LOGIN"Reno! Apa-apaan ini?!"
Suara melengking Clara menggema keras di seluruh sudut ruangan CEO. Sepatu hak tingginya menepuk lantai dengan tajam saat ia melangkah masuk bersama dua orang pengawal pribadi di belakangnya. Matanya membakar penuh amarah, menatap lurus pada posisi Anindya yang masih terhimpit di tepi meja kerja Reno. Anindya yang panik setengah mati refleks mendorong dada Reno kuat-kuat. Kali ini Reno membiarkannya, mundur satu langkah sembari merapikan jasnya dengan santai—seolah kedatangan Clara tidak mengganggunya sama sekali. "Clara? Sejak kapan kamu punya akses masuk tanpa mengetuk pintu?" tanya Reno datar, nada suaranya begitu dingin hingga sanggup membekukan udara. "Kamu tanya kenapa aku langsung masuk?!" Clara menunjuk Anindya dengan jari berkuteks merah menyala. "Siapa perempuan murahan ini, Ren?! Kenapa kamu posisinya sedekat itu sama dia di dalam kantor?!" Anindya mendadak naik darah mendengarkan sebutan itu. "Maaf ya, Mbak! Jaga mulutnya! Saya staf di sini, bukan perempuan murahan!" "Diam kamu! Jangan berani-berani memotong ucapan saya!" bentak Clara tajam, matanya menatap Anindya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan merendahkan. "Cuma staf biasa tapi berani goda CEO baru? Enggak tahu malu!" "Clara. Cukup," potong Reno tegas. Pria itu melangkah, mengambil posisi berdiri persis di depan Anindya—secara otomatis menyembunyikan tubuh Anindya di balik punggung bidangnya. Anindya terpaku. Punggung lebar itu terasa bagaikan tameng protektif yang tiba-tiba melindungi dirinya dari semprotan kemarahan Clara. "Jangan pernah membentak asisten pribadi saya di ruangan saya sendiri," bisik Reno dingin. Tatapannya menusuk tajam ke arah Clara. "Lagipula, untuk apa kamu ke mari? Ini area kantor, bukan ruang pribadi kamu." Clara menghentakkan kakinya kesal, mencoba melangkah mendekati Reno. "Papa yang nyuruh aku ke sini! Papa minta kamu batalkan pengambilalihan saham anak perusahaan ini! Dan yang paling penting... Papa mau kita segera umumkan tanggal pernikahan kita ke media!" Anindya mengerjap di balik punggung Reno. Pernikahan ke media?! Jadi kabar burung dua tahun lalu soal mereka beneran?! Reno justru terkekeh sinis. "Pernikahan? Clara, seingat saya, saya tidak pernah mengiyakan lamaran konyol dari ayahmu." "Tapi kamu enggak punya pilihan, Ren!" pekik Clara. "Saham terbesar di perusahaan ini masih dipegang Papa! Kalau kamu menolak aku, Papa bisa tarik semua investor dan bikin posisi kamu sebagai CEO baru runtuh dalam semalam!" Suasana ruangan mendadak makin tegang. Clara tersenyum penuh kemenangan, merasa berada di atas angin. Ia yakin ancaman itu sanggup membuat pria sehebat Reno bertekuk lutut. Namun, Reno hanya mengulas senyum tipis yang terkesan meremehkan. Pria itu berbalik sebentar, menatap Anindya yang tampak kebingungan, lalu tiba-tiba meraih pergelangan tangan Anindya dan menggenggamnya erat di depan mata Clara. "R-Reno?! Apa-apaan kamu memegang tangan dia?!" teriak Clara histeris. Anindya ikut kaget dan mencoba menarik tangannya. "P-Pak Reno... lepasin, Pak!" "Biarin aja," bisik Reno pelan pada Anindya, lalu kembali menatap Clara dengan wajah penuh dominasi. "Beri tahu ayahmu, Clara," ujar Reno santai namun berwibawa. "Dia boleh tarik seluruh sahamnya kalau dia mau. Tapi untuk urusan pernikahan... saya sudah punya calon sendiri." Clara tertawa sumbang, matanya membelalak tak percaya. "Calon?! Siapa?! Jangan bilang perempuan udik ini calon kamu?!" Reno menarik tangan Anindya makin mendekat ke sisinya. "Betul. Anindya adalah calon istri saya. Dan pertunangan kami akan diresmikan minggu depan." DEK! "PAK RENO!" pekik Anindya menahan napas, matanya hampir melompat keluar. Niatnya mau lepas dari drama, malah diseret ke dalam jurang perang bintang! Clara mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga kuku-kukunya memutih. Wajah cantiknya memerah padam menahan malu dan murka. "Kamu gila, Reno! Kamu lebih pilih perempuan kelas bawah ini daripada aku dan saham Papa?!" "Pilihan saya bukan urusanmu. Sekarang, silakan keluar dari ruangan saya sebelum saya minta pengamanan membuangmu," ancam Reno tanpa ragu. Dengan napas memburu dan tatapan membunuh yang tertuju lurus pada Anindya, Clara akhirnya berbalik. "Kamu bakal nyesel, Reno! Dan kamu, perempuan sialan... lihat saja apa yang bakal aku lakuin ke kamu!" BRAK! Clara membanting pintu kaca CEO hingga bergetar hebat sebelum akhirnya melangkah pergi bersama para pengawalnya. Suasana ruangan mendadak hening. Anindya langsung menghempaskan genggaman tangan Reno dengan sekuat tenaga. "Bapak bener-bener enggak waras! Kenapa Bapak bawa-bawa saya ke dalam masalah Bapak sama cewek itu?!" Reno berbalik, merapikan lengan kemejanya sembari menatap Anindya yang napasnya masih terengah-engah. "Saya tidak membawa kamu ke dalam masalah. Saya cuma menegaskan fakta." "Fakta dari hongkong?!" amuk Anindya gemas. "Bapak cuma manfaatin saya buat tameng dari cewek itu, kan?! Bener kata pesan misterius tadi! Bapak cuma mau manfaatin saya!" Senyum di wajah Reno mendadak menguap. Tatapannya berubah menjadi sangat serius dan pekat. Pria itu melangkah mendekati Anindya hingga perempuan itu terpaksa mundur beberapa langkah. "Kamu mikir saya cuma manfaatin kamu?" tanya Reno rendah. "Iya! Jelas-jelas iya!" cabar Anindya, mendongak menatap mata tajam mantan atasannya itu. "Bapak butuh alasan buat nolak Mbak Clara dan ayahnya, makanya Bapak bawa-bawa perjanjian perjodohan konyol itu!" Reno menatap Anindya dalam-dalam. Bukannya marah, pria itu justru menghela napas panjang. Ia merogoh saku jasnya, mengambil sebuah flashdisk hitam kecil, lalu menaruhnya di genggaman tangan Anindya. "Apa ini?" tanya Anindya dahi berkerut. "Buka isi flashdisk itu di laptopmu," ujar Reno pelan, suaranya terdengar agak lelah. "Itu rekaman CCTV dari apartemen saya... dua tahun lalu. Malam sebelum kamu kabur." Jantung Anindya mendadak berdesir aneh. "Malam sebelum saya kabur? Kenapa saya harus nonton itu?" Reno menatapnya lekat-lekat, menyisipkan sebelah tangannya di saku celana. "Supaya kamu ingat, Nin... malam itu bukan saya yang jebak kamu. Tapi ada orang lain yang sengaja naruh obat di minumanmu, dan nyaris mencelakaimu kalau saja saya enggak datang tepat waktu." Mata Anindya membelalak sempurna. "A-apa...?" Reno mendekatkan wajahnya, berbisik tepat di telinga Anindya hingga hembusan napas hangatnya membuat tubuh Anindya merinding seketika. "Dan orang yang naruh obat itu... adalah orang yang baru saja mengirimi kamu pesan ancaman tadi sore." Anindya tertegun di tempatnya. Kalimat Reno barusan seperti petir yang menyambar tepat di atas kepalanya. "M-maksud Bapak... malam itu ada yang mau racunin saya?!" bisik Anindya dengan mata membelalak lebar. Tangannya yang menggenggam flashdisk hitam itu mendadak gemetaran. Reno memundurkan posisinya sedikit, memberi Anindya ruang untuk bernapas, meski tatapannya masih terkunci rapat pada manik mata perempuan itu. "Kamu pingsan di lorong hotel dua tahun lalu setelah minum dari gelas yang disediakan di acara gala dinner perusahaan," jelas Reno dengan suara tenang namun tegas. "Dua pria suruhan hampir saja membawa kamu ke kamar lain kalau saya tidak lewat dan menarik kamu ke kamar saya." "Tapi... tapi pas saya bangun besok paginya, baju saya udah diganti dan Bapak..." Anindya menggantung kalimatnya, wajahnya merona merah mengingat kejadian pagi itu—di mana ia bangun di atas tempat tidur mewah dengan pakaian santai, sementara Reno duduk di sofa dengan kemeja yang sudah berantakan. "Saya yang gantiin baju kamu pakai baju santai sekretaris saya yang kebetulan ada di mobil," potong Reno datar, lalu menaikkan sebelah alisnya. "Atau kamu berharap saya yang macam-macam sama kamu saat kamu pingsan?" "Nggak gitu!" serkas Anindya cepat-cepat, menyembunyikan rasa malu yang membakar pipinya. "Lagian siapa suruh Bapak nggak jelasin apa-apa pas pagi itu?!" "Gimana saya mau jelasin kalau kamu bangun-bangun langsung lempar bantal ke muka saya, jerit-jerit manggil saya penjahat, terus kabur lewat pintu darurat?" balas Reno santai. Anindya bungkam seribu bahasa. Memori dua tahun lalu berputar kembali di kepalanya. Ya... ia memang panik setengah mati waktu itu. Begitu sadar berada di kamar hotel sang bos, otaknya langsung menyimpulkan skenario terburuk tanpa mau mendengar penjelasan Reno sama sekali. "Sekarang," Reno melirik jam tangan mewahnya, "jam kerja kamu sudah selesai. Bawa flashdisk itu, pulang ke kosanmu, dan tonton sampai habis." Anindya menelan ludah. "Bapak nggak bohong, kan?" Reno melangkah kembali ke balik mejanya, mengambil ponsel lalu memasukkannya ke saku jas. "Saya tidak pernah punya waktu untuk membohongi kamu, Anindya. Oh, satu lagi..." Reno menghentikan langkahnya tepat di sebelah Anindya yang masih mematung. Pria itu merengkuh bahu Anindya sebentar—sebuah sentuhan singkat yang sukses membuat jantung Anindya melompat—lalu berbisik lembut. "Jangan matikan ponselmu malam ini. Kalau ada apa-apa, langsung panggil saya. Mengerti?" Anindya hanya bisa mengangguk pelan seperti robot yang kehilangan baterai. Dengan langkah gontai dan pikiran yang berkecamuk, Anindya keluar dari ruang CEO. Maya yang rupanya masih bertahan di kubikelnya langsung melompat berdiri dan menghadang jalan Anindya. "Nin! Omaigat! Demi apa tadi Mbak Clara ngamuk-ngamuk?!" bisik Maya dengan mata berbinar penasaran. "Gue denger dari pintu luar, Pak Reno bilang lo calon istrinya?! Beneran, Nin?!" Anindya menepuk jidatnya pasrah. "May... sumpah, kepala gue mau pecah. Jangan nanya-nanya dulu, ya?" "Aduh, Anindya sayang! Gimana gue nggak nanya?! Ini berita besar se-kantor! Mbak Clara itu anak pemilik saham terbesar, dan dia baru aja ditolak mentah-mentah demi staf biasa kayak lo!" seru Maya gemas. "Lo pelet Pak Reno pakai apa, sih?!" "Gue pakai pelet air doa ibu," jawab Anindya asal sembari membereskan barang-barangnya ke dalam tas. "Udah ah, May, gue mau balik. Gue lemes banget." "Yaaa... Yah, padahal gue mau ngajak makan boci di depan," desah Maya kecewa. "Yaudah deh, lo hati-hati ya. Muka lo beneran kayak kain lap belum dicuci, pucat banget!" "Thanks atas pujian estetiknya," cetus Anindya datar, lalu buru-buru menyambar tas dan melangkah menuju lift. Sesampainya di kamar kos yang berukuran tiga kali empat meter itu, Anindya langsung mengunci pintu rapat-rapat. Ia melepas sepatu hak tingginya, melemparkan tas ke atas kasur, lalu menyalakan laptopnya dengan tangan dingin. Rasa penasaran sudah membakar habis rasa takutnya. Ia memasukkan flashdisk hitam dari Reno ke lubang USB laptop. Sebuah folder tanpa nama langsung muncul di layar. Di dalamnya hanya ada satu berkas video berdurasi lima menit. Dengan napas tertahan, Anindya mengklik video tersebut. Layar laptop menampilkan rekaman CCTV beresolusi tinggi di area lounge hotel dua tahun lalu. Di sana terlihat Anindya versi dua tahun lalu yang mengenakan gaun pesta, tampak agak oleng sembari memegangi kepalanya yang pusing. Tak lama kemudian, seorang pria berjas menghampiri Anindya dan menyerahkan segelas minuman. Anindya di dalam video itu tanpa curiga mengambil dan meminumnya. Anindya mencondongkan tubuhnya ke layar laptop, meremas jemarinya sendiri. "Siapa cowok itu...?" Dalam rekaman, wajah pria itu tadinya membelakangi kamera CCTV. Namun, saat Anindya mulai lunglai dan pingsan, pria itu berbalik sebentar untuk mengode dua orang pria berbadan tegap di sudut ruangan. Pada detik itulah, wajah sang pelaku terlihat sangat jelas di layar. Mata Anindya membelalak sempurna. Pekikan tertahan keluar dari tenggorokannya. "N-nggak mungkin..." bisik Anindya tak percaya. Tangannya membeku di atas paha. "Dia... kan dia..." Pria di dalam rekaman video dua tahun lalu itu—pria yang memberi obat racun pada minumannya—adalah Dion, manajer divisi keuangan di kantornya saat ini, yang tadi pagi baru saja menyapa dan meminjamkannya stapler dengan ramah! Belum selesai rasa syok menguasai dirinya, tiba-tiba terdengar ketukan pelan di pintu kamar kosnya. KNOCK... KNOCK... KNOCK... Anindya tersentak hebat dari kursinya. Ia melirik jam di dinding. Sudah jam delapan malam. Tidak biasanya ada tamu bertandang ke kosannya jam segini, apalagi ibu kosnya selalu mengunci pagar utama jam tujuh malam. Jantung Anindya berdegup kencang secara tidak wajar. Ia berjalan sepelan mungkin menuju pintu, tidak berani bersuara. "Nin? Anindya? Kamu di dalam, kan?" suara dari luar pintu terdengar pelan, namun terasa sangat familiar. Suara Dion! Anindya membeku di balik pintu. Napasnya tertahan sepenuhnya. Ponsel di saku celananya mendadak bergetar keras. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor tak dikenal yang sama: [Nomor Tak Dikenal]: "Buka pintunya, Nin. Kita perlu bicara soal isi flashdisk dari Reno sebelum kamu menyesal seumur hidup."Atmosfer di dalam penthouse mewah milik Reno mendadak membeku. Amplop cokelat tebal yang dilemparkan Tuan Hendra mendarat tepat di atas meja kaca, memancarkan aura ancaman yang begitu pekat.Reno tidak langsung menyentuh amplop itu. Pria itu memiringkan kepalanya sedikit, menatap Tuan Hendra dengan pandangan dingin nan tajam."Rahasia apa yang Anda maksud, Tuan Hendra?" tanya Reno datar.Tuan Hendra tertawa meremehkan, matanya sekilas menyapu Anindya yang berdiri kaku di lorong."Buka saja, Reno. Jangan menyalahkan saya kalau gadis yang kamu bela mati-matian ini ternyata cuma anak dari wanita penipu yang pernah merusak keluarga orang lain!"DEK!Dada Anindya bergemuruh hebat."Bapak jangan asal bicara ya! Ibu saya orang baik-baik!" pekik Anindya tidak terima, melangkah keluar dari tempat persembunyiannya."Anindya, diam di tempatmu," potong Reno tegas.Namun bukannya membuka amplop di meja, Reno justru melangkah santai, mengambil amplop itu, lalu—SREK! SREK!—merobeknya menjadi dua bag
Ponsel di genggaman Anindya bergetar hebat. Pesan ancaman dari nomor tak dikenal itu masih terpampang di layar, bertepatan dengan ketukan pintu kosnya yang kian mendesak."Nin? Gue tahu lo di dalam. Buka pintunya sebentar, ini penting," suara Dion di balik pintu terdengar begitu menuntut.Tangan Anindya meremas ponselnya hingga buku-buku jarinya memutih. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Di layar laptop, wajah Dion pada video dua tahun lalu masih membeku—bukti tak terbantahkan bahwa pria ramah yang kerap meminjamkannya alat tulis di kantor ini adalah sosok bermuka dua yang berbahaya.Kenapa harus dia lagi? Dari sekian banyak orang di kantor, kenapa Dion yang jadi dalangnya?!Mengabaikan pesan itu, Anindya langsung menggeser layar ponsel, mencari kontak BOS IBLIS, lalu menekan tombol panggilan.Satu detik. Dua detik."Ada apa, Anindya?" suara berat Reno menyapa dari seberang telepon."P-Pak Reno... Dion ada di depan kamar kos saya!" bisik Anindya panik. Ia berjongkok di balik
"Reno! Apa-apaan ini?!"Suara melengking Clara menggema keras di seluruh sudut ruangan CEO. Sepatu hak tingginya menepuk lantai dengan tajam saat ia melangkah masuk bersama dua orang pengawal pribadi di belakangnya. Matanya membakar penuh amarah, menatap lurus pada posisi Anindya yang masih terhimpit di tepi meja kerja Reno.Anindya yang panik setengah mati refleks mendorong dada Reno kuat-kuat. Kali ini Reno membiarkannya, mundur satu langkah sembari merapikan jasnya dengan santai—seolah kedatangan Clara tidak mengganggunya sama sekali."Clara? Sejak kapan kamu punya akses masuk tanpa mengetuk pintu?" tanya Reno datar, nada suaranya begitu dingin hingga sanggup membekukan udara."Kamu tanya kenapa aku langsung masuk?!" Clara menunjuk Anindya dengan jari berkuteks merah menyala. "Siapa perempuan murahan ini, Ren?! Kenapa kamu posisinya sedekat itu sama dia di dalam kantor?!"Anindya mendadak naik darah mendengarkan sebutan itu."Maaf ya, Mbak! Jaga mulutnya! Saya staf di sini, bukan p
"Gila! Pak Reno bener-bener enggak waras!"Anindya mendesis pelan seraya memegangi kepalanya yang mendadak berdenyut nyeri. Kalimat terakhir dari mantan atasannya itu masih terngiang-ngiang jelas di telinganya.Pertunangan?! Pria itu mikir nikah kayak beli kopi kenangan di minimarket?!"Anindya, kenapa kamu masih berdiri di situ?" tegur Reno datar. Pria itu sudah kembali duduk santai di balik meja kerjanya yang megah, menatap Anindya yang masih berdiri mematung seperti patung selamat datang. "Mau berdiri sampai jam kantor selesai?""Pak... ini gila," sahut Anindya dengan nada menahan emosi. "Surat ini pasti mainan Bapak, kan? Mana mungkin Ibu saya setuju sama hal konyol kayak gini tanpa ngomong apa-apa ke saya?!"Reno mengangkat sebelah alisnya, menyandarkan punggung ke kursi eksekutifnya dengan santai."Kenapa enggak kamu tanyakan langsung sama Ibumu?"Anindya menyipitkan mata. Tanpa berpikir panjang, ia merogoh tasnya, mengambil ponsel, lalu mengetik panggilan ke nomor ibunya. Ia se
"Merdeka! Merdeka dari penjajahan pria kaku berwajah datar!"Suara desahan lega Anindya menggema di sudut kubikel kerjanya. Perempuan itu menyandarkan punggungnya ke kursi, memutar-mutar bolpoin di jemarinya sembari mengamati langit-langit kantor yang mendadak terasa sepuluh kali lebih cerah hari ini."Nin, sstt! Suara kamu tuh pelanin dikit, nanti kalau ada yang denger gimana?" bisik Maya dari kubikel sebelah. Wajah sahabatnya itu panik setengah mati sambil menengok ke kanan-kiri.Anindya hanya terkekeh pelan. Ia memperbaiki posisi duduknya lalu meminum es kopi susu yang baru saja dibelinya."Denger siapa, Maya? Pak Reno kan udah resign dari kemarin. Hari ini beliau resmi angkat kaki dari perusahaan ini! Nggak akan ada lagi bos yang nempel pusing di dahi tiap liat draf laporan aku kurang rapi satu milimeter.""Iya sih, Pak Reno emang perfeksionisnya minta ampun," aku Maya sambil mengangguk setuju. "Tapi biar gitu, dia kan ganteng banget, Nin. Tajam, rapi, karismatik. Mana ada bos seg







