LOGIN
"Merdeka! Merdeka dari penjajahan pria kaku berwajah datar!"
Suara desahan lega Anindya menggema di sudut kubikel kerjanya. Perempuan itu menyandarkan punggungnya ke kursi, memutar-mutar bolpoin di jemarinya sembari mengamati langit-langit kantor yang mendadak terasa sepuluh kali lebih cerah hari ini. "Nin, sstt! Suara kamu tuh pelanin dikit, nanti kalau ada yang denger gimana?" bisik Maya dari kubikel sebelah. Wajah sahabatnya itu panik setengah mati sambil menengok ke kanan-kiri. Anindya hanya terkekeh pelan. Ia memperbaiki posisi duduknya lalu meminum es kopi susu yang baru saja dibelinya. "Denger siapa, Maya? Pak Reno kan udah resign dari kemarin. Hari ini beliau resmi angkat kaki dari perusahaan ini! Nggak akan ada lagi bos yang nempel pusing di dahi tiap liat draf laporan aku kurang rapi satu milimeter." "Iya sih, Pak Reno emang perfeksionisnya minta ampun," aku Maya sambil mengangguk setuju. "Tapi biar gitu, dia kan ganteng banget, Nin. Tajam, rapi, karismatik. Mana ada bos seganteng Pak Reno di kantor lain?" "Aduh, ganteng kalau tiap hari bikin darah tinggi buat apa?" Anindya mengibaskan tangannya, menepis bayangan mantan atasannya itu. "Baguslah dia pindah. Mulai hari ini, hidupku tenang. Nggak ada yang bakal nyuruh-nyuruh revisi jam tujuh malam, nggak ada yang ngejar-ngejar laporan pas weekend." Anindya tersenyum puas. Baginya, hari ini adalah awal dari kehidupan kantor yang damai, santai, dan bebas dari teror sang mantan bos. Baru saja ia hendak membuka dokumen kerjaan santainya, hembusan angin dingin seolah mendadak menerpa ruangan. Suasana area kubikel yang tadinya bising oleh obrolan karyawan mendadak senyap seketika. Bahkan suara ketukan papan ketik pun mendadak terhenti. Anindya mengerutkan dahi. "Kenapa pada diam? Ada hantu lewat?" Maya tidak menjawab. Sahabatnya itu justru menyenggol lengan Anindya keras-keras, tatapannya terkunci lurus ke arah lorong utama menuju ruang direksi. Wajah Maya pucat pasi. "Kenapa sih, May? Jangan bikin takut ah—" Kata-kata Anindya terhenti di tenggorokan. Langkah kakinya mendadak membeku. Dari ujung lorong, melangkah seorang pria tinggi berbalut jas abu-abu gelap yang sangat berkelas. Garis rahangnya tegas, rambutnya tertata rapi, dan tatapan matanya tajam menyapu seluruh ruangan. Di belakangnya, jajaran manajer senior berjalan mengekor dengan tubuh membungkuk hormat. Itu... Reno. Kenapa dia ada di sini?! Bukannya kemarin dia udah pamitan dan angkat kaki?! Jantung Anindya berdegup kencang, nyaris melompat keluar dari dadanya. Pria itu menghentikan langkahnya tepat di tengah ruangan. Tatapannya yang dingin dan mengintimidasi tiba-tiba bergulir, lalu terkunci lurus pada Anindya—yang saat ini sedang memegang gelas es kopi susu dengan mulut sedikit terbuka. Satu detik. Dua detik. Sudut bibir Reno terangkat tipis, membentuk lengkungan samar yang penuh arti. Pria itu melangkah mendekati kubikel Anindya dengan santai namun berwibawa. Setiap ketukan sepatunya di lantai seolah berirama dengan detak jantung Anindya yang kian tidak karuan. "Selamat pagi, Anindya," sapa Reno dengan suara berat dan tenang yang sangat familier. Anindya mengerjap cepat, berusaha menguasai dirinya yang mendadak blank. "P-Pak Reno? Maaf... Pak Reno ketinggalan barang atau mau ambil surat pengalaman kerja?" Reno tidak langsung menjawab. Ia merapikan tombol jasnya, lalu bersedekap dada sambil menatap Anindya intens. "Ketinggalan barang?" Reno terkekeh pelan, suara tawa tipis yang membuat bulu kuduk Anindya berdiri. "Tidak ada yang ketinggalan. Saya cuma mau mengumumkan sesuatu." Reno berbalik sebentar ke arah seluruh karyawan yang masih berdiri kaku, lalu kembali menatap Anindya dengan senyuman yang sulit diartikan. "Mulai hari ini, perusahaan induk resmi mengambil alih anak perusahaan ini. Dan saya... ditunjuk sebagai CEO baru kalian." DEK! Dunia Anindya serasa runtuh seketika. Mimpinya tentang hari-hari kantor yang tenang mendadak hancur berkeping-keping. "D-jadi... Pak Reno jadi CEO di sini?" bisik Anindya menahan napas. "Betul," jawab Reno santai. Ia lalu memajukan tubuhnya sedikit, mendekat ke arah Anindya hingga aroma parfum maskulinnya menusuk indra penciuman perempuan itu. "Dan satu hal lagi, Anindya. Saya sudah membaca surat pengunduran diri yang kamu titipkan ke HRD tadi pagi," bisik Reno pelan, namun cukup jelas untuk membuat Anindya merinding. "S-surat resign saya... disetujui kan, Pak?" tanya Anindya dengan sisa-sisa keberaniannya. Reno tersenyum makin lebar. Ia mengeluarkan selembar kertas yang sudah diremas dan dibentuk menjadi bola kecil dari saku jasnya, lalu menjatuhkannya tepat di atas meja kerja Anindya. "Ditolak. Kamu tidak bisa resign, Anindya. Karena mulai detik ini, kamu dipindahkan menjadi asisten pribadi saya." Anindya melotot. "Apa?! Mana bisa gitu, Pak?!" Reno tidak membalas protesnya. Pria itu hanya menatapnya lekat, menyisipkan tangan di saku celana, lalu berbisik tegas sebelum berbalik menuju ruang kerja barunya. "Ikut saya ke ruang CEO sekarang. Ada hal dari masa lalu yang harus kita selesaikan." Anindya terpaku di tempatnya. Langkah kaki Reno yang menjauh menuju ruang CEO terasa bagaikan vonis hukuman mati baginya. "Nin... kamu utang penjelasan sama aku," bisik Maya dengan mata membelalak, masih menatap bola kertas bekas surat resign yang tergeletak mengenaskan di atas meja Anindya. "Masa lalu apa yang dimaksud Pak Reno? Kalian... pernah ada hubungan apa sebelum ini?!" Anindya mengusap wajahnya kasar. "Enggak ada hubungan apa-apa, Maya! Murni hubungan kerja yang beracun!" "Beracun tapi kok tatapannya kayak mau melahap kamu hidup-hidup gitu?" cicit Maya. Anindya tidak merespons lagi. Jemarinya gemetaran saat mengambil bola kertas itu, membukanya pelan, dan melihat coretan spidol merah besar di atas tanda tangannya: DITOLAK! KEMBALI BEKERJA! "Dasar bos pemaksa!" umpat Anindya pelan. Mau tidak mau, dengan langkah berat seolah menyeret beban berkuintal-kuintal, Anindya berjalan menuju pintu kaca berlabel Ruang CEO. Ia mengetuk pintu dua kali. "Masuk." Suara berat dari dalam membuat Anindya menghela napas panjang sebelum memutar gagang pintu. Ruang kerja CEO itu sangat luas. Reno berdiri membelakangi pintu, menatap pemandangan kota dari balik dinding kaca besar. Pria itu menyingsingkan lengan kemejanya hingga batas siku, memperlihatkan jam tangan mewah dan garis otot tangannya yang kokoh. "Tutup pintunya dan kunci, Anindya," perintah Reno tanpa berbalik. Glek. Anindya menelan ludahnya susah payah. Dikunci?! Mau ngapain nih orang?! "Kenapa harus dikunci, Pak? Kita cuma mau bahas pekerjaan, kan? Nanti timbul fitnah kalau orang kantor lihat," protes Anindya ragu, memilih tetap berdiri dekat pintu. Reno membalikkan badan. Tatapan matanya lurus memikat, berjalan pelan mendekati Anindya. "Sejak kapan kamu peduli sama fitnah? Dua tahun lalu, kamu pergi gitu aja tanpa pamit, mutus kontak, dan nyebar rumor kalau saya bos paling kejam, kamu enggak mikirin fitnah itu?" Anindya menyipitkan mata, rasa gengsi dan kesalnya mulai memuncak. "Bapak emang bos paling kejam! Siapa yang tahan disuruh revisi berkas sampai jam tiga pagi hanya karena salah pilih font?!" "Itu namanya kedisiplinan, Anindya," potong Reno cepat. Langkahnya kini tinggal dua jengkal di depan Anindya. Aroma parfum woody khas pria itu mendadak memenuhi indra penciuman Anindya, membuat dadanya berdesir aneh. "Dan soal surat pengunduran diri ini..." Reno merampas bola kertas di tangan Anindya, lalu melemparkannya tepat ke dalam tong sampah di sudut ruangan tanpa melihat. Plung! "Pak Reno! Itu hak saya buat resign!" "Kamu punya hak, tapi saya punya kuasa," ujar Reno dingin, namun sudut matanya menyiratkan kejahilan. "Kontrak kerjamu di anak perusahaan ini masih tersisa satu tahun. Kalau kamu nekat resign hari ini, denda penalti lima ratus juta harus dibayar tunai sore ini juga. Punya uangnya?" Anindya bungkam seketika. Bibirnya merapat rapat. Jangankan lima ratus juta, saldo di rekeningnya saja saat ini cuma cukup buat beli es kopi susu sampai akhir bulan! "Nggak punya, kan?" Reno tersenyum puas, seolah sudah menebak reaksi Anindya. "Makanya, duduk. Sekarang kamu asisten pribadi saya. Tugas pertamamu, atur ulang jadwal saya minggu ini." Anindya mengepalkan tangannya di samping paha. "Pak Reno sengaja, kan? Bapak sengaja beli perusahaan ini cuma buat balas dendam sama saya?!" Reno memiringkan kepalanya sedikit. Ia memajukan wajahnya hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Anindya refleks menahan napas, matanya berkedip-kedip panik. "Balas dendam?" bisik Reno pelan, suaranya terdengar begitu dalam hingga membuat tenggorokan Anindya kering. "Terlalu dangkal kalau cuma balas dendam, Nin. Saya ke sini buat mengambil kembali apa yang seharusnya jadi milik saya." "M-maksud Bapak apa?" Anindya tergagap, keberaniannya mendadak menguap entah ke mana. Reno tidak menjawab. Pria itu hanya tersenyum tipis lalu kembali melangkah ke meja kerjanya dan mengambil sebuah map hitam tebal. Ia melemparkannya ke hadapan Anindya. "Buka map itu," perintah Reno datar. Dengan tangan sedikit gemetar, Anindya membuka map hitam tersebut. Di lembar pertama, tertera sebuah dokumen perjanjian kerja sama antarperusahaan yang tampak biasa. Namun, saat Anindya menggeser ke lembar kedua, matanya mendadak melotot sempurna. Di bagian bawah dokumen itu, tertera foto dirinya bersama seorang wanita paruh baya—ibunya—sedang berjabat tangan dengan seorang pria tua yang sangat ia kenali sebagai ayah Reno. Di sana tertulis jelas sebuah klausul perjanjian keluarga yang dibuat tiga tahun lalu. Tepat di bawah foto tersebut, ada kalimat berhuruf tebal yang membuat jantung Anindya seakan berhenti berdetak: ...Dengan ini menyatakan bahwa jaminan atas pinjaman modal usaha keluarga adalah kesepakatan perjodohan antara Anindya dan Reno. "P-perjodohan?!" Anindya mendongak menatap Reno dengan wajah pucat pasi. "Pak... ini maksudnya apa?! Ibu saya enggak pernah cerita soal ini!" Reno bersedekap dada di balik mejanya, menatap Anindya dengan pandangan tenang namun penuh kemenangan. "Ibumu mungkin lupa cerita. Tapi saya enggak pernah lupa," sahut Reno pelan. "Jadi, pilihannya cuma dua, Anindya. Bayar utang penalti resign lima ratus juta, atau..." Reno menggantung kalimatnya, membuat suasana ruangan mendadak makin mencekam. "Atau apa, Pak?!" desak Anindya panik. Reno tersenyum tipis. "Atau ikut saya pulang minggu depan untuk meresmikan pertunangan kita."Atmosfer di dalam penthouse mewah milik Reno mendadak membeku. Amplop cokelat tebal yang dilemparkan Tuan Hendra mendarat tepat di atas meja kaca, memancarkan aura ancaman yang begitu pekat.Reno tidak langsung menyentuh amplop itu. Pria itu memiringkan kepalanya sedikit, menatap Tuan Hendra dengan pandangan dingin nan tajam."Rahasia apa yang Anda maksud, Tuan Hendra?" tanya Reno datar.Tuan Hendra tertawa meremehkan, matanya sekilas menyapu Anindya yang berdiri kaku di lorong."Buka saja, Reno. Jangan menyalahkan saya kalau gadis yang kamu bela mati-matian ini ternyata cuma anak dari wanita penipu yang pernah merusak keluarga orang lain!"DEK!Dada Anindya bergemuruh hebat."Bapak jangan asal bicara ya! Ibu saya orang baik-baik!" pekik Anindya tidak terima, melangkah keluar dari tempat persembunyiannya."Anindya, diam di tempatmu," potong Reno tegas.Namun bukannya membuka amplop di meja, Reno justru melangkah santai, mengambil amplop itu, lalu—SREK! SREK!—merobeknya menjadi dua bag
Ponsel di genggaman Anindya bergetar hebat. Pesan ancaman dari nomor tak dikenal itu masih terpampang di layar, bertepatan dengan ketukan pintu kosnya yang kian mendesak."Nin? Gue tahu lo di dalam. Buka pintunya sebentar, ini penting," suara Dion di balik pintu terdengar begitu menuntut.Tangan Anindya meremas ponselnya hingga buku-buku jarinya memutih. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Di layar laptop, wajah Dion pada video dua tahun lalu masih membeku—bukti tak terbantahkan bahwa pria ramah yang kerap meminjamkannya alat tulis di kantor ini adalah sosok bermuka dua yang berbahaya.Kenapa harus dia lagi? Dari sekian banyak orang di kantor, kenapa Dion yang jadi dalangnya?!Mengabaikan pesan itu, Anindya langsung menggeser layar ponsel, mencari kontak BOS IBLIS, lalu menekan tombol panggilan.Satu detik. Dua detik."Ada apa, Anindya?" suara berat Reno menyapa dari seberang telepon."P-Pak Reno... Dion ada di depan kamar kos saya!" bisik Anindya panik. Ia berjongkok di balik
"Reno! Apa-apaan ini?!"Suara melengking Clara menggema keras di seluruh sudut ruangan CEO. Sepatu hak tingginya menepuk lantai dengan tajam saat ia melangkah masuk bersama dua orang pengawal pribadi di belakangnya. Matanya membakar penuh amarah, menatap lurus pada posisi Anindya yang masih terhimpit di tepi meja kerja Reno.Anindya yang panik setengah mati refleks mendorong dada Reno kuat-kuat. Kali ini Reno membiarkannya, mundur satu langkah sembari merapikan jasnya dengan santai—seolah kedatangan Clara tidak mengganggunya sama sekali."Clara? Sejak kapan kamu punya akses masuk tanpa mengetuk pintu?" tanya Reno datar, nada suaranya begitu dingin hingga sanggup membekukan udara."Kamu tanya kenapa aku langsung masuk?!" Clara menunjuk Anindya dengan jari berkuteks merah menyala. "Siapa perempuan murahan ini, Ren?! Kenapa kamu posisinya sedekat itu sama dia di dalam kantor?!"Anindya mendadak naik darah mendengarkan sebutan itu."Maaf ya, Mbak! Jaga mulutnya! Saya staf di sini, bukan p
"Gila! Pak Reno bener-bener enggak waras!"Anindya mendesis pelan seraya memegangi kepalanya yang mendadak berdenyut nyeri. Kalimat terakhir dari mantan atasannya itu masih terngiang-ngiang jelas di telinganya.Pertunangan?! Pria itu mikir nikah kayak beli kopi kenangan di minimarket?!"Anindya, kenapa kamu masih berdiri di situ?" tegur Reno datar. Pria itu sudah kembali duduk santai di balik meja kerjanya yang megah, menatap Anindya yang masih berdiri mematung seperti patung selamat datang. "Mau berdiri sampai jam kantor selesai?""Pak... ini gila," sahut Anindya dengan nada menahan emosi. "Surat ini pasti mainan Bapak, kan? Mana mungkin Ibu saya setuju sama hal konyol kayak gini tanpa ngomong apa-apa ke saya?!"Reno mengangkat sebelah alisnya, menyandarkan punggung ke kursi eksekutifnya dengan santai."Kenapa enggak kamu tanyakan langsung sama Ibumu?"Anindya menyipitkan mata. Tanpa berpikir panjang, ia merogoh tasnya, mengambil ponsel, lalu mengetik panggilan ke nomor ibunya. Ia se
"Merdeka! Merdeka dari penjajahan pria kaku berwajah datar!"Suara desahan lega Anindya menggema di sudut kubikel kerjanya. Perempuan itu menyandarkan punggungnya ke kursi, memutar-mutar bolpoin di jemarinya sembari mengamati langit-langit kantor yang mendadak terasa sepuluh kali lebih cerah hari ini."Nin, sstt! Suara kamu tuh pelanin dikit, nanti kalau ada yang denger gimana?" bisik Maya dari kubikel sebelah. Wajah sahabatnya itu panik setengah mati sambil menengok ke kanan-kiri.Anindya hanya terkekeh pelan. Ia memperbaiki posisi duduknya lalu meminum es kopi susu yang baru saja dibelinya."Denger siapa, Maya? Pak Reno kan udah resign dari kemarin. Hari ini beliau resmi angkat kaki dari perusahaan ini! Nggak akan ada lagi bos yang nempel pusing di dahi tiap liat draf laporan aku kurang rapi satu milimeter.""Iya sih, Pak Reno emang perfeksionisnya minta ampun," aku Maya sambil mengangguk setuju. "Tapi biar gitu, dia kan ganteng banget, Nin. Tajam, rapi, karismatik. Mana ada bos seg







