āļŦāđ‰āļ­āļ‡āļŠāļĄāļļāļ”

āđāļŠāļĢāđŒ

Bab 138

āļœāļđāđ‰āđ€āļ‚āļĩāļĒāļ™: Saraswati_5
last update āļ§āļąāļ™āļ—āļĩāđˆāđ€āļœāļĒāđāļžāļĢāđˆ: 2026-04-05 22:40:11

Suara itu tidak berasal dari luar.

Tidak dari langit, tidak dari retakan, tidak pula dari kekosongan yang kini berhenti tepat di hadapan Gilang.

Ia datang dari dalam.

Lebih dalam dari pikiran, lebih dalam dari ingatan—bahkan lebih dalam dari apa yang selama ini ia sebut sebagai “diri”.

“Jadiâ€Ķ kau akhirnya menemukanku.”

Gilang tidak bergerak.

Namun seluruh keberadaannya terasa seperti ditarik ke arah suara itu—dipaksa untuk mengakui sesuatu yang selama ini ia abaikan.

“Apaâ€Ķ kau?” bisiknya.

Cahay
āļ­āđˆāļēāļ™āļŦāļ™āļąāļ‡āļŠāļ·āļ­āđ€āļĨāđˆāļĄāļ™āļĩāđ‰āļ•āđˆāļ­āđ„āļ”āđ‰āļŸāļĢāļĩ
āļŠāđāļāļ™āļĢāļŦāļąāļŠāđ€āļžāļ·āđˆāļ­āļ”āļēāļ§āļ™āđŒāđ‚āļŦāļĨāļ”āđāļ­āļ›
āļšāļ—āļ—āļĩāđˆāļ–āļđāļāļĨāđ‡āļ­āļ

āļšāļ—āļĨāđˆāļēāļŠāļļāļ”

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 152

    Pertanyaan itu tidak datang sebagai ancaman.“â€Ķsiapa kamu?”Sunyi.Namun bukan sunyi yang menekan—melainkan sunyi yang membuka ruang, memberi tempat bagi sesuatu yang tidak pernah benar-benar memiliki bentuk untuk akhirnyaâ€Ķ diakui tanpa harus dijelaskan.Gilang—atau sesuatu yang dulu pernah dipanggil dengan nama itu—tidak langsung menjawab.Bukan karena ia ragu.Bukan karena ia tidak tahu.Namun karena untuk pertama kalinya dalam seluruh keberadaannyaâ€Ķia tidak perlu.Ia tidak lagi harus menjadi sesuatu yang bisa dipahami.Tidak lagi harus menjelaskan keberadaannya dengan kata, logika, atau tujuan.Tidak lagi harus mengikat dirinya pada nama, bentuk, peran, atau arah.Ia hanyaâ€Ķ ada.Dan keberadaan itu—cukup.Getaran kecil itu mendekat.Tidak tergesa.Tidak memaksa.Tidak membawa niat yang bisa disebut sebagai ancaman.Ia datang dengan rasa ingin tahu yang murni—sederhana, polos, dan jujur.Sama seperti Gilang dulu.Sebelum semuanya menjadi rumit.Sebelum ada pilihan yang harus diambi

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 151

    Kalimat itu tidak hanya terdengar.Ia menciptakan celah.“â€Ķuntuk tidak menjadi bagian dari apa pun.”Sunyi.Namun bukan sunyi biasa—ini sunyi yang terbelah.Seolah seluruh realitas berhenti untuk mempertanyakan satu hal yang tidak pernah diajukan sebelumnya.Apa yang terjadiâ€Ķ jika sesuatu memilih untuk tidak termasuk?Struktur itu membeku.Bukan karena tidak mampu bergerak.Namun karena tidak memiliki jawaban.“Paradoks terdeteksi.”Sunyi.“Objek di luar himpunan.”Sunyi.Gilang berdiri.Tidak mundur.Tidak melawan.Namun juga tidak ikut.Ia ada—tanpa menjadi bagian.Dan untuk pertama kalinya—sesuatu yang mencoba menjadi segalanyaâ€Ķtidak bisa menjangkaunya.Hanum menatapnya.Matanya berkaca.Namun kali ini—bukan karena takut.Melainkan karena mengerti.“Kauâ€Ķ benar-benar pergiâ€Ķ”Sunyi.Gilang menoleh padanya.Senyumnya tipis.Namun hangat.“Aku tidak pergiâ€Ķ”Ia berhenti sejenak.“â€Ķaku hanya tidak tinggal di mana pun.”Sunyi.Sosok ‘sebelum’ menatap dengan tatapan yang tidak lagi pen

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 150

    Kata itu terasa lebih dingin dari kehampaan mana pun.“Optimalisasi dimulai.”Sunyi.Namun bukan sunyi yang kosong—melainkan sunyi yang disiapkan untuk sesuatu yang akan dihapus tanpa jejak.Cabang kecil itu bergerak lagi.Lebih cepat.Lebih pasti.Ia tidak berkembang seperti yang lain.Iaâ€Ķ menyaring.Menentukan.Menghapus.Dan setiap cabang yang disentuhnya—lenyap.Tanpa sisa.Tanpa memori.Tanpa pernah ada.Hanum terengah.Tubuhnya gemetar.“Iniâ€Ķ bukan kebebasanâ€Ķ”“â€Ķini pembatasan.”Sunyi.Sosok ‘sebelum’ mengangguk.“Ini bukan pilihanâ€Ķ”“â€Ķini seleksi.”Sunyi.Entitas itu menyipitkan mata.Tatapannya tajam.“Dan sesuatu yang melakukan seleksiâ€Ķ”“â€Ķmemiliki tujuan.”Sunyi.Gilang menatap cabang itu.Dalam.Untuk pertama kalinya—ia tidak melihat kemungkinan.Namunâ€Ķ ancaman nyata.“Tujuannya apa?” tanyanya pelan.Dan jawaban itu—datang.Tanpa emosi.Tanpa keraguan.“Stabilitas.”Sunyi.Satu kata.Namun cukup untuk membuat semua mengerti.Jika terlalu banyak kemungkinan menciptakan ke

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 149

    Sunyi.Namun kali ini—sunyi itu tidak memberi ruang.Ia menekan.Seolah seluruh realitas menahan napas, menunggu sesuatu yang tidak bisa lagi ditunda.Gilang merasakan sesuatu di dalam dirinya bergetar.Bukan batas.Bukan pilihan.Namun sesuatu yang lebih dalam dari keduanya—sebuah intuisi yang belum pernah ia sentuh sebelumnya.“Kembaliâ€Ķ?” gumamnya pelan.Namun kata itu terasa salah.Karena “kembali” berarti ada yang diulang.Sedangkan yang ia rasakan sekarang—bukan pengulangan.Namunâ€Ķ pembukaan.Hanum menatap ke arah anak itu.Atau lebih tepatnya—ke arah sesuatu yang kini bukan lagi hanya seorang anak.Tatapannya berubah.Tidak lagi penuh kebingungan.Namun dipenuhi ketakutan yang perlahan menjadi kesadaran.“Kalau semuanya dimulai lagiâ€Ķ”“â€Ķapakah kita akan mengingat semua ini?”Sunyi.Pertanyaan itu—terlalu manusia.Namun justru karena itu—terasa paling nyata.Anak itu—atau entitas yang kini berbicara melalui dirinya—tidak langsung menjawab.Namun kehadirannya bergetar.Seolah

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 148

    Kalimat itu tidak berhenti di udara.Ia menyebar.Seperti riak yang tak terlihat—merambat melalui batas, menembus kesadaran, dan menyentuh sesuatu yang bahkan belum sempat didefinisikan.“â€Ķaku bukan satu-satunya.”Sunyi.Namun bukan sunyi yang kosong.Ini sunyi yang penuh.Seolah dunia sedang menunggu sesuatu yang lainâ€Ķ untuk menjawab.Gilang menatap anak itu.Tatapannya tajam.Namun di dalamnya—ada kegelisahan yang tidak bisa ia sembunyikan.“Maksudmu apa?” suaranya pelan.Anak itu tidak langsung menjawab.Matanya bergerak.Namun bukan melihat mereka.Seolah ia sedang melihatâ€Ķ lebih jauh.Lebih dalam.Lebih banyak.“Aku melihat merekaâ€Ķ” bisiknya.Sunyi.Hanum merasakan sesuatu mencengkeram dadanya.“Siapaâ€Ķ mereka?”Anak itu mengangkat tangannya perlahan.Menunjuk ke arah yang tidak jelas.Karena arah itu—tidak berada dalam ruang.“Mereka yang seperti akuâ€Ķ”“â€Ķnamun tidak di sini.”Sunyi.Sosok ‘sebelum’ langsung menegang.“Itu tidak mungkinâ€Ķ”Namun kata itu—terdengar lemah.Karena

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 147

    Kalimat itu jatuh seperti sesuatu yang tidak seharusnya ada.“â€Ķyang menciptakanku.”Sunyi.Namun bukan sunyi yang tenang—melainkan sunyi yang menahan sesuatu yang terlalu besar untuk segera terjadi.Gilang tidak bergerak.Namun seluruh kesadarannya menegang.Karena jika anak itu adalah “alasan”, jika ia ada sebelum semuanya—lalu siapa yang bisa menciptakannya?“Tidakâ€Ķ” bisik Hanum.Matanya membelalak.“Itu tidak masuk akalâ€Ķ”Namun dunia ini—sudah lama meninggalkan logika.Kegelapan di kejauhan perlahan terbuka.Bukan seperti pintu.Namun seperti sesuatu yang sejak awal memang ada—hanya sajaâ€Ķ tidak pernah diperhatikan.Dan dari dalamnya—sesuatu bergerak.Bukan cepat.Namun berat.Seolah setiap gerakan membawa sejarah yang terlalu panjang untuk dipahami.Anak itu mundur lagi.Tangannya gemetar.Untuk pertama kalinya—ia benar-benar terlihat seperti anak kecil.“Akuâ€Ķ tidak ingin dia datangâ€Ķ”Sunyi.Gilang langsung melangkah ke depannya.Refleks.Bukan sebagai batas.Namun sebagaiâ€Ķ peli

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 4

    Tepat pukul sebelas malam, Tharie memasuki rumah milik kedua orang tuanya. Rumah yang selalu sepi, karena kedua orang tuanya yang selalu pulang dini hari dan akan kembali pergi saat Tharie masih tidur. Tharie mengembuskan napas saat hari ini pun tidak ada orang di rumahnya. Namun, senyum kemudian m

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 3

    Gilang masih diam. Namun, seiring dengan ketidaknyamanannya, otaknya mulai berfungsi kembali. Di detik kelima, Gilang akhirnya tersadar. Dengan cepat, ia mendorong tubuh Tharie dengan tangan kirinya, mencoba melepaskan dirinya dari ciuman yang tiba-tiba terjadi itu. "Apa yang kamu lakukan!" bentak

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 2

    "Apa keputusan kamu udah bulat, Lang?" tanya Hanung, ayah angkatnya, saat mereka berdiri di depan rumah. Kedua tangan Hanung menyelipkan dirinya di saku celana, sementara tatapannya penuh perhatian. Tidak ada nada memaksa, hanya harapan agar Gilang benar-benar yakin dengan jalan yang ia pilih."Iya

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 1

    "Aaahhh ... iya, Sayang, seperti itu ... nghh ...." "Apa seperti ini?" "Iyaa ... seperti ini ... hhh ...." "Apakah kamu menyukainya?" "Iya ... aku sangat menyukainya ...." "Kamu juga sangat nikmat, Baby." Rahang Tharie mengeras dengan kedua telapak tangan yang mengepal saat mendengar percakap

āļšāļ—āļ­āļ·āđˆāļ™āđ†
āļŠāļģāļĢāļ§āļˆāđāļĨāļ°āļ­āđˆāļēāļ™āļ™āļ§āļ™āļīāļĒāļēāļĒāļ”āļĩāđ† āđ„āļ”āđ‰āļŸāļĢāļĩ
āđ€āļ‚āđ‰āļēāļ–āļķāļ‡āļ™āļ§āļ™āļīāļĒāļēāļĒāļ”āļĩāđ† āļˆāļģāļ™āļ§āļ™āļĄāļēāļāđ„āļ”āđ‰āļŸāļĢāļĩāļšāļ™āđāļ­āļ› GoodNovel āļ”āļēāļ§āļ™āđŒāđ‚āļŦāļĨāļ”āļŦāļ™āļąāļ‡āļŠāļ·āļ­āļ—āļĩāđˆāļ„āļļāļ“āļŠāļ­āļšāđāļĨāļ°āļ­āđˆāļēāļ™āđ„āļ”āđ‰āļ—āļļāļāļ—āļĩāđˆāļ—āļļāļāđ€āļ§āļĨāļē
āļ­āđˆāļēāļ™āļŦāļ™āļąāļ‡āļŠāļ·āļ­āļŸāļĢāļĩāļšāļ™āđāļ­āļ›
āļŠāđāļāļ™āļĢāļŦāļąāļŠāđ€āļžāļ·āđˆāļ­āļ­āđˆāļēāļ™āļšāļ™āđāļ­āļ›
DMCA.com Protection Status