로그인“Kalau begitu, setelah sarapan kita bisa membicarakan persiapannya. Waktunya sudah semakin dekat.”
Ucapan Clara membuat Nathan dan Loraine saling berpandangan.Mereka memang sudah sepakat untuk tetap melangsungkan pesta pernikahan. Bahkan sekarang, setelah Daisy dan kedua anaknya kembali ke keluarga West, pesta itu terasa memiliki arti yang jauh lebih besar.Namun Clara yang sejak tadi terlihat bersemangat membicarakan berbagai persiapan justru tiba-tiba terdiam. TaSuasana rumah Leon yang berantakan itu masih sama seperti malam sebelumnya. Pecahan bingkai foto berserakan di atas lantai, beberapa perabot bergeser dari tempatnya, sementara foto pernikahan Leon dan Loraine tergeletak dalam keadaan rusak.Leon duduk di sofa dengan kedua siku bertumpu pada lutut. Tatapannya terpaku pada sebuah foto yang masih bisa dikenali, meskipun kacanya telah retak dan hancur di beberapa bagian. Foto pernikahannya dengan Loraine.“Kenapa semuanya harus berubah seperti ini?” gumamnya.Ia meraih foto itu, kemudian mengusap wajah Loraine yang tampak tersenyum di sampingnya. Senyum yang dulu selalu menyambutnya setiap kali pulang ke rumah, tetapi kini justru bisa ia lihat ketika wanita itu bersama pria lain.Bayangan Loraine yang berjalan bergandengan tangan dengan Nathan kembali muncul di benaknya. Wajah wanita itu terlihat begitu bahagia, seolah tak pernah ada Leon dalam kehidupannya. Rahang Leon mengeras.“Jadi sekarang kau sudah benar-benar melupakanku, Lora?”Po
Leon masih berdiri di tengah ruang tamu rumah lamanya. Pecahan kaca dan bingkai foto berserakan di lantai, sementara beberapa perabotan sudah bergeser dari tempat semula akibat amukannya.Napasnya perlahan mulai teratur, tetapi pikirannya sama sekali belum tenang. Ia kembali mengeluarkan ponsel dan membuka pesan yang diterimanya tadi.‘Nyonya Loraine saat ini sedang hamil, Tuan.’Kalimat itu masih tertera di layar. Leon membacanya berulang kali, seolah berharap ada kesalahan dalam laporan tersebut.“Sejak kapan?” gumamnya.Ia segera mencari nomor anak buah yang mengirimkan pesan itu, kemudian menekan tombol panggilan.“Halo, Tuan,” jawab seseorang dari seberang.“Jelaskan kepadaku. Dari mana kau mendapatkan informasi bahwa Loraine sedang hamil?”“Informasi tersebut saya dapatkan dari pengamatan terhadap Nyonya Loraine, Tuan. Kami sudah memastikan kebenarannya sebelum melaporkan kepada Anda.”Leon terdiam sejenak. “Jadi, kau yakin dengan informasi itu?”“Ya, Tuan. Informasi tersebut va
“Kenapa tidak turun? Apa kita tidak jadi makan?”Suara Vanessa memecahkan lamunan Leon. Wanita yang duduk di sampingnya itu menoleh dengan sedikit kebingungan, sementara tatapan Leon masih terpaku pada arah tempat Loraine dan Nathan menghilang beberapa saat lalu.Leon mengerjapkan mata. Ia baru menyadari bahwa dirinya sudah terlalu lama diam di balik kemudi.“Maaf ya. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu.” Ia segera mengalihkan pandangan kepada Vanessa, lalu tersenyum lembut. “Ayo, kita turun. Kau pasti sudah lapar.”Vanessa langsung tersenyum. Leon bahkan turun lebih dulu untuk membukakan pintu mobil bagi wanita itu. Setelah Vanessa keluar, ia merapikan sedikit rambutnya yang tertiup angin sebelum menggandeng tangannya menuju restoran.“Tempat ini cukup bagus, bukan?” tanya Leon.Vanessa mengangguk senang. “Bagus sekali. Aku suka suasananya.”“Kalau begitu, lain kali kita bisa datang lagi. Kau tinggal bilang tempat mana yang ingin kau kunjungi. Aku akan mengantarmu.”Sikap Leon yang b
Nathan dan Loraine masih berada di ruang keluarga bersama Daniel dan Clara. Sesekali, Loraine kembali melirik kotak kecil berisi pakaian bayi yang tadi diperlihatkan Clara. Ada perasaan hangat yang sulit dijelaskan setiap kali ia membayangkan ketiga bayi di dalam kandungannya kelak mengenakan pakaian-pakaian mungil itu.“Omong-omong,Ibu,” Nathan membuka percakapan. “Di mana Kak Adrian dan kakak ipar? Dan dua keponakan usil itu? Kami belum sempat bertemu dengan mereka.”Clara tersenyum mendengar pertanyaan itu. “Mereka sedang menghabiskan waktu bersama. Adrian dan Daisy kembali ke rumah yang sudah mereka tinggalkan selama bertahun-tahun. Darren dan Aurora juga ikut.”Nathan mengangkat alisnya. “Apa Kak Adrian berencana kembali tinggal di rumah lamanya?”“Sepertinya begitu, tapi kami tidak menanyakannya,” jawab Daniel tenang. “Tunggu saja sampai mereka sendiri yang mengatakannya.”Daniel meletakkan majalah kesehatan yang sejak tadi berada d
Mobil Nathan akhirnya memasuki halaman rumah kedua orang tuanya. Dari balik kaca jendela, Loraine melihat beberapa tanaman hias yang tertata rapi di sepanjang teras. Rumah itu masih terlihat sama seperti kunjungan terakhir mereka, dengan suasana hangat yang selalu membuatnya merasa diterima.Nathan mematikan mesin mobil, lalu menoleh ke arahnya.“Masih merasa nyaman? Tidak pusing atau mual?” tanyanya.Loraine tersenyum kecil. “Aku baik-baik saja, Nathan. Kalau kau terus bertanya seperti itu, nanti aku malah merasa sedang sakit parah.”“Aku hanya memastikan.”“Ya ya baiklah.” Loraine menggenggam tangannya sebentar. “Ayo, kita masuk. Ibu pasti senang mendengar kabar ini.”Nathan mengangguk. Ia turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Loraine. Tangannya segera terulur untuk membantu istrinya keluar dari mobil, meskipun Loraine sebenarnya masih bisa melakukannya sendiri.Begitu mereka tiba di depan pintu, Nathan menekan bel. Tak lama kemudian, pintu terbuka dan seorang wanita paruh b
“Apa yang sebenarnya sedang mengganggu pikiranmu?” tanya Loraine ragu-ragu. Nathan melirik tangan Loraine yang menggenggam tangannya. Ia sempat terdiam sebelum kembali mengarahkan pandangannya ke jalan.“Bagaimana cara memberitahu keluargaku tentang kondisi kehamilanmu?” jawabnya akhirnya.Loraine sedikit mengernyit. “Bukankah kita tinggal memberitahu mereka kalau aku mengandung tiga bayi?”“Bukan sesederhana itu, Sayang.”Nathan menghembuskan napas panjang. Sejak keluar dari ruang pemeriksaan tadi, pikirannya terus tertuju pada satu hal yaitu reaksi keluarganya ketika mengetahui bahwa kehamilan Loraine bukan kehamilan biasa.Ia mengenal betul orang tuanya. Mereka pasti akan ikut bahagia mendengar kabar bahwa ia akan menjadi seorang ayah. Namun, kebahagiaan itu mungkin tak akan bertahan lama setelah mereka mengetahui risiko yang harus dihadapi Loraine.“Ayah dan ibu pasti akan menentang keputusanmu untuk mempertahankan ketiga bayi itu jika mereka tahu kondisi sebenarnya,” lanjut Nath







