LOGIN"Gila! Pak Reno bener-bener enggak waras!"
Anindya mendesis pelan seraya memegangi kepalanya yang mendadak berdenyut nyeri. Kalimat terakhir dari mantan atasannya itu masih terngiang-ngiang jelas di telinganya. Pertunangan?! Pria itu mikir nikah kayak beli kopi kenangan di minimarket?! "Anindya, kenapa kamu masih berdiri di situ?" tegur Reno datar. Pria itu sudah kembali duduk santai di balik meja kerjanya yang megah, menatap Anindya yang masih berdiri mematung seperti patung selamat datang. "Mau berdiri sampai jam kantor selesai?" "Pak... ini gila," sahut Anindya dengan nada menahan emosi. "Surat ini pasti mainan Bapak, kan? Mana mungkin Ibu saya setuju sama hal konyol kayak gini tanpa ngomong apa-apa ke saya?!" Reno mengangkat sebelah alisnya, menyandarkan punggung ke kursi eksekutifnya dengan santai. "Kenapa enggak kamu tanyakan langsung sama Ibumu?" Anindya menyipitkan mata. Tanpa berpikir panjang, ia merogoh tasnya, mengambil ponsel, lalu mengetik panggilan ke nomor ibunya. Ia sengaja mengaktifkan mode speakerphone tepat di depan Reno. Ponsel menyambung... Satu detik. Dua detik. "Halo, Nin? Ada apa, Nak? Tumben telepon jam kerja?" suara lembut sang Ibu terdengar dari seberang telepon. Anindya menarik napas panjang, mencoba meredam nada paniknya. "Bu... Nin mau tanya sesuatu. Dan Ibu harus jawab jujur." "Jujur soal apa, Nin? Kok nada bicaramu serius banget?" Anindya menatap tajam ke arah Reno yang saat ini sedang tersenyum tipis sembari menopang dagunya. "Ibu... kenal sama keluarga Pak Reno, kan? Dan... apa benar Ibu pernah bikin perjanjian perjodohan sama mereka tiga tahun lalu?!" cecar Anindya tanpa basa-basi. Hening sejenak di ujung telepon. Tidak ada jawaban selama beberapa detik, membuat dada Anindya makin berdebar kencang. "A-ah... itu..." Ibu terbatuk pelan, terdengar sangat canggung. "Kamu udah tahu, Nin?" Mata Anindya membelalak. Demi apa?! "Jadi beneran, Bu?!" pekik Anindya menahan histeris. "Ibu! Kenapa Ibu enggak pernah cerita sama Nin?! Nin ini anak Ibu, bukan barang jaminan!" "Aduh, Nin, dengerin Ibu dulu..." bisik Ibunya penuh rasa bersalah. "Dulu waktu toko kita mau bangkrut dan terancam disita, Pak Wijaya—ayahnya Reno—yang bantu melunasi semua utang toko. Waktu itu, beliau cuma minta satu syarat. Beliau pengin kita jadi keluarga karena suka sama kamu. Ibu pikir... Reno itu anak baik, ganteng, mapan..." "Tapi Nin enggak suka, Bu! Dia itu bos paling menyebalkan se-Indonesia Raya!" potong Anindya gemas. Reno yang mendengar hal itu langsung berdehem pelan. "Siang, Tante. Ini Reno." Di ujung telepon, suara Ibu mendadak berubah 180 derajat. Suaranya yang tadi cemas mendadak menjadi sangat manis dan ramah. "Eh! Mas Reno?! Ya ampun, Mas Reno ada di situ juga? Apa kabar, Mas? Tante kangen banget, lho! Kapan main ke rumah lagi?" Anindya melotot tidak percaya. Bisa-bisanya Ibu ber-ramah tamah sama 'monster' ini?! "Kabar baik, Tante," balas Reno penuh wibawa dan sangat sopan—berbanding terbalik dengan sikap dinginnya pada Anindya. "Reno cuma mau memastikan, minggu depan acara makan malam keluarga kita tetap jadi, kan?" "Jadi dong, Mas! Jelas jadi! Tante sama Ayah udah siapin semuanya. Mas Reno tenang aja, Anindya pasti Tante seret pulang minggu depan!" jawab Ibu antusias. "Bu! Kok malah seret-seret sih?!" protes Anindya panik. "Sudah ya, Nin! Jangan membantah! Kasihan Mas Reno lagi sibuk kerja. Pokoknya minggu depan kamu pulang! Dengar kata calon suamimu!" TUT... TUT... TUT... Panggilan diputus sepihak oleh sang Ibu. Anindya membeku dengan ponsel yang masih menempel di telinganya. Dunia seolah berputar. Ibu kandungnya sendiri baru saja "menjualnya" kepada mantan bos yang paling ia hindari di muka bumi ini! Di depannya, Reno terkekeh pelan. Tawa tipis yang sangat mengejek. "Sudah dengar sendiri, kan?" ujar Reno santai sembari merapikan berkas di mejanya. "Ibumu sendiri yang minta kamu diseret pulang." "Bapak... Bapak sengaja, kan, cuci otak Ibu saya?!" tuduh Anindya dengan napas memburu. Reno berdiri dari kursinya, berjalan melangkah mendekati Anindya. Kali ini, tatapannya tidak lagi bercanda. Ada ketegasan murni di dalam manik matanya. "Saya tidak mencuci otak siapa pun, Anindya. Dua tahun lalu kamu kabur karena salah paham. Kamu pikir saya membiarkan kamu pergi begitu saja karena saya tidak peduli?" Reno berhenti tepat di depan Anindya, menunduk sedikit untuk menatap matanya. "Saya cuma memberi kamu waktu untuk bernapas. Dan sekarang, waktunya sudah habis." Dada Anindya berdesir hebat. Jarak mereka terlalu dekat, hingga ia bisa merasakan kehangatan yang menguar dari tubuh Reno. "N-nggak bisa gitu, Pak..." bisik Anindya pelan, keberaniannya terkikis habis oleh tatapan terintimidasi namun hangat itu. "Saya udah nyaman sama hidup saya yang sekarang." "Nyaman?" Reno tersenyum tipis, jarinya terangkat menyentuh helai rambut Anindya yang terurai, menyangkutkannya ke belakang telinga perempuan itu dengan sangat lembut. "Nyaman jadi staf biasa yang hampir tiap bulan telat bayar kosan?" Anindya tersentak dan refleks mundur satu langkah. "Bapak mata-matai saya?!" "Saya cuma memastikan calon istri saya hidup layak," jawab Reno santai tanpa rasa salah sedikit pun. Ia lalu berjalan menuju pintunya, memutar kunci, dan membukanya lebar-lebar. "Sekarang, balik ke kubikelmu. Siapkan draf laporan bulanan yang baru. Jam empat sore harus sudah ada di meja saya. Kalau ada salah satu huruf saja..." Reno menggantung kalimatnya sembari menatap Anindya jahil. "A-apa?!" tantang Anindya. "Satu kesalahan huruf, waktu pertunangan kita disatukan jadi minggu ini. Buka minggu depan." "Pak Reno!" jerit Anindya frustrasi. Tanpa mempedulikan wajah cemberut Anindya, Reno hanya tersenyum tipis dan memberi isyarat tangan agar Anindya keluar. Dengan kaki menyentak-nyentak kesal, Anindya berjalan keluar dari ruang CEO. Maya yang sudah menunggu di luar langsung menarik tangannya dengan panik. "Nin! Gimana?! Muka kamu kok lempeng gitu? Kamu enggak dipecat, kan?!" bisik Maya beruntun. "Lebih parah dari dipecat, May," desah Anindya pasrah, menyandarkan tubuhnya ke dinding kubikel. "Gue terancam dijual ke bos sendiri!" Baru saja Maya hendak bertanya lebih lanjut, tiba-tiba ponsel Anindya yang tergeletak di atas meja bergetar keras. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor tak dikenal terpampang di layar: [Nomor Tak Dikenal]: "Jauhi Reno kalau kamu masih sayang sama nyawa dan keluargamu. Dia cuma memanfaatkanmu untuk menutupi skandal besarnya." Anindya mengerjap. Jantungnya mendadak berdegup kencang secara tidak wajar. Ia menoleh ke arah ruang CEO melalui kaca transparan. Reno sedang sibuk menatap layar laptopnya dengan wajah serius. Skandal besar? Maksudnya apa?! "Nin! Kenapa melamun gitu? Muka kamu mendadak pucat banget," seru Maya seraya menepuk bahu Anindya. Anindya buru-buru mematikan layar ponselnya. Jemarinya dingin. "G-gak papa, May. Cuma lemas aja dengar kelakuan bos baru kita." "Yakin cuma lemas? Itu tangan kamu sampe gemetaran begitu," Maya menatap sahabatnya curiga. "Tapi seriusan, Nin, tadi maksudnya 'dijual' tuh gimana? Pak Reno ngancem apa lagi?" Anindya menghela napas berat, mencoba menetralkan degupan jantungnya yang terlanjur acak-acakan. "Panjang ceritanya, May. Intinya... gue harus nurut kalau nggak mau kena denda lima ratus juta. Dan parahnya, Nyokap gue malah ada di pihak dia!" Maya melotot. "Demi apa?! Wah, parah sih. Tapi jujur ya, Nin, kalau gue dijodohin sama modelan Pak Reno yang gantengnya kebangetan dan tajir melintir gitu... sih gue pasrah aja, Nin. Berkah itu namanya!" "Berkah gundulmu!" celetuk Anindya gemas. "Lo nggak tahu aja di balik mukanya yang lempeng itu, dia tuh iblis berjas rapi!" Sembari mengetik balasan singkat untuk laporan yang diminta Reno, pikiran Anindya justru melayang pada pesan misterius tadi. Skandal besar? Reno punya skandal apa sampai harus manfaatin gue dan perjanjian tiga tahun lalu? Belum sempat Anindya mendalami pikirannya, tiba-tiba ponsel di mejanya berdering keras. Nama "BOS IBLIS" terpampang jelas di layar. "Halo, Pak?" sapa Anindya dengan suara secuek mungkin. "Laporan bulanan kamu mana? Ini sudah jam empat lewat satu menit," suara Reno terdengar dingin dari seberang telepon. "Baru lewat satu menit, Pak! Ini tinggal di-print!" protes Anindya. "Satu menit adalah keterlambatan, Anindya. Ingat hukuman soal pertunangan kita disatukan jadi minggu ini?" "Eh, jangan asal klaim ya, Pak! Ini saya bawa masuk sekarang!" cerca Anindya cepat-cepat sebelum pimpinannya itu makin bertindak sewenang-wenang. Anindya langsung menyambar map berisi draf laporan, berdiri cepat, lalu setengah berlari menuju ruang CEO. Tanpa ketuk pintu—karena terlanjur emosi—ia langsung memutar gagang pintu dan masuk. "Ini laporannya, Pak Reno yang terhormat!" ujar Anindya sembari menaruh map tersebut agak keras di atas meja. Reno tidak langsung membaca map itu. Pria itu justru menyandarkan punggungnya, menatap Anindya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan menelisik. "Kenapa mata kamu gelisah gitu?" tanya Reno tiba-tiba. Tepat sasaran. Anindya tersentak, refleks meremas jemarinya sendiri. "Nggak ada. Saya cuma kesal sama Bapak." Reno berdiri dari kursinya. Langkah kakinya yang tenang mendadak terasa mengintimidasi saat ia berjalan melingkari meja dan berhenti tepat di samping Anindya. "Kamu nggak jago bohong, Nin," bisik Reno pelan. "Sejak keluar dari ruangan ini tadi, pikiranmu kayak melayang ke mana-mana. Ada yang menghubungi kamu?" Mata Anindya membelalak kaget. Kok dia bisa tahu?! "Eng-enggak ada! Siapa juga yang mau hubungi saya?" sangkal Anindya cepat, berusaha menutupi kepanikannya. Reno memiringkan kepalanya sedikit. Bukannya percaya, pria itu justru merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel miliknya sendiri. Ia menggeser layar sebentar, lalu menyodorkannya ke hadapan Anindya. "Termasuk nomor yang ini?" tanya Reno datar. Anindya menunduk melihat layar ponsel Reno. Di sana tertera tangkapan layar sebuah pesan yang dikirim dari nomor tak dikenal—nomor yang sama persis dengan nomor yang baru saja mengirimkan pesan ancaman ke ponselnya! Pesan di ponsel Reno berbunyi: [Nomor Tak Dikenal]: "Jangan harap kamu bisa menikahinya dengan tenang, Reno. Semua rahasia tiga tahun lalu akan saya bongkar ke media." Napas Anindya tertahan di tenggorokan. Matanya berganti-ganti menatap layar ponsel dan wajah Reno yang kini terlihat sangat keras dan dingin. "B-bapak... dapat pesan ini juga?" bisik Anindya tercekat. "Bukan cuma saya yang dapat, kan?" tebak Reno dengan nada dalam. Pria itu mengikis jarak, menatap lurus ke dalam iris mata Anindya. "Dia ngancam kamu apa, Nin?" Anindya menelan ludah susah payah. Lidahnya mendadak kaku. "Dia... dia bilang Bapak cuma manfaatin saya buat nutupin skandal besar." Reno terkekeh dingin. Tidak ada raut takut sama sekali di wajahnya, justru aura berbahaya yang terpancar makin pekat. "Skandal?" Reno melangkah makin dekat, membuat Anindya terdesak mundur hingga punggungnya menempel pada tepi meja kerja. Reno menopangkan kedua tangannya di sisi tubuh Anindya, mengurung perempuan itu dalam jarak yang sangat dekat hingga aroma maskulinnya menguasai seluruh indra Anindya. "Satu-satunya skandal yang saya punya..." bisik Reno tepat di depan wajah Anindya, suaranya berat dan menggetarkan dada, "...adalah rahasia kenapa kamu mendadak kabur dari apartemen saya dua tahun lalu, tepat setelah malam itu." DEK! Jantung Anindya serasa berhenti berdetak. Wajahnya seketika memerah padam, sementara matanya membelalak sempurna menatap Reno. "P-Pak Reno... Bapak ngomong apa sih?!" pekik Anindya gagap, berusaha mendorong dada bidang Reno, namun pria itu sama sekali tak bergeming. Belum sempat Reno membalas, tiba-tiba pintu ruang CEO terdorong terbuka keras tanpa diketuk. BRAK! "Reno! Apa-apaan ini?!" Seorang wanita bergaun elegan dengan riasan tebal berdiri di ambang pintu bersama jajaran pengawal. Matanya melotot tajam menatap posisi Reno dan Anindya yang begitu intim. Anindya menoleh panik, dan makin syok saat mengenali siapa wanita itu. Itu... Clara, putri tunggal dari pemilik saham terbesar perusahaan ini sekaligus wanita yang dulu dirumorkan sebagai tunangan sah Reno!"Anin, baca lagi pesannya."Suara Reno menembus keheningan yang mencekat. Tatapan matanya yang tadi tajam mendadak meredup, menyisakan kecemasan yang teramat sangat saat melihat tangan Anindya bergetar hebat memegang ponselnya.Anindya mendongak. Layar ponsel yang menampilkan pesan dari Aris seolah menyengat jemarinya. "Kak Aris bilang... kematian Ayah ada hubungannya sama keluarga Dirgantara, Reno."Reno menghembuskan napas panjang, melangkah mendekat lalu menggenggam kedua bahu Anindya. "Kamu percaya sama aku atau sama orang yang baru muncul bawa bunga mawar tadi?""Bukan masalah percaya atau nggak," potong Anindya pelan, ada keraguan yang mulai merayap di dadanya. "Tapi Ayah mati karena serangan jantung waktu diancam Bagas. Dan Bagas itu... asisten kepercayaan keluarga kamu selama bertahun-tahun, Reno."Sebelum Reno sempat membela diri, pintu ruang kerja kembali diketuk dua kali. Sekretaris divisi umum mengintip dengan wajah tegang."Maaf mengganggu, Pak Reno, Nona Anindya. Rapat d
Reno masih berdiri kaku di depan pintu ruang kerjanya yang tertutup rapat. Rahangnya mengeras, matanya menatap tajam ke arah pintu kayu mahoni itu seolah-olah Aris—si pria berjas krem—masih berdiri di sana.Cemburu? Reno tak akan pernah mengakuinya secara terang-terangan. Namun, fakta bahwa ada pria lain yang secara terang-terangan memberikan mawar putih, merangkul pundak Anindya, dan memegang kartu as berupa surat wasiat perjodohan benar-benar membakar isi dadanya."Reno... kamu nggak apa-apa?" Anindya memecah keheningan. Langkah kakinya pelan mendekati Reno yang napasnya masih menderu halus. "Soal kata-kata Kak Aris tadi, kamu nggak usah dipikirin banget. Nanti malam aku—""Aku ikut."Anindya mengedipkan matanya polos. "Hah? Ikut ke mana?""Nanti malam kamu mau ketemu dia buat bahas surat wasiat itu, kan?" Reno membalikkan badan, menatap Anindya dengan sorot mata intens tanpa kompromi. "Aku yang menyetir. Aku yang nemenin kamu. Dan nggak ada acara obrolan empat mata di tempat remang
"Bagas...?" bisik Anindya tak percaya. Matanya melebar menatap layar laptop yang masih memutarkan sisa suara static rekaman. "Orang yang selama ini selalu berdiri di samping kamu... yang kemarin nolongin kita di Jawa Timur?"Reno tidak menjawab. Rahangnya mengeras sampai otot-otot di lehernya menegang. Pria itu menyambar ponsel di saku jasnya, jemarinya bergerak cepat menekan tombol panggilan cepat."Bagas, ke ruangan Anindya sekarang. Ada berkas RUPS yang harus kamu tanda tangani," kata Reno dengan suara yang sangat tenang—terlalu tenang sampai terasa mengerikan."Baik, Pak Reno. Saya segera ke sana," sahut suara di ujung telepon dengan nada sopan seperti biasa.Reno mematikan sambungan, lalu menatap Anindya yang masih gemetar di kursinya. Reno bergerak cepat, mencabut flashdisk dari laptop, lalu menyembunyikannya ke dalam saku celana. Foto tua almarhum ayah Anindya diselipkan kembali ke dalam saku jasnya."Anin, dengerin saya," bisik Reno seraya berlutut di samping kursi Anindya. Ta
Pukul 07.15 WIB. Gedung Graha Nusantara, Jakarta Pusat.Suasana di luar gedung pencakar langit itu seperti medan perang. Puluhan preman sewaan berjas hitam milik Tuan Wijaya memblokir gerbang utama, sementara puluhan wartawan berjejal di balik pagar barikade."Laporan langsung dari lokasi RUPS! Pihak Tuan Wijaya baru saja menyatakan bahwa rapat pemungutan suara Direktur Utama akan dimulai tepat pukul delapan pagi tanpa kehadiran Reno Dirgantara yang diduga kabur bersama buronan—"WUSH-WUSH-WUSH!Suara kibasan baling-baling helikopter memotong laporan reporter itu. Sebuah helikopter komersial berwarna hitam legam bertuliskan logo Dirgantara Group menukik turun dari langit pagi Jakarta, mendarat mulus tepat di helipad atap gedung!Para pengawal Tuan Wijaya di atap kaget setengah mati. Belum sempat mereka bereaksi, pintu helikopter terbuka. Tiga belas pengawal pribadi berseragam taktis turun duluan, membanting barikade atap dan membuka jalan.Reno keluar lebih dulu dengan jas abu-abu gel
"Jangan ngawur, Reno! Kamu mau dikeroyok puluhan polisi?!" seru Anindya panik. Tangannya makin erat meremas kemeja hitam Reno.Reno membalikkan badan, lalu menangkup kedua pipi Anindya dengan hangat. "Dengar saya. Mereka ke sini bawa surat perintah atas nama kamu, bukan saya. Selama mereka nggak punya izin geledah resmi yang ditandatangani hakim malam ini, mereka nggak bisa asal masuk. Saya cuma perlu ulur waktu sepuluh menit.""Tapi—""Lari, Anin. Sekarang!" potong Reno tegas.Anindya menyambar tas dokumennya dari kursi, lalu berlari kencang menaiki tangga melingkar menuju lantai dua. Jantungnya berdegup kencang, setiap langkah terasa begitu berat karena rasa takut yang membakar dada.BRAMMM!Di bawah, pintu utama vila dibuka lebar oleh Reno. Suara gemuruh hujan dan raungan sirene langsung menerobos masuk ke dalam vila.Dari balik celak celak pembatas tangga lantai dua, Anindya mengintip dengan napas terengah-engah.Dion berdiri di paling depan bersama Pengacara Wijaya dan lima petug
"Surat perintah penangkapan...?" cicit Anindya. Suaranya bergetar hebat. Sendok di tangannya terlepas, jatuh terbentur piring porselen dengan bunyi nyaring.Dunia seolah berhenti berputar. Baru beberapa menit lalu Reno memintanya menikah, dan kini ia menjadi buronan atas tuduhan kejahatan berat yang tidak pernah ia lakukan."Pak Bagas, ini nggak salah?!" desak Anindya panik, matanya berkaca-kaca menatap ponsel di meja. "Saya bahkan nggak pernah pegang dokumen asli milik almarhum Ayah Pak Reno!""Skenario Tuan Wijaya sangat rapi, Nona Anindya!" seru Bagas dari balik telepon. "Dia memanfaatkan pengacara lama keluarga untuk bikin draf warisan palsu, lalu memotong video rekaman CCTV kantor seolah Nona menyusup ke ruang arsip! Media sudah menggoreng beritanya, dan polisi dalam perjalanan ke Surabaya setelah melacak sinyal terakhir!"Napas Anindya memburu, kepalanya mendadak pusing membayangkan dirinya diborgol di depan media seluruh Indonesia."Bagas," potong Reno dingin, memutus histeria







