LOGINZahira yang sedang berkemas menoleh dan terseyum lalu berkata, "Dokter Emran tidak di sini, Ta."Talitha tertawa, "Aku tahu."Setelah mendengar jawaban Talitah, Zahira tidak berkata apa-apa lagi. Setelah selesai berkemas dia pergi melewati Talitha dengan acuh tak acuh. Kedua tangan Talitha terkepal kuat, senyumnya langsung menghilang. Gadis itu mengejar Zahira dan menarik lengannya, "Tunggu, Ra. Aku datang kesini mau ngomong sesuatu."Zahira melepas cekalan tangan Talitha dengan hati-hati, "Aku ngantuk, kapan-kapan aja ya."Mata Talitha berkaca-kaca, dia bahkan sampai menitikkan air mata dan berkata dengan sedih, "Kamu ngindari aku ya? Mentang-mentang kamu adik Zaidan dan pacar Danis jadi lupa sama ak.""Bukan begitu, Ta. Tapi menurutku, kita sebaiknya emang jaga jarak," ujar Zahira dengan canggung.Sebenarnya Zahira memang ingin jaga jarak kepada Talitha dan Emran. Tapi karena dia orang yang tidak enakan, Zahira menjadi merasa bersalah.Talitha tersenyum. "Aku cuma bercanda kok. Kam
"Ya! Lagian perawat itu kekasihku. Dia hanya sedang merajuk." Emran kembali menegakkan punggungnya, kedua tangannya terlipat di dada dan mengangkat wajahnya dengan bangga. Revan mendengkus dan membuang muka. Tidak lama kemudian, pintu kembali terbuka,. Zahira datang sambil membawa nampan yang berisi perlengkapan merawat luka. Tanpa sadar, dua pria itu tersenyum lembut, yang satu menatapnya dengan penuh kerinduan dan yang satu menatapnya dengan cinta yang mengebu-gebu. Emran menyingkir dan membiarkan Zahira melakukan tugasnya. Zahira memegang tangan Revan dan perlahan melepaskan perban. "Lukanya kembali robek. Tolong tahan ya Pak." Revan memiringkan kepalanya lalu berkata dengan nada menggoda, "Tidak masalah. Aku bahkan rela dirawat oleh Suster secantik anda seumur hidup." Tepat saat Zahira mengangkat wajahnya, Revan berkedip dengan genit. Zahira hampir tersedak air liurnya sendiri. Gadis itu hanya bisa tersenyum canggung. Kenapa selalu seperti ini? Siapapun pria yang Zahira t
"Rumah sakit," jawab Emran dengan acuh tak acuh. Pria itu masuk kembali ke dalam kamar mandi. Dahi Talitha mengerut melihat masih ada busa sabun di tengkuk suaminya. Itu artinya pria itu belum selesai mandi dan keluar dengan terburu-buru. Sekarang berbagai pertanyaan muncul di kepalan Talitha.Hah! Taitha benar-benar kesal dan pusing di buatnya.***Malam ini Zahira shift malam. Saat Zahira berjalan sendiri di koridor setelah dari kamar mandi, dia melihat sosok yang tidak asing berdiri tidak jauh di depan ruang perawat. Zahira tanpa sadar memelankan langkahnya dengan perasaan was-was.Sosok itu adalah Emran. Pria itu tersenyum dan melambaikan tangan. Zahira reflek menoleh kebelakang untuk memastikan tapi tidak ada siapapun kecuali dirinya."Zahira ... " panggil Emran.Deg!Panggilan itu hampir membuat jantung Zahira jatuh, dia menggigit bibirnya karena takut. Sikap Emran yang keras kepala dan obsesif benar-benar membuat Zahira trauma. Gadis itu berpura-pura tidak dengar, dia yang ha
Ucapan Zahira begitu lembut dan sopan, namun setiap katanya mengandung duri yang tajam. Wulan membeku di tempat, wajah ramahnya hilang tak berjejak. Namun sekali lagi, dia menahan diri demi status dan kemewahan. Wulan meraih gelas minumnya dan meneguknya hingga tandas. Wulan mengelap bibirnya dengan tissu lalu melirik jam tangannya dan berkata dengan lembut, "Maaf ya Ra ... Tante pamit dulu karena ada janji. Tapi tolong pertimbangkan tawaran Tante, oke ... " Zahira mengangkat kelopak matanya, matanya yang hitam dan jernih dipenuhi hawa dingin. Dia tidak menyangka ada orang yang tidak tahu malu seperti Wulan. Wulan berdiri dengan santai, mengambil tas mahalnya dan tersenyum. Saat berbalik badan dan berjalan menuju pintu keluar, ekspresi Wulan tampak mengerikan. Zahira melirik kue yang sudah tidak berbentuk itu dengan jijik dan bergumam, "Sayang sekali, padahal kuenya enak." *** Thalita duduk di meja rias sambil bersolek, dia masih menggunakan jubah mandi dan rambutnya yang bas
Pertanyaan itu cukup membuat Zahira termangu beberapa detik, "Maksudnya?"Wulan mengerutkan bibirnya dan wajahnya berubah murung lalu berkata dengan nada sedih, "Ehhh ... Talitha sangat sibuk, dia tidak pernah di rumah dan tidak pernah mengurus putraku. Jika di rumah dia hanya malas-malasan."Wulan menceritakan kehidupan Emran dan Talitha yang tidak ada hubungan dengan Zahira, membuat gadis itu merasa canggung. Zahira mengusap tengkuknya lalu berkata sambil tersenyum tipis, "Wajar si ... Talitha kan sedang hamil."Melihat ekspresi Zahira yang polos dan tidak terpengaruh membuat Wulan merasa kesal. Wanita paruh baya itu hanya menggertakkan giginya lalu kembali berpura-pura. Wulan kembali menghela nafas dan terlihat tidak berdaya. "Aku juga pernah hamil, tapi aku merasa dia aneh. Dia kadang terlihat dingin dan acuh pada Emran. Aku juga dengar rumor bahwa dia sedang dekat dengan pria lain. Jangan-jangan anak itu bukan milik putraku."Setelah mengatakan hal buruk pada menantunya yang dulu
Melihat Zahira ketakutan, Wulan menggigit bibirnya dengan canggung dan berkata dengan lembut dan hati-hati, "Boleh masuk, Ra? Ada hal yang ingin aku katakan." Zahira tercengang. Apakah matahari terbit dari barat? Kenapa nyonya angkuh seperti Wulan akan bersikap rendah hati seperti ini. Semakin dipikirkan, semakin terasa mustahil. Melihat Wulan begitu sopan, Zahira semakin merasa gelisah. Dia berkedip beberapa kali sambil memegang gagang pintu dengan kuat. Dia masih ingat setiap interaksi bersama Wulan, mereka tidak pernah berakhir menyenangkan. Jadi Zahira harus membuat alasan karena tidak ingin berduaan saja dengan ibu mantan pacarnya yang problematik itu. Setelah menenangkan diri, Zahira berdehem dan mulai merangkai alasan. "Tante, kebetulan tempat tinggalku masih berantakan. Sebentar lagi orang yang akan membereskannya akan segera datang. Bagaimana kalau kita mengobrol di kafe depan?" ujarnya dengan ragu. Jika ada interaksi di antara mereka berdua harus di depan umum agar ti







