Share

Bab 3

Author: Saraswati_5
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-09 09:24:04

Gilang masih diam. Namun, seiring dengan ketidaknyamanannya, otaknya mulai berfungsi kembali. Di detik kelima, Gilang akhirnya tersadar. Dengan cepat, ia mendorong tubuh Tharie dengan tangan kirinya, mencoba melepaskan dirinya dari ciuman yang tiba-tiba terjadi itu. "Apa yang kamu lakukan!" bentak Gilang dengan suara yang tegang dan penuh kebingungannya.

Tharie diam, napasnya tampak memburu dan tubuhnya sedikit gemetar. Detik selanjutnya Tharie menatap Gilang. Namun, bukannya berniat menjawab, Tharie malah kembali menarik Gilang sekali lagi, kali ini dengan lebih kuat, dan bibir mereka kembali bertemu. Sebelum itu, Tharie hanya sempat mengucapkan kata maaf yang terdengar sangat pelan, hampir seperti bisikan. "Maaf," katanya, tapi suaranya tidak cukup kuat untuk memberi penjelasan apa pun.

Sementara di tempat lain yang tidak jauh dari Gilang dan Tharie, Roni mengepalkan kedua tangannya saat melihat Tharie yang berciuman dengan laki-laki lain. Awalnya ia berniat membujuk Tharie dan mencoba meminta maaf karena sudah mengkhianati Tharie, tetapi saat ia menemukan keberadaan Tharie ia malah disuguhkan dengan Tharie yang bersama laki-laki lain. Bukan hanya itu, Tharie malah sedang berciuman dengan laki-laki lain padahal selama mereka berpacaran Tharie tidak pernah mengijinkan dirinya mencium bibir gadis itu. Namun, apa? Sekarang Tharie malah mencium laki-laki lain setelah ia melihat dirinya memadu kasih dengan Sasa.

Tanpa banyak kata, Roni berberjalan dengan cepat ke arah Tharie dan laki-laki yang tidak ia kenali, menarik Tharie sampai membuat ciuman itu terlepas.

PLAK!!

Roni menampar Tharie dengan keras hingga menimbulkan suara yang memekakkan telinga. "Nggak nyangka, kelakuan kamu seperti ini," bentak Roni dengan nada yang keras dan penuh kemarahan. "Tadi aja sok tersakiti saat aku melakukan itu sama Sasa, tapi kamu sendiri malah berciuman dengan laki-laki lain di tempat umum!"

Tharie hanya menatap Roni dengan tatapan penuh kebencian, seakan ia tidak merasa bersalah sama sekali. "Kenapa? Lagian kita ini udah putus 'kan, jadi aku mau ciuman sama siapa aja itu urusan aku dong," jawabnya dengan nada dingin, seolah-olah apa yang baru saja terjadi bukanlah hal besar.

Roni memandang Tharie dengan ekspresi tak percaya. Ia menggelengkan kepalanya dan tertawa sinis sambil menatap Tharie dengan hina. "Aku nggak nyangka kamu seperti ini, Tharie," katanya akhirnya, suaranya semakin rendah.

"Padahal selama ini kamu nggak mau berciuman dengan alasan belum waktunya, tapi nyatanya apa? Kamu ...." Roni tidak melanjutkan kalimatnya dan berdecak jijik. "Kamu malah berciuman dengan laki-laki lain. Kamu tahu? Kamu itu sama seperti gadis-gadis munafik lainnya, mengatakan untuk melakukan semuanya di waktu yang tepat tetapi di dalam hati kalian haus akan sentuhan para laki-laki."

Gilang yang sedari hanya diam tidak tahu apa yang sedang terjadi, mulai paham. Jika ia sedang berada di antara dua pasang kekasih yang sedang bertengkar. Ingin rasanya ia pergi dari sana, tetapi saat ia akan pergi ia terkejut saat mendengar suara keras di depannya.

PLAK!!

Tanpa diduga, Tharie melayangkan tamparan pada pipi Roni dengan sangat keras. Ia lalu menatap Roni dengan nyalang. "Gimana rasanya? Apakah sakit? Padahal kamu hanya melihat aku berciuman dengan laki-laki lain, bagaimana dengan aku yang melihat kamu yang malah sedang bercumbu dengan perempuan lain?"

"Aku ini bukan gadis murahan dan munafik seperti yang kamu katakan, Ron. Aku melakukan semua itu karena ingin memberi kamu pelajaran agar kamu tahu seberapa rasa sakit yang aku rasakan tadi. Dan, ya ... kamu bisa rasakan sekarang," ucap Tharie dengan sorot mata yang penuh dengan rasa kecewa. "Sekarang, aku harap kamu jangan pernah temui dan hubungi aku lagi. Kita sudah tidak ada urusan," lanjutnya yang kemudian menarik tangan Gilang dan berjalan pergi meninggalkan Roni yang masih diam di tempatnya.

Setelah itu, Tharie masuk ke dalam mobil milik Gilang dan duduk di kursi penumpang yang berada di sebelah kursi kemudi. Sementara itu, melihat gadis yang ia tolong duduk di dalam mobilnya, Gilang hanya pasrah. Dan tanpa mengatakan apapun, Gilang ikut masuk ke dalam mobil lalu membawa mobil itu pergi dari sana.

—oOo—

Sudah sekitar sepuluh menit Gilang mengendarai mobilnya bersama Tharie yang menangis sesenggukan di sampingnya. Gilang sesekali menatap Tharie, melihat air mata yang keluar dari kedua mata gadis itu yang mengingatkannya dengan Queen membuat ia tidak tega.

Ingin rasanya ia menghentikan mobil dan menenangkan gadis itu, memeluk gadis itu seperti ia memeluk Queen dulu. Namun, ia tidak bisa, gadis yang ada di sebelahnya itu bukan Queen, gadis itu hanya memiliki mata yang mirip dengan mendiang istrinya.

Jujur saja, ia bingung harus berbuat apa. Namun, di saat ia sedeng bingung tiba-tiba ia mendengar suara pelan dari gadis di sebelahnya. "Tolong hentikan mobilnya," gumam Tharie dengan suara serak. Suaranya terdengar sangat pelan, hingga seperti bisikan.

Gilang menoleh. "Ya?" tanyanya takut jika sudah salah dengar.

"Tolong hentikan mobilnya," ulang Tharie, kali ini dengan suara yang lebih keras, tetapi masih serak.

Gilang menatap ke sekeliling, melihat beberapa orang pejalan kaki yang sedang berjalan di sana. Ia kemudian menepikan mobilnya dan menghentikan di depan salah satu toko yang masih buka.

"Terima kasih karena tadi Anda sudah menolong saya. Maaf, karena sudah menyita waktu Anda," ucap Tharie pelan tapi jelas. Ia sama sekali tidak menatap Gilang, wajahnya hanya menunduk malu akibat wajahnya yang sembab karena menangis tadi.

Gilang diam sambil terus menatap Tharie. Ia lalu mengembuskan napas pelan. "Tidak masalah. Apa kamu sekarang lebih baik?" tanyanya penuh perhatian.

Tharie seketika menatap laki-laki di sampingnya, saat mendapatkan perhatian dari orang yang sama sekali tidak ia kenal. Bahkan orang tuanya pun, tidak pernah memberikan perhatian seperti itu pada dirinya selama ini. Detik selanjutnya, ia mengangguk dan tersenyum tipis. "Iya, saya sudah lebih baik. Kalau begitu saya permisi," ucap Tharie yang kemudian hendak keluar dari dalam mobil.

"Apa rumah kamu sudah dekat?" Entah kenapa, Gilang malah menanyakan hal itu pada Tharie.

Tharie hanya menggeleng tanpa mengeluarkan kata-kata. "Apa mau saya antar?" tawar Gilang, namun detik selanjutnya ia memaki dirinya sendiri karena malah menawarkan untuk mengantarkan Tharie.

"Tidak perlu, Om. Saya bisa pulang sendiri. Sekali lagi terima kasih, Om," jawab Tharie yang detik selanjutnya keluar dari dalam mobil.

Gilang mengangguk. Setelah itu, ia menghidupkan kembali mobilnya dan pergi meninggalkan Tharie yang masih diam di tempatnya.

Beberapa saat kemudian, Gilang menatap Tharie yang sudah mulai menapakan kakinya, berjalan pergi melalui kaca spionnya. Ada perasaan tidak tentu di hatinya saat melihat gadis itu berjalan seorang diri. Apalagi saat melihat diri Queen di dalam gadis itu, ingin sekali ia mengantarkan gadis itu dan memastikan ia selamat sampai rumah. Namun, ia tidak bisa melakukan apapun saat gadis itu menolak dirinya untuk mengantarkannya pulang.

Detik selanjutnya Gilang menggelengkan kepalanya pelan. Ia kemudian mulai fokus kembali ke jalanan, membelah jalanan menuju tempat tinggalnya yang baru.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Fathur
rasanya kasian banget sama Tharie.
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 152

    Pertanyaan itu tidak datang sebagai ancaman.“…siapa kamu?”Sunyi.Namun bukan sunyi yang menekan—melainkan sunyi yang membuka ruang, memberi tempat bagi sesuatu yang tidak pernah benar-benar memiliki bentuk untuk akhirnya… diakui tanpa harus dijelaskan.Gilang—atau sesuatu yang dulu pernah dipanggil dengan nama itu—tidak langsung menjawab.Bukan karena ia ragu.Bukan karena ia tidak tahu.Namun karena untuk pertama kalinya dalam seluruh keberadaannya…ia tidak perlu.Ia tidak lagi harus menjadi sesuatu yang bisa dipahami.Tidak lagi harus menjelaskan keberadaannya dengan kata, logika, atau tujuan.Tidak lagi harus mengikat dirinya pada nama, bentuk, peran, atau arah.Ia hanya… ada.Dan keberadaan itu—cukup.Getaran kecil itu mendekat.Tidak tergesa.Tidak memaksa.Tidak membawa niat yang bisa disebut sebagai ancaman.Ia datang dengan rasa ingin tahu yang murni—sederhana, polos, dan jujur.Sama seperti Gilang dulu.Sebelum semuanya menjadi rumit.Sebelum ada pilihan yang harus diambi

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 151

    Kalimat itu tidak hanya terdengar.Ia menciptakan celah.“…untuk tidak menjadi bagian dari apa pun.”Sunyi.Namun bukan sunyi biasa—ini sunyi yang terbelah.Seolah seluruh realitas berhenti untuk mempertanyakan satu hal yang tidak pernah diajukan sebelumnya.Apa yang terjadi… jika sesuatu memilih untuk tidak termasuk?Struktur itu membeku.Bukan karena tidak mampu bergerak.Namun karena tidak memiliki jawaban.“Paradoks terdeteksi.”Sunyi.“Objek di luar himpunan.”Sunyi.Gilang berdiri.Tidak mundur.Tidak melawan.Namun juga tidak ikut.Ia ada—tanpa menjadi bagian.Dan untuk pertama kalinya—sesuatu yang mencoba menjadi segalanya…tidak bisa menjangkaunya.Hanum menatapnya.Matanya berkaca.Namun kali ini—bukan karena takut.Melainkan karena mengerti.“Kau… benar-benar pergi…”Sunyi.Gilang menoleh padanya.Senyumnya tipis.Namun hangat.“Aku tidak pergi…”Ia berhenti sejenak.“…aku hanya tidak tinggal di mana pun.”Sunyi.Sosok ‘sebelum’ menatap dengan tatapan yang tidak lagi pen

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 150

    Kata itu terasa lebih dingin dari kehampaan mana pun.“Optimalisasi dimulai.”Sunyi.Namun bukan sunyi yang kosong—melainkan sunyi yang disiapkan untuk sesuatu yang akan dihapus tanpa jejak.Cabang kecil itu bergerak lagi.Lebih cepat.Lebih pasti.Ia tidak berkembang seperti yang lain.Ia… menyaring.Menentukan.Menghapus.Dan setiap cabang yang disentuhnya—lenyap.Tanpa sisa.Tanpa memori.Tanpa pernah ada.Hanum terengah.Tubuhnya gemetar.“Ini… bukan kebebasan…”“…ini pembatasan.”Sunyi.Sosok ‘sebelum’ mengangguk.“Ini bukan pilihan…”“…ini seleksi.”Sunyi.Entitas itu menyipitkan mata.Tatapannya tajam.“Dan sesuatu yang melakukan seleksi…”“…memiliki tujuan.”Sunyi.Gilang menatap cabang itu.Dalam.Untuk pertama kalinya—ia tidak melihat kemungkinan.Namun… ancaman nyata.“Tujuannya apa?” tanyanya pelan.Dan jawaban itu—datang.Tanpa emosi.Tanpa keraguan.“Stabilitas.”Sunyi.Satu kata.Namun cukup untuk membuat semua mengerti.Jika terlalu banyak kemungkinan menciptakan ke

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 149

    Sunyi.Namun kali ini—sunyi itu tidak memberi ruang.Ia menekan.Seolah seluruh realitas menahan napas, menunggu sesuatu yang tidak bisa lagi ditunda.Gilang merasakan sesuatu di dalam dirinya bergetar.Bukan batas.Bukan pilihan.Namun sesuatu yang lebih dalam dari keduanya—sebuah intuisi yang belum pernah ia sentuh sebelumnya.“Kembali…?” gumamnya pelan.Namun kata itu terasa salah.Karena “kembali” berarti ada yang diulang.Sedangkan yang ia rasakan sekarang—bukan pengulangan.Namun… pembukaan.Hanum menatap ke arah anak itu.Atau lebih tepatnya—ke arah sesuatu yang kini bukan lagi hanya seorang anak.Tatapannya berubah.Tidak lagi penuh kebingungan.Namun dipenuhi ketakutan yang perlahan menjadi kesadaran.“Kalau semuanya dimulai lagi…”“…apakah kita akan mengingat semua ini?”Sunyi.Pertanyaan itu—terlalu manusia.Namun justru karena itu—terasa paling nyata.Anak itu—atau entitas yang kini berbicara melalui dirinya—tidak langsung menjawab.Namun kehadirannya bergetar.Seolah

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 148

    Kalimat itu tidak berhenti di udara.Ia menyebar.Seperti riak yang tak terlihat—merambat melalui batas, menembus kesadaran, dan menyentuh sesuatu yang bahkan belum sempat didefinisikan.“…aku bukan satu-satunya.”Sunyi.Namun bukan sunyi yang kosong.Ini sunyi yang penuh.Seolah dunia sedang menunggu sesuatu yang lain… untuk menjawab.Gilang menatap anak itu.Tatapannya tajam.Namun di dalamnya—ada kegelisahan yang tidak bisa ia sembunyikan.“Maksudmu apa?” suaranya pelan.Anak itu tidak langsung menjawab.Matanya bergerak.Namun bukan melihat mereka.Seolah ia sedang melihat… lebih jauh.Lebih dalam.Lebih banyak.“Aku melihat mereka…” bisiknya.Sunyi.Hanum merasakan sesuatu mencengkeram dadanya.“Siapa… mereka?”Anak itu mengangkat tangannya perlahan.Menunjuk ke arah yang tidak jelas.Karena arah itu—tidak berada dalam ruang.“Mereka yang seperti aku…”“…namun tidak di sini.”Sunyi.Sosok ‘sebelum’ langsung menegang.“Itu tidak mungkin…”Namun kata itu—terdengar lemah.Karena

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 147

    Kalimat itu jatuh seperti sesuatu yang tidak seharusnya ada.“…yang menciptakanku.”Sunyi.Namun bukan sunyi yang tenang—melainkan sunyi yang menahan sesuatu yang terlalu besar untuk segera terjadi.Gilang tidak bergerak.Namun seluruh kesadarannya menegang.Karena jika anak itu adalah “alasan”, jika ia ada sebelum semuanya—lalu siapa yang bisa menciptakannya?“Tidak…” bisik Hanum.Matanya membelalak.“Itu tidak masuk akal…”Namun dunia ini—sudah lama meninggalkan logika.Kegelapan di kejauhan perlahan terbuka.Bukan seperti pintu.Namun seperti sesuatu yang sejak awal memang ada—hanya saja… tidak pernah diperhatikan.Dan dari dalamnya—sesuatu bergerak.Bukan cepat.Namun berat.Seolah setiap gerakan membawa sejarah yang terlalu panjang untuk dipahami.Anak itu mundur lagi.Tangannya gemetar.Untuk pertama kalinya—ia benar-benar terlihat seperti anak kecil.“Aku… tidak ingin dia datang…”Sunyi.Gilang langsung melangkah ke depannya.Refleks.Bukan sebagai batas.Namun sebagai… peli

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 7

    Gilang menatap Tharie dengan dingin. Tatapannya menusuk, merasa tidak suka dengan senyuman Tharie. Di mana, senyuman itu seperti senyuman yang sedang mengatakan 'saya menang'. Namun, pada akhirnya menghela napas pelan. "Baiklah, saya menerima coklat ini. Sekarang kamu boleh pergi," ucap Gilang pad

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 5

    Tharie mencoba bersembunyi, sementara teman-temannya berbisik-bisik penuh kekaguman terhadap guru baru mereka. "Ya ampun, ganteng banget sih.""Iya, Jungkook aja lewat deh.""Bener banget. Liat aja tuh tatapannya, bikin meleleh tau nggak.""Liat juga tuh tubuhnya atletis banget, aku nggak bisa baya

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 4

    Tepat pukul sebelas malam, Tharie memasuki rumah milik kedua orang tuanya. Rumah yang selalu sepi, karena kedua orang tuanya yang selalu pulang dini hari dan akan kembali pergi saat Tharie masih tidur. Tharie mengembuskan napas saat hari ini pun tidak ada orang di rumahnya. Namun, senyum kemudian m

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 2

    "Apa keputusan kamu udah bulat, Lang?" tanya Hanung, ayah angkatnya, saat mereka berdiri di depan rumah. Kedua tangan Hanung menyelipkan dirinya di saku celana, sementara tatapannya penuh perhatian. Tidak ada nada memaksa, hanya harapan agar Gilang benar-benar yakin dengan jalan yang ia pilih."Iya

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status