujar Reno santai namun berwibawa. "Dia boleh tarik seluruh sahamnya kalau dia mau. Tapi untuk urusan pernikahan... saya sudah punya calon sendiri."

Clara tertawa sumbang, matanya membelalak tak percaya.

"Calon?! Siapa?! Jangan bilang perempuan udik ini calon kamu?!"

Reno menarik tangan Anindya makin mendekat ke sisinya.

"Betul. Anindya adalah calon istri saya. Dan pertunangan kami akan diresmikan minggu depan."

DEK!

"PAK RENO!" pekik Anindya menahan napas, matanya hampir melompat keluar.

Niatnya mau lepas dari drama, malah diseret ke dalam jurang perang bintang!

Clara mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga kuku-kukunya memutih. Wajah cantiknya memerah padam menahan malu dan murka.

"Kamu gila, Reno! Kamu lebih pilih perempuan kelas bawah ini daripada aku dan saham Papa?!"

"Pilihan saya bukan urusanmu. Sekarang, silakan keluar dari ruangan saya sebelum saya minta pengamanan membuangmu," ancam Reno tanpa ragu.

Dengan napas memburu dan tatapan membunuh yang tertuju lurus pada Anindya, Clara akhirnya berbalik.

"Kamu bakal nyesel, Reno! Dan kamu, perempuan sialan... lihat saja apa yang bakal aku lakuin ke kamu!"

BRAK!

Clara membanting pintu kaca CEO hingga bergetar hebat sebelum akhirnya melangkah pergi bersama para pengawalnya.

Suasana ruangan mendadak hening.

Anindya langsung menghempaskan genggaman tangan Reno dengan sekuat tenaga.

"Bapak bener-bener enggak waras! Kenapa Bapak bawa-bawa saya ke dalam masalah Bapak sama cewek itu?!"

Reno berbalik, merapikan lengan kemejanya sembari menatap Anindya yang napasnya masih terengah-engah.

"Saya tidak membawa kamu ke dalam masalah. Saya cuma menegaskan fakta."

"Fakta dari hongkong?!" amuk Anindya gemas. "Bapak cuma manfaatin saya buat tameng dari cewek itu, kan?! Bener kata pesan misterius tadi! Bapak cuma mau manfaatin saya!"

Senyum di wajah Reno mendadak menguap. Tatapannya berubah menjadi sangat serius dan pekat.

Pria itu melangkah mendekati Anindya hingga perempuan itu terpaksa mundur beberapa langkah.

"Kamu mikir saya cuma manfaatin kamu?" tanya Reno rendah.

"Iya! Jelas-jelas iya!" cabar Anindya, mendongak menatap mata tajam mantan atasannya itu. "Bapak butuh alasan buat nolak Mbak Clara dan ayahnya, makanya Bapak bawa-bawa perjanjian perjodohan konyol itu!"

Reno menatap Anindya dalam-dalam. Bukannya marah, pria itu justru menghela napas panjang.

Ia merogoh saku jasnya, mengambil sebuah flashdisk hitam kecil, lalu menaruhnya di genggaman tangan Anindya.

"Apa ini?" tanya Anindya dahi berkerut.

"Buka isi flashdisk itu di laptopmu," ujar Reno pelan, suaranya terdengar agak lelah. "Itu rekaman CCTV dari apartemen saya... dua tahun lalu. Malam sebelum kamu kabur."

Jantung Anindya mendadak berdesir aneh.

"Malam sebelum saya kabur? Kenapa saya harus nonton itu?"

Reno menatapnya lekat-lekat, menyisipkan sebelah tangannya di saku celana.

"Supaya kamu ingat, Nin... malam itu bukan saya yang jebak kamu. Tapi ada orang lain yang sengaja naruh obat di minumanmu, dan nyaris mencelakaimu kalau saja saya enggak datang tepat waktu."

Mata Anindya membelalak sempurna.

"A-apa...?"

Reno mendekatkan wajahnya, berbisik tepat di telinga Anindya hingga hembusan napas hangatnya membuat tubuh Anindya merinding seketika.

"Dan orang yang naruh obat itu... adalah orang yang baru saja mengirimi kamu pesan ancaman tadi sore."

Anindya tertegun di tempatnya. Kalimat Reno barusan seperti petir yang menyambar tepat di atas kepalanya.

"M-maksud Bapak... malam itu ada yang mau racunin saya?!" bisik Anindya dengan mata membelalak lebar. Tangannya yang menggenggam flashdisk hitam itu mendadak gemetaran.

Reno memundurkan posisinya sedikit, memberi Anindya ruang untuk bernapas, meski tatapannya masih terkunci rapat pada manik mata perempuan itu.

"Kamu pingsan di lorong hotel dua tahun lalu setelah minum dari gelas yang disediakan di acara gala dinner perusahaan," jelas Reno dengan suara tenang namun tegas. "Dua pria suruhan hampir saja membawa kamu ke kamar lain kalau saya tidak lewat dan menarik kamu ke kamar saya."

"Tapi... tapi pas saya bangun besok paginya, baju saya udah diganti dan Bapak..." Anindya menggantung kalimatnya, wajahnya merona merah mengingat kejadian pagi itu—di mana ia bangun di atas tempat tidur mewah dengan pakaian santai, sementara Reno duduk di sofa dengan kemeja yang sudah berantakan.

"Saya yang gantiin baju kamu pakai baju santai sekretaris saya yang kebetulan ada di mobil," potong Reno datar, lalu menaikkan sebelah alisnya. "Atau kamu berharap saya yang macam-macam sama kamu saat kamu pingsan?"

"Nggak gitu!" serkas Anindya cepat-cepat, menyembunyikan rasa malu yang membakar pipinya. "Lagian siapa suruh Bapak nggak jelasin apa-apa pas pagi itu?!"

"Gimana saya mau jelasin kalau kamu bangun-bangun langsung lempar bantal ke muka saya, jerit-jerit manggil saya penjahat, terus kabur lewat pintu darurat?" balas Reno santai.

Anindya bungkam seribu bahasa. Memori dua tahun lalu berputar kembali di kepalanya. Ya... ia memang panik setengah mati waktu itu. Begitu sadar berada di kamar hotel sang bos, otaknya langsung menyimpulkan skenario terburuk tanpa mau mendengar penjelasan Reno sama sekali.

"Sekarang," Reno melirik jam tangan mewahnya, "jam kerja kamu sudah selesai. Bawa flashdisk itu, pulang ke kosanmu, dan tonton sampai habis."

Anindya menelan ludah.

"Bapak nggak bohong, kan?"

Reno melangkah kembali ke balik mejanya, mengambil ponsel lalu memasukkannya ke saku jas.

"Saya tidak pernah punya waktu untuk membohongi kamu, Anindya. Oh, satu lagi..."

Reno menghentikan langkahnya tepat di sebelah Anindya yang masih mematung. Pria itu merengkuh bahu Anindya sebentar—sebuah sentuhan singkat yang sukses membuat jantung Anindya melompat—lalu berbisik lembut.

"Jangan matikan ponselmu malam ini. Kalau ada apa-apa, langsung panggil saya. Mengerti?"

Anindya hanya bisa mengangguk pelan seperti robot yang kehilangan baterai.

Dengan langkah gontai dan pikiran yang berkecamuk, Anindya keluar dari ruang CEO. Maya yang rupanya masih bertahan di kubikelnya langsung melompat berdiri dan menghadang jalan Anindya.

"Nin! Omaigat! Demi apa tadi Mbak Clara ngamuk-ngamuk?!" bisik Maya dengan mata berbinar penasaran. "Gue denger dari pintu luar, Pak Reno bilang lo calon istrinya?! Beneran, Nin?!"

Anindya menepuk jidatnya pasrah.

"May... sumpah, kepala gue mau pecah. Jangan nanya-nanya dulu, ya?"

"Aduh, Anindya sayang! Gimana gue nggak nanya?! Ini berita besar se-kantor! Mbak Clara itu anak pemilik saham terbesar, dan dia baru aja ditolak mentah-mentah demi staf biasa kayak lo!" seru Maya gemas. "Lo pelet Pak Reno pakai apa, sih?!"

"Gue pakai pelet air doa ibu," jawab Anindya asal sembari membereskan barang-barangnya ke dalam tas. "Udah ah, May, gue mau balik. Gue lemes banget."

"Yaaa... Yah, padahal gue mau ngajak makan boci di depan," desah Maya kecewa. "Yaudah deh, lo hati-hati ya. Muka lo beneran kayak kain lap belum dicuci, pucat banget!"

"Thanks atas pujian estetiknya," cetus Anindya datar, lalu buru-buru menyambar tas dan melangkah menuju lift.

Sesampainya di kamar kos yang berukuran tiga kali empat meter itu, Anindya langsung mengunci pintu rapat-rapat. Ia melepas sepatu hak tingginya, melemparkan tas ke atas kasur, lalu menyalakan laptopnya dengan tangan dingin.

Rasa penasaran sudah membakar habis rasa takutnya.

Ia memasukkan flashdisk hitam dari Reno ke lubang USB laptop. Sebuah folder tanpa nama langsung muncul di layar. Di dalamnya hanya ada satu berkas video berdurasi lima menit.

Dengan napas tertahan, Anindya mengklik video tersebut.

Layar laptop menampilkan rekaman CCTV beresolusi tinggi di area lounge hotel dua tahun lalu. Di sana terlihat Anindya versi dua tahun lalu yang mengenakan gaun pesta, tampak agak oleng sembari memegangi kepalanya yang pusing.

Tak lama kemudian, seorang pria berjas menghampiri Anindya dan menyerahkan segelas minuman. Anindya di dalam video itu tanpa curiga mengambil dan meminumnya.

Anindya mencondongkan tubuhnya ke layar laptop, meremas jemarinya sendiri.

"Siapa cowok itu...?"

Dalam rekaman, wajah pria itu tadinya membelakangi kamera CCTV. Namun, saat Anindya mulai lunglai dan pingsan, pria itu berbalik sebentar untuk mengode dua orang pria berbadan tegap di sudut ruangan.

Pada detik itulah, wajah sang pelaku terlihat sangat jelas di layar.

Mata Anindya membelalak sempurna. Pekikan tertahan keluar dari tenggorokannya.

"N-nggak mungkin..." bisik Anindya tak percaya. Tangannya membeku di atas paha. "Dia... kan dia..."

Pria di dalam rekaman video dua tahun lalu itu—pria yang memberi obat racun pada minumannya—adalah Dion, manajer divisi keuangan di kantornya saat ini, yang tadi pagi baru saja menyapa dan meminjamkannya stapler dengan ramah!

Belum selesai rasa syok menguasai dirinya, tiba-tiba terdengar ketukan pelan di pintu kamar kosnya.

KNOCK... KNOCK... KNOCK...

Anindya tersentak hebat dari kursinya. Ia melirik jam di dinding.

Sudah jam delapan malam.

Tidak biasanya ada tamu bertandang ke kosannya jam segini, apalagi ibu kosnya selalu mengunci pagar utama jam tujuh malam.

Jantung Anindya berdegup kencang secara tidak wajar.

Ia berjalan sepelan mungkin menuju pintu, tidak berani bersuara.

"Nin? Anindya? Kamu di dalam, kan?" suara dari luar pintu terdengar pelan, namun terasa sangat familiar.

Suara Dion!

Anindya membeku di balik pintu. Napasnya tertahan sepenuhnya.

Ponsel di saku celananya mendadak bergetar keras. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor tak dikenal yang sama:

[Nomor Tak Dikenal]:

"Buka pintunya, Nin. Kita perlu bicara soal isi flashdisk dari Reno sebelum kamu menyesal seumur hidup."

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Dikejar Mantan Boss!   Bab 23 Perang Dingin di Ruang Rapat

    "Anin, baca lagi pesannya."Suara Reno menembus keheningan yang mencekat. Tatapan matanya yang tadi tajam mendadak meredup, menyisakan kecemasan yang teramat sangat saat melihat tangan Anindya bergetar hebat memegang ponselnya.Anindya mendongak. Layar ponsel yang menampilkan pesan dari Aris seolah menyengat jemarinya. "Kak Aris bilang... kematian Ayah ada hubungannya sama keluarga Dirgantara, Reno."Reno menghembuskan napas panjang, melangkah mendekat lalu menggenggam kedua bahu Anindya. "Kamu percaya sama aku atau sama orang yang baru muncul bawa bunga mawar tadi?""Bukan masalah percaya atau nggak," potong Anindya pelan, ada keraguan yang mulai merayap di dadanya. "Tapi Ayah mati karena serangan jantung waktu diancam Bagas. Dan Bagas itu... asisten kepercayaan keluarga kamu selama bertahun-tahun, Reno."Sebelum Reno sempat membela diri, pintu ruang kerja kembali diketuk dua kali. Sekretaris divisi umum mengintip dengan wajah tegang."Maaf mengganggu, Pak Reno, Nona Anindya. Rapat d

  • Dikejar Mantan Boss!   Bab 22 Rekan Kerja Baru yang Tampan

    Reno masih berdiri kaku di depan pintu ruang kerjanya yang tertutup rapat. Rahangnya mengeras, matanya menatap tajam ke arah pintu kayu mahoni itu seolah-olah Aris—si pria berjas krem—masih berdiri di sana.Cemburu? Reno tak akan pernah mengakuinya secara terang-terangan. Namun, fakta bahwa ada pria lain yang secara terang-terangan memberikan mawar putih, merangkul pundak Anindya, dan memegang kartu as berupa surat wasiat perjodohan benar-benar membakar isi dadanya."Reno... kamu nggak apa-apa?" Anindya memecah keheningan. Langkah kakinya pelan mendekati Reno yang napasnya masih menderu halus. "Soal kata-kata Kak Aris tadi, kamu nggak usah dipikirin banget. Nanti malam aku—""Aku ikut."Anindya mengedipkan matanya polos. "Hah? Ikut ke mana?""Nanti malam kamu mau ketemu dia buat bahas surat wasiat itu, kan?" Reno membalikkan badan, menatap Anindya dengan sorot mata intens tanpa kompromi. "Aku yang menyetir. Aku yang nemenin kamu. Dan nggak ada acara obrolan empat mata di tempat remang

  • Dikejar Mantan Boss!   Bab 21 Kecemburuan Sang CEO

    "Bagas...?" bisik Anindya tak percaya. Matanya melebar menatap layar laptop yang masih memutarkan sisa suara static rekaman. "Orang yang selama ini selalu berdiri di samping kamu... yang kemarin nolongin kita di Jawa Timur?"Reno tidak menjawab. Rahangnya mengeras sampai otot-otot di lehernya menegang. Pria itu menyambar ponsel di saku jasnya, jemarinya bergerak cepat menekan tombol panggilan cepat."Bagas, ke ruangan Anindya sekarang. Ada berkas RUPS yang harus kamu tanda tangani," kata Reno dengan suara yang sangat tenang—terlalu tenang sampai terasa mengerikan."Baik, Pak Reno. Saya segera ke sana," sahut suara di ujung telepon dengan nada sopan seperti biasa.Reno mematikan sambungan, lalu menatap Anindya yang masih gemetar di kursinya. Reno bergerak cepat, mencabut flashdisk dari laptop, lalu menyembunyikannya ke dalam saku celana. Foto tua almarhum ayah Anindya diselipkan kembali ke dalam saku jasnya."Anin, dengerin saya," bisik Reno seraya berlutut di samping kursi Anindya. Ta

  • Dikejar Mantan Boss!   Bab 20 Hadiah Misterius di Meja Kerja

    Pukul 07.15 WIB. Gedung Graha Nusantara, Jakarta Pusat.Suasana di luar gedung pencakar langit itu seperti medan perang. Puluhan preman sewaan berjas hitam milik Tuan Wijaya memblokir gerbang utama, sementara puluhan wartawan berjejal di balik pagar barikade."Laporan langsung dari lokasi RUPS! Pihak Tuan Wijaya baru saja menyatakan bahwa rapat pemungutan suara Direktur Utama akan dimulai tepat pukul delapan pagi tanpa kehadiran Reno Dirgantara yang diduga kabur bersama buronan—"WUSH-WUSH-WUSH!Suara kibasan baling-baling helikopter memotong laporan reporter itu. Sebuah helikopter komersial berwarna hitam legam bertuliskan logo Dirgantara Group menukik turun dari langit pagi Jakarta, mendarat mulus tepat di helipad atap gedung!Para pengawal Tuan Wijaya di atap kaget setengah mati. Belum sempat mereka bereaksi, pintu helikopter terbuka. Tiga belas pengawal pribadi berseragam taktis turun duluan, membanting barikade atap dan membuka jalan.Reno keluar lebih dulu dengan jas abu-abu gel

  • Dikejar Mantan Boss!   Bab 19 Menghindari Sang Ex-Boss

    "Jangan ngawur, Reno! Kamu mau dikeroyok puluhan polisi?!" seru Anindya panik. Tangannya makin erat meremas kemeja hitam Reno.Reno membalikkan badan, lalu menangkup kedua pipi Anindya dengan hangat. "Dengar saya. Mereka ke sini bawa surat perintah atas nama kamu, bukan saya. Selama mereka nggak punya izin geledah resmi yang ditandatangani hakim malam ini, mereka nggak bisa asal masuk. Saya cuma perlu ulur waktu sepuluh menit.""Tapi—""Lari, Anin. Sekarang!" potong Reno tegas.Anindya menyambar tas dokumennya dari kursi, lalu berlari kencang menaiki tangga melingkar menuju lantai dua. Jantungnya berdegup kencang, setiap langkah terasa begitu berat karena rasa takut yang membakar dada.BRAMMM!Di bawah, pintu utama vila dibuka lebar oleh Reno. Suara gemuruh hujan dan raungan sirene langsung menerobos masuk ke dalam vila.Dari balik celak celak pembatas tangga lantai dua, Anindya mengintip dengan napas terengah-engah.Dion berdiri di paling depan bersama Pengacara Wijaya dan lima petug

  • Dikejar Mantan Boss!   Bab 18 Pengakuan Singkat

    "Surat perintah penangkapan...?" cicit Anindya. Suaranya bergetar hebat. Sendok di tangannya terlepas, jatuh terbentur piring porselen dengan bunyi nyaring.Dunia seolah berhenti berputar. Baru beberapa menit lalu Reno memintanya menikah, dan kini ia menjadi buronan atas tuduhan kejahatan berat yang tidak pernah ia lakukan."Pak Bagas, ini nggak salah?!" desak Anindya panik, matanya berkaca-kaca menatap ponsel di meja. "Saya bahkan nggak pernah pegang dokumen asli milik almarhum Ayah Pak Reno!""Skenario Tuan Wijaya sangat rapi, Nona Anindya!" seru Bagas dari balik telepon. "Dia memanfaatkan pengacara lama keluarga untuk bikin draf warisan palsu, lalu memotong video rekaman CCTV kantor seolah Nona menyusup ke ruang arsip! Media sudah menggoreng beritanya, dan polisi dalam perjalanan ke Surabaya setelah melacak sinyal terakhir!"Napas Anindya memburu, kepalanya mendadak pusing membayangkan dirinya diborgol di depan media seluruh Indonesia."Bagas," potong Reno dingin, memutus histeria

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status